ADA KAU DI SANA

Dikutip dari : http://wp.me/p1sb3Q-6b
.

Setiap yang hidup menyimpan luka.  Sebagian membiarkannya terbuka dengan kemungkinan terinfeksi atau sembuh dengan sendirinya. Sebagian yang lain menutup luka itu rapat-rapat. Menghindari segala kemungkinan ditemukannya luka itu oleh orang lain. Sayangnya aku bukan satu diantaranya. Aku takut pada infeksi. Namun di lain hal menutup dengan sempurna terasa seperti pilihan seorang pecundang. Aku biarkan tangan dan jariku saja menghadapinya. Kupaksa mereka bergelut dengan kata-kata yang mengisi tiap lembar hidupku untuk kujadikan Cerita Hari Ini.

*

Kusempatkan barang 5 menit untuk mengelus permukaan sampul buku baru di hadapanku. Tidak rata. Tepat, seperti yang kukehendaki. Permukaan yang berelief menurutku dapat memberikan kesan lebih natural. Aku suka menilai-nilai sebuah buku berdasarkan sampulnya. Menurut beberapa teman, kebiasaanku yang satu ini agak berlebihan. Setiap orang memilih buku karena menghendaki isinya, bukan sampulnya. Aku biarkan mereka dengan pendapatnya. Mungkin sensasi yang kurasakan tiap kali menikmati permukaan sampul buku belum pernah mereka rasakan. Tidak apa. Hidup ini terlalu indah untuk sekedar diisi dengan perdebatan panjang tanpa ujung. Bertahan pada pendapat masing-masing. Mencari-cari pembenaran.

Kubuka lembar pertama buku baruku. Wangi kertas menguar dari dalamnya. Terkurung dalam aroma yang mulai menyihir raga, aku menutup buku baruku segera. Mencoba merasakan ketebalannya dengan memainkan ibu jariku padanya. ‘Sreeettt…sreettt’. Tiap lembarnya terkibas dengan cepat dan menimbulkan bunyi. Aroma kertas kini lebih menusuk hidung. Aku menikmatinya dengan perasaan lega bercampur bahagia. Entah kegilaan apa lagi yang akan kulakukan setelahnya.

Dinda pernah merasa tak yakin akan adanya hari esok. Itu terjadi kala dirinya meraba dalam gelap jiwanya. Suwung. Hanya ada warna hitam dimana-mana. Ia sendirian setelah Ananta memutuskan untuk meninggalkannya beberapa hari. Hanya beberapa hari, bukan selamanya. Membiarkan amarah bergemuruh di dada pasangan yang tinggal serumah berbahaya, kata Ananta. Dinda diam. Tak ada kata terucap dari bibirnya kala Ananta melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang telah didiaminya selama lebih dari 5 tahun. Kini Dinda terkurung sepi. Malam semakin larut kala kelebatan percakapan terakhirnya dengan Ananta bergema di telinganya.

“Mengapa kau setuju waktu itu?” Ananta membuka percakapan.

“Kau tahu orang tuaku meminta…,” Dinda memberi jeda pada kalimatnya sebelum akhirnya melanjutkan,”juga karena pandangan orang tentang wanita yang sudah matang secara usia untuk menikah. Aku tak punya alasan yang dapat diterima untuk mengatakan tidak. Pada orang tuaku, juga pada keadaan.”

Ananta menyetujui pendapat istrinya dalam diam. Mencoba mengingat-ingat keputusannya sendiri waktu itu.

“Aku percaya cinta dapat tumbuh perlahan. Asalkan masing-masing mampu memberikan ruang di hidupnya untuk orang yang telah dinikahinya,”ujar Ananta kemudian. Kata ‘telah dinikahinya’ terdengar ditelinga Dinda sebagai ‘terlanjur dinikahinya’.

Ada kau di sana. Itu sebabnya buku baru di tanganku ini terasa lembab. Bukan tanpa alasan aku mengatasi kegugupan ini dengan meminum kopi. Pagi hari, ditemani embun yang menggelayut pada helai daun, biasanya aku hanya meminum teh hangat. Kehangatannya kubutuhkan untuk menetralisir pagi yang dingin. Yang dinginnya persis seperti saat ini. Yang tidak akan kuhadapi dengan gelegak adrenalin yang terpacu oleh kafein dalam kopi. Tapi kali ini aku sedang tak ingin seperti biasa.

“Sudahkah kau menemukannya, Dinda?”

Suara hati Dinda mempertanyakan keberadaannya.

“Aku menemukannya pada diri suamiku. Ananta,” Dinda menjawab dalam hati. Memutuskan untuk berdamai dengan keadaan adalah pilihannya. Karena Dinda tahu, Ananta akan memilih keputusan yang sama. Mereka dilahirkan untuk patuh pada kebahagiaan yang dibentuk oleh pandangan orang lain. Orang-orang terdekatnya, teman bermain, tetangga yang menyayangi dan memperhatikan mereka.

Untuk cinta yang dapat ditumbuhkan perlahan, Dinda dan Ananta kembali bersatu. Melupakan hari-hari dimana mereka mempertanyakan keputusan masing-masing akan pernikahan mereka. Ananta memiliki Santi. Dinda memiliki Anto. Tapi itu dulu, waktu keduanya belum menjadi seperti kehendak orang lain.

Aku membelai bagian depan dan belakang buku baruku. Tak ingin terburu-buru meluangkan waktu untuk membacanya. Nanti akan tercipta banyak waktu untuknya. Buku baru yang benar-benar baru keluar dari percetakan. Cetakan pertama. Entah yang lain sudah tiba di toko buku atau belum.

Semenjak Ananta kembali, Dinda lebih sering melamun. Tak banyak yang dapat dikerjakannya di rumah. Pembantu ada untuk menyelesaikan hampir semua pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian hingga memasak. Ia hanya menyisakan kamar tidur Dinda dan Ananta untuk dibenahi setiap harinya oleh Dinda. Membersihkan ruangan berukuran 4×5 meter hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit. Dinda terbiasa meluangkan waktu dari pagi hingga malam di kantornya. Namun Dinda ingin membiarkan cintanya pada Ananta tumbuh perlahan dengan meninggalkan pekerjaannya. Hatinya ada di sana. Di pekerjaannya. Tapi Dinda yakin akan terbentuk hati yang lain di sini, di rumahnya.

Dan benar adanya. Perlahan tapi pasti hatinya menjadi bentuk yang berbeda. Tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak ‘menjadi ibu rumah tangga’, tidak juga patuh pada dogma ‘wanita karir’. Ia mencari bentuknya sendiri. Melalui metamorphosis yang sulit dijelaskan, Dinda mendapati hatinya dengan bentuk yang baru. Ia mulai meraih segala peralatan yang dapat digunakan untuk menulis. Apa saja. Pensil, bolpoin itu awalnya. Merasakan kenikmatan tersendiri saat menorehkan kata demi kata diatas kertas adalah tahapan yang dirasakan olehnya sebelum akhirnya bentuk yang lebih utuh didapatnya. Bentuk itu adalah sebuah dunia baru. Yang tanpa sadar Dinda ciptakan lewat untaian kata. Rumah baru. Perabotan baru. Tetangga baru. Lingkungan baru. Suami baru.

“Apa arti ideal bagimu?” seorang teman pernah menanyakannya padaku. Aku mengangkat bahu. Sejak memutuskan untuk menulis novel aku lebih banyak diam. Terkadang merenung, terkadang membiarkan kehampaan menguasaiku.

“Hati-hati dengan dunia sepimu. Aku bukan orang yang percaya takhayul, Din, aku hanya…” kututup mulut temanku itu dengan telunjuk. Aku tak ingin mendengar apa pun kelanjutan kalimatnya. Cukup batinku mencoba meraih kekhawatirannya. Merangkulnya perlahan, menenangkan pikirannya. Kemudian mengajaknya memasuki duniaku yang baru. Dunia yang kuciptakan di buku baruku. Buku dimana ia ada di dalamnya. Kekasih yang hanya ada di hati itu kini dapat kuhadirkan dalam hidupku. Kekasih yang dengannya hanya ada sikap dan pendirianku sendiri. Bukan keinginan orang lain. Bukan pula keputusan yang didasarkan pada norma yang dipegang teguh oleh lingkungan di sekitarku. Ia ada dan berjiwa tanpa sedikitpun mengganggu ikatan pernikahanku dengan Ananta.

Untukmu yang hidup di alam pikiranku, kupersembahkan sebuah rumah padamu. Buku baruku…

(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)
.

AH SEANDAINYA …

Dikutip dari : http://wordsondesert.wordpress.com/2012/04/12/ah-seandainya/
.

Aku hanya memintanya untuk membeli magnet. Tugas yang sangat ringan, menurutku. Entah menurutnya. Rambut hitam panjangnya yang semula dibiarkan tergerai kini terikat dengan karet gelang yang diambil dari dalam tasnya. Dari kejauhan kulihat beberapa hasil karya yang sudah siap untuk dipajang. Beragam artikel dengan tema Cerita Hari Ini.

Aku memandang matanya sambil menerima sejumlah magnet berbentuk bulat dari telapak tangannya. “Lama sekali,” ujarku spontan. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku kecewa dengan caranya membantuku. Sama sekali tidak. Tapi rupanya ia salah sangka.”Maaf, Kak, angkot yang biasa mangkal di depan tidak ada. Saya tadi jalan kaki ke toko buku terdekat. Juga tidak ada. Penjaga toko memberi tahu saya kalau magnet semacam ini bisa dibeli di pasar. Ada toko aksesoris yang menjualnya di sana. Jadi…” Kisahnya panjang dan detil. Sampai-sampai ia ceritakan juga ekspresi wajah penjaga toko-toko yang disebutnya. Kesalku berubah jadi tawa. Tawa kami berdua.

Lama kuperhatikan gerak tubuhnya tiap kali ia berusaha membantuku menuntaskan pekerjaan menyusun artikel yang akan menghias majalah dinding sekolah kami. Wajahnya yang begitu sederhana dan kulit coklatnya yang dibiarkan terpanggang sinar matahari setiap hari. Tas sekolah yang terlihat ketinggalan zaman itu juga hanya berisi barang-barang sederhana. Ia pernah memperlihatkan padaku. Tanpa ada maksud apapun kecuali memenuhi persyaratan sebagai anggota tim penyusun majalah sekolah. Perpeloncoan kecil memintanya untuk menuliskan apa saja yang mengisi tas sekolahnya dan untuk apa benda-benda tersebut dibawa ke sekolah. Ia bercerita sedikit tentang buku paket yang tidak lengkap, pensil dan bolpoin murah pemberian tetangga di hari ulang tahunnya dan tak ketinggalan majalah bekas yang dibelinya di toko loak. “Tidak bisa beli yang baru,” katanya. “Yang penting ada bacaan,” lanjutnya.

Aku tahu sepulang sekolah ia selalu membantu ibunya berkeliling kampung menjajakan gorengan hangat dari rumah ke rumah. Sementara pagi hari sebelum berangkat sekolah, tugas berbelanja ke pasar menanti untuk dikerjakan. Mungkinkah ia ikhlas melakukan itu semua? Tidakkah ia menginginkan kehidupan glamor nan santai teman-teman satu sekolahnya? Aku sering dibuatnya bertanya dalam hati. Aku tahu seandainya tugas membeli magnet itu aku serahkan ke Ratri, gadis populer di kelasku yang hanya mengikuti kegiatan ini agar bisa terlihat rajin menulis di mata Rendra, kakak kelas yang dipujanya, pasti lain ceritanya. Mana mau Ratri berlari-lari ke toko buku yang terdekat sekalipun. Atau juga seandainya tugas tadi aku serahkan ke…ah, sebenarnya aku tak ingin membandingkannya dengan Nina, kekasihku. Kami telah berpacaran selama 2 tahun. Segala kekurangan yang ada pada Nina telah mampu aku terima sebagaimana ia menerima kekurangan pada diriku.

“Siapa sih namanya?”

“Murti…Murtiningsih lengkapnya”

“Udah, segitu aja?”

“Iya, emang kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa sih… Bener ya dia jualan gorengan kalau sore?”

“Katanya begitu. Bantuin ibunya”

“Hebat juga ya dengan jualan gorengan bisa sekolahin anaknya sampai SMU”

“Namanya juga buat anak, Nin. Apa sih yang nggak dilakukan orang tua?”

Nina kerap mengajakku membicarakan Murti. Semula aku pikir ia merasa tersaingi dengan kehadiran Murti di sisiku. Semenjak Murti bergabung dengan tim redaksi majalah sekolah, ia kerap mengunjungi kelasku untuk berbagai hal. Ketangkasannya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus mulai dari menulis artikel hingga pekerjaan kasar yang dihindari banyak teman membuat ia menjadi daya tarik tersendiri di sekolah. ‘Coba kalau tidak ada Murti waktu itu’,’Untung deh Murti cepet bikinnya’ atau ‘Murti lagi dimana ya enak tuh kalo dibantuin dia’ adalah sederetan kalimat yang sangat lazim terdengar di telingaku terhitung enam bulan ia bergabung di tim yang aku pimpin. Meski berbagai cemooh juga singgah dalam waktu bersamaan seperti ‘Gimana nggak rajin wong kalau malas nggak bisa makan’ dan lain sebagainya. Aku tahu Murti tak pernah menanggapi, meski ia sempat menggoreskan pedih hatinya lewat puisi-puisinya. Puisi yang justru makin mendongkrak eksistensinya di komunitas majalah sekolah.

Murti telah menjelma menjadi magnet yang dapat menarik sekian banyak kekaguman yang berakhir pada tumbuhnya inspirasi-inspirasi kami dalam menulis. Magnet bukan sekedar benda yang harus ia dapatkan pada hari pertama dirinya bergabung. Magnet adalah eksistensi dirinya sendiri.

“Kamu kenapa, Andre? Kok pucat?” Nina memperhatikan wajahku yang kurang tidur dengan cemas.

“Nggak apa-apa, nanti kalau udah istirahat cukup juga biasa lagi. Semalam…”

“Semalam begadang susun artikel yang mau dimuat buat majalah bulan ini ya? Sama siapa? Murti lagi? Kan dia andalanmu, andalan semua orang!” Nina memotong kalimatku dan menyerocos tanpa mau disela. Pada akhirnya dugaanku benar. Magnet yang dimiliki Murti berhasil menumbuhsuburkan rasa iri pada beberapa orang, tak terkecuali Nina. Nina yang awalnya menerima Murti sebagai perpanjangan tangan dalam membantu semua kegiatanku sekarang merasakan kehadiran Murti sebagai benalu yang menghambat pertumbuhan hubunganku dengannya.

“Aku cuma kurang istirahat Nina. Biasa kok begini. Lagian semalam udah sempat dibuatin wedang jahe anget,” sengaja kucukupkan kalimatku. Melanjutkannya sedikit saja dengan menyebutkan nama pembuat wedang jahe itu berarti memukul genderang perang dengan Nina.

Sudah lebih dari seminggu Nina menolak aku ajak pulang sama-sama. Saat pulang sekolah tanpa Nina terasa janggal bagiku. Celotehnya mengisi kekosongan waktuku. Namun, menanyakan sebab keengganannya pulang bersamaku terasa begitu ironis. Nina dengan protes-protesnya tentang kehadiran Murti di kehidupanku tak pernah aku tanggapi. Aku mencintai Nina dengan caraku sendiri.

“Mau aku traktir makan siang?” kataku suatu hari pada Nina yang entah bagaimana berada tepat di depanku di sebuah siang yang terik di kantin sekolah yang hampir kosong. Seolah ada yang mengatur kehadirannya di dekatku, aku memupuk rasa percaya diri untuk memulai pembicaraan. Kebekuan antara aku dan Nina harus segera kuakhiri. Tekadku sudah bulat.

Nina belum ingin bicara denganku rupanya. Ia berlalu dari hadapanku sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena sentuhan tanganku di bahunya.

“Sebentar saja. Aku mau bicara,” ucapku lirih.

Nina masih saja membisu meski tubuhnya kini menghadap padaku. Matanya enggan menatapku. Aku mulai merasakan hawa dingin merasuki tubuh. Meski pada kenyataannya telapak tanganku begitu berkeringat. Aku menggeser sebuah bangku untuk Nina dan mematut bangku yang lain lagi di dekatnya untuk kududuki. Suhu udara yang kian tinggi mengalirkan peluh di keningku.

“Mau bicara apa sih? Buruan, aku udah ditunggu jemputan nih!” kalimat yang keluar dari mulutnya begitu singkat dan tidak bersahabat.

“Aku mau…minta maaf”

“Minta maaf untuk apa?” pertanyaannya begitu menusuk perasaanku. Nina rupanya meminta aku membunuh ego seorang laki-laki yang hampir tidak pernah mengakui kesalahannya ini. Mungkin yang ingin dikatakan sesungguhnya adalah,”Akhirnya kamu bisa melihat kesalahan di pelupuk matamu, Andre.”

“Oke. Begini. Maaf untuk tidak mengejarmu dan memohon-mohon padamu untuk pulang bersamaku dua minggu terakhir ini,” ucapku tegas dengan mengandalkan ego yang masih tersisa.”Kalau kedekatanku dengan Murti selama ini mengganggumu, aku punya alasan untuk itu. Ibu Murti, Nin. Ia-lah alasan utamanya.”

Nina memperlihatkan gesture tubuh yang berbeda. Ia terlihat melepas urat kaku di wajahnya.

“Ibu Murti menitipkan anaknya padaku untuk dijaga…”

Tanpa dapat kuduga sebelumnya, Nina bukannya makin menginginkan kelanjutan kata-kataku tapi malah berbalik memunggungiku dan berlari menjauh.

“Nina! Aku belum selesai bicara!”

Tak ada pilihan kecuali berlari mencoba menggapainya kembali. Sebelum sempat meraihnya, aku melihatnya menutup hidung dengan sapu tangan. Nina menahan tangis. Aku seolah lebur dalam kesedihan yang dirasakannya.

Aku tidak ingin meninggalkanmu, Nina. Sungguh. Tugasku menjaga Murti bukan berarti menyisihkanmu dari hidupku. Sampai kapan hatimu mampu menerima kelemahan seorang Andre yang keras hati, yang hidupnya terlalu jauh dari sempurna? Yang memiliki ayah yang tega meninggalkan istri sirinya hidup dari berjualan gorengan? Ibu Murti memintaku untuk menjaga adikku sendiri. Darah daging ayahku juga. Ia adalah magnet yang mendekatkanku pada kewajiban yang telah sekian lama ditinggalkan oleh ayahku, Nin.

Ah, seandainya…

(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)
.

DARI RAGA YANG INGIN MENJADI PENERANG

Dikutip dari : http://wordsondesert.wordpress.com/2012/02/18/dari-raga-yang-ingin-menjadi-penerang/
.

Untuk jiwa tanpa raga di masa lalu,

Rangkaian kata kali ini semoga dapat membuatmu mengerti tentang berbagai hal yang menyeruak dari relung hati paling dalam sebuah masa yang bernama Sekarang.

Lilin yang kau bawa masih terlalu redup, Sayang, untuk sekedar membuka sejenak lorong-lorong sempit yang menjadi batas antara kamu dan aku.  Tapi aku bisa pahami itu. Aku belum pernah memberimu pengertian tentang berbagai peristiwa yang nantinya akan mengiris perlahan ruang waktu yang remang-remang. Ruang yang kini dapat menjadi kian gelap atau terang, tergantung aku dan kamu.

Sayangku, di usiamu yang ke-12, dapatkah kau menghentikan sejenak langkahmu kala paku yang terinjak oleh kakimu bukan berasal dari paku yang terserak di jalan? Ia adalah paku yang mencuat karena sepatu yang kau kenakan sudah memestinya diganti. Tidak apa. Tak ada yang perlu dirisaukan dari sebuah sepatu lama. Ia adalah penanda waktu yang sanggup mengajarkanmu arti sebuah kesetiaan. Begitu juga yang ingin aku bisikkan kali ini. Tentang benda-benda tua, tentang kenangan, dan tentang cita-cita.

Kau tahu hingga kini rumah itu masih berdiri tegak. Rumah kita dulu, dimana timbunan masa lalu kala kau masih mempunyai raga terus saja terserak disana. Aku ingin kau bertanya pada mereka. Tapi sebelumnya buatlah semacam daftar yang berisi ukuran, tingkah laku, dan cita-cita mereka. Jangan tertawa dulu! Jangan mencemooh benda-benda yang seolah tidak membutuhkan oksigen untuk menopang sistem pembakaran di tubuhnya. Aku tahu itu semua salahku! Dan aku ingin kau mengerti bahwa tidak ada penyesalan yang dapat membuatku berhenti berusaha.

Mulailah terlebih dahulu dari ruangan tempat kau biasa mengisi penuh perutmu dengan beragam penganan khas kota kecil di Jawa Tengah itu. Disana semuanya bermula. Perbanyakan sel di tubuhmu dulu tidak dapat terjadi tanpa bantuannya. Jam dinding tua peninggalan Belanda yang berdentang nyaring tiap pukul 12 siang, pastikan kunci pengatur ketepatan kerja mesinnya masih ada di tempatnya. Tanyakan padanya sejak kapan ia menemani rumah itu untuk membantu penghuninya memenuhi janji pada alam semesta. Apakah ia dibeli Opa pada waktu beliau menempati rumah itu, ataukah sebelumnya. Benarkah ia datang bersama kapal layar berbendera Belanda, ataukah ia dibuat oleh disini. Di tanah air ini. Oma hanya bilang usianya sudah lebih dari 20 tahun waktu aku berumur 11 tahun. Ia makhluk antik yang terbiasa memandang seluruh kegiatan yang dilakukan semua penghuni rumah. Ia adalah saksi dimana Oma tiap pagi menyeduh teh hangat untuk diminum oleh ibu, bapak, kakak dan kita. Tidak hanya pagi, tapi juga sore. Saat jarum pendeknya menunjukkan angka 5 yang terkadang menyebabkan dirinya mengeluarkan bunyi dentang sebanyak 5 kali. Aku harus bilang terkadang, karena ada kalanya ia tampak terlalu lelah melaksanakan tugasnya.

Tetangganya adalah sebuah komunitas yang beranggotakan 5 buah kursi dan sebuah meja. Mereka adalah makhluk yang kuat. Seringkali kali diinjak, diduduki, bahkan terkadang dijungkirbalikkan untuk tujuan-tujuan yang sulit dimengerti olehnya. Duduklah sekali lagi di salah satu dari mereka. Rasakan kebahagiaan mereka kala mendengar celoteh kita tentang masakan Eropa yang dimakan dengan pisau dan garpu. Celoteh tanpa arti. Menggelikan sekali mengingatnya. Kita sedang berusaha menirukan cara teman-teman Oma membunyikan mulutnya kala mengasah kemampuan berbahasa Inggris bersama teman-teman seusianya waktu itu. Waktu kita belum tahu tentang tenses serta vocabulary. Semua terdengar seperti desisan yang diselingi kumur-kumur kecil. Oleh karenanya, itu pula yang kita lakukan disela-sela mengiris semur daging layaknya mengiris sepotong sirloin beef steak di waktu makan siang.

Kemudian lemari makan. Aku yakin beberapa stoples kerupuk tua masih tersimpan rapi disana. Stoples seperti mereka kini hanya ada di toko yang menjual alat makan berkelas. Lebih baik tidak berkeinginan untuk membeli stoples semacam itu sekarang. Banyak hal bisa dilakukan dengan uang seharga satu stoples itu saja. Stoples kaca sederhana dengan tutup terbuat dari kaleng yang kuat. Kesederhanaan rupanya memang menjadi barang langka sekarang. Merekalah buktinya.

Ruang keluarga, tempat dimana televisi, satu set kursi dan meja rotan serta lemari berisi album foto kenangan dari seluruh cucu Oma tertata rapi. Kursi dan meja rotan…tempat kita berpura-pura menjadi pramugari dan kadang sebagai penumpang. Tempat selimut-selimut tersandar sebagai atap tenda. Bonek-boneka bertaburan di ruangan itu karena kita menganggap kamar tidur kita tidak lagi asyik dipakai sebagai tempat bermain. Apa saja yang dapat kau ingat tentang mereka. Tulislah menjadi sebuah cerita.

Seperti yang aku bilang di awal tadi, kita dapat menjadikannya makin gelap atau terang, semua tergantung berapa banyak kita mau meluangkan waktu untuk menulis semua kisahnya. Benda-benda yang pernah kuanggap tidak dapat bertutur. Dibalik penolakanku dulu atas kemampuan mereka bercerita, terdapat sekian banyak keinginan dan cita-cita untuk selamanya melihat mereka seperti kali pertama aku melihatnya. Ternyata mereka menginginkan yang berbeda. Barulah aku tahu mereka punya kehendak. Kehendak mereka memintaku untuk menjadi penerang jalan yang akan mereka lalui. Atau, melupakannya saja dalam kegelapan.

Dari titik-titik yang aku sebutkan tadi, bergeraklah kemana kau mau. Catatlah semua yang kau anggap penting diluar yang telah aku sebutkan tadi, yaitu ukuran, tingkah laku dan cita-cita.

Semuanya segera berlalu hanya dalam waktu kurang lebih 5 bulan sejak Sekarang. Aku sudah memutuskan untuk menjadi penerang jalan mereka. Memudahkan segalanya untuk kepentingan bersama.

Mengiringi kepergian mereka…

Melepas jiwa yang pernah mengisiku dan kuabaikan…

Berhati-hatilah mengukir semua kenangan indah di rumah itu. Supaya tidak ada yang terluka bila saatnya tiba.

Waktumu tidak banyak!

Selesaikan tugasmu sebelum pemilik baru rumah itu memintamu dengan hormat untuk melangkahkan kakimu terakhir kalinya disana. Di rumah kenangan kita.

Dari raga yang ingin menjadi penerang…
.

DAG DIG DUG

Suara desau angin malam itu terdengar jelas di telinganya.  Hanya ia yang mendengar.  Orang-orang yang berada di ruang depan dan sekeliling rumahnya disibukkan oleh orkes dangdut yang digelar tepat di depan rumah orang tuanya.  Ia menghuni sebagian kecil dari rumah tersebut.  Tepatnya di sebuah kamar berukuran 3×4 meter.  Kamarnya sendiri yang kini harum semerbak oleh beragam kembang yang ditabur di tempat tidur dan lantainya.

Tiba-tiba jendela kamar yang ditempatinya berderak.  Derak halus yang menyentuh hatinya.

“Hendra, kaukah itu?” Surti berkata setengah berbisik.

Yang ditanya tidak menjawab.  Tiba-tiba, sebuah telapak tangan mencoba meraih bagian dalam jendelanya yang sudah sedikit terbuka.  Sebuah wajah yang dinanti Surti akhirnya nampak dalam keremangan malam.  Surti segera mematikan lampu kamarnya.

“Sur!”

“Iya, aku disini”

“Sudah siap semuanya?”

“Sudah, Hendra.  Kenapa kamu nggak jawab tadi?  Aku sudah dag dig dug menunggumu”

“Bahasamu itu lho, Sur!”

“Lho iya, beneran kok”

“Kita tidak punya waktu banyak.  Segeralah berkemas”

“Sudah.  Tinggal lompat aja kesitu”

“Ya udah, buruan!”

“Aduh, maaf kelupaan ngelepas jarik”

“Ya ampuuuunnn…” Hendra meremas kepalan tangannya.

“Udah nih.  Terima tas ku dulu ya”

Hendra menerima tas berisi seluruh pakaian Surti yang dilemparkan dari jendela ke wajahnya.  Hampir saja Hendra terjatuh.  Entah apa saja yang ada di dalamnya.  Yang jelas, maling juga bisa pingsan kalau dilempar dengan tas seberat ini.

“Kamu ngapain Sur, lama-lama nyangkut di jendela gitu”

“Bukan.  Ini lho…ada yang nyangkut di kepalaku”

“Alamaaaakkk…” Hendra mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.  Tanpa mental baja, mengajak Surti kabur adalah melatih jantung bekerja melebihi kapasitasnya untuk disebut sehat.

Hendra menghampiri Surti untuk melihat lebih dekat apa gerangan yang menghambat gerak Surti kali ini.

“Sur, kamu niat nggak sih pergi sama aku?” ujar Hendra sambil perlahan melepas hiasan kepala Surti yang tersangkut di bagian atas jendela kamar.

“Kalo nggak niat, masak aku sampai mau keluar kamar dari jendela begini?”

“Terserah kamu aja deh” Hendra pasrah.

Biduan dangdut yang sibuk menggoyang-goyangkan pinggangnya itu tidak menyadari dua orang mengendap-endap di belakang panggung.  Ia terlalu sibuk menghibur penonton yang menanti goyangan pemicu syahwatnya yang terkenal di seantero desa.

Tak lama kemudian, kegemparan terjadi.  Seluruh penonton goyang dangdut tiba-tiba disibukkan oleh kegiatan mencari sesuatu.  Pertunjukan dihentikan.  Kabar terakhir yang didengar oleh sang biduan adalah, nyonya rumah pingsan, tuan rumah sibuk memanggil polisi.  Sebagian tamu yang hadir ada yang kebingungan, ada yang sok sibuk menolong nyonya rumah yang pingsan, namun ada juga yang tetap melenggak-lenggok di depan panggung seolah irama dangdut masih mengiringinya.  Mereka adalah golongan anak muda yang sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol murah yang entah dicampur dengan larutan apa.

Surti memandang wajah Hendra yang kelelahan di sebelahnya.  Bis yang mereka tumpangi akan membawa Surti dan Hendra ke Jakarta.  Tanah harapan mereka berdua.  Makin dipandang, wajah Hendra kian tampan di mata Surti.  Surti menyukai Hendra sejak pertama kali mereka bertemu.  Sebagai kembang desa, tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan cinta Hendra, perjaka tampan dari Jakarta, yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan beberapa proyek pemerintah di desa Surti.  Meskipun Surti juga tidak dapat menampik kenyataan bahwa dirinya harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan cinta Hendra.  Tidak terkecuali dengan ibunya sendiri.  Wanita yang melahirkannya ini ingin segera menikahkan dirinya dengan Hendra agar tiap hari dapat berdekatan dengan Hendra di rumahnya.

 

(Ditulis untuk hari kedua #15HariNgeblogFF)
.

Natal di Central Park

Reblogged from my life, my words on desert:

Natal identik dengan berhias diri. Tidak hanya rumah-rumah umat yang merayakan penuh oleh beragam pernak-pernik Natal. Mal-mal pun tak mau kalah dalam memperindah penampilannya menyambut Natal.

Tak terkecuali mal yang saya kunjungi hari ini, tepat di tanggal 25 Desember. Mal yang berada di kawasan grogol Jakarta Barat ini adalah salah satu mal terbesar di DKI Jakarta. Paling tidak bila diukur dari megahnya bangunan yang tampak dari luar.

Read more… 1.014 more words

PESTA KEPIK

.

Ia menatap kagum benda di hadapannya. Berwarna hijau, tinggi menjulang. Sejauh mata memandang tak tampak ujung benda itu. Ia merasa sangat kecil dihadapannya. Tak lama kemudian, sinar matahari masuk melalui celah-celah benda raksasa tersebut. Tubuhnya mulai menghangat. Ingatannya pulih perlahan. Tempat baru dimana ia berada kini mengajaknya untuk menyadari bahwa ia sedang tersesat.

Ia tak berani melangkah. Meskipun dahan yang menjulang tinggi dihadapannya sesungguhnya dapat dengan mudah ia panjat. Perlahan, tidak perlu terburu-buru, pusatkan pandangan ke depan, dan mulailah melangkah. Itu pesan ibunya selalu. Tidak hanya untuknya, tapi untuk kakak-kakaknya juga. Ia ingat suatu kali pernah mencoba mempraktekkan nasihat ibunya itu. Lima langkah pertama membuatnya terlalu bahagia, ia kehilangan konsentrasi lalu jatuh di sebuah genangan air. Sejak saat itu ia belum lagi berani mengulang kegiatan memanjat dahan tinggi.

Di rumah tempatnya tinggal, hampir semua anggota keluarga termasuk sanak saudaranya diberi nama sesuai dengan warna yang mendominasi punggungnya. Ya, kami, keluarga kepik, bangga dengan anugerah Tuhan yang berupa paduan warna indah yang melekat di punggung kami. Pernah sekali waktu ayah bercerita kepada aku dan kakak-kakakku tentang indahnya warna di punggung kami yang rupanya banyak ditiru oleh tanaman dan manusia. Daun dengan permukaan berbulu yang sempat dipindahkan oleh tangan manusia ke dekat tempat tinggal kami memiliki corak bulat-bulat putih diatas warna dasarnya yang hijau kehitaman. Belum lagi beberapa kali ayah melihat dari kejauhan seorang anak manusia dengan pakaian bercorak warna mirip punggung kami. Sayangnya, kebanggaan yang membalut nama masing-masing kepik belum dapat aku rasakan. Sampai saat ini, mereka masih saja memanggilku dengan sebutan Si Kecil. Belum cukup matang untuk mendapat nama berdasar warna punggung, begitu alasan ayah ibuku. Tidak mengapa, asalkan mereka tidak mengaitkan nama panggilanku saat ini dengan keengganan mereka memberiku izin untuk bermain sendiri.

Ia mendengar suara lembut. Bukan, itu bukan suara ibunya memanggil. Itu hanyalah suara daun yang bergeser karena  terinjak. Sebuah benda menginjaknya. Ia mulai cemas. Terbayang kaki-kaki raksasa manusia yang tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk kecil seperti dirinya melangkah dan menghabisi dahan-dahan tempatnya bernaung. Ia memasang pendengarannya lebih tajam. Sambil berusaha berdoa sebisanya.

“Du..du..du..dam-di-dam-di-dam…” Kiki bersenandung sambil menikmati rumput basah yang diinjaknya. Musim hujan telah tiba. Dahan yang semula kering mulai menghijau. Dedaunan yang semula enggan menyapa paginya kini berhasil membuat hidupnya jauh lebih bersemangat. Warna hijau nan segar dedaunan itu membangkitkan selera makannya. Pasti lezat sekali. Tapi kini Kiki sedang membersihkan bagian tubuhnya dengan embun pagi yang membasahi tumpukan rumput yang dilewatinya.

Kiki, ulat kecil yang tengah menanti masa berkepompongnya, paling gemar membasahi tubuhnya dengan tetes embun pagi hari. Kalau saja ia dapat memenuhi keinginannya sendiri, pastilah ia sudah menceburkan diri ke dalam kubangan air yang banyak terdapat sehabis hujan. Tapi Kiki memilih tidak. Ia teringat nasihat ibunya untuk hanya membasahi tubuhnya dengan embun pagi saja. Ulat bukan makhluk yang dapat hidup di air, demikian penjelasan ibunya.

Kiki terus merayap sambil bersenandung di atas rumput basah tanpa mengetahui sesosok mungil dengan tubuh gemetar memperhatikannya dari kejauhan.  Sosok itu memicingkan mata kemudian lama kelamaan bersamaan dengan tubuh Kiki yang makin mendekat, mata yang semula mengecil itu perlahan membesar dan kemudian terbelalak. Kiki tidak menyadari dirinya diperhatikan. Bila saja bukan karena secercah cahaya matahari menimpa tubuh mengkilat makhluk kecil itu.

Kiki memiringkankan kepalanya ke kanan, kiri, kanan, lalu kiri lagi. Mengamati benda mengkilat di depannya. Indah sekali, gumamnya. Benda kecil yang berkilau. Pasti benda ini milik manusia yang tidak sengaja terjatuh disini. Manusia gemar benda berkilau. Itu yang Kiki tahu. ‘Tentunya tidak berbahaya’ gumamnya dalam hati. Kiki mendekati benda itu. Benda itu seperti bergerak perlahan. Bukan, ia gemetar. Kini Kiki ada di jarak yang memungkinkannya untuk mengetahui bahwa benda kecil itu memiliki mata. Sepasang mata mungil yang ketakutan. Kiki iba dibuatnya. Sepertinya benda ini hidup, pikirnya. Kiki mengamati bentuk makhluk di hadapannya. Ia teringat sesuatu. Rasanya tidak asing. Namun makhluk yang mulai tergambar diingatannya itu memiliki warna yang berbeda. Seingat Kiki ia berwarna merah dengan hiasan bulat hitam diatasnya.

“Halo, Teman!” Kiki mencoba menyapa.

“Hhh-ha-ha-ha..lo juga,” ujarnya gemetar.

“Mengapa kau sendirian disini?”

“A-a-a-ku…a-a-a-ku…”

Kiki tahu ia tidak bisa memaksa. Makhluk kecil ini masih ketakutan. Atau mungkin gaya bicaranya memang seperti itu? Atau ia tersesat?

“Namaku Kiki. Tidak perlu takut, aku tidak akan memangsamu,”Kiki berusaha memajang senyum di wajahnya. Semoga ia menganggap senyumku sebagai sebuah tanda pertemanan, harapnya dalam hati.

“Namaku…Si Kecil,”jawabnya.

“Sedang apa kau disini?”

“Aku kehilangan ayah, ibu dan kakak-kakakku”

“Kehilangan? Maksudmu? Mereka meninggalkanmu sendiri disini?”ujar Kiki penuh selidik.

“Emm…tidak,”jawab Si Kecil ragu.

“Lalu?”

“Aku meninggalkan mereka. Aku ingin bermain sendiri”

“Mengapa sekarang kau takut?”

“Aku belum pernah bermain sendiri sebelumnya. Ayah ibuku selalu menemani. Kakak-kakakku juga…tapi…tidak bolehkah aku punya keinginan sendiri…,” Si Kecil mencoba menahan tangisnya.

“Ow..ow..oww…temanku.. Jangan menangis…ada aku disini. Aku pernah punya keinginan sepertimu. Yuk, kita jalan-jalan melihat pemandangan sekitar sambil bercerita. Naiklah ke punggungku. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu lebih tersesat,” Kiki tersenyum memberi semangat Si Kecil yang sedang bersedih. Si Kecil menangkap ketulusan hati Kiki dan mulai melangkah menaiki tubuh Kiki. Belum juga sampai ke bagian atas punggung Kiki, ia berhenti lalu bertanya,”Bagaimana dengan orang tuaku nanti? Mereka pasti mencariku. Bagaimana kalau mereka mencariku disini?”

Kiki menjawab dengan sabar,”Kita hanya sebentar berkeliling… setelahnya aku akan membawamu kembali ke sini.”

“Baiklah,”ujarnya tepat disaat tubuhnya yang mungil telah mendapatkan tempat yang nyaman di punggung Kiki. Kepik mungil yang malang, gumam Kiki. Tentunya ia hanya ingin bermain, Kiki mencoba memahami.

Kiki dengan Si Kecil di punggungnya merayap perlahan keatas dahan tinggi yang menjulang di hadapan Si Kecil kala ia berdiam diri tadi. Dahan yang membuat Si Kecil sadar bahwa dirinya berada di tempat yang asing. Dahan yang melindunginya dari terpaan sinar matahari langsung. Tanpa terasa, tubuh panjang Kiki telah membawanya ke ujung paling tinggi dahan tersebut. Daun yang menjuntai bagian ujungnya sedikit ke bawah menjadi tempatnya dan Kiki melihat-lihat pemandangan sekitar.

“Woww..,”ujar Si Kecil kagum. Ia melempar pandangannya ke kanan dan kirinya, mencoba memandang ke bawah meski awalnya ragu.

Kiki dapat merasakan kebahagiaan Si Kecil memberinya energi tersendiri bagi tubuhnya.  Kenangan akan kenakalannya kala pertama kali pergi meninggalkan orang tua tanpa meminta izin hadir dihadapannya.

Si Kecil belum pernah berada di tempat setinggi ini. Pernah ia melihat ayah dan ibunya mengajak paman dan bibinya memanjat dahan setinggi ini. Tapi ia belum pernah diajak. Bukankah mereka bisa mengajakku di punggungnya seperti ini? Ah, sudahlah, yang penting sekarang ia sudah tahu seperti apa rasanya.

*

Sebentar lagi pesta kepik digelar. Pesta yang sedianya dihadiri lebih dari 30 kepik itu akan berlangsung lebih meriah dari biasanya. Pesta yang diadakan sekali dalam sebulan ini biasanya hanya diramaikan dengan acara makan bersama. Kali ini lain. Komunitas kepik kali ini ingin merayakan pesta dengan tidak biasa. Musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya menyisakan banyak tanaman kering, embun tidak lagi sesegar biasanya, dan tanah yang keras dan pecah-pecah. Kurang lebih seminggu yang lalu, musim penghujan tiba. Komunitas kepik ingin merasakan kebahagiaan ini bersama. Merayakannya dengan sebuah pesta yang meriah.

Pembagian tugas telah dirumuskan 3 hari yang lalu sebagai berikut. Seluruh kepik dewasa bertanggung jawab atas segala persiapan acara mulai dari perlengkapan hingga jumlah dan macam makanan yang tersedia. Kepik remaja bertugas mempersiapkan acara hiburan. Kepik anak dilatih oleh kepik remaja untuk menjadi bagian dari pertunjukan menari dan menyanyi yang akan ditampilkan di penghujung acara.

Kegiatan ini diketuai oleh kepik remaja yang lincah dan terampil bernama Kepik Coklat. Sejak dua hari yang lalu, Kepik Coklat hampir selalu terlihat mondar-mandir di sekeliling tempat dimana pesta akan diadakan. Memeriksa segala persiapan dan bertanya apakah bantuan tambahan diperlukan. Kepik Coklat tidak segan-segan berkonsultasi dengan Kepik Merah-Kuning, sesepuh komunitas kepik, bila diperlukan. Tanggung jawab sebesar ini tidak membuat Kepik Coklat menjadi sombong. Ia mengerti bahwa bagaimanapun juga, kebijaksanaan sang sesepuh komunitas akan selalu diperlukan sebagai bahan pertimbangan.

Tiba saatnya Kepik Coklat memeriksa persiapan pertunjukan menari dan menyanyi yang latihannya diadakan di sebuah lapangan terbuka.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,…,”Kepik Coklat menghitung jumlah peserta latihan.

“Mengapa cuma enam? Mana Si Kecil?”

Enam kepik anak dan satu kepik pelatih diam demi mendengar pertanyaan Kepik Coklat. Mereka saling memandang. Beberapa terlihat benar-benar tidak mengerti, sementara sebagian menundukkan kepala. Sang pelatih, Kepik Kuning, menjadi bagian dari yang menundukkan kepala.

“Ada apa ini?” Kepik Coklat gusar.

“Begini Ketua…,”Kepik Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan,”Sejak kemarin, kami tidak melihat Si Kecil…mmm maksudnya…Si Kecil entah ada dimana…”

Kepik Coklat mengalihkan pandangannya kemudian berkata,”Kepik Merah Muda, dimana adikmu?”

Yang ditanya menunduk lebih dalam, sebelum akhirnya berkata,”Saya, Kepik Biru, dan ayah ibu tidak tahu ada dimana Si Kecil sekarang. Kami sudah berusaha mencari ke mana-mana. Ia memisahkan diri dari rombongan sewaktu kami ajak berjalan-jalan di sebuah padang ilalang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Hari ini, sejak pagi ayah dan ibu berkeliling mencari Si Kecil.”

“Kepik Merah Muda, dapatkah kau mengantarku ke tempat dimana Si Kecil masih ada dalam rombongan kalian terakhir kali? Bisa jadi ia kini dalam bahaya…,”ujar Kepik Coklat tegas.

*

Suara tawa kecil membahana di sebuah padang ilalang yang luas. Kiki telah membuat Si Kecil merasa bahagia berkelana tanpa ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan beristirahat di atas sebuah batu.

“Ki, tahukah kamu kalau perjalanan seperti yang kita lakukan hari ini adalah apa yang aku inginkan selama ini?”pertanyaan Si Kecil memecah keheningan.

Kiki hanya menjawab dengan senyum manis tanda mengerti.

“Aku ingin berkelana seperti ini setiap hari. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang menyuruhku tidur siang, juga memintaku tinggal di rumah dan berlatih menari dan bernyanyi.”

“Apa kau bilang? Berlatih menyanyi dan menari? Tidakkah itu menyenangkan?”Kiki bersemangat mendengarnya.

“Apanya yang menyenangkan? Aku lebih suka bebas begini.”

“Kecil, aku menginginkan apa yang tidak kau inginkan. Tapi kita tidak mungkin bertukar tempat. Tubuhku terlalu besar untuk bergabung dengan teman-teman kepikmu…”

Mereka berdua tertawa membayangkan pernyataan Kiki barusan.

Tanpa terasa, matahari mulai meninggi. Meskipun musim penghujan sudah datang, tidak setiap hari padang ilalang itu diguyur hujan. Tak terkecuali hari ini.

“Ki, aku haus, embun-embun sudah habis menguap siang hari begini…aku juga merasa lapar,”keluh Si Kecil.

“Naiklah ke punggungku,”ujar Kiki,”kita berkeliling sambil mencari makan.”

“Dapatkah kau mencarikannya untukku? Aku lelah sekali…dan lagi sinar matahari begitu menyengat.”

Kiki tertawa mendengar keluhan Si Kecil yang tak berkesudahan.

“Katanya mau jadi pengelana…baru panas sedikit saja sudah mengeluh,”Kiki mengingatkan Si Kecil akan keinginannya.

Si Kecil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Kiki yang lembut, mencoba mendapatkan kehangatan yang berbeda dengan yang biasa didapatnya di lingkungan kepik.

“Ki, sebenarnya, aku mulai rindu pada ibu,”ujar Si Kecil sedih.

Kiki menatap Si Kecil penuh pengertian.

“Aku ingin bersama ibu, Ki, tapi aku tak ingin dilarang bermain sendiri, tak ingin selalu disuruh tidur siang, tak ingin….”

“Kecil, tahukah kau, mengapa saat ini engkau rindu pada ibumu? Jawabannya adalah karena engkau membutuhkan ibumu. Tidak hanya ibumu, Kecil, aku yakin kau juga merindukan ayah dan saudara-saudaramu.”

“Tapi, Ki,” Si Kecil berusaha menyanggah.

“Maukah kau mendengar ceritaku?”ujar Kiki.

Si Kecil mengangguk lemas.

“Dulu waktu kecil, aku tak ubahnya seperti dirimu. Punya keinginan dan harapan yang sama. Betapa aku merasa bosan dengan tempat tinggalku, ingin bebas bermain tanpa diingatkan bahwa waktu istirahat tiba, dan lain-lain yang menurutku aku berhak mendapatkannya.”

Kiki memberi jeda pada ceritanya, menarik nafas panjang kemudian melanjutkan.

“Hingga suatu hari aku mendapati tempat tinggalku kosong dan berdebu setelah kurang lebih 3 hari aku tidak pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya seekor laba-laba kecil terlihat mempersiapkan diri untuk membangun sarang disana, di tempat tinggalku. Aku sedih bukan kepalang, Kecil. Aku pulang karena rindu yang tak terkira pada ayah, ibu dan saudara-saudaraku.”

Si Kecil mendengarkan dengan seksama sambil berusaha menahan tangis.

“Seluruh keluarga ternyata tengah mencariku… tak satupun saudara dan kerabatku tinggal diam demi mengetahui kalau aku sudah tiga hari tidak pulang.”

“Dapatkah kau bertemu dengan mereka akhirnya?”tanya Si Kecil penasaran.

“Aku bertemu dengan mereka…akhirnya.”

Si Kecil menarik nafas lega.

“Tapi sebagian dari mereka sudah tiada…termasuk ayahku. Ibuku luka parah…dan kakakku adalah satu-satunya yang masih hidup dalam keadaan sehat. Ia menjaga dan merawat ibu…”

Si Kecil kembali lunglai mendengarnya.

“Tahukah kau apa yang terjadi waktu aku menemukan mereka dan meminta maaf pada ibu? Tak satupun kalimat menyalahkan keluar dari mulutnya. Ia berucap syukur kepada Tuhan atas kembalinya diriku. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang ia dapat melihatku lagi… Tak lama setelah pertemuanku dengan ibu dan kakakku, ibu meninggal dunia.”

Andai Si Kecil memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk memeluk Kiki, pastilah ia sudah melakukannya saat ini.

Siang yang tak berangin hari itu tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan udara yang rupanya berasal dari kepakan sayap kupu-kupu. Kiki dan Si Kecil terkejut dibuatnya. Kupu-kupu itu terbang mendekat ke arah mereka. Kepanikan merajai dua makhluk yang tengah berbagi kisah itu. Mereka pasrah pada takdir. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Mereka sadar tidak dapat mengimbangi kecepatan terbang kupu-kupu yang melesat ke arah mereka.

Sang kupu-kupu berhenti pada sebuah dahan dan muncullah dua kepik. Yang satu berwarna coklat dan yang lain berwarna merah muda.

“Kakak! Paman!” pekik Si Kecil keheranan bercampur bahagia.

“Kecil, diam disana! Kami akan menjemputmu pulang…,”ujar kepik yang berwarna coklat dengan tegas sambil membisikkan instruksi kepada sang kupu-kupu yang ditungganginya untuk menyelamatkan keponakannya yang tampak putus asa dalam cengkeraman seekor ulat kecil.

“Paman, tunggu! Ini Kiki, Paman! Ia baik hati!,”Si Kecil berusaha berteriak sekuat tenaga agar suaranya dapat mengalahkan suara kepak sayap kupu-kupu yang bersiap-siap melakukan perlawanan pada Kiki.

Terlambat. Suara Si Kecil tak dapat terdengar oleh sang paman yang tengah memegang kendali serangan kupu-kupu yang ditungganginya atas ulat kecil di depannya.

Dan…

“Kepik Coklat, tunggu!!”sebuah suara menggelegar di suasana penuh ketegangan itu.

“Ayah! Awas, ayah jangan disana!”Si Kecil mencoba memperingatkan ayahnya yang berteriak dari atas punggung Kiki mencoba menghentikan laju kupu-kupu yang siap menerkam Kiki.

“Ayaaaahhhh….,”Si Kecil berteriak sebelum akhirnya seluruh pandangannya gelap.

*

Baru kali ini pesta kepik tidak hanya dihadiri oleh komunitas kepik, tapi juga beberapa kupu-kupu dan calon kupu-kupu atau biasa disebut ulat. Kupu-kupu, dengan paduan warna dan sayap indahnya tidak memerlukan banyak asesori tambahan untuk hadir di pesta nan meriah itu. Begitu pula para kepik. Cukup beberapa kepik yang karena kedudukannya dalam komunitas kepik layak mengenakan kalung kehormatan yang terbuat dari kelopak bunga mungil nan indah.

Tak jauh dari keramaian di sekitar meja makan yang ditata rapi dengan beragam sajian, sebuah keluarga kepik tengah berpelukan penuh haru.

“Benarkah ayah dan ibu mendengarkan pembicaraanku dengan Kiki?”

“Benar, Kecil,”jawab ibu sambil membelai anak bungsunya.

“Maafkan Kecil ya… Kecil merasa sangat bersalah.”

Ayah yang masih berbaring di tempat tidur setelah terjatuh dari punggung Kiki tersenyum bahagia kemudian berkata,”Kecil, ayah dan ibu sesungguhnya tidak ingin melarang Kecil bepergian sendiri. Kami hanya mengkhawatirkanmu yang mungkin belum dapat menjaga diri sendiri. Ayah dan ibu bersyukur kau dapat bertemu Kiki yang mampu menjagamu dari mara bahaya.”

“Tetapi, diluar itu semua, kini ayah dan ibu mengerti bahwa sudah saatnya Kecil tidak lagi dipanggil Kecil…”

Si Kecil tertegun mendengarnya.

“Ya. Kami sepakat mulai hari ini kau tidak lagi kami panggil Si Kecil seperti kemarin-kemarin. Kepik Hijau akan menjadi nama panggilan untukmu. Sesuai dengan warna punggungmu yang hijau. Hal ini akan diumumkan di penghujung acara pesta hari ini.”

Ibu menimpali,”Kecil…ups, Kepik Hijau… kami mengerti bahwa ada saatnya seekor kepik kecil akan tumbuh menjadi kepik yang memiliki keinginan sendiri. Saat itu datang, ia akan meminta pengukuhan dari lingkungannya bahwa dirinya memang telah siap melangkah menuju kehidupan yang lebih menantang untuk dihadapi. Semua kepik membutuhkan petualangan, Kepik Hijau. Penggantian namamu kali ini akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri yang mungkin saat ini telah bersarang dan ingin berkembang biak di jiwamu. Kami semua berbahagia melihatmu tumbuh seperti saat ini. Tentang bahaya yang ada di luar sana, ibu percaya engkau dapat memberikan penilaianmu sendiri atas kejadian kemarin.”

Air mata tak henti menetes dari mata Si Kecil yang telah berganti nama menjadi Kepik Hijau. Nama baru segera disandangnya. Kini ia tak lagi seekor kepik labil yang menginginkan kebebasan tanpa tahu untuk apa dirinya mendapatkan itu semua.

Suara riuh terdengar dari pusat kegiatan pesta kepik. Makin meriah saja suasana pesta diluar sana, gumam Kepik Hijau dalam hati. Ia menghampiri kerumunan yang ada di tengah pesta dan mendapati Kiki, temannya disana. Di tengah kerumunan kepik anak-anak yang riang gembira membubuhkan warna di punggungnya.

“Hai, Kecil! Masih ingin menaiki punggungku?” sapa Kiki penuh semangat,”Setelah aku selesai diwarnai, mereka akan mengajakku menari dan bernyanyi.”

Tak ada yang lebih membahagiakan dirinya saat ini kecuali melihat Kiki dengan keceriaannya dan ayah yang tak lama kemudian dapat kembali mengikuti pesta.

Kepik Hijau memandang langit yang mulai berubah warna. Biru langit dengan semburat jingga yang indah seolah dilukis Yang Maha Kuasa untuknya hari itu. Menemaninya melangkah ke cakrawala senja.

Tamat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.