EVALUASI HASIL BELAJAR SISWA ARRAU SCHOOL

Setelah sekitar sebulan para siswa Archery Berau (Arrau) School mendapat materi tentang panahan, baik teori maupun praktek, hari ini (21 Mei 2017) diadakan evaluasi hasil belajar mereka.  Semoga mereka menjadi atlet yang berprestasi dan mengharumkan negeri.

Iklan

MANFAAT OLAH RAGA PANAHAN

oleh : Nanang Ardhiansyah


Saya bukanlah atlet panahan.  Saya adalah seorang pemula yang baru sekali dalam olah raga ini.  Jadi, manfaat olah raga panahan yang akan saya paparkan berikut adalah berdasarkan apa yang selama ini saya rasakan dan bandingkan dengan kondisi sebelum saya mengenal panahan.

  • Menjalin Silaturahmi

Olah raga panahan tidaklah mengasyikkan kalau dilakukan seorang diri, bukan untuk pamer.  Memanah tidaklah sekedar menarik busur dan melepaskan anak panah, setelah itu berpasrah anak panah jatuh dimana.  Kalau kita ingin anak pana kita selalu jatuh menancap di tempat yang kita inginkan, maka diperlukan teknik yang benar.  Teknik yang tidak benar akan membuat tembakan tidak konsisten.  Untuk mengetahui teknik kita benar atau tidak, maka diperlukan seseorang untuk mengamati dan memberikan saran atau masukan atas apa yang telah kita lakukan.  Semakin banyak orang yang mengamati dan memberikan saran akan lebih baik (tetapi ingat yang harus kita perhatikan tentu saran dari orang-orang yang memang mengerti teknik panahan yang betul).

Para penggiat olah raga panahan biasanya akan tergabung dalam sebuah komunitas.  Kita dapat bergabung dengan mereka, selain untuk menambah ilmu tentang panahan, tentunya untuk menjalin silaturahmi dan menambah teman.

  • Melatih Fokus dan Disiplin

Anak panah kita pasang di tali busur, kemudian kita tarik dan lepaskan dengan satu harapan besar bahwa anak panah tersebut akan jatuh menancap tepat pada sasaran yang telah dibidik.  Hal yang sangat sederhana sebesarnya, tetapi tidaklah sesederhana dalam pelaksanaan.  Perhatian kita harus fokus pada sasaran sebelum melepaskan anak panah.  Semakin fokus perhatian kita, maka semakin besar kemungkinan anak panah jatuh menancap tepat pada sasaran.

Hal lain yang harus diperhatikan keamanan dan keselamatan diri kita dan orang-orang sekitar kita.  Ujung anak panah tidaklah tumpul, salah-salah jika kita ceroboh, bisa saja itu tidak menancap di target, tetapi menancap di badan teman.  Disiplin adalah kunci dari keamanan dan keselamatan diri dan orang sekitar kita.  Saat akan melepaskan anak panah, harus kita pastikan bahwa di depan kita tidak ada orang, sehingga tidak membahayakan.

  • Meringankan Beberapa Keluhan Kesehatan

Sebelum mengenal olah raga panahan, saya pernah mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, sehingga sering merasakan nyeri pada sekitar punggung dan tulang belikat.  Saat rasa nyeri itu kambuh, rasa nyeri tersebut akan kurasakan hingga lebih dari seminggu.  Alhamdulillah sejak melakukan aktifitas olah raga panahan (sekitar 5 bulan), rasa nyeri di punggung dan belikat belum pernah aku rasakan.  Mudahan tidak akan kambuh lagi.

  • Penghilang Stres

Saat kita melepaskan anak panah dari busur, rasanya terlepas juga beban yang tertahan.  Di saat kita mempunyai beban pikiran, memanah akan dapat mengurangi beban yang ada di dalam pikiran kita.  Tetapi, jangan pernah berharap anak panah yang kita lepaskan akan jatuh tepat mengenai target.  Ingat memanah harus fokus.  Setidaknya dengan memanah stres kita akan berkurang, atau malah hilang.  Alhamdulillah.

Itu beberapa manfaat yang saya rasakan sejak melakukan aktifitas olah raga panahan.  Uraian tersebut bukanlah sebuah uraian ilmiah berdasarkan teori-teori atau kajian, tetapi hanya suatu pembandingan antara kondisi sebelum dan sesudah mengenal panahan.
Semoga bermanfaat.

Ditulis dalam PANAHAN. Tag: . Komentar Dinonaktifkan pada MANFAAT OLAH RAGA PANAHAN

HOBBY BARU KELUARGA KAMI

oleh : Nanang Ardhiansyah


Selama ini boleh dibilang kami berkumpul bersama istri dan anak-anak belum dalam artian yang sesungguhnya.  Setiap pulang bekerja kami semua memang berada di rumah, tetapi istilah “berkumpul” tetapi bukanlah berkumpul.  Kedua anak kami sesampai di rumah sibuk dengan urusannya.  Si Kakak biasanya akan sibuk dengan hp dan Si Adik akan main di luar bersama teman-temannya, sedangkan kami terkadang masih juga membawa pekerjaan kantor ke rumah.  Kami memerlukan sesuatu yang dapat mengumpulkan kami dalam satu kegiatan yang kemudian dapat saling memberikan perhatian.

Pada sekitar bulan Juli 2016, kami membeli sebuah busur untuk Si Adik.  Busur yang sederhana dan murah saja, harganya tak sampai Rp. 500.000,00.  Tujuan kami awalnya adalah untuk memperkenalkan olah raga panahan kepada Si Bungsu, sekaligus melatih dia agar dapat lebih fokus.  Katanya, olah raga panahan dapat melatih anak untuk lebih fokus dan berkonsentrasi.

Rupanya, Si Kakak tertarik juga dengan olah raga panahan.  Dia pun ikut juga berlatih memanah bersama Si Adik.  Terus terang mereka berlatih tanpa ada guru atau pelatih yang dapat membimbing dan mengarahkan dengan benar.  Saya bukanlah atlet olah raga apa pun, apalagi olah raga panahan.  Saya mengajari mereka hanya berdasarkan apa yang pelajari di internet (yo*t*be.com).  Beberapa bulan kemudian, kami putuskan untuk membelikan busur standar untuk Si Kakak dengan harapan dia akan lebih serius dengan olah raga ini.

Sebulan kemudian, busur Si Adik yang masih sederhana kami ganti dengan yang lebih baik dengan harapan yang sama dengan Si Kakak, dia juga akan lebih serius pada olah raga ini.

Bulan Oktober 2016, kami bergabung dengan sebuah klub panahan yang bernama “Sanggam Archery Club” yang kebetulan dipimpin oleh seorang pelatih dan sekaligus atlet panahan.  Di dalam klub ini, kedua anak kami mendapat bimbingan dan arahan yang lebih baik, serta tentunya mendapat tempat yang lebih baik pula untuk berlatih.

Bulan November 2016, klub kami mengadakan kompetisi panahan untuk antar anggota klub sekaligus meresmikan dibukanya sekolah panahan, “Sanggam Archery School” di tempat kami.  Kami (saya dan kedua anak saya) memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut.  Yaa, biar lebih kenal dengan anggota klub yang lain.

Dalam lomba tersebut, Si Kakak memperoleh hasil yang lebih baik daripada Si Adik, sedangkan saya mendapat hasil yang paling buruk dari mereka.  Maklum saya berlomba menggunakan busur Si Adik untuk menembak pada jarak 30 meter, sementara busur tersebut untuk menembak di jarak 20 meter aja ndak sampai.

Ndak lama setelah kompetisi tersebut, kegiatan mingguan saya adalah mengantar anak ke sekolah panahan tersebut.  Kemudian daripada cuma mengantar, kenapa saya ndak juga ikut bergabung bersama mereka.  Saya memutuskan untuk membeli juga sebuah busur tradisional (horse bow) produksi lokal yang harganya ndak sampai Rp. 1.000.000,00.  Saya pun mulai mempelajari panahan dengan gaya traditional bow yang menarik string menggunakan ibu jari (thumb style).

Hasil latihan yang kulakukan cukuplah.  Sebenarnya saya kurang sesuai untuk tangan kanan, karena mata dominan (dominant eye) saya adalah kiri.  Menurut apa yang saya pelajari di internet, saya seharusnya menggunakan tangan kiri.  Masalahnya, busur untuk tangan kiri jarang ada sedang untuk menggunakan horse bow masih belum terbiasa.  Jadi, untuk sementara saya tetap menggunakan tangan kanan untuk traditional bow.

Akhirnya pada tanggal 5 Januari 2017, saya mempunyai standard bow sendiri.  Sebuah busur yang khusus untuk pengguna tangan kiri.  Mulai saat itulah saya berlatih menggunakan standard bow untuk berlatih, awalnya memang rada canggung.  Beberapa kali tangan terkena jepretan string hingga biru-biru, tetapi hasil bidikan memang jauh lebih baik.  Setelah sekitar 2 bulan, saya mulai terbiasa dengan busur tersebut dan mulai jarang terkena jepretan string.

Sejak  memiliki standar bow untuk tangan kiri, saya mulai jarang menggunakan horse bow, bahkan anak panah bambu yang biasa dipakai berpasangan dengan horse bow pun mulai berjamur.  Busur dan anak panah bambu tersebut pernah juga, kami pinjamkan kepada teman yang berminat dengan olah raga ini.  Tetapi tidak terlalu lama dipergunakan, katanya tarikannya masih terlalu berat.  Padahal menurutku, berat tarikannya (draw weight) tak sampai 30 lbs.

Horse bow dan anak panah bambu kembali jarang dipergunakan, hingga kemudian saya mengajak istri untuk ikut juga dalam kegiatan olah raga ini.  Kuperkenalkan kepadanya bagaimana cara memegang busur, menarik string, memegang anak panah, hingga akhirnya melepaskan anak panah.  Seperti halnya diriku, apa yang kualami dan rasakan dialami dan dirasakan pula oleh istriku.  Beberapa kali dia terkenak jepretan string hingga lengannya membiru.  Alhamdulillah akhirnya istriku juga menyukai olah raga panahan.

Akhirnya, kami semua menyukai olah raga yang sama, yaitu panahan.  Setiap hari ahad apabila cuaca bagus, kami berempat pergi ke lapangan panahan untuk bersama-sama berolah raga.  Si Adik memanah dengan busurnya yang berat tarikannya baru ± 18 lbs, Si Kakak memanah dengan standar bow 22 lbs, istri memanah dengan horse bow, dan saya memanah dengan left handed standar bow.  Alhamdulillah akhirnya kami berempat dapat berkumpul dengan hobby yang sama.  Kami saling memperhatikan sehingga komunikasi di antara sesama kami pun menjadi lebih intens daripada sebelumnya.

RESUME KULIAH UMUM Dr. Ir. LA ODE M HARJONI KILOWASID, M.Si. DI STIPER BERAU

dirangkum oleh : Nanang Ardhiansyah


Peningkatan kualitas sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi sebenarnya tidak hanya untuk para mahasiswa, tetapi juga untuk seluruh staf pengajar. Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Berau dalam upaya meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa pada tanggal 10 Oktober 2016 mengadakan kuliah umum. Tujuan kegiatan kuliah umum menurut Drs. H. Ardiansyah L, MM selaku ketua STIPER adalah menambah wawasan dan sekaligus peningkatan pengetahuan pertanian langsung dari ahli.

Kuliah umum yang diselenggarakan di Kampus STIPER Berau disampaikan oleh Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. seorang pakar fauna tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari. Materi kuliah umum yang beliau sampaikan adalah “Pemanfaatan Diversitas Fauna Tanah untuk Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan”.

Tugas seorang dosen sebenarnya hanya ada tiga, yaitu : mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat. Pelaksanaan ketiga tugas tersebut harus menggunakan ilmu pengetahuan yang didasari oleh suatu keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan flora dan fauna untuk keberlanjutan hidup manusia. Ilmu pengetahuan akan berkembang jika kita selalu belajar.

Tantangan ilmu pertanian untuk keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang akan semakin berat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Diperkirakan hingga tahun 2050, jumlah orang miskin dan kelaparan akan semakin meningkat. Hal ini adalah tantangan ilmu pertanian untuk mengembangkan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan. Pengembangan teknologi tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :
1. sesuai sumber daya petani lokal dan karakteristik ekologi setempat;
2. efisien dalam menggunakan masukan tak-terbarukan;
3. sistem pengelolaan pertanian yang tepat dan terpadu dengan biaya rendah;
4. resiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia rendah.

Pangan menurut Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. adalah sumber energi manusia untuk melaksanakan metabolisme dasar. Tanpa pangan yang memadai, maka manusia tak akan dapat beraktifitas dengan optimal sehingga produktifitas juga akan mengalami penurunan. Ketahanan pangan merupakan hal kunci dalam ketahanan negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebesar 255.461.700 jiwa dan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 271.066.400 jiwa. Pemerintah juga menetapkan Angka Kecukupan Energi pada tahun 2019 adalah 2.150 kkal sementara Angka Kecukupan Energi saat ini baru mencapai 1.930 kkal. Pemenuhan kecukupan energi tersebut yang paling mudah adalah dengan melakukan impor. Tetapi hal tersebut akan dilakukan sampai kapan?

Pencapaian ketahanan pangan ditentukan oleh penerapan teknologi dan waktu. Semakin tinggi penerapan teknologi pertanian, maka ketahanan pangan akan semakin cepat dicapai. Begitu pula sebaliknya, jika penerapan teknologi pertanian kecil atau minim, maka ketahanan pangan akan semakin lambat untuk dicapai. Komitmen dunia dalam konsep pengelolaan bumi sangat jelas yaitu mengurangi laju kehilangan keanekaragaman (diversitas) hayati dengan teknologi pengelolaan tanah yang berkelanjutan. Negara Indonesia yang kaya akan keanekaragaman (diversitas) hayati baik yang berada di atas tanah maupun di dalam tanah, dengan berbagai plasma nutfah harus dikembangkan dan dikelola untuk meningkatkan ketahanan tanah menuju tercapainya ketahanan pangan. Keanekaragaman fauna tanah yang terjaga akan membuat tanah menjadi sehat, sehingga pertumbuhan tanaman yang ada di atasnya akan menjadi baik dan memberikan produksi yang optimal untuk mencukupi kebutuhan manusia, terutama kecukupan kalori. Keanekaragaman tidak hanya mencakup jumlah spesies fauna tanah, tetapi juga keanekaragaman morfologi, genetik, ekologi (habitat), fungsional, dan interaksi.

Pengelolaan tanah berkelanjutan akan berkaitan erat dengan keberadaan fauna di dalam tanah yang juga berperan bagi pertanian. Pengelolaan tanah yang kurang tepat akan memberikan dampak negatif pada lingkungan hidup, karena lahan pertanian merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang besar. Lahan gambut di Kalimantan yang tidak dikelola dengan baik akan memberikan sumbangan nitrogen di udara dalam bentuk amonia menurunkan kualitas udara. Pemupukan yang kurang tepat secara tidak langsung juga akan memberikan sumbangan terhadap penurunan kualitas udara. Pupuk yang diberikan ke tanah sebenarnya tidak dapat langsung digunakan oleh tanah yang tumbuh di atas tanah tanpa adanya kerja dari flora dan fauna yang ada di tanah. Pengelolaan tanah yang baik akan dapat menjaga keberagaman hayati di dalam tanah maupun di atas tanah.

Fauna yang hidup di dalam maupun di atas tanah sangat banyak dan beragam. Fauna tanah tidak hanya cacing dengan berbagai macam jenis, tetapi juga semut, laba-laba, luwing, kelompok Scorpio, tungau, dan sebagainya yang hidup saling berinteraksi dalam suatu ekosistem tanah. Keberadaan fauna tanah berkaitan erat dengan kualitas tanah, bahkan mungkin dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan kualitas (bioindikator). Hal tersebut memerlukan penelitian-penelitian yang mendalam untuk menggali informasi dan potensi yang ada untuk pengembangan teknologi pertanian ramah lingkungan.

Salah satu contoh penelitian dengan memanfaatkan fauna tanah adalah penggunaan cacing tanah dan semut untuk memperbaiki kualitas tanah. Tanah dengan perlakuan pemberian cacing tanah dan/atau semut dibandingan tanah yang tidak mendapat cacing tanah dan semut ternyata mempunyai kualitas yang lebih baik sehingga memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik. Akar tanaman pada tanah dengan cacing tanah dan/atau semut juga tumbuh lebih baik daripada akar tanaman pada tanah tanpa cacing tanah dan semut. Penelitian-penelitian terkait fauna tanah dapat juga dikombinasikan dengan penggunaan flora tanah (gulma) untuk mengetahui interaksi di antara fauna dan flora tanah. Dalam suatu kasus, rumput yang sering dianggap sebagai gulma, ternyata tidak selamanya menjadi gulma pada tanaman. Hal ini tentu memerlukan sebuah kajian menjadi, yang menjadi tugas kita untuk meneliti dan mengkajinya.

Jadi, sebagai insan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita harus yakin bahwa tidak adanya satu pun makhluk yang diciptakan Allah SWT akan sia-sia, semuanya pasti mempunyai manfaat. Tugas kita sebagai makhluk yang berakal untuk belajar membaca alam untuk mengungkapkan manfaat dari penciptaan makhluk Allah tersebut dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi.


71 TAHUN NEGERIKU

Karya : Siswi Yekti Adillah Murni


Indonesia negeriku yang elok nan penuh pesona
Negeri yang tidak ada bandingnya
Negeri yang kuat, kokoh, dan tangguh
Negeri yang luar biasa kaya

Tapi mengapa ……
Mengapa yang di usiamu yang mulai tua
Kau hampir kehilangan segalanya
Kekuatanmu, kekokohanmu, bahkan ketangguhanmu

Mana negeri yang selalu kubanggakan
Mana negeri yang pernah disebut Macan Asia
Mana negeri yang diperjuangkan mati-matian oleh nenek moyangku

Yang tersisa hanyalah tangisan Ibu Pertiwi ……
Ibu Pertiwi kini menangis ……


POHON KENARI DI WILLEM STRAAT

Cerpen : Ratna Indraswari Ibrahim
Sumber : Jawa Pos, Edisi : 07/13/2003


Pohon kenari di muka rumah ini berumur 88 tahun. Ditanam pada tahun 1914 oleh pemerintah Hindia Belanda. Menjadi pohon peneduh bagi rumah yang akan mereka huni. Pohon kenari tersebut ditanam sepanjang jalan ini. Berbuah keras, kulit luarnya berwarna hitam. Kalau sudah masak, kelelawar suka sekali makan kulit luar yang manis itu. Biji kenari yang putih, rasanya sangat gurih.

Sekitar jam 7 setiap pagi, ketika Mami duduk sambil minum kopi dan membaca koran pagi, Mbah Jum, tetangga yang tinggal di belakang rumah (di sebuah gang yang sempit), akan masuk ke rumah itu. Rumah kuno yang tanpa pagar.

Mbah Jum akan berkata pada pemilik rumah ini, “Kulo nuwun (Permisi)”. Mami akan menjawabnya, “Mangga Bu (Silakan Bu). Saya tadi melihat banyak sekali buah kenari yang jatuh di sudut sana!”
Mbah Jum membungkukkan badannya dan bilang berulang-ulang, “Matur nuwun, matur nuwun, Bu (Terima kasih, terima kasih, Bu)”.

Setelah Mbah Jum pulang, Mami berkata kepada Bulan, “Lihatlah, Tuhan memberi rezeki pada orang lain di halaman rumah kita”. Bulan masih ingat bagaimana Mami mengucapkan kalimat itu, berulang-ulang!

Pada waktu itu Kota Malang tahun 1975, usia Bulan baru 7 tahun. Dan pada waktu itu Bulan baru kena tipus. Dokter menyuruhnya istirahat dari sekolah selama satu minggu.

Ucapan Mami tentang Mbah Jum yang mencari rezeki di halaman rumah mereka membuat Bulan sering mendongak ke langit! Bulan ingin tahu hubungan antara Tuhan dan rezeki di halaman rumah. Oleh karena itu ketika Mami berangkat arisan, Bulan yang seharusnya istirahat di rumah, diam-diam mengikuti Mbah Jum ke rumahnya. Sampai di rumah, Mbah Jum mencuci buah kenari tersebut, menumbuknya di atas batu yang berlubang-lubang, mengupasnya secara teliti dengan pisau khusus.

***

Sampai saat ini Bulan selalu ingat bagaimana tangan yang kokoh itu bekerja dan betapa bahagia sinar mata itu setiap kali bisa mengupas kenari-kenari dengan sempurna.

Hari-hari berikutnya Bulan merasa ingin sekolah. Tapi, tak seorang pun mengizinkannya pergi ke sekolah. Jadi, selama seminggu itu Bulan cuma menemani Mami minum kopi di teras rumah. Dan dengan sedih melihat saudara-saudaranya maupun sahabatnya berangkat ke sekolah. Di saat itu Bulan merasa ada sebuah selingan aneh dan menyenangkan. Kalau Mbah Jum yang bertubuh tinggi besar datang memunguti buah kenari di halamannya, dia mengenakan jarik (kain panjang) dan di balik kebayanya Bulan bisa melihat Mbah Jum tidak memakai BH, tapi kutang dari belacu yang dijahit dengan sangat kasar!

Mami selalu berkata, “Perempuan itu menghidupi anak-anaknya dengan buah kenari. Suaminya yang tukang becak di Pasar Klojen pastilah tidak punya penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Makanya, senang sekali kita bisa membantunya dengan cara membiarkan Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumah ini. Kau tahu sendiri, Mbah Jum tidak bisa memanjat pohon kenari seperti lelaki yang memanjat pohon itu”.

Bulan mendongakkan kepala dan melihat lelaki itu menaruh banyak buah kenari di karung goninya. “Orang laki-laki itu mendapat banyak kenari, kasihan Mbah Jum, ya Mi?”

Mami menghirup kopi pelan-pelan dan terseyum pada Mbah Jum yang sedang memunguti buah kenari di halaman rumahnya.

***

Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lampau (kini Malang di tahun 2003). Bulan sudah memiliki dua orang anak yang usianya sama dengan usia Bulan waktu menjadi pengamat Mbah Jum. Sekarang Bulan begitu sibuk dengan karirnya. Dia seorang dokter yang sedang mengambil spesialis anak. Bulan sudah hampir melupakan kenari, Mbah Jum, berikut kebahagiaan Mami melihat Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumahnya. Cuma sekali-sekali kalau dia sedang capek menulis tesisnya, Bulan suka sekali menemani Mami duduk di teras ini dan Bulan sering bilang pada Maminya, “Tetangga kita sudah minta PU memotong pohon kenari, katanya sudah keropos dan membahayakan keselamatan mereka. Saya khawatir lama-lama kenari itu tidak ada lagi di sepanjang jalan ini, Mi!”

Mami mengangguk tanda sepakat dengan ucapannya.

***

Suatu kali, ketika Bulan sedang berada di rumah sakit, pembantu di rumah menelepon dan mengatakan, “Bu Haji tadi ketakutan Bu! Ada orang masuk ke halaman rumah. Sekarang Bu Haji berbaring lemas di tempat tidurnya”.

Setengah berlari Bulan pulang ke rumahnya. Mami bercerita, “Saya tadi melarang seorang laki-laki masuk ke rumah. Katanya ia mau mencari barang-barang bekas. Saya tidak suka orang masuk ke rumahku tanpa izin. Dia menjawab kemarahanku dengan mengacung-acungkan parangnya”.

Bulan terdiam dan dia harus merundingkan hal ini dengan suaminya. Suaminya berkata, “Kota ini bukan lagi Malang 30 tahun lampau yang aman dan damai! Kekerasan sudah tersebar di mana-mana. Kita berdua sibuk bekerja. Agar ada rasa aman untuk meninggalkan Mami dan anak-anak selama kita bekerja, kau bisa mengambil uang simpanan kita untuk membuat pintu pagar! Sejak dulu aku sudah mengusulkan membuat pagar di rumah ini. Seperti semua tetangga kita. Kau dan Mami tidak pernah sepakat. Non, ini bukan di Amerika atau Australia di mana rumah tidak perlu dipagari”.
“Mami tidak akan pernah setuju. Beliau selalu bilang pada anak-anaknya kalau rumah itu berpagar kita seperti hidup dalam sangkar burung”.

Suaminya cuma mengangkat bahu dan ketika Mami diminta pendapatnya beliau cuma bilang, “Terserah kamu, kalau saya memberi saran kamu toh tidak akan sepakat. Kamu selalu menganggap pikiran orang tua tidak cocok lagi dengan zaman ini”.

Bulan memagari rumahnya (sekalipun dia tidak memilih pagar yang terlalu tinggi). Tapi ketika pagar itu sudah jadi, entahlah, ada sesuatu yang hilang rasanya. Namun, ada hal-hal yang melegakan. Mami maupun anak-anak tidak pernah lagi menceritakan ada seorang laki-laki yang masuk rumah ini tanpa izin, yang ketika dimarahi mengacung-acungkan parangnya.

Beberapa bulan kemudian, Bulan memasuki gang sempit di belakang rumahnya (seorang tetangga memanggilnya untuk mengobati orang sakit). Tiba-tiba Bulan ingat, rumah ini dekat sekali dengan rumah Mbah Jum, yang ketika masih kecil diikutinya sampai ke rumah dengan perasaan ingin tahu yang pekat.

Bulan terpana, perempuan itu tetap seperti dulu sekalipun kelihatan kerut-kerut ketuaannya. Mbah Jum begitu sehat dan seperti kebiasaannya sejak Bulan kecil, sedang mengelupas kenari-kenari itu. Bulan mendekatinya. “Saya tahu Mbah dulu suka memunguti kenari di halaman rumah ibu saya. Karena merasa tidak aman, kami memagari rumah itu. Tapi, saya mengizinkan Mbah untuk mengambil buah kenari yang jatuh di halaman rumah kami. Kalau mau masuk dibel saja Mbah… Nanti saya akan mengatakan pada pembantu agar membukakan pintu untuk Mbah Jum jika mau mengambil buah kenari di halaman rumah kami. Ibu saya sudah tua. Tapi beliau masih ingat pada penjenegan. Saya akan ceritakan hal ini padanya. Jadi, Mbah masih bisa memunguti kenari di halaman rumah saya!”
“Matur nuwun Jeng, saya sungkan kalau harus ngebel dan masuk rumah penjenengan untuk mengambil buah kenari itu. Saya kok seperti tamu saja. Harus ngebel rumah penjenengan, merepotkan saja”.
“Tidak apa-apa Mbah. Ibu saya pasti senang ketemu teman di masa mudanya”.

Perempuan tua itu hanya menganggukkan kepalanya.

Kemudian Bulan merasa terseret ke pekerjaannya. Di sisi lain Mami yang pada saat itu berusia 80 tahun sudah mulai sakit-sakitan. (Dan ini menambah pikiran Bulan sebagai satu-satunya anak yang masih serumah dengan Maminya).

Suatu pagi Mami berkata padanya, “Aku sudah lama tidak melihat Mbah yang memungut kenari itu. Makanya aku benci sekali ada pagar di rumah ini, perempuan tua itu pasti tidak bisa mengambil rezekinya di halaman rumah kita. Kau mulai sekarang harus mengatakan pada pembantu kalau pagi-pagi pagar itu tidak perlu dikunci. Bukan hanya Mbah Jum, tamu-tamuku yang lain pun jadi malas ke rumah kita”.
“Mi, bukan hanya karena pagar Mbah Jum tidak datang ke rumah kita. Saya sudah menawarinya untuk mengambil kenari di halaman rumah kita seperti dulu. Mungkin sekarang yang mengambil kenari-kenari itu cucunya. O ya, kalau sekarang Mami tidak punya tamu kan Mami sendiri bilang, teman-teman arisan dan pensiunan sudah banyak yang meninggal”.

Perempuan tua itu menghapus air matanya.

Tiba-tiba Bulan ingin kembali melihat Mami menghirup kopi di teras sambil mengamati Mbah Jum memunguti buah kenari, pertanda rezekinya ada di halaman rumah ini.

Dia menyempatkan diri ke rumah Mbah Jum yang waktu itu sedang asyik mengupas buah kenarinya. “Mbah, penjenengan ditunggu ibu untuk mengambil kenari di halaman rumah”.

“Matur nuwun Jeng, Mbah sudah semakin jarang memunguti kenari, sudah tua. Kenari ini dipungut oleh cucu saya sepulang sekolah. O ya, salam saya kepada ibu. Ibu penjenengan piantun sepuh (Ibu Anda orang tua) yang kaya dan baik hati”.
“Mbah bisa mengambil kenari di halaman rumah”, kata Bulan ngotot.
Mbah Jum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Matur nuwun sanget Jeng (Terima kasih banyak)”.

Akhirnya Bulan berkata kepada yang merawat Maminya, “Kalau Ibu Haji sedang minum teh di teras dan kebetulan ada anak-anak yang mengambil buah kenari, suruh saja mereka masuk untuk mengambil di halaman rumah”. Sorenya dia mendapat laporan dari perawat Maminya, “Bu Haji tadi marah-marah pada saya Bu, ketika saya bukakan pintu untuk anak-anak yang memunguti buah kenari. Anak-anak itu berebut masuk dan menginjak-injak pohon sedap malam kesayangannya. Beliau marah dan berkata begini, “Sekalipun Bulan menyuruhmu, aku tidak pernah mengizinkan orang masuk ke halaman rumah untuk menginjak-injak tanaman yang ditanam oleh almarhum suamiku. Mulai besok jangan izinkan lagi mereka masuk!”

Beberapa bulan kemudian hal itu sudah terlupakan lagi. Suatu kali Mami berkata kepada Bulan, “Kau tahu perempuan tua yang suka memunguti kenari, Mbah Jum?! Dia masih hidup dan sehat. Aku tadi membukakan pintu untuknya agar dia masuk untuk mengambil buah kenarinya. Hidup ini memang aneh. Tiba-tiba kami berdua sudah tua. Aku tadi sempat menanyakan sudah berapa cucunya? Dia bilang, kemarin merayakan ulang tahun buyutnya yang pertama. Bul, dia betul-betul sehat sekalipun tidak minum obat seperti yang kau anjurkan setiap hari kepada Mamimu ini”.
Bulan tersenyum. Dia tahu Maminya hari ini sangat bahagia. Kemudian dia bilang pada perawat Maminya, “Kalau Mbah yang suka memunguti kenari itu kemari lagi, cepat bukakan pintu pagar. Aku senang jika kamu mau memberinya secangkir teh atau kopi”.

Menurut perawatnya, baik dia maupun Mami setiap jam 07.00 pagi duduk di teras ini tidak pernah lagi bertemu dengan Mbah Jum. Lagi-lagi karena kesibukan kerja, selain Bulan harus menyelesaikan spesialisnya secepat mungkin, dia melupakan hal itu.

Pada hari itu Mami meninggal. Seminggu setelah Mami meninggal, di siang yang sangat membosankan itu, Bulan keluar dari rumah sakit dan berjalan ke sembarang arah. Tiba-tiba dia sudah berdiri di muka rumah Mbah Jum. Di tempat Mbah Jum yang biasa mengelupas buah kenari itu dia melihat beberapa anak kecil sedang bergurau, tertawa-tawa, sambil memukuli buah kenari.

Bulan menangis.

Suatu hari ketika Bulan baru saja menyelesaikan tesisnya dia duduk sendirian di teras sambil menghirup kopinya. Waktu itu dini hari. Bulan melihat pohon kenari itu dibasahi embun malam. Sinar bulan menyinari daun-daun basah. Di sela-sela dedaunan itu, Bulan merasa melihat Mami dan Mbah Jum! Mereka berjalan di antara sela-sela daun kenari yang berkilau keperak-perakan. Wajah kedua orang tua itu “sangat bahagia”.

***

Malang 29 Juni 2003

*) Didedikasikan untuk Mami Siti Bidahsari Ibrahim Binti Arifin (alm.).


PAGI DI TEPI MAHAKAM

image

image

image