HUKUM SEPUTAR MANDI JANABAH


Para pembaca yang budiman, sudah kita ketahui bahwa thaharah (besuci) merupakan bagian dari ajaran Islam bahkan separuh dari keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Kebersihan itu sebagian dari keimanan…” (HR. Muslim, Bab fadhul Wudlu, Ahmad dan sebagainya.

Adalah Rasulullah saw. ketika diutus menjadi Rasul dan diperintahkan untuk berdakwah, maka di antara perintah yang terdapat dalam wahyu tersebut adalah perintah untuk bersuci. Dalilnya adalah hadits Nabi saw., dari Ibnu Syihab, dia telah berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdur-Rahman, bahwasanya Jabir bin Abdullah dia menceritakan tentang terhentinya wahyu dan berkata dalam haditsnya, “Tatkala aku (Nabi saw.) berjalan ketika itu aku mendengar suara dari atas langit, kemudian aku angkat pandanganku ke atas ternyata ada malaikat yang pernah mendatangiku di Goa Hira dan aku merasa ketakutan darinya, kemudian aku pulang terus berkata, “Selimutilah aku!, Selimutilah Aku! Kemudian Allah swt. Menurunkan firman-Nya artinya, “Wahai orang yang berselimuti! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa (menyembah berhala), maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Mudatsir : 1-5) (HR. al-Bukhari, Kitab Badil Wahyi).

Maka pada edisi ini, kita akan sedikit membahas tentang salah satu macam thaharah yaitu mandi janabah. Mengingat pentingnya pembahasan ini dan masih banyak kaum muslimin yang belum memahami masalah ini, padahal Allah swt. tidak akan menerima shalat seseorang jika dia berhadast sampai dia bersuci, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Allah swt. tidak akan menerima shadaqah dari hasil Ghulul (korupsi dari harta rampasan perang) tidak pula menerima shalat tanpa bersuci”. (HR. Abu Daud, Bab Fardhu al-Wudlu, Syaikh al-Albani berkata, “Shahih”).

Dalil-Dalil Disyari’atkan Mandi Wajib

  1. Firman Allah swt. yang artinya, “… Dan apabila kalian dalam keadaan junnub, maka (bersucilah) mandilah, …” (QS. al-Maidah : 6)
  2. Hadits Nabi saw. dari Abi Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika seseorang di antara Syu’ab al-Arba’ (dua kaki dan dua paha perempuan/jima’), maka dia wajib mandi”. (HR. al-Bukhari, Bab Adza Iltaqa al-Khitanaan, dan selainnya).

Sebab-Sebab yang Mewajibkan Mandi Janabah

  1. Janabah

    Allah swt. berfirman, artinya “Dan apabila kamu junub, maka mandilah…” (QS. al-Maidah : 6).

    Yang dimaksud dengan junub, yaitu :

    1. Mengeluarkan mani baik dengan jima’ atau yang lainnya seperti mimpi basah, onani, atau sebab-sebab lain yang menyebabkan air mani keluar.-Red
    2. Dengan bertemunya kedua kelamin – yakni melakukan hubungan badan walaupun tidak mengeluarkan mani.-Red
  2. Keluarnya Darah Haidh dan Nifas

    Allah swt. berfirman, artinya “Dan janganlah dekati mereka (istri-istri yang sedang haidh) (berjima’) sampai mereka suci (terhenti darahnya), maka apabila mereka sudah bersuci (mandi), maka datangilah mereka dari tempat yang sesuai Allah perintahkan…” (QS. al-Baqarah : 222), (lihat Manhajus-Salikin, hal. 47-48)

    Apabila darahnya sudah terhenti (suci), maka wajib mandi.

  3. Kematian Selain Mati Syahid

    Adapun dalil kematian, telah berkata Imam al-Bukhari, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah dia berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Ayub As-Sikhtiyani dari Muhammad bin Sirin dari Umu ‘Athiyyah al-Anshariyah dia berkata, “Nabi saw. masuk ke ruangan kami tatkala putrinya meninggal dunia kemudian bersabda (ketika dimandikan), ‘Basuhlah sebanyak tiga kali atau lima kali atau lebih dari itu jika kalian memandang hal itu perlu dengan air dan daun bidara dan berikan di akhirnya kafur (sejenis wewangian) atau sedikit dari kafur, maka apabila telah selesai beritahu aku’. Kemudian tatkala kami telah selesai, kami memberitahukan kepadanya. Kemudian beliau saw. memberikan kepada kain kain seraya bersabda, “Kenakanlah kepadanya”. (yakni kain tersebut) (HR. al-Bukhari, Bab Ghuslul Mayit wa wudhu’uhu)

  4. Islamnya Orang Kafir

    Berkata Syaikh As-Sa’di “Dan beliau (Nabi saw.) telah memerintahkan orang yang baru masuk Islam untuk mandi, kemudian Syaikh Muhammad al-Khudhairy mengomentari dalam tahqiq-nya, “(Hal ini) sebagaimana dalam hadits Qais bin ‘Ashim, yang diriwayatkan Abu Daud (355), dan at-Tirmidzi (605) dan dia menghasankannya, dan Nasa’I (1/109) (lihat manhajus-Salikin, hal 38 dengan tahqiq Muhammad bin Abdul Aziz al-Khudhairy, penerbit Darul Wathan, cet. 1 tahun 1421 H / 2000 M)

Tata Cara Mandi

  1. Niat, yakni tempatnya di hati dan tidak disyari’atkan melafazkan niat, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya”. (HR. al-Bukhari, kitab Bad’il Wahyi) dan ini merupakan syarat sahnya ibadah.
  2. Tasmiah, yakni mengucapkan bismillah, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Tidak sah shalat bagi yang tidak berwudhu dan tidak sah wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah”. (al-Wajiz fii fiqhil kitabi was-sunnah, hadits tersebut dihasankan).
  3. Mencuci Kemaluan terlebih dahulu – baik depan maupun belakang – Red.
  4. Kemudian berwudlu secara sempurna.
  5. Kemudian mengguyurkan air ke kepalanya tiga kali dan meratakannya atau membilasnya dengan air tersebut.
  6. Kemudian mengalirkan air ke seluruh tubuh.
  7. Kemudian mencuci kaki di tempat yang lain.

Dan yang fardu dari hal-hal tersebut adalah mencuci seluruh badan dan apa-apa yang ada di bawah rambut baik yang tipis maupun yang tebal, wallahu a’lam. (Manhajus-Salikin, hal. 48-49).

Hadits Sifat Mandi Nabi saw.

Dari Aisyah ra. dia berkata, “Adalah Rasulullah saw. apabila mandi janabah, beliau saw. mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu untuk shalat, kemudian menyela-nyela rambutnya dengan tangannya sampai beliau saw. beranggapan, bahwa air telah sampai ke kulit kepalanya. Kemudian mengguyurkan dan mengalirkan air ke kepalanya tiga kali, kemudian beliau saw. mencuci seluruh jasadnya. Dan dia berkata (Aisyah ra.), “Aku dan Rasulullah saw. pernah mandi (bersama) ketika (kami) junub dalam satu wadah. Kami menciduk air darinya”. (lihat Taisirul Allam jilid 1 kitabut-Thaharah, bab al-Ghuslu Minal janabah).

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Bab Takhlilus-Sya’r, bab wudhu qablal ghusl dan di bab-bab yang lainnya, dari jalur Abdan dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdullah dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah ra. Juga hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam Bab Shifatu Ghuslil Janabah dari jalur Yahya bin Yahya At-Taimy di berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya (Urwah) dari Aisyah ra. Juga Abu Daud dalam Bab Fil Ghusli Minal Janabah dari jalur Sulaiman bin Harbi al-Wasyihi dan Musadad keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Hammad dari Hisyam bin Urwah, dan hadits ini juga dikeluarkan oleh imam-imam yang lain, wallahu a’lam. (Galih Abu Jabal As-sundawy)

 

Sumber :

Buletin Dakwah An-Nur Th. XIV No. 704 / Jumadal Ula 1430 H / 8 Mei 2009 M.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: