KEMAUAN DAN KESUKSESAN


Dikutip dari : Buletin Jum’at AL-IHSAN; Edisi : Th V/4 Juni 1431 H / 2010 M

a

a

Orang-orang besar yang dikenang dalam buku-buku sejarah, rata-rata mempunyai kemauan dan kehendak keras dalam dirinya.  Kemauan keras itu boleh jadi sudah merupakan pembawaan sejak lahir, atau muncul secara bertahap dikarenakan adanya tantangan berat dari lingkungannya.  Dengan kemauan keras orang-orang terkemuka itu mampu menghadapi lingkungan seberat apa pun, dan mereka meraih kemenangan.  Mereka mempersembahkan sejumlah prestasi yang membuat bahagia dan bisa dirasakan orang banyak.

Hidup mereka digerakkan oleh kemauan keras dan dengan itu mereka melewati tahap menderita. Segala aral tantangan dan aneka uji tak membuat mereka luntur.

Sesungguhnya sejumlah Rasul Allah seperti : Ibrahim, Musa, dan Isa tergolong orang-orang yang terkemuka dalam sejarah.  Mereka dikaruniai kekuatan berupa kemauan keras (ulul azmi).  Oleh karena itu tatkala Nabi Muhammad Rasulullah menghadapi tantangan berat, wahyu Al Qur’an berpesan kepadanya : “Hendaklah engkau tabah seperti ketabahan Rasul-rasul yang memiliki kemauan keras (ulul azmi)” (QS. Al Ahqaaf [46] : 35).

Alhamdulillah Rasulullah mampu melaksanakan nasehat Allah itu dengan baik.  Allah pun menambah jumlah rasul yang berpredikat ulul azmi.  Sepak terjangnya pantang menyerah dan tak kenal lelah.  Bila telah melaju langkah tak pernah mundur setapak pun, walau seandainya matahari diletakkan di telapak kanannya dan rembulan di telapak kirinya.

Sebenarnya setiap orang mempunyai potensi azzam (kemauan keras).  Dengan potensi itu bukan saja ia mampu memperjuangkan hidupnya, tetapi untuk orang lain pun mampu ia lakukan.  Kadang potensi itu tetap membeku di dalam jiwa.  Selamanya tidak pernah mencair karena tak seonggok kekuatan pun mengalirinya dengan tenaga panas.

Tipe orang seperti ini biasanya mudah menyerah kepada hawa nafsu, kepada lingkungan, dan kepada pengaruh jelek.  Hidupnya tak tentu arah, bagai debu yang berhambur ke sana kemari, terserah maunya angin.

Adalagi orang yang potensi azzamnya mudah mencair.  Ia punya semangat baja dan kemauan keras.  Tapi sayang, ia salah arah.  Azzamnya itu justru diarahkan kepada pola hidup yang merusak dalam berbagai
bentuk maksiat dan kedurjanaan.  Ia memang seorang pejuang, tapi pejuang kebathilan.

Golongan pertama dan kedua tidak ada yang kita pilih, namun kita masih harus menaruh kasih.  Sebab siapa tahu kita malah termasuk salah satunya.

Sekiranya potensi azzam kita hingga kini masih membeku, bersegeralah bangkit cari tantangan.  Bergaullah dengan orang-orang yang suka bekerja keras.  Jauhi mereka yang suka berhura ria mengumbar nafsu.  Bila azzam mulai tumbuh, semangat mulai bangkit, dan hidup memperlihatkan gairah, maka dengar wahyu Allah beikut ini. “Apabila engkau telah ber-azzam, maka bertawakallah kepada Allah”. (QS. Ali Imran [3] : 159)

Agar tidak salah jalan dalam menempatkan kemauan keras, maka dasar, cara, dan tujuan keberangkatan azzam tersebut harus ditawakallkan kepada Allah.

Dalam perjalanan dari Allah menuju Allah kita harus berperan sebagaimana yang Allah kehendaki.  Dia menghendaki agar kita bertindak sebagai khilafahnya.  Mewakili peran Allah di muka bumi.

Sekiranya Tuhan sendiri yang langsung terjun mengatur bumi, maka sejak Nabi Adam hingga kini, seluruh tata hukum manusia merujuk pada wahyu yang pertama.  Tapi manusia yang lemah dengan segala potensinya itu terlanjur diserahi tugas berat agar bekerja keras menata manusia dengan hukum-Nya.

Sekarang tinggal, mampukah dia?  Jika Allah telah mempercayakan kepada manusia, kenapa manusia tak percaya diri?  Bukankah Rasulullah dengan modal syahadat mampu memperagakan azzam umat menuju cita gemilang?  Syahadat orang-orang Islam pada waktu itu semakin berkobar baranya di saat berbenturan keras dengan rintangan berat yang mengepung.  Kita kini masih punya azzam.  Kenapa masih tenang dalam kepadaman.

TAKABBUR MUSUH IMAN

Setiap manusia memiliki naluri ber-Tuhan.  Buktinya adalah kenyataan sosial sejarah masa lalu dan kini.  Dalam hati nurani manusia terdapat getaran rasa bahwa di luar dirinya ada kekuatan raksasa yang ia dambakan jika terkena musibah dan aral yang tidak teratasi secara akal.  Bentuk dambaan itu beraneka ragam.  Sebagian manusia melampiaskan naluri ketuhanannya kepada benda-benda alam, matahari, api, angin, pohon-pohon besar, batu berhala, dan seterusnya.

Umar bin Khattab pernah mengalaminya pula. Semula Umar sangat memusuhi Rasulullah, bahkan nyaris membunuhnya.  Tapi upaya Umar tersebut kedahuluan taqdir Allah rupanya doa Rasulullah untuk mengundang kekuatan-Nya membuka hati Umar dikabulkan  datang lebih cepat sebelum pedang di genggamannya menebas leher Nabi.  Memang Umar bin Khattab sebelum itu terjangkit kuman penyakit jahilillah, sehingga untuk beberapa tahun mengidap penyakit syirik dan kafir.  Syukur Alhamdulillah, berikutnya Umar meniatkan ikrar syahadat di hadapan Rasulullah.  Syahadatnya amat bermutu, sehingga mampu mengubah drastis ihwal dirinya yang semula sebagai musuh berat Islam, beralih menjadii pembela berat Islam, sampai akhir hidupnya.

Tentunya kisah hijrah dirinya itu terkesan sepanjang hidupnya.  Tak heran di saat menjadi pemimpin, ia rajin sekali membina iman dan syahadat ummatnya.  Tak segan-segan ia turun langsung ke pelosok-pelosok negeri untuk mengetahui sejauh mana syahadat rakyatnya.

Suatu hari Umar bin Khattab bertemu dengan seorang penggembala kecil.  Tergerak hati Umar untuk mengetahui kualitas Iman anak tersebut.  Umar berpura-pura bermaksud membeli seekor domba penggembalaannya.  Dengan sopannya anak itu menolak halus, karena domba itu bukan miliknya.  Umar terus mendesak, sehingga terlontar kata-kata yang sangat mengharukan dari si kecil : “Fa’ainallah? (maka dimana Allah jika demikian).  Seakan anak itu ingin menjelaskan kepada Umar.  Meskipun majikannya tak bakalan tahu karena begitu banyaknya kambing yang digembalakannya, namun Allah selalu besertanya, dan tahu segala-galanya.

“Dia bersama kamu dimana saja kamu berada.  Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. al Waaqi’ah [56] : 4)

Mendengar jawaban itu, tak pelak lagi Umar tak mampu menahan cairan bening dari celah pelupuk matanya.  Ia menangis haru menatap bocah cilik yang polos di depannya.  Barangkali Umar mengingat masa lalunya yang kelabu.  Ia tak seperti anak itu, yang sejak kecil tampak bersyahadat.  Sedangkan dirinya baru di usia sepuh tampil bersyahadat, setelah sekian tahun melalang buana di lorong kejahiliyahan.

Umar tergolong luar biasa.  Setelah lepas dari tahap jahiliyah, ia masuki tahap pengenalan dan mengerti syahadat, dengan segala konsekuensinya.  Umar bukan hanya sekedar berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah, tetapi konsekuensi dari kata ikrar itu terbukti nyata dalam kehidupannya.

Lain halnya dengan kasus Abu Lahab.  Ia faham bahwa Tuhan itu hanya Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya.  Tetapi Abu Lahab rela bikin gara-gara dengan memerankan dirinya sebagai musuh bebuyutan Rasul pembawa risalah Al Islam.  Ini serupa dengan Iblis Laknatullah.  Dalam hal keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, Iblis menempati peringkat paling tinggi.  Tetapi ia beroposisi kepada Allah dan menjadi musuh utama kebenaran wahyu yang dibawa para Rasul.

Sesungguhnya kita yang hidup sekarang sudah selayaknya mempertanyakan kualitas takabbur masing-masing, demi peningkatan kualitas syahadat kita.  Mudah-mudahan tidak mirip takabbur yang dimiliki Iblis dan Abu Lahab.

Wallahu a’lam bissawab

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: