PRESTASI TAK BOLEH MATI


Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 02/09, 09 Januari 2009 M / 12 Muharram 1430 H

.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.  Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Anfal : 60)

Betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.  Nikmat-Nya tak perah bertepi.  Malam datang dengan keindahan, gelap pun memberikan ketenangan dan kesejukan.  Pagi yang segar menyudahi malam nan damai.  Siang datang melambai menawarkan harapan.

Seperti itulah dunia berputar.  Silih berganti siang menggantikan malam.  Waktu terus berlalu, mencatat prestasi dari generasi ke generasi.  Ada yang tetap istiqamah menapaki jalan dakwah nan terjal dan bebatuan, sabar dengan terpaan asap dan debu-debu peradaban.  Tapi tak sekit yang akhirnya duduk bersandar melepaskan lelah  Seraya matanya mulai memejam terhadap keculasan manusia sekitar.

USAHAKAN UNTUK MEMBERI SESUATU YANG TERBAIK

Di antara ciri kekikiran yang mungkin sempat melekat dalam hati hamba Allah adalah sedikit mengeluarkan, tapi ingin banyak menerima.  Mungkin ini bisa cocok buat bisnis sesama manusia.  Tapi, tidak akan pas jika ditujukan pada bisnis dengan Alah SWT.

Kebodohan adalah hal dominan yang menjadikan manusia berpikir sempit soal bisnis dengan Allah SWT.  Pandangannya terbatas hanya pada takaran materi dengan ruang lingkup duniawi yang sempit.  Tidak heran jika ada manusia yang merasa tidak perlu untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat bisnis di jalan Allah.  Tidak jarang, jatah infak dan sedekah selalu jatuh pada porsi sisa, uang yang kumal dan sedikit sobek.

Seperti itulah ajakan Allah SWT. buat hamba-hamba Allah yang cerdas.  “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu bisnis yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.  Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”. (QS. Ash Shaff : 10 – 11).

Surga adalah tawaran yang teramat luar biasa yang diberikan oleh Yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Kenikmatan apa pun yang pernah tersedia di dunia ini sedikit pun tak akan pernah menyamai nikmatnya surga.  Seperti itulah rincian-rincian tentang keberadaan surga yang Allah paparkan dalam Al Qur’an : makanan terbaik, minuman terbaik, pasangan terbaik, tempat tinggal terbaik; buat selama-lamanya.

Lalu, apakah belum juga ita merasa malu dengan berharap, bahkan begitu percaya diri, bisa masuk surga hanya dengan beberapa koin, uang kumal, tenaga sisa, dan prestasi kerja ala kadarnya.

Sepantasnyalah kita malu dengan teguran Allah dalam firman-Nya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana hanya orang-orang terdahulu sebelum kamu?  Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah …” (QS. Al Baqarah : 214).

Mungkin, kita lupa kalau segala keutamaan yang kita berikan dalam jalan Allah, sama sekali tidak mempengaruhi kerajaan Allah SWT.  Allah sudah teramat kaya dibandingkan nilai apa pun di alam raya ini.  Dunia buat Allah tidak senilai sayap nyamuk.  Justru keutamaan dan nilai unggul yang dikeluarkan, semuanya akan kembali buat hamba-hamba Allah itu sendiri.  Langsung, atau tertunda.

JANGAN MUDAH DIPERMAINKAN ANGAN-ANGAN

Merasa paling berjasa, paling banyak amal adalah di antara tanda tergelincirnya seorang hamba Allah pada jurang kebinasaan.  Karena mulai dari sinilah produktifitas kerja dakwahnya mulai berkurang, dan akhirnya mati.  Ia merasa cukup menjadi orang-orang yang pernah beramal.  Bukan menjadi orang-orang yang senantiasa beramal.  Maha Bijaksana Allah dengan pelajaran yang termuat dalam firman Allah SWT. : “Katakanlah : ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’  Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (QS. Al Kahfi : 103 – 104).

Setan senantiasa menghembuskan semangat keliru tentang itu.  “Anda tergolong aktifis senior.  Amal Anda sudah tak lagi terhitung.  Begitu banyak.  Tak seorang pun bisa menyamai nilai dan jumlah amal Anda.  Yakinlah, dengan prestasi itu saja, Anda pasti masuk surga.  Cukup.  Kini saatnya Anda istirahat dari pentas dakwah.  Saatnya junior mengambil alih beban-beban Anda.  Anda teramat mulia untuk mengerjakan program-program teknis…”, begitulah kira-kira hembusan jahat setan yang terus menerus mengintai peluang.  Sejenak hamba Allah lengah, saat itu juga ia masuk.  Na’udzubillah min dzalik.

YAKINLAH BAHWA BALASAN ALLAH ADALAH YANG TERBAIK

Untuk rugi memang hal lumrah dalam hitung-hitungan bisnis.  Kalau terus untung bisnis bisa berkembang, dan terus rugi bisnis bisa jatuh ambruk.  Hitung-hitungan untung rugu selalu berkait dengan urusan materi.  Karena itulah ruang lingkup bisnis.  Tidak akan bisa lepas dengan yang namanya materi.

Itulah mungkin kenapa Allah SWT. memberikan penjelasan rinci soal pahala.  Seperti apakah akumulasi pahala yang diberikan Allah sebagai ganjaran buat hamba-hambanya yang sukses dalam bisnis ini.  Nilai tukarnya begitu jelas.  Surga tergambar rinci dalam Al Qur’an.

Tanpa disadari oleh manusia, sebenarnya ganjaran itu sudah Allah berikan di dunia ini.  Adakah yang lebih mahal di dunia ini daripada pasangan yang shaleh dan shalehah.  Adakah yang lebih berharga di dunia ini daripada anak-anak yang taat pada orang tuanya.  Adakah yang lebih berharga di dunia ini dibandingkan rekan-rekan seperjuangan yang dipersaudarakan oleh Allah.  Adakah yang lebih nikmat di dunia ini dibandingkan ketenangan hidup bersama keimanan.  Dunia menjadi miniatur surga.  “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir : seratus biji.  Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saya yang Dia kehendakai.  Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah : 261).

Wallahu a’alam bish shawab

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: