MENJENGUK IBU KE RUMAH TUHAN


Karya : Agustrijanto
Dikutip dari : Ummi No. 11/XXI Maret 2010 M / 1431 H

a 

Di manakah rumah Tuhan?  Rumah Tuhan ada di antara rerimbunan pohon bambu yang menjuntai.

“Gentingnya berwarna merah.  Kemarin aku ke sana”, kata Salma meyakinkan.  “Banyak sekali sungai berwarna-warni.  Aku sangat suka pantainya.  Luas sekali.  Kelinci-kelinci berlari-lari di atas air…  Rumah Tuhan itu indah sekali ya, Yah…” ungkapnya meminta dukungan.

Ayahnya menghela nafas panjang.  Tangannya sibuk bermain di lembaran-lembaran laporan kerja, “Kau terlalu banyak mengkhayal, Salma”.

“Tidak, Yah!  Salma benar-benar ke sana!  Setiap kali ke rumah Tuhan, Salma selalu dijahitkan pakaian baru yang serba putih dan wangi.  Kapan Ayah ke sana bersama Ibu?”.

“Ibumu sudah meninggal.  Apakah perlu Ayah mengatakan ini berulang-ulang?”.

Anak perempuan 4 tahun itu terdiam mengerut.  “Tapi, Ibu suka datang ke rumah kalau Ayah sedang di kantor.  Ibu masih suka menemani Salma, Ayah…” lidahnya membingkai belas iba.  Ayahnya tak menjawab.  Kesal dan capek rasanya menerangkan yang itu-itu juga.

“Maaf Salma, Ayah tidak punya waktu …” Salma mematung.  Kakinya melemas menuju kamar.  Malam yang sepi menemaninya di tahun-tahun terakhir ini.  Ketika usianya baru 3 tahun, ia mengingat selintas, ia tahu kalau ia pernah mempunyai seorang ibu.  Tetapi ia paham betul, ibunya bermain sembunyi-sembunyian di dalam tanah.  Arak-arakan orang yang menunduk sedih berbanding terbalik dengan senyumannya yang polos.

“Ibu, mau ke mana?” begitu tanya Salma dalam gendongan ayahnya sambil menatap keranda yang diusung.

Waktu itu, ia tidak merasa kesepian atau merasakan apa-apa.  Tapi lambat laun, sejak ia masuk Taman Kanak-kanak, kesunyian kerap menyergap diam-diam.

“Ibu kamu yang mana, Sal?”

“Aku kok nggak pernah melihat ibumu, Salma?”

“Eh, denger-denger, kamu sudah nggak punya ibu, ya?”.

“Kok kamu suka sendirian sih, Salma?”

Salma tidak pernah marah pada teman-temannya itu.  Dalam senyum, ia menjawab, “Ibuku ada di rumah Tuhan…”.

***

“Mbah Uti…  Mbah Uti!  Ibu datang.  Tadi Ibu datang lagi!”  Setengah teriak Salma mendatangi neneknya.  Mbah Uti trenyuh.

“Mbah Uti tidak percaya?  Benar, tadi Ibu datang.  Ibu mengajarkan Salma membuat boneka dari karet gelang”.  Tangan mungil itu melingkarkan dua karet gelang di jemari dan menggerak-gerakkannya.  “Ini boneka tangan, Mbah!” katanya riang.

Mata perempuan tua itu berubah sebening intan.  Hatinya teriris menyimak karet-karet gelang itu yang menari sekendak hati di atas tangan mungil itu.

“Ibumu yang mengajarimu, Nak?”  Salma mengangguk.

“Salma, mengapa kau betah di rumah sendirian sepulang sekolah?  Di sana tidak ada siapa-siapa.  Kalau pulang sekolah, tinggallah di sini sampai ayahmu pulang.  Mbah Uti takut ada apa-apa kalau kamu sendirian …”

Salma tertawa.  “Ah, Mbah Uti jangan takut!  Kalau di rumah, Salma bisa nonto VCD, belajar sendiri, menyanyi, dan menari sendiri…  Nanti kalau Salma mau minum susu, kan tinggal lari ke Mbah Uti”.  Ia mencium kening neneknya lalu berlari kecil menyeberangi jalan.  Tangannya yang mungil melambai sebelum menutup pintu.

Begitu setiap hari.  Salma lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.  Sendirian.  Ia hanya ke rumah neneknya untuk makan, minum susu, mandi sore, dan menunggu ayahnya datang.  Tak peduli ayahnya tiba jam berapa, Salma tetap menunggu.  Lalu mereka akan pulang bersama ke rumah mungil mereka.  Tetapi kesendirian Salma seperti tiada membekas.  Salma selalu bercerita kalau ibunya selalu datang untuk menemaninya bermain Malam itu saat Salma terbangun mendengar deru motor ayahnya, ia sempat mendengar Mbah Uti berbicara, “Salma anakmu itu…  Dulu dia tidak pernah bercerita apa pun tentang ibunya, sekarang hampir setiap hari.  Ibu kadang takut dan ngeri.  Apa jangan-jangan di rumahmu itu…”

“Bu, istri Nanda sudah meninggal.  Nanda tidak melihat hal yang aneh-aneh.  Salma memang suka berkhayal.  Khayalannya kadang menyebalkan, membuat aku emosi”, kilah Nanda menahan geram.  Sang Ibu menasehati, “Salma itu anak kandungmu, jangan perlakukan dia seperti musuh besar…”

Sejenak obrolan mereka berhenti saat langkah kecil Salma mendekati sang ayah dan meminta untuk menggendongnya, “Ayo, Ayah… pulang.  Kita tidur di rumah”.

***

Siang itu, seusai sekolah, Salma tidak segera pulang ke rumah Mbah Uti.  Ia bermain bersama teman-temannya.  Sebuah tempat yang sejuk dan rindang pun diburu. Tapi teman-temannya merasa takut.

“Nah, di sini rumah Tuhan.  Di sini rumah Ibu Salma juga…” katanya bangga.  Seonggok tanah yang masih menggunduk dan belum merata juga, ditunjuk.  Sebuah nisan kayu bertuliskan nama terpampang jelas.  Mereka bergidik.  “Setiap hari Salma suka kemari.  Mengobrol, bercerita, yah… pokoknya Salma punya Ibu, kok…”

Teman-teman Salma terdiam.  Pucat pasi.  Sebagian mata mereka memerah.  Mendadak, mereka berhamburan sambil berteriak, “Ibunya Salma sudah mati… Ibunya sudah mati… sudah mati!”

Kali ini Salma yang terdiam.  Matanya membasah.  Tangannya memeluk erat tas sekolah.  Arah kepalanya dipalingkan ke pusara.

“Ibu… Ibu lagi apa”? ia membelai-belai tanah dengan rasa bahagia.

Cerita tentang Salma yang selama ini suka sendirian ke kuburan ibunya menjadi pembicaraan warga.  Para ibu khawatir anak-anak mereka kerasukan setan.  Salma pun dinasehati tak henti dan kalau perlu… dijauhi dalam pergaulan.

Tetapi bukan Salma kalau tidak mempunyai akal panjang.  Seluruh perlakuan tak menyenangkan itu hampir tak berpengaruh, kecuali kalau sudah berhadapan dengan amarah ayahnya.

“Jadi benar kalau selama ini kau suka sendirian ke kuburan setelah pulang sekolah?!  Lalu kau bawa cerita-cerita bohong kalau Ibu selalu datang setiap hari ke rumah, mengajak bermain, mengajarkan ini itu?!” setengah menghardik Ayahnya bertanya.  Salma mengangguk.

“Salma!  Ayah tidak suka kau berulah seperti ini!” teriak ayahnya melepas kesabaran.  Salma menunduk.  “Tetapi Yah… memang benar Salma suka bertemu Ibu.  Ibu tidak pernah meninggalkan Salma.  Salma tidak bohong…”

“Kamu bohong!”

Salma menangis.  Setengah berlari ia ke kamar.  “Ibu… Ibu…”

“Ibumu sudah meninggal!  Dia tidak bisa hidup lagi!”

***

Esok harinya, Salma meminta ijin kepada nenek.  “Salma mau menjenguk Ibu…” suaranya bergetar.  Kali ini, perempuan baya itu pun tak kuasa menyembunyikan ketidaksabarannya, “Salma, Ibumu sudah meninggal!  Ibumu sudah wafat!  Berapa kali Mbah Uti dan ayahmu harus menerangkan ini semua?  Sadarlah, Nak!”

Salma terhenyak, “Tapi Mbah, hari ini Salma sudah berjanji akan menjenguk Ibu ke rumah Tuhan”.

“Rumah Tuhan yang mana?!  Salma, jangan membuat Mbah sedih dengan khayalan-khayalanmu!  Ibumu telah tiada…”

Tatapan Salma melemah.

Ia tak dapat meyakinkan siapa pun kalau ibu benar-benar masih ada.  Ia sering bermain umpet-umpetan dengannya, mendatanginya saat ia sendirian di rumah, mengajak bermain masak-masakan….

Salma seolah menjadi gadis bisu.  Tak bersemangat di hadapan ayah dan neneknya.  Namun ia tetap melakukan kebiasaannya seusai sekolah.  Bermain tanah kuburan dengan, bernyanyi-nyanyi, mengitari kuburan dengan baju barunya, tak jarang pula tertawa mengisahkan kejadian lucu di sekolah.  Makam ibunya telah menjadi rumah kedua baginya.

Menjelang malam, tidak tampak tanda-tanda Salma di rumah.  Padahal kelamnya malam sangat mencekam.  Salma tidak pulang.  “Tolong, cari Salma!”  Mbah Uti meminta bantuan tetangga-tetangganya.  Mereka berpencar.  Mencari ke rumah teman-teman Salma, ke lapangan.

Sampai di kuburan, semua terhenyak.  Salma tampak lemah mendekap nisan ibunya.

“Sedang apa kau, Nak?” bisik Mbah Uti prihatin.  Salma diam.

“Pulang, Salma”.  Gumam ayahnya.  “Salma maunya apa?”  Lembut ayahnya memegang pundaknya.  Hatinya perih.

Salma menoleh ke arah sang ayah.  “Salma ingin ibu!” tangisnya pecah.

Malamnya pekat, sepekat hati ayah Salma yang tergugu.  Ayahnya  butuh banyak perhatian.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: