TINGGALKAN ‘POLITIK TIPU-TIPU’, KEMBALILAH KE POLITIK ISLAM


Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 508/Th. XI/1431 H

a

Setelah sempat ‘memanas’ dan menjadi berita utama dalam media massa dalam beberapa bulan lalu, Skandal Century sejak beberapa pekan lalu sesungguhnya sudah mulai ‘mendingin’, ditimpa oleh beberapa persoalan/kasus baru yang terus-menerus muncul atau sengaja dimunculkan seperti kasus Susno, isu terorisme, dan lain-lain.

Sebagaimana kasus-kasus serupa sebelumnya yang melibatkan penguasa, pejabat, atau para pemilik modal besar (Skandal BLBI, misalnya), Skandal Century dipastikan akan menguap begitu saja.  Tanda-tanda ke arah upaya ‘mempetieskan’ Skandal Century ini sudah mulai tampak.  Hal itu ditandai antara lain oleh  ‘pengunduran’ Menkeu Sri Mulyani karena ditarik menjadi direktur operasional Bank Dunia, lalu disusul dengan pembentukan Sekretariat Gabungan oleh partai-partai koalisi Pemerintah.

Skandal pengucuran dana talangan kepada Bank Century pertama kali mencuat sekitar satu setengah tahun lalu ketika KPK meminta BPK melakukan audit atas bailout Century itu.  Sejak saat itu bergulir serangkaian drama politik berseri yang mementaskan lakon jalannya perpolitikan di negeri ini.

Begitu hasil audit BPK atas pengucuran dana talangan kepada Bank Century keluar, drama Century pun makin ramai sampai akhirnya dibentuk Pansus Century di DPR.  Perdebatan di Pansus yang disiarkan langsung juga memperlihatkan bagaimana kepentingan masing-masing partai yang menonjol, ditambah lagi kepentingan pribadi.  Proses di Pansus banyak menghamburkan waktu dengan memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip.

Di tengah perjalanan Pansus yang disorot oleh seluruh mata rakyat Indonesia itu terjadi pergantian anggota Pansus.  Lagi-lagi tampak begitu menonjol bagaimana kepentingan partai harus dikedepankan dan semangat kritis untuk mengungkapkan kasus segamblang-gamblangnya harus dikorbankan.  Proses seterusnya di Pansus juga tetap menunjukkan bagaimana kepentingan elit masih menjadi faktor penentu.

Di lain pihak, pemerintah tiba-tiba mempersoalkan kembali kasus pajak Grup Bakrie, mengungkapkan kasus-kasus korupsi oknum-oknum aktifis partai yang terlihat ‘kritis’ dalam Pansus, yang dari segi timing (waktu), baru diungkap saat itu, bukan dari sebelum-sebelumnya.  Dengan mudah hal itu ditangkap oleh masyarakat sebagai untuk menjinakkan lawan politik.

Semua itu akhirnya terkesan untuk bisa menaikkan posisi tawar dalam melakukan negosiasi politik.  Di situlah akhirnya terjadi ‘politik dagang sapi’.

Di antara puncak drama Centuri itu adalah ketika Sri Mulyani ‘mengundurkan diri’ dari jabatan sebagai Menteri Keuangan dan akan berpindah menduduki jabatan Direktur Operasional di Bank Dunia.  Sebagian kalangan memahami bahwa itu adalah exit strategi (jalan selamat) bagi Sri Mulyani tanpa dia harus kehilangan muka secara total.  Pasalnya, dengan menduduki jabatan direktur Bank Dunia, tentu sulit bagi KPK untuk memeriksa dan memproses hukum lebih lanjut atas Sri Mulyani.

Sehari setelah pengunduran Sri Mulyani dibentuk Sekretariat Gabungan Partai koalisi.  Aburizal Bakrie yang saat ini menjadi ketua umum Partai Golkar menjadi ketua hariannya.

Lagi-lagi dalam proses pengunduran Sri Mulyani dan terbentuknya Setgab ini kuat tercium aroma kepentingan.

‘POLITIK TIPU-TIPU’

Rangkaian drama politik di atas sekali lagi menunjukkan dengan kuat kepada kita bahwa belum ada perubahan paradigma politik di negeri ini.  Padahal reformasi sudah berjalan lebih dari satu dekade.  Paradigma politik yang belum berubah sama sekali itu adalah bahwa politik identik dengan kekuasaan.  Semua energi politik seakan ditumpahkan demi meraih kekuasaan dan kemudian mempertahankannya.  Jalannya semua proses itu dibela oleh kepentingan.  Kepentingan tetap dijadikan panglima.  karena itu, selama kepentingan menghendaki, maka yang semula lawan bisa dalam sekejap menjadi kawan, dan sebaliknya.  Bahwa kepentingan tetap menjadi penentu itu juga terungkap dalam curhat-nya Sri Mulyani pada acara kuliah umum tentang ‘Kebijakan Publik dan Etika Publik” di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 18/5.  Ia menjelaskan mengapa mundur dari jabatan Menteri Keuangan dan menerima jabatan Direktur Operasional di Bank Dunia.  Ia mengatakan, “Ini adalah suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya, atau apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik, tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik di mana perkawinan kepentingan itu sangat dominan.  Banyak yang mengatakannya kawin, walaupun jenis kelaminnya sama”.

Curhat Sri Mulyani itu menandaskan bahwa kepentingan masih begitu menonjol dalam proses politik dan kebijakan di negeri ini.  Apalagi dalam sistem demokrasi yang prosesnya memerlukan biaya yang sangat besar.  Akhirnya, kepentingan politik itu berkolaborasi dengan kepentingan para cukong yang bisa mengongkosi proses politik demokrasi itu.  Muncullah penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal serta kepentingan politisi dan kelompoknya dengan menjadikan kepentingan masyarakat banyak sebagai komoditasnya.

Ironisnya, semua itu bukan hanya terjadi di pusat, tetapi juga menjalar dan merata di daerah-daerah.  Lihat saja, lebih dari seratus kepala daerah dan pejabat daerah yang notabene hasil dari proses demokrasi sudah antre untuk diproses hukum oleh aparat karena kasus korupsi.  Lihat pula bagaimana mereka berupaya mati-matian agar tampuk kekuasaan di daerah itu tidak berpindah dari tangan mereka.  Untuk itu maka istri, anak, kerabat, atau orang-orang dekat mereka pun dicalonkan untuk menjadi pengganti mereka.  Tentu saja peran para cukong dalam proses itu akhirnya menjadi demikian besar.

Karena kepentingan yang menjadi penentu, proses-proses hukum pun senantiasa pilih kasih.  Jika pelakunya para pejabat, mereka yang dekat dengan kekuasaan, atau para pemilik modal, maka akan dibiarkan atau setidaknya prosesnya akan berjalan begitu lambat.  Ketika masyarakat lupa atau tidak memperhatikannya, kasusnya pun dipetieskan.  Penanganan kasus Century pun diindikasikan akan menjadi seperti itu.  Itulah politik ‘politik tipu-tipu’ ala demokrasi.  Poltik semacam ini tentu harus segera ditinggalkan.

POLITIK ISLAM

Semua itu tentu menyalahi tuntunan Islam.  Dalam Islam, politik adalah bagaimana memelihara urusan rakyat.  Politik mengurus rakyat itu adalah tugas para nabi dan dilanjutkan menjadi tugas setiap khalifah, pejabat, dan pemimpin masyarakat pasca Nabi saw.  Karena itu, Islam menggariskan bahwa tugas pemimpin adalah mengurusi kepentingan rakyat.  Nabi saw. bersabda :

“Pemimpin yang menangani urusan masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemimpin, termasuk para pejabat dan politisi, seperti diungkapkan Nabi saw. di atas, bertanggung jawab mengurusi urusan dan kepentingan rakyat laksana seorang penggembala mengurusi gembalaannya.  Karena itu, tugas pemimpin itu adalah merealisasikan kemaslahatan bagi rakyat dan menolak kemadharatann dari mereka; bukan mengedepankan kepentingannya sendiri, kelompoknya atau pemilik modal, apalagi pihak asing.

Sebagai agama paripurna, ketika mensyariatkan bahwa kepemimpinan dan jabatan adalah demi mengurusi urusan dan kemaslahatan rakyat, Islam juga memberikan serangkaian hukum yang harus dijadikan panduan dan dipegang teguh untuk merealisasikan sekaligus menjamin terpeliharanya kepentingan rakyat itu.  Semua itu terangkum dalam sistem syariah baik di bidang pemerintahan seperti kewajiban muhasabah (kontrol), hukum-hukum pemerintahan, dan sebagainya; di bidang ekonomi, mulai hukum tentang kepemilikan dan pengelolaan kepemilikan itu, hukum-hukum tentang moneter, hukum-hukum tentang Baitul Mal, dan sebagainya; maupun dalam bidang sosial, kebudayaan, politik luar negeri, dan sebagainya.

Islam tidak membiarkan perbuatan hukum dan aturan diserahkan kepada manusia sehingga menjadi komoditas tawar-menawar berdasarkan kepentingan.  Islam telah menetapkan hukum-hukum pengelolaan negara dan urusan masyarakat yang harus dijadikan pandangan dan dipedomani oleh setiap penguasa, pejabat, pemimpin, dan seluruh rakyat.  Untuk menjamin pelaksanaan hukum-hukum itu secara baik, Islam menetapkan muhasabah (kontrol/koreksi) terhadap penguasa sebagai kewajiban bagi masyarakat baik secara individual maupun kolektif.  Islam memberikan ruang yang sedemikian luas bagi semua itu sebagaimana bisa dilihat dalam hukum-hukum politik dan pemerintahan Islam secara rinci.

Islam juga menetapkan adanya pertanggungjawaban di akhirat atas pemimpin.  Setiap pemimpin akan Allah mintai pertanggungjawaban atas bagaimana dia mengurusi kepentingan rakyat yang Allah bebankan di atas pundaknya.  Jika pemimpin sempurna menunaikan tugasnya mengurusi kepentingan rakyatnya, maka dia akan mendapat tempat di surga bersama para nabi dan rasul.  Sebaliknya, jika dia menipu rakyatnya maka dia akan ditandai sesuai dengan kadar penipuannya.  Nabi saw. bersabda :

“Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya.  Ingatlah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari (pengkhianatan) seorang pemimpin masyarakat”.  (HR. Muslim)

Wahai Kaum Muslim :

Fakta-fakta yang ada di depan kita telah jelas sekali menunjukkan bahwa sistem politik demokrasi sebagai bagian dari ideologi
Kapitalisme hanya melahirkan para politisi dan politik yang mengabdi pada kepentingan politik politisi, kelompoknya, dan para pemilik modal bahkan pihak-pihak asing.  Sebaliknya, Islam — secara total saat kita
mengucapkan dua kalimah syahadat — telah memberikan tuntunan, aturan dan sistem yang menjamin para pejabat, pemimpin, dan politisi akan senantiasa memperhatikan dan mengutamakan kepentingan rakyat.  Lebih dari itu, Allah menjamin bahwa Islam yang Dia turunkan untuk menjadi pedoman hidup kita akan memberikan kehidupan dan kerahmatan bagi seluruh alam.  Karena itu, sudah saatnya dan sudah mendesak bagi kita untuk meninggalkan sistem politik sekular demokrasi, kemudian menggantinya dengan sistem Islam yang telah Allah SWT turunkan.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kalian kehidupan”. (QS. Al Anfal [8] : 24)

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: