RENUNGAN AKHIR TAHUN

Tahun 2011 segera berakhir dan Tahun Baru 2012 segera menjelang.  Momen pergantian tahun sering diperingati oleh sebagian besar orang dengan berbagai macam cara.  Ada yang membuat pesta kecil-kecilan di rumah atau komplek pemukiman.  Ada pula yang membuat pesta besar-besaran di restoran atau klub malam.  Ada yang sekedar duduk ngobrol bersama teman sambil menikmati jagung bakar ditemani minuman ringan sambil mendengarkan musik.  Kadang ada pulang yang berpesta pora dengan minuman keras ditemani perempuan panggilan.  Muncul satu pertanyaan, “Apa sebenarnya yang mereka rayakan?”  Tahun yang berganti?  Tahun yang telah dilalui?  Tahun yang akan dihadapi?  Atau gembira melalui tahun lama dengan segala ceritanya dan berkesempatan untuk bertemu dengan tahun yang baru?  Semua tidak jelas.  Semua tergantung dari masing-masing individu yang merayakan.

Kita memang sudah selayaknya untuk bersyukur karena dapat melalui tahun 2011 dengan segala hal yang terjadi di dalamnya.  Segala kisah tentang keberhasilan, kegagalan, duka cita, suka ria, kesedihan, dan kegembiraan telah dan akan segera kita tinggalkan.  Kita juga sudah seharusnya bersyukur karena masih mendapat kesempatan untuk menghirup udara di tahun 2012 (insya Allah).

Tapi apakah layak, rasa syukur itu kita rayakan dengan pesta pora?  Rasa syukur harusnya membuat kita menjadi lebih sadar diri.  Sadar akan keadaan orang-orang di sekitar kita.  Sadar bahwa masih banyak orang yang mempunyai nasib lebih buruk dari kita.  Layakkah kita berpesta pora sementara masih banyak orang yang belum tahu apakah besok ada yang bisa mereka makan.  Layakkah kita berhura-hura sementara masih ada orang yang sedih dan bingung memikirkan hari esok.  Pergantian tahun harusnya membuat kita lebih banyak melakukan perenungan.  Sadarkah kita, bahwa setiap hari yang kita lalui sesungguhnya semakin mendekatkan diri kita kepada sesuatu yang tak bisa dihindari.  Kematian, itulah yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan kita.

Pergantian tahun seharusnya menjadi sebuah perenungan bagi kita.  Berapa banyak kebaikan yang telah lakukan.  Berapa banyak hal buruk yang telah kita lakukan.  Mampukah kita melakukan hal-hal yang lebih baik di tahun 2012 nanti.

Sesungguhnya, pesta pora dan hingar-bingar yang kita lakukan tidaklah memberi manfaat apa pun.  Tidak bagi kita tidak pula bagi orang lain.  Berapa banyak uang terbuang percuma untuk satu perayaan yang tidak jelas manfaatnya.  Berapa banyak waktu terbuang percuma hanya untuk berpesta pora.  Kini saatnya kita memperbaiki diri.  Kita rayakan pergantian tahun dengan sebuah renungan untuk memperbaiki keadaan.  Saatnya bagi kita untuk tidak saling mencela.  Saatnya bagi kita untuk bersama-sama bekerja untuk kesejahteraan orang-orang di sekitar kita.
.

Ditulis dalam DIBUANG SAYANG. Kaitkata: , . 1 Komentar »

Natal di Central Park

Reblogged from my life, my words on desert:

Natal identik dengan berhias diri. Tidak hanya rumah-rumah umat yang merayakan penuh oleh beragam pernak-pernik Natal. Mal-mal pun tak mau kalah dalam memperindah penampilannya menyambut Natal.

Tak terkecuali mal yang saya kunjungi hari ini, tepat di tanggal 25 Desember. Mal yang berada di kawasan grogol Jakarta Barat ini adalah salah satu mal terbesar di DKI Jakarta. Paling tidak bila diukur dari megahnya bangunan yang tampak dari luar.

Read more… 1.014 more words

KISAH DI PENGHUJUNG 2010

Karya : Wishnu Hardynatta
Sumber :Kaltim Post, Edisi 12/18/2011

.

Waktu menunjukkan pukul 16.00.  Aku bergegas keluar dari rumah.  Tadi pagi aku janji dengan ibu untuk mampir ke toko.  Setelah berjalan sekitar 3 menit menyusuri gang tempat rumahku berada, dengan napas yang masih turun-naik, sampailah aku di pinggir jalan di depan kantor Dolog Balikpapan.  Sore itu jalanan tampak cukup padat.  Butug waktu lama untuk menyeberang.  Kalau tidak hati-hati tubuhku bisa jadi santapan kendaraan yang sedang melaju.  Angkutan kota nomor 5 sudah menunggu di seberang jalan sambil membunyikan klakson sesekali.  Perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai di seberang jalan.  Angkot pun meluncur setelah aku duduk tenang di dalamnya, tepat di samping sopir.

Sayangnya belum apa-apa kami sudah mulai terjebak dalam kemacetan.  Sebenarnya ini bukan pemandangan baru.  Hanya, kali ini lebih padat dari biasanya.  Maklum menjelang malam tahun baru.  Banyaknya pedagang ikan dan jagung dadakan turut menyumbang kemacetan, karena banyak kendaraan yang berhenti sembarangan untuk membeli ikan segar dan jagung, demi dijadikan santapan di malam tahun baru.  Sopir angkot yang kutaksir berusia 65 tahunan mulai berkomentar seakan mulai kesal dengan kemacetan jalan ini.

“Balikpapan sekarang padat, Pak.  Kendaraan tambah banyak tapi jalannya enggak nambah-nambah”, katanya dengan sedikit kesal.  “Kalau angkot sih enggak pernah nambah, hanya peremajaan saja”, sambungnya seakan menunjukkan protes atas banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalan raya.

Iya, Pak”, aku membalas ucapannya, dan bagiku cukuplah dengan mengiyakan saja karena saat itu aku sedang tidak tertarik untuk ngobrol.

“Lama-kelamaan bisa seperti Jakarta”, keluh pak sopir itu lagi sambil menginjak pedal gas pelan-pelan, karena kendaraan hanya bisa berjalan perlahan.

Kemudian pak sopir mulai bercerita mengenai perjalanan hidupnya sebagai pengemudi.  Tahun 2002, ia mengaku pernah mengadu nasih di Jakarta sebagai sopir antar jemput anak sekolah.  Dia mengisahkan betapa ruwetnya lalu lintas di Jakarta.  Untuk mencapai sebuah daerah yang jaraknya tidak begitu jauh, kita membutuhkan waktu yang cukup lama.  Kalaupun ingin cepat, kita bisa mencari jalan tikus.  Itu pun kalau jalan tikusnya tidak macet.  Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya.  Dia kembali mengisahkan bahwa setiap hari waktunya habis di jalan, terjebak kemacetan, untuk urusan kaki pegal tampaknya menjadi makanan sehari-hari.  Belum lagi menemui pengguna jalan yang tidak tertib, berhenti sembarangan, memotong jalan tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu.  Jelasnya, selama mengadu nasib di Jakarta yang dia peroleh hanya stress.

Angkot yang kunaiki pun sekarang sudah berada di depan Pasar Baru, tampak di sepanjang jalan di depan ruko sampai Mal Balcony dipasangi traffic cone berwarna oranye, dan dijaga beberapa petugas.

“Coba lihat, Mas, kalau dipasangi itu (sambil menunjuk traffic cone berwarna oranye, Red) berarti enggak boleh berhenti di sepanjang jalan ini.  Kasihan kan orang-orang yang bawa banyak belanjaan mau naik angkot.  Harus jalan jauh dulu”, kata sopir tua itu.

“Iya sih, Pak” kembali aku hanya mengiyakan saja.  Tapi menurutku tentunya pemasangan traffic cone itu ada maksudnya, karena biasanya sepanjang jalan itu dipadati kendaraan yang parkir atau sekedar berhenti hingga akhirnya menimbulkan kemacetan.  Namun, aku hanya menyimpan opiniku dalam hati.

Angkot terus bergerak menyusuri jalan, kami terdiam sesaat.  Tiba-tiba bapak sopir tua itu kembali membuka percakapan.

Sebenarnya kalau polisi mau gampang ngatur lalu lintas, pasang saja kamera di titik-titik tertentu, dan tinggal dimonitor dari kantor atau pos polisi.  Nah, kalau ada yang melanggar kan terlihat dan bisa dicatat nomor polisinya atau didata ciri-cirinya.  Selanjutnya tinggal ditindak.  Jadi, kan lebih hemat waktu dan tenaga”.

“Apa iya bisa begitu, Pak?” tanyaku, ingin tahu.

Iya, Mas”, balas sopir tua itu seolah paham dengan apa yang telah dia katakan tadi.

Ia juga menambahkan kalau sistem dendanya pakai sistem pemotongan lewat rekening si pemilik kendaraan.  Intinya semua pemilik kendaraan dan orang yang hendak membeli kendaraan harus punya rekening dengan nilai saldo tertentu.  Jadi, nantinya bila dia banyak melakukan pelanggaran, ya, uangnya akan terdebit.  Dan, bila uang di tabungannya sudah mencapai saldo minimal, maka dia wajib mengisi lagi.

Kalau ‘gitu kan benar-benar hemat waktu dan tenaga, dan tepat sasaran juga kan, Mas?” tegas bapak itu.

“Betul, Pak”, jawabku dengan terheran-heran atas penjelasannya.

“Dan, juga menambah kas daerah.  Iya, enggak Mas?” tambahnya lagi.

Iya, Pak, tepat sasaran”, jawabku lagi.

Hebat juga pemikiran sopir tua ini.  Bisa melontarkan ide semacam itu, bathinku.  Aku saja tidak sampai berpikir sejauh itu untuk masalah seperti ini.  Memang sepintas masuk akal dan efektif juga ide sopir tua ini.  Tapi, bagaimana untuk orang-orang yang membawa kendaraan dinas atau kendaraan pinjaman, tanyaku dalam hati.

Tak terasa kami sudah mendekati pertigaan Gunung Malang.  Bapak itu kembali membuka pembicaraan.

Dengar-dengar, bekas Puskib mau dibangun mal?” tanyanya kepadaku.

“Katanya sih ‘gitu, Pak”, jawabku, asal, karena aku jarang mengikuti perkembangan beritanya.

“Sayang kalau dijadikan mal.  Yang ada malah perang diskon, lebih baik dijadikan taman kota”, ucapnya.  Pak sopir ini sepertinya akan memaparkan ide-ide yang ada dalam pikirannya.

“Seandainya di situ dijadikan taman kota, wah, betapa asrinya Balikpapan”, tambahnya.

“Bahkan untuk sementara ini, mumpung masih jadi lahan kosong, bisa dijadikan lahan parkir.  Jadi, sepanjang jalan ini enggak boleh parkir sembarangan.  Kalau mau parkir, ya, harus di situ, daripada cuma dipagari seng ‘gitu”, tambahnya.

Aku menarik napas.  Rasanya seperti berhadapan dengan mesin pemikiran yang tak henti-hentinya mengeluarkan ide-ide konstruktif untuk membangun kota ini.  Padahal selama ini pikiranku tak sampai sejauh itu.  Selama ini aku hanya bisa menggerutu, mencela sana-sini bila menghadapi suatu masalah.

Menurut dia, dengan begitu maka kemacetan dapat dikurangi, karena jalan dapat termanfaatkan secara maksimal.  “Pak sopir ini sebenarnya siapa sih?” tanyaku dalam hati.  Semua ide-ide yang dilontarkannya menurutku sangat membangun sekali, sayang kalau hanya disimpan tanpa direalisasikan.

Tanpa terasa angkot pun tiba di seberang bekas bioskop Nusantara.  “Stop depan, Pak”, pintaku.

Angkot pun menepi.  Aku turun sambil memberi tiga lembar pecahan uang seribu rupiah kepada sopir tua itu.  Perlahan aku berjalan menjauhi angkot, pun demikian dengan angkot itu.  Sambil menyeberang jalan, seribu tanya mengumpul di otakku : siapa sebenarnya sopir dengan segudang ide itu.

***

.

TARIAN OMBAK LIQUISA

Karya : Ahmadun Yossi Herfanda

.

Ombak berdansa di Liquisa.  Deburnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir.  Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang berdansa dalam kehangatan bir dan hentakan musik disko.

“Ayo!  Kalau tidak berdansa kau belum ke Liquisa”, seorang lelaki berkata sambil menarik tangan perempuan yang duduk di depan bar.

“Bangsat kau, Jao!  Ketika kawan-kawanmu sedang kelaparan di hutan, kau malah mau berhura-hura”.  Perempuan itu bergeming di tempat duduknya.

“Bersenang-senang sedikit apa tak boleh.  Sudah berbulan-bulan aku di hutan.  Tak ada roti, tak ada bir, tak ada musik, tak
ada dansa”.

“Salahmu.  Sudah kubilang apa?  Tak ada gunanya lagi bergerak di hutan.  Letusan geranatmu sekalipun hanya didengar
batu-batu”.

“Heh! Jangan keras-keras!”

“Peduli apa?  Kalau mau tangkap, tangkaplah!” Perempuan itu malah mengeraskan suaranya.

“Armila!  Kamu jangan ngaco begitu!”

Lelaki itu melotot.  Matanya menyala dalam remang cahaya lampu.  Rambutnya yang berrombak seperti berdirian tiba-tiba.  Perempuan yang dipanggil Armila itu balas melotot.  Matanya juga menyala.  Dan…, tiba-tiba terdengar suara tembakan, berkali-kali.

“Jao!  Ada kontak!” Armila terkejut.

“Ya.  Aku dengar.  Dekat sekali”.  Jao juga terkejut.

“Jangan-jangan Alves dan kawan-kawan kena sergap”.

“Kubilang apa.  Tinggalkan rumah Victor sekarang juga.  Mereka masih tak percaya”.

“Kau benar, Jao.  Tapi mereka harus menunggu kiriman logistik dari Dili.  Kawan-kawan kita di hutan sudah berhari-hari kelaparan”.

“Kiriman dari siapa?  Dari Armando?  Aku malah curiga.  Jangan-jangan ia malah berkhianat”.

“Jangan curiga dulu.  Dia yang selama ini mengumpulkan dana dan mengirim perbekalan untuk kita”.

“Itu Victor!”  Seorang lelaki, tinggi kurus, dengan tubuh basah kuyup air hujan, tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang dansa.
Armila langsung memberi isyarat dengan tangan padanya.

Victor menangkap isyarat itu dan tergopoh-gopoh menuju depan bar.  “Rumahku disergap.  Alves dan kawan-kawan masih di sana”, kata lelaki kurus itu.  “Cepat kita lari.  Dua tentara memburuku.  Itu mereka di pintu”.

Dua sosok bayangan berkelebat menerobos pintu.  Jao langsung melompat dari tempat duduknya, dan menerobos keluar lewat pintu belakang.  Tapi, dua letusan pistol menyongsongnya.  Armila tak jadi ikut menerobos keluar.  Ia menyusup ke tengah orang-orang yang berubah panik oleh keributan itu.  Mereka berlarian kesana kemari.  Victor mencoba memanfaatkan situasi untuk kabur keluar.  Tapi, tentara agaknya sudah mengincarnya.  Ia ditangkap persis di mulut pintu.

“Tenang, saudara-saudara!  Tenaaang!  Kami hanya mau menangkap pengacau ini!  Silakan berdansa lagi!” seorang tentara
mencoba menenangkan suasana sambil mencengkeram lengan Victor yang telah diborgol kedua tangannya.

Pelan-pelan suasana kembali tenang.  Orang-orang kembali berdansa.  Armila pura-pura ikut larut ke dalamnya.  Tapi, ketika semua orang telah menemukan pasangan masing-masing, ia jadi merasa aneh, berjoget sendiri di tengah orang-orang yang tak dikenalnya.  Akhirnya ia memutuskan kembali duduk di depan bar, dengan dada yang masih bergemuruh.

“Armila!” Suara perempuan tiba-tiba mengejutkannya.  Ia menoleh ke arah suara itu.  Matanya memandang penuh selidik pada perempuan muda yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Lupa, ya?  Aku Mariana.  Dulu kita pernah berkenalan di rumah Victor”.

“Oh ya.  Kami tadi menunggumu di sini”.

“Maaf, aku agak terlambat.  Pas ada keributan tadi aku datang.  Aku sempat melihat Jao melompat lari ke belakang”.

“Bagaimana nasibnya?”

Mariana hanya menggeleng.  Armila merasa menemukan kawan senasib.  Gemuruh dadanya sedikit reda.  Tapi hujan tetap menggemuruh di luar, mengguyur ombak yang terus berdansa dengan angin dan pasir pantai.

“Kau ikut ke hutan?” tanya Mariana.

“Tidak.  Aku masih kuliah di Dili”.

“Jao cerita apa saja tentang aku?” Mariana bertanya lagi.

“Tidak banyak.  Cuma bilang kau kawan sekelasnya di SMA”.

Mariana menarik nafas panjang, seperti tiba-tiba ada sesuatu yang membebani perasaannya.  “Kau nginap di rumahku saja.  Malam-malam begini tidak mungkin balik ke Dili”, katanya sambil mencoba menekan gejolak perasaannya.

“Kupikir begitu.  Aku tadi sempat bingung, mau nginap di mana.  Rencananya tadi mau di losmen sebelah.  Tapi aku tak bawa
duit . Jao yang janji membayariku”.

“Jangan kuatir.  Aku akan menanggungmu sampai kau bisa balik ke Dili.  Sebentar lagi kita pulang jalan kaki.  Aku Cuma bertugas sampai pukul dua belas”.

Lewat pukul 12.00 hujan reda.  Armila dan Mariana melangkah setengah menggigil, menyusur jalan beraspal yang mendaki bukit.  Udara malam Liquisa dingin sekali karena hujan.  Awan hitam di langit bergerak cepat.  Sesekali cahaya bulan menerobos dari celah-celah mendung tebal, mengusap pohon-pohonan.  Butir-butir air hujan di ujung dedaunan gemerlapan beberapa saat tertimpa cahaya itu, seperti butir-butir kaca kristal, lalu padam setelah jatuh ke bumi.

Mereka nyaris sampai ke rumah Mariana ketika tiba-tiba hujan mengguyur bumi Liquisa kembali.  Dengan setengah berlari, mereka pun tiba di depan pintu sebuah rumah sederhana separuh tembok.  Baju dan rambut mereka agak kuyup.

“Kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan mami dan anakku”.

Mariana langsung membawa Armila masuk kamar, lantas membuka almari kayu, mengambil sepotong daster dan menyodorkannya pada perempuan itu.  “Pakailah ini untuk tidur”.

“Mana anakmu?” tanya Armila sambil melepas kaos oblongnya.

“Di kamar sebelah bersama ibu.”

“Suamimu?”

Mariana tidak langsung menjawab.  Ia pura-pura suntuk merapikan rambutnya.  “Aku tak punya suami”, katanya lirih.

“Oh, maaf….  Lalu…. anak itu…..?”

“Anak itu bagian dari masa laluku.  Juga masa lalu Jao”.

“Masa lalu Jao?” Armila tampak terkejut.

“Ah, sudahlah.  Besok saja kita bicarakan.  Kau pasti lelah dan ngantuk.  Tidurlah.  Dipannya cuma cukup untuk satu orang.  Aku akan tidur di kamar sebelah bersama anakku.  Selamat tidur”.

Armila ditinggalkan begitu saja di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi listrik 10 watt.  Ia hanya sempat melongo ketika Mariana melangkah pergi.  Ia sempat menangkap sesuatu yang berat untuk diucapkan oleh perempuan penjaga bar itu tentang anaknya dan Joa.  Sesuatu yang mungkin panjang untuk diceritakan sehingga harus ditunda.

Dada Armila yang tinggal bergemuruh sendiri oleh pertanyaan-pertanyaan dan dugaannya sendiri.  Apa hubungan anak itu dengan Jao?  Apa hubungan Mariana dengan Jao?  Apakah Jao pernah menikahi Mariana?

Ingat Jao, Armila ingat janji dan impian-impian lelaki jangkung itu, “Percayalah, Armila.  Kalau Timor merdeka aku akan langsung melamarmu jadi istriku.  Dan, aku akan jadi pejabat tinggi, dan kita bisa hidup damai dan bahagia.  Ha ha ha …..”  Tawa lelaki itu mengoyak udara sore, suatu hari, ketika mereka berjalan menyusuri sungai yang berisi pasir dan batu-batu, di tepi hutan di kawasan Ermera.

***

Armila tak dapat memejamkan matanya.  Dadanya tetap bergemuruh.  Kepalanya kacau oleh pertanyaan-pertanyaan dan pikiran-pikiran aneh.  Kadang-kadang ia teringat kuliahnya yang kacau akibat pergerakan clandestine yang diikuti dan menyeretnya cukup jauh ke masalah-masalah politik yang tak sepenuhnya ia pahami.  Apalagi setelah Jao sering mengajaknya keluar masuk hutan, atau mengunjungi desa-desa di malam gelap tempat para forsa bertemu.  Bayang-bayang lelaki jangkung berambut keriting itu pun muncul dibenaknya, menyeringai, tertawa, lalu lenyap begitu saja begai ditelan rimba gelap.

Armila kadang-kadang merasa amat benci pada lelaki itu, lelaki yang sering berbuat sesukanya : jarang mandi, tidur mendengkur seenaknya di mana saja, minum anggur sesukanya sampai tubuhnya oleng, suka mencaci maki dan menempeleng anak buahnya — bahkan pernah menembak seorang anak buahnya tanpa sebab yang jelas, melahap apa saja sesukanya — termasuk daging ular, kadal, dan tikus hutan yang hanya dibakar tanpa garam.

Namun, ada kekuatan aneh yang tak dapat dibendung oleh Armila, getaran yang juga tak sepenuhnya ia pahami : cinta.  Kekuatan ini, seperti gerakan subversif, terus merong-rong hatinya.

“Engkaulah satu-satunya wanita yang berhasil menundukkan hatiku, Armila.  Aku mencintaimu”, kata Jao dengan bibir bergetar dalam sorot cahaya api unggun di dalam gua tersembunyi di balik bukit, pada suatu malam.

Armila hanya menunduk.  Perasaan aneh tiba-tiba menyergap hatinya.  Dan, seperti api unggun yang membakar kayu-kayu kering, cinta pun lantas membakar birahi mereka sampai hangus, sebelum perempuan itu benar-benar menyadari arti cinta dan kehadirannya.

“Jao….” Armila menitikkan air mata bagitu menyadari sesuatu yang berharga telah hilang dari dalam dirinya di dalam gua itu, direnggut Jao.

“Maafkan aku, Armila.  Kau menyesal?” Tanya lelaki itu sambil mengusap rambut Armila.

Perempuan itu tidak menjawab.  Air mata meleleh di kedua pipinya.

“Sudahlah, Armila.  Jangan menangis.  Aku berjanji, kaulah wanita pertama dan terakhir bagi hidupku.  Aku pasti menikahimu setelah perjuangan kita selesai.  Setelah Timor merdeka!”

Hanya mereka berdua di dalam gua itu.  Sebagian forsa yang lain sedang turun ke Liquisa untuk menjemput kiriman dari Dili.  Udara malam tiba-tiba mati.  Hening sekali.  Hanya suara jengkerik dan burung hantu di kejauhan, serta kemeretek kayu-kayu kering yang terus terbakar api unggun.  Armila tertidur setelah merebahkan kepalanya, seperti kapal menemukan pelabuhan, di pangkuan Jao.

***

Armila tidak ingat benar sejak pukul berapa ia tertidur di kamar sempit rumah Mariana.  Ketika membuka mata, hari sudah agak siang.  Berkas-berkas cahaya matahari menerobos masuk lewat celah-celah atap genteng.  Kepalanya terasa agak berat.

“Mandilah biar segar.  Kamar mandi di belakang.  Sudah ada handuk di sana”.  Mariana melongokkan kepalanya lewat mulut pintu kamar yang setengah terbuka, sambil tersenyum pada Armila yang masih terbaring di balik selimut bergaris-garis hitam.

“Thank’s”.  Armila bangkit dan melompat turun, melangkah agak gontai ke kamar mandi.  Selesai mandi dan merapikan diri, ia langsung ke ruang tamu.  Ada ganjalan pertanyaan yang mesti dipuaskan oleh jawaban Mariana.

“Ini anakku.  Yasso, ayo berkenalan dengan tante Mila”.  Mariana sudah menunggu di ruang tamu bersama anaknya – seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahun.

Anak itu berdiri menyongsong Armila sambil mengulurkan tangannya.  Ia menyambut tangan itu dengan hangat.  Ada getaran aneh ketika ia menatap wajah anak itu.  Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang sangat dikenalnya : Jao Alvino.  Armila terlongong beberapa saat sampai suara Mariana menyadarkannya.

“Yasso, sana makan dulu bersama nenek di belakang”.

Anak itu menurut saja.

“Wajahnya mirip Jao, kan?” Mariana agaknya menangkap apa yang sedang bergejolak di hati Armila.

“Jadi… itu anak Jao?”

“Ya”.

Wajah Armila mendadak berubah kemerahan.  Ada arus listrik yang tiba-tiba menyengat hatinya.  “Jadi … kau istri Jao?”

“Bukan.  Kami tak pernah menikah.  Ceritanya panjang.  Kami bergaul intim cukup lama, ketika sama-sama di SMA.  Menjelang ujian kelas tiga, aku hamil.  Dia mau menikahiku selesai ujian, tapi dengan syarat aku mau ikut dia ke Lisabon.  Aku tidak keberatan, asal boleh membawa mamiku.  Kau tahu, aku anak satu-satunya.  Papiku sudah lama meninggal.  Sedang mamiku tak punya saudara dan sering sakit-sakitan.  Tentu aku tak tega meninggalkannya dalam keadaan begitu.  Lalu Jao nekad berangkat sendiri.  Katanya, masa depannya ada di sana.  Empat bulan setelah kepergiannya, Yasso lahir.  Tahu-tahu, tiga tahun yang lalu dia muncul lagi.  Katanya, ada yang harus dia perjuangkan di sini”.

“Mendengar cerita itu hati Armila seperti diberangus api.  Bumi dirasakannya seperti jungkir balik tiba-tiba.  Tapi ia berusaha keras menguatkan diri, mencoba mendengarkan cerita itu dengan dingin.  Namun, pertahanannya jebol juga.  “Bajingan!  Lelaki itu telah membohongiku!” teriaknya setengah histeris.

“Maafkan aku, Mila, aku telah mengganggu perasaanmu.  Aku tahu kau mencintai dia.  Tapi, kurasa, kau perlu tahu ini semua, agar tak ikut menjadi korbannya”.

Dada Armila bergemuruh keras, seperti mau meledak.  Ia ingin menjerit keras-keras, atau mengumpat Jao sambil berteriak kuat-kuat.  Tapi ini tak ia lakukan.  Lelaki itu toh tak ada di depannya.  Bahkan nasibnya pun tidak jelas, tertembak mati, ditangkap tentara, atau lolos kembali ke hutan.  Yang dapat dia lakukan hanyalah menangis sambil mendekap Mariana.  “Maafkan aku, Mariana.  Aku sungguh tak bermaksud merebut Jao dari tanganmu.  Dia yang telah membohongi aku”, katanya dengan agak terbata, setelah tangisnya reda.

“Kau tidak bersalah, Armila.  Itulah Jao, kalau kau mau tahu.  Dan, jangan kaget, ada korban lain yang bernasib lebih malang daripada kita.  Kira-kira tiga bulan setelah muncul kembali, Jao mengajak seorang gadis ke barku.  Isabela namanya.  Ia bilang gadis itu keponakannya.  Kira-kira lima bulan kemudian, gadis itu datang sendiri sambil menangis.  Ia bilang, telah mengandung anak Jao.  Kulihat perutnya memang sedikit membuncit.  Ia minta tolong agar aku mendesak Jao untuk menikahinya.  Ia bahkan mengancam, kalau Jao tidak menikahinya, ia akan melaporkan persembunyiannya pada tentara.  Malamnya Jao datang ke barku.  Maka, semua keinginan gadis itu kusampaikan kepadanya.  Seminggu setelah itu, gadis itu ditemukan mati terbunuh di tepi hutan”.

“Ya, ampun…” Armila terperangah.  “Apa Jao yang membunuhnya?”

“Tidak ada bukti yang jelas.  Tapi, ada yang melihat, sehari sebelumnya gadis itu pergi bersama Jao”.

***

Pulang dari Likuisa naik bus umum bukan kenangan manis yang dibawa Armila – seperti dijanjikan Jao.  Tapi, adalah kenangan teramat pahit, bahkan teramat menyakitkan : serangkaian tragedi yang menimpa kaumnya akibat kebiadaban seorang lelaki yang selama ini menghadirkan dirinya sebagai sesosok pahlawan, sesosok pejuang, di depan matanya.  “Lelaki itu benar-benar pembohong!” umpatnya berkali-kali, di dalam hati, di dalam bus yang meliuk-liuk menyusur lereng pebukitan menuju Dili.

Maka, begitu menginjakkan kaki di kota Dili, yang pertama-tama dicarinya adalah kabar tentang nasib Jao dan dimana ia sekarang berada.  Ada dendam baru yang mesti ia tumpahkan kepada lelaki jangkung itu.  Ia seperti tak sabar lagi.  Hatinya terasa hangus terbakar.  Ia ingin menemui lelaki itu hari itu juga, entah hidup atau mati.  Kalau lolos dari sergapan tentara, ia ingin memburunya ke hutan.  Kalau tertangkap, ia ingin melunaskan sakit hatinya di penjara.  Kalau mati, ia ingin menyumpahi mayat atau kuburannya.

Armila menemui beberapa clandestine yang biasa berhubungan dengan Jao.  Tapi mereka bilang belum ada kabar.  Mereka hanya mendengar tentang Alves dan kawan-kawannya yang tertangkap di Liquisa.  Armila pun memberanikan diri mendatangi markas tentara.

“Anda mahasiswi yang baik.  Anda pasti mau menunjukkan di mana Jao bersembunyi”, kata seorang tentara setelah Armila membeberkan jati dirinya.  Agaknya Jao lolos ke hutan dan tentara kehilangan jejaknya.

“Itu yang akan saya sampaikan pada Bapak, asal Bapak mau menjamin keselamatan saya”.

“Jangan khawaitr, kami akan tugaskan beberapa tentara untuk menjaga Anda”.

Setelah menunjukkan tempat persembunyian Jao, di sebuah gua di balik bukit, di tenggara Liquisa, Armila pun tinggal menunggu kapan lelaki itu muncul dengan tangan diborgol atau sudah jadi mayat karena tertembak.  Tapi, ia sangat berharap dapat bertemu lelaki itu dalam keadaan masih hidup agar dapat melunaskan sakit hatinya.

Ditunggu sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, akhirnya Jao tertangkap juga.  Hidup-hidup, dengan paha kiri terserempet peluru.  Armila langsung memburunya ke penjara.  Lelaki itu menyunggingkan senyum begitu melihat Armila datang.  Tapi gadis ini malah mencibir.  “Mariana sudah bercerita banyak tentang kau”, katanya dengan mata yang memancarkan kebencian.

“Cerita apa saja dia?” Jao langsung curiga.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya.  Aku berkenalan dengan anakmu di rumahnya.  Juga tentang Isabela yang kau bunuh di tepi hutan setelah kau hamili.  Kau pembohong besar, Jao”.

“Bangsat dia!” Mata lelaki itu makin merah menyala.

“Kupikir, ini ganjaran yang setimpal untuk lelaki macam kau.  Akulah yang menunjukkan tempat persembunyianmu pada tentara”.  Suara Armila datar, tapi kata-katanya menghantamkan pukulan telak.

“Jadi, kau mengkhianati aku, Armila?  Bangsat kau!”

“Tidak, Jao.  Aku tetap setia pada cita-cita perjuangan clandestine.  Tapi, Bangsa Timor tidak membutuhkan orang seperti kau.  Kami membutuhkan para pejuang yang dapat melindungi kaum perempuan, bukan perusak perempuan seperti kamu.  Kau tak ada artinya bagi masa depan kami.  Selamat tinggal, Jao!’’

Dengan wajah tetap membara, Jao terperangah mendengar kata-kata Armila.  Pada saat itulah perempuan itu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lalaki yang tangannya sedang bergetar geram mencengkeram terali besi itu.

“Bangsaaat!  Awas, kubunuh kau, perempuan busuuuuk!!!” suara Jao keras sekali, seperti mau meledakkan penjara.

Tapi, Armila terus melangkah pergi, pura-pura tak mendengar umpatan itu.  Hatinya, yang terasa amat pedih, hancur berkeping-keping, lalu menyerpih bagi serpihan ombak yang terus berdansa di Liquisa.

***


Dili, Juli 1994/2001

.

TATA CARA MENGGUNAKAN KOMPAS

Sumber : http://caresociety.blogspot.com/2009/12/tata-cara-menggunakan-kompas.html
.

TEHNIK NAVIGASI HANYA DENGAN MENGGUNAKAN KOMPAS
Ini merupakan pengetahuan yang mudah, dan bisa dikatakan tidak cukup untuk mengadakan perjalanan yang aman di daerah yang tidak dikenal.  Hal pertama yang hatus dimengerti adalah ARAH. Utara, Selatan, dan Barat.  Perhatikan kompas anda dan pelajari bagaimana sudut Utara merupakan sesuatu yang sangat penting.
Ada banyak macam kompas, ada yang pemakaiannya dengan menempelkan pada peta dan ada juga yang pemakaiannya dengan memempelkan pada ibu jari kita.  Kompas ibu jari (kompas bidik) banyak dipakai oleh para orienteer yang selalu bergerak cepat, dan jenis kompas ini yang biasanya normal dipakai.  Tapi ini bukanlah hal yang tutorial.

MENGENAL BAGIAN KOMPAS
Temukan panah yang berwana merah dan hitam, yang disebut juga jarum kompas.  Dan di beberapa jenis kompas lain ada yang berwarna merah dan putih.  Tapi intinya, bagian yang merah selalu menunjukan arah magnetik bumi yaitu kutup utara.  Hal dasar inilah yang harus dipahami terlebih dahulu.  Dan bagaimana caranya jika tujuan kita bukan ke Utara, tapi arah lain? jawabnya simple saja, yaitu pada bagian kompas terdapat bagian yang bisa diputar yang disebut juga rumah kompas.  Pada bagian atas sisi dari rumah kompas akan ditemukan skala yang menunjukan angka 0 sampai 360 atau dari 0 sampai 400.  Itu semua adalah sudut derajat atau bearing dan kita juga akan menemukan huruf abjad N, S, W dan E yang diartikan sebagai North (Utara), South (Selatan), West (Barat) dan East (Timur).  Jika kita hendak menuju kearah diatara dari dua arah diatas, yang dilakukan adalah mengkombinasikannya.  Misalnya kita akan menuju kearah diatara Utara dan Barat yaitu Barat Laut : yang dilakukan adalah, temukan sudut barat Laut pada rumah kompas, dan putar rumah kompas sehingga sudut barat Laut berada persis diatas ujung penunjuk arah pada rumah kompas.  Peganglah kompas secara datar dengan begitu jarum kompas bisa berputar bebas, kemudian putarlah tubuh dan tangan sehingga bagian utara dari jarum kompas yang berwarna merah menempel sama dengan bagian utara pada rumah kompas.  Hati-hati karena bagian ini sangat penting untuk diperhatikan.  Jika sudut selatan jarum kompas yang menempel pada utara rumah kompas, maka artinya kita berjalan pada arah berlawanan dari arah yang kita tuju.  Perhatikan hal ini karena banyak pemula yang melakukan kesalahan pada bagian ini.  Jadi selalu perhatikan untuk memastikan posisi kita sudah benar.

Prolem kedua yang kita sebut dengan local magnetic attraction.
Jika kita membawa sesuatu benda yang mengandung besi, hal ini akan memungkinkan terganggunya jarum kompas.  Bahkan staple pada peta akan memungkinkan terganggunya jarum kompas.  Pastikan tidak adanya hal sejenis di atas atau di sekeliling kompas.  Hal lain yang memungkinkan terjadinya gangguan magnetik pada tanah yang disebut juga magnetic deviation, tapi hal ini jarang terjadi.  Hal ini akan mungkin terjadi jika kita berada pada wilyah penambangan mineral yang mengandung biji besi.  Jika kita sudah yakin pada posisi yang benar, berjalanlah pada arah yang ditunjukan oleh ujung penunjuk arah pada rumah kompas.  Untuk menghindari keluar dari jalur, pastikan untuk selalu mengawasi kompas secara kontinyu, katakan saja setiap seratus meter kita cek selalu posisi kompas.  Tapi ini kadang cukup melelahkan untuk menunduk terus, jalan keluarnya adalah temukan sesuatu objek yang jelas dan gampang dikenal pada jalur lintasan kita dan pergilah menuju titik tersebut dari sana kemudian lakukan lagi hal yang sama dan jangan sampai menyimpang dari titik koordinat lintasan kita.  Tapi hal ini akan lebih penting lagi bila kita mempunyai peta.  Ada hal yang harus diperhatikan untuk menghindari menuju arah yang salah, yaitu : Matahari, pada sore hari matahari kira-kira berada di Selatan (atau di Utara pada wilayah sounthern hemisphere), jadi jika anda menuju arah utara dan mendapatkan sinar matahari pada wajah, itu artinya anda harus melakukan penentuan arah lagi.

KAPAN KITA MEMERLUKAN TEHNIK KOMPAS INI?
Jika kita berada dialam terbuka tanpa peta, dan kita tidak tahu berada dimana, tapi kita mengetahui adanya jalan, trail, kali kecil, sungai atau sesuatu yang besar atau panjang yang mudah dikenali jika kita menuju arah yang benar.  Dan kita mengetahui arah mana yang harus ditempuh, setidak-tidaknya kira-kira ke arah mana.  Kemudian yang perlu dilakukan adalah, arahkan penujuk arah pada rumah kompas ke arah yang akan dituju kemudian putarlah rumah kompas sehingga jarum kompas yang berwarna merah menempel sama dengan bagian utara rumah kompas. Ikutilah  langkah tersebut di atas, akan tetapi hal ini saja tidak cukup, karena tidak begitu akurat.  kita menuju arah yang benar, dan tidak akan berputar-putar, tapi ini merupakan keberuntungan karena kita menemukan titik yang bisa dikenali pada lintasan ini.  Karena itulah hal deklinasi tidak dibahas.  Karena deklinasi merupakan hal yang berhubungan dengan penggunaan peta.  Tapi jika kita bisa mengimajinasikan peta dan tahu apa itu peta, lakukanlah hal tersebut.  Tapi rasa kita tidak akan begitu akurat jadi deklinasi tidak membuat sesuatu yang berbeda.  Jika kita melakukan perjalanan panjang pada medan yang tidak dikenal, kita harus selalu membawa peta yang baik yang mengambarkan wilayah tujuan kita.  Terlebih lagi jika kita meninggalkan jalan setapak, ini akan lebih membuat penggunakan kompas dan peta lebih interaktif, dan pada saat itulah kompas akan mejadi sesuatu yang sangat berharga.

TIPE DARI KOMPAS
Kompas yang baik mempunyai rumah kompas yang berisi cairan, cairan tersebut menahan jarum kompas, sehingga kita tidak harus terlalu memeggang kompas dengan posisi yang betul-betul diam.  Hindarilah membeli kompas yang tidak mempunyai cairan dalam rumah kompasnya.
Jarum kompas mempunyai dua warna, jika kompas dipegang rata, bagian merah akan mengarah ke utara dan yang putih ke arah selatan.  Hal yang menarik adalah adanya nothern dan southern hemisphere kompas.  Ini merupakan keharusan karena adanya fakta akan bidang garis magnetik, yang mana tempat terpasangnya jarum kompas, menunjukan sudut bumi pada kutup magnetik utara dan selatan.  Pada northern hemisphere bagian ujung utara dari jarum kompas tertarik ke arah bawah, dan ujung utara merupakan pengantisipasi keseimbangan jarum kompas.  Jika kita menggunakan northern hemisphere kompas, katakan saja Australia, bagian ujung utara magnet akan tertarik ke arah bawah dari bidang magnetik, dan juga lebih berat dari pada ujung utara – hal ini membuat jarum kompas terarah dan berpindah pada bagian bawah dari rumah kompas jika compas di pegang horisontal.  Kompas yang baik akan bertahan lama, akan tetapi, kadang-kadang ada suatu hal yang tidak beres pada kompas, komponen plastiknya rusak, atau rumah kompasnya bocor.  Dalam waktu yang panjang, cairan dalam rumah kompas mungkin akan berubah warna menjadi biru kehijauan.  Dan sangat jarang bidang magnetik dari jarum kompas berubah, misalnya ujung utara erubah menjadi ujung selatan.

ADA DUA MACAM KOMPAS ORIENTEERING
1.  BASE PLATE ATAU PROTRACTOR COMPASS
Jenis kompas ini dikembangkan oleh Kjellstrm bersaudara di masa era perang dunia ke II dan terdiri dari piringan dasar bersegi empat, yand diberi tanda dengan anah panah merah yang menunjukan arah axis, dan rumah kompas yang bisa diputar diberi tanda dengan sudut (360 derajat untuk lingkaran penuh dari keseluruhan dunia, tapi hanya 400 pada beberapa kompas Eropa).  Pada bagian dasar dari rumah berputar dari kompas diberi tanda dengan panah dan set garis paralel pada tandah panah tersebut.  Sebagai tambahan kadang juga ada tali untuk mengikatkan kompas pada pergelangan tangan, sisi penggaris dengan ukurannya untuk digunakan mengukur jarak pada peta, kaca pembesar untuk membaca peta lebih baik dan contoh dari lingkaran serta segitiga untuk membuat tanda yang digunakan kursus orieentaring pada peta.

2.  THUMB COMPASS (kompas jempol)
Pada pertengahan tahun 1980′an, top Swedia orienteer membuat alternatif pada kompas type dasar piringan dengan menipiskan dasar piringannya dan menempatkan strap pada kompas yang nantinya akan dipakai pada ibu jari.  Kompas ini dipakai pada ibu jari tangan kiri, yang melekatkannya pada peta.  Kelebihan dari system ini adalah peta dan kompas selalu dibaca sebagai satu unit, peta lebih gampang dan lebih cepat diluruskan, ditambah lagi tangan yang satunya bebas, kekurangannya adalah karena kakuratannya membuat agak sulit pada bearing.  Kecendrungan pribadi biasanya memutuskan type kompas yang dipakai; pemedang kejuaraan dunia orienteering telah menang dengan menggunakan kedua type kompas di atas.

Ada dua basic skill yang diperlukan oleh orienteer yaitu, Peta Orienting dan Menghitung Bearing.

MENGGUNAKAN KOMPAS UNTUK ORIENTASI PETA
Ini merupakan keahlian yang mudah, dan juga merupakan hal penting pada penggunaan kompas. sbb :

Peganglah peta secara horisontal
Letakan kompas diatas bidang datar peta
Putar peta sampai garis utara pada peta (bisa ditemukan dua garis lurus berujung panah yang menunjukan utara magnetik atau bagian atas dari abjad yang terdapat di peta adalah utara peta) sampai sama dengan utara kompas.
Sekarang peta sudah terorientasi pada medan.  Ini membuatnya lebih mudah dibaca

MENGHITUNG BEARING
Setiap arah bisa dinyatakan sebagai sudut yang terhubung dengan utara.  Pada militer ini disebut “Azimuth” dan bearing dinyatakan sebagai jumlah derajat.  Orienteer mengambil jalan keluar yang gampang, dengan mensetting sudut pada kompasnya dan menjaga jarum kompasnya, dan ini membuat mereka tetap bergerak pada arah yang benar.  Instruksi langkah-langkah mudah cara mengeset bearing ada pada dasar kompas type baseplate adalah :

Letakan kompas di atas peta penunjuk arah mengarah ke arah tujuan kita.
Putar rumah kompas sehingga tanda panahnya yang terdapat pada dasar plastiknya paralel dengan panah yang tergambar pada peta (pastikan mata anak panahnya mengarah ke utara bukan selatan).
Pisahkan kompas dengan peta dan peganglah peta di depan kita jadi dengan begitu arah perjalanan kita terbentang di depan kita.
Putarlah tubuh sehingga jarum kompas tepat pada tanda panah di dasar rumah kompas.
Pilihlah sebuah objek jelas di depan kita yang terletak dijalur perjalanan kita, ulangi prose in i(cara ini kita bisa memutari rintangan dan tetap berada pada jalur bearing kita).

SEBERAPA PENTINGNYA SEBUAH KOMPAS?
Peralatan yang paling penting yang digunakan pada orienteering adalah otak manusia.  Satu peralatan lain yang diijinkan dan digunakan secara general yaitu : Kompas.  Kompas sangat berguna sebagai penghitung bearing dan untuk orientasi peta, sehingga membuat peta cocok dengan medan.  Tapi mungkin, di hampir banyak area, untuk melakukan sebuah jalur sangat mudah dan efisien tanpa kompas (sebagai pengecualian : akan sangat sulit untuk bernavigasi pada area yang kurang tanda-tanda alamnya tanpa kompas).  Hanya kompas yang legal digunakan pada orienteering.  Altimeter sangat dilarang dan GPS unit termasuk yang dilarang oleh peraturan.  Sudah merupakan pernyataan yang jelas kalau GPS unit sangat berguna dan alat yang sangat menolong, tapi saat dipertanyakan bagaimana bila setiap orienteer menggunakan GPS unit dalam setiap perlombaan? orienteering merupakan hal yang tidak menarik lagi.  Bagi pemula dalam orienting, wajib dan perlu mengenal pengetahuan dasar kompas dan piawai dalam membaca peta.

MEMAKAI KOMPAS DALAM SUATU INTERAKSI DENGAN PETA
Ini merupakan pelajaran yang sangat penting, dan harus kita ketahui secara baik.  Bila kita menggunakan kompas dan peta, maka akan terasa sekali kegunaan kompas, dan kita akan bisa bernavigasi di medan yang tidak dikenal dengan lebih akurat walaupun tanpa mengikuti jalan setapak.  Tapi ini membutuhkan latihan dan pengalaman, disini kita tidak membahas secara khusus mengenai peta, sebab hal tersebut bisa anda dapatkan pada subjek lain di situs ini.  Tapi pelajaran ini akan lebih bermafaat jika kita juga mempunyai kemampuan merasakan apa yang dikatakan oleh peta.

Kembali ke pelajaran kompas.
Pada prinsipnya pelajaran ini sama dengan yang sebelumnya, kita akan menggunakan peta untuk mengetahui yang benar dan bukan berdasarkan intuisi kita.

Pegang Peta : Pada contoh kita yang pertama, kita perhatikan peta yang dibuat untuk orintasi, dan ini sangat jelas??? sebenarnya tidak juga, mari kita lihat peta yang kita buat secara fiktif dalam imaginasi kita.

Menuju Titik : Kita akan bergerak dari jalan setapak melintasi titik A ke arah batu di B.  Tentu saja untuk membuat metode ini bisa berhasil kita harus tahu betul posisi kita di titik A tersebut.  Apa yang kita lakukan?  letakan kompas di atas peta sehingga sisi dari kompas ada pada titik A.  Sisi tersebut harus kita gunakan, sisi tersebut harus paralel dengan arah dari panah penunjuk arah perjalanan.  Dan kemudian tempatkan titik B di suatu tempat disepanjang sisi yang sama, gambarannya seperti itu.  Tentu saja, kita bisa menggunakan panah penunjuk arah tersebut, atau satu dari garis paralel, tapi biasanya, lebih mudah menggunakan sisi.  Pada titik ini, beberapa instruktor mengatakan bahwa kita harus menggunakan pencil dan menggambarkan garis sepajang arah kita.  Tapi sebaiknya jangan, pertama, ini membutuhkan waktu, kedua, jika kita mendapatkan cuaca yang basah, akan membuat rusak peta kita, atau jika berangin, kita mungkin akan kehilangan peta tersebut.  Kita harus menyimpan peta (sebaiknya dalam kantong anti air) yang transparan.  Dan jika berangin ikatkan pada lengan atau ransel kita.  Yang paling penting adalah jika kita menggambarkan terlalu banyak garis pada peta, iniakan membuat kita akan kehilangan hal-hal yang detail pada peta tersebut.

Saatnya untuk berhati-hati : Sisi dari kompas, atau juga panah penunjuk arah, harus mengarah dari titik A ke B. dan lagi, jika kita melakukannya dengan salah, kita akan melangkah ke arah yang berlainan dari arah yang seharusnya kita tuju.  Jadi selalu periksa lagi, para pemula kadang membuat kesalahan pada point ini.

Jaga dan tempatkan kompas selalu stedy pada peta : Apa yang akan kita lakukan selanjutnya adalah kita harus meluruskan garis orientasi dan panah orientasi dengan garis meridian peta.  Garis pada peta menuju Utara, jadi, saat kita meluruskan sisi kompas dengan hati-hati dari A ke B, putar rumah kompas sehingga garis orientasi pada rumah kompas sejajar dengan garis meridien peta.  Selama proses ini, jangan perdulikan apa yang terjadi pada jarum kompas.  Ada beberapa kesalahan serius yang bisa terjadi disini.  Mari kita ambil masalah tersebut dengan mengambil arah lawannya terlebih dahulu.  Kita harus benar-benar mengerti dimana utara pada peta, dan benar-benar yakin kalau panah orientasi mengarah ke arah utara pada peta.  Normalnya, utara adalah bagian atas dari peta.  Kesalahan yang mungkin terjadi adalah membiarkan panah orientasi mengarah ke arah selatan dari peta.

Dan kemudian, perhatikan sisi dari kompas : Jika sisinya mengarah sepanjang garis dari A ke B maka saat kita selesai memutar rumah kompas, kita akan mendapatkan kesalahan pada arah kita, dan bisa membuat kita keluar dari jalur.  Jika kita yakin menggunakan rumah kompas dengan benar, kita bisa memisahkan kompas dengan peta.  Dan sekarang, kita bisa dengan nyata membaca bearing dari rumah kompas, dari arah dimana rumah kompas bertemu dengan panah penujuk arah.  Yakinkan jika rumah kompas tidak berputar, sebelum kita mencapai titik B.  Langkah terakhir adalah sama dengan pelajaran sebelumnya.  Pegangalah kompas pada tangan.  Dan sekarang kita harus memegannya sedatar mungkin, sehingga jarum kompas bisa bebas berputar.  Lalu putarlah tubuh kita sehingga jarum kompas sejajar dengan garis di dalam rumah kompas.  Kesalahan lagi jika kita membiarkan jarum kompas mengarah ke selatan.  Bagian merah dari jarum kompas harus menunjukan arah utara pada rumah kompas, atau kita akan bergerak ke arah yang berlawanan.

Saatnya untuk bergerak : Tapi untuk melakukan itu dengan akurasi yang optimal, kita harus melakukannya dengan cara yang special juga.  Peganglah kompas di tangan, dengan jarumnya sejajar dengan arah panah orienting, kemudian bidik sasaran sehati-hati mungkin, pada arah menunjuk ke arah dari panah perjalanan.  Carilah sesuatu yang bisa dijadikan tanda di medan yang dituju, dan berjalanlah kearah sana.  Saat bergerak pastikan bahwa rumah kompas tidak berputar.  Jika kita di hutan yang rapat, kita harus selalu mencari arah beberapa kali.  Dengan cara ini diharapkan kita bisa mencapai titik B dengan selamat.  Akan tetapi, kadang-kandang atau sering juga terjadi apa yang disebut dengan magnetic declination.

MENENTUKAN ARAH TANPA KOMPAS
Kita tersesat, benar-benar tersesat.  Berdiri d isuatu tempat yang tidak kita ketahui, dan kita tidak tahu harus kemana.  Kita dalam masalah, hal yang pertama yang harus diingat adalah, tetap tenang, berpikir rasional, dan kita bisa bertahan dalam waktu lama tanpa makan.  Yang kita butuhkan adalah air.  Hal yang lebih detail tentang survival ada pada bagian lain dari situs ini.  Di sini hanya membahas bagaimana menghadapi situasi mencari jalan tanpa kompas.  Apa yang kita punya adalah, matahari, bintang, dan alam di sekeliling kita.  Halaman ini lebih membahas bagian dari northern hemisphere dari bumi, utara sebenarnya 23.5° , akan tetapi metode yang dijelaskan di sini juga bisa berlaku di southern hemisphere, tapi di beberapa tempat mungkin perlu untuk menukar utara jadi selatan agar menjadi benar.  Sangat diharapkan agar kita bisa memahaminya.

Sebagai permulaan : Mungkin akan merupakan ide yang bagus untuk mendaki ke atas bukit, dan melakukan orientasi pada alam sekeliling.  Cobalah untuk mencari tanda-tanda dari kehidupan manusia.  Jika tidak menemukan apa-apa, kita harus mencoba menemukan arah yang baik untuk memulai pergerakan.  Jka kita tidak mempunyai peta, cobalah menggambarnya jika kita bisa memandang medan di depan kita, dan cobalah menandai di mana utara dengan cara menggunakan metode di bawah.  Jika kita mempunyai peta, cobalah untuk menentukan di mana kita berada, Ingat, kita tidak harus mendaki lagi bukit yang seharusnya tidak kita daki.  Juga kita harus hati-hati untuk tidak mendaki dan memboroskan energi karena kita sudah sangat lelah.  Pada saat seperti ini kita seharusnya tetap berada dimana kita berada.  Cara mencari perhatian untuk bantuan ada pada bagian survival pada situs ini.
Mari kita mulai dengan metode yang paling akurat :
Pada metode ini sangat dibutuhkan langit dalam keadaan cerah, dan membutuhkan banyak waktu.  Salah satu dari keuntungannya adalah kita tidak membutuhkan peralatan apapun.  Yang diperlukan hanyalah sebuah tongkat kira-kira dengan panjang 1 meter, dua tongkat kecil atau batu. tongkat lain atau batu yang perlu sedikit diruncingkan dan sesuatu yang bisa dipakai sebagai tali.

Pagi hari, atau paling tidak sebelum siang, trik dimulai : Tancapkan tongkat yang panjang di atas tanah.  Dan tanah di sekitar tongkat harus datar.  Sekarang, kita bisa meletakan salah satu tongkat kecil di atas tanah persis dimana ujung bayangan dari tongkat.  Kemudian ikatkan tali pada dasar dari tongkat, dan ikat juga tongkat yang kecil pada masing-masing ujungnya.

.

PESTA KEPIK

.

Ia menatap kagum benda di hadapannya. Berwarna hijau, tinggi menjulang. Sejauh mata memandang tak tampak ujung benda itu. Ia merasa sangat kecil dihadapannya. Tak lama kemudian, sinar matahari masuk melalui celah-celah benda raksasa tersebut. Tubuhnya mulai menghangat. Ingatannya pulih perlahan. Tempat baru dimana ia berada kini mengajaknya untuk menyadari bahwa ia sedang tersesat.

Ia tak berani melangkah. Meskipun dahan yang menjulang tinggi dihadapannya sesungguhnya dapat dengan mudah ia panjat. Perlahan, tidak perlu terburu-buru, pusatkan pandangan ke depan, dan mulailah melangkah. Itu pesan ibunya selalu. Tidak hanya untuknya, tapi untuk kakak-kakaknya juga. Ia ingat suatu kali pernah mencoba mempraktekkan nasihat ibunya itu. Lima langkah pertama membuatnya terlalu bahagia, ia kehilangan konsentrasi lalu jatuh di sebuah genangan air. Sejak saat itu ia belum lagi berani mengulang kegiatan memanjat dahan tinggi.

Di rumah tempatnya tinggal, hampir semua anggota keluarga termasuk sanak saudaranya diberi nama sesuai dengan warna yang mendominasi punggungnya. Ya, kami, keluarga kepik, bangga dengan anugerah Tuhan yang berupa paduan warna indah yang melekat di punggung kami. Pernah sekali waktu ayah bercerita kepada aku dan kakak-kakakku tentang indahnya warna di punggung kami yang rupanya banyak ditiru oleh tanaman dan manusia. Daun dengan permukaan berbulu yang sempat dipindahkan oleh tangan manusia ke dekat tempat tinggal kami memiliki corak bulat-bulat putih diatas warna dasarnya yang hijau kehitaman. Belum lagi beberapa kali ayah melihat dari kejauhan seorang anak manusia dengan pakaian bercorak warna mirip punggung kami. Sayangnya, kebanggaan yang membalut nama masing-masing kepik belum dapat aku rasakan. Sampai saat ini, mereka masih saja memanggilku dengan sebutan Si Kecil. Belum cukup matang untuk mendapat nama berdasar warna punggung, begitu alasan ayah ibuku. Tidak mengapa, asalkan mereka tidak mengaitkan nama panggilanku saat ini dengan keengganan mereka memberiku izin untuk bermain sendiri.

Ia mendengar suara lembut. Bukan, itu bukan suara ibunya memanggil. Itu hanyalah suara daun yang bergeser karena  terinjak. Sebuah benda menginjaknya. Ia mulai cemas. Terbayang kaki-kaki raksasa manusia yang tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk kecil seperti dirinya melangkah dan menghabisi dahan-dahan tempatnya bernaung. Ia memasang pendengarannya lebih tajam. Sambil berusaha berdoa sebisanya.

“Du..du..du..dam-di-dam-di-dam…” Kiki bersenandung sambil menikmati rumput basah yang diinjaknya. Musim hujan telah tiba. Dahan yang semula kering mulai menghijau. Dedaunan yang semula enggan menyapa paginya kini berhasil membuat hidupnya jauh lebih bersemangat. Warna hijau nan segar dedaunan itu membangkitkan selera makannya. Pasti lezat sekali. Tapi kini Kiki sedang membersihkan bagian tubuhnya dengan embun pagi yang membasahi tumpukan rumput yang dilewatinya.

Kiki, ulat kecil yang tengah menanti masa berkepompongnya, paling gemar membasahi tubuhnya dengan tetes embun pagi hari. Kalau saja ia dapat memenuhi keinginannya sendiri, pastilah ia sudah menceburkan diri ke dalam kubangan air yang banyak terdapat sehabis hujan. Tapi Kiki memilih tidak. Ia teringat nasihat ibunya untuk hanya membasahi tubuhnya dengan embun pagi saja. Ulat bukan makhluk yang dapat hidup di air, demikian penjelasan ibunya.

Kiki terus merayap sambil bersenandung di atas rumput basah tanpa mengetahui sesosok mungil dengan tubuh gemetar memperhatikannya dari kejauhan.  Sosok itu memicingkan mata kemudian lama kelamaan bersamaan dengan tubuh Kiki yang makin mendekat, mata yang semula mengecil itu perlahan membesar dan kemudian terbelalak. Kiki tidak menyadari dirinya diperhatikan. Bila saja bukan karena secercah cahaya matahari menimpa tubuh mengkilat makhluk kecil itu.

Kiki memiringkankan kepalanya ke kanan, kiri, kanan, lalu kiri lagi. Mengamati benda mengkilat di depannya. Indah sekali, gumamnya. Benda kecil yang berkilau. Pasti benda ini milik manusia yang tidak sengaja terjatuh disini. Manusia gemar benda berkilau. Itu yang Kiki tahu. ‘Tentunya tidak berbahaya’ gumamnya dalam hati. Kiki mendekati benda itu. Benda itu seperti bergerak perlahan. Bukan, ia gemetar. Kini Kiki ada di jarak yang memungkinkannya untuk mengetahui bahwa benda kecil itu memiliki mata. Sepasang mata mungil yang ketakutan. Kiki iba dibuatnya. Sepertinya benda ini hidup, pikirnya. Kiki mengamati bentuk makhluk di hadapannya. Ia teringat sesuatu. Rasanya tidak asing. Namun makhluk yang mulai tergambar diingatannya itu memiliki warna yang berbeda. Seingat Kiki ia berwarna merah dengan hiasan bulat hitam diatasnya.

“Halo, Teman!” Kiki mencoba menyapa.

“Hhh-ha-ha-ha..lo juga,” ujarnya gemetar.

“Mengapa kau sendirian disini?”

“A-a-a-ku…a-a-a-ku…”

Kiki tahu ia tidak bisa memaksa. Makhluk kecil ini masih ketakutan. Atau mungkin gaya bicaranya memang seperti itu? Atau ia tersesat?

“Namaku Kiki. Tidak perlu takut, aku tidak akan memangsamu,”Kiki berusaha memajang senyum di wajahnya. Semoga ia menganggap senyumku sebagai sebuah tanda pertemanan, harapnya dalam hati.

“Namaku…Si Kecil,”jawabnya.

“Sedang apa kau disini?”

“Aku kehilangan ayah, ibu dan kakak-kakakku”

“Kehilangan? Maksudmu? Mereka meninggalkanmu sendiri disini?”ujar Kiki penuh selidik.

“Emm…tidak,”jawab Si Kecil ragu.

“Lalu?”

“Aku meninggalkan mereka. Aku ingin bermain sendiri”

“Mengapa sekarang kau takut?”

“Aku belum pernah bermain sendiri sebelumnya. Ayah ibuku selalu menemani. Kakak-kakakku juga…tapi…tidak bolehkah aku punya keinginan sendiri…,” Si Kecil mencoba menahan tangisnya.

“Ow..ow..oww…temanku.. Jangan menangis…ada aku disini. Aku pernah punya keinginan sepertimu. Yuk, kita jalan-jalan melihat pemandangan sekitar sambil bercerita. Naiklah ke punggungku. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu lebih tersesat,” Kiki tersenyum memberi semangat Si Kecil yang sedang bersedih. Si Kecil menangkap ketulusan hati Kiki dan mulai melangkah menaiki tubuh Kiki. Belum juga sampai ke bagian atas punggung Kiki, ia berhenti lalu bertanya,”Bagaimana dengan orang tuaku nanti? Mereka pasti mencariku. Bagaimana kalau mereka mencariku disini?”

Kiki menjawab dengan sabar,”Kita hanya sebentar berkeliling… setelahnya aku akan membawamu kembali ke sini.”

“Baiklah,”ujarnya tepat disaat tubuhnya yang mungil telah mendapatkan tempat yang nyaman di punggung Kiki. Kepik mungil yang malang, gumam Kiki. Tentunya ia hanya ingin bermain, Kiki mencoba memahami.

Kiki dengan Si Kecil di punggungnya merayap perlahan keatas dahan tinggi yang menjulang di hadapan Si Kecil kala ia berdiam diri tadi. Dahan yang membuat Si Kecil sadar bahwa dirinya berada di tempat yang asing. Dahan yang melindunginya dari terpaan sinar matahari langsung. Tanpa terasa, tubuh panjang Kiki telah membawanya ke ujung paling tinggi dahan tersebut. Daun yang menjuntai bagian ujungnya sedikit ke bawah menjadi tempatnya dan Kiki melihat-lihat pemandangan sekitar.

“Woww..,”ujar Si Kecil kagum. Ia melempar pandangannya ke kanan dan kirinya, mencoba memandang ke bawah meski awalnya ragu.

Kiki dapat merasakan kebahagiaan Si Kecil memberinya energi tersendiri bagi tubuhnya.  Kenangan akan kenakalannya kala pertama kali pergi meninggalkan orang tua tanpa meminta izin hadir dihadapannya.

Si Kecil belum pernah berada di tempat setinggi ini. Pernah ia melihat ayah dan ibunya mengajak paman dan bibinya memanjat dahan setinggi ini. Tapi ia belum pernah diajak. Bukankah mereka bisa mengajakku di punggungnya seperti ini? Ah, sudahlah, yang penting sekarang ia sudah tahu seperti apa rasanya.

*

Sebentar lagi pesta kepik digelar. Pesta yang sedianya dihadiri lebih dari 30 kepik itu akan berlangsung lebih meriah dari biasanya. Pesta yang diadakan sekali dalam sebulan ini biasanya hanya diramaikan dengan acara makan bersama. Kali ini lain. Komunitas kepik kali ini ingin merayakan pesta dengan tidak biasa. Musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya menyisakan banyak tanaman kering, embun tidak lagi sesegar biasanya, dan tanah yang keras dan pecah-pecah. Kurang lebih seminggu yang lalu, musim penghujan tiba. Komunitas kepik ingin merasakan kebahagiaan ini bersama. Merayakannya dengan sebuah pesta yang meriah.

Pembagian tugas telah dirumuskan 3 hari yang lalu sebagai berikut. Seluruh kepik dewasa bertanggung jawab atas segala persiapan acara mulai dari perlengkapan hingga jumlah dan macam makanan yang tersedia. Kepik remaja bertugas mempersiapkan acara hiburan. Kepik anak dilatih oleh kepik remaja untuk menjadi bagian dari pertunjukan menari dan menyanyi yang akan ditampilkan di penghujung acara.

Kegiatan ini diketuai oleh kepik remaja yang lincah dan terampil bernama Kepik Coklat. Sejak dua hari yang lalu, Kepik Coklat hampir selalu terlihat mondar-mandir di sekeliling tempat dimana pesta akan diadakan. Memeriksa segala persiapan dan bertanya apakah bantuan tambahan diperlukan. Kepik Coklat tidak segan-segan berkonsultasi dengan Kepik Merah-Kuning, sesepuh komunitas kepik, bila diperlukan. Tanggung jawab sebesar ini tidak membuat Kepik Coklat menjadi sombong. Ia mengerti bahwa bagaimanapun juga, kebijaksanaan sang sesepuh komunitas akan selalu diperlukan sebagai bahan pertimbangan.

Tiba saatnya Kepik Coklat memeriksa persiapan pertunjukan menari dan menyanyi yang latihannya diadakan di sebuah lapangan terbuka.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,…,”Kepik Coklat menghitung jumlah peserta latihan.

“Mengapa cuma enam? Mana Si Kecil?”

Enam kepik anak dan satu kepik pelatih diam demi mendengar pertanyaan Kepik Coklat. Mereka saling memandang. Beberapa terlihat benar-benar tidak mengerti, sementara sebagian menundukkan kepala. Sang pelatih, Kepik Kuning, menjadi bagian dari yang menundukkan kepala.

“Ada apa ini?” Kepik Coklat gusar.

“Begini Ketua…,”Kepik Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan,”Sejak kemarin, kami tidak melihat Si Kecil…mmm maksudnya…Si Kecil entah ada dimana…”

Kepik Coklat mengalihkan pandangannya kemudian berkata,”Kepik Merah Muda, dimana adikmu?”

Yang ditanya menunduk lebih dalam, sebelum akhirnya berkata,”Saya, Kepik Biru, dan ayah ibu tidak tahu ada dimana Si Kecil sekarang. Kami sudah berusaha mencari ke mana-mana. Ia memisahkan diri dari rombongan sewaktu kami ajak berjalan-jalan di sebuah padang ilalang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Hari ini, sejak pagi ayah dan ibu berkeliling mencari Si Kecil.”

“Kepik Merah Muda, dapatkah kau mengantarku ke tempat dimana Si Kecil masih ada dalam rombongan kalian terakhir kali? Bisa jadi ia kini dalam bahaya…,”ujar Kepik Coklat tegas.

*

Suara tawa kecil membahana di sebuah padang ilalang yang luas. Kiki telah membuat Si Kecil merasa bahagia berkelana tanpa ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan beristirahat di atas sebuah batu.

“Ki, tahukah kamu kalau perjalanan seperti yang kita lakukan hari ini adalah apa yang aku inginkan selama ini?”pertanyaan Si Kecil memecah keheningan.

Kiki hanya menjawab dengan senyum manis tanda mengerti.

“Aku ingin berkelana seperti ini setiap hari. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang menyuruhku tidur siang, juga memintaku tinggal di rumah dan berlatih menari dan bernyanyi.”

“Apa kau bilang? Berlatih menyanyi dan menari? Tidakkah itu menyenangkan?”Kiki bersemangat mendengarnya.

“Apanya yang menyenangkan? Aku lebih suka bebas begini.”

“Kecil, aku menginginkan apa yang tidak kau inginkan. Tapi kita tidak mungkin bertukar tempat. Tubuhku terlalu besar untuk bergabung dengan teman-teman kepikmu…”

Mereka berdua tertawa membayangkan pernyataan Kiki barusan.

Tanpa terasa, matahari mulai meninggi. Meskipun musim penghujan sudah datang, tidak setiap hari padang ilalang itu diguyur hujan. Tak terkecuali hari ini.

“Ki, aku haus, embun-embun sudah habis menguap siang hari begini…aku juga merasa lapar,”keluh Si Kecil.

“Naiklah ke punggungku,”ujar Kiki,”kita berkeliling sambil mencari makan.”

“Dapatkah kau mencarikannya untukku? Aku lelah sekali…dan lagi sinar matahari begitu menyengat.”

Kiki tertawa mendengar keluhan Si Kecil yang tak berkesudahan.

“Katanya mau jadi pengelana…baru panas sedikit saja sudah mengeluh,”Kiki mengingatkan Si Kecil akan keinginannya.

Si Kecil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Kiki yang lembut, mencoba mendapatkan kehangatan yang berbeda dengan yang biasa didapatnya di lingkungan kepik.

“Ki, sebenarnya, aku mulai rindu pada ibu,”ujar Si Kecil sedih.

Kiki menatap Si Kecil penuh pengertian.

“Aku ingin bersama ibu, Ki, tapi aku tak ingin dilarang bermain sendiri, tak ingin selalu disuruh tidur siang, tak ingin….”

“Kecil, tahukah kau, mengapa saat ini engkau rindu pada ibumu? Jawabannya adalah karena engkau membutuhkan ibumu. Tidak hanya ibumu, Kecil, aku yakin kau juga merindukan ayah dan saudara-saudaramu.”

“Tapi, Ki,” Si Kecil berusaha menyanggah.

“Maukah kau mendengar ceritaku?”ujar Kiki.

Si Kecil mengangguk lemas.

“Dulu waktu kecil, aku tak ubahnya seperti dirimu. Punya keinginan dan harapan yang sama. Betapa aku merasa bosan dengan tempat tinggalku, ingin bebas bermain tanpa diingatkan bahwa waktu istirahat tiba, dan lain-lain yang menurutku aku berhak mendapatkannya.”

Kiki memberi jeda pada ceritanya, menarik nafas panjang kemudian melanjutkan.

“Hingga suatu hari aku mendapati tempat tinggalku kosong dan berdebu setelah kurang lebih 3 hari aku tidak pulang ke rumah. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya seekor laba-laba kecil terlihat mempersiapkan diri untuk membangun sarang disana, di tempat tinggalku. Aku sedih bukan kepalang, Kecil. Aku pulang karena rindu yang tak terkira pada ayah, ibu dan saudara-saudaraku.”

Si Kecil mendengarkan dengan seksama sambil berusaha menahan tangis.

“Seluruh keluarga ternyata tengah mencariku… tak satupun saudara dan kerabatku tinggal diam demi mengetahui kalau aku sudah tiga hari tidak pulang.”

“Dapatkah kau bertemu dengan mereka akhirnya?”tanya Si Kecil penasaran.

“Aku bertemu dengan mereka…akhirnya.”

Si Kecil menarik nafas lega.

“Tapi sebagian dari mereka sudah tiada…termasuk ayahku. Ibuku luka parah…dan kakakku adalah satu-satunya yang masih hidup dalam keadaan sehat. Ia menjaga dan merawat ibu…”

Si Kecil kembali lunglai mendengarnya.

“Tahukah kau apa yang terjadi waktu aku menemukan mereka dan meminta maaf pada ibu? Tak satupun kalimat menyalahkan keluar dari mulutnya. Ia berucap syukur kepada Tuhan atas kembalinya diriku. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang ia dapat melihatku lagi… Tak lama setelah pertemuanku dengan ibu dan kakakku, ibu meninggal dunia.”

Andai Si Kecil memiliki ukuran tubuh yang cukup besar untuk memeluk Kiki, pastilah ia sudah melakukannya saat ini.

Siang yang tak berangin hari itu tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan udara yang rupanya berasal dari kepakan sayap kupu-kupu. Kiki dan Si Kecil terkejut dibuatnya. Kupu-kupu itu terbang mendekat ke arah mereka. Kepanikan merajai dua makhluk yang tengah berbagi kisah itu. Mereka pasrah pada takdir. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Mereka sadar tidak dapat mengimbangi kecepatan terbang kupu-kupu yang melesat ke arah mereka.

Sang kupu-kupu berhenti pada sebuah dahan dan muncullah dua kepik. Yang satu berwarna coklat dan yang lain berwarna merah muda.

“Kakak! Paman!” pekik Si Kecil keheranan bercampur bahagia.

“Kecil, diam disana! Kami akan menjemputmu pulang…,”ujar kepik yang berwarna coklat dengan tegas sambil membisikkan instruksi kepada sang kupu-kupu yang ditungganginya untuk menyelamatkan keponakannya yang tampak putus asa dalam cengkeraman seekor ulat kecil.

“Paman, tunggu! Ini Kiki, Paman! Ia baik hati!,”Si Kecil berusaha berteriak sekuat tenaga agar suaranya dapat mengalahkan suara kepak sayap kupu-kupu yang bersiap-siap melakukan perlawanan pada Kiki.

Terlambat. Suara Si Kecil tak dapat terdengar oleh sang paman yang tengah memegang kendali serangan kupu-kupu yang ditungganginya atas ulat kecil di depannya.

Dan…

“Kepik Coklat, tunggu!!”sebuah suara menggelegar di suasana penuh ketegangan itu.

“Ayah! Awas, ayah jangan disana!”Si Kecil mencoba memperingatkan ayahnya yang berteriak dari atas punggung Kiki mencoba menghentikan laju kupu-kupu yang siap menerkam Kiki.

“Ayaaaahhhh….,”Si Kecil berteriak sebelum akhirnya seluruh pandangannya gelap.

*

Baru kali ini pesta kepik tidak hanya dihadiri oleh komunitas kepik, tapi juga beberapa kupu-kupu dan calon kupu-kupu atau biasa disebut ulat. Kupu-kupu, dengan paduan warna dan sayap indahnya tidak memerlukan banyak asesori tambahan untuk hadir di pesta nan meriah itu. Begitu pula para kepik. Cukup beberapa kepik yang karena kedudukannya dalam komunitas kepik layak mengenakan kalung kehormatan yang terbuat dari kelopak bunga mungil nan indah.

Tak jauh dari keramaian di sekitar meja makan yang ditata rapi dengan beragam sajian, sebuah keluarga kepik tengah berpelukan penuh haru.

“Benarkah ayah dan ibu mendengarkan pembicaraanku dengan Kiki?”

“Benar, Kecil,”jawab ibu sambil membelai anak bungsunya.

“Maafkan Kecil ya… Kecil merasa sangat bersalah.”

Ayah yang masih berbaring di tempat tidur setelah terjatuh dari punggung Kiki tersenyum bahagia kemudian berkata,”Kecil, ayah dan ibu sesungguhnya tidak ingin melarang Kecil bepergian sendiri. Kami hanya mengkhawatirkanmu yang mungkin belum dapat menjaga diri sendiri. Ayah dan ibu bersyukur kau dapat bertemu Kiki yang mampu menjagamu dari mara bahaya.”

“Tetapi, diluar itu semua, kini ayah dan ibu mengerti bahwa sudah saatnya Kecil tidak lagi dipanggil Kecil…”

Si Kecil tertegun mendengarnya.

“Ya. Kami sepakat mulai hari ini kau tidak lagi kami panggil Si Kecil seperti kemarin-kemarin. Kepik Hijau akan menjadi nama panggilan untukmu. Sesuai dengan warna punggungmu yang hijau. Hal ini akan diumumkan di penghujung acara pesta hari ini.”

Ibu menimpali,”Kecil…ups, Kepik Hijau… kami mengerti bahwa ada saatnya seekor kepik kecil akan tumbuh menjadi kepik yang memiliki keinginan sendiri. Saat itu datang, ia akan meminta pengukuhan dari lingkungannya bahwa dirinya memang telah siap melangkah menuju kehidupan yang lebih menantang untuk dihadapi. Semua kepik membutuhkan petualangan, Kepik Hijau. Penggantian namamu kali ini akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri yang mungkin saat ini telah bersarang dan ingin berkembang biak di jiwamu. Kami semua berbahagia melihatmu tumbuh seperti saat ini. Tentang bahaya yang ada di luar sana, ibu percaya engkau dapat memberikan penilaianmu sendiri atas kejadian kemarin.”

Air mata tak henti menetes dari mata Si Kecil yang telah berganti nama menjadi Kepik Hijau. Nama baru segera disandangnya. Kini ia tak lagi seekor kepik labil yang menginginkan kebebasan tanpa tahu untuk apa dirinya mendapatkan itu semua.

Suara riuh terdengar dari pusat kegiatan pesta kepik. Makin meriah saja suasana pesta diluar sana, gumam Kepik Hijau dalam hati. Ia menghampiri kerumunan yang ada di tengah pesta dan mendapati Kiki, temannya disana. Di tengah kerumunan kepik anak-anak yang riang gembira membubuhkan warna di punggungnya.

“Hai, Kecil! Masih ingin menaiki punggungku?” sapa Kiki penuh semangat,”Setelah aku selesai diwarnai, mereka akan mengajakku menari dan bernyanyi.”

Tak ada yang lebih membahagiakan dirinya saat ini kecuali melihat Kiki dengan keceriaannya dan ayah yang tak lama kemudian dapat kembali mengikuti pesta.

Kepik Hijau memandang langit yang mulai berubah warna. Biru langit dengan semburat jingga yang indah seolah dilukis Yang Maha Kuasa untuknya hari itu. Menemaninya melangkah ke cakrawala senja.

Tamat

KELINCI ABIL

Oleh : Fahna Khumaira
(Pemenang Lomba Cerpen Permata, Majalah Ummi)
Sumber : Ummi, No. 08/XX Desember 2008 / 1429 H
.
.

Pada hari Minggu, Abil ikut ibu pergi ke pasar.  Ibu akan membeli sayuran untuk dimasak nanti siang.
Ketika melintas di toko hewan, Abil melihat seekor kelinci putih yang dikurung di kandang bambu.  Dia berhenti berjalan dan menatap kelinci itu gemas.

“Abil, ayo jalan”, ajak ibu sambil menggandeng tangan Abil.

“Tunggu, Bu.  Abil ingin lihat kelinci”, kata Abil sambil menarik tangan ibu.

“Mana?” tanya ibu.  Abil menunjuk ke samping, ke arah kelinci lucu di kandang itu.

“Abil ingin memelihara kelinci itu, Bu”, kata Abil sambil memandang ibu.

Ibu menatap kelinci itu kemudian menggeleng.  “Abil, merawat hewan itu tidak mudah.  Abil harus benar-benar disiplin”, kata Ibu serius.

“Abil mau menjaganya kok, Bu.  Nanti Abil rawat dengan baik.  Bener deh, Bu”, Abil merengek.

“Betul?  Abil janji?” tanya ibu.

Akhirnya Ibu membelikan kelinci itu untuk Abil.

Sampai di rumah, Abil langsung memberi makan kelinci dengan wortel.  Ayah membuatkan kandang di belakang rumah untuk kelinci Abil.  Abil dan Najwa, kakak Nabil, ikut melihat ayah membuat kandang itu.

“Bagusnya dikasih nama apa ya, Yah?” tanya Abil sambil membelai-belai kelincinya.

“Cibil saja, kan gabungan kelinci dan Abil”, usul Kak Najwa.

“Iya tuh, lucu juga, Cibil”, Abil senang.

Sejak hari itu, setiap hari Cibil dirawat dengan baik.  Tiap pagi Abil rajin memberi Cibil makan dan minum.  Abil juga tak lupa memberi makan Cibil pada sore harinya.  Siang hari, sepulang sekolah, Abil mengajak Cibil bermain dengan teman-temannya.  Teman-teman Abil juga menyukai Cibil karena cibil adalah kelinci putih bersih yang lucu, telinganya berwarna merah muda.

***

Tapi, lama-lama Abil lupa janjinya pada ibu untuk merawat Cibil.  Sejak Abil ikut kursus melukis, dia jadi jarang mengajak Cibil bermain.  Apalagi Abil harus ikut mengaji setelah shalat Ashar.  Abil jadi lupa memberi makan Cibil.  Abil hanya memberi makan Cibil pada pagi hari.  Lama-lama tubuh Cibil pun jadi kurus.

Suatu sore, Abil pulang agak cepat dari biasanya.  Setelah shalat Ashar di masjid, dia tidak mengaji karena ustadz Ahmad ada keperluan sehingga tidak bisa mengajar.  Abil berjalan ke belakang rumah untuk menengok Cibil.  Namun, Abil sangat terkejut waktu melihat Cibil tidak bergerak.

“Abil, sini, makan dulu”, ibu memanggil Abil.  Tapi Abil diam saja.  Dia masih kaget melihat Cibil.  Ibu bergegas menghampiri Cibil.  “Abil, ada apa?” tanyanya.

Abil hanya bisa menunjuk ke arah Cibil yang tidak bergerak.  Pelan-pelan ibu mendekati Cibil dan membelainya.  Cibil bergerak perlahan.

“Bu, Cibil kenapa?” tanya Abil pelan.  Rasanya Abil ingin menangis melihat Cibil.

“Kelihatannya Cibil sakit parah.  Kamu minta Kak Najwa telepon dokter hewan, ya”, ujar ibu.

Dengan hati cemas, Abil segera menghampiri Kak Najwa yang sedang belajar di kamar.  Kak Najwa pun dengan cepat menelepon dokter Anwar, dokter hewan yang tinggal dekat rumah mereka.

***

Abil menatap Cibil yang masih lemah.  Tadi, Cibil baru saja diperiksa dan diberi obat oleh dokter Anwar.

“Kamu tenang saja ya, Bil.  Tadi, kan dokter bilang Cibil akan segera sembuh”, kata Ayah sambil merangkul Abil.

“Abil, waktu itu kan Ibu sudah bilang kalau merawat hewan itu tidak semudah yang dibayangkan”, kata ibu lembut.

“Iya, Bil, kalau merawat hewan harus mantap.  Kalau nggak, jadinya kayak gini”, sambung Najwa.

“Maafin Abil ya, Bu.  Padahal Abil sudah janji sama Ibu.  Abil sayang sama Cibil.  Abil janji nggak akan teledor lagi.  Abil mau kasih makan yang teratur dan merawat Cibil dengan baik”, janji Cibil.

“Ya, sudah.  Bagus kalau Abil mengerti.  Janji jangan diulangi lagi ya”, jawab ibu sambil mengusap kepala Abil.  Abil mengangguk.

Ayah, Ibu, dan Kak Najwa tersenyum mendengar kata-kata Abil.

“Kelihatannya sudah Maghrib, ayo kita masuk”, ajak Ayah.  Bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah.

***
.

CANDA INDAH RASULULLAH

Oleh : Zirlyfera Jamil
Sumber : Ummi, No. 08/XX Desember 2008 / 1429 H
.

Rasulullah Muhammad saw. adalah teladan umat manusia.  Semua kata-kata, sikap, dan perilakunya merupakan cermin bagi umat Islam.  Akhlaqnya terjaga dan menyenangkan semua orang yang berada di dekatnya.  Tua, muda, besar, kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, para pejabat ataupun rakyat kebanyakan.  Semua disayang, dihormati, dan diajak bergaul tanpa dibeda-bedakan.

Dalam bergaul, Rasulullah tak pernah berkata dusta, tegur sapanya tak pernah menyakiti bahkan candanya pun berisi kebenaran.  Karena itu, setiap orang yang berhubungan dengan Rasulullah selalu merasa senang dan gembira.  Sebab di sela-sela kesibukannya sebagai Nabi, Pemimpin Umat dan Kepala Negara, canda-canda Rasulullah sering menghibur mereka.

Satu contoh, pada suatu hari seorang perempuan yang dulu adalah pengasuh Rasulullah, Ummu Aiman, meminta tolong kepada Nabi saw. untuk membantunya menaiki seekor unta.  Maka Rasulullah pun mendekatinya dan berkata, “Baiklah wahai Ummu Aiman, aku akan menaikkan dirimua ke atas seekor anak unta betina”.

Ummu Aiman itu terkejut dan sedikit bingung, “Tetapi Rasulullah, apa yang bisa kuperbuat dengan seekor anak unta betina, hewan itu tentu tidak kuat ditunggangi”, jawabnya.

“LIhat sajalah, aku akan tetap menaikkan engkau ke atas seekor anak unta betina”, kata Rasulullah lagi kali ini dengan tersenyum.

“Tapi… tapi… anak unta betina itu tentunya tidak kuat dijadikan tunggangan ya Rasul…”

Lantas Rasulullah membimbing Ummu Aiman mendekati unta jantan yang gagah dan membantunya naik.

“Bukankah setiap unta pastilah anak unta betina?  Begitu juga dengan unta ini”, jelas Rasul sambil menunjuk unta jantan nan gagah itu.  “Maka sekarang naiklah”.

Maka seketika tertawalah Ummu Aiman dan para sahabat yang menyaksikan peristiwa itu.  Sungguh indah kebenaran canda Rasulullah itu.

Pada kesempatan lain, seorang perempuan mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, suamiku tengah sakit.  Dia memerlukan dirimu.  Bisakah engkau menjenguk dirinya?”

Oh, suamimu sakit?  Suamimu itu yang di dalam matanya ada putih-putihnya kan?  Baiklah aku akan ke sana”, kata Rasulullah saw. sambil tersenyum.

Perempuan itu agak keheranan, namun mengingat suaminya tengah sakit dia hanya bergegas kembali ke rumah dan membuka mata suaminya.  Suaminya bertanya dengan keheranan, “Ada apa?  Mengapa kamu meneliti mataku?”

“Rasulullah berkata, di dalam matamu ada putih-putihnya, aku mau memastikannya”, jelas istrinya.

Suaminya tersenyum lebar dan berkata pada istrinya, “Istriku, bukankah semua mata manusia memang ada putih-putihnya?”

“Oh, ya ampun, benar juga ya…” kata sang istri sambil ikut tertawa bersama suaminya mengingat canda Rasulullah tadi.

Begitu juga pada satu hari seorang perempuan tua mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam surga”.

Rasulullah memandang sang nenek dan berkata, “Wahai ummi fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh perempuan tua”.

Perempuan itu lalu menitikkan air mata karena sedihnya.  Tapi segera Rasulullah menjelaskan dengan suara lembutnya, “Neka, tidakkah kamu ingat firman Allah ini, Kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa tidak tersentuh, tetap mencintai jodohnya serta sebaya umurnya“.

Kini sang nenek tertawa lebar mengetahui maksud perkataan Rasul, bahwa kelak setiap orang yang wafat dalam keadaan tua, ketika memasuki surga akan kembali dimudakan tubuhnya oleh Allah Swt.

Begitulah Rasulullah yang kerap bersenda gurau dengan keluarga dan sahabatnya namun tak pernah menyimpang dari kebenaran.  Salam dan shalawat kami padamu ya Rasul….

***

KETUKAN DI DEPAN PINTU

Karya : Tary
Sumber : Jawa Pos, Edisi 05/14/2006


Ia terbangun dari lelap tidurnya di malam pekat.  Sayup suara, samar-samar menembus gendang telinganya.  Perlahan ia menggosok-gosok mata, menyibakkan rambut, berusaha menajamkan pendengaran.  Pintu rumahnya diketuk dari luar.  Ketukan yang lembut.  Tiga kali, tiga kali.  Beruntun dan teratur.  Sejenak ia merasa seolah berada pada sebuah ruang sempit yang akan mengimpitnya, sebelum kemudian tersadar ia berada di pembaringan bersama tubuh wanita bungkuk meringkuk, tak bergerak.  Hanya napasnya yang naik turun teratur.  Ketika bergerak pun wanita itu tak lebih dari seorang tua renta.

Ketukan di pintu depan, sebuah ruang sempit yang mengimpit, entah sejak kapan ia mulai merisaukannya.  Kadang ia merasa ketukan itu terdengar bagai rintih pedih yang menyayat.  Lalu ia menemukan luka, darah dan air mata pada ruang sempit gelap yang mengimpitnya.  Malam ini, ia terbangun dengan suasana yang sama.  Ketukan itu kembali menggodanya.  Beruntun dan teratur.  Menuntun langkahnya turun dari pembaringan.

Perlahan tangannya menyibak kelambu depan.  Tak ada siapa-siapa.   Hanya desau angin terdengar merintih menerpa daun-daun pisang di halaman samping.  Sesekali terdengar kerik jangkrik, kodok mandi di blumbang belakang rumah menciptakan irama tertentu.  Lalu binatang-binatang itu berdiam.  Senyap.

“Tak ada siapa-siapa.  Apa aku bermimpi?” batinnya seraya kembali ke samping wanita renta.  Dipejamkan mata.  Ia ingin menuntaskan tidurnya yang terusik.

Ketika kantuk mulai menyeretnya ke dunia mimpi, sayup suara ketukan itu terdengar lagi.  Lebih nyaring dalam pendengarannya.  Ia kembali terbangun dan beranjak.  Berjalan berjingkat menjangkau gagang pintu.  Mendorongnya perlahan.  Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan berkelebat memasuki rumah.  Tak seperti tubuh manusia.  Tanpa hidung, bibir, mata, alis, tangan ataupun kaki.  Ya, hanya sekelebat bayangan.  Seperti asap yang terbang bersama udara sebelum kemudian lesap tanpa tanda.  Ia terpana, berdiri bagai patung di perempatan jalan besar lalu mundur tak percaya.

“Siapa kau?  Hantu?  Jangan mempermainkanku!” gertaknya.

Senyap.  Tiada jawaban.  Ia menunggu beberapa saat.  Tetap senyap.

Namun tiba-tiba bayangan itu kembali berkelebat.  Kini jauh lebih pekat.  Lebih tebal.  Meliuk-liuk memutari tubuhnya dengan desis menyerupai rintihan.  Lalu bayangan itu membuat gerakan seperti membelai sebelum kemudian berhenti dan menempel diam di dinding.

“Siapa kau?”

Hati-hati dan takjub ia mendekatkan wajahnya ke dinding.  Pertanyaannya tak terjawab.  Hanya desis yang terdengar bagai rintihan
panjang.  Luka, darah, sebuah ruang sempit menghimpit.

“Kenapa?  Ada apa?”

Suara serak wanita renta mengejutkannya.  Tubuh bungkuk terseok menghampirinya.  Lalu bayangan itu bergerak.  Berputar-putar, membentuk gulungan pekat, menembus dinding, kemudian lenyap.  Ia terengah.  Matanya nanar mencari-cari bayangan yang lenyap.  Ia percaya itu bukan mimpi.

“Kenapa?  Ada apa?”

Ia menggeleng.  Berusaha menarik ujung bibirnya agar membentuk sebuah senyuman.  Ia tidak ingin wanita renta itu mencemaskannya.

“Mungkin aku mengigau”, gumamnya.  Ia tak menyadari bahwa bayangan itu benar-benar merintih.  Dalam luka.  Dalam darah.  Dalam sebuah ruang sempit.

***

Entah pada hari ke berapa, kemudian ia ingin mengabaikan.  Mungkin ketukan di pintu depan dan kelebat bayangan itu hantu.  Apa istimewanya?  Toh, alam gaib itu memang ada.  Bukankah semua hidup dalam alam masing-masing dan tunduk di bawah kuasa-Nya?  Jika kita tidak mengusik, mereka juga akan berdiam.  Hanya yang sedikit mengherankannya, kenapa wanita renta tidak mendengar ketukan itu?  Kenapa ketukan itu hanya menembus gendang telinganya?

Ia tak ingin peduli.  Ia tak ingin memikirkannya.  Tapi ketukan itu kian nyaring pada malam kesepuluh.  Ia menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan.  Menimbuni kepalanya dengan bantal.  Ia ingin membiarkan.  Namun sayup ketukan itu seolah menembus bantal yang menutupi kepalanya.  Merenggangkan tangannya dan menjebol paksa gendang telinganya.  Ia seolah kembali berada di sebuah ruang sempit.  Luka, darah, air mata.

“Oh!” rintihnya sambil melepaskan bantal.  Wanita renta di sampingnya terusik sesaat sebelum kembali lelap.  Napasnya memburu ketika turun dari pembaringan lalu berjalan ke pintu.  Namun langkahnya terhenti di muka pintu bilik.  Sayup ketukan itu bergema di sana.  Bukan lagi di pintu depan.  Ketukan yang lembut namun nyaring.  Beruntun dan teratur.  Tiga kali, tiga kali.  Dijangkau gagang pintu bilik, didorong perlahan.  Sekelebat bayangan itu memasuki biliknya.  Melesat lebih cepat dari malam yang lalu.  Meliuk-liuk mengitari tubuhnya lalu berhenti, menempel diam di dinding.  Bayangan itu seolah berdiri dan menatap lekat padanya.

“Apa maumu?” sentaknya meradang.

Tiba-tiba ia merasa malamnya sangat terganggu dengan bayangan yang tak pernah ia usik itu.  Kemarahan terasa mencekik lehernya.  Matanya bergerak ke segala arah mencari sesuatu.  Kemudian ia menemukan pisau yang tergeletak di meja.  Pisau yang digunakan wanita renta itu mengupas pepaya tadi sore.

“Apa maumu?” ulangnya semakin meradang.  Diacungkan pisau ke arah bayangan itu.  Namun bayangan itu tetap berdiri tenang, menempel diam di dinding.  Tak berbicara, tak bergerak, tak beranjak.  Merasa dipermainkan ia menghujamkan pisau itu ke seluruh bayangan di dinding.  Crash! Crash! Crash!  Ia membabi buta.  Menggunakan seluruh energi yang dimilikinya.  Tak dipedulikan napasnya yang hampir putus dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.  Hujaman terakhir membuat pisaunya menancap kuat di dinding.  Tak kuasa ia mencabutnya.  Hujaman lainnya membentuk lubang-lubang di dinding.  Sesuatu tiba-tiba meleleh dari lubang-lubang itu.  Ia tertegun lama.  Menahan napasnya yang tersengal.  Menarik tubuhnya tak percaya.  Lubang-lubang di dinding bekas hujaman pisaunya itu mengalirkan darah!

Perlahan dan hati-hati di dekatkannya wajah.  Matanya membelalak tak percaya.  Darah di dinding itu saling bertaut.  Seperti digerakkan oleh kekuatan entah.  Demikian teratur membentuk huruf demi huruf yang kemudian merangkai sebuah kalimat : ROH, AKU PULANG

Usai membentuk sebuah kalimat, sisa darah yang lain menyatukan diri membentuk sebuah gambar.  Seperti tangan pelukis yang gesit menyapukan kuas pada kain kanvas.  Sisa darah itu bergerak membentuk rambut, mata, hidung, bibir, leher, dada, tangan, paha, kaki, dan perut.  Tapi perut itu tidak seperti biasanya.  Perut itu membuncit.  Ia kini mengerti.  Darah itu melukis tubuh seorang wanita hamil!

Ia masih tertegun.  Ternganga dalam ketidakmengertian.  Desis rintihan kembali membawanya ke sebuah ruang sempit.  Luka, darah, air mata.  Siapakah wanita dalam lukisan darah itu?  Ia menggeleng-gelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri.  Ia mencoba mengamati lukisan itu lebih seksama.  Ia menemukan kelembutan dan ketegaran seorang ibu di sana.  Ketegaran yang membuat seorang wanita tidak putus asa meski ditinggal suaminya pergi dengan wanita lain.  Ketegaran yang membuat seorang wanita berani pergi ke negeri ringgit untuk mengais rezeki.  Meninggalkan gadis mungil dalam dekapan wanita menjelang renta sekian tahun silam.  Lantas membiarkan dirinya lenyap ditelan bumi.  Tanpa kabar.

Ada kekuatan yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mengusap lukisan itu.  Merasakan kepedihan yang dalam.  Luka, darah, air mata.

“Siapa, kau?” tanyanya lirih di antara isak.  Ia merasakan kesedihan yang dalam ketika tangannya menyentuh lukisan darah itu.  Air mata dan peluh bersaing membanjiri bagian tubuhnya.  Ia kemudian terkulai di lantai.  Napasnya tersengal-sengal.  Kerisauan, kebingungan, ketakutan, ketidak-mengertian telah menumpasnya malam ini.  Ia memejamkan mata.  Tidak ingin menatap lukisan darah di dinding itu.  Hatinya perih.

“Kenapa? Ada apa?”

Ada tangan yang tiba-tiba menyentuh bahunya lembut.  Ia terkesiap.  Matanya kembali nanar mencari-cari lukisan darah di dinding.  Namun ia tidak menemukannya.  Lukisan darah itu lenyap!  Dan di hadapannya, wanita renta yang gurat wajah yang tak jauh berbeda dengan wajah dalam lukisan darah itu menatapnya cemas.

“Ada darah di dinding”.  Matanya masih mencari.
“Darah apa?”
“Lukisan darah”.
“Ah, kau mengigau”.
“Tidak Nek, tadi benar-benar ada di dinding itu”.
“Mana buktinya?  Dinding itu bersih, tidak ada darah di sana”.
“Lukisan darah berwajah sepertimu”.
“Sudahlah…”
“Aku akan mencari orang dalam lukisan itu, Nek”.
“Untuk apa?  Akan kau cari kemana?”
“Ke kota.  Atau kemana saja”.
“Minumlah dulu, jangan terus mengigau”.

Ia meneguk segelas air putih yang dibawa wanita renta itu hingga tandas, menarik napas hingga seluruh udara memenuhi rongga dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di pembaringan.  Matanya menerawang, jantungnya berdebaran.  Lukisan darah itu kembali membayangi matanya.  Siapa wanita itu?  Perlahan ia mengangkat telapak tangannya dan ada sisa darah melengket kering  di jemarinya.

***

Tas besar itu telah dijejali pakaian dan perbekalan.  Ia akan pergi.  Mungkin ke kota atau ke negeri entah.

“Aku akan mencari wanita dalam lukisan itu”, gumamnya.

Ia sedih melihat wanita renta itu terlihat berat melepas kepergiannya.  Mata wanita renta itu berkaca-kaca.  Ia tak ingin mengurungkan niatnya.  Hampir setiap malam, sayup ketukan beruntun, bayangan pekat berkelebat, kemudian darah yang menjelma lukisan itu menghantui hidupnya.  Ia tak ingin digilas ketakutan, kesedihan, penasaran juga ketidak-mengertian yang terus bertumpuk dari hari ke hari.

Ada yang berkelebat saat ia mengayunkan langkah dan melepas tangan wanita renta yang memeganginya.  Sebuah bayangan.  Ada desis menyerupai rintihan yang semakin jelas.  Luka, darah, air mata dan sebuah ruang sempit dan menyeretnya dalam kepedihan.

“Kau akan pergi kemana?” pertanyaan wanita renta itu menonjok lamunannya.  Ia hanya bergumam, menggeleng lalu menyeret tas besarnya.  Entah, ia sendiri tak tahu harus kemana mencari wanita dalam lukisan itu.  Mungkin ke kota.  Tapi kota yang mana?  Namun lukisan darah di dinding yang desisnya menyerupai rintihan itu seolah terus memanggilnya, mengajaknya untuk bertemu.

Langkahnya terhenti.  Perlahan tangannya menjangkau gagang pintu depan rumahnya.  Sedikit gemetar ketika akan mendorongnya.  Saat itu ia mendengar suara ribut-ribut di halaman.  Ia menajamkan pendengarannya seperti saat mendengarkan ketukan lembut di setiap malamnya, lalu menatap wanita renta yang berdiri bungkuk di sampingnya.  Mereka saling berpandangan dan mengeryitkan kening.  Benaknya penuh tanya.

“Benar ini rumahnya?” tanya seorang laki-laki di halaman.
“Benar, Pak”, jawab sebuah suara, seperti suara tetangganya.
“Turunkan perlahan-lahan!” teriak laki-laki yang tadi bertanya memberi perintah.  “Tolong yang lain bantu kami menurunkan!”
“Awas, hati-hati!” suara yang lain lagi.
“Panggil keluarganya!” suara lelaki pertama kembali memerintah.
Ia terdiam sesaat.  Otaknya berputar mencoba menebak-nebak tentang keributan yang terjadi di halaman.  Namun ketika ia menyadari tak juga menemukan tebakan yang tepat, tangannya mendorong gagang pintu.

Mulutnya ternganga ketika melihat puluhan orang; tetangga laki-laki, perempuan, anak-anak, Pak RT, RW, lurah, polisi, berkumpul di halaman.  Mereka mengelilingi mobil ambulan yang sudah dimatikan sirinenya.  Beberapa orang menurunkan peti mati dari dalam ambulan.  Sementara seorang tetangga berlari-lari menghampirinya.

“Roh! Rohana!  Itu mayat emakmu.  Ia meninggal karena jatuh dari apartemen tempatnya bekerja.  Ia sedang mengandung anak majikannya!”

Seperti masuk ke dalam mesin pendingin, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat, rahangnya mengatup rapat.  Wanita renta di sampingnya terkulai pingsan.  Kerumunan orang-orang menyingkir ketika ia mendekati peti mati.  Dilihatnya darah berceceran di dinding peti mati emaknya.  Menuliskan : ROH, AKU PULANG dan melukiskan tubuh wanita hamil!


Utan Kayu, 23 Juni 2004
.

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: , . 1 Komentar »

BEGONIA (Begonia glabra Kuiz. ex Pav.)

Klasifikasi

 

Divisi

Spermatophyta

Sub Divisi

Angiospermae

Kelas

Dicotyledoneae

Bangsa

Cistales

Suku

Begoniaceae

Marga

Begonia

Jenis

Begonia glabra Kuiz. ex Pav.

Nama

Umum/Dagang 

Begonia.

Sumatera

Begonia (Melayu).

Jawa

Begonia (Jawa).

Deskripsi

Habitus

Semak, tinggi 60 – 75 cm.

Batang

Lunak, banyak mengandung air, berbuku-buku, merah kehijauan.

Daun

Tunggal, bentuk jantung, pangkal tumpul, belah dua, ujung runcing, tepi beringgit, pertulangan menyirip, panjang 12 – 15 cm, lebar 7 – 10 cm, hijau berbintik-bintik putih.

Bunga

Majemuk, bentuk malai, di ketiak daun, kelopak merah kehijauan, benang sari terletak di tengah, kuning, mahkota terdiri dari empat helai, dua bulat, dua lainnya lanset, merah.

Buah

Buni, lonjong, panjang ± 1 cm, bersayap, merah.

Biji

Bulat, kecil, putih.

Akar

Tunggang, merah kecoklatan.



Gambar 100.  Begonia glabra Kuiz. ex Pav.

Khasiat

Daun Begonia glabra berkhasiat sebagai obat luka baru.

Obat luka baru : dipakai ± 15 gram daun segar Begonia glabra, dicuci, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempelkan pada yang luka.

Kandungan Kimia

Daun, batang, dan bunga Begonia glabra mengandung saponin; daunnya juga mengandung tanin; batang dan bunganya mengandung flavonoida; di samping itu batangnya juga mengandung polifenol.

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.