TEST IQ ITU APA SIH ?

oleh : Sarah Handayani
Sumber : UMMI, No. 9/XVI Januari – Februari 2005 / 1425 H.
.

Skor tes IQ sering dilihat sebagai ukuran kecerdasan seorang anak.  Pada skor tersebut tidak berdiri sendiri.  Ia berhubungan dengan pola asuh, hubungan anak dan orang tua, kebiasaan belajar, dan faktor lingkungan lainnya.

 

Intelegensia adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif.  Dalam arti yang lebih luas, para ahli mengartikan intelegensia sebagai suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

Menurut Indri Savitri, S.Psi., Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat LPT UI, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan wujud dari proses berpikir rasional itu.  Tes IQ adalah alat ukur kecerdasan yang hasilnya berupa skor.  Tetapi skor tersebut hanya memberi sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan secara keseluruhan.

Skor Bukan Harga Mati

Howard Gadner, psikolog pendidikan anak Amerika yang terkenal dengan teori kecerdasan gandanya menyatakan, kecerdasan intelektual hanyalah salah satu dari 8 kecerdasan yang dimiliki seseorang.  Kecerdasan ganda yang dimaksud Gadner adalah kecerdasan di bidang bahasa, berpikir logis atau matematis, musik, visual, dan gerak.  “Sayangnya alat ukur untuk kecerdasan ganda itu masih dikembangkan Gadner.  Perlu waktu lama untuk bisa menerapkannya di negara yang berbeda kultus seperti Indonesia”, tutur Indri.

Awalnya, tes IQ diterapkan di masyarakat Barat karena adanya kebutuhan untuk seleksi.  Anak-anak dengan kemampuan rata-rata, di bawah, dan di atas rata-rata memerlukan penanganan yang berbeda.  Tapi sekarang di sana skor IQ sudah tidak lagi dipakai karena mulai dikembangkan pendekatan-pendekatan lain yang melihat faktor kecerdasan secara menyeluruh.

Sayangnya, di Indonesia banyak lembaga pendidikan yang  mewajibkan calon siswanya untuk tes IQ terlebih dahulu sebagai salah satu syarat penerimaan siswa baru.  Ada sekolah yang menetapkan syarat penerimaan tes IQ minimal 120 skala Weschler.  “Bahkan, ada anak yang disarankan untuk sekolah di SLB karena skornya di bawah rata-rata, tanpa ada tahapan melihat latar belakang anak terlebih dahulu”, kata ibu satu anak ini menyayangkan.

Situasi Saat Tes

Menurut Indri, setidaknya tiga faktor yang berhubungan dengan tes IQ.  Pertama, reliabilitas atau sejauh mana hasil tes itu dapat dipercaya.  Skor IQ yang diperoleh akan sama walaupun seorang anak melakukannya pada kondisi yang berbeda.  Kedua, validitas atau sejauh mana alat ini mampu mengukur apa yang hendak diukur.  Jika tes itu mengukur kemampuan berbahasa, maka yang diukur adalah kemampuan anak dalam mengeluarkan pendapat, mengukur kepercayaan diri.  Ketiga, standarisasi, yaitu apakah alat yang dipakai sesuai dengan norma masyarakat setempat.  Tiap masyarakat tentu mempunyai norma berbeda satu sama lain.

Menurut Indri, saat ini banyak dilakukan tes psikologi secara massal, misalnya dalam satu ruang kelas.  Padahal, tes yang dilakukan secara massal itu bisa menimbulkan banyak kemungkinan.  Sehingga, seorang anak yang skor IQ-nya 140 belum tentu memiliki prestasi yang baik di sekolah.  Sebaliknya, anak dengan skor IQ 85 tidak berarti harus masuk SLB.  Orang tua perlu kritis melihat skor tersebut.

Beda Alat, Beda yang diukur

Tes IQ yang sering dipakai di Indonesia adalah tes Binet dan Weschler.  Kedua tes ini sebenarnya merupakan alat yang sudah dikembangkan sejak lama.  Psikolog asal Perancis, Alfred Binet dan Theodor Simon, mulai merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (kemampuan di bawah rata-rata).  Alat ini dinamakan tes Binet-Simon yang kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika membuat banyak perbaikan dari tes Binet-Simon.  Ia menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara usia mental (mental age) dengan usia kronologis (chronological age).  Hasil perbaikan ini disebut tes Stanford-Binet.  Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur  kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet dinilai masih terlalu umum.  Para ilmuwan kemudian mengetahui bahwa intelegensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum, namun juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik.  Berdasarkan teori tersebut, dikembangkanlah teori yang disebut teori faktor.  Alat yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Weschler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa dan WISC (Weschler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.  Skala ini lebih dikenal dengan skala Weschler, yang melihat intelegensi sebagai kapasitas seseorang untuk mengatasi masalah sehari-hari menggunakan pengetahuan yang dia miliki.

Faktor Genetik dan Keturunan

Keturunan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil tes IQ.  Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari salah satu keluarga adalah sekitar 0,5.  Pada anak kembar, korelasinya sangat tinggi, yaitu 0,9.  Sedangkan pada anak adopsi, sekitar 0,4 – 0,5 dengan orang tua kandung, dan 0,1 – 0,2 dengan orang tua angkatnya.  IQ anak kembar yang dibesarkan secara terpisah tetap berkorelasi sangat tinggi.

Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak.  Perkembangan otak ini sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.  Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.  Karenanya, faktor lingkungan dapat menimbulkan perubahan yang berarti.

Oleh karena itu, Indri menegaskan tentang pentingnya kejelasan dilakukannya tes IQ.  Hendaknya tes IQ dilakukan untuk melihat kelebihan dan kekurangan yang ada pada anak.  Hal ini penting agar orang tua dan guru dapat memberi stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak.

Berdasarkan pengalaman di klinik, Indri banyak menemukan kasus anak yang memiliki skor IQ bagus, tapi prestasi akademisnya rendah.  Atau anak dengan skor IQ biasa saja, tapi cukup populer di sekolah karena memiliki memiliki rasa percaya diri untuk mengembangkan potensinya.

Sebagai sebuah alat ukur kecerdasanm tes IQ memang satu-satunya alat yang dapat dipakai sampai saat ini.  Namun, untuk kepentingan pengoptimalan potensi anak, Indri lebih suka dengan istilah “evaluasi psikologis”.  Karena dengan evaluasi psikologis, orang tua atau guru dapat membantu anak sesuai dengan permasalahannya.  Misalnya, anak yang kurang pemahaman bahasanya perlu dibantu agar meningkat pemahaman bahasanya.

Untuk evaluasi psikologis, tidak hanya tes IQ yang dibutuhkan.  Tes IQ tanpa wawancara sebenarnya tidak bisa berbicara.  Karena skor tersebut berhubungan dengan masa lalu, pola asuh, hubungan orang tua dengan anak, kebiasaan belajar, karakter anak, dan lingkungannya.

.

TERNYATA, BOHONG JUGA SAKITI TUBUH

Dalam film The Dilemma, karakter aktor Vince Vaughn adalah menjaga rahasia besar istri sahabatnya yang berselingkuh. Kalau Anda berada dalam posisi serupa, ketahuilah dampak buruk berbohong bagi tubuh.

DALAM film The Dilemma, karakter aktor Vince Vaughn adalah menjaga rahasia besar istri sahabatnya yang berselingkuh. Kalau Anda berada dalam posisi serupa, ketahuilah dampak buruk berbohong bagi tubuh.

Mereka yang dalam posisi menyembunyikan sesuatu menempatkan dirinya dalam bahaya. Rasa bersalah hanyalah awal.

Seiring dengan rasa bersalah, mereka yang berbohong, menghilangkan kebenaran atau menyimpan rahasia berisiko terhadap beberapa komplikasi kesehatan.

“Sebagai permulaan, berbohong melepaskan hormon stres. Peningkatan hormon ini menyebabkan denyut jantung dan pernapasan meningkat, pencernaan melambat, dan hipersensitif pada serat otot dan saraf,” kata MD Saundra Dalton-Smith, penulis Set Free to Live Free: Breaking Through the 7 Lies Women Tell Themselves.

Efeknya mungkin tidak serius, tapi seiring waktu, berbohong dapat menyebabkan kondisi, seperti penyakit jantung koroner, stroke, kanker, diabetes, dan gagal jantung. Mengapa?

“Tekanan darah meningkat dalam hati ketika Anda berbohong. Inilah yang dapat mengancam hidup Anda dalam jangka waktu lama,” kata Dr Smith, seperti dikutip dari Bettyconfidential.

Sebagai informasi, kaitan antara tekanan darah dan berbohong seperti ditunjukkan alat pendeteksi kebohongan. Polygram atau lie detector bisa akurat menguji kebohongan karena alat ini mengukur tekanan darah seseorang.

Mungkin berbohong tidak secara cepat membuat Anda terserang stroke, tapi ada bukti bahwa semakin Anda berbohong, semakin mudah Anda mendapatkan bencana.

Menurut hasil penelitian pada November 2010 oleh Departemen Psikologi Universitas Ghent di Belgia dan telah dipublikasikan jurnal Consciousness and Cognition, “Sering berkata jujur membuat seseorang sulit berbohong, dan sering berbohong membuat seseorang lebih mudah berbohong.”

“Dengan kata lain, Anda menuai apa yang Anda tabur. Semakin sering Anda berbohong maka semakin mudah Anda melakukannya, begitupun sebaliknya,” kata Dr Smith.

Mereka yang kerap berbohong atau menyimpan rahasia besar selama bertahun-tahun mungkin tidak merasakan gangguan apapun. Namun dari waktu ke waktu, mereka secara signifikan lebih berisiko pada kondisi kesehatan yang buruk.

Ternyata, berbohong tidak hanya menyakiti hati seseorang secara, tapi juga tubuh Anda.

“Daripada terjebak dalam lingkaran setan kebohongan seperti dalam film The Dilemma, jalan terbaik adalah jujur secara konsisten,” saran Dr Smith.

Dikutip dari : http://news.id.msn.com/okezone/lifestyle/article.aspx?cp-documentid=4600274
.

 

MEMBERI DORONGAN POSITIF PADA ANAK

Dikutip dari : UMMI Edisi 4/XVI/2004


a

Dorongan positif akan membantu anak memahami proses belajarnya dan terlibat sebagai sumber belajar.  Di masa datang kemampuan tersebut sangat penting dalam persaingan di era globalisasi.

Sebuah penelitian di negeri Paman Sam menyatakan, sejak usia dini rata-rata setiap anak menerima enam komentar negatif untuk satu satu dorongan positif yang diterimanya.  Belum ada penelitian serupa di wilayah Indonesia.  Namun, kemungkinan hasilnya tak jauh berbeda, atau bahkan jadi jauh lebih besar.

Menurut Henny Supolo Sitepu, pakar pendidikan dari Al Izhar saat Bedah Buku “Memberi Dorongan Positif pada Anak” di Depok, jomplangnya kondisi ini bisa terjadi karena kebiasaan untuk mengungkapkan pujian pada masyarakat kita jauh lebih rendah daripada kebiasaan dalam memberikan lontaran ledekan atau celaan.

Akibatnya, banyak orang dibesarkan dalam lingkungan dengan kecenderungan berkomentar negatif, termasuk kita para orang tua dan pendidik.  Padahal dorongan positiflah yang memiliki kekuatan sangat besar untuk membangun rasa percaya diri anak dan memacu semangat agar anak berprestasi baik.

Mengapa perlu dorongan positif?  Menurut Henny, dorongan positif dibutuhkan untuk menciptakan kenyamanan dan penerimaan pada diri anak, membantu kesenangan dan kenyamanan saat belajar, membantu timbulnya kesadaran, dan pemahaman proses belajar anak.

Prinsip pemberian dorongan positif adalah memberikan dukungan saat anak berbuat baik atau menunjukkan prestasi terbaiknya, memberi perhatian pada usaha anak, memusatkan perhatian pada hal-hal yang sudah dilakukan anak, membandingkan dengan dirinya sendiri, mau mendengarkan anak dan memuji dengan spesifik.

Pujilah Secara Spesifik

Anak-anak membutuhkan pujian yang sangat spesifik terhadap perilakunya.  Bila anda memuji setiap anak dengan pernyataan umum yang sama, maka ia tidak merasa mendapat pujian dan mengetahui perilaku mana yang baik.  Misalnya, bila anda memiliki tiga orang anak, cobalah mengajak mereka menggambar.  Kemudian, berikan pujian yang sama pada setiap anak, “Hamdi, gambarmu bagus sekali”, “Fitri, gambarmu juga bagus sekali”, maka jika anda sampai pada anak yang berikutnya, maka pasti ia tidak berminat untuk mendengarkan komentar anda.

Tapi, bila anda mengomentari secara khusus pekerjaan yang dilakukannya, anak-anak akan sangat gembira.  Misalnya, “Hamdi, indah sekali pilihan warna yang kamu pilih untuk perahu ini.  Ada warna kuning, biru, merah”.  Kepada anak kedua, katakan, “Fitri, ibu sangat suka dengan sayap kupu-kupu yang kamu gambar.  Bagus sekali, ada titik hitamnya seperti yang kita lihat di taman kemarin…”  Maka, anak berikutnya pun akan menanti-nanti komentar anda terhadap coretan gambarnya.  Pujian spesifik akan memberikan semangat pada anak terhadap usaha yang dilakukannya dan menolongnya mampu melihat kelebihan usahanya.

Mengarahkan Pembicaraan

Baik orang tua maupun guru dapat mengarahkan percakapan secara wajar sehingga komunikasi sehari-hari dengan anak-anak dapat diubah menjadi suatu pengalaman belajar.  Percakapan yang terarah adalah mengajak seorang anak bercakap-cakap secara wajar dan tidak formal untuk mencapai tujuan belajar.  Cara ini akan mendorong anak untuk memiliki pemikiran kritis, kemampuan daya nalar, dan pemecahan masalah.

Anak-anak juga memerlukan kata-kata yang berhubungan dengan perbuatan mereka.  Sejak bayi kemampuan berpikir seorang anak berkembang, sebagaimana kemampuan bercakap-cakap berkembang sejajar dengan kemampuan untuk melakukan kegiatan.  Anak yang masih kecil dapat berpikir paling tepat hanya tentang kegiatan yang sedang dilakukannya pada saat itu.  Perhatiannya terpusat pada apa yang dapat disentuhnya, dapat dilihatnya, dan dapat dirasakannya saat itu.

Jadi, kata-kata penjelasan, pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, dan dialog tentang apa yang sedang disentuh, yang sedang dilihat, dan yang sedang dirasakan oleh anak itu sangat berpengaruh terhadap kecerdasannya yang sedang berkembang. Komentar dan pertanyaan orang-orang dewasa tentang apa yang sedang dilakukan anak itu adalah unsur yang harus ada bila kita ingin membangkitkan keinginannya untuk belajar.

Sementara daya belajar seorang anak bertambah, keyakinannya akan kemampuannya untuk mengatasi persoalan-persoalan yang juga bertambah.  Kemungkinan untuk dapat mengatasi tantangan-tantangan baru akan lebih besar pada saat anak itu menyadari bahwa kemampuannya bertambah.

Karena anak-anak yang masih kecil dapat memberi tanggapan yang hangat kepada orang-orang dewasa yang mau mendengarkan mereka dan bercakap-cakap dengan mereka sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.  Maka, baik guru maupun orang tua akan mendapati bahwa percakapan semacam itu sangat menyenangkan dan bermanfaat.

Senyuman hangat, sentuhan lembut, nada bicara yang wajar, pandangan mata yang berbicara, dan kesediaan untuk mendengarkan akan membangkitkan perhatian dan kasih setiap anak.  Kata-kata yang sederhana, kalimat-kalimat yang pendek, pertanyaan-pertanyaan khusus, dan telinga yang peka terhadap apa yang dikatakan anak itu akan membangkitkan rasa ingin tahu dan pengertiannya.

Prof. Diamond, seorang ahli syaraf, mengingatkan bahwa cinta merupakan resep paling penting dalam dunia pendidikan anak.  Kehangatan dan kasih sayang adalah faktor utama dalam mendukung perkembangan anak seutuhnya.  Sentuhan emosi memberikan dampak besar dalam proses belajar anak.

Perlu diketahui bahwa kapasitas otak manusia tidak terbatas.  Seseorang bisa terus belajar sejak lahir sampai akhir hidupnya.  Kata Rasulullah saw., “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”.  Dengan memberikan dorongan positif pada anak, maka otak akan berfungsi secara optimal.  Sebaliknya, celaan, makian, apalagi pukulan fisik akan menimbulkan gangguan fungsi otak anak. (Sarah Handayani)

.

INILAH MAKNA TANGISAN BAYI ANDA

Psikolog Vera Itabiliana, mengutip buku karya Tracy Hogg dan Melinda Blau, Secret of Baby Whisperer : How to Calm, Connect, an Communicate With Your Baby,.mengungkapkan kurang lebih ada 10 hal yang bisa kita indikasikan berkenaan dengan tangisan dan bahasa tubuh bayi.

Apa saja sih maksud yang ingin diungkapkan bagi dengan tangisannya? Berikut penjelasannya.

Lelah

Tangisan : Diawali dengan rewel/marah/rengekan, jeritan pendek, tangisan keras, jeda pendek, tangisan lebih panjang dan keras, terus menangis sampai tertidur. Bahasa tubuh : Menguap, punggung meregang ke belakang, kaki menendang, menggapai kemana-mana, mengusap muka, menggeliat, wajah merah padam.

Terlalu banyak rangsangan

Tangisan : Panjang dan keras. Bahasa tubuh : Lengan dan tungkai bergerak kemana-mana, kepala menjauh dari cahaya, berpaling dari ajakan bermain.

Bosan

Tangisan : Rewel/marah, bukan tangisan langsung. Bahasa tubuh : Berpaling/menjauh, bermain dengan jari.

Kekenyangan

Tangisan : Rewel setelah menyusu atau makan. Bahasa tubuh : Muntah.

Sakit/Nyeri

Tangisan : Jeritan tinggi tiba-tiba, menahan nafas di antara jeritan. Bahasa tubuh : Tubuh menegang, menarik lutut ke arah dada, wajah mengernyit, lidah menggulung ke atas.

Lapar

Tangisan : Diawali batuk kecil, lalu tangisan pendek, menetap dan berirama. Bahasa tubuh : menjilat bibir, lidah menjulur, kepala berpaling ke samping, menarik genggaman tangan ke arah mulut.

Kedinginan

Tangisan : Menangis kencang dengan bibir bawah gemetar. Bahasa tubuh : Timbul bintil merinding, mungkin menggigil, anggota tubuh terasa dingin, kulit kebiruan.

Kepanasan

Tangisan : Seperti terengah-engah, awalnya suara rendah, lalu menangis. Bahasa tubuh : Berkeringat, nafas tak teratur, bercak merah pada kulit.

Ingin dipeluk/digendong

Tangisan : Guuuu h, berubah gwaa h pendek seperti anak kucing, hilang begitu diangkat. Bahasa tubuh : Memandang sekeliling.

Ingin buang air besa

Tangisan : menggumam atau menangis ketika sedang makan atau menyusu. Bahasa tubuh : Menggeliat, menekan tubuh ke bawah, berhenti menyusu, pup.

Dikutip dari : Ummi No. 10/XXI Februari 2010 / 1431 H; hal. 110

KUASAI “CURHAT” BAYI KITA

Kata orang, tangisan bayi adalah suara terindah bagi ayah ibunya. Tak hanya suara tanpa makna, sesungguhnya tangisan bayi memiliki maksud yang ingin dibaginya kepada orang di sekelilingnya.

Seorang bayi akan langsung menangis sesaat setelah dilahirkan sebagai tanda kehidupannya. Untuk beberapa bulan ke depan, tangisan inilah yang jadi penghubung bayi dengan orang tua dan orang-orang di sekitarnya, sebelum akhirnya bayi mulai bisa bicara dan mengungkapkan kebutuhan dan perasaannya dengan kata-kata.

TANGISAN DAN BAHASA TUBUH

Bagi bayi, menangis adalah perilaku yang wajar. Ini adalah cara berkomunikasi yang diketahui bayi pada usia 3 – 4 bulan pertama”, terang Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, psikolog anak dan remaja di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Untuk kebutuhan atau keluhan apa pun si bayi hanya bisa menggunakan tangisannya guna menarik perhatian sekaligus mengkomunikasikan kebutuhannya tersebut. Dari tangisan inilah orang tua atau orang lain di sekitar si bayi akan mengetahui apa yang diinginkan bayi. Umumnya makin keras suara tangisan, makin kuat atau mendesak pula kebutuhannya. Pada semua kondisi yang membutuhkan bantuan orang di sekitarnya, si bayi akan menangis; dari kondisi sakit sampai kekenyangan.

Tak hanya tangisan, biasanya bayi pun menyertakan bahasa tubuh untuk memperkuat maksudnya. Misalnya, bila terlalu kenyang, bayi akan menangis sambil muntah. Atau bila bayi merasa bosan, ia menangis sambil memainkan jari-jarinya. Tangisan dan bahasa tubuh ini saling menunjang (lihat ‘Inilah Makna Tangisan Bayi Anda‘). “Umumnya setelah tiga bulan akan terbentuk bahasa khas yang dimengerti oleh ibu dan bayi”, imbuh lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Sampai akhirnya terjadi pengertian antara ibu dan bayi, tentu saja si ibu mesti mempelajari maksud tangis si kecil. Baru kemudian si ibu akan tahu kalau setiap kali bayi menangis, bukan selalu berarti popoknya basah atau ingin menyusu.

Untuk mempermudah proses pengenalan ini, Vera mengungkapka satu metode yang dikenal sebagai metode SLOW (Slow, Listen, Observe, What’s Up). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

Slow. Saat bayi menangis, jangan langsung menggendongnya atau langsung memberikan ASI, karena bisa jadi bukan itu yang diperlukannya. Jadi perhatikan dulu apa yang sesungguhnya dibutuhkan bayi. Perlahan dan tenang saja. Selain memperhatikan, ibu juga bisa mengajak bayi bicara dan menanyakan apa yang diinginkannya. “Meski belum bisa bicara, bayi bisa mendengar perkataan kita”, imbuh Ibu satu putra ini.

Listen. Lalu dengarkan tangisan seperti apa yang disuarakan si bayi, apakah tangis karena haus dan lapar, karena lelah, kedinginan, dan sebagainya.

Observe. Teliti lagi apa yang menyebabkannya menangis. “Tidak ada bayi yang menangis tanpa sebab. Pasti ada sebabnya”,kata Vera. Kita bisa tahu penyebabnya dari tangisannya atau dengan memeriksa keadaa si bayi, dari kondisi tubuh dan keadaan sekelilingnya.

What’s Up. Setelah tahu penyebabnya, barulah ibu dapat melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan si bayi.

Biasa pada tiga bulan pertama, bayi menangis semata karena kebutuhan fisik saja. Sementara kebutuhan psikologi, misalnya kebutuhan ingin lebih diperhatikan, baru bisa diungkapkan si bayi setelah berusia 3 bulan ke atas. Baik kebutuhan fisik maupun psikologi tentu saja harus bisa dipenuhi orang tua atau orang-orang di sekeliling baik dengan sebaik-baiknya.

Ada mitos yang berkembang di masyarakat, kalau bayi menangis sebaiknya dibiarkan saja supaya tidak manja dan agar fisiknya kuat. Itu tidak benar. Menurut Vera, jangan membiarkan bayi menangis terlalu lama tanpa usaha orang tua untuk mengetahui penyebabnya. Tentu saja jangan langsung setiap kali bayi menangis. Namun berikanlah respons positif untuk setiap tangisannya, misalnya dengan menyentuh atau mengajaknya bicara. “Di sinilah akan terbentuk trust (kepercayaan – red) bayi pada orang-orang di sekelilingnya yang menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Dengan diberi respons bayi akan merasa nyaman, dimengerti, disayang, dan diinginkan kehadirannya di dunia ini”, papar perempuan kelahiran 35 tahun silam ini.

Bila bayi menangis, dibiarkan terus tanpa direspons positif, bisa jadi kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang rendah diri karena ia merasa kurang diperhatikan. Lagipula, bayi hanya menangis bila benar-benar membutuhkan sesuatu, baik kebutuhan fisik maupun psikologis. Sebab, sebagai makhluk paling murni, bayi tak mungkin berpura-pura dan memanipulasi tangisannya.

ORANG TUA HARUS TENANG

Walaupun bayi menangis adalah hal wajar, perlu diwaspadai bila bayi menangis dengan kondisi tertentu. Pertama, bila bayi yang biasanya tenang, tiba-tiba menangis selama 2 jam atau lebbih. Semua cara telah dilakuan untuk menenangkan bayi namun tidak berhasil. Kedua, bila bayi mangis disertai demam, kejang, muntah,muka pucat, dan sebagainya.

Bila ini terjadi, kemungkinan si bayi sakit. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengam meminta bantuan keluarga terdekat atau tetangga yang sudah berpengalaman menangani bayi. Biasanya mereka lebih tenang dan bisa memberikan jalan keluar. Kalau memang kondisi bayi parah, tentu harus secepatnya dicarikan bantuan medis. Si ibu sendiri biasanya secara naluri juga akan tahu bila bayinya sakit atau sekedar cari perhatian saja. Naluri ini, kata Vera, ada dalam diri perempuan seketika ia menjadi ibu.

Namun begitu, dalam menghadapi tangisan bayi sekencang atau selama apapun, ibu harus tetap tenang; Kegelisahan ibu dalam menangani bayinya akan “menular” pada si bayi. Alih-alih tenang, bayi akan semakin rewel da tidak berhenti menangis. Jika sulit untuk tetap tenang, sebaiknya ibu meminta bantuan orang lain di sekitarnya, seperti suami, nenek, atau pengauh. Sementara bayi ditangani orang lain, ibu bisa menenangkan diri dahulu.

“Anak-anak itu sangat sensitif terhadap perilaku orang tuanya”, tegas Vera, “mereka akan merasakan, misalnya ketidakikhlasan orang tua menghadapi mereka”. Karena itu ketenangan yang berawal dari keikhlasan amal dibutuhkan dalam menghadapi bayi. Buatlah bayi nyaman dalam dekapan. Perdengarkan suatu berirama dari suara kita sendiri atau dari media lainnya, bisa berupa nyanyian lembut, musik klasik, atau lantunan dzikir. Lalu ayun bayi perlahan sambil memijat lembut bayi. Beri sesuatu untuk diisap, jika masih menyusu biarkan ia menyusu.

Ada bayi yang relatif lebih sering menangis dibandingkan bayi lainnya. Karena bayi menangis pasti dengan sebab, bayi yang sering menangis atau rewel ini kemungkinan disebabkan ia merasa kebutuhannya belum terpenuhi dengan baik. Ia terus menangis untuk mengkomunikasikan kebutuhannya yang belum dipenuhi tersebut. Cepatlah cari tahu apa yang ia butuhkan karena bayi yang merasa kebutuhannya tidak terpenuhi akan tumbuh dengan rasa ketidakamanan dan ketidakpercayaan pada lingkungannya.

Jadi, jangan pernah remehkan tangisan si bayi. [Asmawati; wawancara : Firda Kurnia.]

 

Dikutip dari : Ummi No. 10/XXI Februari 2010 / 1431 H; hal. 108 – 110

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.