Landep (Barleria prioritis L.)

Botani


Sinonim

:

Prioritis hystrix Miq.

Klasifikasi

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Dicotyledoneae

Bangsa

Solanales

Suku

Acanthaceae

Marga

Barleria

Jenis

Barleria prioritis L.

Nama

Umum/Dagang

Landep.

Sumatera

:

Bunga landak (Melayu).

Jawa

:

Kembang landep (Sunda), Landep (Jawa Tengah), Landhep (Madura).

Deskripsi

 

 

Habitus

Semak, tinggi 1½ m.

Batang

Berkayu, segi empat, hijau.

Daun

Tunggal, berhadapan, elips sampai lanset, pangkal dan ujung runcing, panjang 2 – 18 cm, lebar 20 – 65 mm, pertulangan menyirip, hijau.

Bunga

Tunggal, berhadapan, di ketiak daun, daun pelindung berbagi dua, bentuk lanset, ujung seperti duri, panjang 1 – 2 cm, kelopak ± 1,5 cm, benang sari dua, tangkai putik bentuk jarum, mahkota bertaju lima, bentuk elips memanjang, kuning.

Buah

Kotak, bulat teiur, pipih, ujung agak lancip, keras, hijau.

Biji

Bulat telur, pipih, mengkilat seperti beludru, coklat.

Akar

Tunggang, bulat, coklat kotor.



Gambar 95.  Barleria prioritis L.

Khasiat

Akar Barleria prionitis berkhasiat untuk obat luka, daunnya berkhasiat sebagai obat encok, obat perut nyeri, dan obat kudis.

Obat luka : dipakai ± 15 gram akar Barleria prioritis, diberi kapur ¼ sendok teh, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempelkan pada bagian yang sakit.

Kurap, panu : Akar secukupnya digiling halus.  Tambahkan air perasan 1 buah jeruk nipis, lalu diaduk merata sampai seperti bubur.  Balurkan pada kurap, lalu dibalut.  Ganti 2 kali sehari, sampai sembuh.

Rematik, sakit pinggang, sakit kepala : Sebanyak 1 genggam daun landep segar dicuci lalu digiling halus.  Tambahkan air kapur sirih secukupnya sambil diaduk merata sampai menjadi seperti bubur kental.  Balurkan ke bagian tubuh yang sakit, bila sakit kepala balurkan di kening.

Sakit gigi  : Daun dikunyah dengan gigi yang sakit.

Gusi nyeri dan berdarah  : Daun landep segar dicuci lalu digiling halus.  Air perasannya ditambahkan sedikit madu.  Gunakan untuk memoles gusi yang sakit.

Demam, sakit perut, kencing sedikit : Sebanyak 1 genggam daun landep segar dicuci lalu diseduh dengan 1 gelas air panas, setelah dingin disaring, lalu diminum.

Kandungan Kimia

Daun dan akar Barleria prionitis mengandung saponin dan flavonoida, di samping itu daun juga mengandung tanin, sedangkan akarnya juga mengandung polifenol.

.

BENDA (Artocarpus elastica Reinw.)

Botani


Sinonim

:

Artocarpus blumei Tree.

Artocarpus kunstlen King.

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Urticales

Suku

:

Moraceae

Marga

:

Artocarpus

Jenis

:

Artocarpus elastica Reinw.

Nama

Umum/Dagang

:

Benda.

Sumatera

:

Mengko (Aceh), Torop (Batak), Bakil (Melayu), Tarok (Minangkabau).

Jawa

:

Benda (Sunda); Benda, Benda kebo (Jawa); Kokap (Madura).

Sulawesi

:

Taeng (Makasar).

Deskripsi

 

Habitus

:

Pohon, tinggi 15 – 30 m.

Batang

:

Tegak, bulat, percabangan simpodial, bergetah, permukaan kasar, coklat.

Daun

:

Tunggal, berseling, lonjong, tebal, tepi bertoreh, ujung dan pangkal runcing, panjang 20 – 40 cm, lebar 15 – 25 cm, pertulangan menyirip, berbulu, hijau.

Bunga

:

Tunggal, berumah satu, bunga jantan silindris, panjang 5 – 15 cm, putih kekuningan, bunga betina bulat, garis tengah 2 – 5 cm, hijau.

Buah

:

Majemuk semu, bulat, berduri halus, garis tengah 10 – 15 cm, coklat.

Biji

:

Bentuk ginjal, panjang 1 – 3 cm, coklat.

Akar

:

Tunggang, kuat, coklat.



Gambar 80.  Artocarpus elastica Reinw.

Khasiat

Kulit batang Artocarpus elastica berkhasiat sebagai obat sakit perut dan getahnya sebagai obat sakit mencret.

Obat sakit perut : dipakai kulit batang Artocarpus elastica, dipukul-pukul lalu digunakan sebagai sabuk perut.

Kandungan Kimia

Daun, buah, dan kulit batang Artocarpus elastica mengandung saponin dan polifenol; di samping itu daun dan buahnya juga mengandung flavonoida.

.

PURWOCENG GUNUNG (Artemisia lactiflora Wall.)

Klasifikasi

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Ranales

Suku

:

Asteraceae

Marga

:

Artemisia

Jenis

:

Artemisia lactiflora Wall.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Purwoceng gunung.

Jawa

:

Purwoceng gunung (Jawa).

Deskripsi

 

Habitus

:

Terna, menahun, tegak alau sedikit melata, tinggi 20 – 50 cm.

Batang

:

Bulat, beruas-ruas, licin, berwarna hijau keunguan.

Daun

:

Majemuk, bentuk oval, lonjong, panjang 10 – 18 cm, lebar 6 – 15 cm, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi beringgir, anak daun bentuk oval, tepi bergerigi, pertulangan daun tegas, warna ungu kehijauan, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk tandan, terletak di ujung batang, panjang mencapai 30 cm, kelopak hijau, bentuk bintang, berlekuk 5, mahkota halus mengelilingi cawan bunga tempat benang sari dan putik, diameter 2 – 3 mm, warna putih gading.

Biji

:

Bentuk lanset, kecil, berwarna coklat.

Akar

:

Serabut, berwarna putih kekuningan.

 


Gambar 75. Artemisia lactiflora Wall.

Ekologi dan Persebaran

Purwoceng gunung merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, kebun, atau di hutan-hutan. Tumbuh di dataran menengah sampai pegunungan pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan Juni – September. Waktu panen yang tepat pada bulan April – Mei.

Bagian yang Digunakan

Daun atau seluruh bagian tanaman dalam keadaan segar atau setelah dikeringkan.

Kegunaan

Anti radang, pelancar haid, dan peluruh air seni.

Khasiat dan Pemanfaatan

Obat sakit perut : seluruh bagian tanaman purwoceng gunung dalam keadaan segar sebanyak 30 – 60 gram, dicuci, direbus dengan 200 ml air sampai mendidih selama 5 menit, disaring, setelah dingin diminum sekaligus, dilakukan sehari 2 – 3 kali.

Haid tidak teratur : daun purwoceng gunung sebanyak 60 gram, dicuci direbus dengan 400 ml air sampai mendidih selama 10 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore. Tidak dianjurkan untuk digunakan oleh wanita yang sedang hamil.

Kandungan Kimia

Seluruh bagian tanaman purwoceng gunung mengandung saponin, kardenolin, flavonoida, dan minyak atsiri.

.

SUWEG (Amorphophallus campanulatus Bl.)

Klasifikasi

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Arales

Suku

:

Araceae

Marga

:

Amorphophallus

Jenis

:

Amorphophallus campanulatus Bl.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Suweg.

Jawa

:

Suweg.

Deskripsi

 

Habitus

:

Semak, tahunan, tinggi ± 1 m.

Batang

:

Lunak, silindris, membentuk umbi, hijau.

Daun

:

Tunggal, menjari, tepi rata, ujung lancip, pangkal berlekuk, panjang ± 50 cm, lebar ± 30 cm, tangkai memeluk batang, silindris, panjang ± 30 cm, hijau bercak putih, hijau.

Bunga

:

Majemuk, berkelamin dua, bentuk bongkol, panjang ± 7,5 cm, bakal buah melingkar rapat, kepala putik dua sampai liga, kepala sari melingkar, mahkota merah.

Buah

:

Buni, lonjong, merah.

Biji

:

Bulat, merah.

Akar

:

Serabut, putih kotor.

.
.

Gambar 49.  Amorphophallus campanulatus Bl.

Khasiat

Umbi Amorphophallus campanulatus berkhasiat sebagai obat sakit perut dan obat luka.

Obat sakit perut : dipakai ± 15 gram umbi segar Amorphophallus campanulatus, dicuci, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempeLkan pada perut sebagai tapal.

Kandungan Kimia

Umbi Amorphophallus campanulatus mengandung saponin dan flavonoida; batang dan daunnya mengandung saponin dan polifenol.

.

KAPULAGA (Amomum cardamomum Willd.)

Botani

 


Sinonim

:

Amomum kapulaga Sprague

Amomum compactum Solad ex Maton

Alpinia striata Horst.

Cardamomum minum Rumph.

Elettaria cardamomum Maton

Elettaria major Smith.

Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Zingiberales

Suku

:

Zingiberaceae

Marga

:

Amomum

Jenis

:

Amomum cardamomum Willd.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Kapulaga.

Sumatera

:

Roude cardemom (Aceh); Kapulaga (Melayu); Pelaga puwar (Minangkabau).

Jawa

:

Kapol, Kapol sebrang, Pelaga Palago (Sunda); Kapulaga; Kapulogo sabrang, Pulogo, Kapol sabrang (Jawa); Kapulaga; Kapolagha, Palagha (Madura).

Bali

:

Kapolagha, korkolaka.

Sulawesi

:

Kapulaga (Makasar); Gandimong, Gandimong (Bugis).

Asia

:

Pelaga (Malaysia), Luk grawan (Thailand).

Eropa

:

Cardamom (Inggris).

Deskripsi

 

 

Habitus

:

Tumbuhan berupa herba tahunan, tingginya dapat mencapai 1 – 5 meter.

Batang

:

Semu, bulat, membentuk anakan, hijau.

Daun

:

Daun tunggal, tersebar, berwarna hijau tua.  Helai daun licin atau agak berbulu, berbentuk lanset atau tombak, dengan pangkal dan ujung runcing, dan tepi daun rata.  Panjang daun sekitar 30 – 60 cm, dan lebarnya 10 – 12 cm.  Pertulangan menyirip.  Tangkai daun sangat pendek.  Panjang pelepah dan tangkai daun sekitar 1 – 1½ meter.  Antara palepah dan helai daun terdapat lidah yang ujungnya tumpul,
panjang sekitar ½ cm.

Bunga

:

Perbungaan berupa bulir (bongkol) yang kecil terletak di ujung batang, berwarna putih atau putih kekuningan.  Tangkai bunga muncul dari umbi batang, menjuntai, ramping.  Kelopak panjang, lebih kurang 1 – 1½ cm, berbulu, berwarna hijau.  Bunga berwarna putih, bergaris-garis lembayung, dengan warna kemerah-merahan di bagian tengahnya.  Mahkota berbentuk tabung, panjang 1 – 1½ cm, berwarna putih atau putih kekuningan.  Taju biasanya lebih panjang dari tabungnya.  Bibir bunga berwarna biru berlajur putih, tepinya kuning.  Benang sari panjangnya 1 – 1½ cm, kepala sari bentuk elips, panjang sekitar 2 mm.  Tangkai putik tidak berbulu, kepala putik berbulu, berbentuk mangkok.

Buah

:

Buahnya berupa buah kotak, terdapat, dalam tandan kecil-kecil dan pendek.  Buah bulat memanjang, berlekuk, bersegi tiga, agak pipih, kadang-kadang berbulu, berwarna putih kekuningan atau kuning kelabu.  Buah beruang 3, setiap ruang dipisahkan oleh selaput tipis setebal kertas.  Tiap ruang berisi 5 - 7 biji kecil-kecil, berwarna coklat atau hitam, beraroma harum yang khas.  Dalam ruang biji-biji ini tersusun memanjang 2 baris, melekat satu sama lain.

Biji

:

Kecil, hitam.

Akar

:

Akar serabut, berwarna putih kotor.  Rimpang bulat panjang, bercabang simpodial, berwarna putih kekuningan.  Pada awalnya cabang-cabang rimpang ini dibungkus oleh sisik-sisik yang pendek.  Semua bagian dari tumbuhan ini berbau harum.

.

Gambar 48. Amomum cardamomum Willd.

Ekologi dan Persebaran

Tumbuh bergerombol, membentuk banyak anakan.  Batang semu yang tersusun oleh pelepah-pelepah daun, berbentuk silindris, berwarna hijau. Umbi batang agak besar dan gemuk. Tumbuh liar di hutan primer dan hutan jati, di daerah pegunungan yang rendah dan
tanahnya agak basah, bercurah hujar tinggi, atau di daerah yang selalu berawan, pada ketinggian 200 – 1.000 m di atas permukaan laut.

Tumbuh subur di bawah naungan pohon-pohon kayu hutan, di tempat-tempat yang sangat terlindung. Tumbuhan ini juga banyak dibudidayakan, sebab buahnya dipergunakan sebagai rempah pada berbagai jenis masakan.

Tumbuhan ini tersebar hampir di seluruh Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Sumatera Selatan.  Selain di Indonesia, kapulaga banyak ditemukan di Srilangka, India, Guatemala, Tanzania, Papua Nugini, dan Malabar.

Penggunaan Tradisional

Air rebusan seluruh bagian tanaman digunakan untuk obat kuat bagi orang yang merasa lemas atau lemah akibat kecapaian.  Juga berguna bagi orang yang berpenyakit encok atau rematik.  Kadang-kadang juga digunakan sebagai afrodisiaka (untuk meningkatkan libido).  Air rebusan batang digunakan sebagai obat menurunkan panas (demam). Buahnya dipergunakan untuk bahan penyedap dan penyegar makanan dan minuman.

Buah juga berkhasiat menghilangkan rasa gatal pada tenggorokan, sebagai obat batuk, dan obat sakit perut.

Rimpang sering digunakan untuk menghilangkan bau mulut, untuk obat batuk, dan menurunkan panas (sebagai antipiretikum). Rimpang yang dikeringkan, digiling, 1alu direbus dapat menjadi minuman penghangat bagi orang yang kedinginan, terutama bagi yang tinggal di pegunungan, di daerah beriklim dingin atau di hutan yang sangat lembab.  Minuman ini sekaligus dapat mengobati sakit panas dalam.

Khasiat

Semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan mulai dari batang, buah, hingga rimpang.  Buah Amomum cardamomum berkhasiat sebagai obat batuk dan obat perut kembung.

Obat batuk : a) Dipakai ± 6 gram buah Amomum cardamomum, dicuci dan direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit.  Hasil rebusan diminum sekaligus.; b) Biji kapulaga dicuci, dikunyak-kunyah.  Cairannya ditelan.

Batuk pada anak-anak : 15 butir buah kapulaga, 2 cabai jawa, 10 iris lempuyang, 5 cm kayu manis dicuci.  Dua bawang merah dikupas, dicuci, diparut.  Diseduh dengan ½ liter air, tutup tempatnya. Diminum setiap 2 jam sampai sembuh.

Perut kembung : 5 biji kapulaga dicuci, 5 iris jahe dicuci sebelum diiris. Rebus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Setelah dingin diminum satu kali sehari.

Mual : 5 biji kapulaga, sepotong kencur 3 cm, cuci, lumatkan.  Seduh dengan segelas air Sesudah dingin disaring dan airnya diminum.

Radang tenggorok : 10 buah kapulaga, sepotong kunyit 5 cm dicuci, dimemarkan, diseduh dengan segelas air.  Setelah dingin disaring, airnya separuh diminum pagi, separuh lagi malam.  Diulangi selama beberapa hari.

Bau mulut : 8 buah kapulaga, 1 cangkir daun pegagan dicuci lalu diseduh dengan ½ gelas air, tutupi.  Setelah dingin, disaring dan diminum pagi-pagi pada saat perut masih kosong.

Perut mulas karena kedinginan : 4 buah kapulaga dicuci, direbus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Saring, minum hangat-hangat.

Kandungan Kimia

Buahnya mengandung minyak atsiri yang terutama mengandung sineol, terpineol, dan borneol.  Kadar sineol dalam buah lebih kurang 12%.  Di samping itu buah kapulaga banyak mengandung saponin, flavonoida, senyawa-senyawa polifenol, mangan, pati, gula, lemak, protein, dan silikat.

Biji mengandung 3 – 7% minyak atsiri yang terdiri atas terpineol, terpinil asetat, sineol, alfa borneol, dan beta kamfer.  Di samping itu biji juga mengandung minyak lemak, protein, kalsium oksalat, dan asam kersik.  Dengan penyulingan dari biji diperoleh minyak atsiri yang disebut Oleum Cardamomi yang digunakan sebagai stimulans dan pemberi aroma.

.

KREMAH (Alternanthera sessilis R. Br.)

Botani

Sinonim

:

Alternanthera nodiflora R. Br.

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Caryophytales

Suku

:

Amaranthaceae

Marga

:

Alternanthera

Jenis

:

Alternanthera sessilis R. Br.

Nama

Umum/Dagang

:

Kremah.

Sumatera

:

Juruk demah (Lampung), Ormak (Batak), Sayor udang (Melayu).

Jawa

:

Tolot soyah (Sunda), Kremah (Jawa).

Deskripsi

Habitus

:

Semak, merambat, panjang ± 30 cm.

Batang

:

Bulat, masif, beruas-ruas, hijau kekuningan.

Daun

:

Majemuk, berhadapan, lonjong, ujung dan pangkal runcing, panjang ± 2 cm, lebar ± 5 mm, pertulangan menyirip, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk bulir, di ketiak daun dan ujung batang, tangkai silindris, panjang ± 5 mm, hijau muda, benang sari lima, tangkai sari bentuk mangkok, mahkota bentuk bulu, panjang 2 – 3 mm, putih kehijauan.

Buah

:

Kotak, kecil, coklat.

Biji

:

Bulat, hitam.

Akar

:

Tunggang, putih kecoklatan.


Gambar 42. Alternanthera sessilis R. Br.

Khasiat

Batang bersama daun Alternanthera sessilis berkhasiat sebagai obat perut mulas, berak darah, dan obat pening kepala.

Obat perut mulas : dipakat ± 10 gram batang bersama daun segar Alternanthera sessilis, dicuci, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Daun dan batang Alternanthera sessilis mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol.

.

PAKIS HAJI (Alsophila glauca (Bl.) J. SM.)

Botani

 

 

Sinonim

:

Alsophila contaminans Wall.

Cyathea cont Copel.

Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Pteridophyta

Kelas

:

Filicinae

Sub Kelas

:

Filices

Suku

:

Cyatheaceae

Marga

:

Alsophila

Jenis

:

Alsophila glauca (Bl.) J. SM.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Pakis haji.

Sumatera

:

Paku ari (Palembang); Paku Simpai, Paku Tunggak (Sumatra Barat).

Jawa

:

Paku Bagedor, Pakis Haji (Sunda); Paku aji, Paku Arjuna (Jawa).

Sulawesi

:

Biung (Makassar).

Maluku

:

Giro (Tidore).

Deskripsi

 

 

Habitus

:

Pohon, tinggi 5 – 15 m.

Batang

:

Tegak, bulat, tidak bercabang, permukaan kasar, bekas tangkai daun tampak menonjol, coklat.

Daun

:

Majemuk ganda, duduk memeluk batang, panjang 2 – 3 m, lebar 1 – 1½ m, tangkai berduri tajam, anak daun halus, tepi bergerigi, hijau.

Spora

:

Kotak spora bulat, di bawah permukaan daun yang sudah tua, terdiri dari dua baris, coklat.

Akar

:

Serabut, coklat tua sampai hitam.

 . 

Gambar 39.  Alsophila glauca (Bl.) J. SM.

Khasiat

Tangkai daun Alsophila glauca berkhasiat sebagai obat sakit perut dan mencret.

Obat sakit perut : dipakai ± 10 gram pangkal tangkai daun Alsophila glauca, dicuci, dipotong-potong, dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih selama 15 menit, setelah dingin disaring.  Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Tunas, daun, dan batang Alsophila glauca mengandung polifenol; daun dan batangnya mengandung flavonoida; di samping itu batang dan tunasnya juga mengandung saponin.

.

LAJA GOWAH (Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.)

Botani


Sinonim

:

Alpinia malaccensis Rosc.;

Catimbium malaccensis L.;

Galanga malaccensis Rumph.

Klasifikasi



Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Zingiberales

Suku

:

Zingiberaceae

Marga

:

Alpinia

Jenis

:

Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.

Nama


Umum/Dagang

:

Laja gowah.

Sumatera

:

Bunglai laki-laki, Bolang, Kepolang, Langkuwas Malaka (Melayu); Saya (Aceh); Seruleu (Gayo); Tugala (Nias); Siga (Palembang); Sesuk, Susuk (Lampung).

Jawa

:

Laja gowah, Raja gowah (Sunda); Kamijara (Jawa).

Maluku

:

Laawase wakan, Laawase (Seram); Lawasa malaka (Ambon); Madamonge (Halmahera); Lawasa malaka, Makui malaka, Madamonge, Duhu (Maluku).

Deskripsi


Habitus

:

Herba tahunan, berdiri tegak, tinggi 1 – 4 meter, tumbuh dalam rumpun yang rapat.

Batang

:

Batangnya merupakan batang semu dan merupakan kumpulan pelepah daun yang menyatu, berwarna hijau muda.  Seluruh bagian tumbuhan ini berbau harum.

Daun

:

Daunnya merupakan daun tunggal berwarna hijau, duduk berseling.  Berbentuk lanset, panjang 40 – 80 cm dan lebar 9 – 12 cm.  Tepi daun rata, pangkal tumpul, dan ujung runcing, pertulangan menyirip.  Permukaan daun bagian atas licin, tetapi permukaan bawahnya berbulu.  Tangkai daun pendek, berpelepah panjang, beralur, berwarna hijau muda.

Bunga

:

Bunga majemuk berwarna putih, tersusun dalam tandan yang muncul dari ujung batang.  Kelopak 3 buah, berlekuk, berwarna putih.  Mahkota berbentuk tabung putih. Ketika mekar tampak bagian ujungnya berwarna merah atau merah jingga.  Brakteola besar, 2 buah, berwarna putih, berbentuk bulat telur dengan ujung runcing, menutup kuncup bunga.  Mahkota 3 buah, bercanga, berwarna putih dengan ujung merah atau merah jingga, panjang sekitar 2½ cm dan lebar lebih kurang 1½ cm.  Labelum (bibir) bunga bagian tepi berwarna kuning, sedangkan  bagian tengah merah jingga dengan bintik-bintik kuning.  Benang sari hanya satu, tegak.  Kepala sari berdiameter 2 – 3 cm, berwarna putih.  Kepala putik berwarna hijau, dengan tangkai putik sepanjang 2 – 3 cm.

Buah

:

Buah buni, bulat, keras, dan berbulu.  Sewaktu masih muda berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi jingga.  Bijinya banyak, kecil, lonjong, berwarna hitam.

Biji

:

Lonjong, kecil, hitam.

Akar

:

Akar serabut berwarna coklat muda.



Gambar 37. Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.

Ekologi dan Penyebaran

Tumbuhan ini menyukai tempat teduh, selain itu juga banyak tumbuh liar di hutan jati, bambu, dan belukar. Tumbuh pada ketinggian sampai 1.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini berasal dari India, kini banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Maluku.

Bagian yang Digunakan

Bagian tanaman yang digunakan adalah rimpang dan buah.

Khasiat

Rimpangnya digunakan sebagai obat bisul dan luka. Di Ambon, rimpang digunakan untuk memelihara tenggorokan, agar suara tetap bagus. Selain itu rimpang juga sering digunakan untuk mengobati sakit perut dan untuk obat kuat.

Buahnya dapat dimakan dan digunakan sebagai bumbu masak atau dikeringkan untuk digunakan sebagai teh. Juga sering dimanfaatkan sebagai sabun dan anti emetikum (mencegah muntah). Kulit buahnya dapat digunakan untuk mewangikan rambut dan cucian.

Laja gowah untuk obat sakit perut dipakai ± 10 gram rimpang segar Alpinia malaccensis, dicuci, diparut, tambahkan air matang ½ gelas dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Daun dan rimpangnya mengandung minyak atsiri yang harum baunya. Minyak atsiri di daun berbeda dengan minyak atsiri yang terdapat dalam rimpang. Kandungan minyak atsiri dalam rimpang ± 0,25%, terdiri dari terpen, “kaneelzuur methyl ester”, dan senyawa-senyawa lain. Minyak atsiri yang berasal dari daun ± 0,16%, mengandung lebih banyak terpen dari pada yang berasal dari rimpang. Selain mengandung “kaneelzuur-methyl ester”, minyak atsiri yang berasal dari daun juga mengandung “allokaneelzuur” yang tidak terdapat dalam minyak rimpang. Rimpang dan buahnya juga mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.

.

Ditulis dalam TANAMAN OBAT. Kaitkata: . 4 Komentar »

WERU (Albizzia procera (Roxb.) Benth.)

Botani

Sinonim

:

Acacia odoratissima Hassk.

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Resales

Suku

:

Leguminoceae

Marga

:

Albizzia

Jenis

:

Albizzia procera (Roxb.) Benth.

Nama

Umum/Dagang

:

Weru.

Jawa

:

Weru (Jawa), Ki hiyang (Sunda), Beru (Madura).

Deskripsi

Habitus

:

Pohon, tinggi 25 – 28 m.

Batang

:

Tegak, berkayu, bulat, kasar, percabangan monopodial, putih kotor.

Daun

:

Majemuk, berganda, berseling, lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3 – 4½ cm, lebar 1½ – 2 cm, pertulangan menyirip, hijau.

Bunga

:

Majemuk, berkelamin dua, di ujung cabang dan ketiak daun, tangkai bulat, panjang ± 15 cm, kelopak bentuk tabling, ujung bercangap, halus, kuning, benang sari silindris, panjang ± 5 mm, putih, kepala sari pipih, kuning, putik bulat, panjang ± 3 mm, kepala putik bulat ± 5 mm, hijau, mahkota kuning, bentuk kupu-kupu, halus, kuning.

Buah

:

Polong, lanset, panjang ± 23 cm, lebar ± 2½ cm, masih muda hijau setelah tua merah.

Biji

:

Lonjong, coklat.

Akar

:

Tunggang, kuning kecoklatan.



Gambar 26. Albizzia procera (Roxb.) Benth.

Khasiat

Kulit batang Albizzia procera berkhasiat sebagai obat sakit perut dan untuk menyamak kulit, daunnya yang masih muda enak dimakan sebagai lalab.

Obat sakit perut : dipakai ± 10 gram kulit batang segar Albizzia procera, dicuci, direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum dua kali sama banyak selang 2 jam.

Kandungan Kimia

Kulit batang dan daun Albizzia procera mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol.

.

DAUN SERIBU (Achillea santolina L.)


Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Asterales

Suku

:

Asteraceae

Marga

:

Achillea

Jenis

:

Achillea santolina L.


Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Daun seribu.

Jawa

:

Daun seribu.


Deskripsi

 

 

Habitus

:

Semak, tinggi ± 60 cm.

Batang

:

Masif, bulat, berbuku, hijau.

Daun

:

Majemuk, menyirip ganda, duduk memeluk batang, ujung bulat atau tumpul, pangkal menyempit, panjang 30 – 35 cm, lebar 1 – 4 cm, hijau.

Bunga

:

Majemuk, di ujung batang, bentuk kerucut, putik menjulang keluar, mahkota lima, putih, bergerigi tumpul, bentuk tabung tiga sampai sepuluh, putih.

Buah

:

Kecil, lonjong, coklat.

Biji

:

Bulat, pipih, hitam.

Akar

:

Tunggang, coklat muda.


Gambar 12.  Achillea santolina L.


Khasiat

Daun Achillea santolina berkhasiat sebagai obat sakit perut pada anak-anak.

Obat sakit perut pada anak-anak : dipakai ± 10 gram daun segar Achillea santolina, dicuci, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring.  Hasil saringan diminum dua kali sama banyak selang 3 jam.


Kandungan Kimia

Daun Achillea santolina mengandung saponin dan flavonoida di samping mengandung minyak atsiri dan akarnya mengandung polifenol.
.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.