TEMBANG CINTA


Karya : Inayati
Dikutip dari  : UMMI, No. 01/XVI Mei-Juni 2004 M / 1424 H.

.

a

“Dia datang lagi…”.

“Siapa?”

“Si Bos.  Dia mau menghabisi aku.  Tugasku gagal, katanya”.

“Ma, mereka tidak sungguh-sungguh ada.  Lupakan saja”.

“Tidak! Mereka benar-benar ada!  Kamu tidak mau percaya Mama!”

“Berangkat, Ma.  Assalamu’alaikum”.

“Yan, bagaimana kalau dia datang?”

“Yan!”

Masih belum ada perubahan.  Mama masih dihantui berbagai halusinasi.  Tiga tahun terapi tampaknya belum cukup untuk memulihkan Mama.  Dokter Adrian sudah berusaha semampunya untuk menyembuhkan Mama, tetapi kelihatannya sulit.

“Yan, Dia mengejek Mama.  Katanya, Mama perempuan nakal”.

Aku memandang Mama.  Perempuan itu?  Perempuan yang sedang asyik membaca buku itu mengejek Mama?  Setahuku, ia sama sekali tidak bicara sejak kereta bergerak meninggalkan Stasiun Jatinegara.  Saat itu, untuk pertama kalinya aku menyadari, ada yang aneh dengan Mama.

Mama memang sering murung sebelumnya.  Aku menganggapnya wajar.  Kematian Papa yang tragis memang menyisakan duka yang mendalam di hati kami.  Papa dibunuh oleh saingan bisnisnya suatu malam dalam perjalanan pulang.  Sebuah sepeda motor mencegat mobil Papa.  Pengemudinya menembak Papa, kemudian melarikan diri dalam kegelapan malam.

Sejak itu, tingkah Mama semakin aneh.  Mama selalu merasa mendengar suara-suara yang menjelek-jelekkannya.  Ia juga sering merasa dikunjungi orang yang akan membunuhnya.  Orang-orang itu, kata Mama, tidak puas dengan pekerjaan yang dilakukan Mama.  Menurut Mama, ia terlibat dalam satu komplotan yang memiliki tugas sangat rahasia.

***

“Yan…” Rani menatapku.

“Bagaimana Mama?”

“Masih belum ada perkembangan”.

“Apa kata dokter?””

“Terapinya massih harus dilanjutkan.  Mama harus diyakinkan bahwa apa yang didengar atau dilihatnya tidak benar-benar ada.  Tapi sulit…”

Aku melanjutkan menyantap gado-gadoku.

“Kamu pernah berpikir untuk berkeluarga?” Rani menatapku.

“Pernah. Tapi, aku mencoba untuk realistis.  Tidak banyak yang mau menerima kondisi mama”.

Pengalaman dengan Pramono terbayang lagi.  Orang tua Pramono tidak bisa menerimaku.  Mereka tidak ingin berbesan dengan mama.  Secara halus, mereka juga mengungkapkan kekhawatian dengan kemungkinan menurunnya penyakit mama.  Betapa pun kerasnya usaha Pramono meyakinkan orang tuanya, mereka tetap tidak merestui hubungan kami.

“Bagaimana kalau ternyata ada yang mau menerima apa adanya?”

Aku hanya tersenyum.

“Yan, temani aku, ya.  Aku mau ke toko buku…”  Rani menatapku dengan pandangan memohon.

Hampir setengah lima sore.  Aku dan Rani menyusuri rak buku.  Aku berhenti sejenak untuk membaca sebuah novel terjemahan yang baru kubuka resensinya di koran kemarin.

Aku masih asyik membaca saat Rani menepuk pundakku.

“Pulang, yuk…”

“Sudah dapat bukunya?”

“Habis barangkali…”

“Lagi?  Baru kemarin kami ke toko buku”.

“Yah, siapa tahu buku yang kucari sekarang sudah ada…”

Aku mengalah.

“Yan, kenalkan, teman kuliahku, Ahmad…”

Sosok itu tiba-tiba berdiri dan tersenyum di hadapanku.  Aku mengangguk sambil tersenyum.  Setelah berbasa-basi sejenak, kami berpisah.

Sepanjang minggu ini aku benar-benar sibuk.  Pekerjaanku bertumpuk.  Aku juga harus mengantar Mama dua kali konsultasi dengan Dokter Adrian.  Mama beberapa kali histeris dan mengamuk.

“Yan, tolong!  Tolooooooong!”

Aku berlari ke kamar Mama.

“Pergi!  Ayo pergi!  Aku panggil polisi nanti!”

“Ma… tidak ada siapa-siapa, Ma.  Tenang…”

“Bohong!  Itu!  Di belakangmu…  Awas, Yan!  Dia mau memukulmu!”

Mama melempar sisir ke arahku.

“Minggir, Yan!  Biar Mama hadapi mereka!”

Mata Mama terbelalak.  Wajahnya merah.  Mbak Yatmi membantuku menenangkan Mama.  Mama terus meronta-ronta sambil menyumpah-nyumpah.  Aku membisikkan istighfar di telinga Mama. Setelah berusaha hampir setengah jam, barulah kami berhasil menenangkan Mama.

Kondisi Mama semakin buruk.  Aku memang tidak boleh putus asa, tetapi rasanya, harapan untuk melihat Mama sembuh semakin kecil.  Satu hal yang aku syukuri, Mama tidak pernah meninggalkan rumah, apalagi mengamuk di luar rumah.

“Yan…”

Aku menoleh.  Rani tersenyum menatapku.

“Tugasnya belum selesai?”

Aku menggeleng.

“Nanti pulang bareng, ya…”

“Insya Allah”.

Hujan lebat menghalangi pandangan.  Rani mengemudikan mobil dengan hati-hati.

“Yan, kamu masih ingat Ahmad?”

Kaca di sampingku berembun.  “Ahmad?”

“Ya”.

Rani bercerita tentang Ahmad.  Aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakannya.  Air hujan di luar lebih menarik perhatianku.

“Ayo Pa!”  Kutarik tangan Papa.  Kami berlarian sepanjang jalan.  Hujan membasahi tubuh kami.  Aku meloncat-loncat kegirangan.  Untuk pertama kalinya aku berhasil membujuk Papa untuk mandi hujan bersama saat pulang sekolah. Kami masih tertawa-tawa saat tiba di rumah dan Mama memarahi kami berdua.

Papa… bagaimana perasaannya kalau melihat kondisi Mama sekarang?  Papa sangat menyayangi Mama.  Setiap Mama sakit, Papa selalu cemas.

“Bagaimana pendapatmu tentang Ahmad”.

“Ehm… baik”.

“Pa, kenapa kalau hujan, kaca berembun?”  Aku mencoret-coret kaca di sampingku.

“Ehm…”

Papa tidak mengalihkan pandangannya dari jalan raya.

“Pa!”

“Yah, karena… karena apa, ya?   Sebentar, Papa pikir dulu”.  Papa mengernyitkan dahinya, kemudian berpura-pura berpikir keras.

“Yan… jadi, besok ya aku bawakan?”

“Apa?  Kamu mau bawa apa?  Rujak?”

“Ya Allah, Yan!  Jadi kamu tidak mendengarkan Aku?  Biodata Ahmad”.

“Biodata?”

Rani menatapku kesal.

“Ya sudah, bawakan saja”.  Aku tidak ingin ribut dengan Rani.

“Ini yang aku janjikan”.  Rani menyodorkan amplop coklat itu kepadaku.

Aku menyimpannya di dalam laci.  Bayangan orang tua Pramono berkelebat lagi di mataku.

Malam itu, aku membaca biodata Ahmad.  Rapi dan sangat lengkap.  Ada beberapa bagian yang ditulis secara detail.  Ia bahkan menceritakan pengalaman masa kecilnya, juga pola asuh orang tuanya.  Kelihatannya, Ahmad sangat dekat dengan orang tuanya.

Prang!  Mama?

Mama melemparkan piring ke dinding ruang makan, kemudian menjerit-jerit histeris.  Untuk ke sekian kalinya, aku dan Yu Yatmi berusaha menenangkan Mama.  Aku memandang Mama dengan sedih.  Apakah Rani sudah bercerita kepada Ahmad tentang kondisi Mama?  Bagaimana pendapat orang tuanya?

“Yan, bagaimana?”

“Aku tidak tahu.  Kondisi Mama semakin buruk.  Sebaiknya tidak usaha saja, Ran…”

“Aku sudah menceritakan semuanya kepada Ahmad.  Dia tidak keberatan”.

Aku menarik nafas panjang.  Pramono juga tidak pernah merasa keberatan.

“Orang tuanya”

“Menurut Ahmad, tidak masalah”.

Aku menatapnya.  “Yakin?”

Rani mengangguk.

Aku tidak ingin berharap terlalu banyak.  Biarlah Allah yang menentukan semuanya untukku.  Kehendak-Nyalah yang terbaik.

“Yan, Ahmad ingin berkunjung ke rumahmu”.

“secepat ini?”

“Boleh?”

“Kapan?”

“Besok malam, insya Allah”.

Ahmad benar-benar datang, ditemani oleh Rani dan suaminya.  Kami berbincang akrab tentang banyak hal.  Tampaknya kami memiliki beberapa persamaan.

“Orang tua Ahmad ingin bertemu denganmu”.

Aku menatap Rani.  Sungguh?

Malam itu, mereka datang.  Orang tua Ahmad benar-benar menjaga sikapnya.  Mereka sangat berhati-hati saat bertanya tentang orang tuaku.

Aku bercerita apa adanya tentang Mama dan Papa.  Biarlah, lebih baik mereka mendengar langsung dariku.  Mereka mendengarkan tanpa bicara apa-apa.  Sementara Ahmad hanya tertunduk mendengar ceritaku.

“Yan!  Yan!  Tolooooong!”

Aku tercekat.  Lima belas menit yang lalu, saat aku tinggalkan, Mama sedang tertidur lelap.  Aku berlari ke ruang tengah.  Mama berteriak-teriak histeris lagi.  Yu Yatmi sedang berusaha menenangkan Mama.  Aku memeluk Mama.  Ia masih berteriak dan meronta-ronta.  Kali ini, Mama benar-benar histeris.  Bahkan ia berteriak lebih keras dari biasanya.  Mama juga mengumpat-umpat dengan suara keras.

Mama… air mataku menetes.  Aku tidak malu dengan keadaan Mama.  Aku hanya tidak ingin orang tua Ahmad memandang rendah Mama.  Aku sangat mencintai Mama, dan tidak akan menukarnya dengan apa pun di dunia ini.  Termasuk mengorbankan Mama untuk menikah dengan seseorang.  Mama telah berkorban banyak untukku.  Aku masih ingat cerita Papa, jiwa Mama hampir tak tertolong saat melahirkan aku.  Mama mengalami perdarahan hebat.

Akhirnya, Mama tenang kembali setelah hampir setengah jam aku membujuknya.  Dokter Andrian memang sudah menyarankan agar Mama dirawat inap untuk beberapa waktu.  Tetapi aku masih bimbang.  Aku tidak tega menyerahkan Mama untuk dirawat orang lain di tengah lingkungan yang asing baginya.

Aku kembali ke ruang tamu dengan perasaan tidak menentu.  Ahmad memandangku sekilas.  Wajah orang tua Ahmad tampak pucat.  Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sekarang….

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: