PERMINTAAN ISTIMEWA


Dikutip dari  : UMMI, No. 09/XX Januari 2009

a

a

Rabi’ah bin Ka’ab adalah seorang sahabat yang masuk Islam sejak usianya masih muda.  Dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan selalu berupaya agar bisa banyak beramal shalih.  Ia tidak memiliki harta benda yang disedekahkan.  Bahkan, karena tak memiliki rumah Rabi’ah pun hanya bisa tidur di pelataran masjid.

Pelataran masjid di Madinah memang biasa dihuni oleh kaum miskin yang tidak memiliki tempat tinggal.  Sesekali para musafir yang tengah singgah di Madinah pun tidur di pelataran masjid ini.  Namun lebih sering hanya kaum miskin saja yang menghabiskan malam demi malam di sana, seperti Rabi’ah.  Meski demikian Rabi’ah tidak pernah mengeluhkan kemiskinannya.  Dia tetap berusaha keras bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari sambil selalu berpikir, amal shalih apa lagi yang bisa dibaktikannya kepada Islam.

Pada suatu hari Rabi’ah berpikir, “Kenapa aku tidak berusaha berkhidmat menjadi pelayan Rasulullah saja ya?  Pelayan yang siap mendampingi dan membantu Rasulullah saw. dalam berbagai kesempatan.  Jika beliau menyukai ide ini pastilah diriku akan menjadi orang yang berbahagia berada di samping beliau dalam mencintainya dan semoga saja bisa memperoleh keuntungan di dunia dan akhirat dengan berkhidmat kepada Rasulullah saw.  Ah, baiklah, aku akan mencobanya…”

Setelah beberapa waktu keinginan Rabi’ah itu menjadi sebuah tekad yang bulat.  Maka, dengan hati berdebar-debar, pada suatu hari Rabi’ah mendatangi Rasulullah saw. dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi pelayan Rasulullah.

Tak disangkanya, ternyata Rasulullah berkenan menerima permohonan Rabi’ah.  Maka, sejak hari itu Rabi’ah pun selalu berada di dekat Rasulullah saw., siap mendampingi dan menjadi pelayan sang Nabi.  Rabi’ah tdak pernah nampak jauh dari sisi Nabi.  Bila Nabi saw. membutuhkan sesuatu, maka Rabi’ah pun sigap melayaninya.

Rabi’ah baru meninggalkan Rasulullah saat hari menjelang malam untuk beristirahat.  Kemudian, karena Rabi’ah tinggal di pelataran masjid, yang bersebelahan dengan rumah Rasulullah, maka Rabi’ah seringkali ikut pula bangun di larut malam untuk menikmati bacaan Qur’an saat Nabi menunaikan shalat malam.  Maka, hari demi
hari Rabi’ah merasa semakin bahagia, karena menikmati kebersamaan bersama Rasulullah.

Setelah beberapa waktu, Nabi pun memanggil Rabi’ah untuk memberi balasan kebaikan.  Ya, sebab sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw., jika seorang berbuat baik kepadanya, beliau suka bila dapat membalasnya dengan balasan yang paling baik.

“Wahai Rabi’ah bin Ka’ab, kemarilah, sebutlah satu permintaan, nanti akan kupenuhi”, kata Nabi saw.

Rabi’ah terdiam mendengar perkataan Nabi.  Sungguh, Rabi’ah belum tahu akan menjawab apa, karena selama ini sesungguhnya dia berkhidmat melayani Rasul tanpa mengharap imbalan apa-apa kecuali berharap dirinya akan memperoleh keridhoan Allah swt.  Maka Rabi’ah pun menjawab, “Ya Rasulullah, berilah aku sedikit waktu untuk berpikir terlebih dahulu.  Kalau sudah tahu apa yang kuinginkan aku akan mengatakannya”.

“Baiklah kalau begitu”, jawab Rasulullah.

Mulai sejak hari itu Rabi’ah berpikir tentang apa yang akan dimintanya kepada Rasulullah.  Apa ya yang akan dimintanya?  Apa ya?

Lantas Rabi’ah berpikir tentang kondisinya sebagai ahlush shuffah, orang yang tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan orang-orang fakir kaum muslimin lainnya.  Sebagai ahlush shuffah, tidak banyak kecukupan hidup yang dimiliki Rabi’ah dan orang-orang sepertinya.  Itu sebabnya Rasulullah sangat memperhatikan para ahlush shuffah ini.  Bila ada seorang muslim menyampaikan sedekah kepada Rasulullah, sedekah itu akan diberikan seluruhnya oleh Nabi kepada ahlush shuffah.  Sementara bila ada yang memberikan hadiah kepada Rasulullah, maka sedikit hadiah itu akan diambil oleh Rasul sementara selebihnya akan diberikannya kepada ahlush shuffah pula.

Sekilas Rabi’ah berpikir untuk meminta sejumlah harta saja kepada Nabi.  Rabi’ah berpikir, harta bisa membantunya terbebas dari kefakiran sehingga dia bisa hidup seperti orang-orang lain yang berkecukupan.  Tetapi, segera saja hati kecil Rabi’ah menegurnya, “Astaghfirullah, betapa celaka engkau, wahai Rabi’ah bin Ka’ab!  Mengapa engkau berpikir meminta dunia yang dengan mudah akan hilang lenyap tak berbekas, apalagi rezekimu di dunia sudah dijamin Allah, pasti ada tanpa engkau mengharap dunia.  Ingatlah Rabi’ah, Rasulullah saw. yang berada dekat Rabb-Nya, permintaannya tak pernah ditolak.  Maka mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu”.

Hati Rabi’ah pun menjadi mantap.  Maka bergegaslah Rabi’ah menemui Rasulullah.

“Aku sudah tahu apa yang kuinginkan ya Rasul”, kata Rabi’ah setiba di depan Nabi.

Rasulullah pun bertanya, “Apa permintaanmu itu, wahai Rabi’ah?”

“Ya Rasulullah, aku memohon sudilah engkau mendoakan kepada Allah Taala agar aku kelak akan menjadi temanmu di surga”, jawab Rabi’ah.

Agak lama juga Rasulullah saw terdiam.  Sesudah itu barulah beliau berkata, “Apakah benar-benar tidak ada lagi permintaanmu yang lain, wahai Rabi’ah?”

Rabi’ah menjawab dengan sangat mantap, “Tidak ada, ya Rasulullah.  Sungguh bagiku, tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut”.

Maka Rasulullah pun tersenyum dan berkata dengan lembutnya, “Baiklah kalau begitu Rabi’ah, namun engkau harus membantu doaku dengan bantuan dari dirimu sendiri.  Banyak-banyaklah kamu bersujud kepada Allah”.

Betapa bahagianya hati Rabi’ah mendengar jawaban Rasulullah.  Mukanya berseri-seri dan tekadnya membara untuk mentaati apa yang diucapkan Rasul.  Maka sejak itu Rabi’ah pun lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan memperbanyak sujudnya kepada Allah karena dia benar-benar ingin cita-citanya menjadi teman Rasulullah saw. di surga tercapai.  Semoga Allah meridhai Rabi’ah bin Ka’ab yang memiliki permintaan istimewa.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: