JANGAN PERNAH LENGAH

Sumber : www.ikadi.co.id

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 21, 3 Juni 2011 M / 2 Rajab 1432 H

.
“Hendaklah, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  
(HR. Bukhari)

.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  (HR. Bukhari).  Lebih lanjut, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-hamba-Nya dibandingkan dengan seseorang yang turun pada satu tempat yang sudah hancur, sambil membawaa air dan makanan di hewan tunggangannya.  Tak lama kemudian, ia menyandarkan kepalanya, lalu tertidur pulas.  Ketika bangun, ia tidak menembukan hewan tunggangannya tersebut hingga ia diserang hawa panas sampai kehausan dan kelaparan.  Ia lantas memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.  Setelah mencari ke sana kemari dan tidak menemukan yang dicarinya, ia lantas berkata, ‘Aku akan kembali saja ke tempatku semula’.  Setelah sampai, ia kembali tidur pulas.  Ketika bangun, hewan tunggangannya telah kembali berada di sisinya”. (HR. Bukhari)

Manusia bisa juga disebut insan, karena mereka dalam hal-hal tertentu sering lupa dan lalai untuk berbuat kebaikan.  Kelalaian ini akhirnya berujung dosa dan kesalahan akibat pelanggaran yang dilakukan terhadap rambu-rambu yang Allah SWT sudah tentukan.  Padahal dosa adalah nilai buruk di sisi Allah SWT yang akan membuat seorang hamba menderita di hari akhirat kelak.  Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa.  Ini yang Nabi saw. singgung dalam hadits lain, bahwa iman manusia itu sifatnya fluktuatif (kadang tinggi, sedang, dan rendah).  Berbeda dengan iman para Malaikat yang stabil dan tidak pernah berubah.  Atau berbeda pula dengan iblis yang selalu berada di tingkat rendahnya.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui iman para malaikat.  Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih rendah dari iblis.  Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah).  Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf [7] : 179)

Ketika iman berada pada titik nadirnya yang paling mengkhawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat.  Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya.  “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat.  Sesunggunya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar [39] : 53)

Lengah menjaga dan memperkuat iman berarti memudahkan syetan menguasai diri kita.  Lengah mengingat Allah berarti melemahkan pertahanan diri dari serangan syetan.  Lengah memadati waktu demi waktu dengan amal shaleh berarti memudahkan diri terjerumus dalam tindakan salah atau sia-sia.  Lengah mengendalikan diri dari penguasaan malas berbuat kebaikan berarti kemungkinan besar menyeret diri pada situasi yang berbuah penyesalan.  Lengah membiarkan iman menurun drastis tanpa kesadaran dan perlawanan, adalah ancaman serius akan terjerumus pada su’ul khatimah.

Wallahu a’alam bish shawab
.

MALU BAGIAN DARI IMAN

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Bina Edisi 14_08 April 2011 M / 5 Jumadil Awal 1432 H

Sumber : www.ikadi.co.id
.
.
.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya”. (HR. Abu Hurairah ra).
.

Mari kita merenungi satu pelajaran yang disampaikan Rasul saw.  Pelajaran yang sejak lama sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, sudah diajarkan oleh para nabi kepada kaum-kaum mereka.  Pelajaran berharga yang merupakan cabang dari iman.  Pelajaran itu adalah pelajaran sikap malu.  Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda : Bahwa di antara wasiat yang disampaikan kepada umat para Nabi terdahulu adalah “Jika Anda tidak malu, maka lakukan apa yang Anda sukai”. (HR. Bukhari).  Wasiat tersebut menggambarkan pentingnya rasa malu.  Bahwa rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia.  Bisa mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa.  Dan bila tidak ada rasa malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya.  Tentunya rasa malu yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya adalah malu untuk melakukan kesia-siaan.  Malu dalam melakukan maksiat dan dosa.  Karena malu yang seperti ini adalah malu yang terpuji (al-hayaa’ almahmuud).

Malu melakukan hal yang sia-sia apalagi dosa merupakan indikasi baiknya seseorang.  Karena malu yang seperti ini adalah bagian dari iman.  Rasulullah saw. menyebutnya secara khusus sebagai bagian dari iman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. : Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya.  Bukan malu untuk melakukan kebaikan.  Karena malu untuk melakukan kebaikan adalah pertanda kelemahan, sebagaimana disampaikan Syekh Bugha dalam Kitab Al-Wafii ketika menerangkan hadits tersebut.  Malu dalam hal ini adalah malu yang tercela (al-hayaa’ al-madzmuum).

Dalam kehidupan sehari-hari kita, tentunya tidak luput dari perasaan malu.  Rasa malu itu timbul lantaran banyak hal.  Apakah malu lantaran status sosial yang rendah, malu lantaran kondisi ekonomi yang lemah, malu lantaran wajah dan fisik yang buruk, dan seterusnya.

Apa yang harus kita sadari adalah, kita harus lebih merasakan malu lantaran kealpaan kita dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.  Kita harus lebih merasakan malu lantaran melakukan hal yang sia-sia.  Malu lantara melakukan maksiat dan dosa.  Malu lantaran menelantarkan kewajiban-kewajiban kita.

Jangan sampai kita malu lantaran kondisi lemah ekonomi kita, tetapi tidak malu dengan kondisi lemah keberagamaan kita.  Jangan sampai kita malu lantaran rendahnya posisi sosial kita, namun kita tidak malu lantaran rendahnya akhlak kita.  Jangan sampai kita malu lantaran buruknya wajah dan tubuh kita, namun kita tidak malu lantaran buruknya ketakwaan kita.  Padahal standar hakiki kemuliaan seorang hamba adalah takwa.  Allah SWT. berfirman : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuraat [49] : 13)

Begitu pula siapa yang memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, jangan sampai kondisi tersebut melupakannya untuk merasa rendah dan diri malu di sisi Allah SWT.  Apa yang menjadi kebanggaan kita adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

Seorang yang kaya tetap tidak dipandang Allag SWT. ketika ia jauh dari akhlak dan ibadah kepada-Nya.  Seorang yang tinggi pangkat tetap tidak mendapat kemuliaan dari Allah ketika ia tidak menghiasi dirinya dengan ketakwaan.  Seorang yang fisiknya bagus seharusnya malu ketika akhlaknya tidak bagus.  Karena fisik, wajah, dan standar duniawi tidak
berlaku di hadapan Allah SWT.  Rasul saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan wajah kalian, tetapi Allah memandang kepada hati kalian. (HR. Muslim)

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana menumbuhkan rasa malu yang terpuji (al-hayaa’ al-mahmuud)?

Pada prinsipnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Wafii syarah Arba’in nawawi, rasa malu dalam diri manusia bisa dibagi dari sisi pertumbuhannya menjadi dua macam, yaitu :

Pertama, rasa malu yang ada secara fitrah (alhayaa’alfithriy).  Rasa ini timbul secara otomatis dalam diri manusia.  Malu untuk melakukan keburukan sebenarnya adalah fitrah manusia.  Karena memang setiap anak manusia itu lahir dalam keadaan fitrah.  Namun rasa malu ini akan dipengaruhi dengan proses selanjutnya.

Kedua, rasa malu yang ditumbuhkan (alhayaa’ almuktasab).  Rasa malu bisa ditumbuhkembangkan dalam jiwa seseorang.  Karena rasa malu merupakan bagian dari akhlak,  dan akhlak adalah sesuatu yang bisa diupayakan untuk tumbuh dalam diri manusia.  Ada satu langkah yang utama dan pertama untuk menumbuhkan rasa malu yang terpuji, yaitu mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah), untuk selanjutnya akan menumbuhkan rasa pengawasan-Nya (muraqabatullah).  Mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah) dapat dilakukan dengan membaca dan merenungi Al Quran untuk mengenal Allah SWT.  Allah SWT. adalah zat yang maha mengetahui, zat yang maha melihat, zat yang maha mendengar, zat yang maha mengawasi, dan seterusnya.  Misalnya Allah SWT. menerangkan sifat-Nya dan mengenalkan diri-Nya dalam ayat : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (Al-An’am [6] : 59)

Wallah a’lam bi ash shawab

 .

JANGAN LANGKAHI OTORITAS TUHAN

Sebagai makhluk terbaik, manusia telah berhasil mengubah wajah dunia.  Fitur kehidupan berhasil didesain dengan berbagai kemudahan yang memukau.  Manusia jaman ini seakan-akan tidak lagi memiliki kendala mobilitas.  Seolah jarak tempuh berhasil diperpendek.  Jarak waktu berhasil dipersingkat.  Jarak pandang dan jarak dengar berhasil disederhanakan.  Manusia sekarang seperti “siluman”.  Detik ini nongkrong di bumi Indonesia, tetapi dalam beberapa jam saja, ia sudah asyik nyantai di belahan negara lain.

Manusia berhasil merevolusi hidupnya dari waktu ke waktu tanpa henti.  Sesuatu yang tadinya mustahil, menjadi hal yang nyata terjadi.  Sesuatu yang dulunya sama sekali tidak terpikirkan sekarang menjadi realitass kebiasaan hidupnya.

Di satu sisi, hampir semua kita merasakan manisnya buah teknologi rekayasa manusia tersebut.  Tetapi di balik semua kemajuan yang telah digenggam, ada banyak hal yang menggelisahkan nurani manusia beriman.  Manusia mulai berani bermain-main hampir di luar wilayah otoritasnya.  Dengan kasat mata, kemajuan teknologi dijadikan alat propaganda yang sangat efektif bagi sebuah nilai, sikap, dan perilaku yang dapat mengubah maidset orang dalam hitungan detik menuju kekafiran.

Lihatlah fenomena tingginya intensitas acara sulap di media entertainment.  Sekarang, para pesulap bukanlah dominasi orang tua, tetapi anak kecil yang ngomongnya saja belum jelas sudah pandai memainkan trik-trik ilmu magis.  Terlepas dari bisa dijelaskan secara logika atau tidak, tetapi pada sisi tertentu sulap bisa menghadirkan “kemustahilan” yang dalam ranah keyakinan sangat sensitif.  Maka sisi rawannya adalah ketakjuban pemirsa yang berlebihan kepada seorang pesulap yang mengantarkannya kepada kekeliruan sikap dan penilaian terhadapnya.  Terutama bagi masyarakat yang mempunyai pemahaman dan intensitas penghayatan agama yang minim.

Teknologi juga memperkenalkan ramalan elektronik jarak jauh.  Kalau dahulu orang mendatangi dukun atau peramal yang tinggal di pelosok, sekarang setiap orang dituntun hanya dengan memencet tombol dan mengirim pesan pada nomor yang disediakan.  Maka transaksi layanan konsultasi tentang masa depan, karir, jodoh, rizki, dan peruntungan dapat terjadi dalam hitungan detik, masif, dan terkesan modern.  Entah, apakah para penyelia jasa tersebut sadar atau tidak, bahwa mereka telah “menginjak” wilayah Tuhan.  Mereka telah menumpulkan iman pemirsa dengan senjata modern.

Yang paling spektakuler, manusia dengan teknologinya berani memastikan bahwa tahun 2012 nanti akan terjadi kiamat dunia.  Ini jauh melampaui sekedar persoalan jodoh, rizki, masa depan, dan peruntungan yang tidak sekedar menginjak wilayah Tuhan, tetapi telah berani “merebut” otoritas Tuhan.

Manusia memang memiliki sisi keunggulan sebagai makhluk Tuhan, tetapi manusia tetaplah manusia.  Andaikan ada manusia yang diijinkan Tuhan tahu dengan pasti kapan kiamat terjadi, maka yang paling pantas tahu adalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.  Nyatanya, manusia paling mulia itu; Imam pada anbiya dan mursalin itu pun tidak mengetahui kapan kiamat akan terjadi.  Oleh sebab itu, seorang muslim tidak sepatutnya gamang dalam menyikapi segala fenomena kemajuan teknologi.  Juga tidak sepatutnya jatuh dalam praduga yang hanya berdasar asumsi dan perkiraan semua.  Jika seorang muslim masih menggantungkan nasib kepada dukun, masih larut dalam ketakjuban kepada kharisma seorang tokoh, atau seolah putus asa dengan prediksi kiamat yang jelas-jelas menjadi hak Yang Maha Kuasa, maka apa bedanya dengan orang-orang kafir yang tidak memiliki pegangan itu?

Jika disejajarkan dengan sesama makhluk, makhluk mana yang bisa mengungguli manusia?  Tapi jika diperhadapkan dengan Sang Khalik, manusia bukanlah apa-apa.  Manusia hanyalah setitik air di lautan jika dibandingkan dengan ilmu dan kekuasaan Tuhan.

Manusia memang sanggup menguasai daratan, lautan, dan antariksa.  Tapi sampai detik ini, manusia tetap tidak kuasa menolak bencana.

Dengan teknologinya, manusia mampu merekayasa yang keriput menjadi kencang atau yang buruk menjadi cantik.  Tapi hingga kini tak ada satu pun dari mereka yang dapat mengobati penyakit tua dan kematian.

Rekayasa genetika manusia memang mencengangkan.  Ia dapat menentukan gen mana yang bagus, sehat, unggul, cerdas, dan kemudian dipilihnya.  Tetapi hingga kini, manusia tetap tidak sanggup meniupkan “ruh” kehidupan bagi proyek raksasanya itu.  Buktinya, “Dolly” si Domba rekayasa itu tak mampu ditolongnya dari kematian di usia yang sangat singkat.

Sadarlah wahai manusia.  Kembalilah wahai manusia beriman.  Jika teknologi memudahkan hidupnya, maka agama menyelamatkan hidupmu.  Jika persaingan hidup menakutkanmu, maka iman menentramkan hatimu.  Jika kemajuan tidak mengenal belas kasih, maka Islam mengajarkanmu kedamaian.  Dan jika sains mengajarkanmua bebas nilai, maka ihsan mengingatkanmu akan kehadiran Tuhan, jangan langkahi otoritas Tuhan.

AMANAH TERBESAR

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia.  Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”, sehingga Allah mangazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.  Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya langit, bumi, dan gunung — yang dipilih Al Qur’an untuk dibicarakannya — adalah makhluk yang sangat besar dimana manusia hidup di dalamnya atau di bawahnya sehingga ia tampak kecil dan lemah.  Makhluk-makhluk tersebut mengenal Penciptanya tanpa upaya dan serta merta memperoleh petunjuk tentang undang-undang yang mengaturnya sesuai penciptaan, pembentukan, dan sistemnya.  Mereka mentaati undang-undang Sang Pencipta secara langsung tanpa melalui perenungan dan tanpa media.  Mereka bergerak sejalan dengan undang-undang tersebut secara konstan tanpa melenceng dan tanpa membangkang dalam menjalankan perannya.  Mereka menjalankan tugasnya menurut hukum penciptaan dan karakternya tanpa melibatkan emosi dan pilihan bebas.

Matahari berputar pada porosnya dengan perputaran yang sistematis tanpa pernah melenceng dari sistem.  Ia memancarkan cahayanya untuk menjalankan tugas yang telah dimandatkan Allah kepadanya.  Ia menarik satelit-satelitnya bukan didasari keinginan dalam dirinya melainkan untuk menjalankan tugas kosmiknya secara sempurna.

Bumi ini berputar pada rotasinya mengeluarkan tanamannya, menghasilkan makanan untuk para penghuninya, dan memancarkan mata airnya.  Semua itu selaras dengan sunnatullah tanpa ada kehendak dirinya.  Bulan, bintang, dan planet, angin, awan, gunung, dan lembah seluruhnya menjalankan perannya dengan seijin Tuhannya mengenal Penciptanya dan tunduk kepada kehendak-Nya tanpa didasari kehendak bebas.  Tanpa mengerahkan tenaga, tanpa susah payah, dan tanpa usaha.

“Dan dipikullah amanat itu oleh manusia”.

Itulah amanah terbesar yang dipikul makhluk yang kecil ukurannya, lemah usahanya, terbatas usianya, sekaligus digumuli nafsu tendensi dan ambisi.

 

Sumber : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun IV/30 Oktober 1430 H / 2009 M

JALAN MENUJU KE LANGIT

Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Allah SWT yang di atas, atau Allah SWT yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas pandangan mata. Dalam Al Qur’an langit disebut dengan nama sawa’ atau samawat. Dalam bahasa Arab, sama’ mengandung dua arti, pertama : ma’ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah kita disebut langit-langit. Kedua : langit adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Jika disebut surga berada di langit artinya akal manusia tidak akan mampu melacak keberadaannya. Surga dapat dilacak dengan keyakinan atau iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan yang sangat banyak disebut kayanya selangit, dan ungkapan semisal lainnya.

Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit atau ‘alam malakut satu “tempat” yang sangat tinggi dimana blue print alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan Allah bersemayam di ‘arasy-Nya mengendalikan kekuasaannya melalui sistem sunnatullah, dan Dia mengontrol secara detail hingga jatuhnya selembar daun pun berada dalam kontrol-Nya.

Di mana letak alam malakut dan dimana ‘arasy Allah SWT, akal manusia tidak mungkin menjangkaunya, karena Allah Maha Tinggi sedangkan manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah memberi infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada-Nya. Allah menempatkan sifat ilahiah pada setiap manusia, apa yang dalam agama disebut nasut.

Allah juga menempatkan cahaya (nur)-Nya pada setiap hati (qalb) manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiliki kapasitas pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepada, oleh Al Qur’an disebut bashirah. Allah SWT berfirman : “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”. (QS. Al Qiyaamah : 14 – 15) Jika sifat Allah SWT al Bashir mengandung arti Allah SWT mampu melihat sesuatu secara total tanpa alat bantu, maka bashirah-nya manusia atau hati nurani manusia juga dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak berdusta, sedangkan secara ekternal, hati nurani dapat menerobos ke alam malakut (bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia) dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Di alam malakut, manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi.

Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Allah SWT. Sifat nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang yang sedang rindu kepada Allah SWT, maka pandangannya selalu ke “atas” mencari Dia Yang Maha Tinggi di “alam atas”. Kerinduan kepada Allah SWT itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang, atau ketika Allah SWT berkenan mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya sehingga orang itu dalam waktu cepat tersucikan jiwanya. Allah SWT berfirman : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikit pun” (QS. An Nisaa : 49).

Di sisi lain, Allah SWT memiliki sifat kemanusiaan (lahut) yang selalu merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat-Nya. Allah SWT sangat antusias menyongsongnya dengan berlari. Itulah yang menyebabkan ada orang sejak kecil menjadi muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum lama menjadi “mu’allaf” tetapi sudah mencapai pencerahan spiritualitas, karena ia disongsong oleh Allah SWT. Di satu pihak, manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Allah SWT dan untuk itu ia berusaha naik ke “atas” (taraqqi), di pihak lain, Allah SWT yang merindukan kehadiran manusia berlari turun dari “atas” (tanazul) menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub). Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia untuk mendekat kepada-Nya.

Pertama :Thariqah as Syar’iy, jalan syar’i. Siapa saja yang berusaha keras secara konsisten mengikuti syari’at, shalatnya, puasanya, berdagangnya, berpolitiknya, maka dijamin ujungnya adalah dar al muqarrabin, wisma khusus orang-orang dekat. Siapa saja yang secara konsisten mengikuti petunjuk Allah SWT dalam hidupnya, yakni mengikuti aturan Allah SWT tentang halal-haram, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka ia berpeluang untuk menjadi orang dekat-Nya.

Kedua : Thariqah ahl az zikr, Jalannya ahli zikir. Barang siapa yang dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru, instrospeksi, dikerjakan secara sistemik, maka lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Allah SWT yang selalu disebutnya. Sementara orang khawas, berzikir dengan hatinya. Keadaan apa pun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah. Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras, kemudian meningkat menjadi zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan suara tetapi penuh di dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secara ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah tadabbur, yakni melihat benda atau alam pun langsung terbayang Sang Pencipta (tadabbur ‘alam).

Ketiga : Thariqah mujahidah as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan kurang bersyukur kepada Allah SWT. Ia wajibkan dirinya mengerjakan yang sunnah, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal, semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia makanan lezat, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya menempuh kexulitan dalam perjalanan mendekat kepada Allah SWT itu satu kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam perjalanan kepada Allah SWT itu memalukan

Wallahu a’lam bish shawab ***

Dikutip dari : Buletin Jum’at Al Bina Edisi 23, 19 Jumadil Tsaniyah 1430 H / 12 Juni 2009 M

AQIDAH DAN PERUBAHAN

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap Nabi mempunyai sahabat dan hawari yang selalu berpegang teguh dengan petunjuknya dan mengikuti sunnahnya. Lalu muncullah generasi pengganti (yang lebih buruk) yang (hanya) mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (untuk meluruskan) mereka dengan tangannya, dia adalah mukmin. Dan barang siapa yang berjuang dengan lidahnya, maka adalah mukmin. Dan barang siapa berjuang dengan hatinya, maka ia adalah mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan sedikit pun”. (HR. Muslim)

Perubahan harus dikawal dengan aqidah islamiyyah. Aqidah islamiyyah memberi keuntungan yang luar biasa bagi individu yang mencita-citakan perubahan. Namun bukan itu saja. Aqidah islamiyyah juga mempunyai peran besar dalam menciptakan ketenteraman dan keharmonisan dalam kehidupan sebuah masyarakat.

Aqidah islam telah berhasil menghadirkan tonggak-tonggak masyarakat sejahtera dan berkeadilan. Tonggak-tonggak itu adalah : (1) kebebasan jiwa; (2) persamaan kemanusiaan yang sempurna; (3) aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar; dan (4) solidaritas sosial yang kuat. Tanpa keempat tonggak itu mustahil tercipta kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan pada sebuah masyarakat. Secara konsepsional dan empiris, keempat tonggak itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, kekebasan jiwa. Tidak akan terjalin interaksi harmonis antara anggota masyarakat tanpa kebebasan jiwa setiap anggota masyarakat tersebut. Dalam keadaan jiwa terikat, dihantui ketakutan, atau terbelenggu dengan perbudakan oleh sesama manusia, mustahil ada hubungan harmonis itu. Yang akan lahir adalah justru perilaku-perilaku semu dan sikap-sikap terpaksa. Dalam keadaan demikian, kehidupan masyarakat hanya akan merupakan kumpulan keluhan dan daftar kesengsaraan. Yang kuat akan menjadi penguasa. Dan yang lemah akan menjadi budak pengabdim tanpa punya pilihan. Dan adalah kondisi paling berbahaya dalam kehidupan jika antar manusia diciptakan hubungan tuhan – hamba.

Kedua, persamaan kemanusiaan yang sempurna. Di atas tonggak pertama itu dibangunlah tonggak berikutnya : persamaan kemanusiaan yang sempurna. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian (terdiri) dari laki-laki dan wanita; dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal”. (QS. Al Hujurat : 15)

Ayat ini menegaskan bahwa terhormat dan terhinanya manusia tidak dibedakan berdasarkan ras, suku, warna kulit, kebangsaan, kekayaan, jabatan, dan ukuran-ukuran picik lainnya.

Rasulullah saw. saat melakukan haji wada’ (pamungkas) menegaskan pula, “Sesungguhnya darah-darah kalian dan kehormatan kalian haram (untuk dilanggar) oleh kalian, kecuali dengan hak Islam. Tiada keutamaan bagi orang Arab atas non Arab tidak ada keutamaan bagi orang berkulit putih atas kulit hitam dan tidak pula orang berkulit merah atas kulit putih, melainkan dengan taqwa. Kalian semua berasal dari Adam. Sedangkan Adam berasal dari tanah”.

Manakala penghargaan kepada seseorang diberikan berdasarkan prestasinya dalam kebaikan dan kebenaran dan bukan didasarkan pada asal-usul, ras, atau sukunya, ini pertanda baik. Sebab hal itu akan melahirkan suasana yang kondusif bagi terwujudnya persaingan sehat antara warga masyarakat. Setiap orang, tanpa dibedakan oleh perbedaan-perbedaan yang bersifat taqdir seperti warna kulit dan kebangsaan mempunyai peluang yang sama besar untuk membaktikan segala potensi dan kemampuannya untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Sayyid Quthb menegaskan, “Islam bersih dari fanatisme suku dan ras; dan persamaan derajat yang diciptakannya sudah sampai pada tingkatan yang selama ini belum pernah dicapai oleh peradaban Barat.

Ketiga, aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar. Masyarakat yang dilandasi aqidah Islam akan sangat peduli tentang nasib lingkungannya. Karenanya, mereka selalu melakukan aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar. Dengan demikian setiap anggota masyarakat secara otomatis menjadi pengontrol terhadap perjalanan kehidupan masyarakatnya dan pemerintahannya.

Cukuplah menjadi alasan datangnya bencana dari Allah jika sebuah masyarakat telah tercerabut kepeduliannya terhadap perilaku anggota masyarakatnya; jika mereka lebih memilih keselamatan diri sendiri daripada melakukan koreksi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya; jika mereka takut untuk mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah adalah salah. Dan bencana yang kini menimpa negeri tercinta ini tidak lepas dari adanya kelalaian untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar itu. Rasulullah saw. bersabda : “Demi Zat Yang diriku ada di tangan-Nya, perintahlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang munkar, atau (jika tidak kamu lakukan), maka Allah akan mengirimkan kepada kalian siksa dari sisi-Nya, kemudian kalian memohon kepada-Nya dan tidak dikabulkan”. (Hadits Hasan riwayat At Tirmidzi).

Keempat, solidaritas sosial yang kuat. Ajaran keimanan yang diterima oleh umat beriman – menetapkan bahwa berbuat baik kepada sesama manusia adalah syarat kesempurnaan iman. Misalnya saja, di antara tuntutan iman itu : tidak mengolok-olok, tidak mencela, tidak memanggil orang lain dengan panggilan yang tidak menyenangkan, tidak buruk sangka, tidak memata-matai kesalahan orang lain, dan tidak menggibah (menggunjing). Lihat QS. Al Hujurat 11 – 12.

Semua itu menegaskan bahwa aqidah telah mempunyai peran penting dalam mewujudkan perubahan kehidupan sosial yang ideal. Jadi, tanpa menyertakan aqidah untuk mewujudkan perubahan masyarakat, yang akan terjadi hanyalah kumpulan manusia yang meluncur ke jurang kehancuran yang sangat dalam.

Wallahu a’lam

 

Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/2 April 1431 H / 2010 M

MEMUPUK RASA MALU

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-oranng yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan (al-fasad) di muka bumi, hanyalah mereka dihukum mati atau disalib, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat nanti mereka memperoleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS. Al Maidah : 33 – 34)

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab dan mempunyai norma dan etika tinggi. Bahkan bangsa ini termasuk ke dalam katagori bangsa yang mempunyai peradaban tinggi, terlihat dari muamalah yang dilakukan masyarakatnya yang mempunyai tradisi dan kebudayaan daerah yang berbeda-beda. Mereka mampu hidup rukun, damai penuh rasa saling menghargai, dan toleransi.

Namun di balik itu, harus jujur kita akui bahwa Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang memiliki kecakapan luar biasa untuk melupakan hal-hal yang sebenarnya sangat signifikan mempengaruhi kehidupan kita. Orang menyebut kita bangsa yang mengalami amnesia dengan stadium yang sangat merisaukan. Kalau harus diukur dengan bentangan angka-angka, maka sudah tidak terbilang berapa jumlah peristiwa sejarah berlalu lalang di hadapan kita begitu saja. Peristiwa yang membanggakan atau peristiwa yang meluluh-lantakkan peri kehidupan manusia. Kini mari bersikap jujur, benarkan peristiwa-peristiwa ini telah menanamkan kesan yang kuat dalam diri dan hati sehingga mampu mengubah perilaku buruk kita? Kalau terjadi peristiwa dan tragedi alam, seperti bencana alam Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Balakot dan Mudzafarabad bisa jadi kita akan berkilah, itu semata kodrat dan takdir Allah. Tetapi bagaimana dengan tindakan-tindakan destruktif akibat negative behavior (Su-ul Khuluq) yang dilakukan sebagian anak bangsa. Kini, pilar-pilar demokrasi, politik, hukum, serta sosial akan segera runtuh karena kian derasnya tindak pidana korupsi yang dilakukan secara terang benderan. Tindakan korupsi ini, begitu kuat tertanam, sehingga untuk ~jangankan memberantasnya~ mencegah pun akan kesulitan dilakukan oleh siapapun, apalagi kalau kita hanya berpangku tangan dan cuma mengandalkan tangan-tangan pemerintahan.

Lantas, alat penakut macam apa yang bisa membuat para koruptor jera? Rasanya akan sulit untuk menemukan alat paling tepat untuk mengembalikan para koruptor ke jalan yang benar. Sebab, sedari awal Baginda Rasul sudah mewanti-wanti umatnya soal bahaya korupsi bagi tegaknya pilar-pilar kehidupan. Dari saking bahayanya, Rasulullah mengancam para koruptor salah satu bentuk tindakannya adalah menyuap dan menerima suap ini dengan jilatan api neraka. Ar-Roosyi Wal Murtasyii Finnaar;pemberi suap dan penerima suap sama-sama di neraka.

Asal muasal tindakan korupsi sebenarnya berawal dari rasa iri, dengki, dan hasad terhadap sesama manusia serta adanya rasa hubud dunya (cinta dunia). Seorang pendengki tidak akan akan bisa hidup tenang kalau menyaksikan tetangganya bergelimang karunia. Hitungan detik dalam hidupnya, hanya memikirkan tetangganya dengan hati mendongkol, sementara tetangga yang menjadi obyek sifat irinya dapat tidur nyenyak. Masih bagus kalau dia berharap nikmat serupa tanpa mengusik ketenangan tetangganya. Bila sifat dengki, iri, hasad, dan hubud dunya sudah jauh merasuk ke dalam jiwa, maka harapannya cuma satu; bagaimana caranya nikmat itu bisa hilang atau tetangganya pergi jauh dari lingkungannya. Kalau rasa iri begitu dalam menghunjam dalam dirinya, maka ia akan mengambil cara apa pun agar bisa memperoleh kekayaan. Maka lahirlah tindakan suap, sogok, dan akhirnya melakukan tindak korupsi. Pantaslah kalau Al Quran menyebut perbuatan korupsi ini sebagai al-fasad (yang merusak dan menghancurkan), yang layak dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya; seperti dihukum mati, disalib, dipotong tangan dan kakinya dengan timbal balik, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya, sebagaimana dikemukakan dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 33 – 34.

Adalah wajar dan sah-sah saja apabila setiap manusia (apa pun posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya) mencintai harta. Ini karena ia merupakan hal yang bersifat fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran Surat Ali Imron ayat 14 : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan mewah) binatang-binatang ternak, dan salah ladang, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.

Akan tetapi, hal tersebut akan menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, apabila berubah menjadi hubud dunya (kecintaan yang berlebih-lebihan kepada harta dunia), yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Rasulullah saw. menyebutkan hubbud dunya itu sebagai fitnah terbesar bagi umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim. Beliau bersabda : “Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi umatku adalah harta dunia”.

Jika tidak dikendalikan dengan keimanan yang kuat, hubbud dunya ini akan selalu menimpa pada setiap orang, karena memang dunia itu adalah sesuatu yang indah, lezat, dan menggiurkan. Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari, Rasulullah saw. bersabda pula : “Sesungguhnya harta dunia ini adalah ibarat tanaman hijau (yang sangat menarik) dan terasa manis. Harta dunia akan menjadi sebaik-baiknya sahabat bagi kehidupan seorang Muslim, jika mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya dengan cara yang benar pula, seperti untuk menegakkan agama Allah, menolong dan membantu anak-anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalannya).

Dan barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, maka ibarat orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang, dan kelak akan menjadi saksi pada hari kiamat (yang memberatkan)”. Banyaknya kalangan yang jatuh dan bertekuk lutut pada pelukan hubbud dunya, di samping karena indah, manis, dan lezatnya, juga karena ada anggapan bahwa fitnah dan ujian itu hanyalah dengan sesuatu yang dianggap menyakitkan, seperti kelaparan, kemiskinan, kekurangan, dan menderita sakit. Sedangkan, pangkat, jabatan, dan kedudukan, harta, dan ilmu. Di sinilah, ketika alat penakut sudah sulit kita temukan, mendatangkan rasa malu menjadi sebuah awal yang bagus untuk menghindarkan seseorang dari tindak pidana korupsi. Al-Hayaa-u Minal Iman; (Malu sebagian dari Iman). Bagaimana konsep malu menurut versi Rasulullah? “Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT., hendaklah ia menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnyadan apa yang dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur”. Para cerdik pandai selalu mengingatkan kita untuk mampu menjaga rasa malu agar tetap hidup dalam hati kita dengan cara selalu berlapang dada untuk berteman dengan orang yang terbiasa dipermalukan. Seorang sufi besar, Yahya bin Mu’adz pernah menyitir rasa malu ini dengan begitu indahnya. Katanya, “Bagi manusia yang malu di hadapan Allah SWT ketika taat, maka Allah akan malu ketika ia berbuat dosa”.

Mengundang rasa malu yang sudah terlanjur jauh meninggalkan kita, memang tidaklah mudah. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, samapai-sampai Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Menurut Mu’adz bin Jabal ra., sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. “Hamba-Ku telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu bermaksiat kepada-Ku”.

Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Serba tegas untuk menindas, serba sampai mati untuk memeras bawahannya, serba mungkin memindahkan angka-angka kemiskinan menjadi lembar-lembar dolar ke dalam rekening pribadi. Tidaka adakah rasa malu kepada Allah SWT saat kita sodorkan lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan, tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu terhadap Allah SWT ketika makanan sudah tersaji, tetapi jelas-jelas hak orang lain? Di tengah-tengah kita, rasa maalu tak tersisa lagi. Kalau masih sadar, malu rasanya kita mengundang kembali rasa malu untuk secara suka rela bersemayam dalam hati kita karena ia terlanjur malu menghuni rumah yang menolak kehadiran rasa malu. “Allah malu menyerahkan Buku Induk Akhirat kepada hamba-Nya secara berhadap-hadapan karena isinya cuma daftar dosa-dosa”, kata Imam al Qusyairy an Naishabury dalam bukunya Ar-Risalah al-Qusyairiyah mengutip sebuah Hadits Qudsi.
Apa keuntungan yang bakal kita dapat kalau kita meneguhkan rasa malu? Abu Sulaiman Ad-Darany berkata, “Allah SWT berfirman : Wahai hamba-Ku, selama engkau malu di hadapan-Ku, Aku akan membuat manusia lupa kekuranganmu. Aku akan membuat muka bumi lupa akan dosa-dosamu. Aku akan menghapuskan dosa-dosamu dari Buku Catatan Induk dan Aku tidak akan meneliti amalanmu pada Hari Kebangkitan”. Para koruptor adalah saudara kita juga. Mari kita ingatkan mereka bahwa Tuhan Maha Melihat.

Wallahu a’lam bis shawab

 

Buletin Jum’at Al Bina Edisi 16, 25 Rabiul Akhir 1431 H / 9 April 2010 M
Oleh : Abdur Rahim Yunus

MENGUKUR ANGAN-ANGAN

Hidup kadang seperti rangkaian bias-bias sinar terik yang membentuk fatamorgana. Terihat begitu indah. Segar menawan. Ia melambai-lambai, membuat rohani yang haus kian terperdaya.

Seperti itulah rupa hidup buat sebagian orang. Seperti itulah ketika kesenjangan antara idealita dengan realita tak lagi menumbuhkan kesadaran. Bahwa, hidup penuh perjuangan. Yang muncul selanjutnya adalah angan-angan. Andai saya bisa. Andai saya kaya! Kesenjangan makin parah ketika tarikan-tarikan idealita punya dua tangan. Adanya obsesi hidup serba lengkap di satu sisi, serta ppergaulan yang begitu akrab dengan dunia serba mewah. Entah kenapa, ingatan begitu kuat menyimpan sederet merek mobil mewah, lokasi wisata kelas tinggi, trend baru seputar busana, handphone, dan sebagainya. Ada selera hidup yang, boleh jadi, di luar kemestian.

Padahal, kenyataan diri berkali-kali menegaskan bahwa semua tuntutan gaya hidup itu di luar kemampuan. Bahwa, membayang-bayangkan sesuatu di luar kesanggupan hanya menguras energi tanpa manfaat. Seolah diri ingin mengatakan, “Inilah kenyataan. Terimalah. Jangan mimpi. Jangan terbuai angan-angan!”

Namun, penegasan itu sulit diterima diri yang terus dipermainkan nafsu. Pada saat yang sama, kesadaran jiwa kian tenggelam dengan angan-angan. Terus tersiksa dengan segala ketidakmampuan. Cahaya iman meredup. Hati pun menjadi gelap.

Seorang sahabat Rasulullah saw., Abdulaah bin Mas’ud, pernah memberikan nasihat. Ada empat hal yang menyebabkan hati manusia menjadi gelap. Yaitu, perut yang terlalu kenyang, berakrab-akrab dengan orang zalim, melupakan dosa-dosa masa silam tanpa ada perasaan menyesal. Dan terakhir, panjang angan-angan.

Beliau Radhiyallahu’anhu juga memberikan nasihat sebaliknya. Ada empat hal yang membuat manusia memiliki hati yang terang. Yaitu, adanya kehati-hatian dalam mengisi perut, bergail dengan orang-orang yang baik, mengenang dosa-dosa dengan penuh penyesalan, dan keempat, pendek angan-angan.

Seperti itulah nasihat singkat dari seorang sahabat Rasul yang sejak kecil hidup apa adanya. Tapi kemudian, tumbuh menjadi seorang pakar Al Quran, ahli fikih, dan beberapa penguasaan ilmu lain. Umar bin Khattab pernah berkomentar tentang sosok Abdullah bin Mas’ud. “Sungguh ia terpelihara oleh kefaqihan dan ketinggian ilmunya”.

Ada beberapa sebab kenapa angan-angan kian memanjang. Pertama, keringnya hati dalam mengingat Allah SWT. Kekosongan-kekosongan itulah yang menjadi lahan subur tumbuhnya angan-angan. Allah SWT. berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Hadiid : 16)

Kedua, adanya kecintaan pada dunia. Luqman Al Hakim pernah berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini laut yang dalam. Telah banyak orang tenggelam di dalamnya. Maka hendaklah perahu duniamu itu senantiasa taqwa kepada Allah ‘Azza Wajalla. Isinya iman kepada Allah Ta’ala. Dana layarnya berupa tawakkal penuh pada Allah SWT. Anakku, berpuasalah dari dunia dan berbukalah pada akhirat”.

Seorang ulama seperti Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah memberikan nasihat soal ini. Janganlah sekali-kali menatap dan merenungi harta orang lain. Karena di situlah peluang setan menyusupkan godaannya.

Ketiga, menghinakan nikmat Allah SWT. Sangat wajar jika manusia ingin hidup kaya. Justru, ada hadits Rasulullah saw. yang mengatakan, “Boleh jadi kefakiran menjadi seseorang kepada kekafiran”.

Masalahnya tidak pada sisi itu. Ketika seseorang tidak mampu menerima kenyataan apa adanya, ada sesuatu yang hilang. Itulah syukur terhadap nikmat Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda, “Dua hal apabila dimiliki seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan”. (HR. At Tirmidzi).

Jika seorang hamba Allah kurang bersyukur, yang terjadi berikutnya adalah buruk sangka pada Allah SWT. Menganggap Allah kurang bijaksana. Menganggap Allah tidak adil. Padahal, semua kebijaksanaan Allah adalah pilihan yang terbaik buat hamba-Nya. Boleh jadi, kemiskinan buat seseorang memang merupakan situasi yang tepat buat hamba Allah itu.

Seperti itulah firman Allah SWT, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampau batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-NYa lagi Maha Melihat”. (QS. Asy Syura : 27)

Terakhir, adanya kekaguman terhadap seseorang karena sisi kekayaannya. Begitulah mereka kehilangan identitas keimanannya. Gampang kagum dengan sesuatu dari kulit luarnya : penampilan dan kekayaan. Padahal, kenyataan hidup yang terlihat tidak seindah yang dibayangkan. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri”. (QS. Ali Imran : 196)

Kehidupan memang tidak bisa lepas dari pemandangan menipu sejenis fatamorgana. Tapi semua itu tidak akan mampu menggoda hati-hati yang tidak dahaga. Karena nimkat Allah SWT. yang teramat layak untuk disyukuri.

Wallahu a’lam bish shawab ***

HILANGNYA SIFAT MALU, TANDA TIDAK BERIMAN

Tidak ada cara yang paling ampuh dan jitu untuk menanggulangi segala tindak kejahatan kecuali menumbuhkan iman dan rasa malu. Jika iman dan rasa malu menghiasi setiap orang, maka negara itu dijamin pasti aman.

Di suatu perkambungan miskin, tinggal sebuah keluarga kaya raya. Rumahnya bak istana, meski di sekelilingnya rumah-rumah gubuk dan satu dua rumah katagori sangat sederhana. Selain tuan tanah, keluarga ini juga pedagang sekaligus rentenir.

Suatu hari anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa dipanggil, ditanyai satu per satu tentang permintaannya. Yang pertama minta rumah dan modal kerja. Yang kedua minta mobil.  Yang ketiga minta sekolah di luar negeri. Begitu seterusnya, sampai pada anak yang terakhir.  Si bungsu ini ketika ditanya, dengan tersipu-sipu berkata, “Malu Bu!” Tanpa diduga sang ibu menyahut, “Jika itu yang kau minta, terus terang, ibu tidak punya”.

Kisah ini tentu saja sekedar anekdot. Tapi jangan sampai kita tidak merasa tersindir olehnya, sekalipun kita bukan jutawan. Bukankah, soal hilangnya rasa malu, semua orang punya kemungkinan untuk mengalaminya.

Malu, pada masa kini menjadi barang yang langka. Orang yang punya sifat malu semakin sedikit jumlahnya. Muka-muka tebal semakin banyak dan menyebalkan. Padahal inilah sumber bencana.

Dalam Islam, malu merupakan sumber ajaran moral. Malu merupakan karakter dasar yang membedakan moral Islam dengan lainnya. Rasulullah menegaskan hal ini dalam sabdanya, “Sesungguhnya semua agama itu punya moral, sedang moral Islam itu adalah malu” (HR. Imam Malik).

Malu merupakan alat kontrol dan pengendali yang ampuh. Orang yang masih punya rasa malu akan berpikir seribu kali jika hendak melakukan sesuatu yang hina. Mereka malu jika sampai perbuatannya diketahui orang lain. Mereka juga malu pada dirinya sendiri. Selanjutnya mereka malu kepada Allah SWT.

Seorang muslim akan selalu menjaga kehormatan dirinya di muka umum. Pertama; ia merasa malu jika mendekati tempat-tempat yang biasa digunakan untuk maksiat. Meskipun tidak berniat melakukan kemaksiatan, siapa yang dekat-dekat bisa terkena fitnah. Sebab bisa saja muncul prasangka pada mereka yang melihatnya berkeliaran di tempat kotor. Kedua; jika terlanjur melakukan perbuatan salah, ia berusaha untuk menyembunyikannya. Ia malu jika perbuatan itu sampai terlihat atau terdengar orang. Dalam dirinya timbul rasa penyesalan yang mendalam, juga permohonan ampunan. Ia merahasiakan kesalahannya serapat mungkin, bahkan kepada Allah ia meminta agar kesalahannya ditutupi.

Sikap sseperti ini bukan termasuk katagori munafik, karena dilandasi rasa malu jika perbuatan jeleknya diketahui orang lain. Berbeda halnya dengan mereka yang sudah tidak lagi punya rasa malu. Mereka terang-terangan melakukan perbuatan maksiat di muka umum. Mereka tidak merasa perlu menyembunyikan, bahkan kadang mencerita-kannya kepada orang lain.

Adalah kesalahan besar, jika seseorang melakukan maksiat di malam hari kemudian menceritakannya keesokan harinya, padahal Allah telah menutupinya hingga pagi. Lebih jahat lagi jika ada rasa bangga menceritakan keburukan itu. Orang seperti ini sudah tidak punya malu lagi.

Malu adalah bagian dari iman. Keduanya merupakan dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Antar keduanya terjalin suatu kaitan yang erat dan utuh. Tidak beriman orang yang tidak punya perasaan malu. Sebaliknya, tiada malu bagi orang tak beriman. Tentang hal ini Rasulullah menegaskan, “Rasa malu dan iman sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya, maka lenyap pula yang lainnya” (HR. Al Hakim).

Antara malu dan iman itu bagaikan dua sisi mata uang. Bila salah satu sisinya kosong, maka bukan uang lagi namanya. Uang tidak bisa dijadikan alat ukur dan tidak laku di pasaran. Bahkan pembawanya bisa dituntut sebagai pelaku pemalsuan.

Rasa malu itu tidak akan berdampak kecuali manfaat. Siapapun yang menyandang perasaan ini, pasti menjadi bagus. Tutur katanya teratur tanpa kata kotor dan kasar. Hati-hati dalam berbuat, karena merasa selalu dalam pantauan. Dinding-dinding tembok seakan ikut memperhatikan, pepohonan yang rindang ikut menjadi saksi, binatang dan makhluk hidup lainnya seakan ikut memandang. Tumbuh perasaan malu kepada alam. Sebenarnya, orang seperti ini tidak saja malu kepada alam, tapi lebih jauh ia malu kepada pencipta alam, Allah SWT. Bagaimana kita tidak malu kepada Allah, sedang kita makan dari kemurahan-Nya, bernafas dengan udara-Nya, berjalan di atas bumi-Nya, dan bernaung di bawah langit-Nya.

Sangat keterlaluan jika ada di antara kita yang tidak malu kepada Allah, sementara nikmat Allah tak ada putus-putusnya dikaruniakan kepada kita. Jika dihitung, tak ternilai banyaknya. Rasulullah berpesan, “Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Kami berkata, ‘Alhamdulillah kami sudah merasa malu kepada Allah, wahai Rasulullah’. Selanjutnya Rasulullah bersabda, ‘Bukan begitu, bukan sekedar bicara. Malu kepada Allah yang sebenar-benarnya ialah hendaknya kalian memelihara kepada dan isinya, memelihara perut serta isi kandungannya, memelihara hati dan kebusukannya”.

Malu merupakan sumber kebaikan dan kebagusan. Perasaan malu akan membawa semua orang kepada jalan kebenaran. Rasulullah mempersonifikasikan rasa malu ini dengan indah sekali lewat sabdanya, “Jika rasa malu diumpamakan seorang laki-laki, maka ia bagai seorang laki-laki yang shalih. Sebaliknya seandainya sifat keji itu diumpamakan seorang laki-laki maka ia adalah lelaki jahat” (HR. Thabrani).

Ada hubungan yang jelas antara iman, rasa malu, dan kebaikan. Sebaliknya ada juga kaitan antara hilangnya rasa malu dengan tindak kejahatan. Adapun antara rasa malu dengan kejahatan tidak pernah bisa disatukan. Keduanya selalu bertentangan, bagaikan gelap dengan terang. Jika datang gelap, maka terang menghilang.

Wallahu a’lam.

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM. Kaitkata: , . 1 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.