MENAHAN AMARAH

Dikutip dari : http://tausiyahislami.wordpress.com/2012/01/20/menahan-marah/

.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: Ayat).

Perbedaan antara manusia itu memang telah diciptakan oleh Allah SWT, dan itu merupakan sifat yang ada pada makhluk hidup. Sebaimana yang ditegaskan dalam firman Allah berikut ini: “Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.” QS. AI-Hasyr: 14). Wahbah al-Zyhaily mengomentari ayat di atas dengan pernyataan tersebut. Artinya, “Mungkin kamu mengira, mereka itu bersatu, padahal mereka terpecah belah. Kebersamaan yang terjalin hanya lahiriahnya saja, sementara kemauan, hasrat dan pendapat mereka saling bertentangan.” Tafsir al-Munir, Vol. 28, h. 98).

Berangkat dari adanya perbedaan kemauan, keinginan, kepentingan, dan perbedaan-perbedaan lainnya, kita menyadari perlunya pengendalian diri dan bersikap ernpati; Sehingga kita dapat menimbang rasa dan menakar hati orang lain, agar tidak mengecewakan atau membuat orang lain sengsara. Ketika kita dihadapkan pada permasalahan yang tidak kita sukai atau tidak kita inginkan, maka akan terjadi perubahan sikap karena didorong oleh emosi yang meledak di dalam dada. Menahan emosi atau minimal mengendalikan emosi adalah suatu perbuatan terpuji yang merupakan manifstasi dari kepribadian luhur dari seorang mukmin. Di samping itu, Allah Swt menjanjikan pahala yang besar di sisi-Nya bagi orang-orang yang mampu bersabar. Sebagimana hal ini diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya. Beliau bersabda : “Sabar itu terletak pada awal musibah.” (H.R. AI-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Kata musibah dalam hadist di atas secara bahasa berarti musibah yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa terduga sebelumnya. Ini artinya, peristiwa kematian yang datang dengan tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Kematian datang kepada setiap orang, dengan tiba-tiba. Tentunya, kejadian ini akan menciptakan situasi yang sangat emosional dan menyedihkan.

Terjadinya musibah dalam bentuk apapun dan dalam keadaan bagaimana-pun merupakan bumbu kehidupan yang membuat hidup semakin penuh warna. Untuk itu, kita harus selalu siap menghadapinya, karena dengan musibah, Allah Swt. akan menilai dan mengukurkadarkeimanan hamba-Nya. Sebagimana hal ini ditegaskan dalam firman-Nya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. ?” (QS. AI-Ankabut: 2).

Firman Allah Swt. ini dipertegas oleh sabda Nabi Saw. yang artinya : “Siapa yang dikehendaki Allah untuk dianugrahi kebaikan, maka ia akan diberi cobaan oleh-Nya.” (HR. AI-Bukhari dari Abu Hurairah).

Penguasaan emosi dan pengendalian diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia dapat berupa menahan marah. Seseorang boleh saja marah, bahkan pada saat-saat tertentu, mungkin ia wajib marah. Ketika seseorang mendapatkan anaknya yang sudah genap berumur 10 tahun, yang masih saja belum mau mengerjakan shalat wajib, maka sang ayah harus memarahi anaknya, bahkan sampai diizinkan untuk memukulnya. Nabi Saw bersabda : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukullah ketika mereka berumur 10 tahun, karena melalaikan shalat. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim adri Ibn ‘Amr).

Ketika menghadapi suatu permasalahan dalam interaksi sosial, tidak jarang emosi lebih berperan, sehingga emosi lebih dominan daripada rasio. Bila hal itu terjadi, maka akibat lanjutannya adalah perang mulut atau mungkin juga adu fisik. Sekedar adu pandangan mata yang tak sengaja antara dua anak remaja, tapi dibarengi dengan emosi dan harga diri yang bukan pada ukurannya, dapat berlanjut pada perkelahian dan pembunuhan. Yang satu ingin menunjukkan kekuatannya dan yang lain tidak mau kalah. Alangkah baiknya, kalau kedua anak remaja itu sadar, bahwa keakuan dan kekuatan, bukan dipertontonkan dalam konflik fisik dan adu otot, tetapi diukuroleh kemampuan menahan dan merendam amarah. Sebagimana yang disabdakan oleh Nabi Saw. dalam haditsnya : “Bukanlah orang kuat itu yang mempertontonkan otot dalam perkelahian, sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai (emosi) dirinya pada saat ia sedang marah.” (HR. AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Hadist ini menunjukkan bahwa melawan emosi yang telah melahirkan hawa nafsu adalah lebih berat daripada melawan musuh secara fisik. Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya tatkala mereka baru pulang dari medan laga. Beliau bersabda : “Kamu baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah yang dimaksud dengan jihad besar itu.” Beliau, menjawab, “Jihad besar adalah perang melawan emosi dan hawa nafsu.”

Mu’adz bin Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Siapa yang dapat menahan amarahnya pada saat ia mampu dan memungkinkan untuk melampiaskan-nya, maka Allah Swt. past! akan mengundangnya di depan orang-orang banyak pada hari kjamat, dan ia dibebaskan untuk mempersunting bidadari yang menggetarkan hatinya.”(HR. Abu Dawucj dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.).

Dalam riwayat lainnya disebutkan : “Orang tersebut akan dipenuhi hatinya oleh Allah Swt. dengan rasa aman dan iman”. Sementara dalam riwayat Ibn Umar disebutkan : “Orang yang mampu menahan amarahnya maka Allah Swt. akan menutupi aibnya”.

Tingginya tuntutan hidup membuat setiap orang merasa terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan hidupnya. Hal ini berarti ia berhadapan dengan tantangan hidup. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang suka mencari tantangan. Tuntutan dan tantangan sebagai sebab akibat yang merupakan hukum alam dan sunahtullah, akan terjalin berberkelindan pada kehidupan manusia. Karena itu, memerangi hawa nafsu dan menahan diri sangat diperlukan ketika terjadi pergumulan antara tuntutan dan tantangan hidup.

Sumber : Risalah Dakwah Mau’izah Hasanah No. 499 th 2008, Jum’at 11 Januari 2008
.

HIKMAH MEMBAYAR ZAKAT

Hikmah Membayar Zakat :

  1. Membayar zakat itu berarti mensyukuri nikmat Allah. Nikmat yang disyukuri, dijanjikan oleh Allah akan ditambah.
  2. Kekayaan yang dikumpulkan oleh seseorang, belum tentu dari hasil jerih payah dan keringat sendiri, tapi bisa juga dari hasil tenaga para buruh yang bekerja padanya. Oleh karena itu ia harus membagi kekayaannya kepada fakir miskin dan asnaf lainnya.
  3. Zakat membuat hubungan antara si Kaya dan si Miskin jadi harmonis. Rukun dan saling membantu. Rasulullah bersabda : “Bukan golonganku orang (besar) yang tidak belas kasihan kepada orang kecil. dan juga bukan golonganku orang kecil yang tidak menghargai orang besar” Jadi zakat itu adalah uluran tangan orang besar kepada orang kecil atau miskin.
  4. Zakat mendidik orang jadi dermawan atau pemurah. Manusia biasanya bersifat kikir padahal kikir itu dibenci Allah. Zakat menghindarkan kita dari sifat kikir.
  5. Di antara pencuri atau perampok ada yang disebabkan karena kemiskinan. Zakat merupakan satu jaringan pengaman yang bisa mengurangi kejahatan yang disebabkan oleh faktor ekonomi. Sabda Nabi: “Kemiskinan, hampir-hampir menjadikan orang menjadi kufur (lupa kepada kebenaran)”.

Sumber : http://tausiyahislami.wordpress.com/2012/01/31/hikmah-membayar/
.

BALIGO (Benincasa hispida Cogn.)

Botani

 

Sinonim

Cucurbita farinosa Bl.

Cucurbita farinosa-villosa Bl.

Klasifikasi

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Dicotyledoneae

Bangsa

Cucurbitales

Suku

Cucurbitaceae

Marga

Benincasa

Jenis

Benincasa hispida Cogn.

Nama

Umum/Dagang 

Baligo.

Sumatera

Kundo (Aceh), Gundur (Batak), Kundus (Minangkabau), Serdak (Lampung).

Jawa

Kundur (Sunda), Baligo (Jawa), Kondur (Madura).

Bali

Kundur (Bali).

Nusa Tenggara 

Lela (Roti), Komelingan (Timor)

Deskripsi

 

 

Habitus

Menjalar.

Batang

Berkayu, lunak, berbulu, hijau.

Daun

Tunggal, bulat, tepi rata, ujung tumpul, pangkal membulat, panjang 10 – 17 cm, lebar 9 – 15 cm, tangkai bulat, panjang 10 – 15 cm, hijau.

Bunga

Tunggal, berkelamin dua, di ketiak daun, kelopak bentuk corong, bercangap, halus, hijau muda, benang sari lima, panjang 2 – 3 cm, putih, kepala sari bulat, hijau, putik putih, mahkota kuning, berbulu halus, kuning.

Buah

Buni, bulat panjang, berdaging, panjang 15 – 20 cm, hijau keputih-putihan.

Biji

Keras, pipih, panjang 6 – 7 mm, lebar 5 – 6 mm, putih.

Akar

Tunggang, putih kotor.



Gambar 103.  Benincasa hispida Cogn.

Khasiat

Buah Benincasa hispida berkhasiat untuk penawar racun dan batangnya berkhasiat sebagai obat sakit kulit.

Penawar racun : dipakai ± 20 gram buah segar Benincasa hispida, dicuci, diparut, dan diperas.  Hasil perasan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Buah, kulit, buah, dan biji Benincasa hispida mengandung saponin; di samping itu buah dan kulit buahnya juga mengandung flavonoida; dan tanin dan bijinya juga mengandung polifenol.

.

DAG DIG DUG

Suara desau angin malam itu terdengar jelas di telinganya.  Hanya ia yang mendengar.  Orang-orang yang berada di ruang depan dan sekeliling rumahnya disibukkan oleh orkes dangdut yang digelar tepat di depan rumah orang tuanya.  Ia menghuni sebagian kecil dari rumah tersebut.  Tepatnya di sebuah kamar berukuran 3×4 meter.  Kamarnya sendiri yang kini harum semerbak oleh beragam kembang yang ditabur di tempat tidur dan lantainya.

Tiba-tiba jendela kamar yang ditempatinya berderak.  Derak halus yang menyentuh hatinya.

“Hendra, kaukah itu?” Surti berkata setengah berbisik.

Yang ditanya tidak menjawab.  Tiba-tiba, sebuah telapak tangan mencoba meraih bagian dalam jendelanya yang sudah sedikit terbuka.  Sebuah wajah yang dinanti Surti akhirnya nampak dalam keremangan malam.  Surti segera mematikan lampu kamarnya.

“Sur!”

“Iya, aku disini”

“Sudah siap semuanya?”

“Sudah, Hendra.  Kenapa kamu nggak jawab tadi?  Aku sudah dag dig dug menunggumu”

“Bahasamu itu lho, Sur!”

“Lho iya, beneran kok”

“Kita tidak punya waktu banyak.  Segeralah berkemas”

“Sudah.  Tinggal lompat aja kesitu”

“Ya udah, buruan!”

“Aduh, maaf kelupaan ngelepas jarik”

“Ya ampuuuunnn…” Hendra meremas kepalan tangannya.

“Udah nih.  Terima tas ku dulu ya”

Hendra menerima tas berisi seluruh pakaian Surti yang dilemparkan dari jendela ke wajahnya.  Hampir saja Hendra terjatuh.  Entah apa saja yang ada di dalamnya.  Yang jelas, maling juga bisa pingsan kalau dilempar dengan tas seberat ini.

“Kamu ngapain Sur, lama-lama nyangkut di jendela gitu”

“Bukan.  Ini lho…ada yang nyangkut di kepalaku”

“Alamaaaakkk…” Hendra mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.  Tanpa mental baja, mengajak Surti kabur adalah melatih jantung bekerja melebihi kapasitasnya untuk disebut sehat.

Hendra menghampiri Surti untuk melihat lebih dekat apa gerangan yang menghambat gerak Surti kali ini.

“Sur, kamu niat nggak sih pergi sama aku?” ujar Hendra sambil perlahan melepas hiasan kepala Surti yang tersangkut di bagian atas jendela kamar.

“Kalo nggak niat, masak aku sampai mau keluar kamar dari jendela begini?”

“Terserah kamu aja deh” Hendra pasrah.

Biduan dangdut yang sibuk menggoyang-goyangkan pinggangnya itu tidak menyadari dua orang mengendap-endap di belakang panggung.  Ia terlalu sibuk menghibur penonton yang menanti goyangan pemicu syahwatnya yang terkenal di seantero desa.

Tak lama kemudian, kegemparan terjadi.  Seluruh penonton goyang dangdut tiba-tiba disibukkan oleh kegiatan mencari sesuatu.  Pertunjukan dihentikan.  Kabar terakhir yang didengar oleh sang biduan adalah, nyonya rumah pingsan, tuan rumah sibuk memanggil polisi.  Sebagian tamu yang hadir ada yang kebingungan, ada yang sok sibuk menolong nyonya rumah yang pingsan, namun ada juga yang tetap melenggak-lenggok di depan panggung seolah irama dangdut masih mengiringinya.  Mereka adalah golongan anak muda yang sudah terpengaruh oleh minuman beralkohol murah yang entah dicampur dengan larutan apa.

Surti memandang wajah Hendra yang kelelahan di sebelahnya.  Bis yang mereka tumpangi akan membawa Surti dan Hendra ke Jakarta.  Tanah harapan mereka berdua.  Makin dipandang, wajah Hendra kian tampan di mata Surti.  Surti menyukai Hendra sejak pertama kali mereka bertemu.  Sebagai kembang desa, tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan cinta Hendra, perjaka tampan dari Jakarta, yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan beberapa proyek pemerintah di desa Surti.  Meskipun Surti juga tidak dapat menampik kenyataan bahwa dirinya harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan cinta Hendra.  Tidak terkecuali dengan ibunya sendiri.  Wanita yang melahirkannya ini ingin segera menikahkan dirinya dengan Hendra agar tiap hari dapat berdekatan dengan Hendra di rumahnya.

 

(Ditulis untuk hari kedua #15HariNgeblogFF)
.

BROJO LINTANG (Belamcanda chinensis (L.) DC.)

Botani

Sinonim

Belamcanda punctata Moench.

Pardanthus chinensis Kergawl.

Klasifikasi

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Monocotyledoneae

Bangsa

Liliflorae

Suku

Iridaceae

Marga

Belamcanda

Jenis

Belamcanda chinensis (L.) DC.

Nama

Umum/Dagang 

Brojo lintang.

Jawa

Sulinga (Sunda), Brojo lintang (Jawa).

Sulawesi

Kiris (Minahasa).

Deskripsi 

Habitus

Semak, tinggi 1 – 1½ m.

Batang

Tegak, masif, pipih, berbuku-buku, halus, kuning kehijauan.

Daun

Tunggal, menutupi batang, lanset, tepi rata, ujung runcing, pangkal terbelah, pertulangan sejajar, panjang 50 – 60 cm, lebar 2 – 4 cm, hijau kebiruan.

Bunga

Majemuk, berkelamin dua, di ujung batang, kelopak segi tiga memanjang, ungu, benang sari tiga buah, panjang 1 – 1½ cm, kuning, kepala sari pipih, kuning, putik kuning, mahkota bentuk bintang, segi enam, halus, jingga.

Buah

Kotak, bulat memanjang, berparuh, hijau.

Biji

Bulat pipih, putih.

Akar

Serabut, putih kotor.



Gambar 102.  Belamcanda chinensis (L.) DC.

Khasiat

Bunga dan daun Belamcanda chinensis berkhasiat sebagai obat penurun panas dan akarnya berkhasiat untuk urus-urus.

Obat penurun panas : dipakai ± 15 gram bunga dan daun segar Belamcanda chinensis, dicuci, ditumbuk sampai lumat, diparamkan pada badan.

Kandungan Kimia

Bunga, daun, dan akar Belamcanda chinensis mengandung saponin; bunganya juga mengandung alkaloida dan tanin; serta daunnya juga mengandung polifenol.

.

BEGONIA (Begonia laciniata Roxb.)

Klasifikasi

 

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Dicotyledoneae

Bangsa

Cistales

Suku

Begoniaceae

Marga

Begonia

Jenis

Begonia laciniata Roxb.

Nama

Umum/Dagang 

Begonia.

Jawa

Begonia (Jawa).

Deskripsi

 

 

Habitus

Semak, tinggi 60 – 75 cm.

Batang

Lunak, merah kecoklatan.

Daun

Tunggal, duduk seperti roset akar, bentuk jantung, berbulu halus, tepi beringgit, pangkal tumpul, berbelah dua, ujung runcing, pertulangan menjari, hijau.

Bunga

Majemuk, bentuk malai, tangkai panjang 80 – 90 cm, daun pelindung satu, tipis, panjang 5 – 6 cm, lebar 3 – 4 cm, berbulu halus, benang sari terbagi tiga, berpasang-pasangan, mahkota bersayap tiga, satu lebar, dua lainnya pendek, merah keputih-putihan.

Buah

Kotak, masih muda hijau setelan tua coklat.

Biji

Bulat, kecil, putih.

Akar

Tunggang, putih kotor.



Gambar 101.   Begonia laciniata Roxb.

Khasiat

Daun Begonia laciniata berkhasiat sebagai obat luka baru.

Obat luka baru : dipakai ± 15 gram daun segar Begonia laciniata, dicuci, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempelkan pada luka baru.

Kandungan Kimia

Daun dan batang Begonia laciniata mengandung saponin; di samping itu daunnya juga mengandung tanin; dan batangnya juga mengandung flavonoida dan polifenol.

.

JOKO TEMPE

Badannya tidaklah terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Warna kulitnya sedikit gelap, tapi bisa dikatakan hitam. Itulah Si Anto, bocah berumur 10 tahun dengan penampilannya yang khas anak kampung. Anto tak ada bedanya dengan teman-temannya lain. Kesehariannya dihabiskan untuk bermain dengan teman-temannya. Mulai dari main bola, petak umpet, dan mandi di sungai tak jauh dari rumahnya. Satu hal yang membedakan dirinya teman-temannya yang lain, yaitu dalam hal makan.

Sore hari dengan wajah mengkilat karena terik matahari serta baju kotor dan bau tak karuan, dia pulang ke rumah. Melihat kondisinya yang seperti itu, ibunya paling hanya bisa geleng-geleng kepala. Pernah suatu ketika Anto kena marah ibunya, karena pulang dengan baju yang teramat kotor. Kalau sudah begitu, Anto pun akan tunduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bahkan kalau bisa bernafas pun akan dia tahan, agar sang ibu tidak semakin marah. Menyesalkah Anto atas apa yang telah dia lakukan? Ternyata tidak. Dia menyesal hanya untuk 2 – 3 hari saja. Kembali diulangi lagi perbuatan itu. Berulang-ulang hal tersebut Anto lakukan, hingga akhirnya Sang Ibu pun bosan untuk selalu memarahi.

Sore itu, kembali Anto pulang ke rumah dengan pakaian kotor penuh lumpur. Sepulang sekolah dia bermain sepak bola dengan teman-temannya di lapangan dekat Balai Desa. Hujan deras semalam membuat lapangan menjadi penuh genangan air dan berlumpur. Sengaja Anto lewat pintu belakang dan langsung ke kamar mandi. Pikirnya daripada kena marah lagi, maka sambil mandi dia pun mencuci pakaian kotor yang dipakai tadi.

Selepas maghrib, seperti biasa bapaknya beserta 2 orang kakaknya dan seorang adiknya telah duduk berkumpul di ruang makan. Kebiasaan keluarga Anto adalah makan bersama, khususnya untuk makan malam. Makan malam telah siap dimulai saat Anto duduk di ruang malam. Dia tebarkan pandangannya ke seluruh meja makan. Dan raut mukanya pun berubah. Rupanya apa yang dicarinya tidak tampak di meja makan.

“Ndak ada tempe kah?” kata Si Anto dengan nada kecewa.
“Itu khan ada ayam goreng dan perkedel. Mana cocok sayur sop kalau lauknya tempe”, sahut Nurhay, kakak sulungnya.
“Siapa juga yang mau makan pake sayur sop. Anto khan mau makan pake tempe!” bantahnya tak mau kalah.
“Memang kau makan tak pake sayur?” tanya Nova, kakak keduanya. Sebuah pertanyaan yang seluruh penghuni rumah sudah tahu jawabnya.
“Asyiiiik… Ayam goreng jatah Mas Anto buat Widya aja yaa….” adik bungsu Anto tak mau kalah.
“Anto … coba kau cicipi dulu perkedel atau ayam goreng masakan ibumu”, ujar bapak menengahi keributan di antara 4 orang anaknya.
“Pokoknya Anto minta tempe goreng, kalo ndak ada yaa… udah Anto ndak makan”, ucap Anto.
“Anto… makan jangan hanya tempe. Tubuh kita akan lebih sehat jika kita tidak hanya makan tempe. Otak kita pun akan lebih cerdas karenanya”, jelas bapaknya.
“Memang Anto bodoh kah?” kembali Anto berusaha membela diri.
“Nah … ini ibu udah gorengkan tempe kegemaranmu”, kata ibu mengakhiri keributan kecil di ruang makan tersebut dengan membawa beberapa potong tempe goreng yang masih panas.

Cerita tentang kebiasaan Anto yang hanya mau makan dengan lauk tempe sudah bukan lagi menjadi rahasia. Semua orang di kampung maupun di sekolah sudah mengetahui hal tersebut. Itulah sebabnya di rumah maupun di sekolah dia mendapat gelar “Si Joko Tempe”. Anto sebenarnya malu dengan gelar itu, tapi mau apa lagi. Hanya tempe yang bisa dia makan. Pokoknya asal ada tempe, dunia menjadi aman baginya.

Meskipun begitu, bukan berarti Anto anak yang loyo dan bodoh. Di sekolah Anto termasuk anak yang cukup cerdas. Tidak pernah nilai raportnya selalu berada pada peringkat 5 besar. Anto pun beberapa kali tergabung dalam ‘tim cerdas cermat’ mewakili sekolahnya dalam beberapa lomba cerdas cermat. Lomba-lomba yang sebenarnya justru menyiksa Anto. Gimana tidak menyiksa, kalau konsumsi peserta lomba adalah nasi kotak dengan lauk ayam goreng, telur, atau daging. Mana ada konsumsi kegiatan nasi kotak dengan lauk tempe goreng. Pastilah panitia akan banyak menerima komplain dari peserta.

***

Tak terasa 25 tahun berlalu. Sejak lulus SLTP, Anto sudah semakin jarang kelihatan di kampungnya. Banyak temannya waktu SD maupun SLTP yang tidak tahu kemana perginya Si Anto. Kini dia pulang, Si Joko Tempe pulang. Pulang untuk mengunjungi teman-teman lamanya. Si Joko Tempe telah menjadi Sarjana dan sukses bekerja di negeri seberang. Si Joko Tempe tidak lagi hanya makan tempe. Dia sudah mau dan bisa untuk makan telur, ayam goreng atau bakar, ikan goreng atau bakar, dan jenis-jenis makanan lainnya. Dia memang sudah dapat makan dengan berbagai jenis lauk. Tetapi Joko Tempe tetaplah Joko Tempe, dia tetap akan memilih tempe menjadi lauk jika dilihatnya ada tempe di meja. Kalau dulu dia kadang mau kalau dioloki dengan panggilan Joko Tempe, maka sekarang dia akan sangat bangga jika dipanggil Joko Tempe. Ucapnya, “Biarpun Joko Tempe, tetapi khan jadi Sarjana. Tempe itu makanan bergizi walau kelihatan tidak bonafide!”

PEREMPUAN BERWAJAH PENYOK

Karya : Ratih Kumala

.
Dari sepasang garis bibir, sebuah cerita akan sebait ingatan dituturkan : di tempatku ada wanita berwajah penyok.  Jika kau selalu berpikir bahwa hidup adalah berkah, maka kau tak akan setuju lagi setelah melihatnya.  Tetapi, jika kau senantiasa setuju bahwa hidup adalah kutukan, maka kau akan kian meyakini apa yang telah lama kau percaya.

Wanita itu tinggal dipasung pada ruang sempit yang tak bisa disebut manusiawi.  Dia buruk rupa dan gagu.  Konon kapasitas otaknya pun kurang hingga orang menyebutnya idiot.  Orang akan takut kala melihatnya.  Saat ingin berkata-kata hanya ada vokal yang keluar tanpa pernah benar-benar ada konsonan yang menyertainya.  Mulutnya pun hanya bisa mengerjap-ngerjap.  Orang akan teringat akan bentuk mulut ikan serta mengeluarkan bau tak sedap.  Orang akan tertarik dengan bentuk mulutnya saat ia mencoba berbicara.  Mereka yang berbaik hati karena kasihan dan awalnya berusaha untuk mengerti apa yang akan dituturkannya, lalu berubah menikmati sebuah keanehan sekaligus kejijikan oral yang tak dimiliki orang pada umumnya.  Ruangan pasung itu tanpa jendela.  Hanya sebuah pintu kayu yang selalu tertutup.  Satu-satunya bolongan yang ada hanyalah lubang kotak kecil di pintu tempat ibunya atau orang lain memberi makan dari situ sehari dua atau sekali.

Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tak dimaui?  Tanyakan pertanyaan ini padanya.  Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan melancarkan jawabnya.  Konon dia lahir tanpa diminta.  Korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan.  Hasil sebuah hubungan gelap yang dilaknat warga dan Tuhan.  Perempuan yang saat ini disebut “ibunya” bukanlah ibu yang sebenarnya.  Dia hanya inang yang berkasihan lalu bergantian menyusui lapar mulut dua orang bayi; bayinya sendiri dan bayi berwajah penyok yang dibuang orang di pinggir kampung.

Dulu, wanita berwajah penyok tidak dipasung.  Kala itu dia sudah mulai besar dan suka berjalan keliling kampung.  Dia tidak suka mandi dan cenderung membiarkan tubuhnya berkotor-kotor ria dengan pakaian yang tak pernah diganti.  Dia sangat dekil.  Anak-anak kecil suka membuntutinya, berjalan di belakang lalu menyambitinya dengan kerikil.  Suatu hari yang biasa; siang terang dan wanita berwajah penyok tengah keliling kampung sendiri saat anak-anak kecil sepulang sekolah itu mulai mengekori dan menyambiti punggungnya di belakang.

Awalnya, ulah anak-anak itu tak terlalu dipedulikannya.  Tetapi semakin dia berdiam, semakin jadi anak-anak itu menyambiti, seperti diberi pintu lebar untuk menyakiti dirinya.  Maka, wanita berwajah penyok mengambil sebongkah batu.  Tangannya yang dekil melemparkan batu itu ke arah anak-anak.  Seorang anak bengal berkepala peyang terkena timpukannya.  Membuat jidatnya terluka.  Darah segar mengocor dari situ, mengubah seragam putihnya menjadi merah.  Dia pulang ke rumah mengadu kepada ibunya, sementara anak-anak lain menjadi takut dan bubar satu-satu.

Selanjutnya, sebuah drama yang bisa diduga terjadi.  Sore itu juga ibu si anak datang ke rumah wanita berwajah penyok.  Ia mengomel dan menggoblok-gobloki wanita berwajah penyok yang ketakutan bersembunyi di pojokan.  Ibu si anak menunjukkan luka perban di kepala anaknya akibat perbuatan wanita berwajah penyok.  Ia bahkan mengutuki dan berkata bahwa wanita berwajah penyok hanyalah pembawa petaka yang seharusnya dipasung saja sebab dia mirip dengan manusia pun tidak.

Dengan terpaksa, keluarga wanita berwajah penyok akhirnya memutuskan untuk memasung dirinya pada sebuah ruangan kecil yang tak bisa disebut manusiawi dekat tanah pekuburan.  Sejak itu wanita berwajah penyok tinggal di dalamnya.  Bulan berganti tahun, tanpa tahu itu malam atau siang.  Wanita berwajah penyok tetap di dalamnya tanpa ada orang yang mengingat keberadaannya.  Ia hanya dikunjungi orang yang mengantar makanannya saja.  Saat dia merasa lapar, kupingnya ditajamkan akan langkah kaki yang akan mendekat ke ruang pasungnya.  Lalu menanti lubang kecil di bawah pintu itu dibuka hingga sebuah tangan akan mengulurkan makanan seadanya.  Ia mulai terbiasa; makan, pipis, dan eek di tempat yang sama.  Orang yang membersihkan ruang pasungnya pun sangat jarang hingga suatu hari tak pernah ada lagi yang datang membersihkannya.  Ah, lagi pula hidungnya pun telah kedap terhadap bau yang tak sedap.

Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi?  Tanyakan pertanyaan ini kepadanya.  Maka, yakinlah jika dia bisa berkata-kata, dia akan melancarkan jawabannya.  Tak ada yang benar-benar tahu apa yang dia kerjakan di dalam sana walau kadang terdengar suaranya berteriak untuk berontak.  Ini hanya menambah ngeri tanah pekuburan.  Orang-orang mengira itu suara kuntilanak jejadian penghuni kuburan.  Tak pernah ada orang yang benar-benar mendekat.  Wanita berwajah penyok telah lupa bahasa tanpa ia pernah benar-benar menguasainya.  Andaikata suatu saat dia bisa terbebas dari pasungnya, orang akan bertanya; bagaimana ia bisa bertahan hidup?  Sebab ia telah menjadi : sendiri.

Ruang pasungnya kian reot dan suram.  Selayaknya pekuburan pada umumnya, orang segan memasang penerang sebab orang segan melihat kematian.  Ruangan itu juga kian termakan usia.  Wanita berwajah penyok sendiri pun telah terlupakan.  Hingga rayap dan karat datang membuat lubang pada langit-langit ruang kecil itu.  Kini ada celah di sana.  Sinar bisa masuk dari celah sempit itu.  Berbaur dengan debu yang beterbangan di ruang sumpek sebab angin diam duduk menahun di dalamnya.

Pada malam yang biasanya kelam nan pekat, kini wanita berwajah penyok bisa mendapat segaris cahaya dari celah lubang tadi.  Kepalanya didongakkan ke atas, dia bisa melihat rembulan.  Bertahun dia tidak melihat rembulan hingga ia lupa bahwa yang dilihatnya adalah rembulan.  Untuk pertama kalinya dalam periode tahunan pasungnya, ia merasa bahwa dirinya punya
teman.  Dia mulai berkenalan.  Dengan bahasa yang hanya ia mengerti, ia bercakap-cakap dengan bulan.  Dia selalu menunggu teman barunya untuk berkunjung dan bercakap-cakap dengannya setiap malam.

Namun, semakin hari bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung.  Mengecil dan terus mengecil hingga hanya menjadi sabit.  Air muka rembulan juga semakin pasi.  Semakin hari bulan terlihat semakin sedih.  Wanita berwajah penyok mengajaknya bicara.  Dengan bahasa yang hanya bisa ia mengerti, ia mencoba untuk menghiburnya.  Setiap malam.  Dan selalu ditunggunya malam.  Saat rembulan datang mengunjungi.  Dan setiap malam pula ia kembali menghibur rembulan dengan bahasanya sendiri yang hanya bisa ia mengerti.

Semakin hari sabit rembulan jadi kembali membulat walaupun wajahnya masih pasi.  Saat bulan bulat penuh, wanita berwajah penyok girang sekali sebab ini berarti dirinya berhasil menghibur teman baiknya.  Tapi suatu hari rembulan kembali menyabit dan seperti yang sudah-sudah, wanita berwajah penyok tak pernah bosan menghiburnya dengan bahasanya sendiri hingga rembulan bulat penuh.  Terus seperti itu.

Hingga suatu malam, sehari setelah bulan benar-benar sabit, rembulan tidak datang mengunjunginya.  Ia sedih sekali dan mengira rembulan tak mau menemuinya.  Malam itu hujan turun deras.  Wanita berwajah penyok berpikir bahwa rembulan sedang menangis.  Maka dia ikut menangis pula, merasakan kesedihan mendalam sahabatnya.  Dan sekali lagi, dengan bahasa yang hanya bisa dia mengerti, dirinya berusaha membujuk bulan dan menghiburnya.  Dia tak pernah bosan.  Tetapi, langit tetap hujan, rembulan terus menangis.  Tetesan air masuk dari celah atap ruang pasung yang menjadi bocor.  Menimpa kepala wanita berwajah penyok dan membuat dirinya kebasahan.

Lelah, wanita berwajah penyok tertidur.  Ia menggigil hebat tanpa ada orang yang tahu keadaannya.  Paginya ia terbangun oleh segaris sinar yang masuk dari celah atap.  Sinar kecil itu jatuh ke kubangan air yang menggenang.  Dirasakannya tubuhnya demam.  Tetapi, begitu dia terbangun yang diingatnya hanyalah rembulan.  Siang telah menjelang, ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalaman bersembunyi di balik awan sambil menangis.  Ia menyesal tak bisa melihat wajah rembulan malam tadi.

Didekatinya genangan air tadi.  Genangan yang tak jernih.  Ia berwarna cokelat karena bercampur debu.  Sebuah bayangan ada di sana.  Ia tersenyum… dan menemukan wajah rembulan di sana.  Lalu dia tertidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat di dekatnya.

***

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.