JADILAH SEPERTI LEBAH


dikutip dari Buletin Jumat AL-IHSAN; Edisi : Th V/4 Juni 1431 H / 2010 M

a

a

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)”. (HR.
Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar).

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul.  Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain.  Sehingga dimana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain.  Maka jadilah dia orang yang seperti yang dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain”.

Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu.  Mereka menjadi apa pu, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah.  Rasulullah saw. dengan pernyataannya dalam hadist di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah.  Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah SWT. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah : ‘BUatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan
tempat-tempat yang dibuat manusia.  Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu)’.  Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang macam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan”.  (
QS. an-Nahl : 68 – 69).  Sekarang bandingkan apa yang dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini :

Hinggap di Tempat yang Bersih dan Menyerap Hanya yang Bersih

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan.  Dia sangat jauh berbeda dengan lalat.  Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk.  Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung  bahan madu atau nektar.

Begitu pula sifat seorang mukmin.  Allah SWT. berfirman :

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. al Baqarah : 168)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkab bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang  buruk dan membuang dari mereka beban-beban dari belenggu-belenggu yang ada pada mereka.  Maka orang-orang yang beriman kepadanya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al A’raf : 157)

Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.  Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta.  Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).

Mengeluarkan yang Bersih

Siapa yang tidak kenal madu lebah.  Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia.  Tapi dari organ tubuh manakah madu itu?  Itulah salah satu keistimewaan lebah.  Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan.  Belakangan ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan : liurnya!

Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan.  “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”.  (QS. al Hajj : 77)

Al khair adalah kebaikan atau kebajikan.  Akan tetapi al khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual.  Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum).  Al khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

Segala yang dikeluarkan dari darinya adalah kebaikan.  Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya sebesar-besar untuk kemaslahatan manusia.

Tidak Pernah Merusak

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi.  Begitulah seorang mukmin.  Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun : baik material maupun non material.  Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat.  Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah.  Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu.  Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

Bekerja Keras

Lebah adalah pekerja keras.  Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuh madu.  Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal.  Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras?  “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Alam Nasyrah : 7)

Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan.  Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia kecuali yang mendapat rahmat Allah tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.

Bekerja Secarfa Jama’i dan Tunduk pada Satu Pimpinan

Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri.  Merekaa pun bekerja secaa kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri.  Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya.  Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya.  Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman.  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Ash Shaff : 4)

Allahu a’lam

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: