MENYIKAPI PERUBAHAN

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 39, 30 September 2011 M / 03 Dzulqodah 1432 H


“…… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……”. (QS. Ar Rad : 11)


Berubah, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit dilaksanakan.  Banyak orang mengatakan ingin berubah, namun tidak banyak orang yang benar-benar berubah.  Perubahan adalah pertanda kehidupan yang harus dilalui setiap insan demi kelangsungan hidup dan kehidupannya.  Menyikapi perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Manusia hidup akan selalu berubah.  Hari ini ia seorang bayi yang hidupnya tergantung pada orang lain.  Esok ia makhluk kecil yang sesekali jatuh, lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya.  Setelah itu ia menjadi makhluk dewasa yang menghadapi berbagai persoalan.  Begitu juga dengan dunia ini, baik kita sadari ataupun tidak.  Tidak banyak orang yang berani untuk berubah.  Bahkan tidak suka dengan perubahan itu sendiri.  Kenapa?  Karena pada dasarnya ia telah merasa nyaman pada kemapanan.  Hal itulah yang membuat sebagian besar di antara kita sulit untuk merubah diri.

Keharusan Beradaptasi

Kalau boleh jujur, seringkali kita tidak mengizinkan diri kita untuk berubah.  Sehingga kita seringkali menjauhkan diri dari fitrah Allah SWT untuk selalu memuliakan dan mensejahterakan kita.  Lantas jika sudah begitu, kita pun selalu menyesali diri, menganggap semuanya serba salah merasa tidak punya masa depan, sementara sikap dan pikiran negatif saat melihat kesuksesan orang lain selalu menyelimuti pikir, jiwa kita.

Padahal, sikap dan pola pikir itu akan mematikan kemampuan adaptasi kita dalam menghadapi perubahan.  Kita tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan  berbagai kondisi yang kita hadapi secara cepat dan “up to date”.  Akibatnya, kita akan tertinggal dengan perubahan itu sendiri.  Kita akan  berada sangat jauh dari orang-orang yang berada lebih dulu dari kita karena mereka telah berhasil melewati rintangan hidup saat itu dengan pola pikir yang baru.  Hal ini sangatlah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Peter Drucker, pakar Ekonomi dan Manajemen, bahwa  bahaya terbesar dalam perubahan adalah bukan perubahan itu sendiri tetapi cara berpikir kemarin yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.

Berubah, juga merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah SWT.  Sangatlah naif dan keliru jika ada sebagian di antara kita yang beranggapan, bahwa bersyukur adalah menerima apa adanya tanpa ada upaya untuk membuat nikmat itu menjadi lebih bermanfaat bagi semua pihak.

Karakteristik Perubahan

Namun sayangnya tidak semua orang paham tentang perubahan itu sendiri.  Setidaknya ada beberapa karakteristik perubahan yang perlu kita pahami :

Pertama, perubahan itu sangat misterius.  Tidak asa seorang pun yang dapat menduga kapan, dimana, dan bagaimana perubahan itu datang dan pergi.  Yang jelas kita harus selalu siap menghadapinya.  Tidak pernah ada seorang pun mengira bahwa  bahwa rezim Orde Baru yang kuat dapat jatuh dalam waktu singkat, begitu juga dengan tokoh-tokoh dunia yang kelihatannya mustahil untuk jatuh, ternyata hancur sekejap mata oleh perubahan.

Kedua, perubahan itu ibarat gelombang, bahkan seperti sebuah kurva yang naik dan turun.  Ada kalanya hidup kita berada di titik puncak kurva kesuksesan hidup, namun tidak sedikit dari kita yang saat ini terpuruk di bawah titik kurva tersebut.  Satu hal yang perlu diwaspadai adalah jika dalam hidup anda merasakan kenyamanan, ketenangan, kemapanan, dan stabil dalam hidup, hati-hatilah, mungkin sebenarnya anda sedang menuruni kurva kehidupan.  Tetapi jika anda merasakan keletihan, kesusahan dalam setiap upaya yang anda lakukan sehingga hampir saja itu membuat anda putus asa, maka jangan bersedih, karena sebenarnya anda sedang menanjak menuju titik puncak kurva anda.

Ketiga, perubahan butuh “change maker”.  Orang yang menjadi pemimpin dalam perubahan itu, yang mampu meyakinkan setiap orang dan memberikan harapan hidup kepada setiap insan, yang memiliki visi ke depan dan berani menghadapi segala resiko dari melakukan perubahan tersebut.  Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, mati ditembak.  Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah.  Namun mereka telah berhasil menorehkan perubahan kepada umat manusia.

Keempat, tidak semua orang dapat diajak melihat perubahan.  Sebagian besar orang malah hanya melihat dengan persepsi.  Hanya mampu melihat realitas, tanpa mampu memiliki kemampuan dan kemauan melihat masa depan, sehingga dibutuhkan orang-orang yang visioner untuk itu.

Kelima, perubahan terjadi setiap waktu.  Seringkali perubahan tidak memberikan harapan yang baik.  Perubahan dapat memberikan pembaharuan atau bahkan kehancuran.  Sehingga dengan begitu, perubahan selalu tidak mengenakkan bagi setiap insan (pada umumnya), menakutkan, dan menimbulkan kepanikan.  Tidak ada orang yang mampu melihat hasil apa yang terjadi di masa depan, namun banyak orang yang mampu memprediksi dan merencanakan perubahan di masa depan.

Orang-orang yang survive dalam gelombang perubahan adalah mereka yang tidak pernah puas terhadap “comfort zone” mereka.  Mereka selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik dan rela meninggalkan arena nyaman mereka demi posisi baru tersebut.  Berbeda denga orang-orang yang berstatus quo, mereka lebih puas dengan mereka peroleh kemarin.

Hidup adalah perubahan, perubahan adalah kehidupan.  Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.  Bahkan kematian sendiri pun bukanlah akhir dari kehidupan dan bukan akhir dari perubahan.  Melainkan kelanjutan dari kehidupan sebelumnya.  Artinya, hanya orang-orang yang mau dan mampu berubahlah yang memiliki segalanya.  Yang berhasil dalam hidup mereka.  Lantas bagaimana anda sekarang?  Apakah anda sebagai orang yang mau berubah atau yang diubah?


Wallahu a’alam bish shawab
.

PERSIAPAN MENGHADAPI RAMADHAN

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 30, 29 Juli 2011 M / 28 Sya’ban 1432 H

.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan”.  (HR. Baihaqi)

Pertengahan Sya’ban sudah berlalu.  Ramadhan 1432 H tinggal 2 hari lagi.  Tamu istimewa itu akan datang dan membersamai kamu muslimin.  Mereka yang siap dengan kedatangannya insya Allah akan lebih optimal dalam mengisi Ramadhan 1432 H ini.  Persiapan adalah keniscayaan.  Waktu terus berjalan, tanpa pernah berhenti.  Hari yang berganti hari, bulan yang berganti bulan, dan tahun yang berganti tahun, dalam semua perputaran waktu itu Allah senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita.  Setelah kenikmatan-kenikmatan lainnya dianugerahkan kepada kita tanpa bisa kita hitung jumlahnya, bahkan seringkali tidak kita sadari kehadirannya.  Maka, marilah kita berusaha mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.  Marilah kita bersama-sama berupaya menjadi hamba-Nya yang bersyukur.  Dengan bersyukur kita akan lebih mudah menjadi hamba-Nya yang bertakwa.  Lihatlah bagaimana ketika Rasulullah saw. berdiri begitu lama dalam shalat malamnya hingga kaki beliau bengkak.  Saat Aisyah bertanya dengan menyebutkan keutamaan beliau yang telah dijamin ampunan atas segala dosanya, beliau justru menjawab dengan sabdanya yang mulia : Tidak bolehkah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?  Jadi, syukur sangat erat kaitannya dengan takwa.  Bahkan keduanya identik.  Tidak ada orang yang mampu mencapai derajat takwa tanpa bersyukur.  Sebaliknya, syukur akan mengantarkan seorang hamba mencapai ketakwaan.  Di antara kenikmatan itu adalah sampainya usia kita di akhir bulan Sya’ban ini.  Sebentar lagi kita akan memasuki bulan istimewa.  Bulan yang penuh dengan keutamaan.  Yakni bulan Ramadhan yang mulia.  Pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap dalam menyambutnya?  Jika para sahabat dan salafusshalih telah mempersiapkan diri dua bulan sebelum Ramadhan tiba, sebagaimana doa yang masyhur, yang mengisyaratkan persiapan ini : “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” (HR. Baihaqi).  “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan” (HR. Ahmad).  Maka kita yang tinggal 2 – 3 hari lagi mengakhiri Sya’ban ini pantaslah jika mengevaluasi persiapan kita menghadapi Ramadhan.  Bagi yang telah siap, alhamdulillah.  Bagi yang belum, kita segera bangkit untuk memenuhi persiapan-persiapan ini.  Setidaknya ada empat persiapan bagi kaum muslimin untuk menghadapi bulan Ramadhan.

Persiapan Pertama adalah Persiapan Ruhiyah.

Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.  Pengokohan aqidah adalah pondasi utama dalam persiapan ruhiyah ini.  Tanpa aqidah yang benar, bisa jadi seseorang justru terjatuh dalam syirik.  Dan kesyirikan selamanya takkan berbuah keikhlasan.  Aqidah yang benar adalah kuncinya.  Karenanya surat di dalam Al Qur’an yang kesemuanya membahas aqidah dinamakan surat Al-Ikhlas.  Membersihkan hati atau tazkiyatun nafs juga hal yang urgen dilakukan dalam menyambut tamu Allah yang istimewa ini.  Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya : “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syam : 9).  Maka dalam waktu 2 hari ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri (muhasabah) apakah penyakit-penyakit aqidah masih menjangkiti diri kita.  Selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu.  Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.  Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.  “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Kedua adalah Persiapan Fikriyah

Agar Ramadhan kita benar-benarefektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah.  Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan.  Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan hukum puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa.  Juga tarawih, i’tikaf, zakat, dan sebagainya.  Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiqq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardhawi, dan lain-lain.  Kita pun bisa mengikuti taklim di lingkungan kita, baik majelis taklim yang diadakan di masjid, di pondok pesantren, maupun tempat-tempat lain.  Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal).  Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar’i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang.  Karena Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama” (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan Ketiga adalah Persiapan Jasadiyah

Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik.  Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal.  Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.  Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa.  Rasulullah saw. bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dll.)

Persiapan Keempat adalah Persiapan Maliyah

Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramadhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain.  Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infak, memberi ifthar (buka puasa) orang lain, dan membantu orang yang membutuhkan.  Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakat maal-nya.  Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji Rasulullah saw.  Rasulullah mencontohkan bahwa beliau yang begitu dermawan di hari-hari biasa, bertambah sangat dermawan di bulan Ramadhan mengalahkan angin yang berhembus.  “Rasulullah saw. adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan.  Beliau bertemu Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al Qur’an.  Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin” (HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah saw. bertambah hebat ketika bulan Ramadhan.  Ini mengajarkan kepada umat beliau bahwa Ramadhan sebagai bulan yang paling utama dengan pelipatgandaan pahala amal kebajikan hendaklah dioptimalkan dengan memperbanyak infaq dan meningkatkan kualitasnya.

Wallahu a’alam bish shawab

.

HEMAT DALAM KETAATAN

Oleh : Prof. Dr. Achmad Satori Ismail

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 9, 4 Maret 2011 M / 29 Robiul Awal 1432 H

.

“Wahai Abdullah, bukankah aku telah diberitahu bahwa engkau selalu puasa siang hari, dan qiyamullail malam harinya?  Aku menjawab : Benar Ya Rasulullah.  Lalu Beliau bersabda : jangan kau lakukan itu terus menerus tapi puasalah dan berbukalah, tahajudlah dan tidurlah karena sesungguhnya jasadmu punya hak atas kamu, kedua matamu juga punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tetanggamu punya hak atasmu.  Sesungguhnya cukup bagimu puasa sebulan 3 hari (puasa ayyamul biidh) karena setiap kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat, berarti kamu seakan puasa satu tahu”.  Maka Akupun minta ditambah berat amalannya sera berkata : Ya Rasulullah, aku masih memiliki kekuatan untuk itu.  Beliau bersabda : kalau begitu, Puasalah seperti puasanya Nabi Daud as. dan jangan lebih dari itu.  (HR. Bukhari)

Itulah sebuah contoh dialog indah antara Rasulullah saw. dengan seorang sahabat yang ingin menghabiskan kekuatan dan waktunya untuk puasa.  Dalam petikan dialog ini kita bisa menarik beberapa point penting :

1. Betapa hebatnya semangat para sahabat terdahulu untuk menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah SWT.  Sungguh berbeda dengan jaman sekarang yang sebagian umatnya sudah terseret ke dalam dunia materialistis dan individualis.

2. Rasulullah saw. melarang berlebih dalam ibadah mahdhah sebab akan berakibat mengesampingkan atau minimal akan menggeser kewajiban lainnya.  Bagaiman dengan berlebihan dalam bidang materia yang menguasai seluruh jiwa manusia.

3. Keharusan untuk melakukan keseimbangan dalam seluruh aspek kehidupan.

Demikianlah Allah menghendaki umat Islam hidup bahagia dunia dan akhirat.  Untuk itu Al Qur’an dan As Sunnah meletakkan berbagai aturan untuk mencapai tujuan itu.  Keseimbangan dalam semua aspek kehidupan merupakan asas kebahagiaan utuh di dunia karena manusia telah diciptakan dalam keseimbangan.  Ia terdiri dari ruh dan jasad, sesuai dengan ukuran yang ditetapkan Allah.  Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami menciptakan sesgala sesuatu menurut ukuran”.  (QS. Al Qomar [54] : 49).  Lain daripada itu, kita sebagai  muslim selalu berada di antara dua kutub yang saling menarik yaitu individu dan sosial, dunia dan akhirat, material dan spiritual, dan seterusnya.  Semuanya harus kita padukan secara seimbang.  Ketika seseorang menanyakan sesuatu tentang takdir melalui surat yang dilayangkan kepada Umar bin Abdil Aziz beliau membalas : ….. Aku menasihatimu agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan tidak berlebihan dalam melaksanakan perintah-Nya dan selalu mengikuti sunnah Nabi-Nya saw. dan meninggalkan hal bid’ah yang dimunculkan orang-orang terkemudian setelah jelas berlakunya aturan-aturan hukum-Nya …… (Kitab Shohih Muslim)

Berlebihan dalam ketaatan akan menyulitkan diri sendiri.  Bagaimana kita bisa melakukan semua perintah Allah kalau kita tenggelam terus dalam ibadah mahdhah tanpa memperhatikan ibadah ghair mahdhah.  Ibadah bukan hanya sholat dan puasa saja.  Tapi di sana masih banyak lapangan ibadah yang harus kita lakukan sesuai dengan kemampuan dan asas keseimbangan.  Bukankah bekerja dengan baik untuk mencari nafkah itu ibadah.  Bukankah menikah dengan tujuan agar tidak terjerumus dalam perzinahan adalah ibadah.  Bukankah menorong orang kain juga ibadah?  Di sinilah rahasianya mengapa Rasulullah marah ketika diceritakan kepadanya tentang seorang wanita yang amat banyak sholatnya tanpa mengesampingkan ibadah sosial. seraya  berkata, “Hindairilah berlebihan seperti itu.  Kamu haris melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuanmu.  Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT tidak akan bosan sampai kamu benar-benar”.  Sesungguhya ketaatan beragama yang disenangi oleh Allah SWT adalah ibadah yang dilakukan secara rutin” (Muttafad  a’allaih)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. ia berkata : Diceritakanlah kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang sangat rajin beribadah sehingga berlebihan, maka beliau bersabda : “Itulah kobaran semangat islam dan puncaknya.  Setiap kobaran semangat ada puncaknya.  Setiap puncak memiliki kekenduran.  Maka barang siapa yang kekendurannya menuju kepada kesederhanaan dan kesudahan maka sungguh lestari dia, tapi bila kekendurannya menuju kepada maksiat menuju kepada maksiat maka celakalah (Sunan Ibni Majah).

Kesederhanaan dan hemat dalam ketaatan adalah ajaran Islam yang sesungguhnya.  Istilah hemat dalam ketaqwaan itu bukan berarti kita bermalas-malasan dalam ibadah, tapi kita harus menerjuni dunia ibadah seperti akan mati besok dan harus rajin menerjuni urusan dunia seperti akan selamanya hidup didunia.  Bila kita ingin maju memimpin dunia, kita harus seimbang dalam semua aspek kehidupan kita.  Dan kita harus paling berkualitas dalam semua urusan tapi syaratnya tetap harus memperhatikan aspek keseimbangan.  Ketika beribadah kita khusyuk dan berkualitas serta ketika kita bekerja, mengajar, berdakwah, bertani, berdagang, memimpin, dan seterusnya harus dilakukan semuanya dengan kualitas tinggi.  Apalagi di era globaisasi sekarang ini, kita tidak boleh tenggelam terus dalam ibadah mahdhah tanpa mengarungi suatu perjuangan di bidang keduniaan, pendidikan, pertanian, perdagangan, dan seterusnya.

Agama adalah aturan untuk manusia agar bahagia.  Maka agama pun tidak menyulitkan manusia dan tidak memberikan beban di atas kemampuannya, sebagaimana difirmankan Allah : “Sesungguhnya Allah menginginkan kemudahan untuk kamu dan tidak menginginkan kesulitan” (QS Al Baqarah [2] : 185).  Rasulullah pun menegaskan hal ini dengan sabdanya : “Agama adalah mudah maka tidak adalah seorang yang mempersulit agama kecuali ia akan kalah.  Sebab itu sedang-sedanglah kamu dan berdekat-dekatlah dan buka harapanmu dan pergunakan waktu pagi dan sore dan sedikit waktu malam”.  Dalam riwayat lain : “Sedang-sedanglah kamu dan hampirkan dirimu dan gunakan waktu pagi dan sore dan sedikit waktu malam.  Bersenang-senanglah kamu agar bisa sampai (HR. Bukhari).

Wallahu a’alam bish shawab
.

INILAH KESHALEHAN …

Oleh : Ust. Drs. H. Najmuddin, Lc.

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 21, 3 Juni 2011 M / 2 Rajab 1432 H

.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Keshalehan atau kebaikan sering dimaknai secara tidak pas atau terkadang parsial (sebagian).  Misalnya tatkala kita mengukur keshalehan seseorang dengan tampilan fisik (busana) atau melihat satu dua aspek ibadah mahdhah yang ditekuni.

Pemaknaan yang benar hendaknya tidak hanya melihat tampilan fisik saja, melainkan sikap dan perilaku pula.  Demikian juga dengan ibadah, hendaklah dilihat secara integral, jangan hanya karena satu dua aspek peribadatan.  Karena yang dikehendaki dengan ibadah adalah pada dua kategori, yaitu ibadah mahdhah (khusus) dan amah (umum).  Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh aktifitasnya, kesemuanya itu kita upayakan bermakna ibadah dengan jalan menyelaraskan dengan ketentuan syariat Allah dan Rasul-Nya (lihat QS. Al Baqarah [2] : 208)

Di samping itu, keshalehan hendaknya tidak hanya dirasakan kebaikannya oleh pribadi yang bersangkutan, namun dirasakan juga oleh orang lain.  Dalam hal ini adalah keluarga dan masyarakat.  Rasulullah saw. mengajarkan sekaligus mencontohkan agar kita senantiasa berbuat baik kepada keluarga sebagaimana beliau menjadi orang yang paling baik bagi keluarganya.  Ada pun keshalehan untuk masyarakat kita melihat firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 177.  Keshalehan bahkan juga seharusnya dirasakan oleh alam sekitar, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw. : “Tidaklah seorang mukmin menanam satu pohon lalu burung memakan buahnya atau manusia atau binatang lainnya, melainkan ia mendapatkan pahala kebaikannya” (HR. Bukhari - Muslim).

Demikianlah, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa keshalehan atau kebaikan yang integral (menyeluruh) meliputi :
1. Keshalehan / kebaikan pribadi
2. Keshalehan / kebaikan terhadap keluarga
3. Keshalehan / kebaikan terhadap masyarakat
4. Keshalehan / kebaikan terhadap lingkungan.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
.

JANGAN PERNAH LENGAH

Sumber : www.ikadi.co.id

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 21, 3 Juni 2011 M / 2 Rajab 1432 H

.
“Hendaklah, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  
(HR. Bukhari)

.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, seorang mukmin akan selalu memandang dosanya seperti halnya orang yang duduk di bawah kaki gunung dan ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya.  Sedangkan, orang yang fajir (yang maknanya berlawanan dengan kata mukmin) akan memandang dosanya seperti lalat yang terbang dan hinggap di batang hidungnya”.  (HR. Bukhari).  Lebih lanjut, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah lebih gembira dengan taubat hamba-hamba-Nya dibandingkan dengan seseorang yang turun pada satu tempat yang sudah hancur, sambil membawaa air dan makanan di hewan tunggangannya.  Tak lama kemudian, ia menyandarkan kepalanya, lalu tertidur pulas.  Ketika bangun, ia tidak menembukan hewan tunggangannya tersebut hingga ia diserang hawa panas sampai kehausan dan kelaparan.  Ia lantas memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.  Setelah mencari ke sana kemari dan tidak menemukan yang dicarinya, ia lantas berkata, ‘Aku akan kembali saja ke tempatku semula’.  Setelah sampai, ia kembali tidur pulas.  Ketika bangun, hewan tunggangannya telah kembali berada di sisinya”. (HR. Bukhari)

Manusia bisa juga disebut insan, karena mereka dalam hal-hal tertentu sering lupa dan lalai untuk berbuat kebaikan.  Kelalaian ini akhirnya berujung dosa dan kesalahan akibat pelanggaran yang dilakukan terhadap rambu-rambu yang Allah SWT sudah tentukan.  Padahal dosa adalah nilai buruk di sisi Allah SWT yang akan membuat seorang hamba menderita di hari akhirat kelak.  Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah dan dosa.  Ini yang Nabi saw. singgung dalam hadits lain, bahwa iman manusia itu sifatnya fluktuatif (kadang tinggi, sedang, dan rendah).  Berbeda dengan iman para Malaikat yang stabil dan tidak pernah berubah.  Atau berbeda pula dengan iblis yang selalu berada di tingkat rendahnya.

Pada saat manusia berada pada puncak keimanan, ia akan bisa melampaui iman para malaikat.  Namun, ketika imannya rendah, ia bisa lebih rendah dari iblis.  Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami akan isi api neraka jahanam dengan kebanyakan jin dan manusia, karena mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah).  Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf [7] : 179)

Ketika iman berada pada titik nadirnya yang paling mengkhawatirkan, di sinilah dosa-dosa itu bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Pada saat seperti ini, Allah SWT menegur hamba-hamba-Nya untuk segera bertaubat.  Karena, dengan taubat itulah, seorang yang telah berdosa dijamin pasti akan diampuni, sehingga kembali lagi ke level iman tertingginya.  “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian semuanya jika bertaubat.  Sesunggunya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar [39] : 53)

Lengah menjaga dan memperkuat iman berarti memudahkan syetan menguasai diri kita.  Lengah mengingat Allah berarti melemahkan pertahanan diri dari serangan syetan.  Lengah memadati waktu demi waktu dengan amal shaleh berarti memudahkan diri terjerumus dalam tindakan salah atau sia-sia.  Lengah mengendalikan diri dari penguasaan malas berbuat kebaikan berarti kemungkinan besar menyeret diri pada situasi yang berbuah penyesalan.  Lengah membiarkan iman menurun drastis tanpa kesadaran dan perlawanan, adalah ancaman serius akan terjerumus pada su’ul khatimah.

Wallahu a’alam bish shawab
.

MALU BAGIAN DARI IMAN

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Bina Edisi 14_08 April 2011 M / 5 Jumadil Awal 1432 H

Sumber : www.ikadi.co.id
.
.
.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya”. (HR. Abu Hurairah ra).
.

Mari kita merenungi satu pelajaran yang disampaikan Rasul saw.  Pelajaran yang sejak lama sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, sudah diajarkan oleh para nabi kepada kaum-kaum mereka.  Pelajaran berharga yang merupakan cabang dari iman.  Pelajaran itu adalah pelajaran sikap malu.  Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda : Bahwa di antara wasiat yang disampaikan kepada umat para Nabi terdahulu adalah “Jika Anda tidak malu, maka lakukan apa yang Anda sukai”. (HR. Bukhari).  Wasiat tersebut menggambarkan pentingnya rasa malu.  Bahwa rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia.  Bisa mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa.  Dan bila tidak ada rasa malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya.  Tentunya rasa malu yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya adalah malu untuk melakukan kesia-siaan.  Malu dalam melakukan maksiat dan dosa.  Karena malu yang seperti ini adalah malu yang terpuji (al-hayaa’ almahmuud).

Malu melakukan hal yang sia-sia apalagi dosa merupakan indikasi baiknya seseorang.  Karena malu yang seperti ini adalah bagian dari iman.  Rasulullah saw. menyebutnya secara khusus sebagai bagian dari iman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. : Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya.  Bukan malu untuk melakukan kebaikan.  Karena malu untuk melakukan kebaikan adalah pertanda kelemahan, sebagaimana disampaikan Syekh Bugha dalam Kitab Al-Wafii ketika menerangkan hadits tersebut.  Malu dalam hal ini adalah malu yang tercela (al-hayaa’ al-madzmuum).

Dalam kehidupan sehari-hari kita, tentunya tidak luput dari perasaan malu.  Rasa malu itu timbul lantaran banyak hal.  Apakah malu lantaran status sosial yang rendah, malu lantaran kondisi ekonomi yang lemah, malu lantaran wajah dan fisik yang buruk, dan seterusnya.

Apa yang harus kita sadari adalah, kita harus lebih merasakan malu lantaran kealpaan kita dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.  Kita harus lebih merasakan malu lantaran melakukan hal yang sia-sia.  Malu lantara melakukan maksiat dan dosa.  Malu lantaran menelantarkan kewajiban-kewajiban kita.

Jangan sampai kita malu lantaran kondisi lemah ekonomi kita, tetapi tidak malu dengan kondisi lemah keberagamaan kita.  Jangan sampai kita malu lantaran rendahnya posisi sosial kita, namun kita tidak malu lantaran rendahnya akhlak kita.  Jangan sampai kita malu lantaran buruknya wajah dan tubuh kita, namun kita tidak malu lantaran buruknya ketakwaan kita.  Padahal standar hakiki kemuliaan seorang hamba adalah takwa.  Allah SWT. berfirman : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuraat [49] : 13)

Begitu pula siapa yang memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, jangan sampai kondisi tersebut melupakannya untuk merasa rendah dan diri malu di sisi Allah SWT.  Apa yang menjadi kebanggaan kita adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

Seorang yang kaya tetap tidak dipandang Allag SWT. ketika ia jauh dari akhlak dan ibadah kepada-Nya.  Seorang yang tinggi pangkat tetap tidak mendapat kemuliaan dari Allah ketika ia tidak menghiasi dirinya dengan ketakwaan.  Seorang yang fisiknya bagus seharusnya malu ketika akhlaknya tidak bagus.  Karena fisik, wajah, dan standar duniawi tidak
berlaku di hadapan Allah SWT.  Rasul saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. : Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan wajah kalian, tetapi Allah memandang kepada hati kalian. (HR. Muslim)

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana menumbuhkan rasa malu yang terpuji (al-hayaa’ al-mahmuud)?

Pada prinsipnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Wafii syarah Arba’in nawawi, rasa malu dalam diri manusia bisa dibagi dari sisi pertumbuhannya menjadi dua macam, yaitu :

Pertama, rasa malu yang ada secara fitrah (alhayaa’alfithriy).  Rasa ini timbul secara otomatis dalam diri manusia.  Malu untuk melakukan keburukan sebenarnya adalah fitrah manusia.  Karena memang setiap anak manusia itu lahir dalam keadaan fitrah.  Namun rasa malu ini akan dipengaruhi dengan proses selanjutnya.

Kedua, rasa malu yang ditumbuhkan (alhayaa’ almuktasab).  Rasa malu bisa ditumbuhkembangkan dalam jiwa seseorang.  Karena rasa malu merupakan bagian dari akhlak,  dan akhlak adalah sesuatu yang bisa diupayakan untuk tumbuh dalam diri manusia.  Ada satu langkah yang utama dan pertama untuk menumbuhkan rasa malu yang terpuji, yaitu mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah), untuk selanjutnya akan menumbuhkan rasa pengawasan-Nya (muraqabatullah).  Mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah) dapat dilakukan dengan membaca dan merenungi Al Quran untuk mengenal Allah SWT.  Allah SWT. adalah zat yang maha mengetahui, zat yang maha melihat, zat yang maha mendengar, zat yang maha mengawasi, dan seterusnya.  Misalnya Allah SWT. menerangkan sifat-Nya dan mengenalkan diri-Nya dalam ayat : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (Al-An’am [6] : 59)

Wallah a’lam bi ash shawab

 .

MANAJEMEN PEMBELANJAAN DAN POLA KONSUMSI ISLAMI

Oleh : Drs. Setiawan Budi Utomo

Sumber : www.dakwatuna.com

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 05, 4 Februari 2011 M / 1 Rabiul Awal 1432 H

 

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.  Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.  Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.  Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (QS. At Thalaq [65] : 7)

Yang dimaksud pengeluaran atau pembelanjaan adalah mengelola harta yang halal untuk mendapatkan manfaat material atau pun spiritual sehingga membantu para anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhannya.  Dalam hal ini terdapat beberapa jenis pembelanjaan yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang, dan pembelanjaan dengan jalan baik (amal shaleh) untuk mendapatkan pahala di akhirat, seperti zakat dan sedekah.  Syariat Islam mengajarkan beberapa aturan yang mengatur pembelanjaan keluarga muslim, di antaranya secara garis besar adalah :

1.  Komitmen Pembelanjaan dan Pemenuhan Kebutuhan Dana adalah Kewajiban Suami

Suami bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya sesuai dengan kebutuhan dan batas-batas kemampuannya.  Rasulullah bersabda : “barang siapa yang menafkahkan hartanya untuk istri, anak, dan penghuni rumah tangganya, maka ia telah bersedekah”. (HR. Thabrani).  Hadits ini mensyariatkan bahwa pemenuhan kebutuhan dana atau pembelanjaan untuk anggota keluarga itu akan berubah dari bentuk pengeluaran yang bersifat material (nafkah) menjadi pengeluaran yang bersifat spiritual ibadah (infaq) yang membawa pahala dari Allah.

Rasulullah saw. bersabda dalam Haji Wada’ : “Ayomilah kaum wanita (para istri) karena Allah, sebab mereka adalah mitra penolong bagimu.  Kamu telah memperistri mereka dengan amanah Allah dan kemaluan mereka menjadi halal bagimu dengan kalimat Allah.  Kamu berhak melarang mereka untuk membiarkan orang yang engkau benci memasuki kediamanmu.  Mereka berhak atasmu untuk dipenuhi kebutuhan nafkah dan pakaian secara lazim”.

Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan pernah mendatangi Rasulullah dan bercerita bahwa Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit, “ia tidak pernah memberiku dan anak-anakku nafkah secara cukup.  Oleh karena itu aku pernah mencuri harta miliknya tanpa sepengetahuannya”. Lalu rasul bersabda : “Ambillah dari hartanya dengan ma’ruf (baik-baik) sebatas apa yang dapat mencukupimu dan anakmu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.  Kewajiban Menafkahi Orang Tua yang Membutuhkan

Di antara kewajiban anak adalah memberi nafkah kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia (jompo) sebagai salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua,  seperti disyariatkan Al Qur’an : “Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra : 23).  Rasul bersabda : “Kedua orang tua itu boleh makan dari harta anaknya secara ma’ruf (baik) dan anak tidak boleh memakan harta kedua orang tuanya tanpa seijin mereka”. (HR. Dailami).

Menurut Ibnu Taimiyah, seorang anak yang kaya wajib menafkahi bapak, ibu, dan saudara-saudaranya yang masih kecil.  Jika anak itu tidak melaksanakan kewajibannya, berarti ia durhaka terhadap orang tuanya dan berarti telah memutuskan hubungan kekerabatan.  Selain itu, suami dan istri harus percaya bahwa memberi nafkah kepada orang tua adalah suatu kewajiban seperti halnya membayar utang kedua orang tua yang bersifat mengikat dan bukan sekadar sukarela.  Hal itu tidak sama dengan memberikan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan yang sifatnya kebajikan.

3.  Istri Boleh Membantu Keuangan Suami

Jika seorang suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya karena fakir, istri boleh membantu suaminya dengan cara bekerja atau berdagang.  Hal itu merupakan salah satu bentuk ta’awun ‘ala birri wat taqwa (saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) yang dianjurkan Islam.  Selain itu, istri pun boleh memberikan zakat hartanya kepada suaminya yang fakir atau memberi pinjaman kepada suami apabila suami tidak termasuk fakir yang berhak menerima zakat.

4.  Istri Bertanggung Jawab Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Telah dijelaskan bahwa suami wajib berusaha dan bekerja dari harta yang halal dan istri bertanggung jawab mengatur belanja dan konsumsi keluarga dalam koridor mewujudkan lima tujuan syariat Islam, yaitu dalam rangka memelihara agama, akal, kehormatan, jiwa, dan harta.  Sabda Rasulullah : “IStri adalah pengayom bagi rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas aset rumah tangga yang diayominya …” (HR. Bukhari).  “Bila seorang istri menyedekahkan makanan rumah tanpa efek yang merusak kebutuhan keluarga, maka dia mendapat pahala dari amalnya.  Demikian pula suami mendapatkan pahala dari hasil usahanya, demikian pula pelayan mendapatkan bagian pahala tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun”. (HR. Thabrani).

5.  Istri Berkewajiban untuk Hemat dan Ekonomis

Rasulullah saw. bersabda : “Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat”. (HR. Ahmad).  Selain itu ia harus realistis menerima apa yang dimilikinya (qana’ah). Rasul bersabda : “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki cukup dan menerima apa yang Allah berikan kepadanya”. (HR. Muttafaq ‘Alaih).

6.  Seimbang Antara Pendapatan dan Pengeluaran yang Bermanfaat

Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya.  Ia harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, tidak boros dan konsumtif.  (QS.  Al Baqarah [2] : 236, 286) Abubakar pernah berkata : “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja”.

Ketika Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik.  Islam juga menganjurkan agar hasil usahanya dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat.  Keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan, harus berprinsip pada pola konsumsi Islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) di samping manfaat (utility) sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat.  (QS. Al Baqarah [2] : 172; Al Maidah [5] : 4; Al A’raf [7] : 32).  Dalam berumah tangga, suami istri hendaknya memiliki konsep bahwa pembelanjaanhartany akan berpahala jika dilakukan untuk hal-hal yang baik dan sesuai dengan perintah agama.

7.  Skala Prioritas Pengeluaran (Perlu/Needs v.s. Ingin/Wants)

Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat.  Ada tiga jenis kebutuhan rumah tangga, yaitu :

a.  Kebutuhan Primer, yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan).  Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan, dan pernikahan.

b.  Kebutuhan Sekunder, yaitu kebutuhan untuk memudahkan hidup agar jauh dari kesulitan.  Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi.  Kebutuhan ini pun masih berhubungan dengan lima tujuan syariat.

c.  Kebutuhan Pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia.  Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder serta semuanya berkaitan dengan tujuan syariat.

Prioritas konsumsi dan pembelanjaan ini juga terkait dengan prioritas hak-hak yaitu hak terhadap diri (keluarga), Allah (agama), dan orang lain.  Orang lain juga diukur menurut kedekatan nasab dan rahim, yang paling utama adalah orang tua kemudian saudara.  (QS. Al Anfal [8] : 75).

Aplikasi aturan-aturan di atas menuntut peran ibu rumah tangga untuk memperhitungkan pengeluaran rumah tangga secara bulanan berdasarkan tiga kebutuhan di atas, dengan tetap menyesuaikannya dengan pendapatan, sehingga rumah tangga muslim terhindar dari masalah-masalah perekonomian yang ditimbulkan atau sikap boros untuk hal yang bukan primer.

Islam mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan karena dapat mengundang kerusakan dan kebinasaan.  Allah berfirman : “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.  (QS. Al Isra’ [17] : 16).  Selain itu, bergaya hidup mewah merupakan salah satu sifat orang-orang kufur terhadap nikmat Allah.  Firman-Nya : “Pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia …” (QS. Al Mu’minun [23] : 33)

8.  Bersikap Pertengahan dalam Pembelanjaan

Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala hal termasuk dalam manajemen pembelanjaan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kikir atau terlalu ketat.  Sikap berlebihan adalah sikap hidup yang dapat merusak jiwa, harta, dan masyarakat.  Sementara kikir adalah sikap hidul yang menimbulkan sikap memonopoli dan menganggurkan harta.

Kedua pola ekstrim dalam konsumsi itu memiliki mendekatkan sifat mubadzir.  Firman Allah swt : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan, (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (QS. Al Furqon [25] : 67).

Jika pembelanjaan kita telah sesuai dengan aturan-aturan Islam, Allah akan memberikan kelebihan hasil usaha agar kita dapat menyimpan dan menabungnya untuk menjaga datangnya hal-hal yang tidak terduga atau untuk menjaga kelangsungan hidup generiasi yang akan datang.

Wallahu a’alam bish shawab

.

ENAM PERUSAK UKHUWAH

Oleh : Drs. Ahmad Yani

Sumber : www.dakwatuna.com

Disalin dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 52, 17 Desember 2010 M / 11 Muharram 1432 H

 

“Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujurat [49] : 10)

Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesauan atau lebih sering disebut ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati.  Karena itu, ketika Nabi saw. berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar.  Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah hendak diperkokoh atau malah sudah kokoh, ada saja upaya orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merusak hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong.

Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya.  Karena itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu.  Allah SWT. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al Hujurat [49] : 6).

Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut adalah, suatu ketika Al-Harits datang menghadap Nabi Muhammad saw., beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk membayar zakat.  Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kempung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya”.  Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang.  Maka Al-Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun di tengah perjalanan hati Al-Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al-Harits tidak mau menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya.  Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits.  Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus kepadamu”.  Al-Harits bertanya, “Mengapa?”  Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya”.  Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihat dan tidak ada yang datang kepadaku”.  Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?”  “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian”.  Maka turunlah ayat itu.

Surat Al Hujurat ayat 6 di atas menggunakan kata naba’ bukan khabar.  M. Quraish Shihab dalam bukunya “Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu.  “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al Quran memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting.  Ada pun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karen hanya akan menyita waktu dan energi”.

Enam Perusak Ukhuwah

Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan.  Di samping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara.  Allah SWT. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.  Dan bertaqwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat [49] : 11 – 12)

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara : Pertama, memperolok-olokkan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan, dan permusuhan.  Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita.

Kedua, mencaci dan menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar.  Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan ia pun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai.  Kekurangsn secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu.  Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan.  Memanggil orang dengan sifat gelar yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengsn si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya.  Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad).  Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenikmatan atau keberhasilan.  Sikap seperti ini harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah.

Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri.

Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang.  Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari.  Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.  Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

Wallahu a’alam bish shawab

.

 

MENYIKAPI BENCANA

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 46, 12 November 2010 M / 05 Dzuhijjah 1431 H

Sumber : www.ikadi.com

 

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Mereka itulah yang mendapat
keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(QS. Al Baqarah [2] : 155 - 157)

Tidak hanya sekali dua bencana terjadi di negeri ini.  Mulai dari banjir bandang, semburan lumpur, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, sampai tsunami.  Semuanya silih berganti melanda negeri ini.

Mengapa bencana demi bencana senantiasa melanda?  Para ilmuwan barangkali memiliki alasan-alasan ilmiah yang bisa menjelaskan rawannya negeri kita akan bencana.  Namun apa pun itu, kita harus percaya bahwa semua bencana tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Hanya dengan ijin Allah sajalah semua bisa terjadi.  Menyikapi terjadinya berbagai macam bencana, janganlah sekali-kali kita berburuk sangka kepada Allah.  Dia tidak akan sekali-kali berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.  Setiap yang Alla kehendaki passti penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan.  Apalagi terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik, meski seringkali hal tersebut dianggap tidak menyenangkan.  “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al Baqarah [2] : 216)

Sebaliknya, yang harus senantiasa kita lakukan setiap kali ditimpa bencana adalah bersabar.  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.  Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).  Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah [2] : 155 – 157).

Introspeksi Diri

Ketika bencana telah terjadi, salah satu hal yang harus kita lakukan adalah melakukan introspeksi diri.  Bagaimana pun juga, segala macam bencana tidak terlepas dari tingkah laku kita juga.  Dalam hal ini, kita hendaknya memahami bencana sebagai peringatan dari Allah SWT.

Karena itu, marilah kita semua tanpa kecuali menghitung diri.  Sudah seberapa taatkah kita kepada Allah?  Apakah kita selama ini telah menaati aturan-aturan Allah?  Ataukah sebaliknya kita gemar menerja larangan-larangan-Nya?

Marilah kita semua kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya.  Marilah kita sesali segala perbuatan buruk yang selama ini kita lakukan, dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.  Jangan sampai kita malah berbuat sebaliknya, yakni melakukan kesalahan demi kesalahan tanpa henti, seolah-olah tidak peka dengan peringatan dari Allah SWT.  Kita tentunya amat menyayangkan tindakan sebagian orang yang ketika bencana menimpa atau telah menimpa, mereka justru melakukan ritual-ritual kesyirikan dengan alasan untuk menolak bala.  Padahal semestinya bencana justru menjadi peringatan dan menjadikan kita semua kembali kepada Allah.

Di samping sebagai peringatan, bencana juga hendaknya kita pahami sebagai ujian.  Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS Al Baqarah [2] ayat 155 di atas, Dia memang akan menurunkan berbagai macam ujian kepada kita dalam kehidupan ini, salah satunya dalam bentuk bencana yang menyebabkan rasa takut, berkurangnya jiwa, dan sekaligus harta benda.  Dengan ujian itu, Allah hendak melihat apakah kita bisa bersabar ataukah tidak.

Waspada Istidraj

Ketika suatu bencana melanda, jangan sampai kita yang tidak terkena bencana merasa bahwa kita selamat, karena kita lebih baik daripada mereka yang dilanda bencana.  Kita harus selalu merasa khawatir kalau-kalau Allah justru memberikan istidraj kepada kita, yakni menunda siksa atas diri kita karena Allah ingin menyempurnakan siksa tersebut kelak di akhirat.  Tidakkah kita lihat betapa banyak para pelaku kemaksiatan dan kejahatan yang justru hidup dengan enak dan bergelimang kemewahan?  Itulah istidraj yang harus senantiasa kita waspadai.

Wallahu a’alam bish shawab

.

MEMAKNAI BULAN DZULHIJJAH

Disalin dari : Buletin Jum’at AL – BINA Edisi 49, 07 Dzulhijjah 1429 H

 

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”  Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun” (HR. Bukhari)

Sekarang bulan Dzulhijjah.  Jika bulan ini disebut, maka dalam pikiran kita spontan teringat pada dua hal : pertama, tiap minggu kondangan karena banyak yang menikah; dan kedua, nyata bareng sama tetangga sehabis motong kambing kurban.  Padahal, bulan Dzulhijjah lebih dari itu.  Secara khusus Rasulullah saw. menyebut keutamaan bulan ini, terutama untuk 10 hari pertama di awal bulan.

Dari Umar ra., bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini.  Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad)

Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang dicintai Allah SWT, jangan sia-siakan kesempatan ini untuk taqarrub kepada Allah SWT dengan banyak-banyak melakukan ibadah.  Setidaknya ada delapan ibadah yang bisa kita lakukan, yaitu :

  1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.  Ini adalah amalan yang paling utama di bulan Dzulhijjah.  Tidak ada haji selain di bulan Dzulhijjah.  Ganjaran bagi orang yang melaksanakan ibadah ini sangat besar di sisi Allah SWT.  Kata Nabi saw., “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga”.

  2. Berpuasa selama 10 hari di hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, atau pada sebagiannya, atau paling tidak sehari di hari Arafah.  Puasa juga amalan utama.  Allah SWT memilih puasa sebagai amalan hamba-Nya untuk diri-Nya sehingga Dia sendiri yang menentukan pahalanya.  Hal ini termaktub dalam sebuah hadits Qudsi. “Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.  Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya semata-mata karena Aku”.
    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra., Rasulullah saw.
    bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits muttafaq ‘alaih).

  3. Bertakbir dan berdzikir.  Perbanyaklah takbir dan dzikir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT., “… dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …” (QS. Al-Hajj [20] : 28).  Begitulah para ahli tafisr menafsirkan frase “pada hari-hari yang telah ditentukan” dengan “sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah”.  Karena itu, para ulama menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak dizkir pada hari-hari tersebut.  Apalagi ada hadits dari Ibnu Umar ra. yang menguatkan. Bunyinya, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid”. (HR. Ahmad).  Diriwayatkan bahwa para tabiin pada hari-hari itu mengucapkan, “Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, wallahu akbar, allahu akbar walillahil hamdu”. Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (sembahan) selain Allah.  Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
    Dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir baik ketika di masjid, rumah, pasar, atau di jalan.  Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
    Perbanyak taubat dan meninggalkan segala bentuk maksiat dan dosa.  Maksiat adalah penyebab jauhnya hamba dari Allah SWT.  sedangkan ketaatan adalah pintu mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

  4. Perbanyaklah amal shalih.  Bukan hanya amal-amal yang fardhu saja.  Sebab, Allah SWT. suka dan mencintai seorang hamba yang mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan nawafil, amalan sunnah.  Kita bisa memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, berjihad, membaca Al Qur’an, dan melakukan amar makruf nahi munkar.  Kita sangat berharap semua amalan itu bisa mendatangkan banyak pahala.  Tapi, kita lebih berharap lagi mendapat cinta dan ridha Allah SWT.

  5. Disyariatkan pula kita melakukan takbir muthlaq — yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied — dan takbir muqayyad — yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Bagi kita yang sedang tidak berhaji, takbir dimulai dari sejak Dhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

  6. Berkurban.  Bisa kita lakukan pada Hari Raya Qurban dan hari-hari Tasyriq.  Ibadah ini adalah sunnah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. mengukuhkannya menjadi syariat bagi kita.  Sabda Nabi, “Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk.  Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Hadits muttafaq ‘alaihi)

  7. Dilarang mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”. Dalam riwayat lain, “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
    Hal ini untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun
    hewan kurbannya.  Firman Allah, “Dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan”. (QS. Al Baqarah [2] : 196).  Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

  8. Melaksanakan shalat Iedul Adha dan mendengarkan khutbahnya.  Bahkan, anak-anak dan wanita-wanita yang sedang haidh pun diperintahkan Nabi saw. untuk hadir bersama jamaah shalat ied di tanah lapang untuk mendengarkan khutbah.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.