GENERASI YANG KEHILANGAN ORIENTASI HIDUP


oleh : Dr. Amir Faishol Fath (www.dakwatuna.com);
Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 22, 28 Mei 2010 M / 15 Jumadil Akhir 1431 H


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.  Aku tidak menginginkan rezki dari mereka dan tidak pula Aku menginginkan makanan dari mereka.  Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezki, yang memiliki kekuatan yang kuat. (QS. Adz Dzaariyaat : 56 – 58)

Banyak peristiwa yang mendera masyarakat kita sebulan terakhir ini.  Di antaranya ialah kekacauan para siswa SLTA dalam menanggapi pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) tanggal 26 April yang lalu.  Bagi siswa-siswi yang lulus, banyak di antara mereka menyambutnya dengan hura-hura seperti konvoi di jalan raya sambil membawa kendaraan dengan ugal-ugalan sehingga membahayakan lalu lintas di berbagai jalan raya.  Banyak pula yang berteriak-teriak sambil tertawa, berjingkrak-jingkrak, dan mencorat-coret baju seragam mereka.  Selain itu, banyak pula yang meluapkan kegembiraannya melalui pesta miras dan bermesraan dengan sesama teman sekolah lawan jenis.  Hanya sedikit yang melakukan sujud syukur pada Allah atas nikmat kelulusan yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Bagi yang tidak lulus UN, mereka menanggapinya dengan berbagai tingkah yang tidak baik dan sama sekali tidak mencerminkan kematangan kepribadian sebagai hasil didikan keimanan selama bertahun-tahun sekolah.  Banyak sekali yang berteriak-teriak histeris seakan nasib dan masa depan mereka hancur dan musnah.  Ada pula yang merusak sekolah dan bertingkah tidak terpuji lainnya.  Yang memprihatinkan lagi ialah ada yang bunuh diri seperti yang terjadi di Jambi.  Kegaduhan UN ini telah terjadi beberapa tahun belakangan, khususnya sejak pemerintah menetapkan sistem nilai kelulusan ujian akhir secara nasional, tanpa melihat apakah sekolah tersebut sudah memiliki tenaga-tenaga pendidik yang handal dan fasilitas yang memadai atau tidak.  Semua sekolah harus mengikuti standar nilai yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas).  Akibatnya, tahun ini misalnya, bukan hanya banyak yang tidak lulus, bahkan lebih dari 260 sekolah yang satu pun muridnya tidak ada yang lulus.  Tak heran, jika sebagian pakar pendidikan dan masyarakat menilai bahwa UN adalah bentuk teror nasional yang dilancarkan pemerintah terhadap para siswa.

Sesungguhnya inti persoalannya bukan pada standar yang ditetapkan Diknas.  Menurut beberapa pakar pendidikan, bahwa standar tersebut sebenarnya biasa-biasa saja; bukan hal yang mustahil dicapai oleh para siswa.  Yang aneh dan perlu mendapatkan perhatian adalah tentang cara pandang siswa terhadap ijazah dan terhadap dunia pendidikan itu sendiri.  Dari berbagai sikap yang muncul dalam menghadapi UN, baik yang lulus maupun yang tidak lulus, tercermin dengan jelas bahwa siswa atau anak didik kita saat ini sudah kehilangan orientasi hidup yang sebenarnya.  Di mata mereka, ijazah itu seakan segala-galanya.  Karena ijazah identik dengan pekerjaan dan perguruan tinggi.  Sebab itu, sikap yang mereka lulus maupun yang tidak lulus sangat memprihatinkan.  Faktanya, ratusan ribu pengangguran adalah orang-orang yang terdidik, bahkan lulusan dari berbagai perguruan tinggi ternama.

Timbul pertanyaan mendasar : Siapa yang salah dan berkontribusi terhadap hilangnya orientasi hidup anak-anak didik kita saat ini?  Bukankah mereka itu generasi masa depan yang akan menentukan baik dan buruknya negeri ini?  Perlu kita sadari bahwa sesuai sunatullah (ketetapan Allah), bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam.  Artinya, kondisi mental dan perilaku sebagian besar anak didik kita yang memprihatinkan itu adalah hasil apa yang kita tanamkan ke dalam diri mereka selama bertahun-tahun dan bahkan sejak mereka lahir.  Kita telah gagal menanamkan iman dan takwa ke dalam diri mereka, dan juga ilmu pengetahuan, baik dalam rumah tangga, institusi pendidikan, dan juga dalam masyarakat.  Pemerintah telah gagal menjadikan pendidikan sebagai lembaga character building (pembentuk karakter) iman dan takwa.  Akan tetapi yang dibentuk adalah karakter sekulerisme dan materialisme yang amat membahayakan kehidupan generasi kita di dunia dan apalagi di akhirat kelak.  Sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa generasi kita sekarang sedang kehilangan orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah Ta’ala sebagai Tuhan Pencipta mereka, Pencipta kita, dan Pencipta alam semesta.  Berbagai kejahatan yang sudah mengakar saat ini, seperti korupsi, perilaku hedonis, gaya hidup konsumtif, dan sebagainya adalah hasil apa yang ditanamkan dalam pendidikan masa lalu.  Kalau kita serius untuk mengubah dan mereformasi kondisi semrawut seperti sekarang ini, kita harus memulainya dari dunia pendidikan.  Kalau kita gagal mewujudkan pendidikan sebagai wadah dan institusi pembentukan karakter iman dan takwa kepada anak didik kita sekarang, maka masa depan negeri ini akan tetap seperti apa yang kita saksikan hari ini, dan tidak mustahil lebih parah lagi.  Banyak hal yang perlu kita benahi dari dunia pendidikan sekarang, di antaranya adalah konsep pendidikan yang diterapkan.  Kita harus mampu merancang sebuah konsep pendidikan yang efektif dan mampu menanamkan karakter iman dan takwa kepada anak didik sehingga mereka memiliki orientasi hidup yang benar yang sesuai dengan maksud dan tujuan Allah menciptakan mereka.  Kalau orientasi itu sudah melenceng dan menyimpang, maka generasi kita akan menjadi generasi yang tidak kenal Tuhan Penciptanya dan tidak pula mengenal diri mereka sendiri.

Pribadi-pribadi yang sholeh itu tidak lahir dari konsep pendidikan yang sekuler dan berorientasi duniawi atau materialistik.  Akan tetapi, mereka akan lahir dari konsep pendidikan Islam yang mengajarkan dan menanamkan orientasi hidup manusia yang sebenarnya.

Dari tiga ayat tersebut di atas kita dapat menyimpulkan hal-hal berikut :

  1. Manusia diciptakan Allah bukan untuk bermain-main dan hanya mengejar kepentingan duniawi.  Akan tetapi, mereka diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya dengan menaati semua sistem hidup yang diciptakan-Nya untuk manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat.
  2. Persoalan rezki dan kebutuhan hidup di dunia sudah Allah siapkan sedemikian rupa untuk manusia.  Oleh sebab itu, manusia tidak perlu khawatir akan tidak kebagian rezki selama mereka berusaha dan berdoa serta pemerintahnya tidak dzalim dan menerapkan sistem dzalim yang hanya menguntungkan dan memperkaya segelintir kaum kapitalis saja.

Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.  Dia telah menciptakan kita dengan sistem yang sangat canggih dan telah menyiapkan bagi kita semua kebutuhan kita selama hidup di dunia ini.  Bahkan sebelum kita dilahirkan-Nya ke dunia; saat kita berada dalam rahim ibu kita dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka karunia-Nya selalu menyirami kehidupan kita.  Kalau kita menjadikan Allah sebagai tujuan dan orientasi hidup, maka Allah akan memudahkan dan memberkahi hidup di dunia dan menyelamatkan kehidupan akhirat kita.  Ini adalah janji-Nya pada setiap hamba yang hidupnya hanya untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.  Persoalan dunia ini amatlah sederhana bagi-Nya.  Demikian pula halnya bagi orang yang hidupnya untuk beribadah kepada Allah, persoalan kehidupan dunia bukanlah menjadi tujuan utamanya dan yang menjadi tujuan hidupnya tetaplah kehidupan akhirat yang abadi.  Inilah generasi yang bermutu dan berkualitas tinggi di mata Allah dan Rasul-Nya, bukan generasi yang orientasi hidupnya hanya kepentingan hidup di dunia yang fana dan sementara.

Generasi yang berkualitas itu hanya akan lahir dari sistem dan konsep pendidikan Islam, bukan dari konsep pendidikan sekuler, materialis, dan kapitalis.  Generasi yang bermutu ialah generasi muda yang beriman
kepada Allah dan selalu menjadikan petunjuk Allah (Al Quran) sebagai rambu-rambu kehidupan.  Generasi muda yang memiliki hati yang bersih dan kasih sayang terhadap orang tua, keluarga, dan masyarakatnya.  Generasi yang berpendirian teguh dan tidak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan yang tidak sehat, dan bahkan mereka yang mempengaruhinya ke arah kebaikan.  Generasi yang berani mengatakan bahwa Tuhan yang kami sembah dan taati adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini.  Semoga Allah membantu dan menolong kita dalam membentuk generasi yang memiliki pijakan hidup yang kuat dan memiliki orientasi hidup yang benar, yakni Allah menjadi tujuan mereka.  Rasul saw. adalah teladan mereka.  Al Quran adalah dustur (sistem hidup) mereka.  Berjuang di jalan Allah adalah jalan mereka dan mati di jalan Allah adalah cita-cita mereka yang paling tinggi dan utama.  Semoga Allah pilih kita menjadi orang-orang yang sukses dalam mewujudkan generasi Islam, generasi masa depan yang diharapkan.  Semoga Allah berkenan menghimpun kita di syurga firdaus yang paling tinggi bersama Rasul saw., para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah menghimpun kita di tempat yang mulia ini.

Wallahu a’alam bish shawab

a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: