KUALITAS, MODAL SUKSES


Sumber : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun III/1 Juli 1429 H / 2008 M
a

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (Hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi kepadamu sedikit pun juga, dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai berai.  Kemudian Allah menurunkan ketenangan pada Rasulul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir” [QS. At Taubah : 25 – 26]

Jauh sebelum kita menyusun formasi barisan dalam rangka melakukan persiapan menghadapi berbagai kemungkinan perlu kiranya kita mengecek ulang, seberapa jauh tingkat loyalitas umat terhadap nilai yang diyakini kebenarannya.  Perlu adanya evaluasi yang terus menerus agar tidak salah perhitungan.

Masalahnya terlalu sering kita dikecewakan oleh beberapa kenyataan akibat salah perhitungan.  Kita terlalu mengutamakan jumlah, kita bangga dengan angka, sehingga lupa menilik mutu dan kualitasnya.  Kita sering terkecoh oleh diri kita sendiri karena menganggap terlalu hebat dan di atas angin.  Dengan alasan jumlah yang cukup besar, segala sesuatu akan mudah dicapai.  Apalagi bila terlihat di antara jumlah yang besar itu ada yang punya posisi yang cukup menentukan, yakinlah kita bahwa segala-galanya telah rampung dan beres.

Perkiraan dan perhitungan seperti ini yang sesungguhnya membawa malapetaka, bahkan mengundang ancaman kehancuran total.  Sebab, dengan demikian kita kehilangan momentum strategis yang sangat mahal.

Dengan sekian banyak pengalaman, rasanya telah cukup bukti betapa riskannya jumlah tanpa kualitas itu.  Kenyataan yang ada telah memberi pelajaran berharga bagi kita, maka kita akan semakin yakin akan kebenaran penegasan Allah SWT, untuk menjaga mutu dan kualitas.  Tanpa itu tak akan berarti semua perjuangan ini.

Kenapa negeri ini pernah dijajah kaum kolonialis selama tiga ratus lima puluh tahun?  Adakah jumlah kita pada waktu itu sedikit?  Tidak, kita mayoritas, sebab kita adalah penduduk asli.  Masalahnya memang bukan soal kuantitas tapi kualitas.  Bukan angka dan jumlah, tapi bobot dan isi.

Dalam kasus ini alangkah baiknya bila kita simak satu peristiwa besar yang pernah dialami oleh Nabi dan para sahabatnya dulu.  Dalam Perang Hunain, jumlah tentara muslimin sangat besar.  Belum pernah Rasulullah maju berperang dengan mengerahkan bala tentara sebanyak itu.  Akan tetapi, bukan kemenangan yang diperoleh sebagaimana pada perang-perang sebelumnya, malahan justru nyaris hancur total.  Andaikata Allah tidak segera mengulurkan bantuan-Nya, niscaya pasukan kaum muslimin hancur berantakan.

Sebenarnya, secara teori umat Islam saat itu mesti menang.  Dilihat dari sudut mana pun tak ada titik rawan.  Diutak-utik dengan strategi apa pun, pasukan muslimin di atas angin.  Jumlah pasukan cukup besar.  Peralatan juga cukup memadai.  Ditambah lagi secara psikologis mereka baru saja mendapat kemenangan yang sangat gemilang, yaitu FUTUH MAKKAH.  Tetapi, kenapa mereka hampir saja terkalahkan oleh musuh?  Untuk mendapat informasi yang sejelas-jelasnya tentang permasalahan ini, kita kutip firman Allah Surah At-Taubah di atas.

Dengan demikian terjawablah pertanyaan, kenapa merepa kalah padahal jumlah mereka besar?  Jumlah yang besar sering kali menjadikan kita menyepelekan bantuan Allah SWT.  Yakin dan bangga dengan kemampuan dan kehebatan diri termasuk kehebatan organisasi yang berjumlah besar.  Nampak dalam penampilan seolah-olah kita tidak lagi butuh bantuan Allah SWT.  Sungguh hal ini merupakan suatu bentuk ketakaburan yang bisa mengundang amarah tuhan.

Hal ini bukan berarti kita harus menghindari jumlah yang banyak, sama sekali bukan itu yang dimaksudkan.  Jumlah banyak itu juga penting, asal kualitas bisa dijamin.  Bahkan, alangkah idealnya sekiranya umat Islam ini menjadi kelompok yang besar dengan kualitas yang mumpuni.  Hanya saja, pada umumnya bila sudah ada kecenderungan mengejar jumlah sebagai target skala prioritas, faktor kualitas kurang mendapat perhatian.

Jauh sebelum hal ini terjadi pada diri kita, Allah telah mengangkat peristiwa Perang Hunain ini sebagai pelajaran yang cukup berharga agar kita tidak mengulanginya, tidak terperosok untuk kali yang kedua.

Melalui peristiwa Hunain, Allah hendak memberi pelajaran yang cukup berarti bagi kita, tentang bahayanya menambah personil tanpa diikuti oleh peningkatan kualitas.  Akhirnya bukan kekuatan yang terhimpun, akan tetapi malah menjadi beban yang sangat merepotkan.  Bila demikian habislah waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk berbenah ke dalam.  Masalah konsolidasi organisasi selalu menjadi program utama setiap periode tanpa hasil yang gemilang.  Kenapa?  Kualitas umat belum cukup untuk meraih sebuah kemenangan.

MENIMBANG BOBOT UMAT

Dalam banyak ayat, Allah berkali-kali menandaskan statemen-Nya bahwa keberhasilan, kemenangan, dan kejayaan umat ini dapat dicapai hanya dengan kualitas yang memadai.  Ada pun kuantitas tidak disebut-sebut sebagai syarat kemenangan.  Cenderung diabaikan.  Bahkan sebaliknya, umat Islam dianjurkan berhati-hati dengan jumlah yang besar.  Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah : 249

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang besar dengan ijin Allah.  Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Ayat ini mari kita refleksikan dengan kondisi umat Islam sekarang ini.  Jumlah kaum Muslimin saat ini telah mencapai seperlima dari jumlah seluruh umat manusia yang masih hidup.  Mereka tersebar di seluruh benua dan hampir di semua negara.

Kini timbul pertanyaan, kenapa jumlah yang begitu banyak tidak mampu mengangkat Islam sebagai satu sistem nilai yang dapat mewarnai gerak kehidupan ini?  Sederet pertanyaan lagi bisa kita jajar di sini.  Yang jelas dan pasti banyaknya jumlah tidak memberi andil apa-apa dalam kehidupan ini.

Melihat kenyataan ini, memaksa kita untuk membenarkan ramalan Nabi dalam sebuah sabdanya : “Akan datang saatnya nanti umat Islam akan menjadi rebutan bagai makanan yang terhidang di atas meja makan, kemudian datang orang-orang yang sangat lapar dam rakus memakannya hingga habis.  Kontan para sahabat Nabi keheranan dengan pernyataan ini, kemudian mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah jumlah umat Islam ketika itu sedikut?’  Jawab Nabi, ‘Tidak, justru saat itu jumlahnya banyak sekai.  Akan tetapi mereka terjangkit penyakit wahn‘.  Kembali para sahabat bertanya, ‘Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah’.  Nabi menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati’.

Tegasnya, jumlah yang banyak tanpa kualitas yang memadai memberi peluang empuk kepada orang-orang munafik untuk terundang dengan segala hormat datang menghancurkan barisan ke dalam.

Dari sini sudah dapat kita bayangkan, bila mereka yang masuk memiliki sifat dan watak munafik saja sudah cukup membahayakan, apalagi kalau yang masuk adalah mereka yang sengaja diselundupkan, orang-orang munafik profesional.  Betapa gampang dan mulusnya mereka membuat aksi makar, dan tinggal tunggu waktu saja kehancuran umat Islam.

Wallah a’lam bi ash shawab

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: