PERANG KEINGINAN


Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/23 Juli 1431 H / 2010 M

.

Manusia hidup dan digerakkan oleh keinginan.  Waktu dan segala yang dimiliki manusia dikonsumsi dan dipergunakan untuk merealisasikan keinginan.  Tapi sebuah pertanyaan menghadang kenyataan aksiomatis ini; yaitu keinginan seperti apa keinginan siapa yang patut selalu diikuti?

Manusia dalam posisinya dengan keinginan terbagi menjadi beberapa golongan :

Pertama, manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya.  Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mau.  Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka.  Merdeka menentukan segala yang dia mau.  Merdeka juga berpikir apa saja yang dia bayangkan.  Independensi seorang manusia hanyalah angka satuan yang tidak terlalu penting di tengah milyaran manusia.  Tetapi independensi ada batasnya.  Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung egois dan egosentris.  Lebih jauh bahkan Al Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafusnya.  Allah befirman di Surah al
Jatsiyah ayat 23, yaitu :

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?  Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).  Maka mengapa kamu pelajaran?” (QS. Al Jatsiyah : 23).

Rasulullah saw. juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.

“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah”. (HR. At
Turmudzi , Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kedua, manusia yang tidak mempunyai keinginan independen.  Dia selalu didorong oleh pihak luar.  Lingkungan, teman, orang tua, bahkan seterunya selalu menjadi pusat perhatiannya, dan mendorongnya untuk bereaksi.  Orang seperti ini tidak punya pendirian.  Apa kata orang, itulah katanya.  Kemana pun angin berhembus ke sanalah dia berlayar.  Orang seperti ini sangat dikecam Rasulullah.  Beliau berkata :

“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian, yang mengatakan ‘jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zhalim, kami juga berbuat zhalim’.  Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zhalim, janganlah kalian berbuat zhalim”. (HR. At Turmudzi)

Ketiga, manusia yang selalu berperang antara kemauan dirinya dan kemauan orang lain, dan juga kemauan Sang Pencipta.  Dia selalu ingin mendapatkan penerimaan semua pihak tetapi tidak rela mengorbankan keinginan dan ambisi atau syahwatnya.  Golongan seperti ini selalu diombang-ambingkan ketidakpastian tujuan.  Peperangan sengit dan rumit terjadi dalam diri mereka.  Yang mampu menemukan dirinya dalam naungan Allah akan selamat, tetapi yang terus tak mampu menemukan skala prioritas akan hidup dalam penderitaan batin dan gejolak pemikiran yang tak berakhir.  Allah membuat perumpamaan terhadap orang seperti ini : “Allah membuat perumpaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja).  Adakah kedua budak itu sama halnya?  Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Az Zumar : 29).

Keempat, manusia yang menenggelamkan dirinya dalam keinginan Sang Pencipta.  Dia hanya menginginkan keridhoan Allah.  Dia tahu bahwa dia hanya makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.  Manusia golongan ini adalah manusia luhur dan suci.  Mereka menghayati firman Allah “Katakanlah bahwa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam”.

Tetapi beberapa tantangan serius menghadapi mereka.  Tidak sedikit kegagalan terjadi jika anak Adam ini tidak berhasil menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Tantangan Pertama adalah tantang pemahaman.  Sejauh mana anak manusia memahami apa yang Allah SWT tuntut darinya.  Berapa banyak orang serius beribadah bahkan mengorbankan segala yang dia miliki untuk suatu hal yang sebetulnya tidak dituntut darinya.  Betapa banyak kewajiban ditinggalkan karena melaksanakan ibadah sunnah yang tidak prioritas dalam neraca Syariah.  Betapa banyak kewajiban kolektif diabaikan padahal itu menyangkut kepentingan umum disebabkan sang manusia lebih asyik dengan ibadah personal yang porsinya bisa dibatasi.  Betapa banyak bid’ah yang dianggap sunnah.  Betapa banyak sunnah yang dianggap bid’ah.  Tanpa berpegang teguh pada pemahaman yang benar terhadap Qur’an dan Sunnah, sangat sulit seorang muslim dapat dengan tepat melaksanakan peranan dan tugas yang dituntut darinya.

Kesalahan yang paling parah adalah yang terjadi pada golongan yang menganggap bahwa penyerahan diri terhadap Allah adalah bersikap fatalis atau yang dikenal dengan kaum Jabriyah.  Bahwa manusia hanya dituntut menyerah pada takdir, tidak perlu berusaha atau merencanakan masa depan yang baik.  Iman kepada takdir mereka pahami sebagai sikap pasif terhadap usaha perubahan.

Umar bin Khaththab pernah begitu gusar dengan pemahaman seperti ini, ketika beliau dan beberapa sahabat hendak memasuki daerah yang dilanda wabah.  Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan untuk membatalkan kunjungan ke daerah tersebut.  Salah seorang sahabat menentang putusan itu, dan berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah?”.  Umar bin Khaththab terkejut dengan tanggapan tersebut, lalu menjawab, “Iya kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”.

Allah mengecam orang-orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk tidak melaksanakan hal-hal yang seharusnya.  Allah berfirman :

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan : ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun”  Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami.  Katakanlah : “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?”  Kami tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”. (QS. al An’am : 148)

Iman kepada takdir adalah kebenaran yang wajib diyakini, tetapi hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjajah oleh masa lalu, tersiksa oleh penderitaan masa yang telah lewat, atau tertipu oleh sesuatu yang membuat kita terlena.  Allah jelaskan dalam Surat Al Hadid apa yang dimaksudkan dengan iman kepada takdir, Allah berfirman : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.  Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [23] (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.  Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. al Hadid : 22 – 23)

Iman kepada takdir membuat seorang muslim tidak tenggelam dalam penderitaan atau tertipu oleh kenikmatan, karena dia sadar bahwa itu semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta.


Wallahu a’lam bish shawab.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: