Karya : Zirlyfera Jamil
Sumber : UMMI, No. 11/XV April 2004 M / 1425 H.
Sepanjang hidupnya Rasulullah saw. tak pernah bergelimang harta dunia. Bahkan, meski rizki Allah selalu saja hadir dengan berbagai jalan, Rasulullah tak pernah menyimpannya untuk waktu yang lama. Beliau lebih senang bersedekah dan memilih hidup amat sederhana sebagaimana kebanyakan kaum muslimin. Tak heran, bukan sekali dua Rasulullah harus menahan lapar karena tak memiliki sedikit pun makanan di rumahnya.
Pada suatu hari, Rasulullah kembali berangkat dari rumahnya dalam keadaan lapar. Tak ada sepotong roti pun di rumahnya. Namun, dengan sabar, beliau tetap beranjak menuju masjid untuk mengajarkan Islam pada kaum muslimin.
Di saat Rasulullah tengah mengajar itu, lewatlah sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah al Anshori. Dia adalah seorang sahabat mulia yang halus dan peka perasaannya. Dilihatnya Rasulullah yang saat itu mengajar kaum muslimin dengan tekun dan sabar. Namun, setelah memperhatikan dengan seksama, Abu Thalhah tahu bahwa suara Rasulullah sedikit berbeda, terdengar melemah.
Abu Thalhah mengenal betul sifat Nabinya yang tak pernah hidup bermewah-mewah. Maka, Abu Thalhah pun menyimpulkan bahwa suara Rasulullah yang terdengar tak seperti biasanya itu tentu dikarenakan beliau dalam keadaan lapar.
Bergegas Abu Thalhah pulang ke rumah dan bertanya pada isterinya.
“Aku mendengar Rasulullah berbicara di masjid. Suaranya terdengar sedikit lemah. Apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat disuguhkan kepada Rasulullah?”
“Ya, kita masih mempunyai sedikit gandum. Akan kuolah gandum itu menjadi roti untuk disuguhkan pada Rasulullah”.
Maka, Ummu Sulaim, isteri Abu Thalhah pun mengolah gandumnya yang hanya sedikit sehingga menjadi sepotong roti.
Begitu roti itu siap, Abu Thalhah membungkusnya dan memanggil seorang sahabat Anas.
“Tolong antarkan roti ini pada Rasulullah, Anas”, ujar Abu Thalhah. Dia juga mengingatkan Anas untuk tidak berbicara keras-keras karena rotinya hanya ada satu, cukup untuk Rasulullah saja.
Anas pun mengambil roti itu, meletakkannya di balik lipatan bajunya dan menemui Rasulullah di masjid. Namun, baru saja Anas mengucapkan salam dan hendak berkata pelan kepada Rasulullah, Rasulullah sudah berkata, “Apakah engkau diutus oleh Abu Thalhah?”
“Benar ya Rasulullah”, jawab Anas seraya mengangguk membenarkan.
“Apakah urusan ini soal makanan?”
Anas kembali mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu, ayo bangkitlah kalian semua. Kita menuju rumah Abu Thalhah”, kata Rasulullah seraya bangkit berdiri diiringi oleh sekitar 80 jamah masjid yang lain.
Anas sungguh tidak tahu harus berkata apa. Dia cemas juga mengingat pesan Abu Thalhah yang menyatakan bahwa rotinya hanya ada satu. Namun, diikutinya juga langkah Nabi ke rumah Abu Thalhah.
“Aduh, bagaimana ini? Rotinya tak akan cukup untuk semua…” pikir Abu Thalhah yang gugup.
“Sudahlah, Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu”, jawab isterinya berusaha menenangkan.
Di saat mereka sedang kebingungan, Rasulullah beserta rombongan jamaah masjid tiba di depan pintu. Abu Thalhah segera menyambutnya dan Rasulullah pun masuk ke dalam rumah Abu Thalhah, meninggalkan sahabat-sahabat yang lain di teras rumah.
Di dalam rumah, Rasul berkata pada Ummu Sulaim, “Bawa kemari apa yang tadi hendak kau hidangkan wahai Ummu Sulaim”.
Maka setelah menghangatkan dan membumbui kembali roti yang tadi dibawa Anas, Ummu Sulaim pun menghidangkan roti itu di hadapan Rasulullah.
Di depan roti itu Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa. Lalu ia berkata, “Panggillah sepuluh orang dari tamu-tamu di depan itu”.
Maka masuklah sepuluh laki-laki dan dipersilakan menyantap hidangan roti yang tersedia. Setelah mereka kenyang semua, diperintahkan lagi oleh Rasulullah untuk memanggil sepuluh laki-laki berikutnya. Maka bergantian, mereka pun makan hingga kenyang.
Setiap sepuluh tamu-tamu dari masjid itu selesai makan hingga kenyang, maka Rasulullah terus memanggil sepuluh lelaki berikutnya, hingga kedelapan puluh orang jamaah masjid itu selesai makan dan merasa kenyang.
Abu Thalhah, Ummu Sulaim, dan Anas amat takjub melihat bahwa roti yang terhidang di meja masih tersisa cukup banyak untuk dimakan oleh Rasulullah dan mereka sendiri.
Rupanya setelah didoakan, dengan ijin Allah, Rasulullah mendapatkan mukjizat sehingga sepotong roti yang dihidangkan dengan ikhlas oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaim mampu mengenyangkan seluruh jamaah masjid pada saat itu. Sungguh Maha Berkuasanya Allah.
.


Di sebuah warung internet (warnet) di pelosok Karawang, saya sempat mengalami kesulitan ketika menjalankan komputer, apalagi ketika mengakses internet. “Kok gini ya? Nah, cara chattingnya gimana? Mau buka data dari flash disknya bagaimana? Bla.. bla.. bla…” Pertanyaan itu membuat saya terpengarah. Klik sana-klik sini tetap saja bingung. Alhasil, karena masalah waktu, apalagi untuk hemat durasi rental, saya pun memutuskan tidak membuang banyak waktu untuk mempelajarinya sendiri saat itu. Segera setelah 15 menit lebih saya pun memutuskan untuk memanggil operator warnet tersebut dan bertanya tentang ‘masalah’ yang saya hadapi itu.



