AKU, TAS SEKOLAH ALIF


Karya : Mulyati M Yasin; Dikutip dari : UMMI Nomor 8/XV Januari – Februari 2004 M / 1424 H

.

“Umi…!  Belikan tas baruuuu…!” Alif berteriak di depan pintu.

Brak…!  “Auw…!” Aku menjerit kesakitan karena dibanting Alif ke kursi tamu.

“Kenapa tidak memberi salam dulu, Alif?” sapa Umi dengan lembut.

Alif tidak menjawab sapaan Umi, ia malah menarik-narik taliku dengan kasar.  Alif tak mengerti, padahal aku sudah capek membawakan buku-bukunya yang begitu banyak, apalagi tadi aku dibantingnya membuat badanku semakin sakit semua, aku ingin sekali istirahat.

“Alif minta dibelikan tas baru, Umi”, rengek Alif.

Umi menatap alif dengan lembut.  Lalu menatapku sambil mengucsap-usap badanku, duh… rasanya capekku hilang seketika, coba Alif yang mengusap-usapku, aku akan semakin sayang padanya.

“Bukankah Umi baru membelikan tas ini beberapa bulan yang lalu, kelihatannya masih bagus”, tutur Umi masih dengan suaranya yang lembut.

“Yudi juga tasnya masih bagus, Mi.  Tapi dia sudah dibelikan lagi tas yang baru oleh uminya, Alif juga sudah bosan dengan tas yang ini, Alif minta yang baru, Umi…!” Alif merajuk pada uminya sambil tangannya menarikku, lalu melemparkannya ke lantai.

“Aduh…!”  Jeritku keras, badanku ringsek semua karena tertindih buku-buku yang ada dalam perutku.  “Oh… Alif… Alif!”

Tapi… tapi siapa yang mau mendengar jeritanku.  Aku kan hanya sebuah benda yang bernama tas sekolah.  Aku hanya disayang, diperhatikan ketika aku masih baru, masih belum kotor.  Padahal jasaku banyak pada Alif.  Sejak aku dibeli dari toko, sejak itu aku selalu membantu Alif, membawakan buku-buku dan peralatan sekolahnya, juga membawakan makanan dan minumannya, semua dimasukan dalam perutku, lalu ditaruhnya di punggung Alif, taliku berpegang kuat pada pundak Alif, lalu Alif melangkah pergi atau pulang sekolah dengan santai.  Tiap hari aku menemani Alif dengan setia.  Aku tak pernah mengeluh, walau Alif terkadang melemparku bagitu sajaa di bangku sekolah karena ingin cepat-cepat bermain dengan teman-temannya di halaman sekolah.  Padahal Alif itu sudah kelas tiga, tetapi ia tidak pernah mau mengerti bahwa aku banyak membantunya, memang sejak aku terlihat kotor Alif tak menyayangiku lagi, Alif malas untuk memandikanku, bahkan aku sering disia-siakan Alif.  Apalagi sekarang katanya ia sudah bosan denganku tas sekolahnya, ia ingin Umi membelikannya tas yang baru seperti tas baru Yudi, oh… Alif, kamu akan menyingkirkanku ya…?

Sudah dua hari, aku tergeletak di gudang.  Alif sudah punya tas sekolah baru, Umi terpaksa membelikannya karena Alif akan mogok belajar, tak akan ikut shalat lagi dengan ayahnya di masjid kalau tak segera dibelikan tas sekolah baru.  Lalu aku dibawa Umi Alif ke gudang, diletakkan bersama barang-barang lainnya yang sudah tidak terpakai lagi, tentu saja aku sedih… tapi siapa yang peduli padaku lagi, aku kan sudah jadi barang bekas yang jelek… euh… uh…!

“Tinaaa… sini…!” terdengar Umi Alif memanggil seseorang di luar gudang.

“Iya Bu…” jawab seorang anak, yang sepertinya aku kenal suaranya.  Umi membuka pintu gudang, lalu teranglah ruang gudang oleh cahaya matahari, hilang seketika pengapnya, dan aku bisa melihat siapa anak yang dipanggil Umi Alif itu, ia Tina anak yatim piatu tetangga Alif, ia anak yang baik, sopan, dan pintar kata Umi Alif.  Mau apa ya diajak masuk ke gudang yang pengap ini?

“Sini Tina, ini ada tas sekolah, sepertinya masih bagus dan kuat, apa Tina mau…?” tanya Umi dengan suara lembutnya.  Tina memandangiku malu-malu.

Tanpa suara Tina mengangguk senang.  Aku jadi ikut gembira, ternyata Umi akan memberikan aku pada Tina.  Daripada aku tergeletak di gudang lebih baik dipakai Tina, ia anak yang pintar dan tentu lebih menghargaiku nanti.

“Alif sudah punya yang baru, dan tas ini kalau dicuci lagi akan terlihat masih bagus, Tina suka?”  Umi mengusap-usap kepala Tina, aku jadi terharu.  Umi Alif sangat menyayangi anak yatim seperti Tina.

“Terima kasih atas pemberiannya, Ibu, saya suka sekali”, jawab Tina sopan.  Lalu didekapnya aku oleh Tina.  Aku tentu saja sangat gembira, berarti aku akan dipakai lagi walaupun bukan dengan Alif, pokoknya aku senang dapat membantu lagi membawakan buku-buku dan perlengkapan sekolah, apalagi sekarang yang memakaiku adalah Tina, anak yatim piatu yang baik dan pintar, aku jadi tambah dihargai, tambah bermanfaat, dan pasti Tina akan lebih memperhatikanku, menghargaiku.

“Ibu, saya pulang sekarang”, saya akan mencuci tas ini, biar besok sudah bisa saya pakai ke sekolah”, tutur Tina riang.

“Ya, baiklah Tina.  Semoga tas itu banyak manfaatnya, ya”, jawab Umi Alif tersenyum.

Tina berlari mendekapku, aku gembira mendapatkan kembali teman untuk kubantu membawakan buku-buku sekolah, selamat tinggal Alif…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: