MALU BAGIAN DARI IMAN

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Bina Edisi 14_08 April 2011 M / 5 Jumadil Awal 1432 H

Sumber : www.ikadi.co.id
.
.
.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya”. (HR. Abu Hurairah ra).
.

Mari kita merenungi satu pelajaran yang disampaikan Rasul saw.  Pelajaran yang sejak lama sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, sudah diajarkan oleh para nabi kepada kaum-kaum mereka.  Pelajaran berharga yang merupakan cabang dari iman.  Pelajaran itu adalah pelajaran sikap malu.  Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda : Bahwa di antara wasiat yang disampaikan kepada umat para Nabi terdahulu adalah “Jika Anda tidak malu, maka lakukan apa yang Anda sukai”. (HR. Bukhari).  Wasiat tersebut menggambarkan pentingnya rasa malu.  Bahwa rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia.  Bisa mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa.  Dan bila tidak ada rasa malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya.  Tentunya rasa malu yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya adalah malu untuk melakukan kesia-siaan.  Malu dalam melakukan maksiat dan dosa.  Karena malu yang seperti ini adalah malu yang terpuji (al-hayaa’ almahmuud).

Malu melakukan hal yang sia-sia apalagi dosa merupakan indikasi baiknya seseorang.  Karena malu yang seperti ini adalah bagian dari iman.  Rasulullah saw. menyebutnya secara khusus sebagai bagian dari iman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. : Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya.  Bukan malu untuk melakukan kebaikan.  Karena malu untuk melakukan kebaikan adalah pertanda kelemahan, sebagaimana disampaikan Syekh Bugha dalam Kitab Al-Wafii ketika menerangkan hadits tersebut.  Malu dalam hal ini adalah malu yang tercela (al-hayaa’ al-madzmuum).

Dalam kehidupan sehari-hari kita, tentunya tidak luput dari perasaan malu.  Rasa malu itu timbul lantaran banyak hal.  Apakah malu lantaran status sosial yang rendah, malu lantaran kondisi ekonomi yang lemah, malu lantaran wajah dan fisik yang buruk, dan seterusnya.

Apa yang harus kita sadari adalah, kita harus lebih merasakan malu lantaran kealpaan kita dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.  Kita harus lebih merasakan malu lantaran melakukan hal yang sia-sia.  Malu lantara melakukan maksiat dan dosa.  Malu lantaran menelantarkan kewajiban-kewajiban kita.

Jangan sampai kita malu lantaran kondisi lemah ekonomi kita, tetapi tidak malu dengan kondisi lemah keberagamaan kita.  Jangan sampai kita malu lantaran rendahnya posisi sosial kita, namun kita tidak malu lantaran rendahnya akhlak kita.  Jangan sampai kita malu lantaran buruknya wajah dan tubuh kita, namun kita tidak malu lantaran buruknya ketakwaan kita.  Padahal standar hakiki kemuliaan seorang hamba adalah takwa.  Allah SWT. berfirman : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuraat [49] : 13)

Begitu pula siapa yang memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, jangan sampai kondisi tersebut melupakannya untuk merasa rendah dan diri malu di sisi Allah SWT.  Apa yang menjadi kebanggaan kita adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

Seorang yang kaya tetap tidak dipandang Allag SWT. ketika ia jauh dari akhlak dan ibadah kepada-Nya.  Seorang yang tinggi pangkat tetap tidak mendapat kemuliaan dari Allah ketika ia tidak menghiasi dirinya dengan ketakwaan.  Seorang yang fisiknya bagus seharusnya malu ketika akhlaknya tidak bagus.  Karena fisik, wajah, dan standar duniawi tidak
berlaku di hadapan Allah SWT.  Rasul saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan wajah kalian, tetapi Allah memandang kepada hati kalian. (HR. Muslim)

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana menumbuhkan rasa malu yang terpuji (al-hayaa’ al-mahmuud)?

Pada prinsipnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Wafii syarah Arba’in nawawi, rasa malu dalam diri manusia bisa dibagi dari sisi pertumbuhannya menjadi dua macam, yaitu :

Pertama, rasa malu yang ada secara fitrah (alhayaa’alfithriy).  Rasa ini timbul secara otomatis dalam diri manusia.  Malu untuk melakukan keburukan sebenarnya adalah fitrah manusia.  Karena memang setiap anak manusia itu lahir dalam keadaan fitrah.  Namun rasa malu ini akan dipengaruhi dengan proses selanjutnya.

Kedua, rasa malu yang ditumbuhkan (alhayaa’ almuktasab).  Rasa malu bisa ditumbuhkembangkan dalam jiwa seseorang.  Karena rasa malu merupakan bagian dari akhlak,  dan akhlak adalah sesuatu yang bisa diupayakan untuk tumbuh dalam diri manusia.  Ada satu langkah yang utama dan pertama untuk menumbuhkan rasa malu yang terpuji, yaitu mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah), untuk selanjutnya akan menumbuhkan rasa pengawasan-Nya (muraqabatullah).  Mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah) dapat dilakukan dengan membaca dan merenungi Al Quran untuk mengenal Allah SWT.  Allah SWT. adalah zat yang maha mengetahui, zat yang maha melihat, zat yang maha mendengar, zat yang maha mengawasi, dan seterusnya.  Misalnya Allah SWT. menerangkan sifat-Nya dan mengenalkan diri-Nya dalam ayat : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (Al-An’am [6] : 59)

Wallah a’lam bi ash shawab

 .

MEMUPUK RASA MALU

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-oranng yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan (al-fasad) di muka bumi, hanyalah mereka dihukum mati atau disalib, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat nanti mereka memperoleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Al Maidah : 33 – 34)

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab dan mempunyai norma dan etika tinggi. Bahkan bangsa ini termasuk ke dalam katagori bangsa yang mempunyai peradaban tinggi, terlihat dari muamalah yang dilakukan masyarakatnya yang mempunyai tradisi dan kebudayaan daerah yang berbeda-beda. Mereka mampu hidup rukun, damai penuh rasa saling menghargai, dan toleransi.

Namun di balik itu, harus jujur kita akui bahwa Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang memiliki kecakapan luar biasa untuk melupakan hal-hal yang sebenarnya sangat signifikan mempengaruhi kehidupan kita. Orang menyebut kita bangsa yang mengalami amnesia dengan stadium yang sangat merisaukan. Kalau harus diukur dengan bentangan angka-angka, maka sudah tidak terbilang berapa jumlah peristiwa sejarah berlalu lalang di hadapan kita begitu saja. Peristiwa yang membanggakan atau peristiwa yang meluluh-lantakkan peri kehidupan manusia. Kini mari bersikap jujur, benarkan peristiwa-peristiwa ini telah menanamkan kesan yang kuat dalam diri dan hati sehingga mampu mengubah perilaku buruk kita? Kalau terjadi peristiwa dan tragedi alam, seperti bencana alam Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Balakot dan Mudzafarabad bisa jadi kita akan berkilah, itu semata kodrat dan takdir Allah. Tetapi bagaimana dengan tindakan-tindakan destruktif akibat negative behavior (Su-ul Khuluq) yang dilakukan sebagian anak bangsa. Kini, pilar-pilar demokrasi, politik, hukum, serta sosial akan segera runtuh karena kian derasnya tindak pidana korupsi yang dilakukan secara terang benderan. Tindakan korupsi ini, begitu kuat tertanam, sehingga untuk ~jangankan memberantasnya~ mencegah pun akan kesulitan dilakukan oleh siapapun, apalagi kalau kita hanya berpangku tangan dan cuma mengandalkan tangan-tangan pemerintahan.

Lantas, alat penakut macam apa yang bisa membuat para koruptor jera? Rasanya akan sulit untuk menemukan alat paling tepat untuk mengembalikan para koruptor ke jalan yang benar. Sebab, sedari awal Baginda Rasul sudah mewanti-wanti umatnya soal bahaya korupsi bagi tegaknya pilar-pilar kehidupan. Dari saking bahayanya, Rasulullah mengancam para koruptor salah satu bentuk tindakannya adalah menyuap dan menerima suap ini dengan jilatan api neraka. Ar-Roosyi Wal Murtasyii Finnaar;pemberi suap dan penerima suap sama-sama di neraka.

Asal muasal tindakan korupsi sebenarnya berawal dari rasa iri, dengki, dan hasad terhadap sesama manusia serta adanya rasa hubud dunya (cinta dunia). Seorang pendengki tidak akan akan bisa hidup tenang kalau menyaksikan tetangganya bergelimang karunia. Hitungan detik dalam hidupnya, hanya memikirkan tetangganya dengan hati mendongkol, sementara tetangga yang menjadi obyek sifat irinya dapat tidur nyenyak. Masih bagus kalau dia berharap nikmat serupa tanpa mengusik ketenangan tetangganya. Bila sifat dengki, iri, hasad, dan hubud dunya sudah jauh merasuk ke dalam jiwa, maka harapannya cuma satu; bagaimana caranya nikmat itu bisa hilang atau tetangganya pergi jauh dari lingkungannya. Kalau rasa iri begitu dalam menghunjam dalam dirinya, maka ia akan mengambil cara apa pun agar bisa memperoleh kekayaan. Maka lahirlah tindakan suap, sogok, dan akhirnya melakukan tindak korupsi. Pantaslah kalau Al Quran menyebut perbuatan korupsi ini sebagai al-fasad (yang merusak dan menghancurkan), yang layak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya; seperti dihukum mati, disalib, dipotong tangan dan kakinya dengan timbal balik, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya, sebagaimana dikemukakan dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 33 – 34.

Adalah wajar dan sah-sah saja apabila setiap manusia (apa pun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya) mencintai harta. Ini karena ia merupakan hal yang bersifat fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 14 : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah) binatang-binatang ternak, dan salah ladang, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.

Akan tetapi, hal tersebut akan menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, apabila berubah menjadi hubud dunya (kecintaan yang berlebih-lebihan kepada harta dunia), yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Rasulullah saw. menyebutkan hubbud dunya itu sebagai fitnah terbesar bagi umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim. Beliau bersabda : “Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umatku adalah harta dunia”.

Jika tidak dikendalikan dengan keimanan yang kuat, hubbud dunya ini akan selalu menimpa pada setiap orang, karena memang dunia itu adalah sesuatu yang indah, lezat, dan menggiurkan. Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari, Rasulullah saw. bersabda pula : “Sesungguhnya harta dunia ini adalah ibarat tanaman hijau (yang sangat menarik) dan terasa manis. Harta dunia akan menjadi sebaik-baiknya sahabat bagi kehidupan seorang Muslim, jika mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya dengan cara yang benar pula, seperti untuk menegakkan agama Allah, menolong dan membantu anak-anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalannya).

Dan barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, maka ibarat orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang, dan kelak akan menjadi saksi pada hari kiamat (yang memberatkan)”. Banyaknya kalangan yang jatuh dan bertekuk lutut pada pelukan hubbud dunya, di samping karena indah, manis, dan lezatnya, juga karena ada anggapan bahwa fitnah dan ujian itu hanyalah dengan sesuatu yang dianggap menyakitkan, seperti kelaparan, kemiskinan, kekurangan, dan menderita sakit. Sedangkan, pangkat, jabatan, dan kedudukan, harta, dan ilmu. Di sinilah, ketika alat penakut sudah sulit kita temukan, mendatangkan rasa malu menjadi sebuah awal yang bagus untuk menghindarkan seseorang dari tindak pidana korupsi. Al-Hayaa-u Minal Iman; (Malu sebagian dari Iman). Bagaimana konsep malu menurut versi Rasulullah? “Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT., hendaklah ia menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnyadan apa yang dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur”. Para cerdik pandai selalu mengingatkan kita untuk mampu menjaga rasa malu agar tetap hidup dalam hati kita dengan cara selalu berlapang dada untuk berteman dengan orang yang terbiasa dipermalukan. Seorang sufi besar, Yahya bin Mu’adz pernah menyitir rasa malu ini dengan begitu indahnya. Katanya, “Bagi manusia yang malu di hadapan Allah SWT ketika taat, maka Allah akan malu ketika ia berbuat dosa”.

Mengundang rasa malu yang sudah terlanjur jauh meninggalkan kita, memang tidaklah mudah. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, samapai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Menurut Mu’adz bin Jabal ra., sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. “Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku”.

Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Serba tegas untuk menindas, serba sampai mati untuk memeras bawahannya, serba mungkin memindahkan angka-angka kemiskinan menjadi lembar-lembar dolar ke dalam rekening pribadi. Tidaka adakah rasa malu kepada Allah SWT saat kita sodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah SWT ketika makanan sudah tersaji, tetapi jelas-jelas hak orang lain? Di tengah-tengah kita, rasa maalu tak tersisa lagi. Kalau masih sadar, malu rasanya kita mengundang kembali rasa malu untuk secara suka rela bersemayam dalam hati kita karena ia terlanjur malu menghuni rumah yang menolak kehadiran rasa malu. “Allah malu menyerahkan Buku Induk Akhirat kepada hamba-Nya secara berhadap-hadapan karena isinya cuma daftar dosa-dosa”, kata Imam al Qusyairy an Naishabury dalam bukunya Ar-Risalah al-Qusyairiyah mengutip sebuah Hadits Qudsi.
Apa keuntungan yang bakal kita dapat kalau kita meneguhkan rasa malu? Abu Sulaiman Ad-Darany berkata, “Allah SWT berfirman : Wahai hamba-Ku, selama engkau malu di hadapan-Ku, Aku akan membuat manusia lupa kekuranganmu. Aku akan membuat muka bumi lupa akan dosa-dosamu. Aku akan menghapuskan dosa-dosamu dari Buku Catatan Induk dan Aku tidak akan meneliti amalanmu pada Hari Kebangkitan”. Para koruptor adalah saudara kita juga. Mari kita ingatkan mereka bahwa Tuhan Maha Melihat.

Wallahu a’lam bis shawab

 

Buletin Jum’at Al Bina Edisi 16, 25 Rabiul Akhir 1431 H / 9 April 2010 M
Oleh : Abdur Rahim Yunus

HILANGNYA SIFAT MALU, TANDA TIDAK BERIMAN

Tidak ada cara yang paling ampuh dan jitu untuk menanggulangi segala tindak kejahatan kecuali menumbuhkan iman dan rasa malu. Jika iman dan rasa malu menghiasi setiap orang, maka negara itu dijamin pasti aman.

Di suatu perkambungan miskin, tinggal sebuah keluarga kaya raya. Rumahnya bak istana, meski di sekelilingnya rumah-rumah gubuk dan satu dua rumah katagori sangat sederhana. Selain tuan tanah, keluarga ini juga pedagang sekaligus rentenir.

Suatu hari anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa dipanggil, ditanyai satu per satu tentang permintaannya. Yang pertama minta rumah dan modal kerja. Yang kedua minta mobil.  Yang ketiga minta sekolah di luar negeri. Begitu seterusnya, sampai pada anak yang terakhir.  Si bungsu ini ketika ditanya, dengan tersipu-sipu berkata, “Malu Bu!” Tanpa diduga sang ibu menyahut, “Jika itu yang kau minta, terus terang, ibu tidak punya”.

Kisah ini tentu saja sekedar anekdot. Tapi jangan sampai kita tidak merasa tersindir olehnya, sekalipun kita bukan jutawan. Bukankah, soal hilangnya rasa malu, semua orang punya kemungkinan untuk mengalaminya.

Malu, pada masa kini menjadi barang yang langka. Orang yang punya sifat malu semakin sedikit jumlahnya. Muka-muka tebal semakin banyak dan menyebalkan. Padahal inilah sumber bencana.

Dalam Islam, malu merupakan sumber ajaran moral. Malu merupakan karakter dasar yang membedakan moral Islam dengan lainnya. Rasulullah menegaskan hal ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya semua agama itu punya moral, sedang moral Islam itu adalah malu” (HR. Imam Malik).

Malu merupakan alat kontrol dan pengendali yang ampuh. Orang yang masih punya rasa malu akan berpikir seribu kali jika hendak melakukan sesuatu yang hina. Mereka malu jika sampai perbuatannya diketahui orang lain. Mereka juga malu pada dirinya sendiri. Selanjutnya mereka malu kepada Allah SWT.

Seorang muslim akan selalu menjaga kehormatan dirinya di muka umum. Pertama; ia merasa malu jika mendekati tempat-tempat yang biasa digunakan untuk maksiat. Meskipun tidak berniat melakukan kemaksiatan, siapa yang dekat-dekat bisa terkena fitnah. Sebab bisa saja muncul prasangka pada mereka yang melihatnya berkeliaran di tempat kotor. Kedua; jika terlanjur melakukan perbuatan salah, ia berusaha untuk menyembunyikannya. Ia malu jika perbuatan itu sampai terlihat atau terdengar orang. Dalam dirinya timbul rasa penyesalan yang mendalam, juga permohonan ampunan. Ia merahasiakan kesalahannya serapat mungkin, bahkan kepada Allah ia meminta agar kesalahannya ditutupi.

Sikap sseperti ini bukan termasuk katagori munafik, karena dilandasi rasa malu jika perbuatan jeleknya diketahui orang lain. Berbeda halnya dengan mereka yang sudah tidak lagi punya rasa malu. Mereka terang-terangan melakukan perbuatan maksiat di muka umum. Mereka tidak merasa perlu menyembunyikan, bahkan kadang mencerita-kannya kepada orang lain.

Adalah kesalahan besar, jika seseorang melakukan maksiat di malam hari kemudian menceritakannya keesokan harinya, padahal Allah telah menutupinya hingga pagi. Lebih jahat lagi jika ada rasa bangga menceritakan keburukan itu. Orang seperti ini sudah tidak punya malu lagi.

Malu adalah bagian dari iman. Keduanya merupakan dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Antar keduanya terjalin suatu kaitan yang erat dan utuh. Tidak beriman orang yang tidak punya perasaan malu. Sebaliknya, tiada malu bagi orang tak beriman. Tentang hal ini Rasulullah menegaskan, “Rasa malu dan iman sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya, maka lenyap pula yang lainnya” (HR. Al Hakim).

Antara malu dan iman itu bagaikan dua sisi mata uang. Bila salah satu sisinya kosong, maka bukan uang lagi namanya. Uang tidak bisa dijadikan alat ukur dan tidak laku di pasaran. Bahkan pembawanya bisa dituntut sebagai pelaku pemalsuan.

Rasa malu itu tidak akan berdampak kecuali manfaat. Siapapun yang menyandang perasaan ini, pasti menjadi bagus. Tutur katanya teratur tanpa kata kotor dan kasar. Hati-hati dalam berbuat, karena merasa selalu dalam pantauan. Dinding-dinding tembok seakan ikut memperhatikan, pepohonan yang rindang ikut menjadi saksi, binatang dan makhluk hidup lainnya seakan ikut memandang. Tumbuh perasaan malu kepada alam. Sebenarnya, orang seperti ini tidak saja malu kepada alam, tapi lebih jauh ia malu kepada pencipta alam, Allah SWT. Bagaimana kita tidak malu kepada Allah, sedang kita makan dari kemurahan-Nya, bernafas dengan udara-Nya, berjalan di atas bumi-Nya, dan bernaung di bawah langit-Nya.

Sangat keterlaluan jika ada di antara kita yang tidak malu kepada Allah, sementara nikmat Allah tak ada putus-putusnya dikaruniakan kepada kita. Jika dihitung, tak ternilai banyaknya. Rasulullah berpesan, “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Kami berkata, ‘Alhamdulillah kami sudah merasa malu kepada Allah, wahai Rasulullah’. Selanjutnya Rasulullah bersabda, ‘Bukan begitu, bukan sekedar bicara. Malu kepada Allah yang sebenar-benarnya ialah hendaknya kalian memelihara kepada dan isinya, memelihara perut serta isi kandungannya, memelihara hati dan kebusukannya”.

Malu merupakan sumber kebaikan dan kebagusan. Perasaan malu akan membawa semua orang kepada jalan kebenaran. Rasulullah mempersonifikasikan rasa malu ini dengan indah sekali lewat sabdanya, “Jika rasa malu diumpamakan seorang laki-laki, maka ia bagai seorang laki-laki yang shalih. Sebaliknya seandainya sifat keji itu diumpamakan seorang laki-laki maka ia adalah lelaki jahat” (HR. Thabrani).

Ada hubungan yang jelas antara iman, rasa malu, dan kebaikan. Sebaliknya ada juga kaitan antara hilangnya rasa malu dengan tindak kejahatan. Adapun antara rasa malu dengan kejahatan tidak pernah bisa disatukan. Keduanya selalu bertentangan, bagaikan gelap dengan terang. Jika datang gelap, maka terang menghilang.

Wallahu a’lam.

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM. Kaitkata: , . 1 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.