HIKMAH IBADAH PUASA


Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun III/5 September 1429 H / 2009 M

.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”
[QS. Al Baqarah : 183]


“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
[HR. Bukhari & Muslim]

.

“Jika nafsu lapar, semua anggota tubuh akan kenyang.  Jika nafsu kenyang, semua anggota tubuh akan lapar”.  Ungkapan ini memiliki makna filosofis yang dalam dan ada kaitannya dengan wasiat Luqman al Hakim yang berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut terisi penuh, pikiran akan tertidur, hikmah tidak akan muncul, dan anggota tubuh akan malas melakukan ibadah”.  Jadi, kalimat di atas cukup relevan untuk dikemukakan kembali, terutama berkenaan dengan bulan puasa.

Sebagaimana terungkap, dari segi bahasa, puasa bermakna membentengi dan menahan diri (imsak) atau mencegah.  Dengan demikian kita bisa membayangkan dengan sederhana, bahwa dengan puasa berarti kita harus bertahan untuk menang melawan hawa nafsu dan meruntuhkan kekuatannya yang tersalur melalui pembuluh darah.  Ketika seseorang melihat hidangan makanan yang lezat, aroma menyeruak sampai ke perut atau melalui air tawar yang menari-nari di hadapannya, maka pada saat itu pula seseorang harus menahan diri sampai waktu yang ditentukan.  Puasa berarti pula mencegah kecurangan-kecurangan yang menyebabkan kita gagal meraih pahala.  Dengan puasa, seorang mukmin menunjukkan loyalitasnya terhadap Allah SWT.

Maksud ungkapan “puasa adalah benteng” berarti puasa merupakan pelindung dan penjaga dari kemaksiatan dan dari siksaan di hari akhir.  Puasa merupakan penyucian jiwa, peninggian spiritual, mengajarkan kepada manusia bagaimana mengangkat derajat dari derajat hewan yang kebutuhannya memenuhi perut, makan dan minum, mengajarkan kepada manusia bagaimana meninggikan diri mereka sampai ke derajat para malaikat yang dekat dengan Allah, ibadah dan taqwa kepada-Nya, dan puasa itu sebagai makanan bagi ruh mereka.  Puasa mendidik untuk membiasakan sabar, mengekang hawa nafsu, membiasakan untuk menanggung beban berat, dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini.

Al Bukhary juga meriwayatkan sebuah hadits dari Mali, dari Abu Zanad, dari Al A’roj, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., “Puasa adalah benteng.  Jika salah seorang di antaramu berpuasa, maka jangan berkata-kata kotor, yaitu jangan mengatakan ucapan yang tak sepantasnya diucapkan (karena tak senonoh atau jorok), dan jangan berlaku bodoh, seperti berbuat gaduh, takabur, dan congkak, dan jika seseorang memusihinya atau mengejeknya, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya saya berpuasa, sesungguhnya saya berpuasa'”.

Kewajiban puasa datang di bulan Ramadhan, sebab dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ramadhan adalah penghulu bulan.  Para ulama mengatakan bahwa Ramadhan adalah tempat orang menuju surga, sebab di bulan ini segala perbuatan baik akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.  Barang siapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dia dibebaskan dari api neraka.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa”. Rasulullah menjawab, “Allah tetap akan memberikan pahala kepada orang yang memberikan makanan, meski hanya berupa kurma, segelas air atau susu yang disedu dengan air”. Kemudian
Nabi saw. menambahkan,
“Ramadhan adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya merupakan kebebasan dari neraka. Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan tersebut, maka dia akan diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya”.

Menurut tinjauan sejarah, puasa merupakan peribadatan (ritual) dan syiar Islam sejak jaman nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad saw.  Ritual ini tetap diwajibkan sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 183.  Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya puasa dan betapa tinggi kedudukannya.  Allah menganjurkan hal demikian bagi setiap umat Islam, tak lain karena dengan puasa, manusia bisa memetik banyak faedah, baik yang bersifat spiritual maupun material.  Menurut Wahbah Zuhaily, ulama Mesir, dalam bukunya Fiqh al-Islam wa al-Adilutah, kenapa syiar puasa tetap dipertahankan oleh Allah SWT sebagai kewajiban manusia dalam setiap generasi umat.  Beliau menuturkan bahwa puasa mempunyai banyak faedah, di antaranya :

Pertama, Puasa merupakan suatu bentuk tebusan bagi dosa dari satu tahun ke tahun berikutnya, karena puasa bisa meningkatkan ketaqwaan.

Kedua, Puasa merupakan madrasah moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji dan berlawan nafsu.

Ketiga, Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah SWT, baik dalam kesendirian maupun keramaian.

Keempat, Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, mendidik kesabaran, menjernihkan akal, menyelamatkan pikiran, menjernihkan akal, menyelamatkan pikiran, dan mengilhami ide-ide cemerlang.

Kelima, Puasa dapat mengajarkan sikap disiplin dan ketetapan, karena puasa menuntut orang yang berpuasa makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan.

Keenam, Puasa dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, kepedulian, ukhuwah dan perasaan keterikatan untuk saling tolong menolong.  Sebab, ketika orang berpuasa, dia akan berpikir bagaimana bila keadaan seperti ini terjadi sepanjang hari, seperti yang dialami kaum fakir miskin.  Maka pikiran itu akan mendorongnya untuk mengasihi sesama, terutama orang yang memang sangat membutuhkan.

Ketujuh, Puasa bisa menyertakan orang yang berpuasa dengan orang-orang miskin, yakni dengan ikut menanggung atau merasakan penderitaan yang dialami mereka.

Kedelapan, Puasa bisa menyehatkan.  Badan secara praktis dan memperbaharui kehidupan manusia, yaitu dengan membuang makanan yang telah lama mengendap dan menggantikannya dengan yang baru, mengistirahatkan perut dan alat pencernaan, memelihara tubuh, dan membersihkan sisa makanan yang mengendap.

Dengan demikian, ketika ayat tentang kewajiban puasa ini turun, bukan berarti menjadi suatu beban yang menyengsarakan manusia tanpa hikmah dan menghentikan aktifitas kehidupan.  Namun, puasa adalah perwujudan jihad melawan kelemahan, kepengecutan, dan kemalasan.  Hal ini telah dibuktikan dengan kebenaran sejarah, bahwa peristiwa bersejarah banyak terjadi di bulan Ramadhan dengan hasil kemenangan.  Misalnya Perang Badar, pembukaan Kota Makkah, kemenangan Perang Tabuk, dan lain sebagainya.  Dari Al-Ahnaf Ibnu Qays, dikatakan kepadanya, “Engkau sudah tua renta dan puasa akan membuatmu lemah”.  Al-Ahnaf menjawab, “Saya menyiapkan untuk perjalanan yang panjang, bersabar dalam ketaatan kepada Allah SWT, lebih ringan daripada bersabar atas siksa-Nya”.  Dengan demikian, puasa akan menumbuhkan keutamaan sifat amanah dan ikhlas dalam berbuat, beribadah hanya kepada Allah, bukan karena mengharap pujian atau mencari muka.

Dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia yang masih mengalami krisis multi dimensi ini, kita bisa menggunakan momentum bulan Ramadhan itu sebagai ruang untuk memperbanyak refleksi dan berkaca diri atas apa saja kesalahan-kesalahan yang selama ini telah kita perbuat.  Kemudian, bagaimana kita ke depan bisa bersama-sama mengatasinya dengan lebih baik.

Wallah a’lam bi ash shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: