PUTRI YANG HILANG

Karya : SYAM Anjeli
.

Pada suatu hari di Kerajaan Yusra lahirlah seorang anak perempuan yang amat cantik.  Dia suka menolong dan tidak sombong.  Lalu tak lama kemudian muncullah seorang penyihir yang menginginkan Putri itu, karena konon katanya siapa yang memiliki putri kerajaan yang cantik tersebut, maka ia akan menjadi awet muda dan terhindar dari segala macam penyakit.

Penyihir itupun berkata, “Aku harus menculik Putri itu, namun bagaimana yaa caranya?  Bagaimana kalau memperdayanya?  Yah… benar sekali … cara yang licik”.

Akhirnya ia pun mendapatkan Putri itu.  Penyihir itupun berkata lagi “Wahai Putri sekarang engkau telah aku dapatkah ha ha ha ….”
Putri itu menjawab kebingungan “Apa yang harus saya lakukan”.
Penyihir itu pun menjawab dengan sombongnya  “Hah… Apa yang harus kamu lakukan?!  Yah.. tentu saja bekerja!”

Sekian lama waktu berjalan hingga akhirnya penyihir itu meninggal dan Sang Putri pun akhirnya pulang kembali dan bertemu dengan orang tuanya. Mereka pun hidup bahagia.
.

JOKO TEMPE

Badannya tidaklah terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Warna kulitnya sedikit gelap, tapi bisa dikatakan hitam. Itulah Si Anto, bocah berumur 10 tahun dengan penampilannya yang khas anak kampung. Anto tak ada bedanya dengan teman-temannya lain. Kesehariannya dihabiskan untuk bermain dengan teman-temannya. Mulai dari main bola, petak umpet, dan mandi di sungai tak jauh dari rumahnya. Satu hal yang membedakan dirinya teman-temannya yang lain, yaitu dalam hal makan.

Sore hari dengan wajah mengkilat karena terik matahari serta baju kotor dan bau tak karuan, dia pulang ke rumah. Melihat kondisinya yang seperti itu, ibunya paling hanya bisa geleng-geleng kepala. Pernah suatu ketika Anto kena marah ibunya, karena pulang dengan baju yang teramat kotor. Kalau sudah begitu, Anto pun akan tunduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bahkan kalau bisa bernafas pun akan dia tahan, agar sang ibu tidak semakin marah. Menyesalkah Anto atas apa yang telah dia lakukan? Ternyata tidak. Dia menyesal hanya untuk 2 – 3 hari saja. Kembali diulangi lagi perbuatan itu. Berulang-ulang hal tersebut Anto lakukan, hingga akhirnya Sang Ibu pun bosan untuk selalu memarahi.

Sore itu, kembali Anto pulang ke rumah dengan pakaian kotor penuh lumpur. Sepulang sekolah dia bermain sepak bola dengan teman-temannya di lapangan dekat Balai Desa. Hujan deras semalam membuat lapangan menjadi penuh genangan air dan berlumpur. Sengaja Anto lewat pintu belakang dan langsung ke kamar mandi. Pikirnya daripada kena marah lagi, maka sambil mandi dia pun mencuci pakaian kotor yang dipakai tadi.

Selepas maghrib, seperti biasa bapaknya beserta 2 orang kakaknya dan seorang adiknya telah duduk berkumpul di ruang makan. Kebiasaan keluarga Anto adalah makan bersama, khususnya untuk makan malam. Makan malam telah siap dimulai saat Anto duduk di ruang malam. Dia tebarkan pandangannya ke seluruh meja makan. Dan raut mukanya pun berubah. Rupanya apa yang dicarinya tidak tampak di meja makan.

“Ndak ada tempe kah?” kata Si Anto dengan nada kecewa.
“Itu khan ada ayam goreng dan perkedel. Mana cocok sayur sop kalau lauknya tempe”, sahut Nurhay, kakak sulungnya.
“Siapa juga yang mau makan pake sayur sop. Anto khan mau makan pake tempe!” bantahnya tak mau kalah.
“Memang kau makan tak pake sayur?” tanya Nova, kakak keduanya. Sebuah pertanyaan yang seluruh penghuni rumah sudah tahu jawabnya.
“Asyiiiik… Ayam goreng jatah Mas Anto buat Widya aja yaa….” adik bungsu Anto tak mau kalah.
“Anto … coba kau cicipi dulu perkedel atau ayam goreng masakan ibumu”, ujar bapak menengahi keributan di antara 4 orang anaknya.
“Pokoknya Anto minta tempe goreng, kalo ndak ada yaa… udah Anto ndak makan”, ucap Anto.
“Anto… makan jangan hanya tempe. Tubuh kita akan lebih sehat jika kita tidak hanya makan tempe. Otak kita pun akan lebih cerdas karenanya”, jelas bapaknya.
“Memang Anto bodoh kah?” kembali Anto berusaha membela diri.
“Nah … ini ibu udah gorengkan tempe kegemaranmu”, kata ibu mengakhiri keributan kecil di ruang makan tersebut dengan membawa beberapa potong tempe goreng yang masih panas.

Cerita tentang kebiasaan Anto yang hanya mau makan dengan lauk tempe sudah bukan lagi menjadi rahasia. Semua orang di kampung maupun di sekolah sudah mengetahui hal tersebut. Itulah sebabnya di rumah maupun di sekolah dia mendapat gelar “Si Joko Tempe”. Anto sebenarnya malu dengan gelar itu, tapi mau apa lagi. Hanya tempe yang bisa dia makan. Pokoknya asal ada tempe, dunia menjadi aman baginya.

Meskipun begitu, bukan berarti Anto anak yang loyo dan bodoh. Di sekolah Anto termasuk anak yang cukup cerdas. Tidak pernah nilai raportnya selalu berada pada peringkat 5 besar. Anto pun beberapa kali tergabung dalam ‘tim cerdas cermat’ mewakili sekolahnya dalam beberapa lomba cerdas cermat. Lomba-lomba yang sebenarnya justru menyiksa Anto. Gimana tidak menyiksa, kalau konsumsi peserta lomba adalah nasi kotak dengan lauk ayam goreng, telur, atau daging. Mana ada konsumsi kegiatan nasi kotak dengan lauk tempe goreng. Pastilah panitia akan banyak menerima komplain dari peserta.

***

Tak terasa 25 tahun berlalu. Sejak lulus SLTP, Anto sudah semakin jarang kelihatan di kampungnya. Banyak temannya waktu SD maupun SLTP yang tidak tahu kemana perginya Si Anto. Kini dia pulang, Si Joko Tempe pulang. Pulang untuk mengunjungi teman-teman lamanya. Si Joko Tempe telah menjadi Sarjana dan sukses bekerja di negeri seberang. Si Joko Tempe tidak lagi hanya makan tempe. Dia sudah mau dan bisa untuk makan telur, ayam goreng atau bakar, ikan goreng atau bakar, dan jenis-jenis makanan lainnya. Dia memang sudah dapat makan dengan berbagai jenis lauk. Tetapi Joko Tempe tetaplah Joko Tempe, dia tetap akan memilih tempe menjadi lauk jika dilihatnya ada tempe di meja. Kalau dulu dia kadang mau kalau dioloki dengan panggilan Joko Tempe, maka sekarang dia akan sangat bangga jika dipanggil Joko Tempe. Ucapnya, “Biarpun Joko Tempe, tetapi khan jadi Sarjana. Tempe itu makanan bergizi walau kelihatan tidak bonafide!”

KELINCI ABIL

Oleh : Fahna Khumaira
(Pemenang Lomba Cerpen Permata, Majalah Ummi)
Sumber : Ummi, No. 08/XX Desember 2008 / 1429 H
.
.

Pada hari Minggu, Abil ikut ibu pergi ke pasar.  Ibu akan membeli sayuran untuk dimasak nanti siang.
Ketika melintas di toko hewan, Abil melihat seekor kelinci putih yang dikurung di kandang bambu.  Dia berhenti berjalan dan menatap kelinci itu gemas.

“Abil, ayo jalan”, ajak ibu sambil menggandeng tangan Abil.

“Tunggu, Bu.  Abil ingin lihat kelinci”, kata Abil sambil menarik tangan ibu.

“Mana?” tanya ibu.  Abil menunjuk ke samping, ke arah kelinci lucu di kandang itu.

“Abil ingin memelihara kelinci itu, Bu”, kata Abil sambil memandang ibu.

Ibu menatap kelinci itu kemudian menggeleng.  “Abil, merawat hewan itu tidak mudah.  Abil harus benar-benar disiplin”, kata Ibu serius.

“Abil mau menjaganya kok, Bu.  Nanti Abil rawat dengan baik.  Bener deh, Bu”, Abil merengek.

“Betul?  Abil janji?” tanya ibu.

Akhirnya Ibu membelikan kelinci itu untuk Abil.

Sampai di rumah, Abil langsung memberi makan kelinci dengan wortel.  Ayah membuatkan kandang di belakang rumah untuk kelinci Abil.  Abil dan Najwa, kakak Nabil, ikut melihat ayah membuat kandang itu.

“Bagusnya dikasih nama apa ya, Yah?” tanya Abil sambil membelai-belai kelincinya.

“Cibil saja, kan gabungan kelinci dan Abil”, usul Kak Najwa.

“Iya tuh, lucu juga, Cibil”, Abil senang.

Sejak hari itu, setiap hari Cibil dirawat dengan baik.  Tiap pagi Abil rajin memberi Cibil makan dan minum.  Abil juga tak lupa memberi makan Cibil pada sore harinya.  Siang hari, sepulang sekolah, Abil mengajak Cibil bermain dengan teman-temannya.  Teman-teman Abil juga menyukai Cibil karena cibil adalah kelinci putih bersih yang lucu, telinganya berwarna merah muda.

***

Tapi, lama-lama Abil lupa janjinya pada ibu untuk merawat Cibil.  Sejak Abil ikut kursus melukis, dia jadi jarang mengajak Cibil bermain.  Apalagi Abil harus ikut mengaji setelah shalat Ashar.  Abil jadi lupa memberi makan Cibil.  Abil hanya memberi makan Cibil pada pagi hari.  Lama-lama tubuh Cibil pun jadi kurus.

Suatu sore, Abil pulang agak cepat dari biasanya.  Setelah shalat Ashar di masjid, dia tidak mengaji karena ustadz Ahmad ada keperluan sehingga tidak bisa mengajar.  Abil berjalan ke belakang rumah untuk menengok Cibil.  Namun, Abil sangat terkejut waktu melihat Cibil tidak bergerak.

“Abil, sini, makan dulu”, ibu memanggil Abil.  Tapi Abil diam saja.  Dia masih kaget melihat Cibil.  Ibu bergegas menghampiri Cibil.  “Abil, ada apa?” tanyanya.

Abil hanya bisa menunjuk ke arah Cibil yang tidak bergerak.  Pelan-pelan ibu mendekati Cibil dan membelainya.  Cibil bergerak perlahan.

“Bu, Cibil kenapa?” tanya Abil pelan.  Rasanya Abil ingin menangis melihat Cibil.

“Kelihatannya Cibil sakit parah.  Kamu minta Kak Najwa telepon dokter hewan, ya”, ujar ibu.

Dengan hati cemas, Abil segera menghampiri Kak Najwa yang sedang belajar di kamar.  Kak Najwa pun dengan cepat menelepon dokter Anwar, dokter hewan yang tinggal dekat rumah mereka.

***

Abil menatap Cibil yang masih lemah.  Tadi, Cibil baru saja diperiksa dan diberi obat oleh dokter Anwar.

“Kamu tenang saja ya, Bil.  Tadi, kan dokter bilang Cibil akan segera sembuh”, kata Ayah sambil merangkul Abil.

“Abil, waktu itu kan Ibu sudah bilang kalau merawat hewan itu tidak semudah yang dibayangkan”, kata ibu lembut.

“Iya, Bil, kalau merawat hewan harus mantap.  Kalau nggak, jadinya kayak gini”, sambung Najwa.

“Maafin Abil ya, Bu.  Padahal Abil sudah janji sama Ibu.  Abil sayang sama Cibil.  Abil janji nggak akan teledor lagi.  Abil mau kasih makan yang teratur dan merawat Cibil dengan baik”, janji Cibil.

“Ya, sudah.  Bagus kalau Abil mengerti.  Janji jangan diulangi lagi ya”, jawab ibu sambil mengusap kepala Abil.  Abil mengangguk.

Ayah, Ibu, dan Kak Najwa tersenyum mendengar kata-kata Abil.

“Kelihatannya sudah Maghrib, ayo kita masuk”, ajak Ayah.  Bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah.

***
.

MENOLONG ITU MENYENANGKAN

Karya : Retno W

Sumber : UMMI, No. 4/XVI 2004 M / 1425 H

.

Sabtu siang Rosidah pulang sekolah dengan kecewa dan sedih.  Sepanjang jalan ia diam membisu.  Tak dihiraukannya teman-temannya yang asyik bercanda ria.  Langkah anak kelas 5 SD itu gontai, menyusuri tepian jalan menuju rumahnya.

Tadi di sekolah, diumumkan siapa saja yang masuk pasukan khusus pramuka.  Betapa kecewanya, ternyata ia tidak lolos.  Padahal ia sangat menginginkannya.  Ia kini hanya anggota biasa yang tidak mendapat prioritas jika ada kegiatan di luar sekolah.  Padahal ia sudah berusaha keras.  Dipelajarinya tali-temali, morse, dan lain-lain dengan sungguh-sungguh.  Tapi rupanya masih gagal.  Padahal Devi, sahabatnya, bisa lolos.  Rasanya ia ingin menangis saja.

Apa yang harus dikatakannya pada ibu nanti?  Mungkin ibu tidak marah.  Tapi ibu pasti kecewa.  Bagaimana tidak, Ibu kan pembina pramuka di SMP tempat Ibu mengajar.  Masak anaknya justru gagal masuk pasukan khusus.  Malu kan?

Teman-temannya sudah jauh meninggalkannya.  Kini ia berjalan sendiri sambil melamun.  Ah, andai saja ia tidak gagal.  Ia tentu mewakili sekolahnya di luar kota.  Pasti senang sekali.  Ia bisa ikut banyak kegiatan dan mendapat teman baru dari sekolah-sekolah lain.

“Ciiit… brak!” suara keras menyadarkannya.  Tak jauh dari tempatnya berjalan tampak seorang anak kecil kira-kira berusia 5 tahun jatuh, tertabrak sepeda motor.

Rosidah berlari medekati mereka.  Anak kecil itu menangis.  Kakinya lecet dan tangannya luka.  Darah mengalir dari luka itu.  Sementara itu, bapak yang mengendarai motor tampak pingsan di dekat motornya yang roboh.  Rosidah menengok ke sana dan kemari.  Sepi.  Kanan kiri jalan adalah persawahan dan tak ada orang yang lewat.  Wah, bagaimana ini?

Sejenak Rosidah kebingungan, tak tahu apa yang harus diperbuat.  Aku harus segera menolong mereka, pikirnya.  Dikeluarkannya sapu tangan pramukanya dari tas, lalu diikatnya pada lengan anak kecil itu.  Semoga dapat mengurangi perdarahannya.  Setelah itu diberinya anak itu air minum dari bekal sekolahnya.

“Tenang ya, Dik.  Jangan menangis.  Kakak akan segera mencari pertolongan”, hibur Rosidah.  Ia lalu berlari melihat keadaan bapak yang sedang pingsan.

“Pak… Pak… sadar Pak.  Bangun Pak”, Rosidah mencoba membangunkan bapak itu.  Dilihatnya tak banyak luka atau darah, tapi kok pingsan.  Digoyang-goyangkannya bahu bapak itu pelan.  Tak berapa lama bapak itu membuka matanya dan mengerang kesakitan.

“Aduuh… kakiku, aduuh…!” erang bapak itu saat mencoba untuk bangun.  Tampaknya ada yang tak beres.  Ketika Rosidah mencoba menyentuh kakinya, Bapak itu semakin menjerit kesakitan.  Oh, mungkin kakinya patah!

“Bapak diam saja di sini”, kata Rosidah.  Ia segera berlari menuju ke perkampungan.  Ia harus segera mencari pertolongan.  Tak dihiraukannya keringat yang membanjiri tubuh mungilnya.

Sesampai di perkampunga, Rosidah menceritakan kecelakaan itu pada orang ditemuinya.  Orang itu segera memanggil warga lain.  Mereka kemudian berbondong-bondong mendatangi tempat kecelakaan itu dan segera memberikan pertolongan.  Korban kecelakaan segera dibawa ke rumah sakit.

Rosidah bernafas lega.  Semoga mereka akan baik-baik saja.  Ia lalu melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

Assalamualaikum…” salam Rosidah begitu memasuki rumahnya.

Waalaikum salam…” jawab ibu.  Rupanya Ibu sudah sampai di rumah lebih dulu.  “Kok pulangnya terlambat.  Biasanya Ida datang lebih dulu dari Ibu”, kata Ibu.

“Iya Bu.  Tadi ada kecelakaan”, Rosidah lalu menceritakan tentang kecelakaan itu pada Ibu.  Ibu mendengarnya dengan penuh perhatian.

“”Hmm… Ibu bangga pada Ida.  Ida telah berbuat baik, menolong orang lain”.

“Bangga?  Ida tidak bisa dibanggakan, Bu.  Karena…” kata-katanya terputus.  Rosidah ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Karena apa?”

“Ibu jangan marah ya, Ida tidak masuk pasukan khusus pramuka.  Ida gagal dan hanya menjadi anggota biasa”.

Ibu tersenyum dan membelai rambutnya.  “Ibu tidak marah.  Menjadi pasukan khusus memang bagus, tapi anggota biasa juga bagus kok.  Yang kamu lakukan tadi sudah mencerminkan sikap muslim yang baik.  Suka menolong siapa saja, tidak penting apakah itu pasukan khusus pramuka atau tidak.  Lagipula anak yang sudah menolong akan dicintai oleh Allah.  Bukankah itu yang paling penting?”

“Terima kasih, Bu…” Rosidah mencium pipi Ibu.  Ternyata ibu tidak marah dan tidak kecewa.  Bahkan Ibu bangga padanya.

“Wah… sapu tangan pramuka milik Ida terbawa anak itu ke rumah sakit, Bu”.

“Ya sudah.  Nanti sore kita beli di kedai pramuka.  Sekarang, ganti bajumu!  Cuci kaki dan tangan, terus makan bersama ibu.  Ibu sudah kelaparan menunggumu”.

Rosidah tertawa.  Ia segera berlari masu kamar.  Setelah ganti baju dan cuci tangan, Rosidah makan bersama Ibu.  Wajahnya tampak berseri-seri.  Hilang sudah kesedihan dan kekecewaannya.  Ia makan dengan lahap.  Sayur bayam dan tempe goreng terasa lezat sekali.  Menolong orang lain ternyata menyenangkan dan membuat hati gembira.  Alhamdulillah

.

SAMBAL JENGGOT

Sumber : UMMI, No. 10/XV April 2004 M / 1425 H.

Karya : Ina Achmar

.

Besok, sepupu-sepupu Rana akan berlibur di desa.  Liburan kemarin, Rana berlibur di rumah mereka di Jakarta.  Mengunjungi Taman Mini, Ancol, Dunia Fantasi, dan lain sebagainya.  Sekarang giliran para sepupu itu yang akan menghabiskan masa liburan mereka di desa Rana, di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Rana sudah menyiapkan semuanya serapi-rapinya.  Kamar untuk tidur sudah disiapkan, para sepupunya itu pasti akan nyaman tidur di dalamnya.  Bukan itu saja, bahkan Rana sudah menyiapkan rencana kegiatan mereka selama dua minggu.  Hari pertama, mereka istirahat saja di rumah pohon di belakang rumah.

Hari kedua mereka akan menemani Pak Karta, asisten Bapak, memanen kayu manis di kebun dekat hutan.  Pasti pengalaman baru bagi anak-anak kota itu.  Hari ketiga mereka akan memancing udang di danau kecil di seberang hutan.  Sebelumnya mereka akan main perahu dari pohon pisang.  Setelah lelah main perahu mereka akan mengangkat besek-besek yang dijadikan penangkap udang dari dalam air.  Para sepupunya pasti akan terkejut melihat betapa mudahnya menangkap udang.

Hari keempat, kelima, semua sudah terencana rapi.  Desa Rana memang tidak memiliki taman-taman hiburan seperti Jakarta, tapi di desa Rana, semua tempat boleh untuk bermain anak-anak.  Tanpa takut ditabrak, tanpa takut dimarahi petugas apa pun, dan yang pasti tanpa bayar.

Namun, ada satu hal yang masih mengganjal Rana, yaitu soal makanan.  Rana tahu, para sepupunya itu susah sekali makan.  Mereka hanya suka ayam goreng tepung, nugget, sosis, bakso, burger, dan sejenisnya.  Enak juga sih, Rana juga suka.  Tapi kalau terus-terus begitu, gizinya tentu tidak baik.  Itu yang dikatakan ibu.

Masalahnya, di desa Rana yang terpencil itu, tidak ada makanan seperti itu.  Kalau sekali-sekali mau makan ayam goreng, Ibu akan menyembelih ayam untuk dimasak di hari istimewa.  Selama ini keluarga Rana lebih banyak makan sayur yang tinggal ambil saja dari kebun.  Lauk-pauknya tempe atau tahu yang diantar penjualnya setiap pagi.  Kadang-kadang ikan di kolam samping diambil.  Begitu-begitu saja, tapi karena ibu pintar mengolahnya, semuanya terasa enak saja bagi Rana sekeluarga.  Tapi apa para sepupunya itu juga akan beranggapan sama?  Rana ragu.

“Kalau besok Farid, Faris, dan Fathya ke sini mereka makan apa, Bu?” tanya Rana malam itu.

“Ya makan seperti yang biasa kita makan”.  Jawab Ibu ringan.

“Apa mereka mau makanan kampung, Bu?  Lauk mereka di sana kan enak-enak terus”.

“Rana, makanan yang lezat dan enak itu bukannya berasal dari bahan mahal.  Tapi bahan baku makanan lezat itu, rasa lapar”.

Rana mengerutkan kening.  Ibu aneh ya?  Mana ada makanan yang bahan bakunya rasa lapar?

“Maksud ibu begini.  Kalau misalnya Rana disuruh makan makanan yang terbuat dari bahan-bahan mahal tapi saat itu Rana sedang tidak lapar.  Rasanya seperti apa?  Lalu bandingkan dengan saat Rana hanya makan dengan tempe, lalap, dan sambal, tapi saat itu Rana sedang lapar betul.  Lebih enak yang mana?”

Lebih enak yang kedua?  Pikir Rana.

“Rana masih ingat hadits yang menyuruh kita makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang?  Saat lapar makanan akan terasa lebih nikmat.  Kenikmatannya semakin berkurang seiring dengan hilangnya rasa lapar kita.  Kita lebih mensyukuri makanan kita, rezeki kita”.

Rana mengangguk-angguk.

***

Jam delapan pagi, para sepupu Rana datang ditemani Pakdhe Budi, kakak sulung Bapak.  Mereka tampak menggigil, desa Rana memang dingin.

“Kita ke dapur saja yuk?  Sarapa”.  Ajak Rana pada para sepupunya.

Tanpa menunggu ditawari lagi.  Sepupu-sepupu Rana berlarian menuju dapur.  Perjalanan yang jauh memang membuat perut mereka lapar.

“Ini ada sambal jenggot”.  Tunjuk Rana pada salah satu makanan.

“Apaan tuh?  Sambal jenggeot?  Jenggot siapa yang disambal?   Jenggot orang apa jenggot kambing?” tanya Farid.

“Fathya nggak mau ah.  Jijik.  Fathya mau ini saja”.  Fathya meraih sebuah kerupuk.

“Sambal jenggot itu cuma namanya saja.  Bukan dibuat dari jenggot beneran.  Warnanya saja yang mirip jenggota kakek-kakek.  Coba deh.  Enak kok”.  Tawar Rana.

Faris mengamati sambal di cobek yang tampak menggoda selera itu.  Dicoleknya sedikit, dibawanya ke mulut.

“Wah enak. Rasanya nggak kayak jenggot kok.  Enak bener”.  Faris menyendok sambal ke piringnya.

“Ih…, memangnya mas Faris pernah makan jenggot beneran?”  Fathya protes.  Semuanya tertawa mendengar percakapan itu.

Dengan sepotong tempe dan lalap sayuran Faris memakan sambal itu dengan penuh kenikmatan. Melihat itu, Farid ikut mencolek.

“Eh iya, enak.  Dari kelapa ya, Ran?”

“Iya.  Kelapa dikupas, trus dibakar di atas bara api, diparut, trus diaduk dengan sambal.  Karena sebagian terbakar makanya warnanya seperti uban”

Fathya mencolek sambal, lalu…

“Wow…!  Enak betul”.  Serunya riang.  Mereka pun makan dengan lahapnya.

Diam-diam Rana melirik ke arah Ibunya.  Ibu mengacungkan jempol ke arahnya.  Dengan cepat Rana membalas dengan dua jempol.  Ternyata benar, tidak perlu mahal untuk merasakan betapa nikmatnya makanan.  (Ina Achmar).

.

ANDAI AYAHKU PAHLAWAN…

karya : Retno W

dikutip dari : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.

 

 

Akhir-akhir ini Rafli terlihat murung.  Ia sering mengurung diri di kamarnya.  Sejak membaca buku tentang kepahlawanan, Rafli jadi berandai-andai.  Andai ayahku seorang pahlawan, aku pasti bangga sekali.  Pahlawan yang membela kebenaran, membasmi kejahatan dan berani bertarung untuk menegakkan keadilan.  Wah…, pasti hebat sekali.

Tapi… Ayah hanya orang biasa.  Tak ada yang istimewa.  Ayah hanya sebagai tukang pos.  Pekerjaannya mengantar surat dan barang ke alamat yang dituju seharian.  Tidak sulit, hanya perlu membaca alamat yang tertera di amplop, lantas mengantarkannya.  Diam-diam Rafli merasa sedih.  Apa yang yang bisa dibanggakan dari ayahnya?

Minggu siang, Rafli ke bengkel Pak Kirjo untuk menambal ban sepedanya yang bocor.  Rafli mesti antri karena Pak Kirja sedang sibuk.  Rupanya banyak orang yang memperbaiki sepedanya di sana.  Pak Kirjo memang banyak langganannya.  Ia sudah tua, orangnya baik dan menyenangkan.

“Wah, Pak Kirjo tampaknya sedang gembira.  Dari tadi bersiul-siul”, kata seorang bapak yang juga sedang mengantri.

“Betul, Pak.  Saya sedang gembira.  Habis dapat kiriman foto-foto cucu saya.  Mereka tinggal jauh dari sini dan saya tak bisa datang menengoknya.  Jadi kiriman foto-foto itu bisa jadi obat rindu”.

“O, begitu.  Dititipkan siapa suratnya, Pak?”

“Ya, lewat pos.  Anak-anak saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh.  Mereka suka berkirim kabar lewat surat.  Itu sudah cukup membahagiakan saya”.

“Kalau saya, kemarin malah dapat surat yang isinya berita duka, Pak.  Kakak saya yang di Ambon meninggal dunia.  Tapi untunglah ada yang menyurati saya, setidaknya saya bisa mendoakan kakak saya”.

Rafli tercenung mendengar pembicaraan itu.  Rupanya pekerjaan Ayah berguna juga buat orang lain.  Bisa membuat Pak Kirja bahagia.  Bisa mengabarkan kematian kakak bapak tadi.  Mungkin juga banyak hal lain yang bermanfaat.

“Rafli, sepedamu kenapa?” tanya Pak Kirjo membuyarkan lamunan Rafli.

“Bannya bocor, Pak.  Barangkali kena paku”.

Pak Kirjo memeriksa ban sepeda Rafli.  Benar, ada paku menancap di ban itu.  Pak Kirjo lalu menyikat di sekitar lubang itu, memberinya lem dan menambalnya.  Pak Kirjo mengerjakannya dengan cermat dan teliti.  Tangan tuanya sangat terampil dan cekatan.

“Pak Kirjo suka dengan pekerjaan ini?” tanya Rafli tiba-tiba.  Pak Kirjo memandangnya sejenak, lalu tersenyum.

“Tentu saja, pekerjaan ini sesuai dengan keterampilan Bapak, bisa menghasilkan uang untuk hidup sehari-hari, dan yang penting halal.  Bapak tidak melakukan pekerjaan yang dilarang Allah.  Mungkin dari sinilah Allah memberi rejeki buat Bapak”.

“Tapi…” Rafli tidak meneruskan kata-katanya.  Sekali lagi Pak Kirjo tersenyum, seolah tahu yang hendak dikatakan Rafli.

“Mungkin bagi beberapa orang pekerjaan ini remeh.  Tapi Bapak menyukainya karena bisa membantu orang lain.  Tidak semua orang bisa memperbaiki sepeda, bukan?  Semua pekerjaan yang baik, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan jujur, pasti akan memberi manfaat juga buat orang lain.  Dan Allah akan mencintai orang yang bisa membuat dirinya berguna untuk orang lain”.

Rafli mengangguk-angguk mengerti.  Hatinya mulai terbuka.  Meski bukan pahlawan seperti di buku-buku, Ayah orang yang berguna juga.  Kalau Ayah tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, tentu orang yang berkirim surat atau barang akan kecewa.  Kalau Ayah tidak jujur, pasti barang-barang kiriman tidak sampai ke alamat tujuan.  Dan tak kalah pentingnya, karena pekerjaannya, Ayahnya bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk sekolah Rafli dan kakaknya.  Wah, Ayah hebat juga, ya.  Rafli bangga padanya.

“Eh, Rafli, mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya Pak Kirjo tiba-tiba.

“Tidak apa-apa, Pak.  Ini ongkos tambal bannya”, kata Rafli seraya menggenjot sepedanya.  Hatinya lega.  Sepanjang jalan ia bernyanyi kecil.

Ia memacu sepedanya.  Ia ingin segera bertemu Ayah, memeluknya dan mengatakan bahwa Rafli bangga padanya.

a

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: . 2 Komentar »

PERGI KE PLANETARIUM

 Karya : Mila K. Kamil; Dikutip dari : Ummi No. 3/XVI Juli-Agustus 2004 M / 1425 H

  

Kring…!

Bel pulang hari Jum’at itu akhirnya berbunyi juga.  Buyung merasa lega sekali.  Alhamdulillah, sudah waktunya pulang.  Kepalanya sejak tadi memang terasa pusing.

Teman-teman sekelasnya membenahi buku dengan ribut.  Kelas menjadi riuh rendah.  Namun Pak Fuad tak segera keluar dari ruangan.  Beliau malah berjalan ke depan kelas, menghadap anak-anak.  Beliau berseru keras sambil mengetukkan penghapus papan tulis ke meja.

“Perhatian semuanya!”  Kelas menjadi sunyi.  Mereka menatap Pak Fuad dengan pandangan bertanya.  Pak Fuad tersenyum, lalu berkata dengan suara lembut.

“Anak-anak, hari Minggu besok kelas kita akan mengadakan study tour.  Kita akan berkunjung ke Observatorium Bosscha di Lembang”.  Beberapa anak yang sudah tahu tentang Observatorium Bosscha di Bandung, berseru dan melompat kegirangan.  Sementara yang belum tahu saling menatap dengan pandangan bertanya.

“Kalian tahu apa itu observatorium?” tanya Pak Fuad.  “Observatorium adalah sebuah tempat dimana kita bisa langsung mengamati bulan, bintang, dan benda langit lain melalui sebuah teropong besar”, jelas Pak Fuad.  Semuanya tampak senang mendengar penjelasan Pak Fuad.

“Tapi… Bapak akan memberi tugas pada kalian, yaitu membuat karangan tentang matahari, bulan, atau bintang dan dikumpulkan 3 hari setelah study tour.  Sanggup?”

“Sanggup, Paaak!”

“Bagus!  Nah, sekarang kalian berdoa.  Setelah itu semua boleh pulang!”

Ketua kelas memimpin doa dan mengucapkan salam.  Semuanya segera berdiri dan berlari keluar kelas.  Buyung berjalan agak terhuyung.  Pak Fuad melihatnya.  Segera dihampirinya Buyung.

“Kamu  sakit?”  Pak Fuad meraba dahi Buyung dengan punggung tangannya.  “Badanmu juga agak panas.  Sampai di rumah, minta diantar Ibu ke dokter ya?”

“Iya Pak”, jawab Buyung.  Dalam hati, dia berharap dirinya tidak benar-benar sakit, bisa-bisa dia tidak boleh ikut ke observatorium.

Malam itu, sepulang dari dokter, Buyung duduk di meja makan sambil mengaduk-aduk sisa nasi tim di piringnya.  Nafsu makan Buyung hilang.  Pandangannya sayu.  Ibu terus membujuk Buyung untuk menghabiskan makanannya.  Ayah yang baru pulang tampak heran melihat keadaan Buyung.

“Buyung agak demam, tapi sudah ke dokter”, ujar Ibu menjelaskan.

“Ayah…” kata Buyung lirih.  “Hari Minggu kelas Buyung mau study tour ke Bosscha.  Tapi ibu bilang, Buyung tidak boleh ikut”.

Iya dong, kan Buyung sedang sakit”.

“Tapi Buyung kepingin ikut yah”, Buyung mencoba membujuk ayah.  “Buyung kan belum pernah ke observatorium.  Lagipula, nanti pak guru marah kalau Buyung tidak ikut dan membuat tugas karangan tentang bulan dan bintang”.

“Kalau sakit, Insya Allah Pak Guru tidak akan marah”, hibur ayah.

***

Hari Minggu sore, Buyung duduk murung di depan jendela sambil mengamati beberapa mobil yang lalu lalang di depan rumahnya.  Sepanjang siang dia tidur-tiduran saja sampai merasa jenuh.  Ketika ayah dan ibu masuk ke kamar dan duduk di sebelahnya, Buyung cuma menoleh sebentar, lalu kembali mengamati jalanan.  Dia sama sekali tak mempedulikan ayah.  Pikirannya melayang, membayangkan teman-temannya yang sedang study tour ke Bandung.  Mungkin mereka sedang mengamati bintang-bintang melalui teleskop di observatorium.  Ah, mereka pasti sedang bersenang-senang.  Sementara aku cuma tidur di kamar seharian.  Makan nasi tim lembek dan minum obat pahit.  Hhh… menyebalkan!

Esok harinya sehabis sarapan ayah berkata, “Buyung!  Ayah mau ke Planetarium, nih”.

Buyung cuma menatap ayah sambil cemberut.  Di telinganya, kata-kata ayah tidak lebih daripada sekedar ledekan.  Semua orang boleh bersenang-senang.  Sementara aku dikurung di kamar, padahal kini ia sudah merasa sehat.  Buyung makin merasa kesal.

“Buyung kan sudah sembuh, mau ikut tidak?” tanya Ibu.

“Benar bih Yah?” akhirnya Buyung berkata dengan senang.

“Iya, supaya kamu tetap bisa membuat laporan soal matahari, bintang, dan bulan”, tambar Ibu.

Buyung tersenyum gembira.  Ayah dan ibuku memang sangat baik, batinnya.

***

Hari Rabu pagi, anak-anak menyerahkan tugas mengarang tentang benda-benda langit yang mereka lihat di observatorium.  Buyung tampak ikut menyerahkan tugasnya.  Pak Fuad tampak keheranan.  Sebab ibu Buyung sudah menelponnya, mengabarkan Buyung sakit sehingga tidak bisa ikut study tour.

“Kemarin saya pergi dengan Ayah ke planetarium, Pak” jelas Buyung, menyadari keheranan Pak Fuad.  Pak Fuad senang mengetahui kegigihan Buyung.

Sore itu, dengan bangga Buyung memamerkan tugas mengarangnya yang diberi nilai 9 oleh Pak Fuad.  Ibu dan Ayah membacanya bergantian.

“Kamu memang pintar, Nak!” puji Ibu.  Sementara ayah mengacak rambut Buyung dengan penuh sayang.  Buyung tertawa, dia berdiri penuh rasa bangga di depan kedua orang tuanya.  Dia merasa puas sekali.  Malamnya setelah sholat Isya, Buyung berdoa khusus untuk ayah dan ibunya.  “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.  Kau berikan untukku ayah dan ibu yang sangat baik.  Kalau bukan karena bantuan mereka, Buyung mungkin tidak bisa dapat nilai sebagus ini.  Dan mungkin Buyung juga tidak belajar banyak tentang bulan dan bintang ciptaan-Mu…”

..

 

AKU, TAS SEKOLAH ALIF

Karya : Mulyati M Yasin; Dikutip dari : UMMI Nomor 8/XV Januari – Februari 2004 M / 1424 H

.

“Umi…!  Belikan tas baruuuu…!” Alif berteriak di depan pintu.

Brak…!  “Auw…!” Aku menjerit kesakitan karena dibanting Alif ke kursi tamu.

“Kenapa tidak memberi salam dulu, Alif?” sapa Umi dengan lembut.

Alif tidak menjawab sapaan Umi, ia malah menarik-narik taliku dengan kasar.  Alif tak mengerti, padahal aku sudah capek membawakan buku-bukunya yang begitu banyak, apalagi tadi aku dibantingnya membuat badanku semakin sakit semua, aku ingin sekali istirahat.

“Alif minta dibelikan tas baru, Umi”, rengek Alif.

Umi menatap alif dengan lembut.  Lalu menatapku sambil mengucsap-usap badanku, duh… rasanya capekku hilang seketika, coba Alif yang mengusap-usapku, aku akan semakin sayang padanya.

“Bukankah Umi baru membelikan tas ini beberapa bulan yang lalu, kelihatannya masih bagus”, tutur Umi masih dengan suaranya yang lembut.

“Yudi juga tasnya masih bagus, Mi.  Tapi dia sudah dibelikan lagi tas yang baru oleh uminya, Alif juga sudah bosan dengan tas yang ini, Alif minta yang baru, Umi…!” Alif merajuk pada uminya sambil tangannya menarikku, lalu melemparkannya ke lantai.

“Aduh…!”  Jeritku keras, badanku ringsek semua karena tertindih buku-buku yang ada dalam perutku.  “Oh… Alif… Alif!”

Tapi… tapi siapa yang mau mendengar jeritanku.  Aku kan hanya sebuah benda yang bernama tas sekolah.  Aku hanya disayang, diperhatikan ketika aku masih baru, masih belum kotor.  Padahal jasaku banyak pada Alif.  Sejak aku dibeli dari toko, sejak itu aku selalu membantu Alif, membawakan buku-buku dan peralatan sekolahnya, juga membawakan makanan dan minumannya, semua dimasukan dalam perutku, lalu ditaruhnya di punggung Alif, taliku berpegang kuat pada pundak Alif, lalu Alif melangkah pergi atau pulang sekolah dengan santai.  Tiap hari aku menemani Alif dengan setia.  Aku tak pernah mengeluh, walau Alif terkadang melemparku bagitu sajaa di bangku sekolah karena ingin cepat-cepat bermain dengan teman-temannya di halaman sekolah.  Padahal Alif itu sudah kelas tiga, tetapi ia tidak pernah mau mengerti bahwa aku banyak membantunya, memang sejak aku terlihat kotor Alif tak menyayangiku lagi, Alif malas untuk memandikanku, bahkan aku sering disia-siakan Alif.  Apalagi sekarang katanya ia sudah bosan denganku tas sekolahnya, ia ingin Umi membelikannya tas yang baru seperti tas baru Yudi, oh… Alif, kamu akan menyingkirkanku ya…?

Sudah dua hari, aku tergeletak di gudang.  Alif sudah punya tas sekolah baru, Umi terpaksa membelikannya karena Alif akan mogok belajar, tak akan ikut shalat lagi dengan ayahnya di masjid kalau tak segera dibelikan tas sekolah baru.  Lalu aku dibawa Umi Alif ke gudang, diletakkan bersama barang-barang lainnya yang sudah tidak terpakai lagi, tentu saja aku sedih… tapi siapa yang peduli padaku lagi, aku kan sudah jadi barang bekas yang jelek… euh… uh…!

“Tinaaa… sini…!” terdengar Umi Alif memanggil seseorang di luar gudang.

“Iya Bu…” jawab seorang anak, yang sepertinya aku kenal suaranya.  Umi membuka pintu gudang, lalu teranglah ruang gudang oleh cahaya matahari, hilang seketika pengapnya, dan aku bisa melihat siapa anak yang dipanggil Umi Alif itu, ia Tina anak yatim piatu tetangga Alif, ia anak yang baik, sopan, dan pintar kata Umi Alif.  Mau apa ya diajak masuk ke gudang yang pengap ini?

“Sini Tina, ini ada tas sekolah, sepertinya masih bagus dan kuat, apa Tina mau…?” tanya Umi dengan suara lembutnya.  Tina memandangiku malu-malu.

Tanpa suara Tina mengangguk senang.  Aku jadi ikut gembira, ternyata Umi akan memberikan aku pada Tina.  Daripada aku tergeletak di gudang lebih baik dipakai Tina, ia anak yang pintar dan tentu lebih menghargaiku nanti.

“Alif sudah punya yang baru, dan tas ini kalau dicuci lagi akan terlihat masih bagus, Tina suka?”  Umi mengusap-usap kepala Tina, aku jadi terharu.  Umi Alif sangat menyayangi anak yatim seperti Tina.

“Terima kasih atas pemberiannya, Ibu, saya suka sekali”, jawab Tina sopan.  Lalu didekapnya aku oleh Tina.  Aku tentu saja sangat gembira, berarti aku akan dipakai lagi walaupun bukan dengan Alif, pokoknya aku senang dapat membantu lagi membawakan buku-buku dan perlengkapan sekolah, apalagi sekarang yang memakaiku adalah Tina, anak yatim piatu yang baik dan pintar, aku jadi tambah dihargai, tambah bermanfaat, dan pasti Tina akan lebih memperhatikanku, menghargaiku.

“Ibu, saya pulang sekarang”, saya akan mencuci tas ini, biar besok sudah bisa saya pakai ke sekolah”, tutur Tina riang.

“Ya, baiklah Tina.  Semoga tas itu banyak manfaatnya, ya”, jawab Umi Alif tersenyum.

Tina berlari mendekapku, aku gembira mendapatkan kembali teman untuk kubantu membawakan buku-buku sekolah, selamat tinggal Alif…!

BUNDA SYUHADA

Beberapa hari ini Syuhada uring-uringan dan murung. Apabila dimintai tolong bundanya, ia malas melakukannya. Ketika Bunda hendak mengobrol dengan Syuhada, ia pura-pura sibuk atau menjauh dan masuk ke kamarnya. Bunda jadi sedih karena tidak tahu apa yang diinginkan Syuhada.

Suatu sore, Syuhada duduk di bangku taman dengan buku di tangannya. Diam-diam ia memperhatikan Bunda yang sedang menyiram bunga. Wajahnya berkerut-kerut di balik bukunya. Ia risau menatap Bunda, terutama menatap benda penyangga dari kayu yang menopang kaki kiri Bunda. Ya, kaki kiri Bunda memang lumpuh karena kena polio saat masih kecil. Kemana-mana Bunda harus menggunakan kruk untuk membantunya berjalan.

Itulah penyebab kerisauan Syuhada. Pada pembagian rapor besok. Bundalah yang akan mengambilnya. Sebelumnya, Ayah yang selalu mengambilkan rapornya. Namun karena ayahnya sedang dinas keluar kota, Bunda yang akan menggantikannya. Syuhada malu mengajak Bundanya yang cacat ke sekolahnya. Apa kata teman-temannya nanti. Padahal ia selalu membanggakan Bunda di hadapan teman-teman.

Sebenarnya Syuhada memang bangga dan sayang pada Bunda yang pintar membuat makanan untuk bekal sekolahnya. Teman-temannya sering memuji makanan buatan Bunda. Bunda juga selalu dapat menjelaskan dan mengajarkan soal-soal pelajaran sekolahnya, yang sulit sekalipun. Tak heran kalau Syuhada selalu jadi juara kelas. Pokoknya, Bunda hebat, kecuali … kakinya yang cacat.

Teman-teman Syuhada ingin sekali berkenalan dengan ibu yang dibanggakannya itu. Namun Syuhada selalu mencari beragam alasan agar mereka tidak bisa menemui Bunda.

“Hada, jam berapa Bunda harus mengambil rapormu besok?” tanya Bunda.

“Eh, eh, Bunda bilang apa?” Syuhada yang sedang melamun jadi tak menyimak pertanyaan Bunda.

“Nah, ketahuan nih, Hada melamun bukan membaca”, Bunda pun mengulang pertanyaannya kembali.

“Memangnya Bunda jadi mengambilnya? Bukan Ayah?” Syuhada balik bertanya.

Bunda menggeleng. “Ayah sangat sibuk di luar kota dan tidak bisa pulang untuk mengambil rapor Hada. Memangnya kenapa?”

“Eh …, nggak apa-apa kok. Jam sembilan kata Bu Guru”, jawab Syuhada seraya bangkit dari kursinya. Ia tidak mau Bunda bertanya lebih jauh.

***

Esoknya, Bunda menyiapkan sarapan dan bekal yang banyak untuk dibawa ke sekolah. Semalam, Anan dan Rasyid, teman-teman Syuhada menelpon Syuhada dan memintanya membawa bekal yang enak dan banyak. Mereka ingin orang tua mereka mencicipi bekal Syuhada yang enak-enak dan bervariasi.

“Kok, Hada belum siap? Nanti terlambat lho”.

“Bunda, Hada di rumah saja, ya. Nggak usah ikut ambil rapor di sekolah”.

“Lho kenapa?”

“Nggak ada apa-apa, kok, Bunda”.

“Kalau nggak ada apa-apa, kenapa Hada nggak mau ikut? Malu ya, takut rapornya ada merahnya?” tanya Bunda.

Syuhada menatap Bunda. Ia tidak tega menyakiti Bunda yang disayanginya itu bila ia terus terang. Akhirnya, Syuhada yang masih diam mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.

Bunda menatap punggung Syuhada dengan sedih. Ia tahu anaknya malu untuk mengenalkannya pada teman-temannya di sekolah.

***

Di dalam kendaraan menuju sekolah, wajah Syuhada tegang sekali. Pikiran-pikiran buruk melintas di kepalanya. Pasti teman-teman mengejeknya setelah melihat Bunda yang selalu dibanggakannya itu ternyata cacat.

Ketika sampai di gerbang sekolah SDIT Nurul Ihsan, Syuhada hampir saja tak mau turun. Namun, Bunda membujuknya. Di taman sekolah sudah banyak murid dan orang tuanya yang sedang menunggu acara pembagian rapor.

Syuhada dan Bunda, yang berjalan tertatih-tatih dengan kruknya, menuju taman itu. Syuhada hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatap teman-teman dan orang tuan mereka. Pasti mereka tengah memperhatikan ia dan Bunda.

“Assalamu’alaikum… Hada, ini bunda yang sering kamu ceritakan itu?” Rasyid menyapanya. Syuhada mengangguk.

“Tante, kenalkan ini ibunya Rasyid”.

Syuhada melirik Bunda dan ibunya Rasyid yang tengah berjabat tangan dan saling tersenyum.

Tak lama Anan, diikuti teman-temannya yang lain mengenalkan ibu mereka pada Bunda. Ternyata kehadiran Bunda disambut hangat. Tak ada yang mempermasalahkan kaki Bunda.

“Hada kamu bawa pesanan kita, nggak?” tanya Anan tiba-tiba.

Syuhada tersenyum dan mengambil kotak makanan besar yang disiapkan ibunya. Anan membuka dan membagi-bagikan isinya pada teman-teman yang lain. Suasana menjadi ribut karena mereka berteriak-teriak takut tidak kebagian.

“Resepnya apa sih, Bu? Kok, anak-anak kami jadi ogah makan bekalnya sendiri”.

“Iya Bu, bekal Jihad, anak saya sering masih utuh. Katanya sudah makan kue buatan Bunda Syuhada”.

Syuhada mendengar ucapan-ucapan para ibu tersebut. Hatinya mulai terbuka, meski Bunda cacat tapi banyak kelebihan yang dimiliki Bunda. Orang-orang pun tetap menghargainya. Syuhada merasa malu, karena telah berprasangka buruk bahwa orang akan mengejek Bunda. Juga merasa bersalah pada Bunda karena sempat merasa malu pada dirinya yang cacat.

Syuhada menarik Bunda sambil mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman kecil mendarat di pipi Bunda yang kaget. “Syuhada bangga pada Bunda”, bisiknya. Hatinya lega dan bahagia.

 

Karya : Erni Setyowati; Dikutip dari : Ummi No. 7/XVII November 2005 / 1426 H

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.