ADA KAU DI SANA

Dikutip dari : http://wp.me/p1sb3Q-6b
.

Setiap yang hidup menyimpan luka.  Sebagian membiarkannya terbuka dengan kemungkinan terinfeksi atau sembuh dengan sendirinya. Sebagian yang lain menutup luka itu rapat-rapat. Menghindari segala kemungkinan ditemukannya luka itu oleh orang lain. Sayangnya aku bukan satu diantaranya. Aku takut pada infeksi. Namun di lain hal menutup dengan sempurna terasa seperti pilihan seorang pecundang. Aku biarkan tangan dan jariku saja menghadapinya. Kupaksa mereka bergelut dengan kata-kata yang mengisi tiap lembar hidupku untuk kujadikan Cerita Hari Ini.

*

Kusempatkan barang 5 menit untuk mengelus permukaan sampul buku baru di hadapanku. Tidak rata. Tepat, seperti yang kukehendaki. Permukaan yang berelief menurutku dapat memberikan kesan lebih natural. Aku suka menilai-nilai sebuah buku berdasarkan sampulnya. Menurut beberapa teman, kebiasaanku yang satu ini agak berlebihan. Setiap orang memilih buku karena menghendaki isinya, bukan sampulnya. Aku biarkan mereka dengan pendapatnya. Mungkin sensasi yang kurasakan tiap kali menikmati permukaan sampul buku belum pernah mereka rasakan. Tidak apa. Hidup ini terlalu indah untuk sekedar diisi dengan perdebatan panjang tanpa ujung. Bertahan pada pendapat masing-masing. Mencari-cari pembenaran.

Kubuka lembar pertama buku baruku. Wangi kertas menguar dari dalamnya. Terkurung dalam aroma yang mulai menyihir raga, aku menutup buku baruku segera. Mencoba merasakan ketebalannya dengan memainkan ibu jariku padanya. ‘Sreeettt…sreettt’. Tiap lembarnya terkibas dengan cepat dan menimbulkan bunyi. Aroma kertas kini lebih menusuk hidung. Aku menikmatinya dengan perasaan lega bercampur bahagia. Entah kegilaan apa lagi yang akan kulakukan setelahnya.

Dinda pernah merasa tak yakin akan adanya hari esok. Itu terjadi kala dirinya meraba dalam gelap jiwanya. Suwung. Hanya ada warna hitam dimana-mana. Ia sendirian setelah Ananta memutuskan untuk meninggalkannya beberapa hari. Hanya beberapa hari, bukan selamanya. Membiarkan amarah bergemuruh di dada pasangan yang tinggal serumah berbahaya, kata Ananta. Dinda diam. Tak ada kata terucap dari bibirnya kala Ananta melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang telah didiaminya selama lebih dari 5 tahun. Kini Dinda terkurung sepi. Malam semakin larut kala kelebatan percakapan terakhirnya dengan Ananta bergema di telinganya.

“Mengapa kau setuju waktu itu?” Ananta membuka percakapan.

“Kau tahu orang tuaku meminta…,” Dinda memberi jeda pada kalimatnya sebelum akhirnya melanjutkan,”juga karena pandangan orang tentang wanita yang sudah matang secara usia untuk menikah. Aku tak punya alasan yang dapat diterima untuk mengatakan tidak. Pada orang tuaku, juga pada keadaan.”

Ananta menyetujui pendapat istrinya dalam diam. Mencoba mengingat-ingat keputusannya sendiri waktu itu.

“Aku percaya cinta dapat tumbuh perlahan. Asalkan masing-masing mampu memberikan ruang di hidupnya untuk orang yang telah dinikahinya,”ujar Ananta kemudian. Kata ‘telah dinikahinya’ terdengar ditelinga Dinda sebagai ‘terlanjur dinikahinya’.

Ada kau di sana. Itu sebabnya buku baru di tanganku ini terasa lembab. Bukan tanpa alasan aku mengatasi kegugupan ini dengan meminum kopi. Pagi hari, ditemani embun yang menggelayut pada helai daun, biasanya aku hanya meminum teh hangat. Kehangatannya kubutuhkan untuk menetralisir pagi yang dingin. Yang dinginnya persis seperti saat ini. Yang tidak akan kuhadapi dengan gelegak adrenalin yang terpacu oleh kafein dalam kopi. Tapi kali ini aku sedang tak ingin seperti biasa.

“Sudahkah kau menemukannya, Dinda?”

Suara hati Dinda mempertanyakan keberadaannya.

“Aku menemukannya pada diri suamiku. Ananta,” Dinda menjawab dalam hati. Memutuskan untuk berdamai dengan keadaan adalah pilihannya. Karena Dinda tahu, Ananta akan memilih keputusan yang sama. Mereka dilahirkan untuk patuh pada kebahagiaan yang dibentuk oleh pandangan orang lain. Orang-orang terdekatnya, teman bermain, tetangga yang menyayangi dan memperhatikan mereka.

Untuk cinta yang dapat ditumbuhkan perlahan, Dinda dan Ananta kembali bersatu. Melupakan hari-hari dimana mereka mempertanyakan keputusan masing-masing akan pernikahan mereka. Ananta memiliki Santi. Dinda memiliki Anto. Tapi itu dulu, waktu keduanya belum menjadi seperti kehendak orang lain.

Aku membelai bagian depan dan belakang buku baruku. Tak ingin terburu-buru meluangkan waktu untuk membacanya. Nanti akan tercipta banyak waktu untuknya. Buku baru yang benar-benar baru keluar dari percetakan. Cetakan pertama. Entah yang lain sudah tiba di toko buku atau belum.

Semenjak Ananta kembali, Dinda lebih sering melamun. Tak banyak yang dapat dikerjakannya di rumah. Pembantu ada untuk menyelesaikan hampir semua pekerjaan rumah mulai dari mencuci pakaian hingga memasak. Ia hanya menyisakan kamar tidur Dinda dan Ananta untuk dibenahi setiap harinya oleh Dinda. Membersihkan ruangan berukuran 4×5 meter hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit. Dinda terbiasa meluangkan waktu dari pagi hingga malam di kantornya. Namun Dinda ingin membiarkan cintanya pada Ananta tumbuh perlahan dengan meninggalkan pekerjaannya. Hatinya ada di sana. Di pekerjaannya. Tapi Dinda yakin akan terbentuk hati yang lain di sini, di rumahnya.

Dan benar adanya. Perlahan tapi pasti hatinya menjadi bentuk yang berbeda. Tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak ‘menjadi ibu rumah tangga’, tidak juga patuh pada dogma ‘wanita karir’. Ia mencari bentuknya sendiri. Melalui metamorphosis yang sulit dijelaskan, Dinda mendapati hatinya dengan bentuk yang baru. Ia mulai meraih segala peralatan yang dapat digunakan untuk menulis. Apa saja. Pensil, bolpoin itu awalnya. Merasakan kenikmatan tersendiri saat menorehkan kata demi kata diatas kertas adalah tahapan yang dirasakan olehnya sebelum akhirnya bentuk yang lebih utuh didapatnya. Bentuk itu adalah sebuah dunia baru. Yang tanpa sadar Dinda ciptakan lewat untaian kata. Rumah baru. Perabotan baru. Tetangga baru. Lingkungan baru. Suami baru.

“Apa arti ideal bagimu?” seorang teman pernah menanyakannya padaku. Aku mengangkat bahu. Sejak memutuskan untuk menulis novel aku lebih banyak diam. Terkadang merenung, terkadang membiarkan kehampaan menguasaiku.

“Hati-hati dengan dunia sepimu. Aku bukan orang yang percaya takhayul, Din, aku hanya…” kututup mulut temanku itu dengan telunjuk. Aku tak ingin mendengar apa pun kelanjutan kalimatnya. Cukup batinku mencoba meraih kekhawatirannya. Merangkulnya perlahan, menenangkan pikirannya. Kemudian mengajaknya memasuki duniaku yang baru. Dunia yang kuciptakan di buku baruku. Buku dimana ia ada di dalamnya. Kekasih yang hanya ada di hati itu kini dapat kuhadirkan dalam hidupku. Kekasih yang dengannya hanya ada sikap dan pendirianku sendiri. Bukan keinginan orang lain. Bukan pula keputusan yang didasarkan pada norma yang dipegang teguh oleh lingkungan di sekitarku. Ia ada dan berjiwa tanpa sedikitpun mengganggu ikatan pernikahanku dengan Ananta.

Untukmu yang hidup di alam pikiranku, kupersembahkan sebuah rumah padamu. Buku baruku…

(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)
.

AH SEANDAINYA …

Dikutip dari : http://wordsondesert.wordpress.com/2012/04/12/ah-seandainya/
.

Aku hanya memintanya untuk membeli magnet. Tugas yang sangat ringan, menurutku. Entah menurutnya. Rambut hitam panjangnya yang semula dibiarkan tergerai kini terikat dengan karet gelang yang diambil dari dalam tasnya. Dari kejauhan kulihat beberapa hasil karya yang sudah siap untuk dipajang. Beragam artikel dengan tema Cerita Hari Ini.

Aku memandang matanya sambil menerima sejumlah magnet berbentuk bulat dari telapak tangannya. “Lama sekali,” ujarku spontan. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa aku kecewa dengan caranya membantuku. Sama sekali tidak. Tapi rupanya ia salah sangka.”Maaf, Kak, angkot yang biasa mangkal di depan tidak ada. Saya tadi jalan kaki ke toko buku terdekat. Juga tidak ada. Penjaga toko memberi tahu saya kalau magnet semacam ini bisa dibeli di pasar. Ada toko aksesoris yang menjualnya di sana. Jadi…” Kisahnya panjang dan detil. Sampai-sampai ia ceritakan juga ekspresi wajah penjaga toko-toko yang disebutnya. Kesalku berubah jadi tawa. Tawa kami berdua.

Lama kuperhatikan gerak tubuhnya tiap kali ia berusaha membantuku menuntaskan pekerjaan menyusun artikel yang akan menghias majalah dinding sekolah kami. Wajahnya yang begitu sederhana dan kulit coklatnya yang dibiarkan terpanggang sinar matahari setiap hari. Tas sekolah yang terlihat ketinggalan zaman itu juga hanya berisi barang-barang sederhana. Ia pernah memperlihatkan padaku. Tanpa ada maksud apapun kecuali memenuhi persyaratan sebagai anggota tim penyusun majalah sekolah. Perpeloncoan kecil memintanya untuk menuliskan apa saja yang mengisi tas sekolahnya dan untuk apa benda-benda tersebut dibawa ke sekolah. Ia bercerita sedikit tentang buku paket yang tidak lengkap, pensil dan bolpoin murah pemberian tetangga di hari ulang tahunnya dan tak ketinggalan majalah bekas yang dibelinya di toko loak. “Tidak bisa beli yang baru,” katanya. “Yang penting ada bacaan,” lanjutnya.

Aku tahu sepulang sekolah ia selalu membantu ibunya berkeliling kampung menjajakan gorengan hangat dari rumah ke rumah. Sementara pagi hari sebelum berangkat sekolah, tugas berbelanja ke pasar menanti untuk dikerjakan. Mungkinkah ia ikhlas melakukan itu semua? Tidakkah ia menginginkan kehidupan glamor nan santai teman-teman satu sekolahnya? Aku sering dibuatnya bertanya dalam hati. Aku tahu seandainya tugas membeli magnet itu aku serahkan ke Ratri, gadis populer di kelasku yang hanya mengikuti kegiatan ini agar bisa terlihat rajin menulis di mata Rendra, kakak kelas yang dipujanya, pasti lain ceritanya. Mana mau Ratri berlari-lari ke toko buku yang terdekat sekalipun. Atau juga seandainya tugas tadi aku serahkan ke…ah, sebenarnya aku tak ingin membandingkannya dengan Nina, kekasihku. Kami telah berpacaran selama 2 tahun. Segala kekurangan yang ada pada Nina telah mampu aku terima sebagaimana ia menerima kekurangan pada diriku.

“Siapa sih namanya?”

“Murti…Murtiningsih lengkapnya”

“Udah, segitu aja?”

“Iya, emang kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa sih… Bener ya dia jualan gorengan kalau sore?”

“Katanya begitu. Bantuin ibunya”

“Hebat juga ya dengan jualan gorengan bisa sekolahin anaknya sampai SMU”

“Namanya juga buat anak, Nin. Apa sih yang nggak dilakukan orang tua?”

Nina kerap mengajakku membicarakan Murti. Semula aku pikir ia merasa tersaingi dengan kehadiran Murti di sisiku. Semenjak Murti bergabung dengan tim redaksi majalah sekolah, ia kerap mengunjungi kelasku untuk berbagai hal. Ketangkasannya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus mulai dari menulis artikel hingga pekerjaan kasar yang dihindari banyak teman membuat ia menjadi daya tarik tersendiri di sekolah. ‘Coba kalau tidak ada Murti waktu itu’,’Untung deh Murti cepet bikinnya’ atau ‘Murti lagi dimana ya enak tuh kalo dibantuin dia’ adalah sederetan kalimat yang sangat lazim terdengar di telingaku terhitung enam bulan ia bergabung di tim yang aku pimpin. Meski berbagai cemooh juga singgah dalam waktu bersamaan seperti ‘Gimana nggak rajin wong kalau malas nggak bisa makan’ dan lain sebagainya. Aku tahu Murti tak pernah menanggapi, meski ia sempat menggoreskan pedih hatinya lewat puisi-puisinya. Puisi yang justru makin mendongkrak eksistensinya di komunitas majalah sekolah.

Murti telah menjelma menjadi magnet yang dapat menarik sekian banyak kekaguman yang berakhir pada tumbuhnya inspirasi-inspirasi kami dalam menulis. Magnet bukan sekedar benda yang harus ia dapatkan pada hari pertama dirinya bergabung. Magnet adalah eksistensi dirinya sendiri.

“Kamu kenapa, Andre? Kok pucat?” Nina memperhatikan wajahku yang kurang tidur dengan cemas.

“Nggak apa-apa, nanti kalau udah istirahat cukup juga biasa lagi. Semalam…”

“Semalam begadang susun artikel yang mau dimuat buat majalah bulan ini ya? Sama siapa? Murti lagi? Kan dia andalanmu, andalan semua orang!” Nina memotong kalimatku dan menyerocos tanpa mau disela. Pada akhirnya dugaanku benar. Magnet yang dimiliki Murti berhasil menumbuhsuburkan rasa iri pada beberapa orang, tak terkecuali Nina. Nina yang awalnya menerima Murti sebagai perpanjangan tangan dalam membantu semua kegiatanku sekarang merasakan kehadiran Murti sebagai benalu yang menghambat pertumbuhan hubunganku dengannya.

“Aku cuma kurang istirahat Nina. Biasa kok begini. Lagian semalam udah sempat dibuatin wedang jahe anget,” sengaja kucukupkan kalimatku. Melanjutkannya sedikit saja dengan menyebutkan nama pembuat wedang jahe itu berarti memukul genderang perang dengan Nina.

Sudah lebih dari seminggu Nina menolak aku ajak pulang sama-sama. Saat pulang sekolah tanpa Nina terasa janggal bagiku. Celotehnya mengisi kekosongan waktuku. Namun, menanyakan sebab keengganannya pulang bersamaku terasa begitu ironis. Nina dengan protes-protesnya tentang kehadiran Murti di kehidupanku tak pernah aku tanggapi. Aku mencintai Nina dengan caraku sendiri.

“Mau aku traktir makan siang?” kataku suatu hari pada Nina yang entah bagaimana berada tepat di depanku di sebuah siang yang terik di kantin sekolah yang hampir kosong. Seolah ada yang mengatur kehadirannya di dekatku, aku memupuk rasa percaya diri untuk memulai pembicaraan. Kebekuan antara aku dan Nina harus segera kuakhiri. Tekadku sudah bulat.

Nina belum ingin bicara denganku rupanya. Ia berlalu dari hadapanku sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena sentuhan tanganku di bahunya.

“Sebentar saja. Aku mau bicara,” ucapku lirih.

Nina masih saja membisu meski tubuhnya kini menghadap padaku. Matanya enggan menatapku. Aku mulai merasakan hawa dingin merasuki tubuh. Meski pada kenyataannya telapak tanganku begitu berkeringat. Aku menggeser sebuah bangku untuk Nina dan mematut bangku yang lain lagi di dekatnya untuk kududuki. Suhu udara yang kian tinggi mengalirkan peluh di keningku.

“Mau bicara apa sih? Buruan, aku udah ditunggu jemputan nih!” kalimat yang keluar dari mulutnya begitu singkat dan tidak bersahabat.

“Aku mau…minta maaf”

“Minta maaf untuk apa?” pertanyaannya begitu menusuk perasaanku. Nina rupanya meminta aku membunuh ego seorang laki-laki yang hampir tidak pernah mengakui kesalahannya ini. Mungkin yang ingin dikatakan sesungguhnya adalah,”Akhirnya kamu bisa melihat kesalahan di pelupuk matamu, Andre.”

“Oke. Begini. Maaf untuk tidak mengejarmu dan memohon-mohon padamu untuk pulang bersamaku dua minggu terakhir ini,” ucapku tegas dengan mengandalkan ego yang masih tersisa.”Kalau kedekatanku dengan Murti selama ini mengganggumu, aku punya alasan untuk itu. Ibu Murti, Nin. Ia-lah alasan utamanya.”

Nina memperlihatkan gesture tubuh yang berbeda. Ia terlihat melepas urat kaku di wajahnya.

“Ibu Murti menitipkan anaknya padaku untuk dijaga…”

Tanpa dapat kuduga sebelumnya, Nina bukannya makin menginginkan kelanjutan kata-kataku tapi malah berbalik memunggungiku dan berlari menjauh.

“Nina! Aku belum selesai bicara!”

Tak ada pilihan kecuali berlari mencoba menggapainya kembali. Sebelum sempat meraihnya, aku melihatnya menutup hidung dengan sapu tangan. Nina menahan tangis. Aku seolah lebur dalam kesedihan yang dirasakannya.

Aku tidak ingin meninggalkanmu, Nina. Sungguh. Tugasku menjaga Murti bukan berarti menyisihkanmu dari hidupku. Sampai kapan hatimu mampu menerima kelemahan seorang Andre yang keras hati, yang hidupnya terlalu jauh dari sempurna? Yang memiliki ayah yang tega meninggalkan istri sirinya hidup dari berjualan gorengan? Ibu Murti memintaku untuk menjaga adikku sendiri. Darah daging ayahku juga. Ia adalah magnet yang mendekatkanku pada kewajiban yang telah sekian lama ditinggalkan oleh ayahku, Nin.

Ah, seandainya…

(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)
.

PUTRI YANG HILANG

Karya : SYAM Anjeli
.

Pada suatu hari di Kerajaan Yusra lahirlah seorang anak perempuan yang amat cantik.  Dia suka menolong dan tidak sombong.  Lalu tak lama kemudian muncullah seorang penyihir yang menginginkan Putri itu, karena konon katanya siapa yang memiliki putri kerajaan yang cantik tersebut, maka ia akan menjadi awet muda dan terhindar dari segala macam penyakit.

Penyihir itupun berkata, “Aku harus menculik Putri itu, namun bagaimana yaa caranya?  Bagaimana kalau memperdayanya?  Yah… benar sekali … cara yang licik”.

Akhirnya ia pun mendapatkan Putri itu.  Penyihir itupun berkata lagi “Wahai Putri sekarang engkau telah aku dapatkah ha ha ha ….”
Putri itu menjawab kebingungan “Apa yang harus saya lakukan”.
Penyihir itu pun menjawab dengan sombongnya  “Hah… Apa yang harus kamu lakukan?!  Yah.. tentu saja bekerja!”

Sekian lama waktu berjalan hingga akhirnya penyihir itu meninggal dan Sang Putri pun akhirnya pulang kembali dan bertemu dengan orang tuanya. Mereka pun hidup bahagia.
.

DAG DIG DUG

Suara desau angin malam itu terdengar jelas di telinganya.  Hanya ia yang mendengar.  Orang-orang yang berada di ruang depan dan sekeliling rumahnya disibukkan oleh orkes dangdut yang digelar tepat di depan rumah orang tuanya.  Ia menghuni sebagian kecil dari rumah tersebut.  Tepatnya di sebuah kamar berukuran 3×4 meter.  Kamarnya sendiri yang kini harum semerbak oleh beragam kembang yang ditabur di tempat tidur dan lantainya.

Tiba-tiba jendela kamar yang ditempatinya berderak.  Derak halus yang menyentuh hatinya.

“Hendra, kaukah itu?” Surti berkata setengah berbisik.

Yang ditanya tidak menjawab.  Tiba-tiba, sebuah telapak tangan mencoba meraih bagian dalam jendelanya yang sudah sedikit terbuka.  Sebuah wajah yang dinanti Surti akhirnya nampak dalam keremangan malam.  Surti segera mematikan lampu kamarnya.

“Sur!”

“Iya, aku disini”

“Sudah siap semuanya?”

“Sudah, Hendra.  Kenapa kamu nggak jawab tadi?  Aku sudah dag dig dug menunggumu”

“Bahasamu itu lho, Sur!”

“Lho iya, beneran kok”

“Kita tidak punya waktu banyak.  Segeralah berkemas”

“Sudah.  Tinggal lompat aja kesitu”

“Ya udah, buruan!”

“Aduh, maaf kelupaan ngelepas jarik”

“Ya ampuuuunnn…” Hendra meremas kepalan tangannya.

“Udah nih.  Terima tas ku dulu ya”

Hendra menerima tas berisi seluruh pakaian Surti yang dilemparkan dari jendela ke wajahnya.  Hampir saja Hendra terjatuh.  Entah apa saja yang ada di dalamnya.  Yang jelas, maling juga bisa pingsan kalau dilempar dengan tas seberat ini.

“Kamu ngapain Sur, lama-lama nyangkut di jendela gitu”

“Bukan.  Ini lho…ada yang nyangkut di kepalaku”

“Alamaaaakkk…” Hendra mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.  Tanpa mental baja, mengajak Surti kabur adalah melatih jantung bekerja melebihi kapasitasnya untuk disebut sehat.

Hendra menghampiri Surti untuk melihat lebih dekat apa gerangan yang menghambat gerak Surti kali ini.

“Sur, kamu niat nggak sih pergi sama aku?” ujar Hendra sambil perlahan melepas hiasan kepala Surti yang tersangkut di bagian atas jendela kamar.

“Kalo nggak niat, masak aku sampai mau keluar kamar dari jendela begini?”

“Terserah kamu aja deh” Hendra pasrah.

Biduan dangdut yang sibuk menggoyang-goyangkan pinggangnya itu tidak menyadari dua orang mengendap-endap di belakang panggung.  Ia terlalu sibuk menghibur penonton yang menanti goyangan pemicu syahwatnya yang terkenal di seantero desa.

Tak lama kemudian, kegemparan terjadi.  Seluruh penonton goyang dangdut tiba-tiba disibukkan oleh kegiatan mencari sesuatu.  Pertunjukan dihentikan.  Kabar terakhir yang didengar oleh sang biduan adalah, nyonya rumah pingsan, tuan rumah sibuk memanggil polisi.  Sebagian tamu yang hadir ada yang kebingungan, ada yang sok sibuk menolong nyonya rumah yang pingsan, namun ada juga yang tetap melenggak-lenggok di depan panggung seolah irama dangdut masih mengiringinya.  Mereka adalah golongan anak muda yang sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol murah yang entah dicampur dengan larutan apa.

Surti memandang wajah Hendra yang kelelahan di sebelahnya.  Bis yang mereka tumpangi akan membawa Surti dan Hendra ke Jakarta.  Tanah harapan mereka berdua.  Makin dipandang, wajah Hendra kian tampan di mata Surti.  Surti menyukai Hendra sejak pertama kali mereka bertemu.  Sebagai kembang desa, tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan cinta Hendra, perjaka tampan dari Jakarta, yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan beberapa proyek pemerintah di desa Surti.  Meskipun Surti juga tidak dapat menampik kenyataan bahwa dirinya harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan cinta Hendra.  Tidak terkecuali dengan ibunya sendiri.  Wanita yang melahirkannya ini ingin segera menikahkan dirinya dengan Hendra agar tiap hari dapat berdekatan dengan Hendra di rumahnya.

 

(Ditulis untuk hari kedua #15HariNgeblogFF)
.

PEREMPUAN BERWAJAH PENYOK

Karya : Ratih Kumala

.
Dari sepasang garis bibir, sebuah cerita akan sebait ingatan dituturkan : di tempatku ada wanita berwajah penyok.  Jika kau selalu berpikir bahwa hidup adalah berkah, maka kau tak akan setuju lagi setelah melihatnya.  Tetapi, jika kau senantiasa setuju bahwa hidup adalah kutukan, maka kau akan kian meyakini apa yang telah lama kau percaya.

Wanita itu tinggal dipasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi.  Dia buruk rupa dan gagu.  Konon kapasitas otaknya pun kurang hingga orang menyebutnya idiot.  Orang akan takut kala melihatnya.  Saat ingin berkata-kata hanya ada vokal yang keluar tanpa pernah benar-benar ada konsonan yang menyertainya.  Mulutnya pun hanya bisa mengerjap-ngerjap.  Orang akan teringat akan bentuk mulut ikan serta mengeluarkan bau tak sedap.  Orang akan tertarik dengan bentuk mulutnya saat ia mencoba berbicara.  Mereka yang berbaik hati karena kasihan dan awalnya berusaha untuk mengerti apa yang akan dituturkannya, lalu berubah menikmati sebuah keanehan sekaligus kejijikan oral yang tak dimiliki orang pada umumnya.  Ruangan pasung itu tanpa jendela.  Hanya sebuah pintu kayu yang selalu tertutup.  Satu-satunya bolongan yang ada hanyalah lubang kotak kecil di pintu tempat ibunya atau orang lain memberi makan dari situ sehari dua atau sekali.

Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tak dimaui?  Tanyakan pertanyaan ini padanya.  Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan melancarkan jawabnya.  Konon dia lahir tanpa diminta.  Korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan.  Hasil sebuah hubungan gelap yang dilaknat warga dan Tuhan.  Perempuan yang saat ini disebut “ibunya” bukanlah ibu yang sebenarnya.  Dia hanya inang yang berkasihan lalu bergantian menyusui lapar mulut dua orang bayi; bayinya sendiri dan bayi berwajah penyok yang dibuang orang di pinggir kampung.

Dulu, wanita berwajah penyok tidak dipasung.  Kala itu dia sudah mulai besar dan suka berjalan keliling kampung.  Dia tidak suka mandi dan cenderung membiarkan tubuhnya berkotor-kotor ria dengan pakaian yang tak pernah diganti.  Dia sangat dekil.  Anak-anak kecil suka membuntutinya, berjalan di belakang lalu menyambitinya dengan kerikil.  Suatu hari yang biasa; siang terang dan wanita berwajah penyok tengah keliling kampung sendiri saat anak-anak kecil sepulang sekolah itu mulai mengekori dan menyambiti punggungnya di belakang.

Awalnya, ulah anak-anak itu tak terlalu dipedulikannya.  Tetapi semakin dia berdiam, semakin jadi anak-anak itu menyambiti, seperti diberi pintu lebar untuk menyakiti dirinya.  Maka, wanita berwajah penyok mengambil sebongkah batu.  Tangannya yang dekil melemparkan batu itu ke arah anak-anak.  Seorang anak bengal berkepala peyang terkena timpukannya.  Membuat jidatnya terluka.  Darah segar mengocor dari situ, mengubah seragam putihnya menjadi merah.  Dia pulang ke rumah mengadu kepada ibunya, sementara anak-anak lain menjadi takut dan bubar satu-satu.

Selanjutnya, sebuah drama yang bisa diduga terjadi.  Sore itu juga ibu si anak datang ke rumah wanita berwajah penyok.  Ia mengomel dan menggoblok-gobloki wanita berwajah penyok yang ketakutan bersembunyi di pojokan.  Ibu si anak menunjukkan luka perban di kepala anaknya akibat perbuatan wanita berwajah penyok.  Ia bahkan mengutuki dan berkata bahwa wanita berwajah penyok hanyalah pembawa petaka yang seharusnya dipasung saja sebab dia mirip dengan manusia pun tidak.

Dengan terpaksa, keluarga wanita berwajah penyok akhirnya memutuskan untuk memasung dirinya pada sebuah ruangan kecil yang tak bisa disebut manusiawi dekat tanah pekuburan.  Sejak itu wanita berwajah penyok tinggal di dalamnya.  Bulan berganti tahun, tanpa tahu itu malam atau siang.  Wanita berwajah penyok tetap di dalamnya tanpa ada orang yang mengingat keberadaannya.  Ia hanya dikunjungi orang yang mengantar makanannya saja.  Saat dia merasa lapar, kupingnya ditajamkan akan langkah kaki yang akan mendekat ke ruang pasungnya.  Lalu menanti lubang kecil di bawah pintu itu dibuka hingga sebuah tangan akan mengulurkan makanan seadanya.  Ia mulai terbiasa; makan, pipis, dan eek di tempat yang sama.  Orang yang membersihkan ruang pasungnya pun sangat jarang hingga suatu hari tak pernah ada lagi yang datang membersihkannya.  Ah, lagi pula hidungnya pun telah kedap terhadap bau yang tak sedap.

Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi?  Tanyakan pertanyaan ini kepadanya.  Maka, yakinlah jika dia bisa berkata-kata, dia akan melancarkan jawabannya.  Tak ada yang benar-benar tahu apa yang dia kerjakan di dalam sana walau kadang terdengar suaranya berteriak untuk berontak.  Ini hanya menambah ngeri tanah pekuburan.  Orang-orang mengira itu suara kuntilanak jejadian penghuni kuburan.  Tak pernah ada orang yang benar-benar mendekat.  Wanita berwajah penyok telah lupa bahasa tanpa ia pernah benar-benar menguasainya.  Andaikata suatu saat dia bisa terbebas dari pasungnya, orang akan bertanya; bagaimana ia bisa bertahan hidup?  Sebab ia telah menjadi : sendiri.

Ruang pasungnya kian reot dan suram.  Selayaknya pekuburan pada umumnya, orang segan memasang penerang sebab orang segan melihat kematian.  Ruangan itu juga kian termakan usia.  Wanita berwajah penyok sendiri pun telah terlupakan.  Hingga rayap dan karat datang membuat lubang pada langit-langit ruang kecil itu.  Kini ada celah di sana.  Sinar bisa masuk dari celah sempit itu.  Berbaur dengan debu yang beterbangan di ruang sumpek sebab angin diam duduk menahun di dalamnya.

Pada malam yang biasanya kelam nan pekat, kini wanita berwajah penyok bisa mendapat segaris cahaya dari celah lubang tadi.  Kepalanya didongakkan ke atas, dia bisa melihat rembulan.  Bertahun dia tidak melihat rembulan hingga ia lupa bahwa yang dilihatnya adalah rembulan.  Untuk pertama kalinya dalam periode tahunan pasungnya, ia merasa bahwa dirinya punya
teman.  Dia mulai berkenalan.  Dengan bahasa yang hanya ia mengerti, ia bercakap-cakap dengan bulan.  Dia selalu menunggu teman barunya untuk berkunjung dan bercakap-cakap dengannya setiap malam.

Namun, semakin hari bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung.  Mengecil dan terus mengecil hingga hanya menjadi sabit.  Air muka rembulan juga semakin pasi.  Semakin hari bulan terlihat semakin sedih.  Wanita berwajah penyok mengajaknya bicara.  Dengan bahasa yang hanya bisa ia mengerti, ia mencoba untuk menghiburnya.  Setiap malam.  Dan selalu ditunggunya malam.  Saat rembulan datang mengunjungi.  Dan setiap malam pula ia kembali menghibur rembulan dengan bahasanya sendiri yang hanya bisa ia mengerti.

Semakin hari sabit rembulan jadi kembali membulat walaupun wajahnya masih pasi.  Saat bulan bulat penuh, wanita berwajah penyok girang sekali sebab ini berarti dirinya berhasil menghibur teman baiknya.  Tapi suatu hari rembulan kembali menyabit dan seperti yang sudah-sudah, wanita berwajah penyok tak pernah bosan menghiburnya dengan bahasanya sendiri hingga rembulan bulat penuh.  Terus seperti itu.

Hingga suatu malam, sehari setelah bulan benar-benar sabit, rembulan tidak datang mengunjunginya.  Ia sedih sekali dan mengira rembulan tak mau menemuinya.  Malam itu hujan turun deras.  Wanita berwajah penyok berpikir bahwa rembulan sedang menangis.  Maka dia ikut menangis pula, merasakan kesedihan mendalam sahabatnya.  Dan sekali lagi, dengan bahasa yang hanya bisa dia mengerti, dirinya berusaha membujuk bulan dan menghiburnya.  Dia tak pernah bosan.  Tetapi, langit tetap hujan, rembulan terus menangis.  Tetesan air masuk dari celah atap ruang pasung yang menjadi bocor.  Menimpa kepala wanita berwajah penyok dan membuat dirinya kebasahan.

Lelah, wanita berwajah penyok tertidur.  Ia menggigil hebat tanpa ada orang yang tahu keadaannya.  Paginya ia terbangun oleh segaris sinar yang masuk dari celah atap.  Sinar kecil itu jatuh ke kubangan air yang menggenang.  Dirasakannya tubuhnya demam.  Tetapi, begitu dia terbangun yang diingatnya hanyalah rembulan.  Siang telah menjelang, ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalaman bersembunyi di balik awan sambil menangis.  Ia menyesal tak bisa melihat wajah rembulan malam tadi.

Didekatinya genangan air tadi.  Genangan yang tak jernih.  Ia berwarna cokelat karena bercampur debu.  Sebuah bayangan ada di sana.  Ia tersenyum… dan menemukan wajah rembulan di sana.  Lalu dia tertidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat di dekatnya.

***

.

KISAH DI PENGHUJUNG 2010

Karya : Wishnu Hardynatta
Sumber :Kaltim Post, Edisi 12/18/2011

.

Waktu menunjukkan pukul 16.00.  Aku bergegas keluar dari rumah.  Tadi pagi aku janji dengan ibu untuk mampir ke toko.  Setelah berjalan sekitar 3 menit menyusuri gang tempat rumahku berada, dengan napas yang masih turun-naik, sampailah aku di pinggir jalan di depan kantor Dolog Balikpapan.  Sore itu jalanan tampak cukup padat.  Butug waktu lama untuk menyeberang.  Kalau tidak hati-hati tubuhku bisa jadi santapan kendaraan yang sedang melaju.  Angkutan kota nomor 5 sudah menunggu di seberang jalan sambil membunyikan klakson sesekali.  Perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai di seberang jalan.  Angkot pun meluncur setelah aku duduk tenang di dalamnya, tepat di samping sopir.

Sayangnya belum apa-apa kami sudah mulai terjebak dalam kemacetan.  Sebenarnya ini bukan pemandangan baru.  Hanya, kali ini lebih padat dari biasanya.  Maklum menjelang malam tahun baru.  Banyaknya pedagang ikan dan jagung dadakan turut menyumbang kemacetan, karena banyak kendaraan yang berhenti sembarangan untuk membeli ikan segar dan jagung, demi dijadikan santapan di malam tahun baru.  Sopir angkot yang kutaksir berusia 65 tahunan mulai berkomentar seakan mulai kesal dengan kemacetan jalan ini.

“Balikpapan sekarang padat, Pak.  Kendaraan tambah banyak tapi jalannya enggak nambah-nambah”, katanya dengan sedikit kesal.  “Kalau angkot sih enggak pernah nambah, hanya peremajaan saja”, sambungnya seakan menunjukkan protes atas banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalan raya.

Iya, Pak”, aku membalas ucapannya, dan bagiku cukuplah dengan mengiyakan saja karena saat itu aku sedang tidak tertarik untuk ngobrol.

“Lama-kelamaan bisa seperti Jakarta”, keluh pak sopir itu lagi sambil menginjak pedal gas pelan-pelan, karena kendaraan hanya bisa berjalan perlahan.

Kemudian pak sopir mulai bercerita mengenai perjalanan hidupnya sebagai pengemudi.  Tahun 2002, ia mengaku pernah mengadu nasih di Jakarta sebagai sopir antar jemput anak sekolah.  Dia mengisahkan betapa ruwetnya lalu lintas di Jakarta.  Untuk mencapai sebuah daerah yang jaraknya tidak begitu jauh, kita membutuhkan waktu yang cukup lama.  Kalaupun ingin cepat, kita bisa mencari jalan tikus.  Itu pun kalau jalan tikusnya tidak macet.  Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya.  Dia kembali mengisahkan bahwa setiap hari waktunya habis di jalan, terjebak kemacetan, untuk urusan kaki pegal tampaknya menjadi makanan sehari-hari.  Belum lagi menemui pengguna jalan yang tidak tertib, berhenti sembarangan, memotong jalan tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu.  Jelasnya, selama mengadu nasib di Jakarta yang dia peroleh hanya stress.

Angkot yang kunaiki pun sekarang sudah berada di depan Pasar Baru, tampak di sepanjang jalan di depan ruko sampai Mal Balcony dipasangi traffic cone berwarna oranye, dan dijaga beberapa petugas.

“Coba lihat, Mas, kalau dipasangi itu (sambil menunjuk traffic cone berwarna oranye, Red) berarti enggak boleh berhenti di sepanjang jalan ini.  Kasihan kan orang-orang yang bawa banyak belanjaan mau naik angkot.  Harus jalan jauh dulu”, kata sopir tua itu.

“Iya sih, Pak” kembali aku hanya mengiyakan saja.  Tapi menurutku tentunya pemasangan traffic cone itu ada maksudnya, karena biasanya sepanjang jalan itu dipadati kendaraan yang parkir atau sekedar berhenti hingga akhirnya menimbulkan kemacetan.  Namun, aku hanya menyimpan opiniku dalam hati.

Angkot terus bergerak menyusuri jalan, kami terdiam sesaat.  Tiba-tiba bapak sopir tua itu kembali membuka percakapan.

Sebenarnya kalau polisi mau gampang ngatur lalu lintas, pasang saja kamera di titik-titik tertentu, dan tinggal dimonitor dari kantor atau pos polisi.  Nah, kalau ada yang melanggar kan terlihat dan bisa dicatat nomor polisinya atau didata ciri-cirinya.  Selanjutnya tinggal ditindak.  Jadi, kan lebih hemat waktu dan tenaga”.

“Apa iya bisa begitu, Pak?” tanyaku, ingin tahu.

Iya, Mas”, balas sopir tua itu seolah paham dengan apa yang telah dia katakan tadi.

Ia juga menambahkan kalau sistem dendanya pakai sistem pemotongan lewat rekening si pemilik kendaraan.  Intinya semua pemilik kendaraan dan orang yang hendak membeli kendaraan harus punya rekening dengan nilai saldo tertentu.  Jadi, nantinya bila dia banyak melakukan pelanggaran, ya, uangnya akan terdebit.  Dan, bila uang di tabungannya sudah mencapai saldo minimal, maka dia wajib mengisi lagi.

Kalau ‘gitu kan benar-benar hemat waktu dan tenaga, dan tepat sasaran juga kan, Mas?” tegas bapak itu.

“Betul, Pak”, jawabku dengan terheran-heran atas penjelasannya.

“Dan, juga menambah kas daerah.  Iya, enggak Mas?” tambahnya lagi.

Iya, Pak, tepat sasaran”, jawabku lagi.

Hebat juga pemikiran sopir tua ini.  Bisa melontarkan ide semacam itu, bathinku.  Aku saja tidak sampai berpikir sejauh itu untuk masalah seperti ini.  Memang sepintas masuk akal dan efektif juga ide sopir tua ini.  Tapi, bagaimana untuk orang-orang yang membawa kendaraan dinas atau kendaraan pinjaman, tanyaku dalam hati.

Tak terasa kami sudah mendekati pertigaan Gunung Malang.  Bapak itu kembali membuka pembicaraan.

Dengar-dengar, bekas Puskib mau dibangun mal?” tanyanya kepadaku.

“Katanya sih ‘gitu, Pak”, jawabku, asal, karena aku jarang mengikuti perkembangan beritanya.

“Sayang kalau dijadikan mal.  Yang ada malah perang diskon, lebih baik dijadikan taman kota”, ucapnya.  Pak sopir ini sepertinya akan memaparkan ide-ide yang ada dalam pikirannya.

“Seandainya di situ dijadikan taman kota, wah, betapa asrinya Balikpapan”, tambahnya.

“Bahkan untuk sementara ini, mumpung masih jadi lahan kosong, bisa dijadikan lahan parkir.  Jadi, sepanjang jalan ini enggak boleh parkir sembarangan.  Kalau mau parkir, ya, harus di situ, daripada cuma dipagari seng ‘gitu”, tambahnya.

Aku menarik napas.  Rasanya seperti berhadapan dengan mesin pemikiran yang tak henti-hentinya mengeluarkan ide-ide konstruktif untuk membangun kota ini.  Padahal selama ini pikiranku tak sampai sejauh itu.  Selama ini aku hanya bisa menggerutu, mencela sana-sini bila menghadapi suatu masalah.

Menurut dia, dengan begitu maka kemacetan dapat dikurangi, karena jalan dapat termanfaatkan secara maksimal.  “Pak sopir ini sebenarnya siapa sih?” tanyaku dalam hati.  Semua ide-ide yang dilontarkannya menurutku sangat membangun sekali, sayang kalau hanya disimpan tanpa direalisasikan.

Tanpa terasa angkot pun tiba di seberang bekas bioskop Nusantara.  “Stop depan, Pak”, pintaku.

Angkot pun menepi.  Aku turun sambil memberi tiga lembar pecahan uang seribu rupiah kepada sopir tua itu.  Perlahan aku berjalan menjauhi angkot, pun demikian dengan angkot itu.  Sambil menyeberang jalan, seribu tanya mengumpul di otakku : siapa sebenarnya sopir dengan segudang ide itu.

***

.

TARIAN OMBAK LIQUISA

Karya : Ahmadun Yossi Herfanda

.

Ombak berdansa di Liquisa.  Deburnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir.  Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam kehangatan bir dan hentakan musik disko.

“Ayo!  Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa”, seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar.

“Bangsat kau, Jao!  Ketika kawan-kawanmu sedang kelaparan di hutan, kau malah mau berhura-hura”.  Perempuan itu bergeming di tempat duduknya.

“Bersenang-senang sedikit apa tak boleh.  Sudah berbulan-bulan aku di hutan.  Tak ada roti, tak ada bir, tak ada musik, tak
ada dansa”.

“Salahmu.  Sudah kubilang apa?  Tak ada gunanya lagi bergerak di hutan.  Letusan geranatmu sekalipun hanya didengar
batu-batu”.

“Heh! Jangan keras-keras!”

“Peduli apa?  Kalau mau tangkap, tangkaplah!” Perempuan itu malah mengeraskan suaranya.

“Armila!  Kamu jangan ngaco begitu!”

Lelaki itu melotot.  Matanya menyala dalam remang cahaya lampu.  Rambutnya yang berrombak seperti berdirian tiba-tiba.  Perempuan yang dipanggil Armila itu balas melotot.  Matanya juga menyala.  Dan…, tiba-tiba terdengar suara tembakan, berkali-kali.

“Jao!  Ada kontak!” Armila terkejut.

“Ya.  Aku dengar.  Dekat sekali”.  Jao juga terkejut.

“Jangan-jangan Alves dan kawan-kawan kena sergap”.

“Kubilang apa.  Tinggalkan rumah Victor sekarang juga.  Mereka masih tak percaya”.

“Kau benar, Jao.  Tapi mereka harus menunggu kiriman logistik dari Dili.  Kawan-kawan kita di hutan sudah berhari-hari kelaparan”.

“Kiriman dari siapa?  Dari Armando?  Aku malah curiga.  Jangan-jangan ia malah berkhianat”.

“Jangan curiga dulu.  Dia yang selama ini mengumpulkan dana dan mengirim perbekalan untuk kita”.

“Itu Victor!”  Seorang lelaki, tinggi kurus, dengan tubuh basah kuyup air hujan, tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang dansa.
Armila langsung memberi isyarat dengan tangan padanya.

Victor menangkap isyarat itu dan tergopoh-gopoh menuju depan bar.  “Rumahku disergap.  Alves dan kawan-kawan masih di sana”, kata lelaki kurus itu.  “Cepat kita lari.  Dua tentara memburuku.  Itu mereka di pintu”.

Dua sosok bayangan berkelebat menerobos pintu.  Jao langsung melompat dari tempat duduknya, dan menerobos keluar lewat pintu belakang.  Tapi, dua letusan pistol menyongsongnya.  Armila tak jadi ikut menerobos keluar.  Ia menyusup ke tengah orang-orang yang berubah panik oleh keributan itu.  Mereka berlarian kesana kemari.  Victor mencoba memanfaatkan situasi untuk kabur keluar.  Tapi, tentara agaknya sudah mengincarnya.  Ia ditangkap persis di mulut pintu.

“Tenang, saudara-saudara!  Tenaaang!  Kami hanya mau menangkap pengacau ini!  Silakan berdansa lagi!” seorang tentara
mencoba menenangkan suasana sambil mencengkeram lengan Victor yang telah diborgol kedua tangannya.

Pelan-pelan suasana kembali tenang.  Orang-orang kembali berdansa.  Armila pura-pura ikut larut ke dalamnya.  Tapi, ketika semua orang telah menemukan pasangan masing-masing, ia jadi merasa aneh, berjoget sendiri di tengah orang-orang yang tak dikenalnya.  Akhirnya ia memutuskan kembali duduk di depan bar, dengan dada yang masih bergemuruh.

“Armila!” Suara perempuan tiba-tiba mengejutkannya.  Ia menoleh ke arah suara itu.  Matanya memandang penuh selidik pada perempuan muda yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Lupa, ya?  Aku Mariana.  Dulu kita pernah berkenalan di rumah Victor”.

“Oh ya.  Kami tadi menunggumu di sini”.

“Maaf, aku agak terlambat.  Pas ada keributan tadi aku datang.  Aku sempat melihat Jao melompat lari ke belakang”.

“Bagaimana nasibnya?”

Mariana hanya menggeleng.  Armila merasa menemukan kawan senasib.  Gemuruh dadanya sedikit reda.  Tapi hujan tetap menggemuruh di luar, mengguyur ombak yang terus berdansa dengan angin dan pasir pantai.

“Kau ikut ke hutan?” tanya Mariana.

“Tidak.  Aku masih kuliah di Dili”.

“Jao cerita apa saja tentang aku?” Mariana bertanya lagi.

“Tidak banyak.  Cuma bilang kau kawan sekelasnya di SMA”.

Mariana menarik nafas panjang, seperti tiba-tiba ada sesuatu yang membebani perasaannya.  “Kau nginap di rumahku saja.  Malam-malam begini tidak mungkin balik ke Dili”, katanya sambil mencoba menekan gejolak perasaannya.

“Kupikir begitu.  Aku tadi sempat bingung, mau nginap di mana.  Rencananya tadi mau di losmen sebelah.  Tapi aku tak bawa
duit . Jao yang janji membayariku”.

“Jangan kuatir.  Aku akan menanggungmu sampai kau bisa balik ke Dili.  Sebentar lagi kita pulang jalan kaki.  Aku Cuma bertugas sampai pukul dua belas”.

Lewat pukul 12.00 hujan reda.  Armila dan Mariana melangkah setengah menggigil, menyusur jalan beraspal yang mendaki bukit.  Udara malam Liquisa dingin sekali karena hujan.  Awan hitam di langit bergerak cepat.  Sesekali cahaya bulan menerobos dari celah-celah mendung tebal, mengusap pohon-pohonan.  Butir-butir air hujan di ujung dedaunan gemerlapan beberapa saat tertimpa cahaya itu, seperti butir-butir kaca kristal, lalu padam setelah jatuh ke bumi.

Mereka nyaris sampai ke rumah Mariana ketika tiba-tiba hujan mengguyur bumi Liquisa kembali.  Dengan setengah berlari, mereka pun tiba di depan pintu sebuah rumah sederhana separuh tembok.  Baju dan rambut mereka agak kuyup.

“Kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan mami dan anakku”.

Mariana langsung membawa Armila masuk kamar, lantas membuka almari kayu, mengambil sepotong daster dan menyodorkannya pada perempuan itu.  “Pakailah ini untuk tidur”.

“Mana anakmu?” tanya Armila sambil melepas kaos oblongnya.

“Di kamar sebelah bersama ibu.”

“Suamimu?”

Mariana tidak langsung menjawab.  Ia pura-pura suntuk merapikan rambutnya.  “Aku tak punya suami”, katanya lirih.

“Oh, maaf….  Lalu…. anak itu…..?”

“Anak itu bagian dari masa laluku.  Juga masa lalu Jao”.

“Masa lalu Jao?” Armila tampak terkejut.

“Ah, sudahlah.  Besok saja kita bicarakan.  Kau pasti lelah dan ngantuk.  Tidurlah.  Dipannya cuma cukup untuk satu orang.  Aku akan tidur di kamar sebelah bersama anakku.  Selamat tidur”.

Armila ditinggalkan begitu saja di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi listrik 10 watt.  Ia hanya sempat melongo ketika Mariana melangkah pergi.  Ia sempat menangkap sesuatu yang berat untuk diucapkan oleh perempuan penjaga bar itu tentang anaknya dan Joa.  Sesuatu yang mungkin panjang untuk diceritakan sehingga harus ditunda.

Dada Armila yang tinggal bergemuruh sendiri oleh pertanyaan-pertanyaan dan dugaannya sendiri.  Apa hubungan anak itu dengan Jao?  Apa hubungan Mariana dengan Jao?  Apakah Jao pernah menikahi Mariana?

Ingat Jao, Armila ingat janji dan impian-impian lelaki jangkung itu, “Percayalah, Armila.  Kalau Timor merdeka aku akan langsung melamarmu jadi istriku.  Dan, aku akan jadi pejabat tinggi, dan kita bisa hidup damai dan bahagia.  Ha ha ha …..”  Tawa lelaki itu mengoyak udara sore, suatu hari, ketika mereka berjalan menyusuri sungai yang berisi pasir dan batu-batu, di tepi hutan di kawasan Ermera.

***

Armila tak dapat memejamkan matanya.  Dadanya tetap bergemuruh.  Kepalanya kacau oleh pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran aneh.  Kadang-kadang ia teringat kuliahnya yang kacau akibat pergerakan clandestine yang diikuti dan menyeretnya cukup jauh ke masalah-masalah politik yang tak sepenuhnya ia pahami.  Apalagi setelah Jao sering mengajaknya keluar masuk hutan, atau mengunjungi desa-desa di malam gelap tempat para forsa bertemu.  Bayang-bayang lelaki jangkung berambut keriting itu pun muncul dibenaknya, menyeringai, tertawa, lalu lenyap begitu saja begai ditelan rimba gelap.

Armila kadang-kadang merasa amat benci pada lelaki itu, lelaki yang sering berbuat sesukanya : jarang mandi, tidur mendengkur seenaknya di mana saja, minum anggur sesukanya sampai tubuhnya oleng, suka mencaci maki dan menempeleng anak buahnya — bahkan pernah menembak seorang anak buahnya tanpa sebab yang jelas, melahap apa saja sesukanya — termasuk daging ular, kadal, dan tikus hutan yang hanya dibakar tanpa garam.

Namun, ada kekuatan aneh yang tak dapat dibendung oleh Armila, getaran yang juga tak sepenuhnya ia pahami : cinta.  Kekuatan ini, seperti gerakan subversif, terus merong-rong hatinya.

“Engkaulah satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan hatiku, Armila.  Aku mencintaimu”, kata Jao dengan bibir bergetar dalam sorot cahaya api unggun di dalam gua tersembunyi di balik bukit, pada suatu malam.

Armila hanya menunduk.  Perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatinya.  Dan, seperti api unggun yang membakar kayu-kayu kering, cinta pun lantas membakar birahi mereka sampai hangus, sebelum perempuan itu benar-benar menyadari arti cinta dan kehadirannya.

“Jao….” Armila menitikkan air mata bagitu menyadari sesuatu yang berharga telah hilang dari dalam dirinya di dalam gua itu, direnggut Jao.

“Maafkan aku, Armila.  Kau menyesal?” Tanya lelaki itu sambil mengusap rambut Armila.

Perempuan itu tidak menjawab.  Air mata meleleh di kedua pipinya.

“Sudahlah, Armila.  Jangan menangis.  Aku berjanji, kaulah wanita pertama dan terakhir bagi hidupku.  Aku pasti menikahimu setelah perjuangan kita selesai.  Setelah Timor merdeka!”

Hanya mereka berdua di dalam gua itu.  Sebagian forsa yang lain sedang turun ke Liquisa untuk menjemput kiriman dari Dili.  Udara malam tiba-tiba mati.  Hening sekali.  Hanya suara jengkerik dan burung hantu di kejauhan, serta kemeretek kayu-kayu kering yang terus terbakar api unggun.  Armila tertidur setelah merebahkan kepalanya, seperti kapal menemukan pelabuhan, di pangkuan Jao.

***

Armila tidak ingat benar sejak pukul berapa ia tertidur di kamar sempit rumah Mariana.  Ketika membuka mata, hari sudah agak siang.  Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah atap genteng.  Kepalanya terasa agak berat.

“Mandilah biar segar.  Kamar mandi di belakang.  Sudah ada handuk di sana”.  Mariana melongokkan kepalanya lewat mulut pintu kamar yang setengah terbuka, sambil tersenyum pada Armila yang masih terbaring di balik selimut bergaris-garis hitam.

“Thank’s”.  Armila bangkit dan melompat turun, melangkah agak gontai ke kamar mandi.  Selesai mandi dan merapikan diri, ia langsung ke ruang tamu.  Ada ganjalan pertanyaan yang mesti dipuaskan oleh jawaban Mariana.

“Ini anakku.  Yasso, ayo berkenalan dengan tante Mila”.  Mariana sudah menunggu di ruang tamu bersama anaknya – seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahun.

Anak itu berdiri menyongsong Armila sambil mengulurkan tangannya.  Ia menyambut tangan itu dengan hangat.  Ada getaran aneh ketika ia menatap wajah anak itu.  Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang sangat dikenalnya : Jao Alvino.  Armila terlongong beberapa saat sampai suara Mariana menyadarkannya.

“Yasso, sana makan dulu bersama nenek di belakang”.

Anak itu menurut saja.

“Wajahnya mirip Jao, kan?” Mariana agaknya menangkap apa yang sedang bergejolak di hati Armila.

“Jadi… itu anak Jao?”

“Ya”.

Wajah Armila mendadak berubah kemerahan.  Ada arus listrik yang tiba-tiba menyengat hatinya.  “Jadi … kau istri Jao?”

“Bukan.  Kami tak pernah menikah.  Ceritanya panjang.  Kami bergaul intim cukup lama, ketika sama-sama di SMA.  Menjelang ujian kelas tiga, aku hamil.  Dia mau menikahiku selesai ujian, tapi dengan syarat aku mau ikut dia ke Lisabon.  Aku tidak keberatan, asal boleh membawa mamiku.  Kau tahu, aku anak satu-satunya.  Papiku sudah lama meninggal.  Sedang mamiku tak punya saudara dan sering sakit-sakitan.  Tentu aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan begitu.  Lalu Jao nekad berangkat sendiri.  Katanya, masa depannya ada di sana.  Empat bulan setelah kepergiannya, Yasso lahir.  Tahu-tahu, tiga tahun yang lalu dia muncul lagi.  Katanya, ada yang harus dia perjuangkan di sini”.

“Mendengar cerita itu hati Armila seperti diberangus api.  Bumi dirasakannya seperti jungkir balik tiba-tiba.  Tapi ia berusaha keras menguatkan diri, mencoba mendengarkan cerita itu dengan dingin.  Namun, pertahanannya jebol juga.  “Bajingan!  Lelaki itu telah membohongiku!” teriaknya setengah histeris.

“Maafkan aku, Mila, aku telah mengganggu perasaanmu.  Aku tahu kau mencintai dia.  Tapi, kurasa, kau perlu tahu ini semua, agar tak ikut menjadi korbannya”.

Dada Armila bergemuruh keras, seperti mau meledak.  Ia ingin menjerit keras-keras, atau mengumpat Jao sambil berteriak kuat-kuat.  Tapi ini tak ia lakukan.  Lelaki itu toh tak ada di depannya.  Bahkan nasibnya pun tidak jelas, tertembak mati, ditangkap tentara, atau lolos kembali ke hutan.  Yang dapat dia lakukan hanyalah menangis sambil mendekap Mariana.  “Maafkan aku, Mariana.  Aku sungguh tak bermaksud merebut Jao dari tanganmu.  Dia yang telah membohongi aku”, katanya dengan agak terbata, setelah tangisnya reda.

“Kau tidak bersalah, Armila.  Itulah Jao, kalau kau mau tahu.  Dan, jangan kaget, ada korban lain yang bernasib lebih malang daripada kita.  Kira-kira tiga bulan setelah muncul kembali, Jao mengajak seorang gadis ke barku.  Isabela namanya.  Ia bilang gadis itu keponakannya.  Kira-kira lima bulan kemudian, gadis itu datang sendiri sambil menangis.  Ia bilang, telah mengandung anak Jao.  Kulihat perutnya memang sedikit membuncit.  Ia minta tolong agar aku mendesak Jao untuk menikahinya.  Ia bahkan mengancam, kalau Jao tidak menikahinya, ia akan melaporkan persembunyiannya pada tentara.  Malamnya Jao datang ke barku.  Maka, semua keinginan gadis itu kusampaikan kepadanya.  Seminggu setelah itu, gadis itu ditemukan mati terbunuh di tepi hutan”.

“Ya, ampun…” Armila terperangah.  “Apa Jao yang membunuhnya?”

“Tidak ada bukti yang jelas.  Tapi, ada yang melihat, sehari sebelumnya gadis itu pergi bersama Jao”.

***

Pulang dari Likuisa naik bus umum bukan kenangan manis yang dibawa Armila – seperti dijanjikan Jao.  Tapi, adalah kenangan teramat pahit, bahkan teramat menyakitkan : serangkaian tragedi yang menimpa kaumnya akibat kebiadaban seorang lelaki yang selama ini menghadirkan dirinya sebagai sesosok pahlawan, sesosok pejuang, di depan matanya.  “Lelaki itu benar-benar pembohong!” umpatnya berkali-kali, di dalam hati, di dalam bus yang meliuk-liuk menyusur lereng pebukitan menuju Dili.

Maka, begitu menginjakkan kaki di kota Dili, yang pertama-tama dicarinya adalah kabar tentang nasib Jao dan dimana ia sekarang berada.  Ada dendam baru yang mesti ia tumpahkan kepada lelaki jangkung itu.  Ia seperti tak sabar lagi.  Hatinya terasa hangus terbakar.  Ia ingin menemui lelaki itu hari itu juga, entah hidup atau mati.  Kalau lolos dari sergapan tentara, ia ingin memburunya ke hutan.  Kalau tertangkap, ia ingin melunaskan sakit hatinya di penjara.  Kalau mati, ia ingin menyumpahi mayat atau kuburannya.

Armila menemui beberapa clandestine yang biasa berhubungan dengan Jao.  Tapi mereka bilang belum ada kabar.  Mereka hanya mendengar tentang Alves dan kawan-kawannya yang tertangkap di Liquisa.  Armila pun memberanikan diri mendatangi markas tentara.

“Anda mahasiswi yang baik.  Anda pasti mau menunjukkan di mana Jao bersembunyi”, kata seorang tentara setelah Armila membeberkan jati dirinya.  Agaknya Jao lolos ke hutan dan tentara kehilangan jejaknya.

“Itu yang akan saya sampaikan pada Bapak, asal Bapak mau menjamin keselamatan saya”.

“Jangan khawaitr, kami akan tugaskan beberapa tentara untuk menjaga Anda”.

Setelah menunjukkan tempat persembunyian Jao, di sebuah gua di balik bukit, di tenggara Liquisa, Armila pun tinggal menunggu kapan lelaki itu muncul dengan tangan diborgol atau sudah jadi mayat karena tertembak.  Tapi, ia sangat berharap dapat bertemu lelaki itu dalam keadaan masih hidup agar dapat melunaskan sakit hatinya.

Ditunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, akhirnya Jao tertangkap juga.  Hidup-hidup, dengan paha kiri terserempet peluru.  Armila langsung memburunya ke penjara.  Lelaki itu menyunggingkan senyum begitu melihat Armila datang.  Tapi gadis ini malah mencibir.  “Mariana sudah bercerita banyak tentang kau”, katanya dengan mata yang memancarkan kebencian.

“Cerita apa saja dia?” Jao langsung curiga.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya.  Aku berkenalan dengan anakmu di rumahnya.  Juga tentang Isabela yang kau bunuh di tepi hutan setelah kau hamili.  Kau pembohong besar, Jao”.

“Bangsat dia!” Mata lelaki itu makin merah menyala.

“Kupikir, ini ganjaran yang setimpal untuk lelaki macam kau.  Akulah yang menunjukkan tempat persembunyianmu pada tentara”.  Suara Armila datar, tapi kata-katanya menghantamkan pukulan telak.

“Jadi, kau mengkhianati aku, Armila?  Bangsat kau!”

“Tidak, Jao.  Aku tetap setia pada cita-cita perjuangan clandestine.  Tapi, Bangsa Timor tidak membutuhkan orang seperti kau.  Kami membutuhkan para pejuang yang dapat melindungi kaum perempuan, bukan perusak perempuan seperti kamu.  Kau tak ada artinya bagi masa depan kami.  Selamat tinggal, Jao!’’

Dengan wajah tetap membara, Jao terperangah mendengar kata-kata Armila.  Pada saat itulah perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lalaki yang tangannya sedang bergetar geram mencengkeram terali besi itu.

“Bangsaaat!  Awas, kubunuh kau, perempuan busuuuuk!!!” suara Jao keras sekali, seperti mau meledakkan penjara.

Tapi, Armila terus melangkah pergi, pura-pura tak mendengar umpatan itu.  Hatinya, yang terasa amat pedih, hancur berkeping-keping, lalu menyerpih bagi serpihan ombak yang terus berdansa di Liquisa.

***


Dili, Juli 1994/2001

.

PESTA KEPIK

.

Ia menatap kagum benda di hadapannya. Berwarna hijau, tinggi menjulang. Sejauh mata memandang tak tampak ujung benda itu. Ia merasa sangat kecil dihadapannya. Tak lama kemudian, sinar matahari masuk melalui celah-celah benda raksasa tersebut. Tubuhnya mulai menghangat. Ingatannya pulih perlahan. Tempat baru dimana ia berada kini mengajaknya untuk menyadari bahwa ia sedang tersesat.

Ia tak berani melangkah. Meskipun dahan yang menjulang tinggi dihadapannya sesungguhnya dapat dengan mudah ia panjat. Perlahan, tidak perlu terburu-buru, pusatkan pandangan ke depan, dan mulailah melangkah. Itu pesan ibunya selalu. Tidak hanya untuknya, tapi untuk kakak-kakaknya juga. Ia ingat suatu kali pernah mencoba mempraktekkan nasihat ibunya itu. Lima langkah pertama membuatnya terlalu bahagia, ia kehilangan konsentrasi lalu jatuh di sebuah genangan air. Sejak saat itu ia belum lagi berani mengulang kegiatan memanjat dahan tinggi.

Di rumah tempatnya tinggal, hampir semua anggota keluarga termasuk sanak saudaranya diberi nama sesuai dengan warna yang mendominasi punggungnya. Ya, kami, keluarga kepik, bangga dengan anugerah Tuhan yang berupa paduan warna indah yang melekat di punggung kami. Pernah sekali waktu ayah bercerita kepada aku dan kakak-kakakku tentang indahnya warna di punggung kami yang rupanya banyak ditiru oleh tanaman dan manusia. Daun dengan permukaan berbulu yang sempat dipindahkan oleh tangan manusia ke dekat tempat tinggal kami memiliki corak bulat-bulat putih diatas warna dasarnya yang hijau kehitaman. Belum lagi beberapa kali ayah melihat dari kejauhan seorang anak manusia dengan pakaian bercorak warna mirip punggung kami. Sayangnya, kebanggaan yang membalut nama masing-masing kepik belum dapat aku rasakan. Sampai saat ini, mereka masih saja memanggilku dengan sebutan Si Kecil. Belum cukup matang untuk mendapat nama berdasar warna punggung, begitu alasan ayah ibuku. Tidak mengapa, asalkan mereka tidak mengaitkan nama panggilanku saat ini dengan keengganan mereka memberiku izin untuk bermain sendiri.

Ia mendengar suara lembut. Bukan, itu bukan suara ibunya memanggil. Itu hanyalah suara daun yang bergeser karena  terinjak. Sebuah benda menginjaknya. Ia mulai cemas. Terbayang kaki-kaki raksasa manusia yang tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk kecil seperti dirinya melangkah dan menghabisi dahan-dahan tempatnya bernaung. Ia memasang pendengarannya lebih tajam. Sambil berusaha berdoa sebisanya.

“Du..du..du..dam-di-dam-di-dam…” Kiki bersenandung sambil menikmati rumput basah yang diinjaknya. Musim hujan telah tiba. Dahan yang semula kering mulai menghijau. Dedaunan yang semula enggan menyapa paginya kini berhasil membuat hidupnya jauh lebih bersemangat. Warna hijau nan segar dedaunan itu membangkitkan selera makannya. Pasti lezat sekali. Tapi kini Kiki sedang membersihkan bagian tubuhnya dengan embun pagi yang membasahi tumpukan rumput yang dilewatinya.

Kiki, ulat kecil yang tengah menanti masa berkepompongnya, paling gemar membasahi tubuhnya dengan tetes embun pagi hari. Kalau saja ia dapat memenuhi keinginannya sendiri, pastilah ia sudah menceburkan diri ke dalam kubangan air yang banyak terdapat sehabis hujan. Tapi Kiki memilih tidak. Ia teringat nasihat ibunya untuk hanya membasahi tubuhnya dengan embun pagi saja. Ulat bukan makhluk yang dapat hidup di air, demikian penjelasan ibunya.

Kiki terus merayap sambil bersenandung di atas rumput basah tanpa mengetahui sesosok mungil dengan tubuh gemetar memperhatikannya dari kejauhan.  Sosok itu memicingkan mata kemudian lama kelamaan bersamaan dengan tubuh Kiki yang makin mendekat, mata yang semula mengecil itu perlahan membesar dan kemudian terbelalak. Kiki tidak menyadari dirinya diperhatikan. Bila saja bukan karena secercah cahaya matahari menimpa tubuh mengkilat makhluk kecil itu.

Kiki memiringkankan kepalanya ke kanan, kiri, kanan, lalu kiri lagi. Mengamati benda mengkilat di depannya. Indah sekali, gumamnya. Benda kecil yang berkilau. Pasti benda ini milik manusia yang tidak sengaja terjatuh disini. Manusia gemar benda berkilau. Itu yang Kiki tahu. ‘Tentunya tidak berbahaya’ gumamnya dalam hati. Kiki mendekati benda itu. Benda itu seperti bergerak perlahan. Bukan, ia gemetar. Kini Kiki ada di jarak yang memungkinkannya untuk mengetahui bahwa benda kecil itu memiliki mata. Sepasang mata mungil yang ketakutan. Kiki iba dibuatnya. Sepertinya benda ini hidup, pikirnya. Kiki mengamati bentuk makhluk di hadapannya. Ia teringat sesuatu. Rasanya tidak asing. Namun makhluk yang mulai tergambar diingatannya itu memiliki warna yang berbeda. Seingat Kiki ia berwarna merah dengan hiasan bulat hitam diatasnya.

“Halo, Teman!” Kiki mencoba menyapa.

“Hhh-ha-ha-ha..lo juga,” ujarnya gemetar.

“Mengapa kau sendirian disini?”

“A-a-a-ku…a-a-a-ku…”

Kiki tahu ia tidak bisa memaksa. Makhluk kecil ini masih ketakutan. Atau mungkin gaya bicaranya memang seperti itu? Atau ia tersesat?

“Namaku Kiki. Tidak perlu takut, aku tidak akan memangsamu,”Kiki berusaha memajang senyum di wajahnya. Semoga ia menganggap senyumku sebagai sebuah tanda pertemanan, harapnya dalam hati.

“Namaku…Si Kecil,”jawabnya.

“Sedang apa kau disini?”

“Aku kehilangan ayah, ibu dan kakak-kakakku”

“Kehilangan? Maksudmu? Mereka meninggalkanmu sendiri disini?”ujar Kiki penuh selidik.

“Emm…tidak,”jawab Si Kecil ragu.

“Lalu?”

“Aku meninggalkan mereka. Aku ingin bermain sendiri”

“Mengapa sekarang kau takut?”

“Aku belum pernah bermain sendiri sebelumnya. Ayah ibuku selalu menemani. Kakak-kakakku juga…tapi…tidak bolehkah aku punya keinginan sendiri…,” Si Kecil mencoba menahan tangisnya.

“Ow..ow..oww…temanku.. Jangan menangis…ada aku disini. Aku pernah punya keinginan sepertimu. Yuk, kita jalan-jalan melihat pemandangan sekitar sambil bercerita. Naiklah ke punggungku. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu lebih tersesat,” Kiki tersenyum memberi semangat Si Kecil yang sedang bersedih. Si Kecil menangkap ketulusan hati Kiki dan mulai melangkah menaiki tubuh Kiki. Belum juga sampai ke bagian atas punggung Kiki, ia berhenti lalu bertanya,”Bagaimana dengan orang tuaku nanti? Mereka pasti mencariku. Bagaimana kalau mereka mencariku disini?”

Kiki menjawab dengan sabar,”Kita hanya sebentar berkeliling… setelahnya aku akan membawamu kembali ke sini.”

“Baiklah,”ujarnya tepat disaat tubuhnya yang mungil telah mendapatkan tempat yang nyaman di punggung Kiki. Kepik mungil yang malang, gumam Kiki. Tentunya ia hanya ingin bermain, Kiki mencoba memahami.

Kiki dengan Si Kecil di punggungnya merayap perlahan keatas dahan tinggi yang menjulang di hadapan Si Kecil kala ia berdiam diri tadi. Dahan yang membuat Si Kecil sadar bahwa dirinya berada di tempat yang asing. Dahan yang melindunginya dari terpaan sinar matahari langsung. Tanpa terasa, tubuh panjang Kiki telah membawanya ke ujung paling tinggi dahan tersebut. Daun yang menjuntai bagian ujungnya sedikit ke bawah menjadi tempatnya dan Kiki melihat-lihat pemandangan sekitar.

“Woww..,”ujar Si Kecil kagum. Ia melempar pandangannya ke kanan dan kirinya, mencoba memandang ke bawah meski awalnya ragu.

Kiki dapat merasakan kebahagiaan Si Kecil memberinya energi tersendiri bagi tubuhnya.  Kenangan akan kenakalannya kala pertama kali pergi meninggalkan orang tua tanpa meminta izin hadir dihadapannya.

Si Kecil belum pernah berada di tempat setinggi ini. Pernah ia melihat ayah dan ibunya mengajak paman dan bibinya memanjat dahan setinggi ini. Tapi ia belum pernah diajak. Bukankah mereka bisa mengajakku di punggungnya seperti ini? Ah, sudahlah, yang penting sekarang ia sudah tahu seperti apa rasanya.

*

Sebentar lagi pesta kepik digelar. Pesta yang sedianya dihadiri lebih dari 30 kepik itu akan berlangsung lebih meriah dari biasanya. Pesta yang diadakan sekali dalam sebulan ini biasanya hanya diramaikan dengan acara makan bersama. Kali ini lain. Komunitas kepik kali ini ingin merayakan pesta dengan tidak biasa. Musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya menyisakan banyak tanaman kering, embun tidak lagi sesegar biasanya, dan tanah yang keras dan pecah-pecah. Kurang lebih seminggu yang lalu, musim penghujan tiba. Komunitas kepik ingin merasakan kebahagiaan ini bersama. Merayakannya dengan sebuah pesta yang meriah.

Pembagian tugas telah dirumuskan 3 hari yang lalu sebagai berikut. Seluruh kepik dewasa bertanggung jawab atas segala persiapan acara mulai dari perlengkapan hingga jumlah dan macam makanan yang tersedia. Kepik remaja bertugas mempersiapkan acara hiburan. Kepik anak dilatih oleh kepik remaja untuk menjadi bagian dari pertunjukan menari dan menyanyi yang akan ditampilkan di penghujung acara.

Kegiatan ini diketuai oleh kepik remaja yang lincah dan terampil bernama Kepik Coklat. Sejak dua hari yang lalu, Kepik Coklat hampir selalu terlihat mondar-mandir di sekeliling tempat dimana pesta akan diadakan. Memeriksa segala persiapan dan bertanya apakah bantuan tambahan diperlukan. Kepik Coklat tidak segan-segan berkonsultasi dengan Kepik Merah-Kuning, sesepuh komunitas kepik, bila diperlukan. Tanggung jawab sebesar ini tidak membuat Kepik Coklat menjadi sombong. Ia mengerti bahwa bagaimanapun juga, kebijaksanaan sang sesepuh komunitas akan selalu diperlukan sebagai bahan pertimbangan.

Tiba saatnya Kepik Coklat memeriksa persiapan pertunjukan menari dan menyanyi yang latihannya diadakan di sebuah lapangan terbuka.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,…,”Kepik Coklat menghitung jumlah peserta latihan.

“Mengapa cuma enam? Mana Si Kecil?”

Enam kepik anak dan satu kepik pelatih diam demi mendengar pertanyaan Kepik Coklat. Mereka saling memandang. Beberapa terlihat benar-benar tidak mengerti, sementara sebagian menundukkan kepala. Sang pelatih, Kepik Kuning, menjadi bagian dari yang menundukkan kepala.

“Ada apa ini?” Kepik Coklat gusar.

“Begini Ketua…,”Kepik Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan,”Sejak kemarin, kami tidak melihat Si Kecil…mmm maksudnya…Si Kecil entah ada dimana…”

Kepik Coklat mengalihkan pandangannya kemudian berkata,”Kepik Merah Muda, dimana adikmu?”

Yang ditanya menunduk lebih dalam, sebelum akhirnya berkata,”Saya, Kepik Biru, dan ayah ibu tidak tahu ada dimana Si Kecil sekarang. Kami sudah berusaha mencari ke mana-mana. Ia memisahkan diri dari rombongan sewaktu kami ajak berjalan-jalan di sebuah padang ilalang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Hari ini, sejak pagi ayah dan ibu berkeliling mencari Si Kecil.”

“Kepik Merah Muda, dapatkah kau mengantarku ke tempat dimana Si Kecil masih ada dalam rombongan kalian terakhir kali? Bisa jadi ia kini dalam bahaya…,”ujar Kepik Coklat tegas.

*

Suara tawa kecil membahana di sebuah padang ilalang yang luas. Kiki telah membuat Si Kecil merasa bahagia berkelana tanpa ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan beristirahat di atas sebuah batu.

“Ki, tahukah kamu kalau perjalanan seperti yang kita lakukan hari ini adalah apa yang aku inginkan selama ini?”pertanyaan Si Kecil memecah keheningan.

Kiki hanya menjawab dengan senyum manis tanda mengerti.

“Aku ingin berkelana seperti ini setiap hari. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang menyuruhku tidur siang, juga memintaku tinggal di rumah dan berlatih menari dan bernyanyi.”

“Apa kau bilang? Berlatih menyanyi dan menari? Tidakkah itu menyenangkan?”Kiki bersemangat mendengarnya.

“Apanya yang menyenangkan? Aku lebih suka bebas begini.”

“Kecil, aku menginginkan apa yang tidak kau inginkan. Tapi kita tidak mungkin bertukar tempat. Tubuhku terlalu besar untuk bergabung dengan teman-teman kepikmu…”

Mereka berdua tertawa membayangkan pernyataan Kiki barusan.

Tanpa terasa, matahari mulai meninggi. Meskipun musim penghujan sudah datang, tidak setiap hari padang ilalang itu diguyur hujan. Tak terkecuali hari ini.

“Ki, aku haus, embun-embun sudah habis menguap siang hari begini…aku juga merasa lapar,”keluh Si Kecil.

“Naiklah ke punggungku,”ujar Kiki,”kita berkeliling sambil mencari makan.”

“Dapatkah kau mencarikannya untukku? Aku lelah sekali…dan lagi sinar matahari begitu menyengat.”

Kiki tertawa mendengar keluhan Si Kecil yang tak berkesudahan.

“Katanya mau jadi pengelana…baru panas sedikit saja sudah mengeluh,”Kiki mengingatkan Si Kecil akan keinginannya.

Si Kecil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Kiki yang lembut, mencoba mendapatkan kehangatan yang berbeda dengan yang biasa didapatnya di lingkungan kepik.

“Ki, sebenarnya, aku mulai rindu pada ibu,”ujar Si Kecil sedih.

Kiki menatap Si Kecil penuh pengertian.

“Aku ingin bersama ibu, Ki, tapi aku tak ingin dilarang bermain sendiri, tak ingin selalu disuruh tidur siang, tak ingin….”

“Kecil, tahukah kau, mengapa saat ini engkau rindu pada ibumu? Jawabannya adalah karena engkau membutuhkan ibumu. Tidak hanya ibumu, Kecil, aku yakin kau juga merindukan ayah dan saudara-saudaramu.”

“Tapi, Ki,” Si Kecil berusaha menyanggah.

“Maukah kau mendengar ceritaku?”ujar Kiki.

Si Kecil mengangguk lemas.

“Dulu waktu kecil, aku tak ubahnya seperti dirimu. Punya keinginan dan harapan yang sama. Betapa aku merasa bosan dengan tempat tinggalku, ingin bebas bermain tanpa diingatkan bahwa waktu istirahat tiba, dan lain-lain yang menurutku aku berhak mendapatkannya.”

Kiki memberi jeda pada ceritanya, menarik nafas panjang kemudian melanjutkan.

“Hingga suatu hari aku mendapati tempat tinggalku kosong dan berdebu setelah kurang lebih 3 hari aku tidak pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya seekor laba-laba kecil terlihat mempersiapkan diri untuk membangun sarang disana, di tempat tinggalku. Aku sedih bukan kepalang, Kecil. Aku pulang karena rindu yang tak terkira pada ayah, ibu dan saudara-saudaraku.”

Si Kecil mendengarkan dengan seksama sambil berusaha menahan tangis.

“Seluruh keluarga ternyata tengah mencariku… tak satupun saudara dan kerabatku tinggal diam demi mengetahui kalau aku sudah tiga hari tidak pulang.”

“Dapatkah kau bertemu dengan mereka akhirnya?”tanya Si Kecil penasaran.

“Aku bertemu dengan mereka…akhirnya.”

Si Kecil menarik nafas lega.

“Tapi sebagian dari mereka sudah tiada…termasuk ayahku. Ibuku luka parah…dan kakakku adalah satu-satunya yang masih hidup dalam keadaan sehat. Ia menjaga dan merawat ibu…”

Si Kecil kembali lunglai mendengarnya.

“Tahukah kau apa yang terjadi waktu aku menemukan mereka dan meminta maaf pada ibu? Tak satupun kalimat menyalahkan keluar dari mulutnya. Ia berucap syukur kepada Tuhan atas kembalinya diriku. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang ia dapat melihatku lagi… Tak lama setelah pertemuanku dengan ibu dan kakakku, ibu meninggal dunia.”

Andai Si Kecil memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk memeluk Kiki, pastilah ia sudah melakukannya saat ini.

Siang yang tak berangin hari itu tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan udara yang rupanya berasal dari kepakan sayap kupu-kupu. Kiki dan Si Kecil terkejut dibuatnya. Kupu-kupu itu terbang mendekat ke arah mereka. Kepanikan merajai dua makhluk yang tengah berbagi kisah itu. Mereka pasrah pada takdir. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Mereka sadar tidak dapat mengimbangi kecepatan terbang kupu-kupu yang melesat ke arah mereka.

Sang kupu-kupu berhenti pada sebuah dahan dan muncullah dua kepik. Yang satu berwarna coklat dan yang lain berwarna merah muda.

“Kakak! Paman!” pekik Si Kecil keheranan bercampur bahagia.

“Kecil, diam disana! Kami akan menjemputmu pulang…,”ujar kepik yang berwarna coklat dengan tegas sambil membisikkan instruksi kepada sang kupu-kupu yang ditungganginya untuk menyelamatkan keponakannya yang tampak putus asa dalam cengkeraman seekor ulat kecil.

“Paman, tunggu! Ini Kiki, Paman! Ia baik hati!,”Si Kecil berusaha berteriak sekuat tenaga agar suaranya dapat mengalahkan suara kepak sayap kupu-kupu yang bersiap-siap melakukan perlawanan pada Kiki.

Terlambat. Suara Si Kecil tak dapat terdengar oleh sang paman yang tengah memegang kendali serangan kupu-kupu yang ditungganginya atas ulat kecil di depannya.

Dan…

“Kepik Coklat, tunggu!!”sebuah suara menggelegar di suasana penuh ketegangan itu.

“Ayah! Awas, ayah jangan disana!”Si Kecil mencoba memperingatkan ayahnya yang berteriak dari atas punggung Kiki mencoba menghentikan laju kupu-kupu yang siap menerkam Kiki.

“Ayaaaahhhh….,”Si Kecil berteriak sebelum akhirnya seluruh pandangannya gelap.

*

Baru kali ini pesta kepik tidak hanya dihadiri oleh komunitas kepik, tapi juga beberapa kupu-kupu dan calon kupu-kupu atau biasa disebut ulat. Kupu-kupu, dengan paduan warna dan sayap indahnya tidak memerlukan banyak asesori tambahan untuk hadir di pesta nan meriah itu. Begitu pula para kepik. Cukup beberapa kepik yang karena kedudukannya dalam komunitas kepik layak mengenakan kalung kehormatan yang terbuat dari kelopak bunga mungil nan indah.

Tak jauh dari keramaian di sekitar meja makan yang ditata rapi dengan beragam sajian, sebuah keluarga kepik tengah berpelukan penuh haru.

“Benarkah ayah dan ibu mendengarkan pembicaraanku dengan Kiki?”

“Benar, Kecil,”jawab ibu sambil membelai anak bungsunya.

“Maafkan Kecil ya… Kecil merasa sangat bersalah.”

Ayah yang masih berbaring di tempat tidur setelah terjatuh dari punggung Kiki tersenyum bahagia kemudian berkata,”Kecil, ayah dan ibu sesungguhnya tidak ingin melarang Kecil bepergian sendiri. Kami hanya mengkhawatirkanmu yang mungkin belum dapat menjaga diri sendiri. Ayah dan ibu bersyukur kau dapat bertemu Kiki yang mampu menjagamu dari mara bahaya.”

“Tetapi, diluar itu semua, kini ayah dan ibu mengerti bahwa sudah saatnya Kecil tidak lagi dipanggil Kecil…”

Si Kecil tertegun mendengarnya.

“Ya. Kami sepakat mulai hari ini kau tidak lagi kami panggil Si Kecil seperti kemarin-kemarin. Kepik Hijau akan menjadi nama panggilan untukmu. Sesuai dengan warna punggungmu yang hijau. Hal ini akan diumumkan di penghujung acara pesta hari ini.”

Ibu menimpali,”Kecil…ups, Kepik Hijau… kami mengerti bahwa ada saatnya seekor kepik kecil akan tumbuh menjadi kepik yang memiliki keinginan sendiri. Saat itu datang, ia akan meminta pengukuhan dari lingkungannya bahwa dirinya memang telah siap melangkah menuju kehidupan yang lebih menantang untuk dihadapi. Semua kepik membutuhkan petualangan, Kepik Hijau. Penggantian namamu kali ini akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri yang mungkin saat ini telah bersarang dan ingin berkembang biak di jiwamu. Kami semua berbahagia melihatmu tumbuh seperti saat ini. Tentang bahaya yang ada di luar sana, ibu percaya engkau dapat memberikan penilaianmu sendiri atas kejadian kemarin.”

Air mata tak henti menetes dari mata Si Kecil yang telah berganti nama menjadi Kepik Hijau. Nama baru segera disandangnya. Kini ia tak lagi seekor kepik labil yang menginginkan kebebasan tanpa tahu untuk apa dirinya mendapatkan itu semua.

Suara riuh terdengar dari pusat kegiatan pesta kepik. Makin meriah saja suasana pesta diluar sana, gumam Kepik Hijau dalam hati. Ia menghampiri kerumunan yang ada di tengah pesta dan mendapati Kiki, temannya disana. Di tengah kerumunan kepik anak-anak yang riang gembira membubuhkan warna di punggungnya.

“Hai, Kecil! Masih ingin menaiki punggungku?” sapa Kiki penuh semangat,”Setelah aku selesai diwarnai, mereka akan mengajakku menari dan bernyanyi.”

Tak ada yang lebih membahagiakan dirinya saat ini kecuali melihat Kiki dengan keceriaannya dan ayah yang tak lama kemudian dapat kembali mengikuti pesta.

Kepik Hijau memandang langit yang mulai berubah warna. Biru langit dengan semburat jingga yang indah seolah dilukis Yang Maha Kuasa untuknya hari itu. Menemaninya melangkah ke cakrawala senja.

Tamat

KETUKAN DI DEPAN PINTU

Karya : Tary
Sumber : Jawa Pos, Edisi 05/14/2006


Ia terbangun dari lelap tidurnya di malam pekat.  Sayup suara, samar-samar menembus gendang telinganya.  Perlahan ia menggosok-gosok mata, menyibakkan rambut, berusaha menajamkan pendengaran.  Pintu rumahnya diketuk dari luar.  Ketukan yang lembut.  Tiga kali, tiga kali.  Beruntun dan teratur.  Sejenak ia merasa seolah berada pada sebuah ruang sempit yang akan mengimpitnya, sebelum kemudian tersadar ia berada di pembaringan bersama tubuh wanita bungkuk meringkuk, tak bergerak.  Hanya napasnya yang naik turun teratur.  Ketika bergerak pun wanita itu tak lebih dari seorang tua renta.

Ketukan di pintu depan, sebuah ruang sempit yang mengimpit, entah sejak kapan ia mulai merisaukannya.  Kadang ia merasa ketukan itu terdengar bagai rintih pedih yang menyayat.  Lalu ia menemukan luka, darah dan air mata pada ruang sempit gelap yang mengimpitnya.  Malam ini, ia terbangun dengan suasana yang sama.  Ketukan itu kembali menggodanya.  Beruntun dan teratur.  Menuntun langkahnya turun dari pembaringan.

Perlahan tangannya menyibak kelambu depan.  Tak ada siapa-siapa.   Hanya desau angin terdengar merintih menerpa daun-daun pisang di halaman samping.  Sesekali terdengar kerik jangkrik, kodok mandi di blumbang belakang rumah menciptakan irama tertentu.  Lalu binatang-binatang itu berdiam.  Senyap.

“Tak ada siapa-siapa.  Apa aku bermimpi?” batinnya seraya kembali ke samping wanita renta.  Dipejamkan mata.  Ia ingin menuntaskan tidurnya yang terusik.

Ketika kantuk mulai menyeretnya ke dunia mimpi, sayup suara ketukan itu terdengar lagi.  Lebih nyaring dalam pendengarannya.  Ia kembali terbangun dan beranjak.  Berjalan berjingkat menjangkau gagang pintu.  Mendorongnya perlahan.  Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah.  Tak seperti tubuh manusia.  Tanpa hidung, bibir, mata, alis, tangan ataupun kaki.  Ya, hanya sekelebat bayangan.  Seperti asap yang terbang bersama udara sebelum kemudian lesap tanpa tanda.  Ia terpana, berdiri bagai patung di perempatan jalan besar lalu mundur tak percaya.

“Siapa kau?  Hantu?  Jangan mempermainkanku!” gertaknya.

Senyap.  Tiada jawaban.  Ia menunggu beberapa saat.  Tetap senyap.

Namun tiba-tiba bayangan itu kembali berkelebat.  Kini jauh lebih pekat.  Lebih tebal.  Meliuk-liuk memutari tubuhnya dengan desis menyerupai rintihan.  Lalu bayangan itu membuat gerakan seperti membelai sebelum kemudian berhenti dan menempel diam di dinding.

“Siapa kau?”

Hati-hati dan takjub ia mendekatkan wajahnya ke dinding.  Pertanyaannya tak terjawab.  Hanya desis yang terdengar bagai rintihan
panjang.  Luka, darah, sebuah ruang sempit menghimpit.

“Kenapa?  Ada apa?”

Suara serak wanita renta mengejutkannya.  Tubuh bungkuk terseok menghampirinya.  Lalu bayangan itu bergerak.  Berputar-putar, membentuk gulungan pekat, menembus dinding, kemudian lenyap.  Ia terengah.  Matanya nanar mencari-cari bayangan yang lenyap.  Ia percaya itu bukan mimpi.

“Kenapa?  Ada apa?”

Ia menggeleng.  Berusaha menarik ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman.  Ia tidak ingin wanita renta itu mencemaskannya.

“Mungkin aku mengigau”, gumamnya.  Ia tak menyadari bahwa bayangan itu benar-benar merintih.  Dalam luka.  Dalam darah.  Dalam sebuah ruang sempit.

***

Entah pada hari ke berapa, kemudian ia ingin mengabaikan.  Mungkin ketukan di pintu depan dan kelebat bayangan itu hantu.  Apa istimewanya?  Toh, alam gaib itu memang ada.  Bukankah semua hidup dalam alam masing-masing dan tunduk di bawah kuasa-Nya?  Jika kita tidak mengusik, mereka juga akan berdiam.  Hanya yang sedikit mengherankannya, kenapa wanita renta tidak mendengar ketukan itu?  Kenapa ketukan itu hanya menembus gendang telinganya?

Ia tak ingin peduli.  Ia tak ingin memikirkannya.  Tapi ketukan itu kian nyaring pada malam kesepuluh.  Ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan.  Menimbuni kepalanya dengan bantal.  Ia ingin membiarkan.  Namun sayup ketukan itu seolah menembus bantal yang menutupi kepalanya.  Merenggangkan tangannya dan menjebol paksa gendang telinganya.  Ia seolah kembali berada di sebuah ruang sempit.  Luka, darah, air mata.

“Oh!” rintihnya sambil melepaskan bantal.  Wanita renta di sampingnya terusik sesaat sebelum kembali lelap.  Napasnya memburu ketika turun dari pembaringan lalu berjalan ke pintu.  Namun langkahnya terhenti di muka pintu bilik.  Sayup ketukan itu bergema di sana.  Bukan lagi di pintu depan.  Ketukan yang lembut namun nyaring.  Beruntun dan teratur.  Tiga kali, tiga kali.  Dijangkau gagang pintu bilik, didorong perlahan.  Sekelebat bayangan itu memasuki biliknya.  Melesat lebih cepat dari malam yang lalu.  Meliuk-liuk mengitari tubuhnya lalu berhenti, menempel diam di dinding.  Bayangan itu seolah berdiri dan menatap lekat padanya.

“Apa maumu?” sentaknya meradang.

Tiba-tiba ia merasa malamnya sangat terganggu dengan bayangan yang tak pernah ia usik itu.  Kemarahan terasa mencekik lehernya.  Matanya bergerak ke segala arah mencari sesuatu.  Kemudian ia menemukan pisau yang tergeletak di meja.  Pisau yang digunakan wanita renta itu mengupas pepaya tadi sore.

“Apa maumu?” ulangnya semakin meradang.  Diacungkan pisau ke arah bayangan itu.  Namun bayangan itu tetap berdiri tenang, menempel diam di dinding.  Tak berbicara, tak bergerak, tak beranjak.  Merasa dipermainkan ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bayangan di dinding.  Crash! Crash! Crash!  Ia membabi buta.  Menggunakan seluruh energi yang dimilikinya.  Tak dipedulikan napasnya yang hampir putus dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.  Hujaman terakhir membuat pisaunya menancap kuat di dinding.  Tak kuasa ia mencabutnya.  Hujaman lainnya membentuk lubang-lubang di dinding.  Sesuatu tiba-tiba meleleh dari lubang-lubang itu.  Ia tertegun lama.  Menahan napasnya yang tersengal.  Menarik tubuhnya tak percaya.  Lubang-lubang di dinding bekas hujaman pisaunya itu mengalirkan darah!

Perlahan dan hati-hati di dekatkannya wajah.  Matanya membelalak tak percaya.  Darah di dinding itu saling bertaut.  Seperti digerakkan oleh kekuatan entah.  Demikian teratur membentuk huruf demi huruf yang kemudian merangkai sebuah kalimat : ROH, AKU PULANG

Usai membentuk sebuah kalimat, sisa darah yang lain menyatukan diri membentuk sebuah gambar.  Seperti tangan pelukis yang gesit menyapukan kuas pada kain kanvas.  Sisa darah itu bergerak membentuk rambut, mata, hidung, bibir, leher, dada, tangan, paha, kaki, dan perut.  Tapi perut itu tidak seperti biasanya.  Perut itu membuncit.  Ia kini mengerti.  Darah itu melukis tubuh seorang wanita hamil!

Ia masih tertegun.  Ternganga dalam ketidakmengertian.  Desis rintihan kembali membawanya ke sebuah ruang sempit.  Luka, darah, air mata.  Siapakah wanita dalam lukisan darah itu?  Ia menggeleng-gelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri.  Ia mencoba mengamati lukisan itu lebih seksama.  Ia menemukan kelembutan dan ketegaran seorang ibu di sana.  Ketegaran yang membuat seorang wanita tidak putus asa meski ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain.  Ketegaran yang membuat seorang wanita berani pergi ke negeri ringgit untuk mengais rezeki.  Meninggalkan gadis mungil dalam dekapan wanita menjelang renta sekian tahun silam.  Lantas membiarkan dirinya lenyap ditelan bumi.  Tanpa kabar.

Ada kekuatan yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mengusap lukisan itu.  Merasakan kepedihan yang dalam.  Luka, darah, air mata.

“Siapa, kau?” tanyanya lirih di antara isak.  Ia merasakan kesedihan yang dalam ketika tangannya menyentuh lukisan darah itu.  Air mata dan peluh bersaing membanjiri bagian tubuhnya.  Ia kemudian terkulai di lantai.  Napasnya tersengal-sengal.  Kerisauan, kebingungan, ketakutan, ketidak-mengertian telah menumpasnya malam ini.  Ia memejamkan mata.  Tidak ingin menatap lukisan darah di dinding itu.  Hatinya perih.

“Kenapa? Ada apa?”

Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh bahunya lembut.  Ia terkesiap.  Matanya kembali nanar mencari-cari lukisan darah di dinding.  Namun ia tidak menemukannya.  Lukisan darah itu lenyap!  Dan di hadapannya, wanita renta yang gurat wajah yang tak jauh berbeda dengan wajah dalam lukisan darah itu menatapnya cemas.

“Ada darah di dinding”.  Matanya masih mencari.
“Darah apa?”
“Lukisan darah”.
“Ah, kau mengigau”.
“Tidak Nek, tadi benar-benar ada di dinding itu”.
“Mana buktinya?  Dinding itu bersih, tidak ada darah di sana”.
“Lukisan darah berwajah sepertimu”.
“Sudahlah…”
“Aku akan mencari orang dalam lukisan itu, Nek”.
“Untuk apa?  Akan kau cari kemana?”
“Ke kota.  Atau kemana saja”.
“Minumlah dulu, jangan terus mengigau”.

Ia meneguk segelas air putih yang dibawa wanita renta itu hingga tandas, menarik napas hingga seluruh udara memenuhi rongga dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan.  Matanya menerawang, jantungnya berdebaran.  Lukisan darah itu kembali membayangi matanya.  Siapa wanita itu?  Perlahan ia mengangkat telapak tangannya dan ada sisa darah melengket kering  di jemarinya.

***

Tas besar itu telah dijejali pakaian dan perbekalan.  Ia akan pergi.  Mungkin ke kota atau ke negeri entah.

“Aku akan mencari wanita dalam lukisan itu”, gumamnya.

Ia sedih melihat wanita renta itu terlihat berat melepas kepergiannya.  Mata wanita renta itu berkaca-kaca.  Ia tak ingin mengurungkan niatnya.  Hampir setiap malam, sayup ketukan beruntun, bayangan pekat berkelebat, kemudian darah yang menjelma lukisan itu menghantui hidupnya.  Ia tak ingin digilas ketakutan, kesedihan, penasaran juga ketidak-mengertian yang terus bertumpuk dari hari ke hari.

Ada yang berkelebat saat ia mengayunkan langkah dan melepas tangan wanita renta yang memeganginya.  Sebuah bayangan.  Ada desis menyerupai rintihan yang semakin jelas.  Luka, darah, air mata dan sebuah ruang sempit dan menyeretnya dalam kepedihan.

“Kau akan pergi kemana?” pertanyaan wanita renta itu menonjok lamunannya.  Ia hanya bergumam, menggeleng lalu menyeret tas besarnya.  Entah, ia sendiri tak tahu harus kemana mencari wanita dalam lukisan itu.  Mungkin ke kota.  Tapi kota yang mana?  Namun lukisan darah di dinding yang desisnya menyerupai rintihan itu seolah terus memanggilnya, mengajaknya untuk bertemu.

Langkahnya terhenti.  Perlahan tangannya menjangkau gagang pintu depan rumahnya.  Sedikit gemetar ketika akan mendorongnya.  Saat itu ia mendengar suara ribut-ribut di halaman.  Ia menajamkan pendengarannya seperti saat mendengarkan ketukan lembut di setiap malamnya, lalu menatap wanita renta yang berdiri bungkuk di sampingnya.  Mereka saling berpandangan dan mengeryitkan kening.  Benaknya penuh tanya.

“Benar ini rumahnya?” tanya seorang laki-laki di halaman.
“Benar, Pak”, jawab sebuah suara, seperti suara tetangganya.
“Turunkan perlahan-lahan!” teriak laki-laki yang tadi bertanya memberi perintah.  “Tolong yang lain bantu kami menurunkan!”
“Awas, hati-hati!” suara yang lain lagi.
“Panggil keluarganya!” suara lelaki pertama kembali memerintah.
Ia terdiam sesaat.  Otaknya berputar mencoba menebak-nebak tentang keributan yang terjadi di halaman.  Namun ketika ia menyadari tak juga menemukan tebakan yang tepat, tangannya mendorong gagang pintu.

Mulutnya ternganga ketika melihat puluhan orang; tetangga laki-laki, perempuan, anak-anak, Pak RT, RW, lurah, polisi, berkumpul di halaman.  Mereka mengelilingi mobil ambulan yang sudah dimatikan sirinenya.  Beberapa orang menurunkan peti mati dari dalam ambulan.  Sementara seorang tetangga berlari-lari menghampirinya.

“Roh! Rohana!  Itu mayat emakmu.  Ia meninggal karena jatuh dari apartemen tempatnya bekerja.  Ia sedang mengandung anak majikannya!”

Seperti masuk ke dalam mesin pendingin, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat, rahangnya mengatup rapat.  Wanita renta di sampingnya terkulai pingsan.  Kerumunan orang-orang menyingkir ketika ia mendekati peti mati.  Dilihatnya darah berceceran di dinding peti mati emaknya.  Menuliskan : ROH, AKU PULANG dan melukiskan tubuh wanita hamil!


Utan Kayu, 23 Juni 2004
.

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: , . 1 Komentar »

DANI

Karya : Raisa
Sumber : Suara Pembaruan, Edisi 01/19/2003


Lama aku menatap lukisan itu.  Bukan terpukau oleh kehebatannya.  Pada pandangan sekilas saja orang yang sedikit mengerti tentang lukisan tentu akan dapat melihat, lukisan itu tidak ada apa-apanya.  Namun mataku masih saja terpaut pada lukisan itu.

Jelas bukan untuk menikmatinya.  Aku hanya perlu waktu untuk berdialog dengan diri sendiri; karena aku sedang bimbang.  Maklumlah, sejak suamiku Aria gugur dalam operasi militer menumpas pemberontakan Permesta di Minahasa empat tahun lalu, aku jarang bergaul.  Apalagi mengunjungi pesta.  Tapi seminggu yang lalu dalam keadaan lemah hati, aku menyerah juga pada Indi – teman karibku – yang diperkuat oleh suaminya.  “Sudah terlalu sering mengajak keluar dari tempurung”, katanya.

Dan sekarang aku di sini, di tempat pesta kawan-kawan Indi : keluarga diplomat Kanada.  Akhirnya aku memutuskan malam ini akan mencoba beriang hati.  Aku akan membiarkan diriku hanyut dalam arus suasana pesta.  Apa salahnya.  Kalau tidak berhasil paling sedikit aku dapat berpura-pura demi Indi dan suaminya, Ismar, yang baik hati.

Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki : “What will be : a lemonade or just Coca Cola? (Sari jeruk atau Coca Cola saja?)  Suaranya ramah tidak dibuat-buat.

Aku menoleh perlahan-lahan ke arah datangnya suara itu.  Hanya beberapa langkah dari tempatku berdiri, di belakang bar, ada seorang laki-laki asing.  Ia berperawakan tinggi tegap, tapi ramping.  Umurnya aku taksir sekitar tiga puluhan.  Rambutnya agak keemasan.  Di jari-jari tangan kanannya ada beberapa botol minuman : Cinzano, Gin, Campari, dan Whisky.

Dalam remang cahaya lampu di bar, aku lihat seraut wajah yang menyenangkan.  Seulas senyum tersungging pada bibirnya dan ia menunggu.  Dengan agak ragu aku melangkah mendekati bar.  Namun aku teringat lagi pada keputusanku untuk beriang hati malam ini.

“What makes you think I only take soft drink?  (Mengapa Anda pikir saya hanya minum-minuman tanpa alkohol saja?)”, balasku dengan nada kelakar.  Ia tersenyum agak heran …

“Oh, I am sorry.  I didn’t see the sprakle in your eyes then.  (Oh, sorry, saya tadi tidak melihat sorot mata Anda).  But now I do … well.  A martini perhaps or Cinzano on the rocks?”  Ia menyambut kelakarku.

Mataku menyusuri garis mukanya sampai ke matanya yang terpercik cahaya lampu.

“Hm, now I see your eyes.  How About a bloody Mary?”, sahutku.  Kata-kata itu terloncat begitu saja, aku pun kaget sendiri, karena aku belum pernah minum bloody Mary sebelumnya…  “As you wish, Lady”, sahutnya.

“Lalu ia membungkuk mengambil gelas dalam galar bar.

“You make me uneasy.  You ask for Bloody Mary, after seeing my eyes!  Do I have blood shoot eyes, perhaps? (Anda membuat saya tak enak hati.  Anda minta Bloody Mary sesudah melihat mataku.  Apa saya punya mata merah berang, barangkali?)”, katanya lagi sambil menyodorkan segelas Bloody Mary.

Merahnya dalam gelas kristal seperti menyala.  Baru tenang lagi hati, setelah merasakan kesejukan gelas dalam genggaman.  Sebentar kami terdiam.  Lalu…

“No, no at all.  Your eyes are fascinating … like a cat’s.  (Tidak, tidak sama sekali.  Mata Anda sangat memukau seperti … mata kucing)”, kataku kemudian.  Apa boleh buat, sudah terlanjur terucapkan.

“I beg your pardon.  Cat’s eyes?  How shall I take it.  Is it a complimentor … (Maaf, mata kucing?  Bagaimana saya harus menyikapinya; pujian atau…)”, tanyanya lagi.

Kenanganku menyeruak ke masa lampau.  Dimana, dimana aku pernah menatap sepasang mata ini?


Hari bukan main panasnya.  Jam tanganku menunjukkan pukul 11.00 WIB.  Rumahku masih jauh.  Setiap kali melangkah, aku harus menahan nafas karena sepatuku menepukkan debu yang jadi lebih ringan karena suhu yang tinggi.  Kakiku sudah penat, hari begitu panas dan jalan begitu kotor dan bau pesing.  Aku melirik ke kiri, ke kanan lalu ke depan.  Palang pintu kereta api di Lempuyangan pelan-pelan diturunkan.  Penjaganya bercaping dan bagian tubuhnya dari pinggang ke atas telanjang.  Keringat mengucur di punggungnya yang cokelat dan berpanu.  Tapi tubuhnya kekar : masih muda.  Aku berdiri tidak jauh dari dia, menunggu kereta langsir.

“Sialan”, desisku.

Tidak lama kemudian sebuah pedati yang ditarik dua ekor sapi kurus sempoyongan berhenti kira-kira jarak satu meter dari tempatku berdiri.  Nah, aku dapat ikut berteduh di bawah atapnya sebentar!  Tapi baru saja aku pindah berdiri, seekor sapinya kencing tanpa permisi.  Pancuran kekuning-kuningan memancar dengan derasnya.  Kakiku terkena percikannya.  Aku meloncat menjauh, sambil melontarkan pandangan geram kepada si sapi yang tak tahu tata krama itu.

Dan tepat saat itu pula kedua mata sapi yang lembab menatapku dengan dungu.  Lalu ia mendengus.  Barangkali ia merasa lega karena sudah bebas dari beban yang menghimpitnya.

Tapi bagiku ia seperti mencemoohkan, “Rasain, lho!”  Cepat-cepat aku memalingkan muka ke arah lain.  Aku melihat dua orang mbok bakul, juga sedang berdiri menunggu kereta api langsir.

Di atas punggungnya ada priuk tanah yang sudah hitam pekat dan diikatkan pada tubuhnya dengan secarik kain lurik yang sudah kumal.  Beban yang berat, terik matahari dan menunggu kereta api merayap langsir, tampaknya tidak membuat mereka kesal.

Mereka mengobrol.  Aku bertambah jengkel melihat ada orang yang masih bisa santai dalam keadaan serupa itu.  Beda dengan diriku, mereka tampaknya sabar.

Kuulurkan kepalaku di atas palang pintu kereta api.  Aku menengok ke kiri, lalu ke kanan.  Serentetan gerbong kereta api dari sebelah kiri merayap lewat di muka hidungku.  Dengan hati yang berharap-harap aku lirik penjaga pintu palang.  “Nah ini dia, sekarang ia akan menaikkan palang pintu dan kamu boleh jalani!”

Tapi … oh, tidak!  Si penjaga palang pintu kereta api malahan bernyanyi-nyanyi kecil : tembang Jawa.  Aku tidak mengerti kata-katanya, tapi aku kok bisa menikmatinya.  Suaranya cukup merdu!  Aku pikir barangkali ia pernah menjadi anggota kelompok ketroprak keliling.  Penampilannya tidak jelek, walaupun tidak begitu bersih.  Ia muda dan bisa menyanyi.

Tiba-tiba dari sebelah kanan “ular raksasa” abu-abu datang menjalar dengan lamban.  Dan tepat di depanku ia melengking tajam.  Aku tersentak mundur.  “Tidak tahu aturan itu masinis!”, desisku.

Belum reda kejengkelanku, palang pintu kereta api begitu saja naik.  Dan sebelum aku melangkah lega, mataku tertumbuk ke aliran air yang mendekati dari seberang jalan.  Rupanya Mbok Bakul gudeg yang paling tegap sempat juga melangsungkan hajat kecilnya sambil berdiri.  Kedua kakinya agak direnggangkan.

Itulah Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia pada hari di bulan Maret 1949 semasa pendudukan Tentara Belanda.

Aku baru berumur 15 tahun.  Rumahku di Kota Baru sedangkan sekolahku di Bintaran Lor.  Jadi setiap hari kalau aku pulang sekolah mesti jalan kaki lewat Lempuyangan Wangi atau tepatnya pintu palang kereta api.  Tidak setiap hari sekolahku buka.

Biasanya kalau suasana di dalam kota terasa agak genting karena malamnya ada kontak senjata antara pejuang/Tentara RI dan tentara Kolonial Belanda yang menduduki Yogyakarta, kami – maksudnya para pelajar dan guru-guru SMA Katolik tahu sama tahu – sekolah diliburkan.  Hari itu kami sekolah seperti biasa dan pulang sekolah seperti biasa pula.  Kalau mau masuk Kota Baru aku ambil jalan pintas lewat komplek kolam renang umum Umbang Tirto.  Dan bukan main kaget sewaktu aku melihat Dani sedang duduk termangu di panggung penonton.

“Hai, Dani!”, seruku.
“Hai!”, jawabnya terkejut.
Ia turun menghampiriku.

“Hari ini bukan main panasnya, yah!  Sendirian pulang?  Tidak ada teman yang sejalan?” tanyanya.

“Ah, teman yang biasanya sejalan, kan ada di depanku sekarang!” kataku genit.  “Mengapa bolos hari ini?” tanyaku.

“Ah, malas.  Lagi pula kelas tiga kan praktis mandek pelajarannya karena tidak ada guru dan … teman-temanku sudah banyak bergabung dengan Tentara Pelajar di pedalaman.  Cuma aku sajalah yang masih di kota.  Mungkin Amir dan Benny masih di Yogya, tapi kabarnya mereka pun sudah bersiap-siap akan pergi menemui pemerintah Belanda di sana.

“Ada waktu untuk mengobrol?  Ayo, duduklah dulu!” ajaknya.

Aku memang selalu senang bertemu dan mengobrol dengan Dani.  Malahan akhir-akhir ini aku selalu berharap, bahkan cari-cari kesempatan berjumpa dengannya.  Aku merasa semakin dekat dengannya.  Dan begitu juga Dani tampaknya menyenangiku.  Inikah yang disebut cinta remaja?  “Hei”, katanya ketika kami sudah duduk berdampingan di panggung penonton kolam renang.  “Kamu dan Ibumu kemarin dulu dijemput Letnan Bakker menghadap Kapten Vosveld, yah?  Ceritakan dong!”, pintanya.

Aku tidak segera menjawab.  Tapi lalu, “Kok tahu?  Dari mana, sih?”
“Dari ibuku, dan ibuku dari Letnan Bakker”.

Memang aku pernah dengar “gosip” tentang persahabatan ibunya Dani yang punya darah Indo itu dengan Letnan Bakker.  Konon ibunya Dani suka menerima Bakker, bahkan suka jalan bersama, kalau menurut orang usil numpang hidup ‘kali!”  Maklumlah ayah Dani seorang perwira TNI AD yang karena jabatannya di Sektor Selatan amat penting, ia kabarnya termasuk dalam daftar incaran tentara Pendudukan Belanda.

Ada dugaan santer, lantaran kedudukannya itu ditambah lagi dengan gunjingan tentang istrinya dan Letnan Bakker maka ia tak pernah menyelundupkan kabar berita apapun tentang dirinya kepada keluarganya.  Tidak adanya kontak dengan ayahnya ditambah lagi oleh pergaulan ibunya dengan Bakker inilah lalu membuat Dani acap kali gelisah dan murung.

“Orang melihat Ibumu dan kamu dijemput Letnan Bakker dengan mobil Chevroletnya yang “open kap” itu!”, Dani mengingatkan dengan kurang sabar.

“Oh,ya!  Letnan Bakker pagi itu datang ke rumah dan minta Ibu dan aku ikut, karena katanya dipanggil oleh Bosnya : Kapten Vosveld yang komandan “Kenpeitai”nya Belanda itu.

“Kami dibawa ke kantornya Vosveld di Treban Taman.

Mula-mula Ibu diminta masuk ke ruangan Vosveld.  Selama Ibu diinterogasi aku menunggu di ruangan depan … Kira-kira empat puluh menit berlalu baru Ibu keluar.  Aku ketakutan sewaktu Ibu di dalam ruangan Vosveld.  Aku pernah mendengar, tahanan Vosveld suka disiksa dengan kejam.  Dan Ibu istri seorang perwira TNI yang sedang diuber di Sumatera.

Kamu juga tahu bahwa sebelum pendudukan Yogya, ayahku bersama beberapa rekannya diutus Pemerintah Pusat untuk menyiapkan komando perlawanan gerilya terhadap Belanda di Sumatera seandainya Jawa dilumpuhkan.  Lalu Ibu suka mengadakan rapat-rapat pengurus Persatuan Istri Tentara di rumah yang terus terang suka dihadiri kurir TNI yang menyamar dari pedalaman, yang ditugaskan memberi arahan kegiatan bantuan moril dan materiil antara keluarga anggota TNI yang ditinggalkan suaminya di dalam kota.

Dan waktu itu aku lebih ketakutan lagi karena aku tahu Ibu juga akhir-akhir ini mengirimkan amunisi kepada tentara di pedalaman yang diseludupkan oleh beberapa pemudi pejuang kita yang suka mampir di rumah.  Selama itu amunisi dan beberapa senjata “tertinggal” di kamar Mayor Prawira yang sampai Yogya jatuh tertinggal di rumah kami” tuturku.

“Aduh, untung amunisi itu tidak ditemukan patroli Belanda.  Katanya kalau ketahuan, main tembak di tempat langsung!” seru Dani.

Aku tertegun sejenak; serasa merinding bulu kuduk oleh kata-kata Dani itu.  Lalu aku melanjutkan : “Setelah itu giliranku dipanggil Kapten Vosveld ke ruangannya.  Ibu bertanya pada Bakker untuk apa anaknya mesti diinterogasi.  Bakker bilang Vosveld hanya ingin berkenalan saja”.

“Terus, terus, setelah “berkenalan”, kamu ditanyai apa?”, tanya Dani lagi ingin lekas tahu.

“Vosveld bertanya tentang sekolahku, lalu tentang hobiku dan tentang siapa-siapa saja yang tinggal dengan kami serumah.  Ia tahu, Mayor Prawira pernah mondok di rumah kami!”

“Lalu Vosveld bertanya tentang istri perwira yang tinggal di rumah kami sekarang.  Apakah ia masih rajin menjenguk suaminya yang ditahan Belanda di Wirogunan.  Kemudian dengan senyum yang menyebalkan ia bertanya juga, apakah dua orang bintara tentara Belanda yang ditugaskan di Wiragunan masih suka bertamu di rumah perempuan itu”.

Lalu ia juga bertanya berapa kali kurir Sri Sultan membawa bantuan untuk hidup kami.  Heran, kok, tahu semua!  Dan akhirnya sambil menatap mataku Vosveld bertanya : “Kamu pasti merindukan ayahmu, yah.  Begini saja, tulis segera surat kepada ayahmu dan suruh ia pulang keluar secepatnya dari belantara Sumatera!”

“Dan semua akan normal kembali.  Kamu bisa sekolah lagi.  Bisa bermain tenis lagi, bisa belajar main piano lagi.  Nah, bagaimana?”

Mendengar kata-kata Vosveld, mukaku rasanya kena tampar.  Lalu dengan penuh emosi dan air mata mengucur tak tertahan, aku setengah berteriak : “Tidak, tidak akan aku lakukan itu!”

Dani dan aku terdiam …  Kemudian Dani bertanya dengan hati-hati : “Ketika kamu menolak Vosveld untuk menulis surat pada ayahmu dengan penuh emosi itu, apakah karena desakan rasa patriotisme?”

Aku tak langsung menjawabnya.  Harus menanyakan kepada diriku dengan jujur ..

“Tidak tahu.  Tapi mungkin saat itu ada sedikit rasa apa yang disebut orang patriotisme mulai bersemi dalam jiwaku!  Kesimpulan itu mungkin karena sejak Proklamasi aku boleh dikatakan dibesarkan dalam kancah Revolusi, mengikuti orang tuaku – ayahku yang langsung bergabung dengan BKR/TKR dan ibuku, pendampingnya yang setia dan yang memang sudah sejak muda merupakan pengagum Bung Karno.  Jadi boleh dikatakan turut terlibat pasang surutnya perjuangan fisik ini.  First hand, langsung, tidak dari kata orang”, kataku dengan yakin.

“Memang sudah kuduga itu!  Kamu berbahagia memiliki pangalaman yang menyulut rasa keberanian itu!  Aku tak tahu apakah aku punya rasa itu.  Ayahku memang perwira TNI yang kini sedang bergerilya di pedalaman.  Ibuku seorang wanita Indo yang sekarang dekat bergaul dengan Letnan Baker.  Kata Ibu, itu demi untuk melindungi keluarganya.

Tapi Ibu adalah seorang wanita cantik dan belum lagi berusia 40 tahun.  Orang bergunjing tentang ibuku dan Letnan Bakker,  itu kamu pasti sudah dengar.  Dan mungkin sekali karena itulah aku ditolak bergabung dengan Pasukan Tentara Pelajar di Gunung Kidul.  Tidak seperti teman-teman sekelasku yang lain.

Alasan resmi penolakan itu hanyalah karena kau belum 18 tahun.  Tapi bulan ini aku genap 18 tahun.  So what?  Mereka meragukan itu yang disebut rasa patriotismeku!  Tetapi aku merasa sangat ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia yang juga bangsa dan tanah airku.  Ah, memang dramatis kedengarannya!  Tapi aku kacau.  Aku merasa seperti seekor binatang yang terbuang dari kumpulannya”.

Itu lagi-lagi ungkapan klise, aku tahu!  Biar pun begitu, Dani merasa nyaman dan aman, dan tidak kacau lagi.  Karena minggu depan dia akan berangkat ke Bandung atas panggilan pamannya yang punya kedudukan tinggi dalam pemerintahan Belanda di sana.  Ah aku jadinya teringat lagi pada Dani yang bermata kucing, yang membuatku jatuh hati padanya pada pandangan pertama.

Kami lalu berjalan bersama-sama keluar dari komplek Umbang Tirto.  Kami mampir di cafe kecil di Jalan Widoro.

“Hari ini aku traktir kamu.  Hari ini ulang tahunku, jangan nolak!  Cendol, ya?”, kataku sambil menuju meja di sudut.

Begitu duduk ia berkata setengah berbisik : “Aku tahu hari ini kau berulang tahun.  Selamat panjang umur dan semoga bahagia selalu!” kata Dani sambil mengusap tanganku disertai senyumannya.

Selang tiga hari kemudian, ketika aku duduk sendirian di teras depan rumahku, lewat sebuah lori pengangkut barang yang ditarik oleh dua anggota PMI.  Aku lari ke pintu pekarangan.  Di atas lori itu ada seonggok barang yang dibungkus sehelai tikar.  Dari muatan lori itu tetesan-tetesan darah jatuh ke jalan yang lantas mengering seketika di atas aspal yang memuai oleh teriknya matahari.

“Pemuda nekat.  Memberondong regu pengawal Belanda!  Orangnya bagus!” kata salah seorang anggota PMI tanpa ditanya, saat melihatku lari ke pinggir jalan.  Tiba-tiba aku sangat merindukan Dani.

Menjelang senja Ella, adik perempuan Dani datang ke rumah mengantarkan sepucuk surat singkat dari Dani.

“Meskipun mataku lok-lak (istilahmu!)aku pergi juga bergabung dengan beberapa temanku yang menjadi Tentara Pelajar di pedalaman.  Apa yang harus kuucapkan : Sampai jumpa atau … Selamat tinggal, gadis manis!”  Demikian isi surat itu.

Seusai Perjanjian Roem – van Royen ditandatangani aku mendengar dari seorang teman seregu Dani di Batalyon Tentara Pelajar, Dani gugur di Gombong.


“A penny for your thought… (sedang melamun apa?)  Well, I will repeat my question : would you like to come with me to a piano recital at the Embassy next Saturday?  Beberapa teman anda yang hadir di pesta ini juga akan hadir!”, kata Daniel.

Ia menunggu jawaban dengan penuh harap.  Jawaban yang tidak mengecewakan.  Aku bisa membaca itu dari sorot matanya yang menatap lembut.  Sepasang mata yang ternyata tidak mudah kulupakan – kelabu kehijau-hijauan – seperti mata kucing kesayangan.

“Oh, sorry”  Tersentak aku dari renungan.  “A piano recital?  Yes, of course!  Tentu saja.  Dengan segala senang hati.  Terima kasih” kataku tanpa ragu-ragu seraya tersenyum  “Dan terima kasih karena kau telah membuka pintu hatiku” bisik nuraniku …

***

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.