KISAH UANG SERIBU DAN SERATUS RIBU

Dikutip dari : http://aliefqu.wordpress.com/2012/04/20/kisah-uang-seribu-dan-seratus-ribu/
.

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di bank Indonesia dengan bahan dan alat-alat yang oke.

http://faith4hope4love.files.wordpress.com/2011/01/kisah_uang_100_ribu_dan_seribu.jpg?w=300&h=207&h=207

Pertama kali keluar dari bank Indonesia, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari bank Indonesia, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :

“Ya, ampuunnnn. ……… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan….. bau!

Padahal waktu kita sama-sama keluar dari bank Indonesia, kita sama-sama keren kan ….

Ada apa denganmu?”

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :

“Ya, beginilah nasibku , kawan.. Sejak kita keluar dari bank Indonesia, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk.

Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ……”

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.:

“Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari bank Indonesia itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis.

Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. ”

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :

“Ya. Nasib kita memang berbeda.. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

“Walaupun keadaanku seperti ini, setiap jum’at aku selalu mampir di masjid-masjid dan di tangan anak yatim. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…. Karena itu, aku selalu bersyukur kepada Allah SWT. Aku dipandang manusia bukan sebuah nilai, tapi yang mereka pandang adalah sebuah manfaat….”

Akhirnya menangislah uang seratus ribu karena merasa besar, hebat dan tinggi nilainya tetapi tidak begitu bermanfaat dalam kebaikan selama ini.
.

CANDA INDAH RASULULLAH

Oleh : Zirlyfera Jamil
Sumber : Ummi, No. 08/XX Desember 2008 / 1429 H
.

Rasulullah Muhammad saw. adalah teladan umat manusia.  Semua kata-kata, sikap, dan perilakunya merupakan cermin bagi umat Islam.  Akhlaqnya terjaga dan menyenangkan semua orang yang berada di dekatnya.  Tua, muda, besar, kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, para pejabat ataupun rakyat kebanyakan.  Semua disayang, dihormati, dan diajak bergaul tanpa dibeda-bedakan.

Dalam bergaul, Rasulullah tak pernah berkata dusta, tegur sapanya tak pernah menyakiti bahkan candanya pun berisi kebenaran.  Karena itu, setiap orang yang berhubungan dengan Rasulullah selalu merasa senang dan gembira.  Sebab di sela-sela kesibukannya sebagai Nabi, Pemimpin Umat dan Kepala Negara, canda-canda Rasulullah sering menghibur mereka.

Satu contoh, pada suatu hari seorang perempuan yang dulu adalah pengasuh Rasulullah, Ummu Aiman, meminta tolong kepada Nabi saw. untuk membantunya menaiki seekor unta.  Maka Rasulullah pun mendekatinya dan berkata, “Baiklah wahai Ummu Aiman, aku akan menaikkan dirimua ke atas seekor anak unta betina”.

Ummu Aiman itu terkejut dan sedikit bingung, “Tetapi Rasulullah, apa yang bisa kuperbuat dengan seekor anak unta betina, hewan itu tentu tidak kuat ditunggangi”, jawabnya.

“LIhat sajalah, aku akan tetap menaikkan engkau ke atas seekor anak unta betina”, kata Rasulullah lagi kali ini dengan tersenyum.

“Tapi… tapi… anak unta betina itu tentunya tidak kuat dijadikan tunggangan ya Rasul…”

Lantas Rasulullah membimbing Ummu Aiman mendekati unta jantan yang gagah dan membantunya naik.

“Bukankah setiap unta pastilah anak unta betina?  Begitu juga dengan unta ini”, jelas Rasul sambil menunjuk unta jantan nan gagah itu.  “Maka sekarang naiklah”.

Maka seketika tertawalah Ummu Aiman dan para sahabat yang menyaksikan peristiwa itu.  Sungguh indah kebenaran canda Rasulullah itu.

Pada kesempatan lain, seorang perempuan mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, suamiku tengah sakit.  Dia memerlukan dirimu.  Bisakah engkau menjenguk dirinya?”

Oh, suamimu sakit?  Suamimu itu yang di dalam matanya ada putih-putihnya kan?  Baiklah aku akan ke sana”, kata Rasulullah saw. sambil tersenyum.

Perempuan itu agak keheranan, namun mengingat suaminya tengah sakit dia hanya bergegas kembali ke rumah dan membuka mata suaminya.  Suaminya bertanya dengan keheranan, “Ada apa?  Mengapa kamu meneliti mataku?”

“Rasulullah berkata, di dalam matamu ada putih-putihnya, aku mau memastikannya”, jelas istrinya.

Suaminya tersenyum lebar dan berkata pada istrinya, “Istriku, bukankah semua mata manusia memang ada putih-putihnya?”

“Oh, ya ampun, benar juga ya…” kata sang istri sambil ikut tertawa bersama suaminya mengingat canda Rasulullah tadi.

Begitu juga pada satu hari seorang perempuan tua mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam surga”.

Rasulullah memandang sang nenek dan berkata, “Wahai ummi fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh perempuan tua”.

Perempuan itu lalu menitikkan air mata karena sedihnya.  Tapi segera Rasulullah menjelaskan dengan suara lembutnya, “Neka, tidakkah kamu ingat firman Allah ini, Kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa tidak tersentuh, tetap mencintai jodohnya serta sebaya umurnya“.

Kini sang nenek tertawa lebar mengetahui maksud perkataan Rasul, bahwa kelak setiap orang yang wafat dalam keadaan tua, ketika memasuki surga akan kembali dimudakan tubuhnya oleh Allah Swt.

Begitulah Rasulullah yang kerap bersenda gurau dengan keluarga dan sahabatnya namun tak pernah menyimpang dari kebenaran.  Salam dan shalawat kami padamu ya Rasul….

***

PERTOLONGAN ALLAH

Oleh : Zirlyfera Jamil
Sumber : Ummi, No. 7/XX November 2008 / 1429 H
.
.

Anas bin Malik bercerita bahwa seorang sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abu Ma’laq pernah mengalami peristiwa istimewa yang sangat menakjubkan untuk didengar hingga hari ini.  Peristiwa itu dimulai ketika Abu Ma’laq tengah mengadakan perjalanan dagang ke luar negeri yang saat itu dilakukan dengan mengendarai unta dan kuda melewati lembah dan bukit padang pasir.

Abu Ma’laq saat itu sudah terkenal sebagai pedagang yang tekun dan juga seorang hamba Allah yang taat beribadah.  Dalam keseharian, Abu Ma’laq selalu berusaha menjalankan segala perintah Allah dan berusaha menjauhi semua larangan-Nya.  Maka perpaduan ketekunan dan keshalihan ini membuat Abu Ma’laq menjadi pedagang yang jujur dan karenanya terus menerus beruntung.

Nah, dalam perjalanan kali ini, rupanya seorang perampok sudah mengintai kehadiran Abu Ma’laq.  Dia melihat bahwa Abu Ma’laq membawa banyak harta dan hewan yang kuat.  Begitu Abu Ma’laq mendekat, sang perampok segera menghunus pedangnya dan mengancam Abu Ma’laq.

“Kumpulkan dan berikan seluurh hartamu!” bentak sang perampok.

Dalam kondisi terjepit dan tidak ada teman yang dapat menolong, Abu Ma’laq pun menuruti perintah sang perampok.  Dikumpulkannya hartanya dan diserahkannya pada sang perampok, termasuk hewan tunggangannya.

Abu Ma’laq mengira sang perampok akan membawa harta itu pergi, namun dia justru tampak mendekati Abu Ma’laq sambil tetap menghunus senjatanya.

“Nah, sekarang, aku akan membunuhmu”, kata sang perampok dengan kejam.

Abu Ma’laq terkejut dan berkata dengan geram dan heran, “Bukankah hartaku sudah kuserahkan semua, mengapa kau masih bermaksud membunuhku juga?”

“Hartamu memang sudah menjadi milikku.  Tapi aku tetap akan membunuhmu.  Aku tidak bisa membiarkan seorang korban menjadi saksi hidup”, jawab si perampok dengan keji.

Abu Ma’laq melihat kesungguhan di wajah keras sang perampok.  Maka tahulah Abu Ma’laq tidak ada lagi kesempatan dirinya untuk berkata-kata apa.  Maka dia pun hanya bisa memasrahkan dirinya kepada Allah SWT semata.

“Izinkan aku sholat terlebih dahulu”, kata Abu dengan tenang.

Baik, silakan saja shalat seberapa pun engkau mau”, tantang si perampok sambil setengah mengejek.

Maka Abu Ma’laq pun shalatlah empat rakaat dan di dalam sujud terakhirnya dia berdoa kepada Allah : “Wahai Allah Yang Maha Penyayang, pemilik Arsy yang Maha Mulia.  Wahai yang Maha Berbuat apapun yang Engkau kehendaki, aku memohon dengan keperkasaan-Mu yang tidak tertandingi, kekuasaan-Mu yang tidak terkalahkan, dan cahaya-Mu yang memenuhi seluurh penjuru Arsy, tolonglah diriku wahai Yang Maha Penolong, halangilah kejahatan perampok ini kepadaku”.

Abu Ma’laq mengulang doa itu tiga kali dan mengakhiri shalatnya.  Tak lama kemudian, tiba-tiba saja seorang penunggang kuda yang nampak gagah datang mendekati mereka.  Sepucuk tombak tampak terhunus di atas kepala kudanya.  Dan ketika jaraknya sudah cukup, tombak itu pun menusuk tubuh perampok yang saat itu hampir saja membunuh Abu Ma’laq yang sudah selesai shalat.

Perampok itu terbujur di tanah.  Abu Ma’laq yang keheranan pun bertanya, “Siapa kau?  Dan bagaimana engkau tiba-tiba bisa datang menyelamatkan diriku di tengah padang yang kosong yang jauh dari mana-mana ini?”

Sang penunggang unta pun menjawab.  “Aku adalah malaikat dari langit yang keempat.  Ketika engkau melantunkan doamu pertama kali, aku mendengar di langit bunyi gemeretak seolah-olah dinding langit berderak retak.  Ketika kamu mengulang doa itu untuk kedua kalinya, langit berguncang dan penduduk langit menjadi riuh karena bertanya siapakah orang yang telah memanjatkan doa yang sedemikian dahsyat hingga menggetarkan langit, dan ketika kamu mengulang doa itu untuk
ketiga kali, aku mendengar bahwa doa itu dikeluarkan oleh seorang hamba shalih yang tengah mendapat kezaliman.  Maka aku pun meminta izin pada Alla
h untuk menolongmu dan Allah pun mengabulkan”.

Setelah itu sang malaikat pun berderap kembali ke tengah gurun dan menghilang.  Abu Ma’laq hampir saja tak dapat mempercayai apa yang dilihat dan didengar.  Namun, ternyata itulah yang terjadi.  Dia dan seluruh harta bendanya selamat.  Maka Abu Ma’laq pun semakin meyakini bahwa Allah Maha Mendengar doa setiap hamba-Nya yang shalih.


***

.

ROTI GANDUM ABU THALHAH

Karya : Zirlyfera Jamil

Sumber : UMMI, No. 11/XV April 2004 M / 1425 H.

 

Sepanjang hidupnya Rasulullah saw. tak pernah bergelimang harta dunia.  Bahkan, meski rizki Allah selalu saja hadir dengan berbagai jalan, Rasulullah tak pernah menyimpannya untuk waktu yang lama.  Beliau lebih senang bersedekah dan memilih hidup amat sederhana sebagaimana kebanyakan kaum muslimin.  Tak heran, bukan sekali dua Rasulullah harus menahan lapar karena tak memiliki sedikit pun makanan di rumahnya.

Pada suatu hari, Rasulullah kembali berangkat dari rumahnya dalam keadaan lapar.  Tak ada sepotong roti pun di rumahnya.  Namun, dengan sabar, beliau tetap beranjak menuju masjid untuk mengajarkan Islam pada kaum muslimin.

Di saat Rasulullah tengah mengajar itu, lewatlah sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah al Anshori.  Dia adalah seorang sahabat mulia yang halus dan peka perasaannya.  Dilihatnya Rasulullah yang saat itu mengajar kaum muslimin dengan tekun dan sabar.  Namun, setelah memperhatikan dengan seksama, Abu Thalhah tahu bahwa suara Rasulullah sedikit berbeda, terdengar melemah.

Abu Thalhah mengenal betul sifat Nabinya yang tak pernah hidup bermewah-mewah.  Maka, Abu Thalhah pun menyimpulkan bahwa suara Rasulullah yang terdengar tak seperti biasanya itu tentu dikarenakan beliau dalam keadaan lapar.

Bergegas Abu Thalhah pulang ke rumah dan bertanya pada isterinya.

“Aku mendengar Rasulullah berbicara di masjid.  Suaranya terdengar sedikit lemah.  Apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat disuguhkan kepada Rasulullah?”

“Ya, kita masih mempunyai sedikit gandum.  Akan kuolah gandum itu menjadi roti untuk disuguhkan pada Rasulullah”.

Maka, Ummu Sulaim, isteri Abu Thalhah pun mengolah gandumnya yang hanya sedikit sehingga menjadi sepotong roti.

Begitu roti itu siap, Abu Thalhah membungkusnya dan memanggil seorang sahabat Anas.

“Tolong antarkan roti ini pada Rasulullah, Anas”, ujar Abu Thalhah.  Dia juga mengingatkan Anas untuk tidak berbicara keras-keras karena rotinya hanya ada satu, cukup untuk Rasulullah saja.

Anas pun mengambil roti itu, meletakkannya di balik lipatan bajunya dan menemui Rasulullah di masjid.  Namun, baru saja Anas mengucapkan salam dan hendak berkata pelan kepada Rasulullah, Rasulullah sudah berkata, “Apakah engkau diutus oleh Abu Thalhah?”

“Benar ya Rasulullah”, jawab Anas seraya mengangguk membenarkan.

“Apakah urusan ini soal makanan?”

Anas kembali mengangguk.

“Baiklah.  Kalau begitu, ayo bangkitlah kalian semua.  Kita menuju rumah Abu Thalhah”, kata Rasulullah seraya bangkit berdiri diiringi oleh sekitar 80 jamah masjid yang lain.

Anas sungguh tidak tahu harus berkata apa.  Dia cemas juga mengingat pesan Abu Thalhah yang menyatakan bahwa rotinya hanya ada satu.  Namun, diikutinya juga langkah Nabi ke rumah Abu Thalhah.

“Aduh, bagaimana ini?  Rotinya tak akan cukup untuk semua…” pikir Abu Thalhah yang gugup.

“Sudahlah, Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu”, jawab isterinya berusaha menenangkan.

Di saat mereka sedang kebingungan, Rasulullah beserta rombongan jamaah masjid tiba di depan pintu.  Abu Thalhah segera menyambutnya dan Rasulullah pun masuk ke dalam rumah Abu Thalhah, meninggalkan sahabat-sahabat yang lain di teras rumah.

Di dalam rumah, Rasul berkata pada Ummu Sulaim, “Bawa kemari apa yang tadi hendak kau hidangkan wahai Ummu Sulaim”.

Maka setelah menghangatkan dan membumbui kembali roti yang tadi dibawa Anas, Ummu Sulaim pun menghidangkan roti itu di hadapan Rasulullah.

Di depan roti itu Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa.  Lalu ia berkata, “Panggillah sepuluh orang dari tamu-tamu di depan itu”.

Maka masuklah sepuluh laki-laki dan dipersilakan menyantap hidangan roti yang tersedia.  Setelah mereka kenyang semua, diperintahkan lagi oleh Rasulullah untuk memanggil sepuluh laki-laki berikutnya.  Maka bergantian, mereka pun makan hingga kenyang.

Setiap sepuluh tamu-tamu dari masjid itu selesai makan hingga kenyang, maka Rasulullah terus memanggil sepuluh lelaki berikutnya, hingga kedelapan puluh orang jamaah masjid itu selesai makan dan merasa kenyang.

Abu Thalhah, Ummu Sulaim, dan Anas amat takjub melihat bahwa roti yang terhidang di meja masih tersisa cukup banyak untuk dimakan oleh Rasulullah dan mereka sendiri.

Rupanya setelah didoakan, dengan ijin Allah, Rasulullah mendapatkan mukjizat sehingga sepotong roti yang dihidangkan dengan ikhlas oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaim mampu mengenyangkan seluruh jamaah masjid pada saat itu.  Sungguh Maha Berkuasanya Allah.

.

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: , . 2 Komentar »

PEDAGANG YANG SANGAT BERUNTUNG

Karya : Zirlyfera Jamil

Disalin dari : UMMI, No. 10/XV April 2004 M / 1425 H.

 

Di masa pemerintahan Abu Bakar ra. terjadilah masa paceklik yang berlangsung cukup panjang.  Hujan tak kunjung turun.  Sungai dan pepohonan mengering sementara ternak-ternak menjadi kurus.  Kebun-kebun tiada menghasilkan buah dan sayur, sementara hewan ternak tak dapat diambil air susunya.  Akibatnya, penduduk Madinah mulai terancam kelaparan.

Ketika masa paceklik ini semakin membahayakan kondisi penduduk, sebagian dari warga Madinah mengunjungi Abu Bakar dan mengadukan keluh kesah mereka.

“Wahai Amirul Mukminin, masa paceklik ini sungguh terasa berat bagi kami.  Tanah yang mengering, panen yang gagal, persediaan makanan yang menipis, sementara hujan kunjung turun.  Apa yang dapat kau lakukan hai Abu Bakar?”

Abu Bakar sungguh amat prihatin dengan kondisi rakyatnya.  Namun, beliau sendiri sesungguhnya juga mengalami hal yang sama, tiada lagi memiliki persediaan makanan bagi dirinya dan keluarganya.

“Pulanglah kalian dan bersabarlah”, bujuk Abu Bakar.  “Aku sungguh memohon kepada Allah agar sore ini Dia Yang Maha Kuasa dapat mengangkat kesulitan dari diri kita semua”, doanya pula sepenuh harap.

Sore harinya terdengarlah kabar bahwa kafilah dagang Utsman bin Affan yang baru kembali dari negeri Syam telah mendekati pintu gerbang kota.  Berduyun-duyun masyarakat menyongsongnya dan mata mereka pun terbelalak.  Utsman membawa seribu unta yang penuh dengan perbekalan.  Ada gandum, kismis, minyak, mentega, dan banyak lagi.  Utsman memang seorang pedagang.  Dia biasa membeli barang dagangan di negeri lain untuk dijual di negerinya sendiri.  Tetapi, pada saat rakyat sedang miskin begini, bagaimana mungkin mereka sanggup membelinya?

Para pedagang di kota Madinah tak ketinggalan menyongsong kafilah dagang milik Utsman itu.  Mereka bermaksud membeli dagangan Utsman dan kemudian menjualnya lagi di dalam kota kepada masyarakat.  Tentu saja, mereka berharap dapat memperoleh keuntungan besar.  Bukankah pada saat ini persediaan makanan penduduk telah sangat menipis?  Bukankah hujan tak kunjung turun dan panen telah gagal?  Ini berarti berapa pun harga yang mereka tetapkan, penduduk yang masih memiliki uang dan sedikit harta toh akan membeli juga dagangan mereka untuk mencegah keluarga mereka kelaparan.

Maka mereka pun mendekati Utsman dan melakukan penawaran.

“Hai Utsman, juallah barang daganganmy kepadaku.  Aku akan membelinya dengan memberikan keuntungan dua kali lipat”, kata seorang pedagang.

Utsman menggelengkan kepalanya.  “Sayang sekali, sudah ada yang menawarnya lebih tinggi dari itu”, jawab Utsman.

“Kalau begitu aku menawarkan keuntungan empat kali lipat”, kata pedagang lain.

“Ada yang menawariku keuntungan lebih dari itu”, jawab Utsman lagi.

“Baiklah lima kali lipat”, seorang pedagang lainnya berkata dengan sedikit jengkel, “dan tak akan ada pedagang lain yang bisa melebihi tawaranku itu”.

“Ah, tetapi memang ada yang menawariku keuntungan lebih besar dari tawaranmu”, tegas Utsman lagi.

“Mana mungkin???” para pedagang berseru tidak percaya.  “Di Madinah ini tidak ada pedagang lain lagi kecuali kami, wahai Utsman.  Dan kami tahu tidak seorang pun dari kami telah membuat perjanjian denganmu.  Jadi, mana mungkin ada yang menawar daganganmu lebih tinggi lagi?  Kalaupun ada, katakan pada kami, siapa dia?”

Dengan jernih Utsman pun berkata pada mereka semua, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan akan membalas tiap-tiap kebaikan dengan ganjaran 10 kali lipat.  Maka seluruh daganganku ini akan diberi-Nya keuntungan 10 kali lipat.  Bisakah kalian memberikan hal yang sama padaku?”

“Tentu tidak!  Bagaimana mungkin kami sanggup melakukannya?” jawab mereka.

“Karena itu, persaksikanlah wahai penduduk Madinah, sesungguhnya seluruh perbekalan yang ada di atas seribu untakua ini aku jadikan sedekahku kepada kaum fakir dan miskin di segenap penjuru negeri ini, lillahi ta’ala”.

Hampir saja penduduk kota Madinah yang saat itu tengah kesulitan dengan adanya musim paceklik tidak percaya mendengarnya.  Namun benarlah adanya, Utsman telah menyedekahkan seluruh dagangannya bagi penduduk kota dan mulai membagi-bagikannya.  Maka mereka pun berucap Alhamdulillah dan amat berterima kasih pada kedermawanan Utsman.

Utsman telah memilih berdagang dengan Allah yang menjanjikan keuntungan sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kita lakukan, maka berkahlah perdagangan Utsman dan sungguh ia telah menjadi seorang pedagang yang sangat beruntung.

.

LELAKI SHALEH UNTUK GADIS YANG SHALEHA

Disalin dari  : UMMI, No. 11/XVIII Maret 2007 M / 1428 H.

.

Di suatu masa tinggallah seorang hakim bijaksana yang kaya raya bernama Nuh bin Maryam.  Selain memiliki keshalehan sifat dan perilaku, Nuh bin Maryam juga memiliki keluarga yang sakinah, terpelihara dari fitnah dan perbuatan maksiat.  Istri dan anak gadisnya terkenal pula akan kebaikan hati, keluhuran budi serta ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Karena akhlak mulia, perilaku terpuji dan kekayaan keluarga ini begitu menonjol, banyak laki-laki mengajukan diri untuk menjadi menantu sang hakim.  Namun Nuh bin Maryam menolak mereka, meskipun beberapa di antara mereka adalah kaum bangsawan, kaum hartawan, atau bahkan gabungan keduanya.

Nuh bin Maryam tak mau menikahkan anaknya dengan laki-laki sembarangan.  Ia ingin laki-laki pilihanlah yang menjadi suami anak gadisnya, yaitu lelaki yang shaleh, beriman, dan bertakwa kepada Allah SWT., sehingga anak gadisnya beserta keluarganya kelak bisa mendapat keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

Sementara itu, Nuh bin Maryam memiliki seorang pekerja laki-laki bernama Mubarok.  Tugas utama Mubarok adalah mengelola dan menjaga kebun-kebun yang dimilikinya.  Hingga saat itu, pekerjaan Mubarok memang menunjukkan hasil yang baik.  Kebun-kebun kurma, anggur, dan buah-buahan lain milik Nuh bin Maryam tampak subur dan selalu menghasilkan panen yang berlimpah.

“Ambilkan yang lain Mubarok”, perintah Nuh lagi.

Mubarok pun mengambil serenceng anggur lagi.  Sayang, lagi-lagi anggur itu tidak enak dimakan, agak pahit rasanya.  Nuh menjadi keheranan dibuatnya.

“Ya ampun Mubarok, sedemikian banyak buah di kebunku, kenapa engkau ambilkan yang masam dan pahit begini.  Mengapa tidak kau pilihkan dulu yang manis sebelum membawakannya kemari?” tanya Nuh bin Maryam.

“Maaf Tuan, tetapi saya tidak mampu membedakan mana buah yang manis, mana yang getir, dan mana yang masam”, jawab Mubarok.

“Subhanallah, bukankah engkau sudah lama menjadi pengelola dan penjaga kebunku?  Bagaimana mungkin engkau tidak tahu mana pokok buah yang menghasilkan buah yang manis dan mana yang tidak?” Nuh berkata lagi.

“Tetapi Tuan, saya memang tidak pernah mencicipi buah-buahan di kebun”, sahut Mubarok.

“Kenapa begitu?” ucap Nuh semakin heran.

“Karena demi Allah, bukankah Tuan hanya meminta saya menjaga dan mengelola kebun Tuan dan tidak meminta saya untuk memakan buah-buahan di dalamnya?  Maka saya lakukan tugas itu tanpa pernah berpikir untuk mengkhianati amanah yang diberikan kepada saya”, tegas Mubarok dengan sungguh-sungguh.

Nuh bin Maryam tertegun mendengar ucapan pekerja laki-lakinya itu.  Dia juga begitu kagum mendengar kejujuran dan keshalehan perilakunya.  Dimana lagi bisa ditemui
orang yang begitu amanah dan takut pada dosa kecuali pada diri orang-orang yang bertaqwa?

Tiba-tiba saja Nuh teringat pada anak gadisnya dan sebuah pikiran pun terlintas dalam benaknya; bagaimana kalau ia nikahkan Mubarok dengan anak gadisnya?  Maka Nuh pun pulang dan membicarakan hal tersebut pada istrinya.  Istrinya pun setuju asalkan anak gadis mereka menyetujuinya.

Ketika Nuh bertanya seraya menjelaskan pada anak gadisnya perihal perilaku pekerja mereka yang bernama Mubarok, sang anak gadis pun menjawab bahwa ia tentu saja bersedia menikah dengan seseorang yang  telah diketahui baik akhlaknya dan shaleh
perilakunya.

Begitulah akhirnya anak gadis Nuh bin Maryam kemudian dinikahkan dengan pekerja kebun mereka, Mubarok.  Dan ternyata pilihan ini terbukti merupakan pilihan yang tepat.  Keluarga Mubarok hidup dalam bingkai keshalehan dan ketaqwaan.  Mereka kaya namun dermawan.  Mereka berilmu dan rajin mengamalkan ilmunya.  Mereka banyak bersyukur atas segala nikmat dan selalu bersabar setiap kali mendapat musibah.  Dan dari penikahan ini kemudian lahir seorang anak laki-laki yang dinamai Abdullah bin Mubarok, seorang laki-laki yang di kemudian hari menjadi seorang ulama besar yang terkenal karena ketaqwaan, keilmuan, dan kedermawanannya.

Sungguh beruntung kehidupan keluarga Mubarok.  Mereka benar-benar mendapat berkah Allah dan hidup berbahagia hingga akhir hayat mereka. (Zirlyfera Jamil).

.

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: . 1 Komentar »

HARTA YANG TERPENDAM

Dikutip dari : UMMI, No. 04/XVI 2004 M / 1425 H.

.

Pada masa dahulu hidup seorang lelaki yang memiliki tanah kebun yang cukup luas.  Lelaki itu adalah seorang yang alim dan jujur.  Pada suatu hari untuk suatu keperluan, ia bermaksud menjual tanah miliknya.  Maka diumumkanlah pada masyarakat bahwa ia bermaksud menjual tanahnya.

Tak lama berselang, datang seorang lelaki bermaksud membeli kebun milik lelaki pertama.  Tawar menawar pun terjadi dan akhirlah terjadi kesepakatan jual beli.

“Alhamdulillah, terima kasih atas pembelianmu”, kata lelaki pertama.

Lelaki kedua juga mengucapkan terima kasih.  Mereka berjabat tangan dan kemudian saling berpisah.

Beberapa waktu kemudian, mulailah lelaki kedua menggarap tanah yang kini sudah menjadi miliknya.  Ia bekerja dengan sungguh-sungguh sepanjang hari demi mendapatkan tanah gembur dan siap untuk ditanami.  Terbongkar dan terjungkir sehingga menjadi gembur.

Namun pada suatu hari lelaki itu terkejut mendapati bahwa cangkulnya mendapati sesuatu yang berbeda di tanahnya.  Ada benda keras yang bersinar berkilauan di sana.  Dilihatnya benda tersebut dengan lebih teliti dan diangkatnya.  Segera saja sesudah itu matanya terbelalak lebar.  Benda itu adalah emas!  Benar-benar emas yang berkilap dan tentu saja sangat berharga.

Sejenak lelaki itu berpikir, milik siapakah emas ini?  Adakah orang yang memilikinya?

Aku tidak memilikinya dan aku juga tidak pernah membelinya, lelaki kedua berkata dalam hatinya.  Maka, tentulah emas ini milik pemilik tanah yang pertama, lanjut kata hatinya.  Tak sedikit pun tersirat dalam diri lelaki kedua ini keinginan untuk menguasai emas itu.  Sebab dia sungguh takut bila emas itu ternyata bukan haknya tetapi terpakai olehnya.  Maka dia segera menemui lelaki penjual tanah.

Lelaki pertama yang menjual tanah terkejut melihat kedatangan lelaki kedua.  Dan dia lebih terkejut lagi ketika mendengar alasan lelaki kedua datang adalah untuk mengembalikan emas yang ditemukan di tanah kebun.

“Bagaimana mungkin kamu mengatakan emas ini milikku?” kata lelaki pertama.  “Aku sudah menjual tanah itu kepadamu.  Maka tentu saja segala apa yang tumbuh maupun terkubur di dalamnya menjadi milikmu”.

“Tentu saja tidak begitu”, sanggah lelaki kedua tak ragu-ragu.  “Emas itu adalah milikmu karena sesungguhnya aku hanya membeli tanah ini saja darimu, tidak termasuk harta yang terkubur di dalamnya”.

Begitulah kedua lelaki shalih itu saling bersikukuh dengan pendapatnya.  Mereka saling menyanggah karena tak mau mengakui apa-apa yang bukan menjadi hak mereka.  Bagi mereka harta yang halal jauh lebih penting dari jumlah yang banyak.

Untuk mencari kesepakatan, kedua lelaki ini menemui seorang alim yang bijaksana di kota tempat tinggal mereka.  Maka sesudah menceritakan segalanya, sang alim pun  bertanya pada lelaki pertama, “Apakah engkau memiliki seorang anak?”

“Ya, aku memiliki seorang anak lelaki”.

“Dan bagaimana denganmu?” tanya sang alim pada lelaki kedua.

“Aku memiliki seorang anak perempuan”.

“Kalau begitu, nikahkanlah anak kalian berdua dan jadikanlah harta ini sebagai biaya pernikahan mereka setelah kalian keluarkan sebagaian darinya sebagai sedekah”, nasehat sang alim.

Kedua lelaki itu mendengar nasehat itu sebagai sebuah saran yang baik sekali.  Mereka ridlo dengan keputusan itu dan menyampaikannya kedua anak mereka.  Sungguh, harta terpendam itu akhirnya menumbuhkan keberkahan yang besar dengan terjalinnya ukhuwah di antara dua keluarga.  Dan itu semua berawal dari kehati-hatian kedua lelaki shalih yang tidak mau sembarangan mengakui harta yang belum tentu bukan milik mereka.  (Zirlyfera Jamil).


Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: . 2 Komentar »

PERMINTAAN ISTIMEWA

Dikutip dari  : UMMI, No. 09/XX Januari 2009

a

a

Rabi’ah bin Ka’ab adalah seorang sahabat yang masuk Islam sejak usianya masih muda.  Dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan selalu berupaya agar bisa banyak beramal shalih.  Ia tidak memiliki harta benda yang disedekahkan.  Bahkan, karena tak memiliki rumah Rabi’ah pun hanya bisa tidur di pelataran masjid.

Pelataran masjid di Madinah memang biasa dihuni oleh kaum miskin yang tidak memiliki tempat tinggal.  Sesekali para musafir yang tengah singgah di Madinah pun tidur di pelataran masjid ini.  Namun lebih sering hanya kaum miskin saja yang menghabiskan malam demi malam di sana, seperti Rabi’ah.  Meski demikian Rabi’ah tidak pernah mengeluhkan kemiskinannya.  Dia tetap berusaha keras bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari sambil selalu berpikir, amal shalih apa lagi yang bisa dibaktikannya kepada Islam.

Pada suatu hari Rabi’ah berpikir, “Kenapa aku tidak berusaha berkhidmat menjadi pelayan Rasulullah saja ya?  Pelayan yang siap mendampingi dan membantu Rasulullah saw. dalam berbagai kesempatan.  Jika beliau menyukai ide ini pastilah diriku akan menjadi orang yang berbahagia berada di samping beliau dalam mencintainya dan semoga saja bisa memperoleh keuntungan di dunia dan akhirat dengan berkhidmat kepada Rasulullah saw.  Ah, baiklah, aku akan mencobanya…”

Setelah beberapa waktu keinginan Rabi’ah itu menjadi sebuah tekad yang bulat.  Maka, dengan hati berdebar-debar, pada suatu hari Rabi’ah mendatangi Rasulullah saw. dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi pelayan Rasulullah.

Tak disangkanya, ternyata Rasulullah berkenan menerima permohonan Rabi’ah.  Maka, sejak hari itu Rabi’ah pun selalu berada di dekat Rasulullah saw., siap mendampingi dan menjadi pelayan sang Nabi.  Rabi’ah tdak pernah nampak jauh dari sisi Nabi.  Bila Nabi saw. membutuhkan sesuatu, maka Rabi’ah pun sigap melayaninya.

Rabi’ah baru meninggalkan Rasulullah saat hari menjelang malam untuk beristirahat.  Kemudian, karena Rabi’ah tinggal di pelataran masjid, yang bersebelahan dengan rumah Rasulullah, maka Rabi’ah seringkali ikut pula bangun di larut malam untuk menikmati bacaan Qur’an saat Nabi menunaikan shalat malam.  Maka, hari demi
hari Rabi’ah merasa semakin bahagia, karena menikmati kebersamaan bersama Rasulullah.

Setelah beberapa waktu, Nabi pun memanggil Rabi’ah untuk memberi balasan kebaikan.  Ya, sebab sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw., jika seorang berbuat baik kepadanya, beliau suka bila dapat membalasnya dengan balasan yang paling baik.

“Wahai Rabi’ah bin Ka’ab, kemarilah, sebutlah satu permintaan, nanti akan kupenuhi”, kata Nabi saw.

Rabi’ah terdiam mendengar perkataan Nabi.  Sungguh, Rabi’ah belum tahu akan menjawab apa, karena selama ini sesungguhnya dia berkhidmat melayani Rasul tanpa mengharap imbalan apa-apa kecuali berharap dirinya akan memperoleh keridhoan Allah swt.  Maka Rabi’ah pun menjawab, “Ya Rasulullah, berilah aku sedikit waktu untuk berpikir terlebih dahulu.  Kalau sudah tahu apa yang kuinginkan aku akan mengatakannya”.

“Baiklah kalau begitu”, jawab Rasulullah.

Mulai sejak hari itu Rabi’ah berpikir tentang apa yang akan dimintanya kepada Rasulullah.  Apa ya yang akan dimintanya?  Apa ya?

Lantas Rabi’ah berpikir tentang kondisinya sebagai ahlush shuffah, orang yang tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan orang-orang fakir kaum muslimin lainnya.  Sebagai ahlush shuffah, tidak banyak kecukupan hidup yang dimiliki Rabi’ah dan orang-orang sepertinya.  Itu sebabnya Rasulullah sangat memperhatikan para ahlush shuffah ini.  Bila ada seorang muslim menyampaikan sedekah kepada Rasulullah, sedekah itu akan diberikan seluruhnya oleh Nabi kepada ahlush shuffah.  Sementara bila ada yang memberikan hadiah kepada Rasulullah, maka sedikit hadiah itu akan diambil oleh Rasul sementara selebihnya akan diberikannya kepada ahlush shuffah pula.

Sekilas Rabi’ah berpikir untuk meminta sejumlah harta saja kepada Nabi.  Rabi’ah berpikir, harta bisa membantunya terbebas dari kefakiran sehingga dia bisa hidup seperti orang-orang lain yang berkecukupan.  Tetapi, segera saja hati kecil Rabi’ah menegurnya, “Astaghfirullah, betapa celaka engkau, wahai Rabi’ah bin Ka’ab!  Mengapa engkau berpikir meminta dunia yang dengan mudah akan hilang lenyap tak berbekas, apalagi rezekimu di dunia sudah dijamin Allah, pasti ada tanpa engkau mengharap dunia.  Ingatlah Rabi’ah, Rasulullah saw. yang berada dekat Rabb-Nya, permintaannya tak pernah ditolak.  Maka mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu”.

Hati Rabi’ah pun menjadi mantap.  Maka bergegaslah Rabi’ah menemui Rasulullah.

“Aku sudah tahu apa yang kuinginkan ya Rasul”, kata Rabi’ah setiba di depan Nabi.

Rasulullah pun bertanya, “Apa permintaanmu itu, wahai Rabi’ah?”

“Ya Rasulullah, aku memohon sudilah engkau mendoakan kepada Allah Taala agar aku kelak akan menjadi temanmu di surga”, jawab Rabi’ah.

Agak lama juga Rasulullah saw terdiam.  Sesudah itu barulah beliau berkata, “Apakah benar-benar tidak ada lagi permintaanmu yang lain, wahai Rabi’ah?”

Rabi’ah menjawab dengan sangat mantap, “Tidak ada, ya Rasulullah.  Sungguh bagiku, tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut”.

Maka Rasulullah pun tersenyum dan berkata dengan lembutnya, “Baiklah kalau begitu Rabi’ah, namun engkau harus membantu doaku dengan bantuan dari dirimu sendiri.  Banyak-banyaklah kamu bersujud kepada Allah”.

Betapa bahagianya hati Rabi’ah mendengar jawaban Rasulullah.  Mukanya berseri-seri dan tekadnya membara untuk mentaati apa yang diucapkan Rasul.  Maka sejak itu Rabi’ah pun lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan memperbanyak sujudnya kepada Allah karena dia benar-benar ingin cita-citanya menjadi teman Rasulullah saw. di surga tercapai.  Semoga Allah meridhai Rabi’ah bin Ka’ab yang memiliki permintaan istimewa.

.

WARISAN RASULULLAH

Dikutip dari : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.

a

Sepeninggal Rasulullah Muhammad saw., para sahabat melanjutkan risalahnya dengan mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam seluas-luasnya.  Berbagai negeri didatangi, berbagai lapisan masyarakat ditemui untuk diingatkan pada syariat Allah.  Tak hanya mengenalkan Islam bagi orang-orang non muslim, para sahabat juga selalu mengingatkan kaum muslimin untuk terus mendalami Islam.  Begitulah sikap para sahabat, sebagaimana juga dilakukan oleh Abu Hurairah ra.

Pada suatu hari, Abu Hurairah ra. tengah berjalan untuk suatu keperluan melewati pasar Madinah.  Sesampainya di dekat pasar, dia melihat sekelompok lelaki dewasa tengah duduk-duduk di pinggiran pasar.  Mereka tidak terlihat sedang melakukan suatu kesibukan tertentu.  Agaknya mereka memang sedang bersantai-santai saja.

Abu Hurairah pun bergegas mendatangi mereka dan berkata dengan suara yang dibuatnya penuh keheranan, “Wahai orang-orang kenapa kalian masih saja berdiam diri di pinggiran pasar ini?”

Orang-orang itu terkesima mendengar nada suara Abu Hurairah sebelum balik bertanya.

“Memang ada apa wahai Abu Hurairah?”

Maka Abu Hurairah pun menjawab, “Lho, apakah kalian tidak tahu, di sana, di masjid tengah dibagi-bagikan warisan Rasulullah.  Tidakkah kalian ingin ke sana dan ikut mengambil bagian kalian?”

Mendengar keterangan dari Abu Hurairah tentang adanya pembagian warisan Rasulullah, segera saja kelompok itu membubarkan diri.  Masing-masing dari mereka bergegas menuju ke masjid agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan pembagian warisan Rasul.  Masing-masing dari mereka juga bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa ya yang tengah dibagikan itu?

Sementara kelompok itu beranjak menuju masjid, Abu Hurairah tetap menanti di dekat pasar.  Ia ingin tahu bagaimana reaksi kelompok itu bila sudah mendapatkan warisan Rasulullah.

Tak lama, kelompok yang ingin mendapatkan warisan Rasulullah itu pun kembali ke arah pasar.  Wajah mereka tampak kecewa.  Mereka pun mendekati Abu Hurairah dengan bersungut-sungut.  Salah seorang di antara mereka lantas berkata, “Wahai Abu Hurairah, kami sudah datang ke masjid itu dan mencari orang yang tengah membagikan warisan Rasulullah sebagaimana engkau katakan.  Tetapi, kami sama sekali tidak melihat ada seseorang sedang membagikan sesuatu di sana.  Apakah engkau bermaksud mempermainkan kami?”.

“Benarkah tidak ada seorang pun yang kalian lihat di masjid itu?” Abu Hurairah balik bertanya.

Tentu saja ada, tetapi tidak ada yang sedang membagi-bagikan warisan Rasulullah”, jawab yang lain.

“Jadi, apa yang kalian temui di masjid itu?” Abu Hurairah masih saja bertanya.

“Kami hany melihat orang-orang berkumpul di masjid dan melakukan hal-hal sebagaimana biasanya.  Ada yang sholat, ada yang tengah membaca Al Qur’an, dan ada pula yang tengah mempelajari soal-soal hukum Islam, halal dan haram”, jawab mereka.

Maka Abu Hurairah pun menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, “Celakalah kalian kalau tidak memahami dan tidak ingin mendapatkannya.  Itulah dia warisan Rasulullah.  Segala pelajaran dan amalan yang terdapat dalam Qur’an dan sunnahnya.  Tidakkah kalian dapat melihatnya kini?”

Sungguh terkejutlah kelompok lelaki ini.  Mereka baru menyadari apa yang dimaksud oleh Abu Hurairah sebagai warisan Rasulullah.  Yaitu segenap kandungan Al Qur’an dan sunnah Nabi termasuk amalan-amalannya.

Mereka baru tersadar bahwa Abu Hurairah sesungguhnya hendak menasehati mereka untuk selalu mengisi waktu dengan segala kegiatan yang bermanfaat dan tidak hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk bersantai belaka.

Sungguh betapa cerdiknya sahabat Rasulullah yang satu ini.  Semoga Allah SWT meridhoinya. (Zirlyfera Jamil).

a

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.