BUNDA SYUHADA


Beberapa hari ini Syuhada uring-uringan dan murung. Apabila dimintai tolong bundanya, ia malas melakukannya. Ketika Bunda hendak mengobrol dengan Syuhada, ia pura-pura sibuk atau menjauh dan masuk ke kamarnya. Bunda jadi sedih karena tidak tahu apa yang diinginkan Syuhada.

Suatu sore, Syuhada duduk di bangku taman dengan buku di tangannya. Diam-diam ia memperhatikan Bunda yang sedang menyiram bunga. Wajahnya berkerut-kerut di balik bukunya. Ia risau menatap Bunda, terutama menatap benda penyangga dari kayu yang menopang kaki kiri Bunda. Ya, kaki kiri Bunda memang lumpuh karena kena polio saat masih kecil. Kemana-mana Bunda harus menggunakan kruk untuk membantunya berjalan.

Itulah penyebab kerisauan Syuhada. Pada pembagian rapor besok. Bundalah yang akan mengambilnya. Sebelumnya, Ayah yang selalu mengambilkan rapornya. Namun karena ayahnya sedang dinas keluar kota, Bunda yang akan menggantikannya. Syuhada malu mengajak Bundanya yang cacat ke sekolahnya. Apa kata teman-temannya nanti. Padahal ia selalu membanggakan Bunda di hadapan teman-teman.

Sebenarnya Syuhada memang bangga dan sayang pada Bunda yang pintar membuat makanan untuk bekal sekolahnya. Teman-temannya sering memuji makanan buatan Bunda. Bunda juga selalu dapat menjelaskan dan mengajarkan soal-soal pelajaran sekolahnya, yang sulit sekalipun. Tak heran kalau Syuhada selalu jadi juara kelas. Pokoknya, Bunda hebat, kecuali … kakinya yang cacat.

Teman-teman Syuhada ingin sekali berkenalan dengan ibu yang dibanggakannya itu. Namun Syuhada selalu mencari beragam alasan agar mereka tidak bisa menemui Bunda.

“Hada, jam berapa Bunda harus mengambil rapormu besok?” tanya Bunda.

“Eh, eh, Bunda bilang apa?” Syuhada yang sedang melamun jadi tak menyimak pertanyaan Bunda.

“Nah, ketahuan nih, Hada melamun bukan membaca”, Bunda pun mengulang pertanyaannya kembali.

“Memangnya Bunda jadi mengambilnya? Bukan Ayah?” Syuhada balik bertanya.

Bunda menggeleng. “Ayah sangat sibuk di luar kota dan tidak bisa pulang untuk mengambil rapor Hada. Memangnya kenapa?”

“Eh …, nggak apa-apa kok. Jam sembilan kata Bu Guru”, jawab Syuhada seraya bangkit dari kursinya. Ia tidak mau Bunda bertanya lebih jauh.

***

Esoknya, Bunda menyiapkan sarapan dan bekal yang banyak untuk dibawa ke sekolah. Semalam, Anan dan Rasyid, teman-teman Syuhada menelpon Syuhada dan memintanya membawa bekal yang enak dan banyak. Mereka ingin orang tua mereka mencicipi bekal Syuhada yang enak-enak dan bervariasi.

“Kok, Hada belum siap? Nanti terlambat lho”.

“Bunda, Hada di rumah saja, ya. Nggak usah ikut ambil rapor di sekolah”.

“Lho kenapa?”

“Nggak ada apa-apa, kok, Bunda”.

“Kalau nggak ada apa-apa, kenapa Hada nggak mau ikut? Malu ya, takut rapornya ada merahnya?” tanya Bunda.

Syuhada menatap Bunda. Ia tidak tega menyakiti Bunda yang disayanginya itu bila ia terus terang. Akhirnya, Syuhada yang masih diam mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.

Bunda menatap punggung Syuhada dengan sedih. Ia tahu anaknya malu untuk mengenalkannya pada teman-temannya di sekolah.

***

Di dalam kendaraan menuju sekolah, wajah Syuhada tegang sekali. Pikiran-pikiran buruk melintas di kepalanya. Pasti teman-teman mengejeknya setelah melihat Bunda yang selalu dibanggakannya itu ternyata cacat.

Ketika sampai di gerbang sekolah SDIT Nurul Ihsan, Syuhada hampir saja tak mau turun. Namun, Bunda membujuknya. Di taman sekolah sudah banyak murid dan orang tuanya yang sedang menunggu acara pembagian rapor.

Syuhada dan Bunda, yang berjalan tertatih-tatih dengan kruknya, menuju taman itu. Syuhada hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatap teman-teman dan orang tuan mereka. Pasti mereka tengah memperhatikan ia dan Bunda.

“Assalamu’alaikum… Hada, ini bunda yang sering kamu ceritakan itu?” Rasyid menyapanya. Syuhada mengangguk.

“Tante, kenalkan ini ibunya Rasyid”.

Syuhada melirik Bunda dan ibunya Rasyid yang tengah berjabat tangan dan saling tersenyum.

Tak lama Anan, diikuti teman-temannya yang lain mengenalkan ibu mereka pada Bunda. Ternyata kehadiran Bunda disambut hangat. Tak ada yang mempermasalahkan kaki Bunda.

“Hada kamu bawa pesanan kita, nggak?” tanya Anan tiba-tiba.

Syuhada tersenyum dan mengambil kotak makanan besar yang disiapkan ibunya. Anan membuka dan membagi-bagikan isinya pada teman-teman yang lain. Suasana menjadi ribut karena mereka berteriak-teriak takut tidak kebagian.

“Resepnya apa sih, Bu? Kok, anak-anak kami jadi ogah makan bekalnya sendiri”.

“Iya Bu, bekal Jihad, anak saya sering masih utuh. Katanya sudah makan kue buatan Bunda Syuhada”.

Syuhada mendengar ucapan-ucapan para ibu tersebut. Hatinya mulai terbuka, meski Bunda cacat tapi banyak kelebihan yang dimiliki Bunda. Orang-orang pun tetap menghargainya. Syuhada merasa malu, karena telah berprasangka buruk bahwa orang akan mengejek Bunda. Juga merasa bersalah pada Bunda karena sempat merasa malu pada dirinya yang cacat.

Syuhada menarik Bunda sambil mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman kecil mendarat di pipi Bunda yang kaget. “Syuhada bangga pada Bunda”, bisiknya. Hatinya lega dan bahagia.

 

Karya : Erni Setyowati; Dikutip dari : Ummi No. 7/XVII November 2005 / 1426 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: