HATI-HATI DENGAN PUJIAN


Orang yang diajak musyawarah (dimintai pendapat) adalah yang bisa memegang amanat (dapat menyimpan rahasia)”  (HR. Athabrani)

 

Maha Sayang Allah yang telah menganugerahkan hidayah pada hati-hati yang tunduk.  Ruang hati pun terpenuhi cahaya iman. Kilauannya bisa meleburkan kesombongan, kekikiran, dan kebencian. Dari hati inilah, rahasia hamba-hamba Allah terjaga dan terawat.

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Banyak Bicara

Tak ada yang salah dari orang yang banyak bicara.  Selama yang dibicarakan berisi nasihat, dakwah, pengajaran; bicara justru jadi ibadah.  Tapi ketika bicara tak lagi punya isi : canda, obrolan, dan lain-lain; bicara bisa menimbulkan fitnah.  Dan salah satu fitnah itu, terungkapnya rahasia.  Bisa rahasia pribadi, keluarga, bahkan organisasi.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat agar seorang mukmin senantiasa bicara yang baik-baik.  Atau jika tidak, diam.  Inilah sebuah pelajaran bahwa lidah bisa memunculkan kesalahan fatal.  Ketika orang tidak lagi mampu mengendalikan syahwat bicaranya, berbagai kesalahan termasuk terungkapnya rahasia bisa muncul begitu saja.  Ringan dan tanpa beban.

Ketika orang tidak lagi sungkan bicara yang remeh temeh, gosip; maka aib bisa terbaca pendengaran dengan mudah.  Bisa aib diri sendiri, isteri, orang tua, tetangga, dan lain-lain.

Biasanya, orang yang terlalu banyak bicara rentan keceplosan.  Begitu rentan membeberkan sebuah rahasia dan aib yang tabu untuk diungkapkan.  Dengan kata lain, banyak bicara nyaris bisa sama dengan kurang amanah.  Rasulullah SAW pernah memberi nasihat, “Barang siapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barang siapa banyak salah maka banyak pula dosanya.  Siapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya”.
(HR Athabrani).

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Haus Pujian

Pujian dalam takaran tertentu memang punya pengaruh baik.  Dalam manajemen, ada istilah punish and reward : hukuman dan penghargaan.  Sebuah kesalahan akan cepat terkikis jika ada hukumannya.  Dan sebaliknya, sebuah prestasi akan terus meningkat jika ada penghargaan.  Dan penghargaan inilah sebagai bentuk lain dari pujian.

Masalah akan muncul jika pujian bukan lagi sebagai sarana.  Tetapi, tujuan.  Pujian jenis ini bisa dibilang sebagai penyakit.  Apa pun bisa dikorbankan asal bisa dapat pujian.  Biasanya, orang yang rawan terhinggap penyakit ini mereka yang tergolong orang ‘besar’, jenius, kaya, pejabat, dan sebagainya.  Rasulullah mengatakan, “Berhati-hatilah dengan pujian.  Sesungguhnya itu adalah penyembelihan”.  (HR. Al Bukhari)

Orang yang Cinta Pujian Selalu Ingin Terlihat Tampil Lebih

Termasuk saat menyampaikan gagasan, usulan, dan sejenisnya.  Karena terdorong ingin terlihat lebih, tidak heran jika sesuatu yang sebenarnya tergolong rahasia bisa keluar begitu saja.  Tanpa beban.  Di satu sisi, orang memang akan menilainya lebih.  Dan pujian pun mengalir.  Tapi, ada kelemahan yang mudah terbaca : “Berikan saja pujian, dia akan memberikan apa pun yang Anda minta”.

Salah satu yang membuat takluk Abu Sufyan saat pengepungan Mekah adalah isi pengumuman Rasul.  “Siapa yang masuk Masjidil Haram, ia aman.  Dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia juga aman”. Dan itu salah satu bentuk pujian.  Sedemikian dasyatnya pengaruh pujian, Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung”. (HR Muslim)

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Dangkal Pemahaman

Semakin paham seseorang, kian sangat berhati-hati dalam melangkah.  Sebaliknya, kian dangkal pemahaman seseorang, semakin sembrono mengambil pilihan.  Inilah standar penilaian yang bisa diambil. Karena itu, jangan pernah titipkan rahasia ke orang yang dangkal pemahaman. Karena rahasia akan sangat gampang bocor dan menyebar.  Bahkan mungkin, karena dangkalnya pemahaman, si pembocor sendiri tidak menyadari ketika ia sedang melakukan pembocoran.

Sebuah ucapan Rasulullah SAW tentang orang bodoh yang mengumbar aib sendiri mungkin patut disimak.  Beliau SAW mengatakan, “Semua umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan.  Yaitu yang melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya dia membeberkan sendiri dengan berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini … begini …’.  Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah Azza wajalla”. (HR Mutafaq ‘alaih)

Kelengahan Terjadi Ketika Lingkungan Kurang Menghargai Nilai Kebaikan

Ini mungkin agak lain.  Karena terungkapnya sebuah aib atau rahasia bukan sekedar dari dalam diri.  Tapi, dari lingkungan.  Orang yang amanah dalam rahasia kadang bisa larut dengan lingkungan yang menganggap sudah tidak punya rahasia.  Mereka begitu mudah membuka rahasia orang lain.

Bahkan dalam dunia politik, membongkah rahasia orang lain bisa dianggap prestasi.  Karena di situlah lawan bisa terjungkal. Padahal, orang lain pun sedang menunggu kesempatan.  Suatu saat, rahasia bisa dibuka secara bersama-sama.  Kalau saya jatuh, dia pun harus terjungkal.  Rasulullah SAW menasihati untuk tidak seperti itu.  Beliau SAW bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah.  Jika seorang membongkar keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu membongkar keburukan yang kamu ketahui pada dirinya“. (HR Ahmad dan Attirmidzi).

Memuji orang lain terkadang mudah dilakukan dengan tanpa melihat dan menelaah terlebih dahulu apa yang diucapkannya.  Sudahkah kita meyakinkan diri kita untuk menerima kebenaran pujian itu.

Wallahu a’lam bish shawab ***

Sumber :

Buletin Jum’at AL – BINA, 01 Rajab 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: