SEJARAH KESYIRIKAN, SEJARAH KEHANCURAN


Dikutip dari : Buletin Jumat AL IHSAN, Edisi Th IV/6 Maret 1430 H

a

a

Sejarah banyak sekali memperlihatkan betapa Allah SWT.  selalu bersikap tegas kepada ummat manusia yang ingkar terhadap ajaran-Nya dengan menimpakan kepada mereka bencara yang menimbulkan penderitaan baik lahir maupun bathin.  Bencana itu ditimpakan agar mereka mau membangun kesadaran yang benar, yang sesuai dengan prinsip-prinsip tauhid, dengan memposisikan Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah dan ditaati.

Sejak Awal Kehidupan

“Bencana” pertama yang ditimpakan kepada manusia adalah kehidupan dunia itu sendiri.  Pada awalnya Adam dan Hawa, manusia pertama yang diciptakan  oleh Allah SWT, hidup di surga dengan segala kemewahan,
keindahan, dan kenikmatannya.  Keduanya boleh menyantap makanan apa pun kecuali buah tertentu yang dilarang Allah SWT.  Tapi godaan iblis telah membuat Adam dan Hawa lengah, hingga akhirnya melanggar peraturan tersebut.  Allah berfirman :

“Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama dan kamu akan saling bermusuhan satu sama lain, maka siapa mendapat dan mengikuti petunjuk-Ku tidaklah ia sengsara”.(QS. Thaha : 123).

Di luar konteks takdir bahwa kehidupan ini memang merupakan skenario Allah, pengusiran terhadap Adam dan Hawa itu sebenarnya merupakan hukuman atas kesyirikan yang mereka lakukan.  Mengapa? Karena substansi pelanggaran yang beliau berdua lakukan, walaupun tampak sederhana, tapi sesungguhnya sangat mendasar, yakni mempersekutukan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT dengan ketaatan dan kepatuhan kepada iblis.  Padahal, tauhid mengharuskan manusia untuk memberikan loyalitasnya kepada Allah SWT semata.

Bahwa kehidupan dunia adalah sebuah “Bencana” yang harus dilalui oleh kaum muslimin dengan kesadaran dan kesabaran juga tercermin dalam sabda Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, “Dunia itu penjaranya kaum mukminin”.

Terus Berlanjut

Ketika Nabi Nuh a.s. diutus, jumlah manusia telah demikian banyak dan ajaran Allah telah mulai disimpangkan dengan menyembah berhala.  Di antaranya Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.  Hampir satu milenium lamanya Nabi Nuh a.s., berusaha menyadarkan kaumnya agar meninggalkan kehidupan syirik itu dan kembali menyembah Allah.  Akan tetapi seruan itu tidak digubris sama sekali.  Sebaliknya, mereka malah menentang keras.  Intimidasi itu dilanjutkan dengan menyebarkan tuduhan bahwa utusan Allah itu orang gila, sampai-sampai yang menyedihkan Nabi Nuh a.s., anak kandungnya sendiri terprovokasi dan mengikuti kaum yang ingkar.  Karena itulah Nabi Nuh a.s. memohon kepada Allah untuk menghukum orang-orang yang tidak mau diselamatkan aqidahnya itu.  Allah kemudian mengirim bencana banjir yang dahsyat kepada mereka.  Demikian besar bencana itu sehingga mereka yang berusaha menyelamatkan diri ke gunung pun tetap tersapu banjir.

Pada kurun berikutnya, Kaum ‘Ad juga menyekutukan Allah dan menentang dakwah yang dilakukan Nabi Hud a.s., karena mereka merasa telah memiliki kekuatan yang hebat berupa bangunan-bangunan yang megah.  Allah kemudian menurunkan azab permulaan kepada mereka dengan bencana yang dahsyat.  Tiga tahun lamanya Allah tidak menurunkan hujan yang menyebabkan tanah-tanah mengering, kebun meranggas, dan terjadi kelangkaan air.  Tapi, sepanjang penderitaan itu Nabi Hud a.s. tetap menyeru mereka untuk bertobat, meski tetap tidak digubris.  Akhirnya Allah menuntaskan azab-Nya dengan mengirimkan angin puyuh selama tujuh malam delapan hari yang menerbangkan segalanya.  Bangunan-bangunan megah pun tidak dapat menolong serangan badai pasir yang besar itu dan menenggelamkan dalam lautan pasir yang mencapai kedalaman — menurut penelitian arkeologis — 12 meter.

Kaum Tsamud yang juga mendurhakai Allah telah diberi seorang pemberi peringatan, Nabi Shalih a.s. yang menyerukan agar mereka menyembah Allah saja.  Tapi mereka menantang utusan Allah dengan berkata :

“Hai Shalih, datangkanlah apa yang engkau janjikan kepada kami jika engkau benar-benar utusan Allah”. (QS. Al A’raaf : 77)

Maka Allah membiarkan mereka bersenang-senang di rumah-rumah mereka selama tiga hari.  Setelah itu Allah menghantam mereka dengan sambaran petir yang dahsyat dan mengguncangkan rumah-rumah mereka.  Inilah bencana klimatologi (iklim/cuaca) dahsyat yang pernah dialami manusia.

Kemudian Nabi Luth a.s. dikirim kepada manusia di kota sodom yang gemar melakukan maksiat seperti perampokan, pembunuhan, perzinahan, dan yang paling bejat adalah perilaku homoseksual massal.  Allah kemudian menghukum mereka dengan sebuah bencana yang amat dahsyat : gempa bumi besar yang langsung mengamblaskan desa mereka sehingga kedalaman 400 meter, yang akibatnya kemudian hari memunculkan Laut Mati di sekitar wilayah Kaum Nabi Luth tersebut.

Selanjutnya, Nabi Syu’aiba.s. diutus kepada Kaum Madyan yang tidak beriman kepada Allah dan memiliki karakter utama keculasan dalam bidang ekonomi dengan cara memanipulasi timbangan.  Tapi seruan beliau malah ditentang, karena dianggap janggal dengan tradisi mereka.  Allah pun akhirnya menghabisi mereka dengan sambaran petir dan gempa hebat karena menolak seruan Nabi Syu’aib a.s.

Berikutnya, Nabi Musa diutus untuk memperingatkan Bani Israil dan penguasa Mesir Kuno, Firaun yang karena kekuasaan dan tentaranya yang begitu hebat mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi.  Bencana pun
diturunkan Allah dengan cara menyapu penguasa arogan itu beserta pengikutnya dengan gelombang laut dahsyat yang langsung menenggelamkan mereka, ketika tengah mengejar Nabi Musa a.s. dan kaumnya.

Bagaimana Sesudah Rasulullah

Peristiwa-peristiwa yang tertoreh dalam Al Qur’an itu dengan jelas  mengaitkan bencana dengan fenomena penyimpangan tauhid dari penduduk atau kaum yang menjadi korbannya.  Allah sengaja mengisahkan fakta sejarah itu agar manusia melihat bukti yang jelas keterkaitan antara bencana dan penyimpangan sebuah masyarakat.

Catatan wahyu yang suci dan mutlak itu memang tidak secara mutlak dapat mengaitkan peristiwa-peristiwa bencana yang terjadi sesudah Rasulullah wafat selalu berhubungan dengan kesyirikan.  Demikian pula yang terjadi sebelum Al Qur’an turun, tetapi tidak diceritakan dalam Al Qur’an maupun hadits Rasulullah saw.  Namun, runtuhnya sebuah peradaban akibat bencana mungkin saja dapat dianalisis memiliki korelasi dengan penyimpangan aqidah para penduduknya, meskipun tidak seorang pun yang dapat memastikan dan memutlakkannya.

Bencana apakah yang ditimpakan Allah kepada penentang dakwah Nabi-Nya yang terakhir?

Ini yang menarik.  Ketika Nabi Muhammad saw. diutus, tiada bencana yang hebat muncul dari alam.  Bencana hebat yang dirasakan oleh orang-orang kafir adalah munculnya kekuatan kaum muslimin itu sendiri.

Pada waktu Perang Ahzab, terjadi udara dingin yang hebat disertai dengan badai yang cukup besar.  Anehnya, itu hanya membuat kaum kafir saja yang menderita.  Kaum muslimin yang sedang mereka kepung di Kota Madinah tidak merasakannya.  Mereka akhirnya pergi dan menarik mundur pasukan mereka.

Ketika Rasulullah saw. diciderai oleh lemparan batu orang-orang Thaif, malaikat memberi kesempatan kepada beliau untuk meminta turunnya azab bencana.  Malaikat siap menghantamkan gunung-gunung ke tengah-tengah perkampungan mereka.  Tetapi Rasulullah tidak berkenan dan hanya mengatakan : “Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”.

Wallahu a’lam ***

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: