PERGI KE PLANETARIUM


 Karya : Mila K. Kamil; Dikutip dari : Ummi No. 3/XVI Juli-Agustus 2004 M / 1425 H

  

Kring…!

Bel pulang hari Jum’at itu akhirnya berbunyi juga.  Buyung merasa lega sekali.  Alhamdulillah, sudah waktunya pulang.  Kepalanya sejak tadi memang terasa pusing.

Teman-teman sekelasnya membenahi buku dengan ribut.  Kelas menjadi riuh rendah.  Namun Pak Fuad tak segera keluar dari ruangan.  Beliau malah berjalan ke depan kelas, menghadap anak-anak.  Beliau berseru keras sambil mengetukkan penghapus papan tulis ke meja.

“Perhatian semuanya!”  Kelas menjadi sunyi.  Mereka menatap Pak Fuad dengan pandangan bertanya.  Pak Fuad tersenyum, lalu berkata dengan suara lembut.

“Anak-anak, hari Minggu besok kelas kita akan mengadakan study tour.  Kita akan berkunjung ke Observatorium Bosscha di Lembang”.  Beberapa anak yang sudah tahu tentang Observatorium Bosscha di Bandung, berseru dan melompat kegirangan.  Sementara yang belum tahu saling menatap dengan pandangan bertanya.

“Kalian tahu apa itu observatorium?” tanya Pak Fuad.  “Observatorium adalah sebuah tempat dimana kita bisa langsung mengamati bulan, bintang, dan benda langit lain melalui sebuah teropong besar”, jelas Pak Fuad.  Semuanya tampak senang mendengar penjelasan Pak Fuad.

“Tapi… Bapak akan memberi tugas pada kalian, yaitu membuat karangan tentang matahari, bulan, atau bintang dan dikumpulkan 3 hari setelah study tour.  Sanggup?”

“Sanggup, Paaak!”

“Bagus!  Nah, sekarang kalian berdoa.  Setelah itu semua boleh pulang!”

Ketua kelas memimpin doa dan mengucapkan salam.  Semuanya segera berdiri dan berlari keluar kelas.  Buyung berjalan agak terhuyung.  Pak Fuad melihatnya.  Segera dihampirinya Buyung.

“Kamu  sakit?”  Pak Fuad meraba dahi Buyung dengan punggung tangannya.  “Badanmu juga agak panas.  Sampai di rumah, minta diantar Ibu ke dokter ya?”

“Iya Pak”, jawab Buyung.  Dalam hati, dia berharap dirinya tidak benar-benar sakit, bisa-bisa dia tidak boleh ikut ke observatorium.

Malam itu, sepulang dari dokter, Buyung duduk di meja makan sambil mengaduk-aduk sisa nasi tim di piringnya.  Nafsu makan Buyung hilang.  Pandangannya sayu.  Ibu terus membujuk Buyung untuk menghabiskan makanannya.  Ayah yang baru pulang tampak heran melihat keadaan Buyung.

“Buyung agak demam, tapi sudah ke dokter”, ujar Ibu menjelaskan.

“Ayah…” kata Buyung lirih.  “Hari Minggu kelas Buyung mau study tour ke Bosscha.  Tapi ibu bilang, Buyung tidak boleh ikut”.

Iya dong, kan Buyung sedang sakit”.

“Tapi Buyung kepingin ikut yah”, Buyung mencoba membujuk ayah.  “Buyung kan belum pernah ke observatorium.  Lagipula, nanti pak guru marah kalau Buyung tidak ikut dan membuat tugas karangan tentang bulan dan bintang”.

“Kalau sakit, Insya Allah Pak Guru tidak akan marah”, hibur ayah.

***

Hari Minggu sore, Buyung duduk murung di depan jendela sambil mengamati beberapa mobil yang lalu lalang di depan rumahnya.  Sepanjang siang dia tidur-tiduran saja sampai merasa jenuh.  Ketika ayah dan ibu masuk ke kamar dan duduk di sebelahnya, Buyung cuma menoleh sebentar, lalu kembali mengamati jalanan.  Dia sama sekali tak mempedulikan ayah.  Pikirannya melayang, membayangkan teman-temannya yang sedang study tour ke Bandung.  Mungkin mereka sedang mengamati bintang-bintang melalui teleskop di observatorium.  Ah, mereka pasti sedang bersenang-senang.  Sementara aku cuma tidur di kamar seharian.  Makan nasi tim lembek dan minum obat pahit.  Hhh… menyebalkan!

Esok harinya sehabis sarapan ayah berkata, “Buyung!  Ayah mau ke Planetarium, nih”.

Buyung cuma menatap ayah sambil cemberut.  Di telinganya, kata-kata ayah tidak lebih daripada sekedar ledekan.  Semua orang boleh bersenang-senang.  Sementara aku dikurung di kamar, padahal kini ia sudah merasa sehat.  Buyung makin merasa kesal.

“Buyung kan sudah sembuh, mau ikut tidak?” tanya Ibu.

“Benar bih Yah?” akhirnya Buyung berkata dengan senang.

“Iya, supaya kamu tetap bisa membuat laporan soal matahari, bintang, dan bulan”, tambar Ibu.

Buyung tersenyum gembira.  Ayah dan ibuku memang sangat baik, batinnya.

***

Hari Rabu pagi, anak-anak menyerahkan tugas mengarang tentang benda-benda langit yang mereka lihat di observatorium.  Buyung tampak ikut menyerahkan tugasnya.  Pak Fuad tampak keheranan.  Sebab ibu Buyung sudah menelponnya, mengabarkan Buyung sakit sehingga tidak bisa ikut study tour.

“Kemarin saya pergi dengan Ayah ke planetarium, Pak” jelas Buyung, menyadari keheranan Pak Fuad.  Pak Fuad senang mengetahui kegigihan Buyung.

Sore itu, dengan bangga Buyung memamerkan tugas mengarangnya yang diberi nilai 9 oleh Pak Fuad.  Ibu dan Ayah membacanya bergantian.

“Kamu memang pintar, Nak!” puji Ibu.  Sementara ayah mengacak rambut Buyung dengan penuh sayang.  Buyung tertawa, dia berdiri penuh rasa bangga di depan kedua orang tuanya.  Dia merasa puas sekali.  Malamnya setelah sholat Isya, Buyung berdoa khusus untuk ayah dan ibunya.  “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.  Kau berikan untukku ayah dan ibu yang sangat baik.  Kalau bukan karena bantuan mereka, Buyung mungkin tidak bisa dapat nilai sebagus ini.  Dan mungkin Buyung juga tidak belajar banyak tentang bulan dan bintang ciptaan-Mu…”

..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: