HAJI DAN KEPEMIMPINAN ISLAM

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi : 432/Th. IX/1429 H

 

Pada bulan Dzulhijjah ini, umat Islam sedang melangsungkan perhelatan besar : ibadah haji.  Subhanallahi!  Dari seluruh penjuru dunia kaum Muslim berbondong-bondong datang ke Tanah Suci dengan berbagai latar belakang; ras, suku, bangsa, dan bahasa.  Namun, perbedaan itu mereka tanggalkan semuanya.  Yang ada adalah kesamaan iman dan Islam yang mengikat mereka untuk berada dalam satu tempat bersama-sama, demi mengerjakan semua perintar Allah SWT dengan penuh ketundukan dan ketulusan.  Pengorbanan waktu, tenaga, harta, dan pikiran mereka persembahkan hanya kepada Allah SWT.  Mereka senantiasa berharap, perniagaan mereka dengan Sang Rabbul ‘Izzati diterima dan dibeli dengan ridha dan surga-Nya.

Di tengah rasa bahagia menyaksikan perhelatan tersebut, ada rasa galau.  Apakah ibadah haji hari ini sama kondisinya dengan ibadah pada masa Rasulullah saw.?  Apakah umat Islam sekarang bisa menangkap esensi ibadah haji ini?  Bagaimana pula pengorbanan umat Islam saat ini — sebagai salah satu pesan dari ibadah kurban — untuk kemuliaan agamanya?

BERCERMIN PADA HAJI WADA’

Hari itu, hari Tarwiyah 10 H.  Saat itu Rasulullah saw. pergi ke Mina dan melaksanakan shalat dzuhur, ashar, isya, dan subuh di sana.  Seusai menanti beberapa saat hingga matahari terbut, Beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Arafah.  Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana.  Beliau pun masuk tenda yang telah disiapkan bagi Beliau.

Setelah matahari tergelincir, Rasulullah saw. meminta agar al-Qashwa’, unta Beliau, didatangkan.  Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah.  Di sana telah berkumpul sekitar 124.000 atau 144.000 kaum Muslim.  Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka seraya menyampaikan khutbah haji terakhir Beliau yang lebih dikenal dengan sebutan haji wada’.  Beliau antara lain bertutur :

Wahai manusia…

Sesungguhnya darah dan harta kalian terpelihara/haram atas diri kalian hingga kalian menjumpai Tuhan kalian, sebagaimana haramnya hari ini dan bulan ini.  Sesungguhnya kalian pasti akan menjumpai Tuhan kalian dan kalian akan ditanya tentang amal-amal kalian…

Sesungguhnya riba jahiliya dihapuskan seluruhnya.  Kalian hanya menerima pokok harta kalian; kalian tidak menzalimi dan tidak dizalimi…

Semua persoalan yang terjadi pada zaman Jahiliya yang selama itu masih di bawah telapak kakiku, mulai hari ini dihapuskan…

Sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang menjadikan kalian tidak akan sesat selamanya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…

Wahai manusia…

Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu.  Sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak.  Kalian semua dari Adam dan Adam dari tanah.  Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa… (HR. Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyyah)

Dari khutbah Nabi saw. di atas, ada beberapa pelajaran penting bagi umat Islam.  Pertama, umat Islam adalah umat yang mulia, yang tegak dan terikat oleh iman.  Inilah ikatan ideologi yang paling kokoh dan menjadikan umat Islam istimewa dan berbeda dengan umat lain.  Yang membedakan umat Islam dengan umat lainnya adalah ketaqwaan mereka sebagai pembuktian atas keimanan mereka kepada Allah SWT.

Kedua, umat ini sejak awal berdirinya di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. telah membuang sistem yang melahirkan derita dalam kehidupan ekonomi mereka : sistem ribawi!  Sistem ekonomi ribawi ini penuh dengan kezaliman dan manipulasi.  Karena itu, Islam telah mengubur sistem ekonomi ribawi ini sejak awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah.

Ketiga, Rasulullah saw. dengan jelas menggambarkan telah tumbangnya sistem jahiliyah yang rendah dan sangat tidak berharga denngan bahasa majaz Beliau (perkara yang ada di bawah telapak kaki).  Ini adalah gambaran tentang tegaknya kepemimpinan Islam atas semua yang berbau Jahiliyah.  Pemimpinnya adalah Rasulullah saw.  Sistem dan hukum-hukum yang tegak di dalam masyarakatnya adalah sistem dan hukum Islam.

Keempat, keistiqamahan dalam memegang teguh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah adalah pangkal keselamatan dunia dan akhirat sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam QS. Thaha [20] : 123 – 124, Allah berfirman :

“Turunlah kamu berdua dari syurga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain.  Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut pentunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.  Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha [20] : 123 – 124).

BAGAIMANA UMAT ISLAM HARI INI?

Setiap tahun di bulan Dzulhijjah, lautan manusia berkumpul di Padang Arafah.  Mereka datang dari berbagai negeri yang tercerai berai dengan pemimpin mereka masing-masing.  Mereka sudah lama tidak berada dalam satu kepemimpinan yang utuh sebagaimana kaum Muslim saat masih berada dalam kepemimpinan Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau.  Mereka tidak lagi berada dalam satu kesatuan jamaah kaum Muslim (jama’ah al Muslimin) secara hakiki sebagaimana kaum Muslim saat berada dalam naungan Daulah Islam masa Rasulullah saw. dan pada kekhalifahan setelahnya.  Mereka dicengkeram ‘ashabiyah sempit.  Mereka berkubang dalam sistem jahiliyah modern : nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state).

Aneh memang, umat Islam saat ini bisa bersatu dalam ibadah mahdhah, yakni ibadah haji.  Mereka mengarah ke kiblat yang satu dan berada di tempat ibadah yang sama.  Namun, mereka begitu saja abai terhadap kewajiban mereka untuk berada dalam kepemimpinan yang juga satu.

Mereka juga tenggelam dalam kubangan sekularisme di negeri mereka.  Mereka senantiasa memisahkan urusan ibadah ritual dengan aspek kehidupan lainnya.  Mereka menganggap seolah-olah kewajiban untuk tunduk dan patuh pada perintah Rabbul ‘Izzati hanya dalam ranah ibadah ritual seperti shalat, haji, berkurban, dan semisalnya.  Sebaliknya, di luar itu — seperti kewajiban mereka untuk berada dalam satu kepemimpinan Islam (khalifah) dan keharusan mereka untuk membuang sikap ‘ashabiyah yang sempit — seolah tidak pernah diwajibkan oleh Allah dan tidak pernah tertuang dalam lembaran wahyu (Al Qur’an dan As Sunnah)

Saat ini dunia, termasuk Dunia Islam, sedang dilanda krisis keuangan global yang cukup parah.  Pangkal utamanya tidak lain adalah ekonomi ribawi yang menjadi pilar sistem ekonomi kapitalis saat ini, yang sayangnya justru diterapkan pula di negeri-negeri Muslim.  Padahal bukankah sistem ribawi, sebagaimana pernah Rasulullah saw. khutbahkan saat Haji Wada’, sudah beliau campakkan sejak empat belas abad lalu?  Lalu mengapa umat Islam mengadopsinya kembali dan seperti belum mau melepaskannya?  Padahal sistem ekonomi berbasis riba inilah yang selama ini telah berkali-kali menggelincirkan umat ke dalam jurang penderitaan dan kemiskinan.

Sungguh bertolak belakang ibadah haji saat ini dengan ibadah haji pada masa Rasulullah saw.  Dulu Rasulullah saw. dan kaum Muslim menunaikan ibadah haji dalam naungan sistem Islam, dalam Daulah Islam, dan dalam satu kepemimpinan Islam.  Saat itu sistem sistem jahiliyah terkubur secara keseluruhan.  Sebaliknya, selama puluhan tahun sejak runtuhnya Kekhalifahan Islam hingga saat ini, kaum Muslim menunaikan ibadah haji dalam kubangan sistem jahiliyah modern, yakni sistem sekular, dan berada di bawah kepemimpinan yang terkotak-kotak dengan nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state)-nya masing-masing.

Hari ini ideologi Islam tidak tegak di tengah-tengah umat Islam sebagaimana pada masa Rasulullah saw.  Hari ini tidak ada satu pun negara yang menerapkan sekaligus mengemban Islam sebagai ideologi sebagaimana pada masa Nabi saw.  Sistem jahiliyah yang berada di telapak kaki Rasulullah saw. dan sudah dihapus oleh beliau sejak pertama kali beliau membangun Daulah Islam di Madinah justru sekarang hadir kembali bahkan mencengkeram umat Islam.

ISLAM MEMBUTUHKAN PENGORBANAN KITA

Terkait dengan pengorbanan, Al Qur’an telah mengabadikan kisah dahsyat Nabiyullah Ibrahim as.  Beliau adalah manusia yang menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba berikut kewajiban-kewajibannya sekaligus menyadari siapa Tuhannya berikut hak-hak-Nya.  Kecintaan Ibrahim as. kepada Tuhannya sampai pada tingkatan mutlak.  Baginya, Allah SWT adalah segalanya.  Karena itulah, demi kecintaan atas Tuhannya, Ibrahim as. tidak pernah merasa berat hati meski Allah SWT memintanya untuk mengorbankan putranya, Ismail as., yang puluhan tahun ia nantikan kehadirannya.  Demikianlah Ibrahim as. dengan ringan tanpa beban ‘menyembelih’ ego dan keakuannya, serta dengan tulus-ikhlas mengorbankan rasa cinta kepada kepada putranya demi mendahulukan rasa cinta kepada Tuhannya.  Demikian besar cintanya kepada Allah sehingga melebihi kecintaan kepada selain-Nya, pantaslah jika Ibrahim as. digelari sebagai khalilullah (kekasih Allah).

Sikap dan pengorbanan Ibrahim as. ini diteladani secara sempurna, bahkan dengan kadar yang istimewa oleh Baginda Rasulullah saw.  Bukan hanya waktu, tenaga, harta, dan keluarga yang Rasulullah saw. korbankan.  Nyawa pun beliau pertaruhkan demi tegaknya Islam dan kemuliaan kaum Muslim (‘izzatul Islam wal Muslimin).  Sikap dan pengorbanan Rasulullah dan generasi setelah mereka di masa kekhalifahan setelahnya ketika mereka mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia.

Inilah esensi ibadah haji dan ibadah kurban pada bulan Dzulhijjah ini.  Kita diajari nilai ketundukan dan kepatuhan total sebagai wujud keimanan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.  Kita pun diajari kaharusan untuk mengorbankan segala yang ada pada diri kita, yang sesungguhnya bukan milik kita, tetapi milik Sang Pemilik Sejati, Allah SWT.  Tentu apa yang kita korbankan layak mendapatkan balasan dari Allah SWT :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan syurga untuk mereka”. (QS. At Taubah [9] : 11).

WAHAI KAUM MUSLIM…

Sesungguhnya umat ini akan hidup mulia dan meraih kemuliaan hanya dengan Islam.  Menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara adalah kewajiban hamba yang beriman.  Ini suatu keniscayaan dan tentu membutuhkan pengorbanan.  Meruntuhkan dan mengubur sistem selain Islam adalah tantangan sekaligus kewajiban kita.  Saatnya umat Islam hidup merdeka; menghamba hanya kepada Tuhan yang menciptakan hamba, bukan kepada sesama hamba.  Saatnya umat meninggalkan derita di bawah  ‘ideologi setan’ (Kapitalisme maupun Sosialisme).  Saatnya menegakkan kembali kepemimpinan Islam di bawah naungan Khilafah ala Minhaj an Nubuwwah.

 .

 

MEMAKNAI BULAN DZULHIJJAH

Disalin dari : Buletin Jum’at AL – BINA Edisi 49, 07 Dzulhijjah 1429 H

 

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”  Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

Sekarang bulan Dzulhijjah.  Jika bulan ini disebut, maka dalam pikiran kita spontan teringat pada dua hal : pertama, tiap minggu kondangan karena banyak yang menikah; dan kedua, nyata bareng sama tetangga sehabis motong kambing kurban.  Padahal, bulan Dzulhijjah lebih dari itu.  Secara khusus Rasulullah saw. menyebut keutamaan bulan ini, terutama untuk 10 hari pertama di awal bulan.

Dari Umar ra., bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini.  Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad)

Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang dicintai Allah SWT, jangan sia-siakan kesempatan ini untuk taqarrub kepada Allah SWT dengan banyak-banyak melakukan ibadah.  Setidaknya ada delapan ibadah yang bisa kita lakukan, yaitu :

  1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.  Ini adalah amalan yang paling utama di bulan Dzulhijjah.  Tidak ada haji selain di bulan Dzulhijjah.  Ganjaran bagi orang yang melaksanakan ibadah ini sangat besar di sisi Allah SWT.  Kata Nabi saw., “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga”.

  2. Berpuasa selama 10 hari di hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, atau pada sebagiannya, atau paling tidak sehari di hari Arafah.  Puasa juga amalan utama.  Allah SWT memilih puasa sebagai amalan hamba-Nya untuk diri-Nya sehingga Dia sendiri yang menentukan pahalanya.  Hal ini termaktub dalam sebuah hadits Qudsi. “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.  Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku”.
    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra., Rasulullah saw.
    bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits muttafaq ‘alaih).

  3. Bertakbir dan berdzikir.  Perbanyaklah takbir dan dzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT., “… dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …” (QS. Al-Hajj [20] : 28).  Begitulah para ahli tafisr menafsirkan frase “pada hari-hari yang telah ditentukan” dengan “sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Karena itu, para ulama menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak dizkir pada hari-hari tersebut.  Apalagi ada hadits dari Ibnu Umar ra. yang menguatkan. Bunyinya, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad).  Diriwayatkan bahwa para tabiin pada hari-hari itu mengucapkan, “Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, wallahu akbar, allahu akbar walillahil hamdu”. Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (sembahan) selain Allah.  Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
    Dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir baik ketika di masjid, rumah, pasar, atau di jalan.  Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
    Perbanyak taubat dan meninggalkan segala bentuk maksiat dan dosa.  Maksiat adalah penyebab jauhnya hamba dari Allah SWT.  sedangkan ketaatan adalah pintu mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

  4. Perbanyaklah amal shalih.  Bukan hanya amal-amal yang fardhu saja.  Sebab, Allah SWT. suka dan mencintai seorang hamba yang mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan nawafil, amalan sunnah.  Kita bisa memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, berjihad, membaca Al Qur’an, dan melakukan amar makruf nahi munkar.  Kita sangat berharap semua amalan itu bisa mendatangkan banyak pahala.  Tapi, kita lebih berharap lagi mendapat cinta dan ridha Allah SWT.

  5. Disyariatkan pula kita melakukan takbir muthlaq — yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied — dan takbir muqayyad — yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Bagi kita yang sedang tidak berhaji, takbir dimulai dari sejak Dhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

  6. Berkurban.  Bisa kita lakukan pada Hari Raya Qurban dan hari-hari Tasyriq.  Ibadah ini adalah sunnah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. mengukuhkannya menjadi syariat bagi kita.  Sabda Nabi, “Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk.  Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Hadits muttafaq ‘alaihi)

  7. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”. Dalam riwayat lain, “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
    Hal ini untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun
    hewan kurbannya.  Firman Allah, “Dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan”. (QS. Al Baqarah [2] : 196).  Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

  8. Melaksanakan shalat Iedul Adha dan mendengarkan khutbahnya.  Bahkan, anak-anak dan wanita-wanita yang sedang haidh pun diperintahkan Nabi saw. untuk hadir bersama jamaah shalat ied di tanah lapang untuk mendengarkan khutbah.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

SEMANGAT BERKORBAN

Sumber : Buletin Jum’at AL – BINA Edisi 48, 10 Dzulhijjah 1430 H

 

Maka tatkala anak itu sampai usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata : Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?  Ia menjawab, “Wahai Bapakku laksanakanlah apa yang diperintahkan padamu Insya Allah Bapak akan mendapatkanku
termasuk orang-orang yang sabar

Dialog sejarah peradaban di atas, antara Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail telah Allah abadikan di dalam kitab-Nya yang suci, Al Qur’an.  Sebuah keteladanan dalam ketakwaan kepada Allah SWT yang tidak dapat dibantahkan, keteladanan seorang ayah yang sabar dan seorang anak yang ikhlas dalam ketaatan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al Mumtahanah [60] : 6).  Karena ketaatan dan kesabaran keduanya, Allah SWT berkenan mengganti Ismail dengan seekor domba.  Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang.  Setiap tahun kita berkurba (domba, sapi, unta, dan lain-lain) dan mengabadikannya sebagai hari raya Idul Adha.  Apa hikmah bagi kita? Pada masa Nabi Ibrahim hidup, sekitar 4300 tahun lalu, menjadikan manusia sebagai sesaji adalah hal biasa.  Di Mesir Kuno, setiap tahun selalu dilaksanakan kontes kecantikan dan yang terpilih akan dijadikan persembahan kepada dewa dengan cara ditenggelamkan di Sungai Nil.  Di Mesopotamia (Irak) yang dijadikan sesajii adalah bayi.  Di Aztek, yang dijadikan sesaji adalah para pemuka agama.  Digantinya Ismail dengan seekor domba menandai lahirnya revolusi besar dalam tinta sejarah peradaban manusia, yaitu dihapuskannya pengorbanan manusia.  Manusia terlalu mahal untuk dikorbankan.

Hikmahnya adalah kita harus menghormati manusia, jangan mengorbankan manusia, melainkan membahagiakan manusia dan tolong menolong kepada sesama yang membutuhkan bantuan.

Idul Adha adalah momentum menumbuhsuburkan rasa kasih sayang di antara sesama.  Inilah pesan yang dicanangkan dua manusia agung; Ibrahim Khalilullah dan Rasulullah saw.  Idul Adha bisa dimaknai dari dua sisi.  Yaitu dari sisi ajaran yang dibawa Rasulullah saw. dan dari sisi pengalaman Nabi Ibrahim dan keluarganya.  Dalam Al Qur’an, keduanya digelari uswatun hasanah (Nabi yang menjadi teladan dalam kebaikan).  Difirmankan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Dilihat dari sisi Nabi Ibrahim, materinya sudah sangat jelas.  Idul Adha (Idul Qurban) adalah refleksi pengalaman Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail yang menjadi revolusioner bagi sejarah umat manusia sekaligus keteladanan dalam ketakwaan kepada Allah SWT, Yang Maha Besar.

Dilihat dari sisi ajaran Rasulullah saw., Idul Adha erat kaitannya dengan diturunkannya ayat terakhir yang berbunyi : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah [5] : 3)

Ayat ini adalah ayat Al Qur’an terakhir yang diterima Rasulullah saw.  Terdapat hal yang menarik, yakni ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah tatkala beliau sedang wukuf di Arafah, saat menunaikan ibadah Haji Wada.  Karena Allah SWT telah mengikrarkan kesempurnaan Islam, maka kita merayakan, mensyukuri, dan memperingatinya dengan hari raya Idul Adha.

Dalam ayat ini Allah SWT “mengikrarkan” tiga hal, yaitu : 1. Menyempurnakan bangunan agama Islam; 2. Mencukupkan semua nikmat-Nya kepada Rasulullah dan umatnya; dan 3. Merelakan Islam sebagai dien (agama) terakhir dan sempurna.

     

Dalam bahasa Al Qur’an, kata akmaltu berbeda dengan kata akmamtu.  Satu kumpulan dari banyak hal yang sempurna dinamakan “kusempurnakan”.  Dengan kata lain, semua unsur di dalamnya memiliki kesempurnaan.  Tapi kalau akmamtu (Kucukupkan) bermakna kumpulan dari hal yang tidak sempurna.  Ia baru sempurna bila semuanya berkumpul menjadi satu.

Lain halnya dengan nikmat.  Sebesar apa pun nikmat di dunia sangat jarang (tidak pernah) mencapai taraf sempurna.  Semua nikmat baru dikatakan sempurna apabila dipayungi agama.

Ikrar ketiga adalah diridhainya Islam sebagai agama.  Menurut ulama tafsir, kata dien terambil dari akar yang sama dengan kata daina atau utang.  Karena kemurahan-Nya, Allah rela kita disempurnakannya ajaran Islam, dicukupkannya curahan nikmat, dan “dibebaskannya” kita dari utang.

Dengan demikian, Idul Adha menjadi momentum tepat bagi kita untuk : (1) berusaha memahami makna syukur yang hakiki; (2) mengevaluasi kualitas syukur; dan (3) menjadikan setiap aktifitas kita sebagai cerminan rasa syukur kepada Allah.

Idul Adha bisa pula dijadikan momentum untuk menumbuhkan kesabaran akan sempurnanya ajaran Islam.  Ujung dari kesabaran ini adalah lahirnya kebanggaan menjadi seorang Muslim, rela diatur hukum Islam, dan berkorban demi kejayaan Islam.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.