MENAIKKAN HARGA BBM = MENYENGSARAKAN RAKYAT

Sumber : Buletin Jumat AL-ISLAM; edisi : 598, 16 Maret 2012 H / 23 Rabiuts Tsani 1433 H
.

Menteri ESDM Jero Wacik di depan Raker Komisi VII DPR RI (Selasa, 6/3/2012), mewakili pemerintah menyodorkan opsi kenaikan BBM sebesar Rp. 1.500,- per liter menjadi Rp. 6.000,- per liter mulai April 2012.  Rencana kenaikan harga BBM itu juga sudah dimasukkan dalam RAPBN-P 2012 yang sudah diajukan kepada DPR.

Rencana itu menuai banyak penolakan dari hampir semua kalangan masyarakat.  Bahkan menurut hasil survey LSI dengan responden dari seluruh propinsi di Indonesia, 86% masyarakat menolak kenaikan harga BBM.  Tapi rupanya pemerintah sudah tipis nuraninya (atau mungkin tidak punya lagi) sehingga tetap ngotot mengajukan rencana kenaikan BBM untuk disetujui DPR.  Jika DPR juga menyetujuinya, lengkap sudah kenyataan pahit negeri ini dimana pemerintah dan wakil rakyatnya telah kehilangan nurani, tidak mau repot dan lebih memilih kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.  Mungkin jika tetap ngotot menaikkan BBM, kiranya pantas dikatakan bahwa pemerintah telah bohong, khiana, dan zalim terhadap rakyatnya sendiri.

DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM

Menurut kajian pemerintah, jika harga BBM naik Rp. 1.500,- per liter, inflasi diperkirakan bertambah 2,15%.  Penghematan yang diperoleh pemerintah mencapai Rp. 31,58 triliyun.  Jumlah penduduk miskin naik sekitar 0,98% dan daya beli masyarakat hanya menurun 2,1%.  Pemerintah yakin har-harga nantinya masih bisa dikontrol dan harga pangan tidak akan melonjak.  Hitung-hitungan di atas kertas itu memberi kesan, begitu sederhananya imbas/dampak kenaikan harga BBM di mata pemerintah.  Seolah-olah nasib rakyat kecil di mata pemerintah begitu remeh.

Bisa dipastikan, kenaikan harga BBM akan makin menyengsarakan rakyat.  Pemerintah sadar dan tahu akan hal itu, tapi tetap ngotot ingin menaikkan harga BBM.  Berbagai dampak langsung dan tak langsung akan diderita oleh rakyat.  Ibaratnya, akibat kenaikan BBM, rakyat dipukuli dari kiri, kanan, depan, dan belakang.  Wajar jika nanti banyak rakyat yang KO, pingsan karenanya.

Dampak pertama yang langsung dirasakan masyarakat adalah naiknya harga-harga barang terutama kebutuhan pokok.  Bahkan dampak itu sudah terjadi saat ini ketika harga BBM belum naik.  Koar-koar pemerintah yang akan menaikkan harga BBM telah mendorong harga berbagai bahan kebutuhan naik.  Seperti yang diberitakan Kompas (13/3) harga-harga kebutuhan pokok di berbagai daerah mengalami kenaikan seperti di Magelang Jawa Tengah, Mojokerto Jawa Timur, Kediri Jawa Timur, Manokwari Papua, Padang, dan daerah lainnya.  Kenaikan harga bahan sembako sekitar Rp. 500 – Rp. 1.000 per kilogram, bahkan beberapa barang naik beberapa ribu rupiah per kilogram.  Kenaikan harga-harga saat ini saja sudah sangat dirasakan memberatkan masyarakat.  Jika nanti harga BBM naik, bukan tidak mungkin harga-harga barang itu akan naik lagi.  Artinya, dampak kenaikan harga BBM kenaikan harga-harga barang akan menjadi dua kali, sebelum dan sesudah harga BBM naik.  Tentu hal itu akan menambah beban pikiran dan psikis bagi masyarakat.  Bukan tidak mungkin, dampak lanjutannya akan makin banyak orang yang mengalami depresi dan gangguan jiwa.

Dampak pasti kenaikan harga BBM lainnya adalah naiknya ongkos transportasi dan distribusi barang dan jasa.  Menurut Ketua Umum Organda, Eka Sari Lorena Soerbakti, pengeluaran untuk membeli BBM memakan porsi 30 – 40 persen dari biaya operasional angkutan umum.  Jika harga BBM naik Rp. 1.500,- per liter, diperkirakan pengeluaran untuk BBM akan bertambah sekitar 15 – 17 persen.  Beban itu bertambah dengan tingginya biaya perawatan dan pemeliharaan akibat buruknya infrastruktur.  Harga suku cadang yang sudah tinggi saat ini bisa dipastikan akan naik lagi seiring dengan naiknya harga BBM itu.  Dan semua faktor itu, menurut perkiraan Soerbakti, tarif angkutan umum akan naik 30 – 35 persen dari tarif saat ini.

Naiknya ongkos angkutan umum itu bukan hanya memukul pengguna angkutan umum, tetapi juga akan memukul para sopir angkot.  Sebab dengan naiknya ongkos, masyarakat akan mengurangi untuk bepergian.  Tidak sedikit yang akan memilih menggunakan sepeda motor.  Artinya penumpang akan makin sedikit dan buntutnya pendapatan para sopir dan penyedia jasa angkutan juga terancam.

Kenaikan harga BBM otomatis akan meningkatkan laju inflasi.  Dalam hitungan pemerintah menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Armida, kenaikan harga BBM akan membuat laju inflasi menjadi 7% atau naik dari asumsi sebelumnya yaitu 5,3%.  Kenaikan inflasi itu akan menyebabkan angka kemiskinan naik menjadi sekitar 11,93% – 12,08%.  Kenyataannya nanti biasanya lebih besar dari angka-angka prediksi pemerintah itu.

Sekjen Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS), Said Iqbal, mencatat, kenaikan BBM sebesar 28,75% di tahun 2008 mengakibatkan inflasi naik menjadi 11,01% (RMOL, 5/3).  Maka rencana kenaikan harga BBM sebesar 33,3% nanti dimungkinkan bisa menyebabkan inflasi lebih dari 11%.

Dengan semua itu, otomastis daya beli masyarakat akan turun dan hampir dipastikan jumlah orang miskin akan meningkat.  Pengalaman tahun 2005, dampak kenaikan BBM jumlah orang miskin melonjak menjadi 16% meski saat itu ada program BLT.  Fakta tahun 2005 itu bisa terulang pada tahun 2012 ini.  HS Dillon, utusan khusus Presiden untuk penanggulangan kemiskinan, memperkirakan jumlah orang miskin akan bertambah 1,5% dari jumlah penduduk atau bertambah 3,5 juta orang (tempo.com, 7/3).  Bahkan sebagian pihak memperkirakan jumlah orang miskin akan bertambah jauh lebih banyak dari angka itu.  Di samping itu, akibat menurunnya daya beli dan naiknya harga pangan, pemenuhan gizi masyarakat pun akan menurun.  Akibatnya, jumlah anak gizi akan makin banyak.

Kenaikan harga BBM juga akan menambah jumlah anak putus sekolah.  Data tahun 2011, ada 10,268 juta siswa usia wajib belajar (SD dan SMP) yang putus sekolah.  Selain ada sekitar 3,8 juta siswa yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat SMA.  Berdasarkan pengalaman tahun 2010 akibat kemiskinan yang menimpa masyarakat terjadi lonjakan angka putus sekolah sebesar 30%.  Karenya, hampir bisa dipastikan akibat kenaikan harga BBM angka putus sekolah semakin tinggi.  Hal itu sama saja makin banyak rakyat bawah yang tidak punya kesempatan memperbaiki taraf hidupnya dan terpaksa terjerat dalam siklus kemiskinan dan kebodohan.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga berdampak pada para pelaku usaha.  UKM yang selama ini sudah tumbuh menjadi 50 juta dan menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat akan sangat terpengaruh.  Bukan mustahil dampak kenaikan BBM akan banyak UKM yang gulung tikar.

Semua beban kenaikan harga BBM itu akan makin besar dengan rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik per 1 Mei 2012.  Makin lengkaplah penderitaan yang akan diderita oleh rakyat.

HARGA BBM NAIK DEMI SIAPA?

Jika harga BBM naik Rp. 1.500,- per liter, menurut Wamen ESDM pemerintah akan menghemat hingga Rp. 31,5 triliyun (sindonews, 02/03/2012).  Di sisi lain, pemerintah tahu dan sadar, kenaikan harga BBM akan menyusahkan rakyat.  Karena itu menurut Menko Kesra, Agung Laksono, menyiapkan anggaran sebesar Rp. 30 triliyun bagi program kompensasi (bisnis.com, 29/2).  Bentuknya berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), sebesar 150 ribu per rumah tangga sasaran per bulan selama 9 bulan, beasiswa siswa miskin (BSM), beras bagi masyarakat miskin (raskin) selama 14 bulan, dan kupon transportasi.

Bisa dilihat, jumlah yang dihemat sebanding dengan biaya kompensasi.  Lalu untuk apa pemerintah repot-repot menaikkan harga BBM?  Apalagi harus diingat, kompensasi itu hanya sementara dan tidak semua masyarakat yang terkena dampak kenaikan harga BBM mendapat kompensasi.  Sementara, dampak buruk kenaikan harga BBM bersifat permanen dan terus berlanjut mendera seluruh masyarakat.  Jika pemerintah sudah tahu dan sadar kebijakan itu akan menyusahkan masyarakat, dan jumlah yang bisa dihemat pun habis untuk kompensasi, lalu sebenarnya untuk kepentingan siapa kebijakan kenaikan BBM itu?  Yang jelas, bukan demi rakyat sebab rakyat hampir dipastikan akan makin susah.

Saat harga BBM naik, selisihnya dengan harga BBM yang dijual SPBU swasta terutama asing tidak terlalu tinggi.  Dengan begitu, akan makin banyak pengguna kendaraan yang beralih membeli BBM di SPBU-SPBU asing itu.  Itu artinya, kenaikan harga BBM memperbesar pasar dan memperbanyak konsumen bagi SPBU-SPBU asing.  Di antara pihak yang langsung diuntungkan dari kenaikan harga BBM ada SPBU-SPBU asing.

WAHAI KAUM MUSLIMIN

Itulah akibat ideologi kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini.  Semua itu dilegalkan melalui liberalisasi migas yang dilegalkan melalui UU MIGAS No. 22 Tahun 2001.  Yang jelas diuntungkan adalah asing.  Sebaliknya yang jelas buntung adalah rakyat.

Pemerintah hendaknya takut akan tertimpa do’a Nabi saw. : “Ya Allah siapa saja mengurusi sesuatu dari urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka maka timpakan kesulitan padanya (balaslah dia)”.  (HR. Muslim).

Tidak ada jalan untuk menyudahi nestapa bagi umat ini, kecuali dengan menerapkan syariah Islam secara utuh dalam ningkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.  Maka wahai Kaum Muslimin mari segera kita wujudkan.
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. (QS. al-Anfal [8] : 24)

Wallah a’lam bi ash-shawab
L

HAJI DAN KEPEMIMPINAN ISLAM

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi : 432/Th. IX/1429 H

 

Pada bulan Dzulhijjah ini, umat Islam sedang melangsungkan perhelatan besar : ibadah haji.  Subhanallahi!  Dari seluruh penjuru dunia kaum Muslim berbondong-bondong datang ke Tanah Suci dengan berbagai latar belakang; ras, suku, bangsa, dan bahasa.  Namun, perbedaan itu mereka tanggalkan semuanya.  Yang ada adalah kesamaan iman dan Islam yang mengikat mereka untuk berada dalam satu tempat bersama-sama, demi mengerjakan semua perintar Allah SWT dengan penuh ketundukan dan ketulusan.  Pengorbanan waktu, tenaga, harta, dan pikiran mereka persembahkan hanya kepada Allah SWT.  Mereka senantiasa berharap, perniagaan mereka dengan Sang Rabbul ‘Izzati diterima dan dibeli dengan ridha dan surga-Nya.

Di tengah rasa bahagia menyaksikan perhelatan tersebut, ada rasa galau.  Apakah ibadah haji hari ini sama kondisinya dengan ibadah pada masa Rasulullah saw.?  Apakah umat Islam sekarang bisa menangkap esensi ibadah haji ini?  Bagaimana pula pengorbanan umat Islam saat ini — sebagai salah satu pesan dari ibadah kurban — untuk kemuliaan agamanya?

BERCERMIN PADA HAJI WADA’

Hari itu, hari Tarwiyah 10 H.  Saat itu Rasulullah saw. pergi ke Mina dan melaksanakan shalat dzuhur, ashar, isya, dan subuh di sana.  Seusai menanti beberapa saat hingga matahari terbut, Beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Arafah.  Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana.  Beliau pun masuk tenda yang telah disiapkan bagi Beliau.

Setelah matahari tergelincir, Rasulullah saw. meminta agar al-Qashwa’, unta Beliau, didatangkan.  Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah.  Di sana telah berkumpul sekitar 124.000 atau 144.000 kaum Muslim.  Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka seraya menyampaikan khutbah haji terakhir Beliau yang lebih dikenal dengan sebutan haji wada’.  Beliau antara lain bertutur :

Wahai manusia…

Sesungguhnya darah dan harta kalian terpelihara/haram atas diri kalian hingga kalian menjumpai Tuhan kalian, sebagaimana haramnya hari ini dan bulan ini.  Sesungguhnya kalian pasti akan menjumpai Tuhan kalian dan kalian akan ditanya tentang amal-amal kalian…

Sesungguhnya riba jahiliya dihapuskan seluruhnya.  Kalian hanya menerima pokok harta kalian; kalian tidak menzalimi dan tidak dizalimi…

Semua persoalan yang terjadi pada zaman Jahiliya yang selama itu masih di bawah telapak kakiku, mulai hari ini dihapuskan…

Sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang menjadikan kalian tidak akan sesat selamanya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…

Wahai manusia…

Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu.  Sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak.  Kalian semua dari Adam dan Adam dari tanah.  Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa… (HR. Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyyah)

Dari khutbah Nabi saw. di atas, ada beberapa pelajaran penting bagi umat Islam.  Pertama, umat Islam adalah umat yang mulia, yang tegak dan terikat oleh iman.  Inilah ikatan ideologi yang paling kokoh dan menjadikan umat Islam istimewa dan berbeda dengan umat lain.  Yang membedakan umat Islam dengan umat lainnya adalah ketaqwaan mereka sebagai pembuktian atas keimanan mereka kepada Allah SWT.

Kedua, umat ini sejak awal berdirinya di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. telah membuang sistem yang melahirkan derita dalam kehidupan ekonomi mereka : sistem ribawi!  Sistem ekonomi ribawi ini penuh dengan kezaliman dan manipulasi.  Karena itu, Islam telah mengubur sistem ekonomi ribawi ini sejak awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah.

Ketiga, Rasulullah saw. dengan jelas menggambarkan telah tumbangnya sistem jahiliyah yang rendah dan sangat tidak berharga denngan bahasa majaz Beliau (perkara yang ada di bawah telapak kaki).  Ini adalah gambaran tentang tegaknya kepemimpinan Islam atas semua yang berbau Jahiliyah.  Pemimpinnya adalah Rasulullah saw.  Sistem dan hukum-hukum yang tegak di dalam masyarakatnya adalah sistem dan hukum Islam.

Keempat, keistiqamahan dalam memegang teguh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah adalah pangkal keselamatan dunia dan akhirat sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam QS. Thaha [20] : 123 – 124, Allah berfirman :

“Turunlah kamu berdua dari syurga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain.  Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut pentunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.  Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha [20] : 123 – 124).

BAGAIMANA UMAT ISLAM HARI INI?

Setiap tahun di bulan Dzulhijjah, lautan manusia berkumpul di Padang Arafah.  Mereka datang dari berbagai negeri yang tercerai berai dengan pemimpin mereka masing-masing.  Mereka sudah lama tidak berada dalam satu kepemimpinan yang utuh sebagaimana kaum Muslim saat masih berada dalam kepemimpinan Rasulullah saw. dan para khalifah setelah beliau.  Mereka tidak lagi berada dalam satu kesatuan jamaah kaum Muslim (jama’ah al Muslimin) secara hakiki sebagaimana kaum Muslim saat berada dalam naungan Daulah Islam masa Rasulullah saw. dan pada kekhalifahan setelahnya.  Mereka dicengkeram ‘ashabiyah sempit.  Mereka berkubang dalam sistem jahiliyah modern : nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state).

Aneh memang, umat Islam saat ini bisa bersatu dalam ibadah mahdhah, yakni ibadah haji.  Mereka mengarah ke kiblat yang satu dan berada di tempat ibadah yang sama.  Namun, mereka begitu saja abai terhadap kewajiban mereka untuk berada dalam kepemimpinan yang juga satu.

Mereka juga tenggelam dalam kubangan sekularisme di negeri mereka.  Mereka senantiasa memisahkan urusan ibadah ritual dengan aspek kehidupan lainnya.  Mereka menganggap seolah-olah kewajiban untuk tunduk dan patuh pada perintah Rabbul ‘Izzati hanya dalam ranah ibadah ritual seperti shalat, haji, berkurban, dan semisalnya.  Sebaliknya, di luar itu — seperti kewajiban mereka untuk berada dalam satu kepemimpinan Islam (khalifah) dan keharusan mereka untuk membuang sikap ‘ashabiyah yang sempit — seolah tidak pernah diwajibkan oleh Allah dan tidak pernah tertuang dalam lembaran wahyu (Al Qur’an dan As Sunnah)

Saat ini dunia, termasuk Dunia Islam, sedang dilanda krisis keuangan global yang cukup parah.  Pangkal utamanya tidak lain adalah ekonomi ribawi yang menjadi pilar sistem ekonomi kapitalis saat ini, yang sayangnya justru diterapkan pula di negeri-negeri Muslim.  Padahal bukankah sistem ribawi, sebagaimana pernah Rasulullah saw. khutbahkan saat Haji Wada’, sudah beliau campakkan sejak empat belas abad lalu?  Lalu mengapa umat Islam mengadopsinya kembali dan seperti belum mau melepaskannya?  Padahal sistem ekonomi berbasis riba inilah yang selama ini telah berkali-kali menggelincirkan umat ke dalam jurang penderitaan dan kemiskinan.

Sungguh bertolak belakang ibadah haji saat ini dengan ibadah haji pada masa Rasulullah saw.  Dulu Rasulullah saw. dan kaum Muslim menunaikan ibadah haji dalam naungan sistem Islam, dalam Daulah Islam, dan dalam satu kepemimpinan Islam.  Saat itu sistem sistem jahiliyah terkubur secara keseluruhan.  Sebaliknya, selama puluhan tahun sejak runtuhnya Kekhalifahan Islam hingga saat ini, kaum Muslim menunaikan ibadah haji dalam kubangan sistem jahiliyah modern, yakni sistem sekular, dan berada di bawah kepemimpinan yang terkotak-kotak dengan nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state)-nya masing-masing.

Hari ini ideologi Islam tidak tegak di tengah-tengah umat Islam sebagaimana pada masa Rasulullah saw.  Hari ini tidak ada satu pun negara yang menerapkan sekaligus mengemban Islam sebagai ideologi sebagaimana pada masa Nabi saw.  Sistem jahiliyah yang berada di telapak kaki Rasulullah saw. dan sudah dihapus oleh beliau sejak pertama kali beliau membangun Daulah Islam di Madinah justru sekarang hadir kembali bahkan mencengkeram umat Islam.

ISLAM MEMBUTUHKAN PENGORBANAN KITA

Terkait dengan pengorbanan, Al Qur’an telah mengabadikan kisah dahsyat Nabiyullah Ibrahim as.  Beliau adalah manusia yang menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba berikut kewajiban-kewajibannya sekaligus menyadari siapa Tuhannya berikut hak-hak-Nya.  Kecintaan Ibrahim as. kepada Tuhannya sampai pada tingkatan mutlak.  Baginya, Allah SWT adalah segalanya.  Karena itulah, demi kecintaan atas Tuhannya, Ibrahim as. tidak pernah merasa berat hati meski Allah SWT memintanya untuk mengorbankan putranya, Ismail as., yang puluhan tahun ia nantikan kehadirannya.  Demikianlah Ibrahim as. dengan ringan tanpa beban ‘menyembelih’ ego dan keakuannya, serta dengan tulus-ikhlas mengorbankan rasa cinta kepada kepada putranya demi mendahulukan rasa cinta kepada Tuhannya.  Demikian besar cintanya kepada Allah sehingga melebihi kecintaan kepada selain-Nya, pantaslah jika Ibrahim as. digelari sebagai khalilullah (kekasih Allah).

Sikap dan pengorbanan Ibrahim as. ini diteladani secara sempurna, bahkan dengan kadar yang istimewa oleh Baginda Rasulullah saw.  Bukan hanya waktu, tenaga, harta, dan keluarga yang Rasulullah saw. korbankan.  Nyawa pun beliau pertaruhkan demi tegaknya Islam dan kemuliaan kaum Muslim (‘izzatul Islam wal Muslimin).  Sikap dan pengorbanan Rasulullah dan generasi setelah mereka di masa kekhalifahan setelahnya ketika mereka mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia.

Inilah esensi ibadah haji dan ibadah kurban pada bulan Dzulhijjah ini.  Kita diajari nilai ketundukan dan kepatuhan total sebagai wujud keimanan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.  Kita pun diajari kaharusan untuk mengorbankan segala yang ada pada diri kita, yang sesungguhnya bukan milik kita, tetapi milik Sang Pemilik Sejati, Allah SWT.  Tentu apa yang kita korbankan layak mendapatkan balasan dari Allah SWT :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan syurga untuk mereka”. (QS. At Taubah [9] : 11).

WAHAI KAUM MUSLIM…

Sesungguhnya umat ini akan hidup mulia dan meraih kemuliaan hanya dengan Islam.  Menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara adalah kewajiban hamba yang beriman.  Ini suatu keniscayaan dan tentu membutuhkan pengorbanan.  Meruntuhkan dan mengubur sistem selain Islam adalah tantangan sekaligus kewajiban kita.  Saatnya umat Islam hidup merdeka; menghamba hanya kepada Tuhan yang menciptakan hamba, bukan kepada sesama hamba.  Saatnya umat meninggalkan derita di bawah  ‘ideologi setan’ (Kapitalisme maupun Sosialisme).  Saatnya menegakkan kembali kepemimpinan Islam di bawah naungan Khilafah ala Minhaj an Nubuwwah.

 .

 

KECELAKAAN KERETA API TERUS TERJADI, PENGUASA TETAP TAK PEDULI

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi : 525/Th. XI/1431 H

 

 

Belum genap sepekan peringatan Hari Jadi Kereta Api pada 28 September 2010 lalu, dua kecelakaan fatal terjadi dan merenggut 35 nyawa.  Satu kecelakaan kereta api terjadi di Stasiun Petarukan, Pemalang, yakni KA Argo Bromo Anggrek menabrak KA Senja UTama.  Kecelakaan lain terjadi di Stasiun Purwosari, Solo.  Pada kecelakaan tersebut KA Bima menyenggol bagian belakang KA Gaya Baru.  Dugaan sementara, kecelakaan di Petarukan adalah faktor human error, yakni kelalaian masinis (Republika, 5/10).

Boleh jadi, memamng ada faktor kesalahan manusia (human error) dalam kecelakaan kereta api tersebut.  Namun, harus diakui, kecelakaan kereta api tidak hanya terjadi tempo hari.  Tragedi kecelakaan kereta api di negeri ini seolah menjadi peristiwa rutin pada semua rezim di negeri ini.

Paling tidak, dalam rentang lima tahun (2004 – 2008) saja sudah terjadi ratusan kali kecelakaan kereta api.  Rinciannya, 2004 : 128 kecelekaan; 2005 : 91 kecelakaan; 2006 : 102 kecelakaan; 2007 : 140 kecelakaan; 2008 : 117 kecelakaan.  Ratusan kasus kecelakaan tersebut terjadi dalam bentuk : tabrakan antar kereta api (28 kasus); tabrakan kereta api dengan kendaraan bermotor (108 kasus); kereta api anjlog (442 kasus).  Selama lima tahun ini saja, kecelakaan kereta api telah menelan korban meninggal, luka berat, dan luka ringan sebanyak total 1.221 orang.  Adapun penyebab kecelakaan adalah karena : faktor alam (4%); faktor sarana (23%); faktor prasarana (8%); faktor SDM operator (35%); dan faktor eksternal (20%) (Perkeretapian.dephub.go.id, update : 23/1/2009)

Di tahun 2010 ini, menurut Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Hermanto Dwi Atmanto dua bulan lalu (6/8), hingga akhir juli 2010 sudah terjadi 32 kecelakaan kereta api.  Sebelumnya, tahun 2009, terjadi 90 kasus kecelakaan kereta api (Berdikarionline.com, 4/1/2010).

Dengan melihat data-data kecelakaan di atas, jelas bahwa transportasi rakyat yang satu ini masih menjadi “mesin pembunuh”.  Dari data-data di atas juga terbukti, bahwa Pemerintah benar-benar alpa memperhatikan transportasi yang aman bagi warga negaranya.

Padahal kereta api adalah salah satu jenis transportasi darat yang sangat “digemari” masyarakt.  Pada tahun 1999 saja, penumpang berjumlah 186.469.269 orang (Kereta-api.com).  Boleh dikatakan, kereta api selama puluhan tahun menjadi salah satu alat transportasi “favorit” rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah.  Namun, hal itu semata-mata karena kereta api masih dianggap sebagai alat transportasi yang “murah”, bukan karena masyarakat merasa aman dan nyaman memakai jasa kereta api.  Sebab, jika dilihat dari faktor keamanan, angka-angka kecelakaan di atas jelas menunjukkan bahwa kereta api adaah salah satu alat transportasi yang bisa merupakan “ancaman mengerikan”.  Ada pun dilihat dari faktor kenyamanan, di Jabodetabek, misalnya di gerbong kereta api eksekutif pun (KA Parahyangan) penumpang sering tidak kebagian tempat duduk; bahkan untuk sekedar duduk di lantai gerbong pun sering susah.  Kebanyakan akhirnya berdiri berhimpitan, rata-rata lebih dari satu jam.

Di kelas ekonomi AC atau ekonomi keadaannya tentu lebih parah lagi.  Penumpang dari kalangan masyarakat miskin diperlakukan seperti tumpukan barang/binatang dan itu dianggap biasa.  Para lansia, ibu hamil, orang cacat, dan balita pun diperlakukan sama; tak ada perlakuan khusus.  Di kereta ekonomi pula, WC pun sering terpaksa menjadi tempat tidur bagi mereka.  Penderitaan mereka seperti ini, mereka alami setiap hari.  Ironisnya, penderitaan semacam ini belum berakhir.  Sebab sewaktu-waktu bisa saja mereka menjadi korban pelecehan seksual, aksi pencopetan, dan lain-lain; sebagaimana sering terjadi.

PEMERINTAH TAK PEDULI !

Fakta-fakta di atas hanyalah akibat.  Sebabnya tak lain karena Pemerintah selama ini tidak mempedulikan nasib rakyat, termasuk untuk hal yang amat vital bagi mereka, yakni alat transportasi.  Ketidakpedulian Pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya dalam hal transportasi yang murah, aman, dan nyaman terlihat dari data-data berikut.

Pada 1939, panjang rel seluruh kereta api di Indonesia mencapai 6.811 kilometer.  Idealnya, seiring pertambahan penduduk dan bertambah luas dan jauhnya areal tempat tinggal mereka, rel tersebut makin bertambah.  Faktanya, pada tahun 2000, berarti dalam kurun waktu sekitar 60 tahun, rel yang merupakan warisa Belanda itu susut menjadi 4.030 km, atau turun 41%.  Kondisi sarana pendukungnya, seperti jumlah stasiun kereta api, juga sama.  Pada 1955, jumlah stasiun kereta api mencapai 1.516 buah.  Dalam kurun waktu 50 tahun, jumlah tersebut merosot 62% menjadi tinggal 571 stasiun.  Selain susut, infrastruktur kereta api itu juga sering dibiarkan tak terawat.  Panjang rel yang sudah aus dan cacat di Jawa dan Sumatera misalnya, mencapai 540 kilometer dan belum diganti.  Kondisi lokomotif yang dioperasikan pun sangat memprihatinkan.  Dari 341 unit lokomotif yang ada pada tahun 2008, hampir seluruhnya (82%) sudah tua dengan umur antara 16 – 30 tahun.  Padahal di negara maju, seperti Jepang dan negara-negara Eropa, umur ekonomis kereta api guna menjamin keselamatan penumpang maksimal adalah 5 – 10 tahun, setelah itu diganti dengan sarana yang sama sekali baru.  Di Indonesia hal itu tidak terjadi (Media Indonesia, 4/10/2010)

Lagi-lagi, faktor anggaran yang minim menjadi satu-satunya alasan pemerintah.  Padahal anggaran revitalisasi kereta api untuk lima tahun ke depan (2010 – 2015) yang diusulkan hanya sebesar Rp. 20 triliun.  Pemerintah tentu bisa segera merealisasikannya.  Anggaran Rp. 20 triliun selama lima tahun itu tentu sangat kecil.  Pasalnya, dalam APBN 2010, anggaran Perjalanan Dinas Pejabat Pemerintah dan Anggota DPR saja selama setahun mencapai Rp. 19,5 triliun (Suara Merdeka, 20/9).  Artinya, anggaran “plesiran” pejabat Pemerintah dan Anggota DPR 5 kali lipat lebih besar daripada anggaran untuk perbaikan sistem perkeretaapian yang notabene menyangkut kebutuhan jutaan rakyat.  Sungguh ironis!  Mengapa?  Karena selama ini lebih dari 70% APBN negeri ini dibiayai dari pajak (JPNN.cm, 24/3/2010) yang berarti sebagian besarnya dibiayai oleh rakyat.  Kenyataannya, uang rakyat itu banyak “dimakan” para pejabat dan anggota DPR.  Untuk rakyat sendiri, cukup “recehan”-nya saja.  Semua ini makin menegaskan satu hal : Pemerintah/DPR sesungguhnya tidak pernah peduli terhadap rakyat.  Mereka hanya peduli terhadap diri sendiri!

HARUS BERTANGGUNG JAWAB

Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam shalat tahajudnya sering membaca ayat berikut :

(Kepada para malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang dzalim beserta teman sejawat mereka dan sembah-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah.  Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.  Tanahlah mereka di tempat perhentian karena sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban”. (QS. Ash-Shaffat [37] : 22 – 24).

Beliau mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena merenungi besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di akhirat bila melakukan kedzaliman.

Dalam riwayat lain, karena begitu khawatinya atas pertanggungjawaban di akhirat sebagai pemimpin, Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata dengan kata-katanya yang terkenal, “Sesungguhnya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah SWT, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’”.

Itulah dua dari ribuan contoh yang pernah dilukiskan para salafus-shalih tentang tanggung jawab pemimpin di hadapan Allah kelak.  Tidak lain karena para pemimpin dulu, yakni para khilafah kaum Muslimin sepanjang Kekhilafahan Islam selama berabad-abad, memahami benar sabda Baginda Rasulullah saw. :

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”. (HR. Ibn Majah dan Abu Nu’aim).

Mereka juga amat memahami sabda Rasul saw. yang lain :

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus”. (HR. al-Bukhari).

KHILAFAH : PELAYAN TERBAIK

Sejarah Islam yang otentik sesungguhnya banyak mencatat fakta betapa Khilafah adalah pelayan rakyat terbaik sepanjang sejarahnya.  Contoh kecil, selama masa Khilafah Umayah dan Abbasiyah, di sepanjang rute pada pelancong dari Irak dan negeri-negeri Syam (sekarang Suriah, Yordania, Libanon, dan Palestina) telah dibangun banyak pondokan gratis yang dilengkapi dengan persediaan air, makanan, dan tempat tinggal sehari-hari untuk mempermudah perjalanan bagi mereka.  Sisa-sisa fasilitas ini dapat dilihat pada hari ini di negeri-negeri Syam.

Khilafah Utsmaniyah juga melakukan kewajiban ini.  Dalam hal kemudahan alat transportasi untuk rakyat, khususnya para peziarah ke Makkah, Khilafah membangun jalan kereta Istanbul – Madinah yang dikenal dengan nama “Hijaz” pada masa Sultan Abdul Hamid II.  Khilafah Utsmani pun menawarkan jasa transportasi kepada orang-orang secara gratis (Khilafah.com).  Bukan hanya manusia yang dilayani, hewan-hewan pun mendapatkan perlakuan yang baik, dilindungi oleh para khalifah.  Ibn Rusyd al-Qurthubi meriwayatkan dari Malik bahwa Khalifah Umar ra. pernah melewati seekor keledai yang dibebani dengan tumpukan batu.  Menyaksikan penderitaan hewan itu, Khalifah Umar ra. segera membuang sebagian tumpukan batu daru punggung hewan itu.  Pemilik keledai itu, seorang wanita tua, datang kepada Khalifah Umar ra. dan berkata, “Wahai Umar, apa yang engkau lakukan dengan keledaiku?  Memangnya engkau memiliki hak untuk melakukan apa yang engkau lakukan?”  Khalifah Umar ra. mengatakan, “Menurutmu, memangnya apa yang membuatku mau mengisi jabatan ini (khalifah)?”  Yang dimaksud oleh Umar ra., sebagai khalifah, ia bertanggung jawab atas semua hukum Islam, yang meliputi pula tindakan yang disebutkan oleh hadits Rasulullah saw., “Berhati-hatilah untuk tidak membebani punggung hewan”. (HR. Abu Dawud).

Bandingkan dengan para pemimpin negeri ini.  Betapa pun jutaan rakyat tersiksa setiap hari di gerbong-gerbong kereta api — berdesak-desakan, berhimpitan, dan bergelantungan seraya setiap saat terancam jiwanya — para penguasa negeri ini seolah tak peduli, bahkan saat banyak rakyat terenggut nyawanya karena kecelakaan kereta api.

Para penguasa seperti ini patutlah merenungkan sabda Baginda Rasulullah saw., “Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati), dan akhirnya adalah azab pada Hari Kiamat”. (HR. Ath-Thabrani)

Wallahu a’lam bi ash-shawab

.

 

NEGARA ISLAM : AGENDA TERORIS?

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 524/Th. XI/1431 H


Dalam jumpa pers di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (24/9) Kapolri Jenderal (Pol.) Bambang Hendarso Danuri menyatakan, “Aksi teroris yang dilakukan sejak tahun 2000 hingga kasus terakhir penembakan tiga polisi di Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut, tahun 2010 memiliki target mengambil alih kekuasaan negara untuk menegakkan Negara Islam (Daulah Islam)” (Kompas, 24/9)

Inilah yang kemudian menjadi alasan dan pembenaran atas tindakan aparat Densus 88 yang membabi-buta terhadap orang-orang yang disangka pelaku tindak pidana terorisme.  Terakhir, bagaimana Densus 88 secara arogan dan kasar menginjak-injak tubuh Khairil Ghazali yang sedang menunaikan shalat maghrib saat Densus yang berjumlah sekitar 30 orang dan bersenjata lengkap menyerbu dan mendobrak rumahnya.  Padahal, setidaknya menurut pengakuan keluarganya, tidak mungkin Ghazali terlibat kasus terorisme (Hidayatullah.com, 28/9).

Sebelum ini, selama kurun waktu 2000-2010 saja, sebanyak 44 orang yang disangka teroris tewas ditembak aparat.  Menurut mantan Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi, cara penanganan terorisme ini cenderung meniru cara Amerika Serikat pada masa kepemimpinan George W Bush, yakni preemptive (tangkap/tembak dulu, urusan belakangan, red.) (Antara, 28/9)

NEGARA ISLAM : AGENDA TERORIS?

Umat Islam di Indonesia tidak kali ini saja mendengar “narasi” (cerita) yang disampaikan aparat kepolisian dan pihak terkait, bahwa agenda para teroris adalah mendirikan Negara Islam dan menegakkan syariah Islam.  Kasus perampokan Bank CIMB, Sumut, misalnya dianggap sebagai bagian dari rentetan dari agenda teroris untuk mengambil alih kekuasaan untuk mendirikan Negara Islam (Daulah Islam).  Betulkah?

Untuk menguji kebenaran “narasi” (cerita) atau dugaan di atas, tentu perlu diajukan beberapa pertanyaan. Pertama : Benarkah perampokan oleh “para teroris” itu sama dengan mengambil harta fa’i? Kedua : Bisakah mendirikan Negara Islam ditempuh dengan cara melakukan tindakan teror? Ketiga : Mengapa aparat terkesan memaksakan wacana “Negara Islam” sebagai agenda para teroris, kemudian dibangun opini sedemikian rupa tentang bahaya Negara Islam?

BUKAN HARTA FA’I

Tidak dipungkiri, di tengah-tengah kaum Muslim ada pemahaman agama yang keliru.  Dalam kasus fa’i (harta rampasan), sebagian kecil kelompok Muslim menganggap harta di luar kelompok mereka adalah seperti harta orang kafir, karena mereka berada di luar Negara Islam yang mereka klaim telah berdiri.  Logika ini — yang tanpa hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan — lalu menjadi pembenaran atas aksi-aksi ‘kriminal’ untuk mengambil harta orang lain di luar kelompok mereka.  Inilah kesalahan fatal dalam memahami fakta fa’i.

Padahal, menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum (2004 : 46) dalam kitab Al’Amwal fi Dawlah al-Khilafah, fa’i adalah semua harta yang diperoleh/dikuasai kaum Muslim (Daulah Islam) dari harta orang kafir tanpa pengerahan pasukan/peperangan.  Pada zaman Nabi saw., saat ada Daulah Islam, contoh harta fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim (Daulah Islam) dari komunitas Yahudi Bani Nadhir serta kampung halaman dan harta-harta yang mereka tinggalkan karena gentar menghadapi kaum Muslim.  Harta fa’i juga mencakup harta benda — termasuk tanah — yang diserahkan kaum kafir kepada Daulah Islam karena takut menghadapi tentara Islam.  Contohnya adalah harta yang diperoleh kaum Muslim dari penduduk Fadak yang beragama Yahudi.  Inilah makna fa’i yang dimaksud dalam firman Allah SWT :

“Harta rampasan (fa’i) apa saja yang telah Allah berikan kepada Rasul-Nya, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya.  Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Hasyr [59] : 6).

Karena itu, jelas bahwa fa’i itu harus dipahami dalam konteks seperti apa dan kapan itu bisa terjadi.  Lagi pula, jika dalam anggapan mereka Negara Islam sudah ada, apa perlunya merampok — meski dengan dalih sebagai bentuk mengambil harta fa’i — jika kemudian harta itu digunakan untuk membiayai pendirian Negara Islam?  Itu tentu sangat sumir dan tidak logis.  Karena itu, seharusnya aparat Kepolisian juga memahami fakta seperti ini sehingga tidak begitu saja memaksakan alur cerita dengan membawak-bawa isu “Negara Islam” pada kasus-kasus terorisme, khususnya terkait dengan aksi perampokan Bank CIMB di Medan, Sumut, yang katanya dilakukan oleh para teroris.  Karena itu pula, tidak salah kalau KH Hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU) menegaskan, tidak ada perampokan atas nama agama.  “Apapun alasannya, merampok adalah haram.  Yang ada dalam Islam adalah pembagian rampasan perang dan untuk menyatakan perang adalah hak negara, bukan hak kelompok atau perorangan” (Antara, 28/9)

TIDAK BISA DENGAN CARA-CARA TEROR

Harus dipahami oleh siapapun. Pertama : Islam mengharamkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah, baik Muslim maupun non-Muslim (lihat : QS. al Maidah [5] : 32). Kedua : Merusak dan menghancurkan harta benda milik pribadi maupun umum juga haram (lihat : QS. al Qashash [28] : 77). Ketiga : Islam juga mengharamkan teror dan intimidasi terhadap orang Islam, sebagaimana sabda Nabi saw. :

“Tidaklah halal seorang Muslim menteror Muslim yang lain”. (HR. Al Baihaqi).

Imam Asy Syaukani berkomentar, “Inilah dalil bahwa tidak boleh (haram) menteror orang Muslim meskipun hanya sekadar gurauan”. (Asy-Syaukani, Nayl Al-Authar, VI-63)

Jika demikian, tentu tidak ada alasan syar’i untuk membenarkan tindakan teror sebagai metode untuk menegakkan Negara Islam.  Lagi pula harus dipahami : Pertama, jika pun benar bahwa mereka yang melakukan aksi teror tersebut bertujuan untuk menegakkan Negara Islam (Daulah Islam) atau Khilafah Islamiyah, seperti dinyatakan oleh aparat terkait dengan berbagai kasus terorisme, maka pertanyaannya : bukankah cara-cara seperti ini justru bertentangan dengan tujuan mereka?

Kedua, Daulah Islam atau Khilafah Islam adalah sistem pemerintahan yang menjalankan hukum-hukum Islam.  Kalau benar tujuan mereka ingin mendirikan Khilafah yang notabene hendak menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah, lalu mengapa cara-cara yang mereka lakukan justru bertentangan dengan hukum Islam yang mereka perjuangkan?

Ketiga, negara bukanlah bangunan fisik, tetapi “bangunan” yang ditopang oleh keyakinan, pemahaman, dan tolok ukur yang diterima oleh masyarakatnya.  Karena itu, kalau benar mereka ingin menegakkan Khilafah, mestinya jalan yang ditempuh bukanlah jalan kekerasan dan teror.  Sebab, jalan seperti ini tidak akan pernah bisa mengubah keyakinan, pemahaman, dan tolok ukur yang diterima oleh masyarakat; bahkwan tidak bisa mengubah apa pun.  Yang bisa mengubah semua itu adalah dakwah.

Keempat, cara-cara teror juga bertentangan dengan metode perjuangan Rasulullah saw. dalam menegakkan Daulah Islam.

MANHAJ RASUL SAW. DALAM MENEGAKKAN DAULAH ISLAM

Sebelum Daulah Islam di Madinah berhasil didirikan oleh Rasulullah saw., dengan segala risiko yang beliau hadapi, beliau tetap konsisten dengan jalan perjuangannya, yaitu : berdakwah secara politik dan pemikiran.  Meski beliau dan para pengikutnya menghadapi penyiksaan, serangan fisik, bahkan ada yang dibunuh hingga syahid dalam perjuangan tersebut, semua itu tidak mengubah manhaj dakwah Rasulullah saw. yang berjuang tanpa kekerasan atau aksi bersenjata.

Di Makkah, Rasulullah saw. tetap istiqamah membina umat (tatsqif al-ummahi), berinteraksi (tafa’ul) dan menghimpun mereka dalam satu jamaah seraya terus mencari dukungan politik (thalab an-nushrah) dari para pemilik kekuasaan (ahlul quwwah) hingga Allah SWT memberikan nushrah (pertolongan)-Nya kepada beliau, yakni melalui pertemuan beliau dengan para pemuka masyarakat di Madinah al-Munawwarah.  Di Madinah-lah kemudian beliau berhasil mendirikan Daulah Islam.

Itulah secara ringkas metode (thariqah) dakwah yang dicontohkan oleh Nabi saw.  Inilah satu-satunya cara yang harus ditempuh oleh siapapun yang hendak memperjuangkan kembalinya Islam dalam kehidupan, bukan yang lain.

Memang, harus diakui, ada sebagian orang/kelompok Islam yang menjadikan teror atau kekerasan atas nama jihad sebagai metode untuk melakukan perubahan masyarakat atau mendirikan Negara Islam.  Mereka ini pada dasarnya tidak memahami thariqah (metode) Rasulullah saw. — yang sebetulnya tidak pernah menggunakan kekerasan — selama dakwahnya pada Periode Makkah.  Bahkan aksi jihad (perang) baru dilakukan oleh Rasulullah saw. setelah berdirinya Negara Islam di Madinah yang sekaligus saat itu beliau menjadi kepala negaranya.  Artinya, jika orang/kelompok dakwah konsisten memahami bahwa kondisi saat ini sama dengan kondisi Makkah, maka thariqah dakwah Rasulullah saw. di Makkah — yang tidak pernah menggunakan aksi-aksi kekerasan — itulah yang harus dicontoh saat ini.

“MONSTERISASI” NEGARA ISLAM

Dari paparan di atas, tentu sulit untuk memastikan bahwa Negara Islam itu benar-benar menjadi agenda para tersangka tindak terorisme.  Sebab, antara motif/tujuan dan aksi yang dilakukan jelas “tidak nyambung”.  Keterkaitan antara ide dan metode mereka tidak relevan dengan tujuan yang hendak mereka raih.

Di sisi lain, aksi-aksi kekerasan atas nama jihad ini justru dimanfaatkan sebagai salah satu pintu masuk dan legitimasi dalam proyek WOT (war on terorism) yang diemban Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk di Indonesia.  Upaya memojokkan Islam dan kaum Muslim secara terus-menerus mendapatkan angin segar karena faktor-faktor di atas.  Apalagi sejak awal penyakit Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) memang melekat pada diri musuh-musuh Islam itu.  Pada akhirnya, perang melawan teorisme (WOT) menjadi alat mematikan yang menyasar pada segla upaya untuk menegakkan syariah Islam, di Indonesia khususnya.

Target dari”monsterisasi” Daulah Islam secara terus menerus tentu agar umat Islam khawatir bahkan takut terhadao segala upaya penegakan syariah Islam secara kaffah dalam institusi negara, meski itu tumbuh dengan cara-cara damai,  Pada akhirnya hanya kapitalisme-sekularisme-lah yang boleh tumbuh di negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia, bukan syariah Isla.  Tentu, ini tak bolah dibiarkan, karena akan menjadi kemenangan mereka dan kekalahan kaum Muslim; akan menjadi kemenanganidealogi kapitalise atas ideolgi Islam.  Ini jelas bertentangan dengan misi pengutusan Rasulullah saw., yakni memenangkan Islam atas semua agama/ideologi di luar Islam (QS. at-Taubah [9] : 33; al-Fath [38] : 28; as-Shaff [61] = 9)

Wallahu a’lam
.

“PEMBAKARAN AL QURAN” : RENCANA KEJI KAUM SALIBIS

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 522/Th. XI/1431 H

.

Untuk ke sekian kalinya umat Islam diuji iman dan kesabarannya.  Betapa tidak.  Di bulan Ramadhan yang berkah ini umat dihadapkan pada propaganda busuk sekelompok Kaum Kristiani (Salibis) di AS.  Terry Jones, pendeta (pastor) senior Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, menyerukan ke seluruh gereja dunia dan warga Amerika untuk terlibat memperingati Tragedi 11 September 2001 (Penghancuran Gedung Kembar WTC) dengan menjadikannya sebagai “Internasional Burn a Koran Day” (Hari Membakar Al Quran Internasional).  Hari tersebut kemungkinan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Sebelumnya (akhir Juli lalu), propaganda keji dan permusuhan terhadap Islam mereka cetak dalam bentuk kaos bertuliskan “Islam is Of The Devil” (Islam adalah Setan).  Kampangye juga dilakukan melalui jejaring sosial (facebook) dan youtube.  Mereka menuliskan pesan kebencian dan tantangan terhadap umat Islam di laman Facebook-nya : “On September 11th, 2010, from 6 pm – 9 pm, we will burn the Koran on the property of Dove World Outreach Center in Gainesville, FL in remembrance of the fallen victims of 9/11 and to stand against the evil of Islam.  Islam is of the devil!” (Pada 11 September 2011, mulai 06.00 – 09.00 kita akan membakar al-Quran milik Dove World Outreach Center di Gainesville, FL untuk mengenang korban yang jatuh 9/11 dan bersiap melawan kejahatan Islam.  Islam adalah dari setan!)

Ibarat gayung bersambut, seruan di atas mendapatkan respon cukup besar dari berbagai pihak, tidak kurang dari 6.690 orang lebih menyukai pesan di dinding facebook tersebut.  Komentar yang muncul pun sangat kasar dan kental dengan aroma kebencian.  Kata-kata kotor yang kurang ajar diumbar begitu saja, tidak hanya ungkapan yang melecehkan dan menghina al-Quran, tetapi juga menghina Baginda Rasulullah saw. dan Allah Rabbul ‘Izzati.

Pendeta Terry Jones mengatakan , dia telah menerima tawaran dari “ekstremis sayap kanan” yang akan menerjunkan antara 500 sampai 2.000 anggota milisi sipil bersenjata, untuk melindungi tempatnya (gereja) pada tanggal 11 September.  Menurut pernyataan yang diterima dari Gereja Dove World Outreach Center, pendiri organisasi bersenjata, Shannon Carson, berkata, “Kami sepenuhnya mendukung upaya Gereja Dove World Outreach Center untuk mengakhir gagasan bahwa Islam adalah agama damai…  Justru Islam adalah kultus kekerasan dengan tujuan dominasi dunia”.

Fakta juga berbicara, kecemasan melanda umat Islam di Amerika.  Rasa aman mereka sebagai warga negara yang katanya menjunjung tinggi HAM adalah omong kosong.  Umat Islam menjadi obyek tindakan rasialis oleh mayoritas non-Muslim (Kristiani Amerika).  Tidak jarang ancaman pembunuhan juga mengintai mereka setiap saat.  Di Queens pada hari Rabu malam, misalnya, seorang pria mabuk masuk masjid dan kencing di sajadah sambil berteriak “Teroris!”  Pada malam yang sama, di Fresno, California, sebuah masjid dirusak : jendela dipecahkan dan sebuah grafiti ditinggalkan. Bunyinya, “Tidak ada kuil untuk dewa terorisme”. (Republika.co.id, 30/8)

Kekerasan dan teror secara mental dan fisik terhadap kaum Muslim diperkirakan semakin meningkat menjelang Peringatan 11 September.

ALASAN BODOH TERRY JONES

Pendeta Terry Jones, sebagaimana dilansir News.au, menuduh Islam dan hukum syariah bertanggung jawab atas aksi terorisme terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001.  ”Islam adalah setan.  Agama itu menyebabkan jutaan orang masuk neraka; agama menipu; agama kekerasan…,” katanya saat wawancara dengan CNN.

Dalam situsnya, mereka mengemukakan sepuluh alasan mengapa al-Quran harus dibakar.  Di antaranya, al-Quran dianggap tidak asli, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan mengajarkan totalitarisme kekuasaan.  Islam juga dianggap tidak sesuai dengan demokrasi, HAM, dan Barat.

PENYAKIT ISLAMOPHOBIA

Langkah Gereja Dove World Outreach Center menunjukkan betapa Islamophobia (ketakutan terhadap Islam) merebak luas di kalangan orang Amerika.  Langkah gereja itu tidak bisa dilepaskan dari rencana global untuk memojokkan Islam setelah Serangan 11 September 2001, yang diklaim dilakukan oleh ‘teroris’ Muslim.  Sejak itulah Amerika melancarkan ‘perang melawan terorisme’ atau War on Terrorism (WOT), dengan menjadikan Islam sebagai sasaran.  Padahal Theiry Meyssan, wartawan asal Perancis, dalam investigasinya menemukan bahwa apa yang dikatakan oleh pemerintah Amerika dan didukung oleh media massanya (yang 90 persen milik Yahudi) adalah bohong besar.  Ia mengungkap temuannya dalam buku berjudul 9/11 The Big Lie America.

Jadi, aneh dan sinting jika Pendeta Terry Jones membuat logika : WTC runtuh dan pelakunya adalah Muslim yang terinspirasi oleh al-Quran, karenanya al-Quran harus dibakar sebagai simbol perlawanan.  Nyata sekali, ini logika membabi buta dan mabuk.  Kebencian dan permusuhan di mulut dan di dada merekalah yang menjadikan Islam tetap dianggap sebagai agama teroris.

Justru dunia menyaksikan bagaimana dengan semangat ”Perang Salib” George W Bush menjadikan Amerika negara penjajah yang biadab : menghancurkan Afganistan dan Irak, membunuh lebih dari 1,5 juta orang sipil serta meninggalkan infrastruktur yang luluh-lantak dan derita nestapa yang belum ada ujungnya hingga saat ini.  Jelas, Amerika-lah teroris sejati!

Kenyataan ini makin menegaskan kebenaran firman Allah SWT :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS. Al Baqarah [2] : 120).

Allah SWT juga menegaskan lagi hakikat mereka itu dalam firmar-Nya :

“Mereka (kaum kafir) tidak pernah berhenti (menimbulkan) kemadharatan atas kalian.  Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian.  Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi”. (QS. Ali Imran [3] : 118).

Wahai Penguasa Muslim!

Propaganda dan rencana busuk Pendeta Terry Jones pada 11 September 2001 serta pengikut dan pendukungnya jelas-jelas adalah pelecehan, penghinaan, dan sikap durjana terhadap Dunia Islam dengan 1,5 miliar lebih orang Muslim di dalamnya.  Hakikatnya itu adalah permusuhan mereka yang ditujukan kepada Islam dan kaum Muslim; kepada Allah rabbul ‘alamin dan Rasul-Nya.

Seharusnya penguasa negeri Muslim (termasuk Indonesia), melalui diplomasi luar negerinya bisa menekan dan menggagalkan upaya sinting tersebut, bukan malah menjadi bisu, tuli, dan buta mata hatinya.  Para penguasa Muslim, termasuk di negeri ini, harusnya bersikap tegas dan keras jika tidak ingin kejadian ini akan melahirkan akibat buruk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Umat Islam tentu bisa merespon dengan cara mereka sendiri di luar kendali.

Para penguasa Muslim, termasuk di negeri ini, harusnya mencontoh khalifah dulu.  Dulu Perancis pernah merancang pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire.  Isinya bertema ”Muhammad atau Kefanatikan”.  Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab.  Ketika Sultan Abdul Hamid, Khalifah kekhailafahan Utsmani saat itu, mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Perancis, beliau segera mengancam Pemerintah Perancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut.  Beliau mengingatkan bahwa ada “tindakan politik” yang akan dihadapi Perancis jika tetap meneruskan dan mengizinkan pementasan tersebut.  Perancis akhirnya membatalkannya.

Tidak berhenti sampai di situ.  Perkumpulan teater tersebut lalu berangkat ke Inggris.  Mereka merencanakan untuk menyelenggarakan pementasan drama itu di Inggris.  Mengetahui itu, Khalifah Abdul Hamid pun mengancam Inggris.  Inggris menolak ancaman tersebut.  Alasannya, tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya.  Setelah mendengar sikap Inggris demikian, sang Khalifah menyampaikan, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita!  Saya akan megobarkan jihad akbar!”

Pemerintah Inggris pun ketakutan melihat keseriusan ancaman sang Khalifah.  Mereka segera melupakan sesumbar tentang kebebasan.  Pementasan drama itu pun akhirnya mereka batalkan juga (Lihat : Majalah al-Wa’ie, no. 31/2003)

Jelas, hakikat drama di atas sama dengan hakikat berbagai penghinaan kaum kafir Barat terhadap Islam dan umatnya saat ini; dari mulai pembuatan kartun Nabi saw. di Denmark, pelarangan jilbab dan perusakan masjid di Eropa, hingga rencana pembakaran al-Quran di Amerika tanggal 11 September.

Karena itu, semestinya sikap penguasa Muslim sejati dalam merespon berbagai penghinaan itu juga sama dengan keberani Khalifah Abdul Hamid di atas, bukan malah diam dan bersikap pengecut.

Wahai Kaum Muslim!

Penghinaan terhadap Islam dan Rasulullah saw. terus berulang.  Hal serupa akan terus terulang hingga mereka tahu bahwa kita umat Muhammad saw. memiliki benteng.  Mereka tahu, penguasa saat ini bukanlah benteng bagi umat.  Benteng itu adalah khalifah.  Karena itu, Hizbut Tahrir bersama dengan berbagai komponen umat terus berjuang mewujudkan Khilafah.  Tanpa Khilafah, kita akan terus terinjak-injak.  Padahal kita adalah umat terbaik (QS. Ali Imran [3] : 110)

Karena itu, umat Islam wajib bergerak dan menyerukan aspirasinya menuntut penguasa untuk bersikap layaknya penguasa mereka.  Jangan sampai mereka menjadi penguasa “antek-antek” yang mengabdi dan membebek kepada kepentingan Amerika sang penjajah dengan skenario “War on Terrorism”, yakni perang melawan Islam dan kaum Muslim.  Tidak cukupkah penghinaan mereka selama ini terhadap Islam dan umatnya?  Apakah umat ini akan menjawab tantangan orang-orang kafir jika ayah-bunda, saudara, dan famili mereka disembelih di hadapan mata mereka?  Tidakkah seorang Mukmin memahami bahwa tidak ada kehinaan yang lebih hina selain dari ditimpa kemurkaan Allah SWT akibat bisu, tuli, buta mata hati dengan bersikap diam seribu bahasa dan tidak mau menjawab tantangan orang-orang kafir di atas?  Sudah waktunya umat Islam berbuat dan bergerak.

Karena itu, demi kemuliaan Islam dan Kaum Muslim, demi al-Quran dan Rasulullah saw. dan demi keridhaan Allah SWT.; penuhilah seruan-seruan para pengemban dakwah yang mengajak untuk menegakkan kembali syariah dan Khilafah demi mengembalikan seluruh kemuliaan itu!

Ya Allah, Ya Ra bb, sungguh sudah kami sampaikan. Karena itu, saksikanlah!

.

RAMADHAN : SAATNYA MENGUBUR SEKULARISME DAN MENEGAKKAN SYARIAH ISLAM SECARA TOTAL

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 518/Th. XI/1431 H

.

Ramadhan adalah bulan agung.  Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula.  Apalagi kedatangan Ramadhan cuma setahun sekali.  Keagungan Ramadhan diisyaratkan oleh sejumlah nash Al Qur’an maupun As Sunnah, baik secara langsung maupun tak langsung; di antaranya saat Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhan-lah Al Qur’an Mulia diturunkan (lihat QS. Al Baqarah [2] : 185).  Karena itu, kaum Muslim menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan Al Qur’an’ (syahr al Qur’an); selain karena di bulan inilah kaum Muslim lebih banyak  lagi membaca Al Qur’an dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.

Selain itu, di bulan Ramadhan pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS. al-Qadar [97] : 1), yang banyak dirindukan oleh kaum Muslim.  Karena itu, kaum Muslim pun
menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan keberkahan’ (syahr[un} mubarak); selain karena di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga ratusan kali lipat untuk setiap amal shalih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.  Rasulullah saw. pun bersabda :

"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan.  Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya.  Di bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.  Di bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan". (HR. An-Nasa'i dan Al-Baihaqi).

Karena itu, layaknya kedatangan 'tamu agung' seorang Muslim yang cerdas tentu akan melakukan persiapan yang optimal --- dengan mempersiapkan bekal iman, ilmu, maupun amal shalih --- dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan ini.  Tentu amat mengherankan jika kedatangan sesuatu yang agung hanya disambut dengan persiapan yang ala kadarnya, dengan sambutan yang biasa-biasa saja, tanpa ekspresi kegembiraan sama sekali.

Dengan persiapan iman, ilmu, dan amal shalih, saat Ramadhan tiba setiap Muslim tentu akan siap untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan ragam amal shalih : shaum, qiyamul lail, tadarus al Qur'an, bersedekah, mendatangi kajian-kajian keilmuan, meningkatkan aktifitas dakwah, dan melakukan banyak amal shalih lainnya.  Semua itu dilakukan tentu dalam rangka semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Hakikat Taqarrub illa Allah

Di dalam sebuah hadits qudsi, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda, bahwa Allah SWT berfirman :

"Tidaklah hamba-Ku ber-taqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada menunaikan kewajiban yang telah
aku perintahkan kepadanya.  Hamba-Ku selalu ber-taqarrub kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya"
. (HR. Al-Bukhari).

Berdasarkan hadits qudsi ini, hal yang paling utama yang bisa mendatangkan cinta Allah SWT bagi seorang Muslim adalah melakukan semua kewajiban, termasuk di dalamnya meninggalkan semua keharaman; kemudian dibarengi dengan bersungguh-sungguh mengerjakan banyak amalan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang makruh dan subhat (Ibn Rajab al-Hanbali, I/25).

Menurut Abdur Ra'uf al-Minawi, yang dimaksud kewajiban dalam hadits di atas mencakup fadhu 'ain maupun fadhu kifayah (Abdur Ra'uf al-Minawi, I/515).

Di antara kewajiban terpenting sekaligus terbesar atas kaum Muslim adalah menegakkan hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam) dalam seluruh aspek kehidupan; baik dalam tataran individual, sosial, maupun negara.  Alasannya jelas, sebagaimana menurut al-Minawi di atas, kewajiban dalam Islam ada dua.  Pertama : fardhu 'ain (kewajiban individual) seperti shalat, shaum, haji, menuntut ilmu, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain.  Kedua : fardhu kifayah (kewajiban kolektif), seperti membentuk jamaah yang beraktifitas mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar serta mendirikan Khilafah (membaiat seorang khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Namun sayang, bukan hanya di bulan Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, kebanyakan kaum Muslim hanya ber-taqarrub dengan menunaikan kewajiban-kewajiban individualnya saja plus beberapa perkara sunnah.  Adapun fardhu kifayahnya mereka tinggalkan.  Buktinya saat ini jauh lebih banyak kaum Muslim yang tak peduli terhadap tidak diterapkannya syariah Islam dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka dibandingkan dengan mereka yang peduli dan mau berjuang untuk menegakkannya.  Padahal, hanya dengan melaksanakan semua kewajiban (baik fardhu 'ain maupun fardhu kifayah) --- tentu dengan meninggalkan semua keharaman --- itulah setiap Muslim benar-benar bisa dikatakan sebagai orang bertakwa, sebagai 'buah' dari puasa yang dia lakukan selama bulan Ramadhan.

Hakikat Taqwa

Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sebagai salah satu bentuk aktifitas taqarrub kepada Allah SWT., pada akhirnya memang diharapkan dapat mewujudkan ketaqwaan pada diri setiap Muslim :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa". (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Menurut al-Jazairi, farasa “agar kalian bertaqwa” bermakna : agar dengan shaum itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Al-Jazairi, I/80).

Saatnya Mengubur Sekularisme

Jika ‘buah’ dari puasa adalah taqwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT tidak hanya di bulan Ramadhan saja; juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata.  Ketaqwaan kaum Muslim sejatinya terlihat juga di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun, juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka.

Sayang, faktanya yang terjadi malah sebaliknya.  Pertama : Setelah Ramadhan, kaum Muslim — yang sebelumnya berusaha ber-taqarrub kepada Allah SWT untuk meraih taqwa dengan puasa dan seluruh amal shalih yang mereka lakukan — justru kembali jauh dari Allah SWT dan kembali melakukan ragam kemaksiatan kepada-Nya.  Banyak wanita Muslimah yang kembali memamerkan auratnya, padahal saat Ramadhan mereka menutupnya rapat-rapat.  Banyak masjid kembali sepi, padahal pada saat Ramadhan ramai dikunjungi.  Acara-acara di televisi kembali menampilkan acara-acara berbau pornografi/pornoaksi, padahal selama bulan Ramadhan mereka menyiarkan acara-acara religi.  Banyak tempat-tempat maksiat dibuka kembali, padahal selama Ramadhan ditutup.  Penguasa dan banyak pejabat kembali melakukan korupsi dan mengkhianati rakyat, padahal selama Ramadhan mungkin mereka berhenti dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut.  Bagi orang-orang semacam ini, tentu puasa tak ada artinya.  Inilah yang diisyaratkan Baginda Nabi saw. :

“Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa pun selain rasa laparnya saja”. (HR. Ahmad).

Kedua : Setelah Ramadhan, sekularisme (pengabaian agama [syariah Islam] dari kehidupan) tetap mendominasi kehidupan kaum Muslim.  Setelah Ramadhan, tak ada dorongan dari kebanyak kaum Muslim, khususnya pada penguasanya, untuk bersegera menegakkan hukum-hukum Allah SWT secara formal dalam segala aspek kehidupan melalui institusi negara.  Bahkan di antara mereka ada yang tetap dalam keyakinan, bahwa hukum-hukum Islam tidak perlu dilembagakan dalam negara, yang penting substansinya.  Anehnya, pemahaman seperti ini juga menjadi keyakinan sebagian tokoh-tokoh agama Islam.  Keyakinan semacam ini hanya menunjukkan satu hal : mereka seolah ridha dengan hukum-hukum sekular yang ada (yang nyata-nyata kufur) dan seperti keberatan jika hukum-hukum Islam diterapkan secara total oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan mereka.  Padahal Abu Abdillah Jabir bin Abdillah al-Anshari ra. telah menuturkan riwayat sebagai berikut :

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Bagaimana pendapat engkau jika saya telah menunaikan shalat-shalat wajib, melakukan shaum Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan meninggalkan yang haram, sementara saya tidak menambah selain itu; apakah saya masuk surga?”  Rasul saw. menjawab, “Benar”. (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini, meninggalkan keharaman adalah syarat untuk bisa masuk surga.  Di antara keharaman yang wajib ditinggalkan tentu saja adalah berhukum dengan hukum-hukum kufur.  Apalagi Allah SWT tegas menyatakan bahwa siapapun yang berhukum dengan selain hukum Allah SWT bisa berstatus kafir, zalim, atau fasik (lihat : QS. al-Maidah [5] : 44, 45, 47).

Karena itu, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang kafir, zalim, atau fasik maka tentu kita harus segera menegakkan semua hukum-hukum Allah SWT melalui institusi negara.  Sebab, hanya melalui institusi negaralah hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia — dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, peradilan, keamanan, dan lain-lain — dapat benar-benar ditegakkan.

Karena itu pula, hendaknya seluruh kaum Muslim, khususnya di negeri ini, menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk segera mengubur sekularisme, yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.  Itulah wujud ketaqwaan sejati.  Itulah pula yang menunjukkan bahwa kita benar-benar sukses menjalani puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

artikel terkait :

.

MEWUJUDKAN KEMBALI KEKUATAN DUNIA ISLAM

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 417/Th. IX/1429 H

.

Pada tanggal 29 Juli – 1 Agustus 2008 yang lalu, tokoh Muslim dunia berkumpul dalam kegiatan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) III yang mengangkat tema Penegakan Islam sebagai Rahmatan lil alamin untuk Pembangunan Perdamaian dan Pencegahan Konflik di Dunia Muslim.  Konferensi ini melahirkan Jakarta Message yang salah satu isinya adalah keprihatinan atas perbedaan Islam sebagai agama perdamaian dan kesatuan, dengan kenyataan bahda dunia Islam masih tercoreng oleh konflik, kekerasan, dan kemiskinan (Republika.co.id, 1/8).

Point lain yang menonjol dari Jakarta Message adalah pembentukan ulama sans frontieres atau ulama lintas batas yang akan dilaksanakan oleh masing-masing perwakilan ICIS di lima kawasan, yaitu Asia Timur dan Pasifik, Asia Selatan dan Tengah, Timur Tengah, Afrika, serta kawasan Amerika dan Eropa.  Ulama lintas batas adalah suatu upaya kerjasama antara ulama dan cendekiawan serta kelompok profesi lainnya di bidang pencegahan konflik di dunia Islam.  Ulama lintas batas akan dilaksanakan dengan semangat komprehensif dan sensitivitas, dialog, keterbukaan dan kesabaran, solidaritas kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan yang visioner.

PENJAJAHAN DI DUNIA ISLAM

Salah satu hal yang cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut dari hasil ICIS III terebut adalah adanya kesepahaman tentang akar konflik yang saat ini terjadi di dunia Islam.  Sebagaimana diberitakan oleh Kompas (31/7), rangkuman berbagai diskusi pada konferensi tersebut menyimpulkan bahwa berbagai konflik yang terjadi di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Islam lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal ketimbang internal di antara umat Muslim di negara-negara tersebut.

Terkait dengan faktor eksternal tersebut, ulama terkemuka Suriah sekaligus pemikir Islam yang buku-bukunya menjadi bacaan wajib di berbagai negara, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, menegaskan, selama 14 abad negara-negara Arab dan Islam hidup dalam damai.  “Sejak Amerika Serikat datang dan menanamkan pengaruhnya, justru terjadi perpecahan di negara-negara Arab”, ujarnya.

Ketua Majelis Dakwah Islam Sudan, Syekh Umar Idris Hadrah menuturkan hal yang sama.  Sudan sempat goyang akibat konflik Darfur, tetapi saat ini kondisi keamanan dan politik mulai stabil.  Meski demikian, Barat selalu berusaha mengganggu stabilitas karena ingin meraup kekayaan alam Sudan, terutama di Darfur.  “Konflik antar etnis Darfur itu tidak benar.  Hal itu hanya dibesar-besarkan media asing.  Ada upaya memecah belah rakyat Sudan”, ujarnya.

Sementara kepala kantor pemimpin Syiah Irak, Moqtada al-Sadr, Majid Kahdim Shanyoor menyatakan, “Jika AS masih ada di Irak, kondisi Irak tidak akan pernah aman karena konflik antara kelompok Al-Sadr dengan Sunni dan Kurdi merupakan cara AS memecah belah bangsa Irak.  Kami menolak segala macam keinginan pembagian wilayah dan kekayaan sumber alam.  Kami menginginkan Irak yang bersatu dan penarikan pasukan AS.  Kami tidak terlibat dalam pertikaian kelompok di Irak”.

Itulah pernyataan resmi perwakilan negeri-negeri Muslim yang saat ini dilanda konflik.  Artinya bahwa penyebab utama kegoncangan dan kerusakan negeri-negeri tersebut adalah faktor  ekternal, yakni penjajahan AS dan sekutunya.  Sebagaimana diketahui, saat ini AS sedang melancarkan imperialismenya di negeri-negeri Muslim melalui dua cara.  Pertama, melalui intervensi militer, seperti yang sedang dipertontonkan AS saat ini di Irak dan Afghanistan.  Baru-baru ini Presiden AS, George W. Bush menandatangani tambahan anggaran perang di Irak dan Afghanistan sebesar 162 miliar USD.

Tambahan anggaran tersebut memungkinkan Pentagon menggelar operasi militer di Irak dan Afghanista hingga pertengahan 2009.  The House of Representatif AS juga tidak menetapkan batas waktu penarikan tentara Amerika Serikat dari Irak.  Alasan yang paling memungkinkan kenapa AS masih ingin bertahan di Irak adalah faktor minyak.  Dengan cadangan minyak Irak yang sangat besar tentu akan menjadi darah segar bagi ekonomi AS yang sedang collaps.  Di Irak diperkirakan terdapat cadangan minyak sekitar 115 miliar barel, yang merupakan cadangan terbesar ketiga di dunia.

Kedua, intervensi non militer, yang berupa politik dan ekonomi.  Imperialisme seperti inilah yang diterapkan AS dan sekutunya di negeri-negeri Muslim lainnya termasuk Indonesia.  Alat utama yang digunakan AS untuk memuluskan imperialismenya tersebut adalah globalisasi.  Sehingga bagi negara-negara Dunia Ketiga yang notabene adalah negeri-negeri Muslim, globalisasi tidak lain adalah imperialisme baru yang menjadi mesin raksasa produsen kemiskinan yang bengis dan tak kenal ampun.  Jerry Mander, Debi Barker, dan David Korten tanpa ragu menegaskan, “Kebijakan globalisasi ekonomi, sebagaimana dijalankan oleh Bank Dunia, IMF, dan WTO, sesungguhnya jauh lebih banyak menciptakan kemiskinan ketimbang memberikan jalan keluar”. (The International Forum on Globalization, 2004 : 8).

Pada dasarnya, globalisasi yang dimotori AS merupakan proses menjadikan sistem ekonomi kapitalis ala Amerika Serikat sebagai sistem dominan di dunia, dengan mengintegrasikan perekonomian lokal ke dalam tatanan perekonomian global melalui privatisasi, pasar bebas, dan mekanisme pasar pada semua perekonomian negara-negara di dunia.  Ini berarti penghapusan semua batasan dan hambatan terhadap arus perpindahan barang, modal, dan jasa yang bersandar pada kekuatan pengaruh Amerika Serikat.  WTO, Bank Dunia, dan IMF tiada lain hanyalah alat untuk memaksakan kekuatan Amerika Serikat itu.

Atas nama pasar bebas (WTO, AFTA, APEC, Bank Dunia, IMF), negeri-negeri Muslim dipaksa membuka keran privatisasi yang luar biasa, termasuk dengan menjual asset-asset publik mereka kepada swasta asing, baik dengan alasan untuk membayar hutang, maupun agar kompatibel dengan aturan-aturan internasional.  Di Indonesia, lembaga-lembaga kreditor international tersebut melalui berbagai skema pinjaman luar negeri memainkan peran penting mendorong agenda privatisasi, melalui keluarnya berbagai produk regulasi seperti UU Sumber Daya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal hingga privatisasi BUMN.  Hasilnya, saat ini investasi sektor minyak dan gas bumi misalnya, sebanyak 85,4 % dan 137 konsesi pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dimiliki oleh perusahaan asing.

Ini merupakan fakta bahwa penjajahan atau imperialisme merupakan metode baku (thariqah) negara kapitalis untuk menguasai negara lain, yang berbeda hanya terbatas pada bentuk dan pola penjajahannya.

KHILAFAH : KUNCI KEKUATAN DUNIA ISLAM

Peran politik internasional sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan negara tersebut.  Negara yang lemah pasti tidak memiliki peran yang penting dalam konstelasi internasional.  Negera itu hanya pengekor atau bahkan ditindas oleh negara yang kuat.  Faktor utama yang membuat sebuat negara kuat adalah ideologi (mabda‘)-nya.  Tanpa ideologi atau menjadi pengikut ideologi asing, sebuah negara akan menjadi lemah.  Faktanya, semua negara adidaya atau yang pernah menjadi negara adidaya pasti merupakan negara yang dibangun di atas satu ideologi tertentu.  Misalnya, Uni Soviet — sebelum runtuh — dengan ideologi sosialisme-komunisnya, AS dengan ideologi kapitalisme-sekularnya, dan Khilafah Islamiyah pada masa lalu dengan ideologi Islamnya.

Ideologi adalah faktor utama yang membuat sebuah negara menjadi kuat sehingga mampu berperan secara dominan dalam percaturan politik internasional.  Sementara negara-negara Muslim saat ini justru meninggalkan Islam sebagai ideologi, sehingga secara ekonomi dan politik mereka di bawah hegemoni (baca : jajahan) AS dan sekutunya.  Karena itu, untuk kembali berperan dalam konstelasi internasional serta membebaskan diri dari penjajahan militer, politik, dan ekonomi, maka umat Islam harus kembali menegakkan Khilafah Islamiyah yang menjadikan Islam sebagai ideologi sekaligus dasar negaranya.  Negara semacam inilah yang akan menerapkan hukum Islam, mengemban ideologi Islam ke seluruh dunia, dan bahkan menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Tidak hanya ideolgi Islam, umat Islam juga memiliki sumber-sumber kekuatan yang bisa mendukung terwujudnya Khilafah Islamiyah sebagai negara adidaya dunia.  Pertama, jika seluruh wilayah kaum Muslim di dunia bersatu di bawah naungan Khilafah Islamiyah, mereka akan memiliki potensi geografis yang sangat menguntungkan sebagai negara adidaya.  Kaum Muslim secara geografis menempati posisi yang strategis pada jalur laut dunia.

Mereka mengendalikan Selat Gibraltar di Mediterania Barat, Terusan Suez di Mediterania Timur, Selat Balb al-Mandab yang memiliki teluk-teluk kecil di Laut Merah, Selat Dardanelles dan Bosphorus yang menghubungkan jalur Laut Hitam ke Mediterania, serta Selat Hormus di Teluk, Selat Malaka merupakan lokasi strategis di Timur Jauh.  Dengan menempati posisi yang strategis ini, kebutuhan masyarakat internasional akan wilayah kaum Muslim pastilah tinggi mengingat mereka harus melewati jalur laut strategis tersebut.  Di samping itu, mereka akan sulit menaklukkan negeri-negeri Islam, karena pintu-pintu strategis laut dikuasai oleh kaum Muslim.

Kedua, faktor sumber daya alam.  Negeri-negeri Islam dianugerahi oleh Allah SWT sebagai negeri-negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya.  Contohnya adalah kekayaan sumber pangan.  Negara yang memiliki sumber pangan yang besar jelas akan memperkuat posisi negara tersebut, karena akan terhindar dari ketergantungan pada negara lain.  Negeri-negeri Islam dikenal sebagai wilayah yang sumber untuk bercocok tanam pangan.  Sumber daya alam lainnya yang penting adalah bahan mentah.  Saat ini, dunia Islam mengendalikan cadangan minyak dunia (60%), boron (40%), fosfat (50%), perlite (60%), strontium (27%), dan tin (22%).

Dengan potensi ideologis dan faktor-faktor penunjang tersebut, Khilafah Islam jelas akan menjadi sebuah negara adidaya yang sangat kuat.  Di sinilah letak pentingnya kaum Muslim menegakkan Khilafah Islam tersebut di tengah-tengah mereka.  Ketidakadaan Khilafah Islam yang berdasarkan ideologi Islam membuat kaum Muslim mundur dalam peran internasionalnya, bahkan tidak mampu menghadapi penjajahan Barat.  Bagaimana pun, Barat dengan kekuatan negaranya yang dibangun atas dasar ideologi kapitalisme yang mengglobal, juga harus dilawan dengan kekuatan negara yang dibangun di atas ideologi yang juga mengglobal.  Negara tersebut adalah Khilafah Islam yang akan menghimpun potensi kaum Muslim dan menyatukan dunia Islam secara riil.

Karenanya, hanya melalui Khilafah Islam ini umat Islam akan mampu memayungi dunia dengan segala kebaikannya melalui penerapan syariah-Nya yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.  Sekaligus mengakhiri imperialisme AS dan sekutunya yang membawa bencana dan kesengsaraan umat manusia melalui penerapan kapitalisme sekulernya.  Maha Benar Allah yang telah berfirman :

“Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. (QS. al Anbiya [21] :  107).

Namun sayang, tidak pernah masalah Khilafah ini menjadi pembahasan bahkan agenda yang secara serius diperjuangkan oleh para ulama yang berkumpul dalam ICIS III tersebut.  Karena itu, mungkinkan tanpa khilayah mereka bisa mewujudkan cita-cita luhur membangun Islam yang rahmatan li al’alamin, menghapus semua bentuk penjajahan dan konflik dari dunia Islam.

.

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

TINGGALKAN ‘POLITIK TIPU-TIPU’, KEMBALILAH KE POLITIK ISLAM

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 508/Th. XI/1431 H

a

Setelah sempat ‘memanas’ dan menjadi berita utama dalam media massa dalam beberapa bulan lalu, Skandal Century sejak beberapa pekan lalu sesungguhnya sudah mulai ‘mendingin’, ditimpa oleh beberapa persoalan/kasus baru yang terus-menerus muncul atau sengaja dimunculkan seperti kasus Susno, isu terorisme, dan lain-lain.

Sebagaimana kasus-kasus serupa sebelumnya yang melibatkan penguasa, pejabat, atau para pemilik modal besar (Skandal BLBI, misalnya), Skandal Century dipastikan akan menguap begitu saja.  Tanda-tanda ke arah upaya ‘mempetieskan’ Skandal Century ini sudah mulai tampak.  Hal itu ditandai antara lain oleh  ‘pengunduran’ Menkeu Sri Mulyani karena ditarik menjadi direktur operasional Bank Dunia, lalu disusul dengan pembentukan Sekretariat Gabungan oleh partai-partai koalisi Pemerintah.

Skandal pengucuran dana talangan kepada Bank Century pertama kali mencuat sekitar satu setengah tahun lalu ketika KPK meminta BPK melakukan audit atas bailout Century itu.  Sejak saat itu bergulir serangkaian drama politik berseri yang mementaskan lakon jalannya perpolitikan di negeri ini.

Begitu hasil audit BPK atas pengucuran dana talangan kepada Bank Century keluar, drama Century pun makin ramai sampai akhirnya dibentuk Pansus Century di DPR.  Perdebatan di Pansus yang disiarkan langsung juga memperlihatkan bagaimana kepentingan masing-masing partai yang menonjol, ditambah lagi kepentingan pribadi.  Proses di Pansus banyak menghamburkan waktu dengan memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip.

Di tengah perjalanan Pansus yang disorot oleh seluruh mata rakyat Indonesia itu terjadi pergantian anggota Pansus.  Lagi-lagi tampak begitu menonjol bagaimana kepentingan partai harus dikedepankan dan semangat kritis untuk mengungkapkan kasus segamblang-gamblangnya harus dikorbankan.  Proses seterusnya di Pansus juga tetap menunjukkan bagaimana kepentingan elit masih menjadi faktor penentu.

Di lain pihak, pemerintah tiba-tiba mempersoalkan kembali kasus pajak Grup Bakrie, mengungkapkan kasus-kasus korupsi oknum-oknum aktifis partai yang terlihat ‘kritis’ dalam Pansus, yang dari segi timing (waktu), baru diungkap saat itu, bukan dari sebelum-sebelumnya.  Dengan mudah hal itu ditangkap oleh masyarakat sebagai untuk menjinakkan lawan politik.

Semua itu akhirnya terkesan untuk bisa menaikkan posisi tawar dalam melakukan negosiasi politik.  Di situlah akhirnya terjadi ‘politik dagang sapi’.

Di antara puncak drama Centuri itu adalah ketika Sri Mulyani ‘mengundurkan diri’ dari jabatan sebagai Menteri Keuangan dan akan berpindah menduduki jabatan Direktur Operasional di Bank Dunia.  Sebagian kalangan memahami bahwa itu adalah exit strategi (jalan selamat) bagi Sri Mulyani tanpa dia harus kehilangan muka secara total.  Pasalnya, dengan menduduki jabatan direktur Bank Dunia, tentu sulit bagi KPK untuk memeriksa dan memproses hukum lebih lanjut atas Sri Mulyani.

Sehari setelah pengunduran Sri Mulyani dibentuk Sekretariat Gabungan Partai koalisi.  Aburizal Bakrie yang saat ini menjadi ketua umum Partai Golkar menjadi ketua hariannya.

Lagi-lagi dalam proses pengunduran Sri Mulyani dan terbentuknya Setgab ini kuat tercium aroma kepentingan.

‘POLITIK TIPU-TIPU’

Rangkaian drama politik di atas sekali lagi menunjukkan dengan kuat kepada kita bahwa belum ada perubahan paradigma politik di negeri ini.  Padahal reformasi sudah berjalan lebih dari satu dekade.  Paradigma politik yang belum berubah sama sekali itu adalah bahwa politik identik dengan kekuasaan.  Semua energi politik seakan ditumpahkan demi meraih kekuasaan dan kemudian mempertahankannya.  Jalannya semua proses itu dibela oleh kepentingan.  Kepentingan tetap dijadikan panglima.  karena itu, selama kepentingan menghendaki, maka yang semula lawan bisa dalam sekejap menjadi kawan, dan sebaliknya.  Bahwa kepentingan tetap menjadi penentu itu juga terungkap dalam curhat-nya Sri Mulyani pada acara kuliah umum tentang ‘Kebijakan Publik dan Etika Publik” di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 18/5.  Ia menjelaskan mengapa mundur dari jabatan Menteri Keuangan dan menerima jabatan Direktur Operasional di Bank Dunia.  Ia mengatakan, “Ini adalah suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya, atau apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik, tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik di mana perkawinan kepentingan itu sangat dominan.  Banyak yang mengatakannya kawin, walaupun jenis kelaminnya sama”.

Curhat Sri Mulyani itu menandaskan bahwa kepentingan masih begitu menonjol dalam proses politik dan kebijakan di negeri ini.  Apalagi dalam sistem demokrasi yang prosesnya memerlukan biaya yang sangat besar.  Akhirnya, kepentingan politik itu berkolaborasi dengan kepentingan para cukong yang bisa mengongkosi proses politik demokrasi itu.  Muncullah penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal serta kepentingan politisi dan kelompoknya dengan menjadikan kepentingan masyarakat banyak sebagai komoditasnya.

Ironisnya, semua itu bukan hanya terjadi di pusat, tetapi juga menjalar dan merata di daerah-daerah.  Lihat saja, lebih dari seratus kepala daerah dan pejabat daerah yang notabene hasil dari proses demokrasi sudah antre untuk diproses hukum oleh aparat karena kasus korupsi.  Lihat pula bagaimana mereka berupaya mati-matian agar tampuk kekuasaan di daerah itu tidak berpindah dari tangan mereka.  Untuk itu maka istri, anak, kerabat, atau orang-orang dekat mereka pun dicalonkan untuk menjadi pengganti mereka.  Tentu saja peran para cukong dalam proses itu akhirnya menjadi demikian besar.

Karena kepentingan yang menjadi penentu, proses-proses hukum pun senantiasa pilih kasih.  Jika pelakunya para pejabat, mereka yang dekat dengan kekuasaan, atau para pemilik modal, maka akan dibiarkan atau setidaknya prosesnya akan berjalan begitu lambat.  Ketika masyarakat lupa atau tidak memperhatikannya, kasusnya pun dipetieskan.  Penanganan kasus Century pun diindikasikan akan menjadi seperti itu.  Itulah politik ‘politik tipu-tipu’ ala demokrasi.  Poltik semacam ini tentu harus segera ditinggalkan.

POLITIK ISLAM

Semua itu tentu menyalahi tuntunan Islam.  Dalam Islam, politik adalah bagaimana memelihara urusan rakyat.  Politik mengurus rakyat itu adalah tugas para nabi dan dilanjutkan menjadi tugas setiap khalifah, pejabat, dan pemimpin masyarakat pasca Nabi saw.  Karena itu, Islam menggariskan bahwa tugas pemimpin adalah mengurusi kepentingan rakyat.  Nabi saw. bersabda :

“Pemimpin yang menangani urusan masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pemimpin, termasuk para pejabat dan politisi, seperti diungkapkan Nabi saw. di atas, bertanggung jawab mengurusi urusan dan kepentingan rakyat laksana seorang penggembala mengurusi gembalaannya.  Karena itu, tugas pemimpin itu adalah merealisasikan kemaslahatan bagi rakyat dan menolak kemadharatann dari mereka; bukan mengedepankan kepentingannya sendiri, kelompoknya atau pemilik modal, apalagi pihak asing.

Sebagai agama paripurna, ketika mensyariatkan bahwa kepemimpinan dan jabatan adalah demi mengurusi urusan dan kemaslahatan rakyat, Islam juga memberikan serangkaian hukum yang harus dijadikan panduan dan dipegang teguh untuk merealisasikan sekaligus menjamin terpeliharanya kepentingan rakyat itu.  Semua itu terangkum dalam sistem syariah baik di bidang pemerintahan seperti kewajiban muhasabah (kontrol), hukum-hukum pemerintahan, dan sebagainya; di bidang ekonomi, mulai hukum tentang kepemilikan dan pengelolaan kepemilikan itu, hukum-hukum tentang moneter, hukum-hukum tentang Baitul Mal, dan sebagainya; maupun dalam bidang sosial, kebudayaan, politik luar negeri, dan sebagainya.

Islam tidak membiarkan perbuatan hukum dan aturan diserahkan kepada manusia sehingga menjadi komoditas tawar-menawar berdasarkan kepentingan.  Islam telah menetapkan hukum-hukum pengelolaan negara dan urusan masyarakat yang harus dijadikan pandangan dan dipedomani oleh setiap penguasa, pejabat, pemimpin, dan seluruh rakyat.  Untuk menjamin pelaksanaan hukum-hukum itu secara baik, Islam menetapkan muhasabah (kontrol/koreksi) terhadap penguasa sebagai kewajiban bagi masyarakat baik secara individual maupun kolektif.  Islam memberikan ruang yang sedemikian luas bagi semua itu sebagaimana bisa dilihat dalam hukum-hukum politik dan pemerintahan Islam secara rinci.

Islam juga menetapkan adanya pertanggungjawaban di akhirat atas pemimpin.  Setiap pemimpin akan Allah mintai pertanggungjawaban atas bagaimana dia mengurusi kepentingan rakyat yang Allah bebankan di atas pundaknya.  Jika pemimpin sempurna menunaikan tugasnya mengurusi kepentingan rakyatnya, maka dia akan mendapat tempat di surga bersama para nabi dan rasul.  Sebaliknya, jika dia menipu rakyatnya maka dia akan ditandai sesuai dengan kadar penipuannya.  Nabi saw. bersabda :

“Setiap pengkhianat memiliki panji pada Hari Kiamat kelak sesuai dengan kadar pengkhianatannya.  Ingatlah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari (pengkhianatan) seorang pemimpin masyarakat”.  (HR. Muslim)

Wahai Kaum Muslim :

Fakta-fakta yang ada di depan kita telah jelas sekali menunjukkan bahwa sistem politik demokrasi sebagai bagian dari ideologi
Kapitalisme hanya melahirkan para politisi dan politik yang mengabdi pada kepentingan politik politisi, kelompoknya, dan para pemilik modal bahkan pihak-pihak asing.  Sebaliknya, Islam — secara total saat kita
mengucapkan dua kalimah syahadat — telah memberikan tuntunan, aturan dan sistem yang menjamin para pejabat, pemimpin, dan politisi akan senantiasa memperhatikan dan mengutamakan kepentingan rakyat.  Lebih dari itu, Allah menjamin bahwa Islam yang Dia turunkan untuk menjadi pedoman hidup kita akan memberikan kehidupan dan kerahmatan bagi seluruh alam.  Karena itu, sudah saatnya dan sudah mendesak bagi kita untuk meninggalkan sistem politik sekular demokrasi, kemudian menggantinya dengan sistem Islam yang telah Allah SWT turunkan.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kalian kehidupan”. (QS. Al Anfal [8] : 24)

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

MENGAKHIRI KRISIS MIGAS

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 421/Th. IX/1429 H

a

Kiat masih terus disuguhi informasi melalui media televisi tentang antrean masyarakat yang berjuang memperoleh beberapa liter minyak tanah.  Pada saat yang sama, konversi (pengalihan) minyak tanah ke gas juga tidak berjalan mulus.  Saat ini, gas 3 kg yang diperuntukkan bagi masyarakat sebagai hasil dari konversi, harganya terus melejit.  Di beberapa daerah ada yang sudah mencapai Rp. 18 ribu per tabung.  Bahkan untuk gas yang 12 kg, harganya sudah sekitar Rp. 80 ribu – 100 ribu per tabung.  Selain harganya yang terus merangkak naik, pasokan gas juga akhir-akhir ini bermasalah.  Wajar jika, selain harganya sangat mahal, sebagian masyarakat juga kesulitan untuk mendapatkan gas.

Konversi (pengalihan) minyak tanah ke elpiji bagi masyarakat dirasakan tidak efisien dan menimbulkan masalah karena beberapa alasan : Pertama, dari aspek fisik.  Minyak tanah bersifat cair sehingga transportasinya mudah, pengemasannya mudah, dan penjualan dengan sistem eceran pun mudah.  Masyarakat kecil, misalnya, bisa membeli minyak tanah hanya 0,5 liter dan mereka dapat membawanya sendiri dengan mudah.  Kondisi ini tidak mungkin bisa dilakukan untuk pembelian elpiji karena elpiji dijual per tabung.  Masyarakat jelas tidak mungkin membeli elpiji hanya 0,5 kg, lalu membawanya dengan plastik atau kaleng susu bekas.  Kedua,dari aspek kimiawi.  Elpiji jauh lebih mudah terbakar (inflammable)dibandingkan dengan minyak tanah.  Karena itu, kita memang layak mempertanyakan sejauh mana efektifitas dan keamanan kebijakan konversi tersebut.  Ketiga, minyak dan gas mulai menghilang dari pasaran.  Kalaupun ada, harganya sangat tinggi sehingga masyarakat tidak sanggup membelinya.  Di beberapa daerah harga minyak tanah ada yang menembus Rp. 8 ribu – 12 ribu per liter dan harga gas 3 kg berkisar Rp. 15 ribu – 18 ribu per tabung.  Bagi rakyat kecil, membeli bahan bakar sebesar itu jelas sangat memberatkan.  Dari aspek ini, kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji jelas bermasalah.

Jika alasannya untuk mengurangi subsidi dan memanfaatkan gas produksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan energi nasional, mengapa Pemerintah tidak mengkonversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD, yang memakai solar) dengan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG)?  Bahkan sebagian mesin di PLTD bisa dioperasikan dengan solar ataupun  gas.  Saat ini, misalnya akibat pemakaian solar, subsidi Pemerintah untuk PLN mencapai Rp. 25 triliun.  Jika memakai gas, subsidi itu nyaris nol dan Pemerintah bisa mengkonversi subsidi tersebut untuk membangun pusat-pusat pembangkit listrik di wilayah-wilayah lain yang kekurangan pasokan listrik.

Secara nasional, misalnya PLN hanya memasok listrik 54 persen dari kebutuhan penduduk Indonesia.  Ini artinya, jika prioritas konversi itu diberikan kepada PLN dulu, niscaya hal itu akan banyak membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.  Studi yang dilakukan Japan International Cooperation Agency di wilayah lereng Gunung Halimun, Jawa Barat, menunjukkan tingkat perkembangan perekonomian masyarakat akibat masuknya jaringan listrik di pedesaan mencapai lebih dari  30 persen.  Ini terjadi karena listrik tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menjadikan masyarakat bisa mengikuti acara radio, TV, dan lain-lain sehingga membuka wawasan mreka dan mengerti akses pasar untuk menjual produk-produk hasil buminya.

KONVERSI : ALAT PEMBENARAN EKSPLOITASI GAS

Sebenarnya konversi minyak tanah ke elpiji merupakan pembenaran atas eksploitasi gas secara besar-besaran yang berorientasi pada globalisasi pasa bebas dan liberalisasi ekonomi.  Kebijakan konversi ini hanyalah upaya Pemerintah untuk mempercepat laju investasi para pemilik modal perusahaan-perusahaan swasta nasional maupun asing untuk menguras sumber energi migas yang ada di Indonesia.  Karena itu, bisa disimpulkan bahwa negara telah menjadi alat pihak pebisnis energi untuk memperoleh keuntungan, ketimbang untuk kesejahteraan rakyatnya.

Di sisi lain, pemangkasan subsidi minyak digunakan untuk membayar utang kepada negara donor gara-gara resep yang diberikan IMF dan Bank Dunia sejak Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997 – 1999 sehingga membuat negeri ini terlilit utang ribuan triliun rupiah.  Ironisnya, proyek-proyek industri ekstraktif beserta turunannya, yang notabene dibiayai dari utang, dikuasai oleh perusahaan-perusahaan swasta.  Dalam menjalankan proyek itu perusahaan tersebut berkolaborasi dengan perusahaan multinasional (MNC) atau asing.  Misalnya, PT. Bakrie Pipe Industries (BPI) memenangkan tender pengadaan pipa senilai US $ 12,4 juta untuk proyek penyaluran gas dari Pantai Utara Jawa ke PLTGU Muara Karang yang dilaksanakan Beyond Petroleum.  Sebelumnya BPI memasok pipa untuk proyek migas skala besar seperti yang dibangun Caltex Pacific Indonesia, Conoco, Pertamina, dan masih banyak lagi.  Sebagian besar proyek-proyek yang ditawarkan dalam Infrasktruktur Project 17 – 18 Januari tahun 2005 adalah proyek pemipaan gas untuk mendistribusikan gas keluar negeri.

Mengapa resep yang salah ini digunakan terus?  Tidak lain untuk mengamankan mata rantai penghubung kepentingan operasi modal internasional di Indonesia.  Hal ini seirama dengan UU Nomor 22 Tahun 2001 yang memberikan akses sebesar-besarnya bagi pemilik modal untuk menguasai migas Indonesia; mulai dari hulu (eksplorasi dan eksploitasi) hingga hilir (pengolahan, penampungan, distribusi, dan pengecerannya).

ASING MENGUASAI SEKITAR 90% LADANG MIGAS

Meski migas hakikatnya milik rakyat, kenyataannya 85% ladang migas dikuasai pebisnis asing.  Semua sumber gas bumi dengan cadangan besar juga telah dikuasai modal asing.  Ada 28 Blok lapangan migas di Jawa Timur, yang 90%-nya dikuasai oleh korporasi.  Blok Cepu dikuasai Exxon.  Blok Pangkah di Kabupaten Gresik dikuasai Amerada Hess.  Di Perairan Sampang Madura dikuasai Santos Oyong Australia.  Di Tuban-Bojonegoro-Lamongan dan Grsik dikuasai Petrochina, dan lain-lain.

Pada tahun 2000, keuntungan yang diraih Exxon mencapai US $ 210 miliar.  Ironisnya, hingga Januari 2000 tercatat 59.192 kepala keluarga di Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Pidie tergolong prasejahtera (baca : sangat miskin).  Hasil survei Pendataan Indeks Kependudukan Terbaru (PIKB) BPS Jawa Timur Tahun 2003, bahwa daerah yang kaya sumber daya alam migas penduduknya banyak yang miskin.  Kabupaten Sumenep yang kaya dengan migas, penduduk miskinnya nomor dua se-Jawa Timur.  Kabupaten Bojonegoro yang telah ditetapkan kandungan 1,2 barel gas dan minyak 600 miliar barel, masyarakatnya miskin nomor empat se-Jawa Timur.

Yang lebih ironis,  di tengah mahal dan langkanya gas di dalam negeri, selama ini ternyata Indonesia mengekspor gas keluar negeri dengan harga yang super murah.  Ini terutama terkait dengan kontrak penjualan gas Tangguh ke Cina yang ditandatangani pada masa Presiden Megawati.  Kontrak penjualan tersebut — dengan harga flat 3,8 dollar / mmbtu selama 25 tahun masa kontrak, padahal harga di pasaran internasional saat ini 20 dollar AS — menurut Wapres Jusuf Kalla, berpotensi merugikan negara sebesar Rp. 750 triliun (Kompas.Com, 29/8/2008).  Memang, saat ini Pemerintahan SBY-JK sedang melakukan negosiasi ulang.  Namun, jelas hal ini belum menyelesaikan masalah jika pasokan gas di dalam negeri kurang dan herganya tetap mahal sehingga sulit dijangkau rakyat kebanyakan.

SOLUSI PRAKTIS

Untuk mengatasi masalah  ini, ada beberapa langkah praktis yang bisa ditempuh Pemerintah, yaitu : Pertama; Memfokuskan pelayanan migas di dalam negeri semata-mata untuk kepentingan rakyat, bukan fokus pada ekspor.  Kalaupun harus ekspor, jelas itu harus dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi dan dengan harga yang semurah mungkin.  Kedua; Melakukan negosiasi ulang seluruh kontrak migas dengan pihak swasta/asing, yang nyata-nyata telah merugikan negara.  Ketiga; memanfaatkan seoptimal mungkin sumber daya  alam (migas, emas, batubara, dan lainnya) yang sangat melimpah itu, yang hakikatnya adalah milik seluruh rakyat.  Sumber daya alam tersebut harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan justru dijual diserahkan pengelolaannya kepda swasta, baik asing maupun domestik.

Karena itu, langkah yang paling real dan nasional saat ini adalah, negara wajib mengambil alih kembali kepemilikan serta pengelolaan sumber daya alam, khususnya di sektor energi, dari tangan para pemilik modal dan menghentikan kontrak-kontrak yang telah terlanjur diberikan kepada korporasi, bukan malah memprivatisasinya.  Negara wajib menjadikan energi sebagai sumber kekayaan untuk mensejahterakan masyarakat dan tetap memberikan energi murah kepada rakyat.

Lebih dari itu, untuk mengakhiri penderitaan rakyat akibat dari permasalahan energi di atas, negara harus berani menerapkan syariah Islam — yang notabene bersumber dari Allah, Pencipta manusia dan alam ini — untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam, terutama di sektor energi.  Syariah Islam jelas telah mewajibkan agar pengelolaan dan distribusi atas sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak berada di bawah kekuasaan negara demi menjamin kesejahteraan rakyat.  Apalagi sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak itu memang milik rakyat.  Rasulullah saw. bersabda :

“Kaum Muslim bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : padang penggembalaan, air, dan api”. (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ahmad).

Khatimah

Akhirnya, kami tidak pernah bosan untuk mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pejabat dan para wakil rakyat, bahwa sesungguhnya negeri ini tidaklah akan bisa keluar dari krisis yang membelenggu dan tidak akan mampu membebaskan diri dari segala kelemahan kecuali bila di negeri ini diterapkan syariah Islam secara kaffah.  Jika tidak, selamanya negeri ini akan terus didera kesulitan demi kesulitan.  Allah SWT mengingatkan :

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (syariah), dia berhak mendapatkan kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha [20] : 124)

Terakhir, kami mengingatkan Pemerintah akan sabda Nabi saw. :

“Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku, kemudian ia membebani mereka, maka bebanilah dia”. (HR.
Muslim)

a

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM. Kaitkata: . 1 Komentar »

ISRAEL BRUTAL : AS MENDUKUNG, PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 509/Th. XI/1431 H

a

a

BRUTAL!  Untuk ke sekian kalinya, dunia disuguhi tontonan kebiadaban Yahudi-Isreal.  Israel secara brutal menembaki rombongan relawan dari berbagai negara yang diangkut sembilan kapal.  Kapal tersebut membawa setidaknya 10.000 ton bantuan dan 750 aktivis.  Turut serta dalam armada ini 44 pejabat pemerintah, angota parlemen dan aktivis politik Eropa dan Arab, termasuk 10 anggota parlemen Aljazair.  Armada ini membawa bantuan untuk penduduk Gaza yang lama menderita, apalagi sejak Israel membombardir wilayah tersebut awal 2009 dan terus memblokadenya hingga hari ini.

Para relawan itu dihadang, sebagiannya (tidak kurang dari 19 orang) bahkan dibunuh di atas kapal yang membawanya.  Tentara dan penguasa Israel benar-benar telah mengunci rapat mata, telinga, akal, dan hatinya; tidak peduli bahwa relawan yang berlayar menuju Gaza itu dalam rangka misi kemanusiaan.  Pasalnya, Israel tidak menghendaki terbukanya blokade atas Gaza.  Selain 19 korban tewas, “Sejauh ini, 83 ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi.  Sisanya akan dipenjara”.  Demikian kata Jurubicara Kepolisian Israel, Sabine Hadad seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010).  Hadad mengatakan, Kepolisian Israel masih akan
melakukan penangkapan terhadap ratusan relawan lainnya.

Hampir dua tahun penduduk GAza menderita akibat blokade Israel.  Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan terputusnya pasokan pangan dan obat-obatan dari luar.  Gaza memang sangat bergantung pada impor makanan dan obat-obatan dari luar negeri.  Israel juga memperketat penjagaan perbatasan.  Israel bahkan menghancurkan Terowongan Gaza yang mensuplai kebutuhan pangan penduduk Gaza.  Akhirnya, banyak yang menderita sakit dan kelaparan.  Persediaan obat-obatan juga tidak ada.  Israel benar-benar menghendaki kematian perlahan bagi penduduk Gaza.

DUKUNGAN TOTAL AS

Berbagai kecaman — hanya sekedar kecaman — mengalir.  Namun, seperti biasa, kecaman itu segera lenyap ditelan waktu.  Israel pun tetap dengan pongahnya mempertontonkan kebrutalannya.  PBB yang katanya berfungsi sebagai penjaga perjanjian dunia hanya membisu menyaksikan kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang telah berlangsung puluhan, bahkan ratusan kali.  Amerika Serikat (AS), yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, tak pernah absen mendukung setiap kebrutalan Israel, baik secara langsung maupun lewat upaya memveto (menggagalkan) setiap resolusi PBB yang merugikan Israel.

AS memang mengecam serangan Israel kali ini, sebagaimana dinyatakan Jurubicara Gedung Putih, William Burton (Reuters, 31/5).  Namun, dunia pun tahu, itu hanyalah sikap sandiwara AS.  Faktanya, AS mendukung penuh setiap tindakan Israel.  Bahkan senjata-senjata yang saat ini dipakai untuk membunuhi para relawan adalah senjata-senjata yang dibeli dengan dollar bantuan dari AS.  Tahun ini, AS bahkan berencana menaikkan bantuan anggaran militer untuk Israel hingga 6 miliar dollar AS per tahun.  Ini seperti yang diungkap Wapres AS, Joe Biden, ketika berceramah di Universitas Tel Aviv.  Wapres AS, Joe Biden pun telah menjanjikan dukungan penuh Washington terhadap ZIonis-Israel.  Saat mengadakan pembicaraan terpisah dengan Netanyahu dan Presiden Shimon Peres, Biden menegaskan dukungan total dan absolut Washington (AS) terhadap keamanan Israel (Hidayatullah.com, 22/3/2010).

Menlu AS, Hillary Clinton (yang tentu mewakili pemerintahan Obama), dalam kutipan pidatonya di depan konvensi tahunan Komisi Urusan Hubungan AS – Israel — yang dikenal dengan sebutan AIPAC, sebuah lobby kuat yang pro-Israel — di Washington, Senin (22/3) juga meyakinkan Israel, bahwa komitmen AS terhadap keamanan Israel masih “tetap kuat”. (VOAnews.com, 22/3/2010).

Kongres AS bahkan menyetujui usulan Presiden Barack Obama untuk mendanai pembangunan Kubah Besi — sistem pertahanan antiroket — milik Israel.  Pemungutan suara di Kongres digelar pada Kamis (20/5), sebanyak 410 suara mendukung usulan itu dan empat suara menolak.  Dengan hasil voting mayoritas ini, dana 205 juta dollar AS sepakat untuk dikucurkan ke Israel.  Ini sekaligus membuktikan bahwa Pemerintah AS di bawah George W. Bush dan presiden-presiden AS sebelumnya, yang mendukung penuh Israel.  Istilah “soft power” cuma menjadi ‘gincu’ diplomasi Obama untuk mengelabui Dunia Islam agar tetap berada dalam cengkeraman kepentingan global AS dan lumpuh di hadapan Israel yang biadab.

PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM

Para penguasa dan pemimpin Muslim mengecam tindakan biadab Israel, dalam hal ini terhadap armada kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.  “Kami mengutuk kejahatan ini …  Setiap orang harus mengutuk tindakan Israel ini”, kata Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, kepada AFP (31/5).  Moussa lebih lanjut mengatakan bahwa 22 anggota Liga Arab saat ini sedang ‘memikirkan’ langkah selanjutnya terhadap Israel.

Pimpinan Otoritas Palestina, Mahmud Abbas pun mengecam serangan Israel itu dengan menyebutnya sebagai pembantaian.  Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, juga mengutuk serangan mematikan Israel tersebut yang ia sebut sebagai tindakan yang berbahaya dan gila (31/5).  Pemerintah Indonesia pun, melalu Menlu Marty Natalegawa, turut mengecam tindakan Israel ini (Antara, 31/5).

Namun, lagi-lagi para penguasa Arab – Muslim itu hanya mengecam, tidak pernah melakukan langkah nyata, misalnya dengan mengirimkan pasukan dari masing-masing negara mereka untuk melawan kebiadaban Israel.  Padahal sudah nyata dan jelas, bangsa ‘kera’ (Yahudi – Israel) ini tidak pernah mengenal bahasa kecaman dan kutukan.  Yang paling menyakitkan, penguasa Mesir, Husni Mubarak, tetap enggan membuka satu-satunya pintu masuk ke Gaza, yakni pintu Rafah yang berada dalam kekuasaan Mesir.  Rezim Mesir itu tetap tuli dan diam seribu bahasa, sembari dengan tenang dan santai menyaksikan waga Gaza mati secara perlahan karena blokade dan kekejian Israel.

Perlu dicatat, kepengecutan sikap pemerintah Mesir tidak cukup sampai di sini.  Rezim Mesir bahkan meledakkan beberapa terowongan — yang jumlahnya berkisar mulai ari puluhan hingga ratusan — yang menjadi satu-satunya “penghubung” warga Gaza dengan dunia luar.  Tindakan keji mereka ini telah memakan korban puluhan pekerja yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengais sesuap nasi (28/4).  Hanya demi alasan keamanan nasional, rezim Mesir enggan memberi akses keluar bagi warga Gaza yang diblokade. Anehnya, pada saat yang sama, rezim Mesir memberikan jalan bagi pesawat-pesawat Israel untuk berkeliaran di perbatasannya, yang nyata-nyata sebelumnya telah menyerang tentara Mesir.  Bahkan Mesir selalu memohon ijin kepada Israel untuk menambah prajuritnya sekalipun hanya seorang, untuk ditempatkan di perbatasan.  Tampak sekali rezim Mesir bertindak sebagai antek Yahudi-Mesir dan AS.

Wahai Kaum Muslim :

Belum cukup buktikah bahwa Yahudi-Israel adalah penjahat perang?  Belum cukup jelaskah bahwa Amerika Serikat (AS) selalu mendukung setiap kekejian dan kebiadaban Yahudi-Israel atas kaum Muslim di Palestina?  Belum cukup terangkah bahwa para penguasa Muslim selama ini membiarkan begitu saja — bahkan memfasilitasi — setiap tindakan biadab dan brutal Israel atas bangsa Palestina?

Wahai Kaum Muslim :

Sesungguhnya metode membela Palestina saat ini adalah dengan cara memaksa para penguasa Muslim agar memobilisasi pasukan mereka untuk berjihad.  Sebab, Allah SWT telah berfirman :

“Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian dan menghinakan mereka”. (QS. at-Taubah [9] : 14).

Allah SWT telah mengecam siapapun yang mengabaikan panggilan jihad ini :

“Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih”. (QS. at-Taubah [9] : 39).

Wahai Kaum Muslim :

Kekejian dan kebrutalan Yahudi-Israel sesungguhnya akan terus berulang.  Karena itu, umat ini jelas membutuhkan sebuah institusi negara yang kuat, yang bisa menggabungkan seluruh potensi umat Islam; yakni potensi wilayah yang luas, sumber daya manusia dan tentara yang banyak, sumber daya alam yang melimpah serta — yang lebih penting — sumber ideologi yang sahih dan kokoh.  Institusi negara yang kuat dan bisa menyatukan semua potensi itu tidak lain adalah Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafahlah yang pasti akan mampu membebaskan Palestina dan menghancurkan institusi Yahudi sekaligus pelindung dan ‘induk semang’-nya, yakni Amerika Serikat.  Tanpa adanya institusi negara yang kuat (super power) yang mewujud dalam Negara Khilafah, maka masalah Palestina dan seluruh persoalan yang menimpa umat Islam di seluruh dunia tak akan pernah terselesaikan.

Sebagaimana Khilafah pada masa lalu bisa menjadi pelayan, pengayom, dan pelindung umat Islam dari rongrongan dan serangan bangsa-bangsa kafir selama berabad-abad, maka Khilafah pada saat ini dan ke depan yang bisa melakukan hal yang sama.  Hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Israel, AS, dan sekutu-sekutunya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim.  Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad.  Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim.  Rasulullah saw. telah bersabda :

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”. (HR. Muslim)

Sungguh, sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainnya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.  Karena itu, jangan sekali-kali ragu untuk mendukung para pejuang Khilafah, sekaligus berjuang bersama mereka untuk mewujudkanya.

“Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian untuk menuju sesuatu yang menghidupkan kalian”. (QS. al-Anfal [8] : 24)

aa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.