ANDAI AYAHKU PAHLAWAN…


karya : Retno W

dikutip dari : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.

 

 

Akhir-akhir ini Rafli terlihat murung.  Ia sering mengurung diri di kamarnya.  Sejak membaca buku tentang kepahlawanan, Rafli jadi berandai-andai.  Andai ayahku seorang pahlawan, aku pasti bangga sekali.  Pahlawan yang membela kebenaran, membasmi kejahatan dan berani bertarung untuk menegakkan keadilan.  Wah…, pasti hebat sekali.

Tapi… Ayah hanya orang biasa.  Tak ada yang istimewa.  Ayah hanya sebagai tukang pos.  Pekerjaannya mengantar surat dan barang ke alamat yang dituju seharian.  Tidak sulit, hanya perlu membaca alamat yang tertera di amplop, lantas mengantarkannya.  Diam-diam Rafli merasa sedih.  Apa yang yang bisa dibanggakan dari ayahnya?

Minggu siang, Rafli ke bengkel Pak Kirjo untuk menambal ban sepedanya yang bocor.  Rafli mesti antri karena Pak Kirja sedang sibuk.  Rupanya banyak orang yang memperbaiki sepedanya di sana.  Pak Kirjo memang banyak langganannya.  Ia sudah tua, orangnya baik dan menyenangkan.

“Wah, Pak Kirjo tampaknya sedang gembira.  Dari tadi bersiul-siul”, kata seorang bapak yang juga sedang mengantri.

“Betul, Pak.  Saya sedang gembira.  Habis dapat kiriman foto-foto cucu saya.  Mereka tinggal jauh dari sini dan saya tak bisa datang menengoknya.  Jadi kiriman foto-foto itu bisa jadi obat rindu”.

“O, begitu.  Dititipkan siapa suratnya, Pak?”

“Ya, lewat pos.  Anak-anak saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh.  Mereka suka berkirim kabar lewat surat.  Itu sudah cukup membahagiakan saya”.

“Kalau saya, kemarin malah dapat surat yang isinya berita duka, Pak.  Kakak saya yang di Ambon meninggal dunia.  Tapi untunglah ada yang menyurati saya, setidaknya saya bisa mendoakan kakak saya”.

Rafli tercenung mendengar pembicaraan itu.  Rupanya pekerjaan Ayah berguna juga buat orang lain.  Bisa membuat Pak Kirja bahagia.  Bisa mengabarkan kematian kakak bapak tadi.  Mungkin juga banyak hal lain yang bermanfaat.

“Rafli, sepedamu kenapa?” tanya Pak Kirjo membuyarkan lamunan Rafli.

“Bannya bocor, Pak.  Barangkali kena paku”.

Pak Kirjo memeriksa ban sepeda Rafli.  Benar, ada paku menancap di ban itu.  Pak Kirjo lalu menyikat di sekitar lubang itu, memberinya lem dan menambalnya.  Pak Kirjo mengerjakannya dengan cermat dan teliti.  Tangan tuanya sangat terampil dan cekatan.

“Pak Kirjo suka dengan pekerjaan ini?” tanya Rafli tiba-tiba.  Pak Kirjo memandangnya sejenak, lalu tersenyum.

“Tentu saja, pekerjaan ini sesuai dengan keterampilan Bapak, bisa menghasilkan uang untuk hidup sehari-hari, dan yang penting halal.  Bapak tidak melakukan pekerjaan yang dilarang Allah.  Mungkin dari sinilah Allah memberi rejeki buat Bapak”.

“Tapi…” Rafli tidak meneruskan kata-katanya.  Sekali lagi Pak Kirjo tersenyum, seolah tahu yang hendak dikatakan Rafli.

“Mungkin bagi beberapa orang pekerjaan ini remeh.  Tapi Bapak menyukainya karena bisa membantu orang lain.  Tidak semua orang bisa memperbaiki sepeda, bukan?  Semua pekerjaan yang baik, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan jujur, pasti akan memberi manfaat juga buat orang lain.  Dan Allah akan mencintai orang yang bisa membuat dirinya berguna untuk orang lain”.

Rafli mengangguk-angguk mengerti.  Hatinya mulai terbuka.  Meski bukan pahlawan seperti di buku-buku, Ayah orang yang berguna juga.  Kalau Ayah tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, tentu orang yang berkirim surat atau barang akan kecewa.  Kalau Ayah tidak jujur, pasti barang-barang kiriman tidak sampai ke alamat tujuan.  Dan tak kalah pentingnya, karena pekerjaannya, Ayahnya bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk sekolah Rafli dan kakaknya.  Wah, Ayah hebat juga, ya.  Rafli bangga padanya.

“Eh, Rafli, mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya Pak Kirjo tiba-tiba.

“Tidak apa-apa, Pak.  Ini ongkos tambal bannya”, kata Rafli seraya menggenjot sepedanya.  Hatinya lega.  Sepanjang jalan ia bernyanyi kecil.

Ia memacu sepedanya.  Ia ingin segera bertemu Ayah, memeluknya dan mengatakan bahwa Rafli bangga padanya.

a

Iklan

3 Tanggapan to “ANDAI AYAHKU PAHLAWAN…”

  1. farhan Says:

    makasi ats cerpennya jadi bsa selesein tgs bhs indo tq

  2. Waiz Says:

    Cerpen itu Temanya apa . . .

    Please reply.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: