RESUME KULIAH UMUM Dr. Ir. LA ODE M HARJONI KILOWASID, M.Si. DI STIPER BERAU

dirangkum oleh : Nanang Ardhiansyah


Peningkatan kualitas sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi sebenarnya tidak hanya untuk para mahasiswa, tetapi juga untuk seluruh staf pengajar. Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Berau dalam upaya meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa pada tanggal 10 Oktober 2016 mengadakan kuliah umum. Tujuan kegiatan kuliah umum menurut Drs. H. Ardiansyah L, MM selaku ketua STIPER adalah menambah wawasan dan sekaligus peningkatan pengetahuan pertanian langsung dari ahli.

Kuliah umum yang diselenggarakan di Kampus STIPER Berau disampaikan oleh Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. seorang pakar fauna tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari. Materi kuliah umum yang beliau sampaikan adalah “Pemanfaatan Diversitas Fauna Tanah untuk Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan”.

Tugas seorang dosen sebenarnya hanya ada tiga, yaitu : mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat. Pelaksanaan ketiga tugas tersebut harus menggunakan ilmu pengetahuan yang didasari oleh suatu keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan flora dan fauna untuk keberlanjutan hidup manusia. Ilmu pengetahuan akan berkembang jika kita selalu belajar.

Tantangan ilmu pertanian untuk keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang akan semakin berat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Diperkirakan hingga tahun 2050, jumlah orang miskin dan kelaparan akan semakin meningkat. Hal ini adalah tantangan ilmu pertanian untuk mengembangkan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan. Pengembangan teknologi tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :
1. sesuai sumber daya petani lokal dan karakteristik ekologi setempat;
2. efisien dalam menggunakan masukan tak-terbarukan;
3. sistem pengelolaan pertanian yang tepat dan terpadu dengan biaya rendah;
4. resiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia rendah.

Pangan menurut Dr. Ir. La Ode M Harjoni Kilowasid, M.Si. adalah sumber energi manusia untuk melaksanakan metabolisme dasar. Tanpa pangan yang memadai, maka manusia tak akan dapat beraktifitas dengan optimal sehingga produktifitas juga akan mengalami penurunan. Ketahanan pangan merupakan hal kunci dalam ketahanan negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebesar 255.461.700 jiwa dan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 271.066.400 jiwa. Pemerintah juga menetapkan Angka Kecukupan Energi pada tahun 2019 adalah 2.150 kkal sementara Angka Kecukupan Energi saat ini baru mencapai 1.930 kkal. Pemenuhan kecukupan energi tersebut yang paling mudah adalah dengan melakukan impor. Tetapi hal tersebut akan dilakukan sampai kapan?

Pencapaian ketahanan pangan ditentukan oleh penerapan teknologi dan waktu. Semakin tinggi penerapan teknologi pertanian, maka ketahanan pangan akan semakin cepat dicapai. Begitu pula sebaliknya, jika penerapan teknologi pertanian kecil atau minim, maka ketahanan pangan akan semakin lambat untuk dicapai. Komitmen dunia dalam konsep pengelolaan bumi sangat jelas yaitu mengurangi laju kehilangan keanekaragaman (diversitas) hayati dengan teknologi pengelolaan tanah yang berkelanjutan. Negara Indonesia yang kaya akan keanekaragaman (diversitas) hayati baik yang berada di atas tanah maupun di dalam tanah, dengan berbagai plasma nutfah harus dikembangkan dan dikelola untuk meningkatkan ketahanan tanah menuju tercapainya ketahanan pangan. Keanekaragaman fauna tanah yang terjaga akan membuat tanah menjadi sehat, sehingga pertumbuhan tanaman yang ada di atasnya akan menjadi baik dan memberikan produksi yang optimal untuk mencukupi kebutuhan manusia, terutama kecukupan kalori. Keanekaragaman tidak hanya mencakup jumlah spesies fauna tanah, tetapi juga keanekaragaman morfologi, genetik, ekologi (habitat), fungsional, dan interaksi.

Pengelolaan tanah berkelanjutan akan berkaitan erat dengan keberadaan fauna di dalam tanah yang juga berperan bagi pertanian. Pengelolaan tanah yang kurang tepat akan memberikan dampak negatif pada lingkungan hidup, karena lahan pertanian merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang besar. Lahan gambut di Kalimantan yang tidak dikelola dengan baik akan memberikan sumbangan nitrogen di udara dalam bentuk amonia menurunkan kualitas udara. Pemupukan yang kurang tepat secara tidak langsung juga akan memberikan sumbangan terhadap penurunan kualitas udara. Pupuk yang diberikan ke tanah sebenarnya tidak dapat langsung digunakan oleh tanah yang tumbuh di atas tanah tanpa adanya kerja dari flora dan fauna yang ada di tanah. Pengelolaan tanah yang baik akan dapat menjaga keberagaman hayati di dalam tanah maupun di atas tanah.

Fauna yang hidup di dalam maupun di atas tanah sangat banyak dan beragam. Fauna tanah tidak hanya cacing dengan berbagai macam jenis, tetapi juga semut, laba-laba, luwing, kelompok Scorpio, tungau, dan sebagainya yang hidup saling berinteraksi dalam suatu ekosistem tanah. Keberadaan fauna tanah berkaitan erat dengan kualitas tanah, bahkan mungkin dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan kualitas (bioindikator). Hal tersebut memerlukan penelitian-penelitian yang mendalam untuk menggali informasi dan potensi yang ada untuk pengembangan teknologi pertanian ramah lingkungan.

Salah satu contoh penelitian dengan memanfaatkan fauna tanah adalah penggunaan cacing tanah dan semut untuk memperbaiki kualitas tanah. Tanah dengan perlakuan pemberian cacing tanah dan/atau semut dibandingan tanah yang tidak mendapat cacing tanah dan semut ternyata mempunyai kualitas yang lebih baik sehingga memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik. Akar tanaman pada tanah dengan cacing tanah dan/atau semut juga tumbuh lebih baik daripada akar tanaman pada tanah tanpa cacing tanah dan semut. Penelitian-penelitian terkait fauna tanah dapat juga dikombinasikan dengan penggunaan flora tanah (gulma) untuk mengetahui interaksi di antara fauna dan flora tanah. Dalam suatu kasus, rumput yang sering dianggap sebagai gulma, ternyata tidak selamanya menjadi gulma pada tanaman. Hal ini tentu memerlukan sebuah kajian menjadi, yang menjadi tugas kita untuk meneliti dan mengkajinya.

Jadi, sebagai insan yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita harus yakin bahwa tidak adanya satu pun makhluk yang diciptakan Allah SWT akan sia-sia, semuanya pasti mempunyai manfaat. Tugas kita sebagai makhluk yang berakal untuk belajar membaca alam untuk mengungkapkan manfaat dari penciptaan makhluk Allah tersebut dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi.


71 TAHUN NEGERIKU

Karya : Siswi Yekti Adillah Murni


Indonesia negeriku yang elok nan penuh pesona
Negeri yang tidak ada bandingnya
Negeri yang kuat, kokoh, dan tangguh
Negeri yang luar biasa kaya

Tapi mengapa ……
Mengapa yang di usiamu yang mulai tua
Kau hampir kehilangan segalanya
Kekuatanmu, kekokohanmu, bahkan ketangguhanmu

Mana negeri yang selalu kubanggakan
Mana negeri yang pernah disebut Macan Asia
Mana negeri yang diperjuangkan mati-matian oleh nenek moyangku

Yang tersisa hanyalah tangisan Ibu Pertiwi ……
Ibu Pertiwi kini menangis ……


POHON KENARI DI WILLEM STRAAT

Cerpen : Ratna Indraswari Ibrahim
Sumber : Jawa Pos, Edisi : 07/13/2003


Pohon kenari di muka rumah ini berumur 88 tahun. Ditanam pada tahun 1914 oleh pemerintah Hindia Belanda. Menjadi pohon peneduh bagi rumah yang akan mereka huni. Pohon kenari tersebut ditanam sepanjang jalan ini. Berbuah keras, kulit luarnya berwarna hitam. Kalau sudah masak, kelelawar suka sekali makan kulit luar yang manis itu. Biji kenari yang putih, rasanya sangat gurih.

Sekitar jam 7 setiap pagi, ketika Mami duduk sambil minum kopi dan membaca koran pagi, Mbah Jum, tetangga yang tinggal di belakang rumah (di sebuah gang yang sempit), akan masuk ke rumah itu. Rumah kuno yang tanpa pagar.

Mbah Jum akan berkata pada pemilik rumah ini, “Kulo nuwun (Permisi)”. Mami akan menjawabnya, “Mangga Bu (Silakan Bu). Saya tadi melihat banyak sekali buah kenari yang jatuh di sudut sana!”
Mbah Jum membungkukkan badannya dan bilang berulang-ulang, “Matur nuwun, matur nuwun, Bu (Terima kasih, terima kasih, Bu)”.

Setelah Mbah Jum pulang, Mami berkata kepada Bulan, “Lihatlah, Tuhan memberi rezeki pada orang lain di halaman rumah kita”. Bulan masih ingat bagaimana Mami mengucapkan kalimat itu, berulang-ulang!

Pada waktu itu Kota Malang tahun 1975, usia Bulan baru 7 tahun. Dan pada waktu itu Bulan baru kena tipus. Dokter menyuruhnya istirahat dari sekolah selama satu minggu.

Ucapan Mami tentang Mbah Jum yang mencari rezeki di halaman rumah mereka membuat Bulan sering mendongak ke langit! Bulan ingin tahu hubungan antara Tuhan dan rezeki di halaman rumah. Oleh karena itu ketika Mami berangkat arisan, Bulan yang seharusnya istirahat di rumah, diam-diam mengikuti Mbah Jum ke rumahnya. Sampai di rumah, Mbah Jum mencuci buah kenari tersebut, menumbuknya di atas batu yang berlubang-lubang, mengupasnya secara teliti dengan pisau khusus.

***

Sampai saat ini Bulan selalu ingat bagaimana tangan yang kokoh itu bekerja dan betapa bahagia sinar mata itu setiap kali bisa mengupas kenari-kenari dengan sempurna.

Hari-hari berikutnya Bulan merasa ingin sekolah. Tapi, tak seorang pun mengizinkannya pergi ke sekolah. Jadi, selama seminggu itu Bulan cuma menemani Mami minum kopi di teras rumah. Dan dengan sedih melihat saudara-saudaranya maupun sahabatnya berangkat ke sekolah. Di saat itu Bulan merasa ada sebuah selingan aneh dan menyenangkan. Kalau Mbah Jum yang bertubuh tinggi besar datang memunguti buah kenari di halamannya, dia mengenakan jarik (kain panjang) dan di balik kebayanya Bulan bisa melihat Mbah Jum tidak memakai BH, tapi kutang dari belacu yang dijahit dengan sangat kasar!

Mami selalu berkata, “Perempuan itu menghidupi anak-anaknya dengan buah kenari. Suaminya yang tukang becak di Pasar Klojen pastilah tidak punya penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Makanya, senang sekali kita bisa membantunya dengan cara membiarkan Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumah ini. Kau tahu sendiri, Mbah Jum tidak bisa memanjat pohon kenari seperti lelaki yang memanjat pohon itu”.

Bulan mendongakkan kepala dan melihat lelaki itu menaruh banyak buah kenari di karung goninya. “Orang laki-laki itu mendapat banyak kenari, kasihan Mbah Jum, ya Mi?”

Mami menghirup kopi pelan-pelan dan terseyum pada Mbah Jum yang sedang memunguti buah kenari di halaman rumahnya.

***

Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lampau (kini Malang di tahun 2003). Bulan sudah memiliki dua orang anak yang usianya sama dengan usia Bulan waktu menjadi pengamat Mbah Jum. Sekarang Bulan begitu sibuk dengan karirnya. Dia seorang dokter yang sedang mengambil spesialis anak. Bulan sudah hampir melupakan kenari, Mbah Jum, berikut kebahagiaan Mami melihat Mbah Jum memunguti buah kenari di halaman rumahnya. Cuma sekali-sekali kalau dia sedang capek menulis tesisnya, Bulan suka sekali menemani Mami duduk di teras ini dan Bulan sering bilang pada Maminya, “Tetangga kita sudah minta PU memotong pohon kenari, katanya sudah keropos dan membahayakan keselamatan mereka. Saya khawatir lama-lama kenari itu tidak ada lagi di sepanjang jalan ini, Mi!”

Mami mengangguk tanda sepakat dengan ucapannya.

***

Suatu kali, ketika Bulan sedang berada di rumah sakit, pembantu di rumah menelepon dan mengatakan, “Bu Haji tadi ketakutan Bu! Ada orang masuk ke halaman rumah. Sekarang Bu Haji berbaring lemas di tempat tidurnya”.

Setengah berlari Bulan pulang ke rumahnya. Mami bercerita, “Saya tadi melarang seorang laki-laki masuk ke rumah. Katanya ia mau mencari barang-barang bekas. Saya tidak suka orang masuk ke rumahku tanpa izin. Dia menjawab kemarahanku dengan mengacung-acungkan parangnya”.

Bulan terdiam dan dia harus merundingkan hal ini dengan suaminya. Suaminya berkata, “Kota ini bukan lagi Malang 30 tahun lampau yang aman dan damai! Kekerasan sudah tersebar di mana-mana. Kita berdua sibuk bekerja. Agar ada rasa aman untuk meninggalkan Mami dan anak-anak selama kita bekerja, kau bisa mengambil uang simpanan kita untuk membuat pintu pagar! Sejak dulu aku sudah mengusulkan membuat pagar di rumah ini. Seperti semua tetangga kita. Kau dan Mami tidak pernah sepakat. Non, ini bukan di Amerika atau Australia di mana rumah tidak perlu dipagari”.
“Mami tidak akan pernah setuju. Beliau selalu bilang pada anak-anaknya kalau rumah itu berpagar kita seperti hidup dalam sangkar burung”.

Suaminya cuma mengangkat bahu dan ketika Mami diminta pendapatnya beliau cuma bilang, “Terserah kamu, kalau saya memberi saran kamu toh tidak akan sepakat. Kamu selalu menganggap pikiran orang tua tidak cocok lagi dengan zaman ini”.

Bulan memagari rumahnya (sekalipun dia tidak memilih pagar yang terlalu tinggi). Tapi ketika pagar itu sudah jadi, entahlah, ada sesuatu yang hilang rasanya. Namun, ada hal-hal yang melegakan. Mami maupun anak-anak tidak pernah lagi menceritakan ada seorang laki-laki yang masuk rumah ini tanpa izin, yang ketika dimarahi mengacung-acungkan parangnya.

Beberapa bulan kemudian, Bulan memasuki gang sempit di belakang rumahnya (seorang tetangga memanggilnya untuk mengobati orang sakit). Tiba-tiba Bulan ingat, rumah ini dekat sekali dengan rumah Mbah Jum, yang ketika masih kecil diikutinya sampai ke rumah dengan perasaan ingin tahu yang pekat.

Bulan terpana, perempuan itu tetap seperti dulu sekalipun kelihatan kerut-kerut ketuaannya. Mbah Jum begitu sehat dan seperti kebiasaannya sejak Bulan kecil, sedang mengelupas kenari-kenari itu. Bulan mendekatinya. “Saya tahu Mbah dulu suka memunguti kenari di halaman rumah ibu saya. Karena merasa tidak aman, kami memagari rumah itu. Tapi, saya mengizinkan Mbah untuk mengambil buah kenari yang jatuh di halaman rumah kami. Kalau mau masuk dibel saja Mbah… Nanti saya akan mengatakan pada pembantu agar membukakan pintu untuk Mbah Jum jika mau mengambil buah kenari di halaman rumah kami. Ibu saya sudah tua. Tapi beliau masih ingat pada penjenegan. Saya akan ceritakan hal ini padanya. Jadi, Mbah masih bisa memunguti kenari di halaman rumah saya!”
“Matur nuwun Jeng, saya sungkan kalau harus ngebel dan masuk rumah penjenengan untuk mengambil buah kenari itu. Saya kok seperti tamu saja. Harus ngebel rumah penjenengan, merepotkan saja”.
“Tidak apa-apa Mbah. Ibu saya pasti senang ketemu teman di masa mudanya”.

Perempuan tua itu hanya menganggukkan kepalanya.

Kemudian Bulan merasa terseret ke pekerjaannya. Di sisi lain Mami yang pada saat itu berusia 80 tahun sudah mulai sakit-sakitan. (Dan ini menambah pikiran Bulan sebagai satu-satunya anak yang masih serumah dengan Maminya).

Suatu pagi Mami berkata padanya, “Aku sudah lama tidak melihat Mbah yang memungut kenari itu. Makanya aku benci sekali ada pagar di rumah ini, perempuan tua itu pasti tidak bisa mengambil rezekinya di halaman rumah kita. Kau mulai sekarang harus mengatakan pada pembantu kalau pagi-pagi pagar itu tidak perlu dikunci. Bukan hanya Mbah Jum, tamu-tamuku yang lain pun jadi malas ke rumah kita”.
“Mi, bukan hanya karena pagar Mbah Jum tidak datang ke rumah kita. Saya sudah menawarinya untuk mengambil kenari di halaman rumah kita seperti dulu. Mungkin sekarang yang mengambil kenari-kenari itu cucunya. O ya, kalau sekarang Mami tidak punya tamu kan Mami sendiri bilang, teman-teman arisan dan pensiunan sudah banyak yang meninggal”.

Perempuan tua itu menghapus air matanya.

Tiba-tiba Bulan ingin kembali melihat Mami menghirup kopi di teras sambil mengamati Mbah Jum memunguti buah kenari, pertanda rezekinya ada di halaman rumah ini.

Dia menyempatkan diri ke rumah Mbah Jum yang waktu itu sedang asyik mengupas buah kenarinya. “Mbah, penjenengan ditunggu ibu untuk mengambil kenari di halaman rumah”.

“Matur nuwun Jeng, Mbah sudah semakin jarang memunguti kenari, sudah tua. Kenari ini dipungut oleh cucu saya sepulang sekolah. O ya, salam saya kepada ibu. Ibu penjenengan piantun sepuh (Ibu Anda orang tua) yang kaya dan baik hati”.
“Mbah bisa mengambil kenari di halaman rumah”, kata Bulan ngotot.
Mbah Jum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Matur nuwun sanget Jeng (Terima kasih banyak)”.

Akhirnya Bulan berkata kepada yang merawat Maminya, “Kalau Ibu Haji sedang minum teh di teras dan kebetulan ada anak-anak yang mengambil buah kenari, suruh saja mereka masuk untuk mengambil di halaman rumah”. Sorenya dia mendapat laporan dari perawat Maminya, “Bu Haji tadi marah-marah pada saya Bu, ketika saya bukakan pintu untuk anak-anak yang memunguti buah kenari. Anak-anak itu berebut masuk dan menginjak-injak pohon sedap malam kesayangannya. Beliau marah dan berkata begini, “Sekalipun Bulan menyuruhmu, aku tidak pernah mengizinkan orang masuk ke halaman rumah untuk menginjak-injak tanaman yang ditanam oleh almarhum suamiku. Mulai besok jangan izinkan lagi mereka masuk!”

Beberapa bulan kemudian hal itu sudah terlupakan lagi. Suatu kali Mami berkata kepada Bulan, “Kau tahu perempuan tua yang suka memunguti kenari, Mbah Jum?! Dia masih hidup dan sehat. Aku tadi membukakan pintu untuknya agar dia masuk untuk mengambil buah kenarinya. Hidup ini memang aneh. Tiba-tiba kami berdua sudah tua. Aku tadi sempat menanyakan sudah berapa cucunya? Dia bilang, kemarin merayakan ulang tahun buyutnya yang pertama. Bul, dia betul-betul sehat sekalipun tidak minum obat seperti yang kau anjurkan setiap hari kepada Mamimu ini”.
Bulan tersenyum. Dia tahu Maminya hari ini sangat bahagia. Kemudian dia bilang pada perawat Maminya, “Kalau Mbah yang suka memunguti kenari itu kemari lagi, cepat bukakan pintu pagar. Aku senang jika kamu mau memberinya secangkir teh atau kopi”.

Menurut perawatnya, baik dia maupun Mami setiap jam 07.00 pagi duduk di teras ini tidak pernah lagi bertemu dengan Mbah Jum. Lagi-lagi karena kesibukan kerja, selain Bulan harus menyelesaikan spesialisnya secepat mungkin, dia melupakan hal itu.

Pada hari itu Mami meninggal. Seminggu setelah Mami meninggal, di siang yang sangat membosankan itu, Bulan keluar dari rumah sakit dan berjalan ke sembarang arah. Tiba-tiba dia sudah berdiri di muka rumah Mbah Jum. Di tempat Mbah Jum yang biasa mengelupas buah kenari itu dia melihat beberapa anak kecil sedang bergurau, tertawa-tawa, sambil memukuli buah kenari.

Bulan menangis.

Suatu hari ketika Bulan baru saja menyelesaikan tesisnya dia duduk sendirian di teras sambil menghirup kopinya. Waktu itu dini hari. Bulan melihat pohon kenari itu dibasahi embun malam. Sinar bulan menyinari daun-daun basah. Di sela-sela dedaunan itu, Bulan merasa melihat Mami dan Mbah Jum! Mereka berjalan di antara sela-sela daun kenari yang berkilau keperak-perakan. Wajah kedua orang tua itu “sangat bahagia”.

***

Malang 29 Juni 2003

*) Didedikasikan untuk Mami Siti Bidahsari Ibrahim Binti Arifin (alm.).


PAGI DI TEPI MAHAKAM

image

image

image

LELAKI DAN SEKUNTUM KAMBOJA

Cerpen : M. Arman AZ
Sumber : Jawa Pos, Edisi : 12/19/2004


APAKAH yang menarik di sebuah tempat bernama kuburan, selain pohon-pohon kamboja, makam-makam yang bertaburan, lirih angin mencekam, dan sunyi menikam? Siapa pula yang mau menyambangi tempat beraroma angker itu, kecuali pada saat-saat tertentu seperti hari raya atau penguburan jenazah?

Tapi hampir tiga bulan belakangan sering kulihat sosok lelaki itu di sana. Termangu di sebuah nisan berlapis marmer biru di pojok kiri areal pemakaman. Seingatku, itu makam seorang wanita. Aku yang menggali kuburnya dua tahun lalu. Entah apa hubungan si lelaki dan penghuni makam itu.

Dia masih muda. Kurasa umurnya di atas dua puluh tahun. Tubuhnya kurus jangkung. Kalau berjalan agak membungkuk. Rambut ikal dan jambang memenuhi wajahnya.

Kehadirannya tak bisa diterka. Kadang seminggu sekali, dua minggu sekali, malah pernah dua hari berturut-turut kupergoki dia sedang ziarah. Mungkin orang lain tak akan percaya jika kuceritakan hal ini. Tapi begitulah kenyataannya. Kebiasaan unik lelaki itu membuatku cepat hafal wajah dan gerak-geriknya. Anak istriku pun tak curiga lagi jika melihatnya di kejauhan, berjingkat melewati nisan demi nisan, sebelum tiba di makam itu.

Pernah suatu pagi, ketika membuka pintu belakang untuk menaburi jagung di kandang ayam, aku kaget melihat dia sudah di sana. Matahari belum utuh menyembul dari ufuk timur, tapi dia seperti tak kenal waktu. Ketika orang-orang berangkat kerja, ke pasar, atau sekolah, dia malah ke kuburan. Kuamati gerak-geriknya dari balik seng lapuk. Dia sedang menyingkirkan daun-daun kering yang berserak di atas makam dan mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekelilingnya. Setelah bersih, ia duduk bersimpuh. Hening. Tak lama kemudian, terdengar lantunan ayat suci menggeletarkan udara pagi.

Terakhir kali aku melihatnya minggu lalu. Cuaca ramah waktu itu. Angin berhembus sepoi. Sinar matahari senja menyibak rindang pohon kamboja. Jatuh di tubuhnya berupa pendar-pendar cahaya dan siluet dedaunan. Seekor kupu-kupu kuning, entah dari mana datangnya, terbang rendah sebelum hinggap di sudut batu nisan. Dari jendela kamar, mataku tak berkedip merekam pemandangan itu.

***

Aku lahir dan besar di gubuk ini. Dindingnya terbuat dari kepingan-kepingan kayu plus tripleks. Lantai semen. Atap seng karatan. Kalau hujan, kami sibuk menadahi tetesan air dari lubang atap dengan ember atau baskom. Antara ruang tamu dan ruang makan disekat sebuah lemari tua. Di sebelah kanan, dua kamar tidur sempit pengap. Dapur dan kamar mandi teronggok di belakang, dikelilingi seng-seng bekas.

Ada cermin oval yang menyatu dengan lemari baju di kamar depan. Aku jarang menggunakannya. Bukan karena malu melihat uban tumbuh bagai cendawan di musim hujan, mata cekung, atau gurat-gurat usia di dahi. Jika menatap wajahku dalam cermin, aku seperti melihat kegetiran-kegetiran yang menahun. Setengah abad lebih kujalani hidup dengan berkelahi melawan takdir sebagai orang melarat.

Orang-orang mengenalku sebagai kuncen kuburan. Kadang aku bingung, kenapa kuburan seluas itu dilimpahkan padaku untuk mengurusnya? Apa karena rumahku dekat kuburan? Atau tugas itu diwariskan turun-temurun setelah bapak meninggal?

Aku kerja serabutan untuk menghidupi anak istri. Tukang loak, penggali sumur, kuli bangunan, dan kerja kasar lainnya silih berganti kulakoni. Asal asap dapur tetap mengepul, aku sudah bersyukur. Istriku berjualan pecel di depan rumah. Hasilnya pas-pasan. Untuk biaya sekolah empat anak kami, harus putar otak lebih keras lagi.

Rezeki macam itu datang jika ada orang meninggal. Ada yang tergopoh-gopoh mencariku, minta digalikan liang lahat selekas mungkin. Walau sedih mendengar kabar duka itu, tapi jujur saja, hatiku girang. Terbayang upah gali makam yang bisa ratusan ribu. Tentu saja tak setiap hari ada yang meninggal. Hari-hari berikutnya, aku blingsatan lagi. Kehabisan uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Mau pinjam tetangga, jelas malu. Hutang masih menumpuk. Saat-saat terpojok itulah, pernah tercetus doaku, “Semoga ada yang mati, agar aku bisa dapat uang”. Entahlah, rasanya doa itu keterlaluan. Aku seperti mengail rezeki di tengah air mata orang-orang.

Kalau otakku buntu, tak ada jalan keluar, aku pergi ke kuburan. Duduk terpekur di salah satu nisan atau di bawah pohon kamboja. Rasanya tenang dan damai. Hembus angin mengalirkan kenangan. Semasa kecil dulu, mendiang orang tuaku sering melarang main di kuburan sore-sore. Aku dijejali cerita-cerita seram tentang hantu, kuntilanak, pocong, wewe gombel, dan sebagainya. Tapi, syukurlah, seumur hidupku belum pernah bertemu makhluk-makhluk itu.

Menjelang bulan puasa dan ketika hari raya Lebaran tiba, peziarah berdatangan untuk nyekar. Mobil-mobil licin mengkilap berderet di depan gerbang kuburan. Kata bapak, banyak juga yang datang dari luar kota. Saat itu aku diizinkan bekerja membersihkan makam-makam yang kotor. Aku mengantongi uang banyak waktu itu.

Roda hidup terus berputar. Semua yang kualami dulu kini terulang kembali. Keempat anakku sering kumarahi agar jangan main layangan atau petak umpet di kuburan. Menjelang bulan puasa dan saat Lebaran, kulepas mereka untuk cari uang jajan sendiri. Selebihnya, kuburan ini kembali diselimuti sepi. Ngelangut dan lirih.

***

Jamaah bubar dan berpencar usai shalat Jumat. Aku kaget melihat sosok anak muda itu di tempat penitipan sandal. Ia sedang antre di kerumunan. Mungkin dalam masjid tadi dia duduk di deretan belakang hingga aku tak melihatnya. Penasaranku kambuh. Kutunggu dia keluar masjid. Apakah siang ini dia mau ziarah? Jarak masjid dan kuburan tak seberapa jauh, bisa dikerjakannya sekali jalan.

Dia melintas di depanku. Timbul niat untuk mengetahui kemana ia akan pergi. Aku berjalan di belakangnya. Langkahnya ringan, sambil sesekali menabuhi daun-daun. Sementara dalam perutku ada genderang ditabuh. Kuayun langkah lebih cepat, hingga bersisian dengannya. Dia menengok dan tersenyum ramah. Aha, kupikir ini awal yang bagus.

“Mau ziarah, Dik?!” tanyaku datar dan santun. Roman wajahnya berubah.
“Eeh, iya. Kok, Bapak tahu?” Kujelaskan bahwa rumahku persis di sebelah kanan kuburan. Aku tahu jika ada yang ziarah. Dia mengangguk-angguk, tak menyangka selama ini ada yang memperhatikannya.

Tanpa kuminta, dia mulai bercerita. Namanya Sunu. Ia tinggal di kampung seberang. Makam itu adalah makam ibunya yang meninggal dua tahun lalu. Di sisa-sisa napasnya, beliau minta dikuburkan dekat orang tuanya, kakek dan nenek Sunu. Lunas sudah pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di benakku selama ini.

“Kita lewat sini saja, Dik”. Aku menunjuk sebuah gang. “Ini jalan pintas menuju rumah masa depan”, candaku. “Rumah Bapak di ujung gang ini. Lain kali, lewat sini saja untuk menghemat waktu”. Tanpa banyak tanya, Sunu mengikuti langkahku.

Kami menyusuri gang sempit berkelok-kelok. Kuajak Sunu singgah sesampainya di gubukku. Lapar sudah di puncaknya, tapi dia menolak waktu kutawari makan bersama. Setelah istriku ikut membujuk, akhirnya Sunu luluh juga.

Usai makan siang, kami istirahat di depan gubuk. Kuburan di sebelah kanan kelihatan jelas dari tempat kami duduk. Hanya dibatasi sepetak tanah. Kami sempat ngobrol ngalor ngidul, sebelum Sunu mengisahkan latar belakang dirinya.

“Saya sangat berdosa pada ibu”. Pandangannya menitik hampa ke tanah. Ada induk ayam dan tiga ekor anaknya yang menciap-ciap minta makan. “Semasa hidupnya, saya banyak menyakiti hati ibu. Mabuk, bikin onar di kampung, pinjam uang ke sana-kemari dengan alasan dibuat-buat, hutang rokok numpuk di warung”. Kulihat Sunu membuang napas gelisah, kemudian menyambung ceritanya, “Akhirnya orang-orang datang ke rumah, menagih langsung pada ibu. Beliau banyak menanggung malu. Sudah sering saya dinasehati, bahkan pernah dicaci maki, tapi dasar saya anak tak tahu diri”.

Aku bengong. Entah harus percaya atau tidak pada ceritanya. Perkenalan kami baru seumur jagung, tapi dia enteng saja menabur keluh kesah. Sempat terbersit curiga. Zaman sekarang banyak penipu yang mengincar mangsanya tanpa pandang bulu. Aku harus waspada.

Sunu terus saja berceloteh. Tentang liontin berlian ibunya yang dicuri lalu dijual murah, padahal benda itu warisan mendiang kakeknya. Dia juga merasa sebagai biang keladi yang menyebabkan ibunya cepat meninggal. Tentang kebiasaannya ziarah untuk mendoakan ibu sekaligus menebus dosanya. Tentang hidupnya yang kini lontang-lantung. Ia malu pulang ke rumah. Namanya sudah tercemar. Tak ada lagi yang mempercayainya. Orang-orang yang dulu lengket di sisinya saat ia banyak uang, kini hilang entah kemana. Juga tentang niatnya merantau dan kerja apa saja asal halal.

***

Senja ramah. Angin sepoi. Sinar matahari tak begitu menyengat. Aku dan Sunu duduk berhadapan di sisi makam, membaca doa bersama. Lantunan suara kami melayang dibawa angin. Sepasang kupu-kupu kuning terbang rendah. Meliuk-liuk lalu hinggap di batu nisan. Aku tercekat. Kulirik Sunu, namun dia seperti tak menyadari kehadiran sepasang makhluk lemah itu.

Usai berdoa, Sunu pamit. Ia menjabat tanganku seraya mengucapkan terima kasih. Sepintas kulihat matanya memerah. Aku termangu, haru melepasnya. Ia berjingkat melewati nisan demi nisan. Maghrib menjelang ketika Sunu telah lenyap dari pemakaman. Ah, seandainya aku ada uang, tentu sudah kuselipkan di saku bajunya.

Entah kemana tujuan Sunu. Entah dimana tidurnya malam ini. Entah bagaimana dia makan. Aku merasa bersalah. Seharusnya jangan terlalu cepat mencurigai anak itu. Aku menyesal hanya jadi pendengar yang baik saat dia bercerita, padahal apa susahnya memberi nasehat agar dia jangan terlalu lama menyesali keadaan, agar dia bangkit menebus kesalahan, agar dia rajin mendoakan almarhumah ibunya. Ah, mudah-mudahan kami bisa bertemu lagi, suatu saat nanti, di kuburan ini.

Dua kupu-kupu kuning telah raib dari tempatnya. Angin mendesau lirih. Sekuntum bunga kamboja gugur dari tangkainya. Bergulir di pusara yang kering. Kupandangi bunga putih bersih itu. Tiba-tiba aku terhenyak menatap tulisan di batu nisan. Di bawah nama almarhumah ibu Sunu, terpahat tanggal dan bulan kelahiran yang sama persis dengan kematiannya.

***

Bandar Lampung, April 04


LANGIT, SAMUDRA, DAN DARATAN

image

PENGUKIR NISAN

Cerpen : Dwicipta
Sumber : Kompas, Edisi : 02/12/2006


Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka”, katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. “Cristus is mijn opstanding”.

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut-nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya”, pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagi pula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan”.

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu-satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu”, kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya”.

Berkat doa Nyonya di gereja”.

Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao”.

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ‘Kerajaan Batavia’ dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian”.

Ia mengangguk.

Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran”, gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya, “Jesus is mijn opstanding”.

Di tengah kelesuan dan lamunannya, Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan. Namun, kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu.

Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya.

Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman.

Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?”

Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya.

Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. Harap Tuan mengerti, aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw, hiasan perang layaknya kaum ksatria. Inilah gambaran kaum bermartabat, Tuan. Adapun gambar tengkorak itu, mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?”

Opsir itu mengangguk-angguk. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik.

Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?”

Kim Hok menggeleng. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini.

Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. Sayang, meninggal terlalu cepat. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan, mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa”, gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

Tentu saja, Tuan. Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia, saleh, dan mencintai seni dan kerajinan. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus, menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi, menghiasi dinding-dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah, Tuan. Dan Mevrouw Gubernur, adalah yang utama di antara perempuan Belanda”, kata Kim Hok memuji.

Begitulah kami bangsa Belanda. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. Sayang Tuan, ah, apa harus kubilang untuk Nyonya itu. Dia terlalu menderita. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat, ia sangat menderita”.

Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu.

Tidak, Tuan. Saya tidak akan mengatakannya. Aku seorang opsir biasa, aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Sungguh, gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. Akan kubawa pulang, Tuan. Selamat jalan”, katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa.

Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh, membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Ia mengelus bulu kuduknya.

Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal, sebuah tubuh teronggok penuh luka, dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. Tak lama kemudian, seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut.

Orang Tionghoa dibunuh, dan dilempar ke kanal, menjadi makanan lalat dan serangga”, orang-orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu.

Dia si pengukir nisan, Tan Kim Hok”, kata salah seorang yang mengenalnya.

Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal, mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh. Sayangnya, teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab.

Ia tak akan bangkit dari kuburnya, untuk menjelaskan kematiannya sendiri”, gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu.

***

Yogyakarta, akhir Desember 2005