KEPING KASIH TERAKHIR


Dikutip : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.
Karya : Yunita Tri Damayanti (Juara Harapan I Lomba Cerpen Ummi)   

    

    

Aku menatap surat yang tergeletak di meja tamu tanpa minat.  Surat panggilan dari sekolah Saras, surat panggilan keempat yang kuterima bulan ini.  Aku malas membacanya.  Pasti isinya sama saja dengan tiga surat sebelumnya, meminta aku datang menemui guru Saras.  Ada hal penting yang ingin dibicarakan.  Begitu yang tertulis dalam surat.   

Aku menghela nafas.  Surat-surat ini sangat menggangguku.  Heran.  Hal penting apa sih yang dihadapi anak kelas dua SD macam Saras?  Kupikir ia baik-baik saja.  Rapornya kemarin cukup bagus.  Pe-er, setahuku selalu dikerjakannya dengan baik.  Ia juga tidak pernah bolos.  Berantem dengan teman sekelas?  Ah, mana berani dia?   

Aku mengeluh dalam hati.  Tidak hanya surat-surat itu yang membuatku sebal.  Beberapa kali wali kelas Saras juga menelpon ke rumah, atau ke HP.  Tapi aku tak ingin mengangkatnya.  Malas.  Buang-buang waktu.  Masak untuk sekedar urusan Saras tidak bikin pe-er atau ribut dengan temannya aku juga harus turun tangan?  Bukankah semestinya cukup ditangani para guru?   

Aku ambil surat itu membuangnya ke tong sampah.  Apa pun masalah yang Saras hadapi di sekolah, Mas Fuad tidak perlu tahu.  Aku yang akan mendidik Saras.  Aku tahu apa yang terbaik baginya.  Aku yang menjadikannya anak yang tangguh.   

***   

Aku baru selesai menata rambutku ketika pintu kamar diketuk.   

“Nyah, maaf, ada tamu”, terdengar suara Mbok Diyah.   

“Siapa?” tanyaku tanpa minat.  Mengganggu saja bertamu sore-sore.  Aku melirik jam tangan.  Hampir pukul empat.  Aku bisa telat ke pengajian.   

“Katanya sih gurunya Non Saras, Nyah..”   

“Guru Saras?  Untuk apa ia ke sini?”   

“Ya sudah, suruh tunggu Mbok”, putusku akhirnya.  Aku masih punya waktu lima belas menit sebelum berangkat.   

Aku menyelempangkan kerudung di kepalaku dan menatap wajahku di cermin.  Cantik.  Lipstik merah bata yang senada dengan kerudung membuatku tampak menawan.  Tapi Saras lebih cantik, batinku.  Ia mewarisi kulit putih dan hidung mancung ayahnya.  Kulit putih dan hidung mancung yang tidak aku punya.  Aku menambah sedikit eyeshadow di kelopak mataku.  Mata indah bulat dengan bulu mata tebal dan lentik.  Mata berbinar yang membuat banyak orang terpesona.  Ah, Saras tidak punya mata seindah punyaku.   

Setelah puas mematut diri aku turun ke ruang tamu.  Ada dua orang perempuan berjilbab duduk di sana.  Yang satu aku kenal.  Bu Endah, wali kelas Saras.  Satu lagi kelihatan familiar, tapi aku tidak ingat siapa.  Namun, pastilah salah seorang guru juga.   

“Maaf harus menunggu.  Saya dandan dulu.  Ada pengajian ibu-ibu kompleks sore ini”, aku menjabat tangan mereka.   

“Oh, maaf kalau kami mengganggu”.   

“Tidak apa.  Saya masih punya waktu beberapa menit”.   

“Mama Saras, kenalkan ini Bu Afifah.  Ia psikolog di sekolah Saras”.   

“Ooo… senang bertemua Anda”, aku mengangguk ke arahnya.   

“Maaf Bu, setiap kami telpon Ibu tidak di rumah.  Jadi…”   

“Ya, saya memang sibuk akhir-akhir ini.  Banyak hal yang harus saya urus.  Ayahnya Saras baru membuka kafe plus butik di Kemang, jadi saya ikut bantu menata ini-itu.  Capek sih, tapi saya senang.  Anda tahu?  Saya sudah lama bermimpi untuk punya butik sendiri.  Kalau Bu Endah dan teman-teman perlu baju baru, datang ke butik saya saja, ya?  Ada kok baju muslimahnya, dari perancang terkenal.  Malah ada juga yang rancangan saya sendiri.  Nanti saya kasih diskon.  Khusus untuk guru-guru SDIT An-Nur”, ucapku berpromosi.   

“Wah, Ibu pandai merancang busana juga?  Insyah Allah nanti saya sampaikan ke teman-teman supaya kalau cari baju datang saja ke butik Ibu…”   

“Namanya Butik Embun.  Sebentar, saya ada brosurnya”, aku bergegas mengambil beberapa lembar brosur dari lemari dan menyerahkannya pada mereka.  Bu Endah dan Bu Afifah membolak-balik brosur itu.   

“Tolong sebarkan ke teman-teman ya.  Saya juga mau kasih ke teman-teman pengajian.  Di sebelah butik ada kafe, Bu.  Jadi kalau capek habis pilih-pilih baju, bisa istirahat minum di kafe.  Pokoknya eksklusiflah”, ucapku bangga.   

“Baik, Bu.  Nanti insya Allah brosurnya kami kasih ke teman-teman.  Ehm… maaf, surat yang kami kirim sudah Ibu terima?”   

“Ah, ya.  Surat-surat itu”, aku menepuk jidadku.  “Saya sudah baca.  Maaf ya, saya belum sempat ke sekolah.  Khan tadi saya sudah cerita kalau saya sedang sibuk.  Kalau butiknya sukses saya rencananya juga akan jual sepatu, tas, dan aksesoris wanita lainnya.  Katanya di Hongkong harganya murah-murah.  Mungkin bulan depan saya ke sana survei harga.  Jadi, maklum ya, Bu, kalau saya belum sempat memenuhi panggilan sekolah…”  

“Iya, tidak apa.  Kami paham Ibu sibuk.  Maka itu kami datang ke sini”.  

 “Tapi sebentar lagi saya harus ke pengajian…”  

 “Bu, tolong.  Sebentar saja.  Ini penting.  Menyangkut masa depan putri Ibu”, aku mengerutkan kening.  Masa depan Saras?  Apa maksudnya?  Bukankah sudah jelas Saras punya masa depan yang terjamin?  Ia bersekolah di sebuah SDIT ternama, punya orang tua yang sanggup membiayai pendidikannya berapa pun yang dibutuhkan, bahkan asal tahu saja, kecil-kecil Saras sudah punya tabungan atas namanya dengan jumlah yang tidak sedikit!  

 “Saya tidak mengerti.  Maksud Anda bagaimana?  Apa anak saya nakal di sekolah?  Bertengkar dengan teman?  Di rumah ia baik-baik saja kok.  Rajin dan penurut.  Temannya saja yang suka ganggu dia mungkin.  Atau Saras lupa bikin pe-er?  Itu kan biasa ya, Bu?  Namanya juga anak-anak.  Lupa satu dua kali khan boleh.  Nanti saya awasi lagi supaya ia tidak lupa mengerjakan tugas sekolah”.  

 “Ah, tidak Bu.  Bukan itu masalahnya.  Saras anak baik.  Prestasinya juga baik-baik
saja.  Hanya, ia memang sedikit pemurung”.
  

 “Pemurung?  Tidak pede begitu?  Nanti ia bisa ikut sanggar nyanyi, atau tari, atau apalah namanya.  Lama-lama juga percaya dirinya akan muncul.   

“Bukan begitu maksud kami, Bu Fuad.  Ini, coba ibu lihat.  Kami membawa beberapa hasil karya Saras”, Bu Afifah mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.  Ada beberapa gambar dan kertas-kerta berisi tulisan.  Kelihatannya tulisan tangan Saras.   

Kebetulan beberapa waktu lalu kami mengadakan semacam tes psikologi untuk anak.  Tidak hanya untuk Saras.  Tapi untuk semua murid kelas satu sampai kelas tiga.  Waktu itu surat pemberitahuan tentang pengadaan tes itu sudah kami kirim ke setiap orang  tua murid.  Ibu ingat?”   

“Wah, maaf, saya lupa.  Mungkin suratnya terselip dan tidak terbaca oleh saya”.   

“Ya, tidak apa Bu.  Hmm, maaf, karena dari hasil tes kelihatannya Saras punya sedikit masalah, makanya kami meminta putri Ibu melakukan beberapa lembar tugas lagi.  Ini gambar-gambar yang Saras buat, puisi, dan karangannya”, Bu Afifah menyodorkan tumpukan kertas itu.  Aku mengamati beberapa lembar gambar hasil karya Saras.  Apa yang aneh?  Ada gambar orang, rumah, pohon…   

“Gambarnya kurang bagus, ya?  Ah, tidak apa.  Mungkin anak saya memang tidak bakat melukis.  Tapi, wajar khan anak usia tujuh tahun menggambar seperti ini?  Atau Anda menyarankan saya untuk mencari les melukis untuk Saras?”   

“Bu, bukan begiti.  Coba Ibu baca puisi-puisi yang Saras tulis.  Mungkin Ibu bisa lebih memahami dia”.   

Aku mengambil selembar kertas bertuliskan puisi karangannya.  Tulisan kecil dan rapi.   

Puisi pertama;   

Ada bunga di taman   

Ada burung di dahan   

Ada matahari di langit   

Ada mama dan papa di rumah   

Tapi, dimana mereka?   

Aku melanjutkan.  Puisi kedua;   

Kemarin si Pusi mati   

Habis makan lauk basi   

Aku sedih, karena si Pusi tak ada lagi   

Kalau aku mati   

Siapa yang bersedih?   

Puisi ketiga;   

Ada kupu-kupu mati   

Sayapnya yang indah jadi jelek   

Tapi enak   

Ia tak usah susah-susah terbang cari madu   

Aku mau seperti kupu-kupu itu   

Biar tak usah susah-susah dimarah-marahin terus   

Puisi keempat;   

Katanya bidadari itu cantik, dan baik   

Tapi mereka adanya di surga   

Aku mau ke surga   

Ketemu bidadari yang baik hati   

Yang tidak suka memukuli   

Ma, kalau aku ke surga, mama jangan marah ya?   

Puisi kelima;   

Aku punya boneka Barbie   

Cantik sekali   

ku sayang   

Jadi aku cium   

Aku nggak dicium   

Artinya, aku nggak disayang, ya?   

Aku menatap Bu Afifah dam Bu Endah bergantian.   

“Ternyata Saras pandai membuat puisi ya?  Ia memang tidak berbakat menggambar, tapi puisi-puisinya cukup bagus”.   

“Bu Fuad, biar saya jelaskan…”   

“Saya sudah terlambat.  Kalau saya telat saya bisa jadi bahan gunjingan.  Lagi
pula saya harus membagikan brosur.  Dan…”
   

“Bu! Saras putri Ibu ingin bunuh diri!  Apa buat Ibu itu tidak penting?”  Suara Bu Afifah menyentak, dan terdengar tidak sabar.   

Aku tertegun.   

“Bunuh diri?  Anak sekecil Saras?  Anda jangan main-main”.   

“Biar saya bacakan sedikit karangannya”.  Bu Afifah mengambil tumpukan kertas yang sedang kupegang.   

“Ini, coba ibu dengar.  Aku ingin tahu bagaimana rasanya mati.  Sakit nggak, ya?  Kata Bu Guru di surga banyak bidadari yang cantik dan baik.  Kalau aku mau ke surga khan harus mati dulu.  Kalau aku mati, masuk surga nggak?  Tapi, bagaimana aku bisa mati ya?  Minum baygon, atau gantung diri, atau tusukin pisau ke perut?  Mana yang paling enak dan bikin aku cepat ketemu bidadari?”   

Aku terdiam.  “Itu mungkin hanya imajinasi Saras saja”.   

“Ibu lihat gambar-gambarnya?  Warna-warna gelap yang ia pilih?  Dalam psikologi pohon itu melambangkan ayah dan rumah melambangkan ibu.  Lihat bagaimana Saras memposisikan kedua benda tersebut?  Selalu jauh dari gambar anak perempuan kecil, yang melambangkan dirinya.  Itu artinya, Saras memiliki masalah dengan hubungannya dengan bapak dan ibu…”   

“Ia putri tunggal saya.  Saya dan suami saya, sangat mencintainya.  Apa Anda tidak lihat?  Kami memasukkannya ke sekolah terbaik, memberinya mainan edukatif dan buku-buku ensiklopedia, mengenakannya pakaian yang pantas, menata ruang tidurnya seperti sebuah istana kecil?  Jadi, bagaimana bisa Anda bilang Saras memiliki
masalah dengan saya dan papanya?”
   

“Anak tidak cuma butuh materi, Bu”.   

“Oh, saya tahu itu Bu Endah.  Jadi jangan ajari saya.  Saya juga melimpahinya dengan kasih sayang.  Apalagi papanya.  Ia bahkan menerima kasih sayang terlalu banyak dari orang-orang di sekelilingnya, Eyangnya, tantenya, budenya…”   

“Ibu suka mencium, membelai, atau memeluknya?”   

“Saras bukan bayi lagi Bu Afifah”.   

“Tidak cuma bayi yang butuh sentuhan fisik, Bu.  Bahkan kita juga perlu itu…”   

“Sudahlah, Bu.  Saya masih banyak urusan”.   

“Ibu suka memukulnya?” tanya Bu Afifah dengan nada memaksa.  Aku menatap Bu Afifah tajam.   

“Atau mencubitnya?  Mengurungnya dalam kamar mandi mungkin?”   

“Bu Afifah, saya ibunya.  Saya punya hak untuk mendidik anak saya dengan cara saya sendiri.  Saya berhak mengajarkan anak saya tentang kedisiplinan, apa pun cara dan bentuknya”.   

“Tapi kekerasan bukan solusi, Bu.  Apa pun kesalahan yang Saras buat, menyakitinya tidak akan menyelesaikan masalah dan membuatnya menjadi lebih baik”.   

“Saya sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan ibu-ibu.  Jadi maaf, saya harus pergi sekarang.  Kalau Saras, membuat masalah di sekolah, tangani dia.  Itu kenapa saya membayar mahal Anda berdua untuk menjadi guru Saras!”  Suasana hening sesaat.   

“Baik Bu Fuad”, ujar Bu Afifah akhirnya.  “Kami mohon maaf sudah mengganggu waktu Ibu.  Jika Ibu bersedia bekerja sama dengan kami untuk mendidik Saras, silakan datang ke sekolah.  Atau, jika Ibu butuh bantuan apa pun, baik bantuan untuk Saras maupun untuk diri Ibu sendiri, Ibu bisa menelpon saya kapan pun Ibu suka.  Ini kartu nama saya”, Bu Afifah menyerahkan sebuah kartu nama.  Wajahnya tetap terlihat tenang dan tidak tersinggung dengan apa yang kuucapkan barusan.   

“Oke, terima kasih”, aku menerima kartu yang ia sodorkan.  “Percayalah.  Saya dan putri saya, tidak membutuhkan bantuan Anda.  Saya bisa menangani masalah saya sendiri”.   

Aku melirik jam tanganku.  Sudah telah sepuluh menit.  Urusan dengan Saras biar
kuselesaikan nanti malam.
   

***   

Suara isak Saras masih terdengar jelas.  Aku memeluk gulingku.  Mencoba tidur.  Mencoba melupakan apa yang baru aku lakukan.  Mengapa aku harus selalu kasar pada Saras?  Aku menggigit bibir.  Aku memang bukan Ibu yang baik.  Aku emosional.  Pemarah.  Pecemburu.  Perajuk.  Seperti ibuku.   

“Jangan berimajinasi buruk Saras!” ucapku sambil mencengkeram lengannya kuat-kuat.   

“Mama…” Saras menatapku dengan mata basah.   

“Kamu ingin mati?  Benar kamu ingin mati?  Sini, sini mama kasih mati kamu supaya kamu tahu mati itu nggak enak”, aku menjambak rambutnya.   

“Mama… ampun Ma, ampun”, rintih Saras.   

“Anak sialan!  Apa yang kurang dari Mama, heh?  Apa saja kamu punya.  Semua Mama belikan.  Mainan, buku, baju.  Kamu butuh apa lagi?  Asal kamu tahu saja, Mama nggak akan menghabiskan seluruh waktu Mama hanya untuk ngurusin anak bandel macam kamu!” kugoyangkan tubuhnya keras-keras.   

“Awas, kalau kamu macam-macam!  Awas kalau ngadu ke Bu Guru”, kuhempaskan tubuh mungil Saras ke karpet.  Mbok Diyah dan Mbak Yanti menatap iba ketakutan dari balik pintu.  Tapi tak ada yang berani berkata.  Tak ada yang berani mencegah.  Seperti biasa.   

“Awas, jangan ngadu ke Bapak”, sebelum pergi kudesiskan ancaman pada mereka, lagi-lagi, seperti biasa.   

Aku menerawang.  Aku begitu sayang pada Saras, tetapi kenapa aku kadang begitu membencinya?  Kenapa aku sering iri melihat kecantikan, dan melihat betapa berlimpahnya materi yang diberi Mas Fuad untuknya?  Kenapa kadang aku suka melihat air mata mengalir di kedua pipi putihnya?  Kenapa kadang keinginan untuk menyakitinya begitu kuat?  Kenapa aku menikmati kepedihan di matanya tatkala kuhancurkan benda-benda kesayangannya.   

Boneka barbienya pernah kugantung hingga tak berbentuk.  Teddy Bear besarnya kubakar di halaman belakang.  Kelinci peliharaannya kukurung tanpa makan hingga mati?  Aku sungguh ibu yang buruk, seperti ibuku.   

Mengingat ibuku seperti mengingat segumpal luka menganga.  Mengingat Ibu adalah sebuah kepedihan, seperti belati yang tak habis-habisnya ditusukkan ke dalam relung hati.   

Dua kakak perempuanku cantik, cerdas, dan disayang ibu.  Satu adik lelakiku tampan, menjadi pujaan, dan dibanggakan ibu.  Adik bungsuku juga cantik, anggun, dan dialah anak ibu terkasih.  Aku juga cantik dan cerdas.  Tapi aku tidak disayang Ibu.  Entah kenapa.   

Mungkin karena seperti kata Mbah Misrun, pembantu setiaku, saat mengandung aku, bapak selingkuh.  Tapi bapak malah menuduh janin yang ada dalam kandungan Ibu bukan benihnya.  Demi menutupi salahnya.   

Kata dia pula wajahku mirip selingkuhan Bapak.  Bukan salahku, khan?  Tapi ibu tak mau tahu.  Aku jadi pelampiasan amarah yang terpendam di dada ibu.  Apalagi bapak kemudian malah menikahi selingkuhannya.  Sakit hati ibu pada Bapak nyata pada lebam biru bekas cubitan ibu di sekujur tubuhku.  Kepedihan Ibu adalah umpatan, makian, jambakan, dan pukulan untukku.  Hanya aku.   

Tapi kemudian adikku lahir.  Seorang lelaki, seperti dambaan Bapak.  Kehadirannya
membuat Bapak berubah.  Bapak bahkan meninggalkan istri keduanya yang ternyata tidak bisa memberi keturunan.  Hanya bertambah lagi adikku yang perempuan.  Semua mendapatkan kasih sayang, kecuali aku.
   

Bila adikku menangis, aku yang disalahkan.  Aku yang dipukuli.  Sekali ibu nyaris menggunduli aku gara-gara adik bungsuku jatuh dari sepeda.  Entahlah.  Mungkin aku dianggap pembawa sial dalam keluarga.  Bapak pun nampaknya masih menyangka aku bukan benihnya, entah kenapa.   

Menginjak dewasa Ibu memang tak pernah lagi menyiksaku secara fisik.  Tetapi kata-katanya yang menyakitkan tetap lancar mengalir dari mulutnya.  Namun lihatlah.  Aku menjadi gadis yang tangguh.  Aku tidak takut kritikan pun komentar orang.  Aku sudah terbiasa disakiti.   

Lalu suatu hari pangeran itu datang.  Ia terpesona melihatku pada malam temu alumni, tiga tahun setelah aku lulus kuliah dengan nilai cumlaude.  Ia seorang lelaki tampan, kaya, dan berasal dari keluarga terpandang.  Enam bulan setelah pertemuan itu, ia melamarku.  Keluarganya datang membawa aneka hantaran.  Deretan mobil mewah parkir di depan rumah.  Semua yang datang begitu wangi dan gemerlap.   

Ibu terperanjat.  Bapak tak percaya.  Firna si bungsu yang suka mencibirku terbelalak.  Mbak Lissa dan Mbak Risma berdecak.  Seorang pangeran tampan melamarku?  Hanya Irfan yang bersikap biasa.  Dari dulu ia selalu bilang aku akan menemui seorang pangeran suatu hari nanti.  Dari dulu, cuma Irfan yang baik padaku.   

Pesta penikahanku digelar di sebuah hotel berbintang lima.  Seingatku, itu untuk pertama kalinya Ibu menciumku dengan air mata berlinang, berdoa untuk kebahagiaanku.   

Mas Fuad ternyata memang lelaki yang sangat baik.  Meski sangat sibuk, ia begitu penuh perhatian.  Dua tahun setelah pernikahan, bidadari kecil itu pun hadir.  Namanya Saraswati Herliana Putri.  Semua bersuka cita, kecuali aku.   

Entahlah, mungkin aku iri dengan perhatian yang diberikan untuknya.  Ibuku terlihat sangat menyayanginya.  Menggendong dan menciuminya.  Menyanyikan lagu-lagu untuk menimang, mengelus, mengajaknya tertawa dan bercanda, juga membelikannya boneka-boneka lucu.  Hatiku perih.  Duhai Ibu, mengapa tak pernah kau lakukan itu semua padaku?  Bapak pun kerap datang ke rumah sekedar untuk menengok Saras.  Ia yang nyaris tak pernah mengajakku bicara kini dengan senyum mengembang menimang-nimang Saras.   

Lalu aku mulai membenci Saras.  Dan jika rasa benci itu datang aku akan menyakitinya; mencubitnya, memukul, mencengkeram, atau mengurungnya di kamar mandi.  Suamiku tak pernah tahu.  Ia sibuk, dan Saras terlalu takut untuk mengadu.  Satu yang terpatri di benakku, kalau dulu aku harus menderita, Saras juga harus merasakan apa yang pernah aku rasakan!   

Kadang, jika rasa cintaku muncul aku akan bermain dan bercanda dengan Saras.   

Sering aku menyesali tindakanku, sehingga sehabis memukulinya akan kubawa ia jalan-jalan ke mall.  Atau membelikan es krim kesukaannya.  Namun, kenapa aku tak
bisa berhenti membencinya?
   

Suara isak Saras tak terdengar lagi.  Kubuka pintu kamarnya.  Bidadari mungil itu sudah terlelap.  Wajahnya damai.  Kusentuh pipinya, lembut.  Benarkah kamu ingin bunuh diri?  Karena aku?  Wanita yang mengandung dan melahirkanmu?  Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.  Mama ingin berubah Saras.  Seandainya Mama tahu caranya.  Seandainya ada yang mau menolong Mama…   

***   

Sore ini aku baru pulang dari butik.  Aku mencari Saras.  Aku punya hadiah untuknya.  Sebuah bros kupu-kupu yang lucu.  Saras sangat menyukai kupu-kupu.  Namun, kamarnya kosong, dan berantakan.  Sangat berantakan.  Aku tidak tahu apa yang baru dikerjakan monster kecil itu, yang pasti seperti baru ada gempa bumi di kamarnya.  Kepalaku mendadak pening.  Emosiku meluap.  Benciku pada Saras menyentak-nyentak.  Ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan, tapi mengapa membereskan kamar saja ia tak mau?   

“Saraaaasss…” teriakku sekuat tenaga.  Anak sialan!  Sudah dikasih kamar bagus
bukannya dirawat!
   

“Saraaasss…” aku mengulang panggilan seraya menuju tangga.  Kulihat Saras tergesa-gesa menaiki tangga.   

“Dari mana saja kamu, heh?” bentakku.   

“Ma, anu… Saras…”   

“Kamu lihat kamar kamu tidak?  Tidak ada rasa terima kasihnya kamu.  Dikasih kamar bagus itu, untuk dirawat, bukan untuk dihancurin seperti itu.  Sini, Mama kasih tahu”, aku mencengkeram lengannya dan menyeretnya ke kamar.   

“Kamu lihat, heh?  Ngapain aja kamu di kamar sampai kamar kamu bisa kayak gini?  Jawab!”  Aku mencubit pantatnya kuat-kuat.  Saras mengaduh.   

“Saras asyik main sama Kiki.  Pura-pura kemping.  Karena ada telpon, Saras turun… belum sempat diberesin”, Saras sedikit terisak.   

“Oooh… Jadi gara-gara Kiki, ya?” kujewer lagi telinganya.   

“Sini, Kikinya Mama bakar saja biar kamu tidak rese!” aku mengambil boneka kelinci besar yang tergeletak di atas tempat tidur.  Itu hadiah Mas Fuad ketika ia naik kelas.  Aku tahu Saras sangat menyayanginya.   

“Ma, jangan ma… maafin Saras…” Saras berusaha merebut bonekanya.  Kucubit perutnya.  Lalu kudorong ia kasar.   

“Kamu ini, nggak punya telinga ya?  Mama akan bakar boneka jelek ini, supaya lain kali kamu nggak lupa beresin kamar!” aku berjalan keluar sambil membawa boneka kelinci itu.   

“Ma… jangan… ma… Saras sayang Kiki…” Saras mengikutiku.   

“Biar!”   

“Maa, maafin Saras, Ma”, Saras berusaha merebut boneka itu.   

“Pergi!  Mama muak sama kamu!  Kenapa kamu tidak pernah mau dengerin Mama?  Pergi kamu Saras, pergi!” aku menendangnya sekuat tenaga.   

“Maaa…” Saras menjerit kuat-kuat.  Aku terperanjat.  Kupegang pegangan tangga kuat-kuat.  Tak percaya pada apa yang kulihat.  Kakiku gemetar.  Ya Tuhan, Saras?   

***   

Aku terduduk di depan ruang ICU.  Mas Fuad masih di Jepang.  Ia sudah kutelpon.  Baru besok pagi ia akan tiba di Jakarta.   

Kuseka air mataku.  Aku menangis, untuk Saras.  Kata dokter ia kritis.  Gegar otak berat.  Aku menghapus air mataku.   

Kuambil handphone.  Mudah-mudahan aku menyimpan nomor Bu Afifah.  Ada.  Segera kuhubungi.   

“Halo, assalamualaikum…” terdengar suara lembut di seberang.   

“Bu Afifah?”   

“Iya betul.  Ini siapa, ya?”   

“Saya mamanya Saras”.   

“Oh, Bu Fuad.  Apa kabar?  Senang sekali Ibu menelpon saya.  Ada kabar apa, Ibu?  Ada yang bisa saya bantu?”   

“Saras sakit, Bu”.   

“Innalillahi… sakit apa Bu?”   

“Ibu bisa ke sini sekarang?”   

“Bisa, Bu, ke rumah Ibu?”   

“Bukan.  Saya di rumah sakit Pondok Indah”.   

“Di rumah sakit?  Saras sakit parah?”   

“Ibu tolong ke sini ya?  Saya bingung.  Begini, saya…”   

“Jangan khawatir.  Saya akan ke sana sekarang, Bu”.   

“Bu Afifah…”   

“Ya?”   

“Saya… saya rasa Anda benar”.   

“Apa, Bu?”   

“Saya rasa Anda benar, saya butuh pertolongan Ibu”.   

“Pertolongan saya?”   

“Mungkin saya butuh terapi, atau rehabilitasi, atau… entah apa namanya.  Ibu mau menolong saya khan?  Ibu pernah berjanji akan membantu saya.  Ibu mau menterapi saya?”   

“Terapi?  Untuk Ibu?  Terapi apa maksud Ibu?”   

“Saras jatuh dari tangga.  Dari lantai atas.  Saya, saya yang mendorongnya.  Saya menendangnya.  Saya tidak sengaja.  Saya sedang marah.  Saya tidak bisa mengontrol emosi.  Sekarang ia koma.  Di ICU”.   

“Astaghfirullah…”   

“Bu, cepat datang ya.  Saya…”   

“Iya Bu.  Tenang ya, Bu.  Saya akan segera ke sana”.   

Aku mematikan handphoneku.  Hatiku hancur.  Apa yang telah aku lakukan?  Mama sayang kamu Saras.  Sangat sayang.  Mama cuma sakit.  Mama cuma butuh obat.  Mama butuh terapi.   

Aku terisak.  Teringat salah satu puisi Saras.

————————   

Aku mau ke surga   

Ketemu bidadari yang baik hati   

Yang tidak suka memukuli   

Ma, kalau aku ke surga, mama jangan marah ya?   

Duhai Saras.  Masihkah ada kesempatan?  Aku ingin menjadi bidadari untukmu.   

 

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Tag: . 5 Comments »

5 Tanggapan to “KEPING KASIH TERAKHIR”

  1. abuanjeli Says:

    Sikap dan perlakuan kita kepada anak di saat ini, akan menentukan bentuk sifat dan karakter anak kita di masa depan. Karena itu, kita harus selalu bijaksana dalam bersikap dan bertindak/bertingkah laku di hadapan buah hati kita…

  2. Nastiti Says:

    Bener banget. Kadang terlintas di pikiran negatif kita untuk menyalahkan orang tua atas apa yg tertanam pada diri kita. Tapi apalah gunanya, yang penting sekarang bagaimana kita berubah untuk masa depan anak2, sementara itu tetap mencintai orang tua kita…(Good reading, sampe nangis bacanya)

  3. Make Money Online Says:

    salam kenal…. blognya keren artikelnya juga mantapp mas..

    di tunggu kunjungan baliknya..

    terima kasih…

  4. P4ngeran Mud4 Says:

    Islam adalah Perahuku
    Iman adalah Kemudiku
    Ridho Allah Tujuanku
    Marilah jadikan Ahli Dzikir and Ahli Fikir
    http://nekobudi77.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: