MENCARI TELADAN, CARILAH YANG PASTI


  “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al Ahzab : 21]

Surat ini dinamai surah Al Ahzab karena di dalamnya ada cerita tentang Perang Ahzab. Yakni perang antara pasukan muslimin dengan pasukan ahzab (sekutu), semacam tentara multinasional yang terdiri atas tentara Yahudi Bani Nadhir, Yahudi Bani Quraidhah, Kabilah Ghathafan, dan musyirikin Quraisy. Peperangan ini terjadi pada tahun kelima Hijriah.

Ayat yang sudah cukup populer di atas menjelaskan tentang keteladanan Nabi Muhammad saw. Suatu pengakuan yang sangat gamblang dari Allah SWT., sehingga keteladanan yang ada pada diri beliau sungguh tidak meragukan.

Dalam konteks keteladan Rasulullah ini, Allah mengangkat kasus Perang Ahzab karena kondisinya sangat ekstrim. Bayangkan, seperti yang pernah diceritakan Ummu Salamah Radhiallahu’anha, istri Nabi, bahwa, “dari sekian banyak perang besar yang pernah saya ikuti bersama Rasulullah, seperti Perang Khaibar, Perang di Hudaibiyah, Fathu Makkah, dan Perang Hunain, Perang Ahzab inilah yang paling menakutkan, karena kaum Muslimin betul-betul terkepung”.

Keteladan yang ditunjukkan Nabi dalam perang ini dapat menjadi catatan penting bagi kita. Yakni dalam kondisi ekstrim seperti itu saja dapat menunjukkan keteladanan, apalagi dalam keadaan normal.

Tenang dan Berjiwa Besar

Saat itu, banyak orang Islam yang surut nyalinya mendengar tentara multinasional dengan persenjataan lengkap akan menyerang Madinah. Terbayang sudah, ummat Islam di Madinah tidak akan bisa berbuat apa-apa. Akibatnya, ada warga yang berniat hengkang ke gunung memasuki kehidupan ala Badui dan tidak mengambil bagian dalam peperangan.

Tapi Nabi tetap tenang, tak tampak gentar atau panik. Padahal sebenarnya Rasulullah secara manusiawi juga merasa ketar-ketir. Apalagi waktu itu di Madinah tengah kekurangan bahan makanan. Jumlah tentara kaum Muslimin cuma 700 orang, sedang tentara gabungan berkekuatan 10.000 personil lebih. Musim dingin juga sangat mencekam. Kalau sampai mereka menyerang, hancurlah Islam di kandangnya. Alangkah hina.

Nabi kemudian berdo’a dan berpikir keras. Tidak mungkin melakukan penyerangan, cukup dengan bertahan. Tapi bertahan bagaimana?

Nabi kemudian mendapat masukan dari sahabatnya, Salman Al Farisi yang berasal dari Persia.

Salman memperkenalkan salah satu taktik perang tentara Persia, yakni membuat pertahanan berupa parit. Taktik ini diterapkan dengan menggali parit di bagian timur Madinah pada jurusan yang landai dan mudah dilewati musuh. Parit itu harus cukup lebar agar tidak bisa dilompati kuda. Enam hari lamanya parit itu digali siang dan malam hingga berhasil diselesaikan. Rumah-rumah penduduk yang terlalu dekat parit dikosongkan. Sedangkan rumah-rumah untuk berkumpul kaum perempuan dan anak-anak diperkuat dindingnya.

Ketenangan, jiwa besar, serta kerja keras Nabi itu membuat orang yang tadinya ragu menjadi berkurang rasa takutnya dan kembali muncul semangatnya.

Ternyata parit itu sangat besar gunanya. Musuh sangat terkejut melihat adanya parit sebagai pertahanan yang belum pernah ada dalam taktik perang di Arab. Parit itu sangat menyulitkan karena kuda tidak mampu melompati, sehingga pasukan musuh tidak dapat menyerbu masuk kota Madinah. Mereka hanya mampu menduduki wilayah perbatasan kota.

Setelah berhari-hari dilanda angin dingin yang menusuk tulang dan menghempaskan kemah-kemah mereka, akhirnya musuh pulang kandang tanpa berhasil menaklukkan Madinah.

Lebur Bersama Ummah

Dalam penggalian parit itu, Nabi sendiri turut menggali dan memikul tanah, serta membelah batu dengan linggis. Padahal para pengikutnya menghendaki agar Nabi tidak turun bekerja. Rasulullah cukup berdo’a dan berpikir untuk keselamatan kaumnya.

Namun Nabi justru memimpin sendiri penggalian parit itu. Beliau bekerja dengan penuh kesungguhan sampai keringatnya bercucuran dan membasahi rambutnya yang lebat. Tanah berjatuhan di atas perut dan lengket pada bulu dadanya. Saat itu, Nabi memerintah Abdullah bin Rawahah agar melantunkan syair-syairnya guna memberi semangat kepada orang-orang yang tengah bekerja dengan penuh semangat hingga tuntas.

Sahabat yang lain, Huzaifah diperintahkan menyelidiki kondisi musuh. Keadaan gelap gulita. Hawa dingin menembus hingga ke tulang sumsum. Ketika Huzaifah kembali dari tugas itu, ia melihat Nabi sedang melaksanakan shalat malam dengan menggunakan selimut tebal milik salah seorang istrinya. Nabi rupanya tahu sahabatnya telah datang. Huzaifah langsung ditarik masuk ke dalam selimut agar mendapat kehangatan. Huzaifah segera melaporkan kondisi musuh yang dilihatnya. Nabi lantas berkata, “Tentara gabungan yang menyerang itu akan gagal”.

Sense of Humor

Karena sangat letih bekerja dan berjaga malam, Zaid bin Tsabit tertidur dalam parit. Senjatanya terlepas dari tangan. Datanglah Ammarah bin Hazem mengambil senjata itu.

Begitu bangun, Zaid kaget bukan main. Mukanya pucat dan ketakutan mencari senjatanya. Sambil tersenyum Nabi berkata, “Kamu tukang tidur sih, jadi senjatamu terbang”.

Lalu Nabi meminta agar siapapun yang menyembunyikan senjata itu segera mengembalikan. Ammarah mengembalikan dengan tergopoh-gopoh. Lalu Nabi menegurnya juga sambil tersenyum, “Kenapa kamu sembunyikan senjata orang? Bikin kaget saja”.

Sense of humor seorang pemimpin memang sangat diperlukan, karena merupakan vitamin kehidupan. Nabi Muhammad adalah contoh yang paling tepat. Dalam keadaan gawat dan mencekam pun beliau sempat melepaskan humor-humor segar. Dengan begitu, sahabat-sahabatnya tidak dilanda kejenuhan dan ketegangan selama berada di sekitar nabi.

Mutiara Hikmah

Betapa hebat kepemimpinan Rasulullah. Bersikap tenang dalam keadaan gawat dan nyawa sedang terancam adalah pekerjaan yang tidak enteng. Tapi Muhammad mampu melakukannya. Sebuah suri teladan yang patut dijadikan panutan.

Kisah-kisah di atas sangat perlu diketahui para pemimpin di masa kini. Menjadi pemimpin dalam ukuran apapun memerlukan ketenangan ketika menghadapi suatu masalah. Dengan ketenangan yang disertai kecerdasarn emosional, pekerjaan Insya Allah akan bisa diselesaikan dengan baik. Sebaliknya, jika seorang pemimpin cepat gusar dan panik, orang yang dipimpin akan lebih panik. Akibatnya kacau balau dan sulit dikendalikan.

Ketika Nabi turun langsung dalam bekerja, ini pertanda menyatunya pemimpin dan ummat. Itulah sebabnya Nabi sangat memahami denyut jantung dan desah nafas masyarakatnya. Hasilnya, pengikutnya diperintah mati pun siap.

Sebuah pelajaran berharga bagi kita yang telah membudayakan strata sosial, menciptakan sekat-sekat yang bergembok di antara pemimpin dan yang dipimpin. Terjadilah kepemimpinan yang berada di awang-awang. Sang pemimpin hanya menerima laporan fiktif dari para penjilat yang sebenarnya menggali kubur untuk tuannya yang tidak mengenal kondisi lapangan.

Mari kita menjadikan Nabi Muhammad sebagai uswah (teladan) dalam segala sisi kehidupan. Kalau kita justru menjadikan tokoh lain menjadi idola dan menempatkannya sebagai teladan, tidak ada jaminan akan membuat kita menjadi manusia sukses.

Wallahu’alam bi-shawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: