PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADHAN

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 30, 29 Juli 2011 M / 28 Sya’ban 1432 H

.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan”.  (HR. Baihaqi)

Pertengahan Sya’ban sudah berlalu.  Ramadhan 1432 H tinggal 2 hari lagi.  Tamu istimewa itu akan datang dan membersamai kamu muslimin.  Mereka yang siap dengan kedatangannya insya Allah akan lebih optimal dalam mengisi Ramadhan 1432 H ini.  Persiapan adalah keniscayaan.  Waktu terus berjalan, tanpa pernah berhenti.  Hari yang berganti hari, bulan yang berganti bulan, dan tahun yang berganti tahun, dalam semua perputaran waktu itu Allah senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita.  Setelah kenikmatan-kenikmatan lainnya dianugerahkan kepada kita tanpa bisa kita hitung jumlahnya, bahkan seringkali tidak kita sadari kehadirannya.  Maka, marilah kita berusaha mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.  Marilah kita bersama-sama berupaya menjadi hamba-Nya yang bersyukur.  Dengan bersyukur kita akan lebih mudah menjadi hamba-Nya yang bertakwa.  Lihatlah bagaimana ketika Rasulullah saw. berdiri begitu lama dalam shalat malamnya hingga kaki beliau bengkak.  Saat Aisyah bertanya dengan menyebutkan keutamaan beliau yang telah dijamin ampunan atas segala dosanya, beliau justru menjawab dengan sabdanya yang mulia : Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?  Jadi, syukur sangat erat kaitannya dengan takwa.  Bahkan keduanya identik.  Tidak ada orang yang mampu mencapai derajat takwa tanpa bersyukur.  Sebaliknya, syukur akan mengantarkan seorang hamba mencapai ketakwaan.  Di antara kenikmatan itu adalah sampainya usia kita di akhir bulan Sya’ban ini.  Sebentar lagi kita akan memasuki bulan istimewa.  Bulan yang penuh dengan keutamaan.  Yakni bulan Ramadhan yang mulia.  Pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap dalam menyambutnya?  Jika para sahabat dan salafusshalih telah mempersiapkan diri dua bulan sebelum Ramadhan tiba, sebagaimana doa yang masyhur, yang mengisyaratkan persiapan ini : “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” (HR. Baihaqi).  “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan” (HR. Ahmad).  Maka kita yang tinggal 2 – 3 hari lagi mengakhiri Sya’ban ini pantaslah jika mengevaluasi persiapan kita menghadapi Ramadhan.  Bagi yang telah siap, alhamdulillah.  Bagi yang belum, kita segera bangkit untuk memenuhi persiapan-persiapan ini.  Setidaknya ada empat persiapan bagi kaum muslimin untuk menghadapi bulan Ramadhan.

Persiapan Pertama adalah Persiapan Ruhiyah.

Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.  Pengokohan aqidah adalah pondasi utama dalam persiapan ruhiyah ini.  Tanpa aqidah yang benar, bisa jadi seseorang justru terjatuh dalam syirik.  Dan kesyirikan selamanya takkan berbuah keikhlasan.  Aqidah yang benar adalah kuncinya.  Karenanya surat di dalam Al Qur’an yang kesemuanya membahas aqidah dinamakan surat Al-Ikhlas.  Membersihkan hati atau tazkiyatun nafs juga hal yang urgen dilakukan dalam menyambut tamu Allah yang istimewa ini.  Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya : “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syam : 9).  Maka dalam waktu 2 hari ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri (muhasabah) apakah penyakit-penyakit aqidah masih menjangkiti diri kita.  Selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu.  Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.  Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.  “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Kedua adalah Persiapan Fikriyah

Agar Ramadhan kita benar-benarefektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah.  Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan.  Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan hukum puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa.  Juga tarawih, i’tikaf, zakat, dan sebagainya.  Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiqq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardhawi, dan lain-lain.  Kita pun bisa mengikuti taklim di lingkungan kita, baik majelis taklim yang diadakan di masjid, di pondok pesantren, maupun tempat-tempat lain.  Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal).  Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar’i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang.  Karena Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama” (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Ketiga adalah Persiapan Jasadiyah

Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik.  Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal.  Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.  Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa.  Rasulullah saw. bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dll.)

Persiapan Keempat adalah Persiapan Maliyah

Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramadhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain.  Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infak, memberi ifthar (buka puasa) orang lain, dan membantu orang yang membutuhkan.  Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakat maal-nya.  Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji Rasulullah saw.  Rasulullah mencontohkan bahwa beliau yang begitu dermawan di hari-hari biasa, bertambah sangat dermawan di bulan Ramadhan mengalahkan angin yang berhembus.  “Rasulullah saw. adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan.  Beliau bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al Qur’an.  Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin” (HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah saw. bertambah hebat ketika bulan Ramadhan.  Ini mengajarkan kepada umat beliau bahwa Ramadhan sebagai bulan yang paling utama dengan pelipatgandaan pahala amal kebajikan hendaklah dioptimalkan dengan memperbanyak infaq dan meningkatkan kualitasnya.

Wallahu a’alam bish shawab

.

LAILATUL QADAR DAN I’TIKAF

Sumber : Shohih Fiqih Sunnah II
Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 36, 03 September 2010 M / 24 Ramadhan 1431 H

.

“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.  Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad Dukhan [44] : 3 - 4)

Para pembaca yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan.  Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah.  Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.  Oleh karena itu, suri tauladan kita — Nabi Muhammad saw. — dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.  Sebagaimana istri beliau, Ummul Mu’minin Aisyah ra. berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya”. (HR. Muslim)

Maka perhatikanlah apa yang dilakukan suri tauladan kita!  Lihatlah Nabi saw. bukanlah malah mengisi hari-hari terakhir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya).  Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti sholat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, dan lain sebagainya.  Renungkanlah hal ini!

KEUTAMAAN LAILATUL QADAR

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya.  Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan.  Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.  Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”. (QS. Ad Dukhan [44] : 3 – 4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul Qadar sebagaimana ditafsirkan pada Surat Al Qadar.  Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. Al Qadar [97] : 1).

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya :

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.  Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.  Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al Qdara [97] : 3 – 5).

KAPAN MALAM LAILATUL QADAR TERJADI?

Terjadinya lailatul qadar di malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabdi Nabi saw. :

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadist dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda :

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa”. (HR. Muslim).

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluj tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab ra.  Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.  Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala.  Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw. :

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa”.
(HR. Bukhari).

Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas.  Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya.  Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak.  Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.  Amin.

DO’A DI MALAM LAILATUL QADAR

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada malam lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita — Nabi Muhammad saw. — sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah.  Beliau ra berkata :

“Katakanlah padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar.  Apa yang aku katakan di dalamnya?”  Beliau menjawab, “Katakanlah : ‘Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fuanni’ (artinya : ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

TANDA MALAM LAILATUL QADAR

  1. Udara dan angin sekitar terasa tenang.  Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda : “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”. (HR. Ath Thoyalisi)
  2. Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
  3. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
  4. Matahari akan terbit pada pagi hari dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.

Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana sehingga matahari itu naik”. (HR. Muslim)

I’TIKAF DAN PENSYARI’ATANNYA

Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf?  Dalam kitab Lisanul Arab, i’tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu.  Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamnya disebut  mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)

Dan paling utama adalah beri’tikaf pada malam hari terakhir di bulan Ramadhan.  Aisyah ra. mengatakan bahwa Nabi saw. biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim).  Nabi saw. juga pernah beri’tikaf di 10 hari terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan Ramadhan (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum Muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i’tikaf.  Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw. biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari).

Wallahu a’alam bish shawab

.

ORANG PUASA SELALU MEMBUAT SEJARAH

Sumber : Buletin Jum’at AL – BINA, 12 Ramadhan 1429 H

.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kami berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertakwa“  (QS. Al Baqarah : 183)

Puasa mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah makhluk sejarah yang berparan aktif dalam pembentukan sejarah kehidupan manusia.  Manusia bukanlah sosok yang tiba-tiba datang dari langit yang kemudian datang ke bumi atau sosok yang datang dari suatu tempat yang tidak diketahui latar belakangnya sehingga kita tak perlu peduli tentang apa yang akan diperbuatnya di masa mendatang, dan bukan pula sosok yang kemudian tanpa jati diri dan dicitrakan dengan mengidentikkan umat Islam adalah teroris sebagaimana yang dituduhkan saat ini.

Semua tuduhan negatif itu mungkin bisa terjadi kalau umat Islam itu tidak memiliki latar belakang sejarah yang jelas.  Umat Islam adalah ummat yang memiliki jati diri dan sejarah yang jelas.  Makanya seseorang itu tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan Islam seandainya perilakunya sangat jauh atau tidak sesuai dengan perilaku standar sejarah ummat Islam di masa lalu.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 183 – 184 Allah SWT berfirman bahwa pewajiban adanya puasa di Bulan Ramadhan ini adalah kewajiban yang telah terjadi sebelum ada.  Anda bisa bermakna dua, pertama anda bermakna masyarakat Rasulullah SAW yang dahulu mendapatkan wakyu Allah SWT saat itu, dan kedua bermakna umat-umat beragama sebelum datangnya Islam, ada agama Yahudi, ada agama Nasrani, yakni agama Yahudi dan Nasrani yang benar mengenal persyariatan puasa, meskipun bentuknya berbeda dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.  Tapi secara prinsip syariat puasa telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ini juga yang mengaitkan bahwa sesungguhnya agama Islam bukanlah agama yang ingin tampil asal beda, tapi agam Islam adalah agama yang siap melanjutkan hal-hal yang positif yang ada pada ajaran-ajaran agama Samawi yang sebelumnya ada.  Karenanya Islam juga melanjutkan agenda Allah yang besar seperti prinsip tauhid (keesaan Allah).  Karenanya Islam juga mengakui ajaran kenabian seperti dalam ajaran agama samawi lainnya.  Islam juga mengakui adanya ajaran kitab suci, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya ahlaq, dan lain-lain.  Yang jelas Islam ini bukanlah agama yang jadi-jadian dan tidak jelas jati diri dan latar belakang sejarahnya.  Atau agama yang asal beda.  Tapi Islam adalah agama yang melanjutkan ajaran-ajaran yang positif yang telah dibawa oleh agama samawi sebelum Islam, yang termasuk di dalamnya adalah ibadah saum di bulan Ramadhan.

Jadi jika minqoblikum di sini diartikan sebagai umat Nabi Muhammad, maka umat Nabi Muhammad (umat Islam) ini adalah yang melanjutkan peran sejarah yang dahulu pernah dilakukan oleh umat sebelum Islam dengan adanya perbaikan-perbaikan karena sudah adanya perubahan-perubahan dari agama tauhid yang dahulu dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, Musa AS, dan Isa AS.  Al Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang yang beragama Yahudi, beragama Nasrani bukan pula orang yang musyrik tapi dia adalah seorang muslim yang muslim, yang hanif, yang lurus.  Begitu juga dengan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS.

Minqoblikum juga bisa berarti kita sekarang ini, saya dan anda semuanya.  Kita telah diwajibkan Allah berpuasa sebagaimana generasi-generasi sebelum kita.  Ayah kita, kakek kita, buyut kita, dan seterusnya.  Maknanya adalah bahwa dinamika tradisi berpuasa melanjutkan peran sejarah itu telah dilakukan oleh mereka-mereka yang hidup sebelum kita sampai kepada Nabi Muhammad SAW.  Apakah yang mereka lakukan?  Dalam konteks perjalanan sejarah mereka tidak pernah menjadikan puasa ini sebagai bulan untuk bermalas-malasan.  Sebab sejarah tidak bisa dibuat dengan bermalas-malasan.  Kalaupun ada adalah sejarah kaum pemalas.

Tidak ada penemuan-penemuan, tidak akan ada produk-produk, tidak ada bisnis yang unggul yang muncul dari para pemalas.  Kita semua akan sukses bisnis, sukses kerja karena oleh mereka yang menghargai waktu, menghargai profesionalitas, menghargai jati diri, mereka yang bekerja secara efektif dan efisien, dan dia memahami bahwa dia bisa menyumbangkan dan menghasilkan sesuatu.  Itulah karakter yang dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa dan bisa membentuk sejarah.

Kemalasan bukanlah karakter yang dimiliki oleh generasi Rasulullah dan para sahabat yang telah berhasil menoreh sejarah yang gilang-gemilang.  Puasa Rasulullah dan para sahabat adalah puasa yang senantiasa diisi oleh pelaksanaan amal sholeh yang berlipat ganda.  Rasulullah dikenal sebagai tokoh yang serba positif, serba simpatik, serba proaktif kepada hal-hal yang membawa kepada kebaikan dan berusaha kuat kepada kebaikan dan berusaha kuat menghalau segala kenegatifan.

Hal ini bisa terlihat dari kesigapan Rasulullah dalam menghadapi rongrongan kafir Quraisy yang terkenal dengan Perang Badar.  Dalam Perang Badar ini terdapat dua peristiwa penting, pertama terjadinya Alfurkon yakni membedakan mana orang yang komitmen dengan kebenaran dan mana orang yang masih komitmen dengan kedzaliman.  Dalam jihad di Badar terlihat jelas mana orang yang komitmen kepada Islam dan mana orang yang memusuhi Islam termasuk kaum munafik yang menjadi musuh dalam selimut.

Yang terpenting dari peristiwa Badar ini memunculkan sebuah ungkapan yang dalam ilmu hadist masih dipertanyakan keabsahannya, sekalipun dalam tingkat makna tidak salah.  “Kita baru saja pulang dari jihad kecil (Perang Badar) menuju jihad yang paling besar yakni jihad melawan hawa nafsu”.  Tidak mungkin ungkapan ini muncul dari para pemalas, karena pemalas mendewakan hawa nafsunya.

Puasa bukanlah hanya sekedar memindahkan waktu makan saja, atau bukan juga kegiatan rutinitas tahunan, tapi puasa ini diharapkan bisa memunculkan kesadaran jati diri bahwa masing-masing diri kita bisa membuat sejarah baru.  Makanya ketika seseorang telah benar-benar mampu melawan hawa nafsunya maka ia akan mampu meninggalkan kemalasan, dan menghilangkan sifat rakus dalam dirinya dan mampu meninggalkan sifat korupsi yang membuat negeri ini semakin carut marut.  Maka ketika semua ini sifat negatif bisa dihilangkan dengan mengendalikan hawa nafsunya maka pada hakekatnya dia sedang membangun fondasi yang kokoh untuk membuat babak sejarah baru peradaban manusia.

Maka ketika seseorang sedang melakukan puasa di bulan Ramadhan ini berarti dia sedang melakukan jihad besar yakni sedang melawan hawa nafsunya.  Jangan sampai kata jihad ini diidentikkan dengan sesuatu yang menyeramkan saja.  Yang berkembang sekarang seolah-olah jihad itu identik dengan pedang yang terhunus yang menyeramkan.  Kita sebagai makhluk sejarah dimulai oleh ucapan Rasulullah dengan ungkapan kita sesungguhnya sedang melakukan jihad akbar yakni memerangi hawa nafsu.  Makanya orang yang sedang berpuasa pada hakekatnya sedang menyambungkan hubungan dengan dzat Yang Maha Agung, Maha Kaya, Maha Sempurna, dan begitu juga ketika seseorang sedang mengumbar hawa nafsunya pada hakekatnya dia sedang menyambungkan hubungan dengan Syaithan yang serba rendah, serba lemah, dan serba hina dina.  Inilah dua kondisi hubungan yang kontradiktif dan membawa kepada dua konsekuensi yang berbeda.  Orang yang berhubungan dengan yang baik dia akan kecipratan kebaikan dan orang yang berhubungan dengan orang yang jelek dia juga akan kecipratan kejelekannya.

Bila jihad besar melawan hawa nafsu ini bisa dilakukan maka insya Allah akan terbentuklah sejarah peradaban baru membentuk masyarakat madani yang diidam-idamkan.

Kedua, kesadaran untuk membuat sejarah peradaban baru ini juga akan muncul selain dengan jihadun nafs adalah melalui seperti dalam teologi tugas manusia.  Menyimpulkan bahwa sesungguhnya tugas utama manusia itu ada tiga, pertama merealisasikan ubudiyah kepada Allah SWT sehingga hubungan kita sangat dekat dan menjauhi dari godaan syaithan, kedua memakmurkan kehidupan (imaroh), ketiga memunculkan regenerasi bagi umat yang baru (khilafah fil ardi).

Pemahaman sejarah seperti ini akan membawa kita pada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan saat ini adalah akan sangat bermanfaat bagi generasi yang akan datang.  Apa yang kita produksi pada hari ini seharusnya sesuatu yang berdampak positif pada generasi mendatang.  Kalau dahulu Rasulullah SAW dengan aktifitas berislamnya telah mampu memunculkan sebuah karsa dan karya yang luar biasa hebat, ketika beliau telah mampu membebaskan Ka’bah dari belenggu dan lingkaran-lingkaran berhala yang sangat banyak dan terjadi pada bulan Ramadhan pula, sehingga saat kita semua shalat menghadap kiblat/ka’bah yang telah terbebas dari patung itu, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada generasi berikutnya.  Kita bisa membayangkan ketika rasul gagal membebaskan Ka’bah dari berhal-berhala itu, bagaimana kita bisa menimbulkan ketauhidan yang benar-benar kalau shalat saja kita menghadap kiblat yang dipenuhi kemusyrikan.

Setelah berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala, rasul kemudian tidak mengubahnya dari bentuk yang berkaitan dengan kehidupan sosial pada masa itu, kemudian ia berkata kepada Aisyah : Kalaulah bangsamu bukan bangsa yang terlepas dari hubungan kejahiliyahan maka Ka’bah ini pasti akan aku ubah secara total dan akan aku kembalikan kepada aslinya seperti saat pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim AS.  Hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW karena mempertimbangkan sosiologi masyarakat Mekkah saat itu.

Karenanya dalam upaya memunculkan sejarah baru memahami sosiologi masyarakat kita adalah merupakan sebuah hal yang niscaya.  Kita tidak bisa membayangkan apabila kita berusaha memunculkan sejarah baru dalam kehidupan ini, ingin memakmurkan dunia ini, kemudian kita melepaskan diri dari faktor sosial kita, itu merupakan hal yang tidak mungkin.  Upaya kita untuk menyadari bahwa kita punya tugas sejarah bisa dilakukan melalui peran individual kita dengan memunculkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.  Dan itu semua adalah faktor sosial.

Makanya kita khawatir di era reformasi ini, yang sebagian pejabatnya mengatakan tak usah pusing-pusinglah tambah utang saja dan ngutang terus, khan yang bayar nanti bukan kita tapi adalah generasi mendatang.  Itulah pikiran destruktif yang bisa membebani dan menghancurkan generasi mendatang.

Seharusnya negara ini yang kaya raya ini harus sejahtera bukan malahan seperti tikus yang mati di lumbung padi.  Seharusnya kita berpikir seperti negara Sudan, meskipun negaranya diembargo, tapi dia mampu bangkit dan hidup mandiri dan rakyatnya lebih sejahtera.

Puasa adalah training langsung dari Allah SWT untuk mempersiapkan orang-orang yang akan membuat sejarah baru kehidupan.  Berulang kali kita melakukan saum Ramadhan, maka mudah-mudahan pada tahun ini kita bisa memaksimalkan peran sejarah ini.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM. Kaitkata: , . 2 Komentar »

MEMINTAL BENANG PAKAIAN TAQWA DI RAMADHAN

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/13 Agustus 1431 H / 2010 M

.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.  Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.  Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” [QS. Al-A'raaf : 26]

Secara umum ayat ini menjelaskan tentang fungsi esensial dari pakaian yang diwajibkan oleh Allah SWT terhadap seluruh Bani Adam, yaitu untuk menutup aurat yang menjadi pembeda antara manuasia dengan binatang sehingga disimpulkan oleh Al-Qurthubi bahwa ayat ini sekaligus merupakan perintah dan kewajiban untuk berpakaian yang menutup aurat.  Selanjutnya melalui ayat ini juga Allah menetapkan pakaian taqwa yang merupakan sebaik-baik pakaian yang dikenakan oleh hamba-Nya.  ‘Pakaian taqwa’ yang dimaksud oleh ayat ini menurut para ulama tafsir seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab ‘Tafsir Al Qur’an Al-’Azim’ di antaranya seperti yang disepakati oleh Qatadah, Zaid bin Ali, dan Suddi bahwa yang dimaksud adalah keimanan.  Sedang Al-Aufi memahaminya sebagai amal shalih.  Manakala Urwah bin Zubair mendefinisikan pakaian taqwa adalah rasa takut kepada Allah SWT.  Berbeda dengan Ikrimah yang mehamami bahwa pakaian taqwa adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang bertaqwa di syurga kelak.  Seluruh makna-makna di atas ini saling berdekatan dan tidak bertentang yang intinya pakaian yang mencerminkan keimanan, keshalihan, dan rasa takut kepada Allah SWT sesuai dengan makna taqwa itu sendiri.

Dalam konteks Ramadhan, penggalan akhir ayat puasa, ‘agar kalian bertaqwa’ merupakan harapan sekaligus jaminan Allah akan hadirnya pakaian taqwa seorang berima pasca Ramadhan.  Jika diilustrasikan dapatlah dikatakan bahwa selama satu bulan penuh seorang yang beriman ibarat sedang menenun pakaian taqwa dengan benang-bebang amaliah ibadah bulan Ramadhan.  Sehingga dapat dikatakan bahwa iman seseorang masih dalam kondisi telanjang sebelum diberi pakaian, dan pakaian iman tersebut adalah taqwa.

Sebagai contoh misalnya bahan atau benang pakaian taqwa yang bernama ‘imsak (menahan diri)’ dari segala tindakan yang bertentangan dengan ketentuan agama akan melahirkan sikap pengendalian diri, kejujuran, dan anti konsumerisme sehingga pada gilirannya akan memunculkan gaya hidup sederhana seorang yang beriman.  Bukankah pengendalian diri, kejujuran, kedisiplinan, serta
kesahajaan merupakan ujian seorang yang beriman selama ber-Ramadhan yang hasilnya akan diumumkan tepat pada tanggal 1 Syawal; apakah sifat dan sikap tersebut masih dominan atau kembali menjadi pribadi yang selalu dikalahkan oleh nafsu dan syahwat.

Kondisi lapar dan dahaga dalam waktu yang relatif lama dengan segala konsekuensinya akan melahirkan rasa kepedulian sosial yang tinggi.  Demikian juga, seorang muslim tetap memiliki semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari dalam kondisi lapar dan haus merupakan simbol akan etos kerja dan daya tahan seorang muslim terhadap seluruh godan kehidupan.

Ibadah sholat tarawih dan ibadah-ibadah yang hadir di bulan Ramadhan akan meningkatkan keimanan dan ketauhidan seseorang terhadap Allah.  Bahwa seluruh amal ibadah tersebut ia lakukan semata-mata dengan semangat ‘imanan wahtisaban’.  Sahur dan berbuka puasa bersama yang kerap dilakukan bersama keluarga dan saudara sesama muslim merupakan simbol dari kasih sayang dan keharmonisan ukhuwah di antara sesama orang beriman yang pada hakikatnya merupakan buah dari keimanan mereka.

Demikian benang-benang yang dirajut selama bulan puasa untuk menghasilkan pakaian taqwa, pakaian yang harus dikenakan oleh setiap orang beriman dimana pun dan kapan pun mereka berada.  Jangan sampai kita merusak atau merobek pakaian taqwa yang kita tenun tersebut pasca Ramadhan, seperti yang diilustrasikan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya : “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai” (QS. An-Nahl : 92).  Wanita dalam ayat ini digambarkan oleh Imam Al-Qurthubi sebagai wanita jahil yang bernama Rithah binti Amru bin Ka’ab yang identik dengan mereka yang merusak kembali kebaikan yang telah dengan susah payah diperjuangkan setahap demi setahap.  Sungguh perbuatan yang sangat bertentangan dengan nilai Ramadhan yang seharusnya tetap mempertahankan dan memelihara pakaian yang indah tersebut setelah berakhirnya Ramadhan.

Masih tersisa beberapa hari ke depan sampai pada malam puncaknya yang bernama ‘lailatul Qadar’ yang merupakan cermin dari puncak prestasi yang dapat ditorehkan oleh seorang yang beriman di hadapan Allah SWT.  Ia rela mengalokasikan  segenap waktu, harta, dan jiwanya untuk mendapatkan keutamaan malam tersebut dengan memaksimalkan potensi ubudiyah yang dimilikinya..

Wallah a’lam bi ash shawab

.

RAMADHAN : SAATNYA MENGUBUR SEKULARISME DAN MENEGAKKAN SYARIAH ISLAM SECARA TOTAL

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 518/Th. XI/1431 H

.

Ramadhan adalah bulan agung.  Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula.  Apalagi kedatangan Ramadhan cuma setahun sekali.  Keagungan Ramadhan diisyaratkan oleh sejumlah nash Al Qur’an maupun As Sunnah, baik secara langsung maupun tak langsung; di antaranya saat Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhan-lah Al Qur’an Mulia diturunkan (lihat QS. Al Baqarah [2] : 185).  Karena itu, kaum Muslim menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan Al Qur’an’ (syahr al Qur’an); selain karena di bulan inilah kaum Muslim lebih banyak  lagi membaca Al Qur’an dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.

Selain itu, di bulan Ramadhan pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS. al-Qadar [97] : 1), yang banyak dirindukan oleh kaum Muslim.  Karena itu, kaum Muslim pun
menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan keberkahan’ (syahr[un} mubarak); selain karena di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga ratusan kali lipat untuk setiap amal shalih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.  Rasulullah saw. pun bersabda :

"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan.  Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya.  Di bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.  Di bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan". (HR. An-Nasa'i dan Al-Baihaqi).

Karena itu, layaknya kedatangan 'tamu agung' seorang Muslim yang cerdas tentu akan melakukan persiapan yang optimal --- dengan mempersiapkan bekal iman, ilmu, maupun amal shalih --- dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan ini.  Tentu amat mengherankan jika kedatangan sesuatu yang agung hanya disambut dengan persiapan yang ala kadarnya, dengan sambutan yang biasa-biasa saja, tanpa ekspresi kegembiraan sama sekali.

Dengan persiapan iman, ilmu, dan amal shalih, saat Ramadhan tiba setiap Muslim tentu akan siap untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan ragam amal shalih : shaum, qiyamul lail, tadarus al Qur'an, bersedekah, mendatangi kajian-kajian keilmuan, meningkatkan aktifitas dakwah, dan melakukan banyak amal shalih lainnya.  Semua itu dilakukan tentu dalam rangka semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Hakikat Taqarrub illa Allah

Di dalam sebuah hadits qudsi, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda, bahwa Allah SWT berfirman :

"Tidaklah hamba-Ku ber-taqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada menunaikan kewajiban yang telah
aku perintahkan kepadanya.  Hamba-Ku selalu ber-taqarrub kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya"
. (HR. Al-Bukhari).

Berdasarkan hadits qudsi ini, hal yang paling utama yang bisa mendatangkan cinta Allah SWT bagi seorang Muslim adalah melakukan semua kewajiban, termasuk di dalamnya meninggalkan semua keharaman; kemudian dibarengi dengan bersungguh-sungguh mengerjakan banyak amalan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang makruh dan subhat (Ibn Rajab al-Hanbali, I/25).

Menurut Abdur Ra'uf al-Minawi, yang dimaksud kewajiban dalam hadits di atas mencakup fadhu 'ain maupun fadhu kifayah (Abdur Ra'uf al-Minawi, I/515).

Di antara kewajiban terpenting sekaligus terbesar atas kaum Muslim adalah menegakkan hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam) dalam seluruh aspek kehidupan; baik dalam tataran individual, sosial, maupun negara.  Alasannya jelas, sebagaimana menurut al-Minawi di atas, kewajiban dalam Islam ada dua.  Pertama : fardhu 'ain (kewajiban individual) seperti shalat, shaum, haji, menuntut ilmu, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain.  Kedua : fardhu kifayah (kewajiban kolektif), seperti membentuk jamaah yang beraktifitas mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar serta mendirikan Khilafah (membaiat seorang khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Namun sayang, bukan hanya di bulan Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, kebanyakan kaum Muslim hanya ber-taqarrub dengan menunaikan kewajiban-kewajiban individualnya saja plus beberapa perkara sunnah.  Adapun fardhu kifayahnya mereka tinggalkan.  Buktinya saat ini jauh lebih banyak kaum Muslim yang tak peduli terhadap tidak diterapkannya syariah Islam dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka dibandingkan dengan mereka yang peduli dan mau berjuang untuk menegakkannya.  Padahal, hanya dengan melaksanakan semua kewajiban (baik fardhu 'ain maupun fardhu kifayah) --- tentu dengan meninggalkan semua keharaman --- itulah setiap Muslim benar-benar bisa dikatakan sebagai orang bertakwa, sebagai 'buah' dari puasa yang dia lakukan selama bulan Ramadhan.

Hakikat Taqwa

Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sebagai salah satu bentuk aktifitas taqarrub kepada Allah SWT., pada akhirnya memang diharapkan dapat mewujudkan ketaqwaan pada diri setiap Muslim :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa". (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Menurut al-Jazairi, farasa “agar kalian bertaqwa” bermakna : agar dengan shaum itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Al-Jazairi, I/80).

Saatnya Mengubur Sekularisme

Jika ‘buah’ dari puasa adalah taqwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT tidak hanya di bulan Ramadhan saja; juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata.  Ketaqwaan kaum Muslim sejatinya terlihat juga di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun, juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka.

Sayang, faktanya yang terjadi malah sebaliknya.  Pertama : Setelah Ramadhan, kaum Muslim — yang sebelumnya berusaha ber-taqarrub kepada Allah SWT untuk meraih taqwa dengan puasa dan seluruh amal shalih yang mereka lakukan — justru kembali jauh dari Allah SWT dan kembali melakukan ragam kemaksiatan kepada-Nya.  Banyak wanita Muslimah yang kembali memamerkan auratnya, padahal saat Ramadhan mereka menutupnya rapat-rapat.  Banyak masjid kembali sepi, padahal pada saat Ramadhan ramai dikunjungi.  Acara-acara di televisi kembali menampilkan acara-acara berbau pornografi/pornoaksi, padahal selama bulan Ramadhan mereka menyiarkan acara-acara religi.  Banyak tempat-tempat maksiat dibuka kembali, padahal selama Ramadhan ditutup.  Penguasa dan banyak pejabat kembali melakukan korupsi dan mengkhianati rakyat, padahal selama Ramadhan mungkin mereka berhenti dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut.  Bagi orang-orang semacam ini, tentu puasa tak ada artinya.  Inilah yang diisyaratkan Baginda Nabi saw. :

“Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa pun selain rasa laparnya saja”. (HR. Ahmad).

Kedua : Setelah Ramadhan, sekularisme (pengabaian agama [syariah Islam] dari kehidupan) tetap mendominasi kehidupan kaum Muslim.  Setelah Ramadhan, tak ada dorongan dari kebanyak kaum Muslim, khususnya pada penguasanya, untuk bersegera menegakkan hukum-hukum Allah SWT secara formal dalam segala aspek kehidupan melalui institusi negara.  Bahkan di antara mereka ada yang tetap dalam keyakinan, bahwa hukum-hukum Islam tidak perlu dilembagakan dalam negara, yang penting substansinya.  Anehnya, pemahaman seperti ini juga menjadi keyakinan sebagian tokoh-tokoh agama Islam.  Keyakinan semacam ini hanya menunjukkan satu hal : mereka seolah ridha dengan hukum-hukum sekular yang ada (yang nyata-nyata kufur) dan seperti keberatan jika hukum-hukum Islam diterapkan secara total oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan mereka.  Padahal Abu Abdillah Jabir bin Abdillah al-Anshari ra. telah menuturkan riwayat sebagai berikut :

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Bagaimana pendapat engkau jika saya telah menunaikan shalat-shalat wajib, melakukan shaum Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan meninggalkan yang haram, sementara saya tidak menambah selain itu; apakah saya masuk surga?”  Rasul saw. menjawab, “Benar”. (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini, meninggalkan keharaman adalah syarat untuk bisa masuk surga.  Di antara keharaman yang wajib ditinggalkan tentu saja adalah berhukum dengan hukum-hukum kufur.  Apalagi Allah SWT tegas menyatakan bahwa siapapun yang berhukum dengan selain hukum Allah SWT bisa berstatus kafir, zalim, atau fasik (lihat : QS. al-Maidah [5] : 44, 45, 47).

Karena itu, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang kafir, zalim, atau fasik maka tentu kita harus segera menegakkan semua hukum-hukum Allah SWT melalui institusi negara.  Sebab, hanya melalui institusi negaralah hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia — dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, peradilan, keamanan, dan lain-lain — dapat benar-benar ditegakkan.

Karena itu pula, hendaknya seluruh kaum Muslim, khususnya di negeri ini, menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk segera mengubur sekularisme, yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.  Itulah wujud ketaqwaan sejati.  Itulah pula yang menunjukkan bahwa kita benar-benar sukses menjalani puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

artikel terkait :

.

TIP SEHAT DAN BUGAR SELAMA BULAN RAMADHAN

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 32, 06 Agustus 2010 M / 25 Sya’ban 1431 H
.

NIAT PUASA

Motivasi yang untuk berpuasa menyebabkan fisik kita siap untuk menghadapi sesuatu yang diakibatkan oleh puasa tersebut.  Diketahui bahwa kadar asam lambung orang yang niat puasa lebih rendah dari orang yang kelaparan.  Hal ini karena niat (motivasi) puasa menyebabkan penekanan pusat lapar di otak sehingga kita siap menahan lapar sampai waktu berbuka.

TETAP MAKAN SAHUR

Makan sahur penting bagi kita untuk memperoleh cadangan energi dalam melakukan aktifitas keseharian.  Bila tidak sahur seseorang akan mudah menjadi hipoglikemia dimana kadar gula dalam darah turun.  Hal ini menyebabkan tubuh cepat menjadi lesu, loyo, dan mengantuk, bahkan mudah marah.

HINDARI MAKANAN DAN MINUMAN YANG BANYAK MENGANDUNG GULA SAAT SAHUR

Makanan dan minuman yang terlalu banyak mengandung gula akan memacu tubuh memproduksi insulin untuk segera menetralkan kadar gula dalam darah.  Akibatnya rasa lapar akan cepat timbul dan badan pun menjadi cepat lemas dan lesu.  Perbanyak makanan yang mengandung protein tinggi karena protein akan diolah lebih lambat dibandingkan jenis makanan lain.

SEGERA BERBUKA PUASA PADA WAKTUNYA

Segeralah berbuka, dengan kurma atau air secukupnya, kurma merupakan makanan berkarbohidrat kompleks yang baik untuk usus yang kosong dan lebih cepat diubah menjadi energi.  Makan dan minumlah kamu jangan berlebihan (QS. 7 : 31).

BEROLAH RAGA DI BULAN RAMADHAN

Salah satu penyebab cepat lelah ketika puasa adalah kebiasaan yang salah, ramai-ramai berolah raga sehabis sahur.  Waktu yang tepat untuk berolah raga di bulan Ramadhan adalah beberapa jam (1 – 2 jam) menjelang berbuka puasa dan dianjurkan tidak melakukan olah raga yang terlalu berat.

MENJAGA KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SELAMA BERPUASA

Ketika puasa semua kegiatan makan dan minum berhenti total sehingga produksi kelenjar air liur mulut berkurang dan mulut menjadi cepat asam dan berbau.  Karena itu dianjurkan untuk segera menggosok gigi sehabis makan sahur agar sisa-sisa makanan tidak membusuk di rongga mulut.

.

Ditulis dalam KESEHATAN KELUARGA. Kaitkata: , . 1 Komentar »

BERSIAP MENYAMBUT RAMADHAN

Oleh : Ahmad Kosasih, S.Kom.
Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA,
Edisi 32, 06 Agustus 2010 M / 25 Sya’ban 1431 H

.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya.  Pada bulan itu, dibukakan semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan.  Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ahmad, An Nasaai, Al Baihaqi)

Tidak terasa kita sudah berada di bulan Sya’ban.  Kita akan kedatangan bulan yang dinanti-nanti segenap umat Islam sedunia, yaitu bulan suci Ramadhan.  Ramadhan adalah bulan yang paling agung.  Di dalamnya segala keberkahan Allah berikan kepada hamba kesayangan-Nya.  Pada bulan ini, kita diperintahkan menunaikan salah satu rukun Islam keempat, yaitu shaum.  Pada bulan ini, Al Qur’an diturunkan untuk pertama kalinya kepada Rasulullah saw.  tepatnya pada 17 Ramadhan.  Pada bulan penuh ampunan ini, pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup malaikat rapat-rapat.  Sedangkan, setan dibelenggu.

Tidak aca cara lain bagi kita sebagai pengikut setia Muhammad saw., selain bergembira menyambut kedatangannya.  Bergembira menyambut Ramadhan adalah representasi keimanan kepada Allah SWT.  Bergembira menyambut Ramadhan merupakan modal awal sebelum mengisinya dengan aktifitas sesuai petunjuk Rasulullah saw.

Rasulullah saw. bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan.  Maka sambutlah kedatangannya.  Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu”. (HR. Ath Tharani).

APA YANG HARUS DIPERSIAPKAN?

Menyambut tamu agung Ramadhan, kita harus menyiapkan berbagai bekal untuk menyemarakkan kehadirannya.  Ilmu, fisik, mental, dan harta harus dipersiapkan.  Agar pada waktu nanti, kita dapat menghidupkan Ramadhan sesuai petunjuk Rasulullah saw.

Rasulullah mensinyalir, banyak kaum Muslimin yang melakukan ibadah shaum hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja.  Tentu saja ini harus menjadi perhatian kita.  Jangan sampai kita pun yang termasuk di dalam golongan ini.  Karena itu, kita harus mempersiapkan diri dengan persiapan terbaik.  Tentu saja, agar kita dapat merengkuh semua pahala yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.  Persiapan-persiapan untuk menyambut Ramadhan dijelaskan dalam uraian berikut.

Pertama, yaitu persiapan ilmu.  Setiap ibadah harus sesuai dengan ilmunya.  Ibadah yang tanpa dasar atau petunjuk Rasulullah akan tertolak.  Karena itu, ilmu mengenai ibadah-ibadah di bulan suci harus kita kuasai.  Perbanyaklah membaca buku seputar keutamaan Ramadhan, hadiri majelis taklim, dan bergaullah dengan orang-orang shaleh.  Insya Allah wawasan kita mengenai Ramadhan akan meningkat.

Kedua, persiapan fisik.  Agar fisik kita sehat dan kuat tentu harus berolah raga yang teratur dan mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik).  Bila perlu, kita melakukan general check up satu atau dua pekan menjelang Ramadhan.  Siapa tahum ada penyakit yang membahayakan kesehatan tubuh.  Selain itu, shaum sunnah sangat baik untuk melatih kekuatan fisik.  Ini penting kita lakukan, agar lambung kita terbiasa kekurangan makanan dan minuman pada siang harinya.

ketiga, persiapan mental.  Melakukan shaum sunnah sebenarnya bagian dari latihan mental.  Tapi, agar mental kita makin kuat, kita perlu menyokongnya dengan kekuatan ruhiyah.  Untuk itu, kualitas ruhiyah harus kita tingkatkan.  Perbanyak tilawah, sedekah, dan aqiyamul lail.  Hindari berbagai aktifitas yang menurunkan kualitas ruhiyah.

Keempat, persiapan harta.  Ramadhan adalah bulan dilipatgandakan pahala.  Pada bulan ini, sedekah yang kita berikan kepada orang-orang yang kurang mampu pahalanya berlipat-lipat.  Karena itu, kita harus memiliki dana khusus untuk menginfakkan.  Selain itu, kebutuhan pokok pada Ramadhan biasanya mengalami peningkatan cukup signifikan, sehingga kita perlu memiliki dana yang mencukupi.  Apalagi, jika memiliki rencana untuk mudik ke kampung halaman, tentu saja dana yang harus kita persiapkan harus besar pula

Setidaknya, itulah empat hal yang perlu kita persiapkan untuk menyambut tamu agung Ramadhan.  Bergembiralah dengan kehadirannya, karena itu bagian dari keutamaan dalam menyambutnya.  Jangan lupa untuk memanjatkan doa. “Allahuma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadhan (Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan)”.

Wallahu a’alam bish shawab

.

Artikel terkait :

HIKMAH IBADAH PUASA

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun III/5 September 1429 H / 2009 M

.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”
[QS. Al Baqarah : 183]


“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
[HR. Bukhari & Muslim]

.

“Jika nafsu lapar, semua anggota tubuh akan kenyang.  Jika nafsu kenyang, semua anggota tubuh akan lapar”.  Ungkapan ini memiliki makna filosofis yang dalam dan ada kaitannya dengan wasiat Luqman al Hakim yang berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut terisi penuh, pikiran akan tertidur, hikmah tidak akan muncul, dan anggota tubuh akan malas melakukan ibadah”.  Jadi, kalimat di atas cukup relevan untuk dikemukakan kembali, terutama berkenaan dengan bulan puasa.

Sebagaimana terungkap, dari segi bahasa, puasa bermakna membentengi dan menahan diri (imsak) atau mencegah.  Dengan demikian kita bisa membayangkan dengan sederhana, bahwa dengan puasa berarti kita harus bertahan untuk menang melawan hawa nafsu dan meruntuhkan kekuatannya yang tersalur melalui pembuluh darah.  Ketika seseorang melihat hidangan makanan yang lezat, aroma menyeruak sampai ke perut atau melalui air tawar yang menari-nari di hadapannya, maka pada saat itu pula seseorang harus menahan diri sampai waktu yang ditentukan.  Puasa berarti pula mencegah kecurangan-kecurangan yang menyebabkan kita gagal meraih pahala.  Dengan puasa, seorang mukmin menunjukkan loyalitasnya terhadap Allah SWT.

Maksud ungkapan “puasa adalah benteng” berarti puasa merupakan pelindung dan penjaga dari kemaksiatan dan dari siksaan di hari akhir.  Puasa merupakan penyucian jiwa, peninggian spiritual, mengajarkan kepada manusia bagaimana mengangkat derajat dari derajat hewan yang kebutuhannya memenuhi perut, makan dan minum, mengajarkan kepada manusia bagaimana meninggikan diri mereka sampai ke derajat para malaikat yang dekat dengan Allah, ibadah dan taqwa kepada-Nya, dan puasa itu sebagai makanan bagi ruh mereka.  Puasa mendidik untuk membiasakan sabar, mengekang hawa nafsu, membiasakan untuk menanggung beban berat, dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini.

Al Bukhary juga meriwayatkan sebuah hadits dari Mali, dari Abu Zanad, dari Al A’roj, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., “Puasa adalah benteng.  Jika salah seorang di antaramu berpuasa, maka jangan berkata-kata kotor, yaitu jangan mengatakan ucapan yang tak sepantasnya diucapkan (karena tak senonoh atau jorok), dan jangan berlaku bodoh, seperti berbuat gaduh, takabur, dan congkak, dan jika seseorang memusihinya atau mengejeknya, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya saya berpuasa, sesungguhnya saya berpuasa’”.

Kewajiban puasa datang di bulan Ramadhan, sebab dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Ramadhan adalah penghulu bulan.  Para ulama mengatakan bahwa Ramadhan adalah tempat orang menuju surga, sebab di bulan ini segala perbuatan baik akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.  Barang siapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dia dibebaskan dari api neraka.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa”. Rasulullah menjawab, “Allah tetap akan memberikan pahala kepada orang yang memberikan makanan, meski hanya berupa kurma, segelas air atau susu yang disedu dengan air”. Kemudian
Nabi saw. menambahkan,
“Ramadhan adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya merupakan kebebasan dari neraka. Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan tersebut, maka dia akan diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya”.

Menurut tinjauan sejarah, puasa merupakan peribadatan (ritual) dan syiar Islam sejak jaman nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad saw.  Ritual ini tetap diwajibkan sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 183.  Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya puasa dan betapa tinggi kedudukannya.  Allah menganjurkan hal demikian bagi setiap umat Islam, tak lain karena dengan puasa, manusia bisa memetik banyak faedah, baik yang bersifat spiritual maupun material.  Menurut Wahbah Zuhaily, ulama Mesir, dalam bukunya Fiqh al-Islam wa al-Adilutah, kenapa syiar puasa tetap dipertahankan oleh Allah SWT sebagai kewajiban manusia dalam setiap generasi umat.  Beliau menuturkan bahwa puasa mempunyai banyak faedah, di antaranya :

Pertama, Puasa merupakan suatu bentuk tebusan bagi dosa dari satu tahun ke tahun berikutnya, karena puasa bisa meningkatkan ketaqwaan.

Kedua, Puasa merupakan madrasah moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji dan berlawan nafsu.

Ketiga, Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah SWT, baik dalam kesendirian maupun keramaian.

Keempat, Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, mendidik kesabaran, menjernihkan akal, menyelamatkan pikiran, menjernihkan akal, menyelamatkan pikiran, dan mengilhami ide-ide cemerlang.

Kelima, Puasa dapat mengajarkan sikap disiplin dan ketetapan, karena puasa menuntut orang yang berpuasa makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan.

Keenam, Puasa dapat menumbuhkan rasa kasih sayang, kepedulian, ukhuwah dan perasaan keterikatan untuk saling tolong menolong.  Sebab, ketika orang berpuasa, dia akan berpikir bagaimana bila keadaan seperti ini terjadi sepanjang hari, seperti yang dialami kaum fakir miskin.  Maka pikiran itu akan mendorongnya untuk mengasihi sesama, terutama orang yang memang sangat membutuhkan.

Ketujuh, Puasa bisa menyertakan orang yang berpuasa dengan orang-orang miskin, yakni dengan ikut menanggung atau merasakan penderitaan yang dialami mereka.

Kedelapan, Puasa bisa menyehatkan.  Badan secara praktis dan memperbaharui kehidupan manusia, yaitu dengan membuang makanan yang telah lama mengendap dan menggantikannya dengan yang baru, mengistirahatkan perut dan alat pencernaan, memelihara tubuh, dan membersihkan sisa makanan yang mengendap.

Dengan demikian, ketika ayat tentang kewajiban puasa ini turun, bukan berarti menjadi suatu beban yang menyengsarakan manusia tanpa hikmah dan menghentikan aktifitas kehidupan.  Namun, puasa adalah perwujudan jihad melawan kelemahan, kepengecutan, dan kemalasan.  Hal ini telah dibuktikan dengan kebenaran sejarah, bahwa peristiwa bersejarah banyak terjadi di bulan Ramadhan dengan hasil kemenangan.  Misalnya Perang Badar, pembukaan Kota Makkah, kemenangan Perang Tabuk, dan lain sebagainya.  Dari Al-Ahnaf Ibnu Qays, dikatakan kepadanya, “Engkau sudah tua renta dan puasa akan membuatmu lemah”.  Al-Ahnaf menjawab, “Saya menyiapkan untuk perjalanan yang panjang, bersabar dalam ketaatan kepada Allah SWT, lebih ringan daripada bersabar atas siksa-Nya”.  Dengan demikian, puasa akan menumbuhkan keutamaan sifat amanah dan ikhlas dalam berbuat, beribadah hanya kepada Allah, bukan karena mengharap pujian atau mencari muka.

Dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia yang masih mengalami krisis multi dimensi ini, kita bisa menggunakan momentum bulan Ramadhan itu sebagai ruang untuk memperbanyak refleksi dan berkaca diri atas apa saja kesalahan-kesalahan yang selama ini telah kita perbuat.  Kemudian, bagaimana kita ke depan bisa bersama-sama mengatasinya dengan lebih baik.

Wallah a’lam bi ash shawab

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.