PISAU KARTON

Dari Kumpulan Cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye

.

Aku membuka dompetku, masih ada uang tiga rupiah untuk becak pulang.  Itu adalah uangku yang terakhir dan sampai akhir bulan aku takkan punya uang lagi.  Tapi aku tak pernah cemas.

Aku memang tak pernah cemas dalam soal uang, seperti aku tak pernah cemas akan jatuh sakit.  Aku merasa sedikit mujur karena untuk dua-duanya itu aku takkan jadi sekarat.  Aku tiba-tiba ingat ibuku, yang fotonya ada di balik kaca plastik dalam dompetku.

Biasanya, kalau aku ingat ibu, terasa ada sesuatu yang menggelepar dalam dadaku, karena aku tahu bahwa aku adalah anaknya, karena aku tahu aku tak sempat berbakti kepadanya seperti layaknya anak-anak terbaik dan ibu-ibu di dunia ini.  Buatku ibu adalah kenang-kenangan yang menggelepar, sebab ia merupakan masa lampau yang hidup tanggung-tanggung dalam angan-anganku, karena aku cuma bisa sedikit sekali untuk mengingat wajahnya, kata-katanya yang lembut, dan kesabarannya yang besar.  Suatu saat aku merasa goyah bila aku dihinggapi rasa sentimentil, sebab tiba-tiba merasa tidak akan punya lagi seseorang tempat aku membagi-bagi keindahan hidup ketika aku sedang bahagia dan menceritakan duka cita, ketika aku sedang dihantam kesedihan.  Waktu itu aku merasa seperti kanak-kanak yang manja, kanak-kanak yang telah berusia seperempat abad yang menangis, biar pun aku sadar juga bahwa air mataku sudah kering untuk semuanya itu.

Kuangkat kepalaku, kulihat mukaku sendiri di kaca.  Tapi yang dalam kaca itu bukanlah wajahku.  Wajah itu adalah wajah seorang jejaka tua berumur kira-kira tiga puluh lima tahun dengan uban-uban di atas telinganya.  Jejaka itu selama ini sudah amat cemas menghadapi hidup dan terutama wanita.  Tapi kemudian ia datang ke rumah seorang gadis yang sudah jadi perawan tua pula dan ingin meminang gadis itu.  Tapi mereka bertengkar.  Mereka bertengkar bukan dalam hal pertunangan atau perkawinan.

Mereka bertengkar pada soal-soal kecil yang tak pantas dipertengkarkan, sehingga hampir saja lamarannya dikembalikan.  Namun untuk suatu sukses tak penting pada cara memulainya, tapi bagaimana cara mendapatkannya kemudian.  Kemudian ternyata lamarannya diterima oleh calon mertua dan gadis itu, dan kemudian diciumnya tangan perawan tua itu berkali-kali.

Aku mendengar kembali bagaimana sambutan orang ramai bersorak-sorak atas kemenangan jaka tua itu.  Mereka adalah penonton-penonton suatu kehidupan.

Kini seharusnya aku melihat di kaca itu wajah berseri-seri dan jaka tua itu sebab lamarannya telah diterima.  Tapi tidaklah demikian, sebab wajahnya murung.

Kuhapus wajahku dengan handuk.  Aku pergi mencuci muka dan rambutku dan kembali ke kaca. Kini yang kelihatan di kaca itu bukan wajah jejaka tua itu tapi wajahku sendiri yang baru berusia mendekati dua puluh empat tahun.  Dan tiba-tiba, dari sudut kaca itu kelihatan pintu kamar terbuka.  Dua orang berdiri di pintu.

“He, kukira tak ada orang lagi di kamar rias ini”, kata yang perempuan.

“Lagi apa kau?” tanya yang lelaki.

“Engkau tampan”, pikirku.  “Engkau lelaki tampan yang menjadi impian tiap-tiap wanita”.  Melewati kaca besar di hadapanku aku menyalam.  Yang tampan mengangguk senyum dan ketika senyum ia semakin tampan.  Kukira ia mirip Glenn Ford kalau tersenyum, dengan gigi yang tak ditunjukkannya itu.  Dan yang di sebelahnya juga tersenyum.  Wajahnya tidak mirip siapa-siapa.

Wajahnya cuma satu itu di dunia ini.  Setengah jam sebelum itu ia menjadi seorang perawan tua yang dilamar oleh jejaka tua.

Mereka masih berdiri di pintu.

“Mari pulang bersama-sama”.

“Mengapa kau masih di situ?  Kau sakit?” Gadis itu masuk.  Ia membawa bungkusan.

“Kami membawa oleh-oleh pisang goreng untuk mama.  Biar mama senang, sehabis aku main sandiwara ada oleh-oleh pembuka pintu”.

Lalu yang lelaki, yang tampan, berkata, “Kau mau pisang goreng?”

“Terima kasih”.

Mereka menjadi kaku dan kulihat sekilas di kaca yang lelaki memberi isyarat agar ke luar dan yang gadis menerima isyarat itu setelah menepuk punggungku.  Di luar kudengar suara mereka, barangkali dia sakit.

Lalu kuingat pisang goreng itu.  Kenapa tidak kuterima?  Aku paling suka pada pisang goreng, dan sewaktu latihan-latihan aku minta pada sutradara agar makanan dalam istirahat latihan dibelikan pisang goreng.  Biasanya aku berlatih agak malas tanpa pisang goreng.

Lalu kuingat lagi pisang goreng itu.  Tapi kini pisang goreng itu bukan sebagai suatu jenis makanan kesukaanku dan enak dimakan.  Aku ingat perkataan gadis itu, “Pisang goreng itu sebagai pembuka pintu sehabis main sandiwara”.

Ingat pada pisang goreng, aku ingat kembali pada ibuku.  Aku ingat bagaimana aku mengintip lewat lubang kunci ibuku tertidur dengan kepala di atas meja menantikan kami pulang.  Ayah menjentik bahuku tanda aku boleh mengetuk pintu.  Lalu kuketuk pintu.

“Ma? Ma? Mam?” teriakku kecil.  Lalu kuintip lagi lewat lubang kunci.  Ibu sudah berdiri dan membetulkan rambutnya.

Aku menoleh kepada ayah dan menunjukkan jempol jariku tanda keadaan tidak berbahaya.  Ayah selalu memperingatkan, kalau wajah ibu cemberut aku harus menambahkan sebuah kalimat lagi.

“Aku membawa pisang goreng mam!”

Pintu pun terbuka dan kuberikan bungkusan pisang goreng.

Biasanya, ayah tidak berkata suatu apa lalu terus ke kamar mandi untuk mencuci muka, membersihkan sisa-sisa coretan di mukanya.

Waktu ayah di kamar mandi, biasanya ibu bertanya, “Bagaimana main papa tadi?”  Aku biasanya berteriak girang, “Tentu, tentu hebat.  Penonton-penonton menjawer sapu tangan dan duit!”

Tapi malam aku pulang itu ibu tak bertanya.  Namun aku tetap menceritakan permainan ayah sebagai si Momba yang kejam adalah baik dan penonton-penonton bertepuk riuh dan menjawerkan sapu tangan-sapu tangan dan duit dan orang-orang melihat-lihat kepadaku.

“Mam, orang-orang ada yang tahu aku ini anaknya papa!  Mereka memegang-megang rambutku dan aku marah-marah seperti Momba!”  Aku berharap ibu tertawa.  Tapi ibu tidak tertawa mendengar ceritaku dan aku menunjukkan pisau besar dari karton yang berbacah-bacah darah gincu.

“Mereka itu semua tolol-tolol, Ma.  Mereka menjerit-jerit.  Perempuan-perempuan menjerit-jerit dan menangis ketika papa menikamkan pisau ini ke perut Maharani yang bunting itu.  Perempuan-perempuan menangis-nangis melihat papa mengeluarkan orok yang berdarah-darah dari perut Maharani yang bunting itu.  Tapi aku ketawa-tawa, Mam.  Penonton-penonton itu bodoh-bodoh, ya Mam?  Ya, Mam?”

Ibuku ketawa.  Sangat mahal terasa ketawa itu.  Aku melihat ayah muncul masih membersihkan mukanya dengan handuk dan menyeret aku cepat-cepat ke kamar.

Ayah berbisik, “Ibumu kenapa merengut?”

“Ibu ketawa.  Bukan merengut, kok”, kataku.

Lalu aku ke luar kamar lagi sebab kamarku berada di sebelah kamar mereka.  Kulihat pisang goreng yang kami beli tadinya belum disentuh ibu.  Ibu hanya duduk di meja.  Dari kamarku kuintip ibu sedang duduk saja.  Kemudian kudengar ibu memanggil nama ayah dan ayah keluar dan ayah duduk dan mereka berkata pelan-pelan dan tidak kudengar percakapan mereka dan bila pun kudengar aku tak mengerti.

Malam itu aku susah untuk tidur.  Barangkali mereka bertengkar.  Barangkali kami pulang terlalu larut dan ibu bosan dengan pisang goreng.  Barangkali ibu marah-marah pada ayah.  Tapi ibu tak pernah marah pada ayah dan mereka tidak pernah berkelahi seperti tetangga-tetangga kami.  Waktu itu aku teringat pada si Bakar yang selalu menyebut namanya dengan “Bakau” karena tidak bisa menyebutkan bunyi “r”.  Aku ingat bagaimana siang harinya aku dan Bakar menyelusuri kota kami.  Di depan gedung komidi tertulis besar-besar huruf- huruf MAHARANI dan tertulis nama ayahku.  Di dekat pojok Bank Escompto ada lagi didirikan papan besar dengan huruf itu juga dan tertulis juga nama ayahku.

Aku berkata bahwa warna hijau pada poster itu akulah yang mencatnya, disuruh ayah.  Dan aku juga berkata pada Bakar, huruf A dari nama ayahku itu aku yang mencatnya.

Kami pergi lagi ke dekat lapangan sepakbola dan poster sebuah lagi ada di sana dan aku tak berani mengatakan apa-apa.  Sebab sekali aku pernah berbohong bahwa poster itu sebagian besar aku yang membuatnya.  Bohongku ketahuan dan aku terus saja mengaku bahwa memang aku berbohong.  Aku ingat lagi bagaimana aku berdiri sore-sore di depan gedung komidi yang terletak di jantung kotaku, seakan-akan menyuruh-nyuruh agar orang membeli karcis dan seakan-akan hendak menyatakan bahwa ayahkulah yang main sebagai Momba yang mengerikan dan akan kukatakan bahwa ayahku pemain baik.

Bila layar terbuka dan penyanyi-penyanyi menyanyi aku menjadi gelisah.  Aku katakan pada orang di sebelahku, bahwa sehabis nyanyi “Hampir Malam Di Jogya”, itu tandanya sandiwara akan mulai.

Sandiwara dimulai benar-benar setelah lagu “Hampir Malam Di Jogya” berakhir.  Aku tidak ingat lagi bagaimana cerita sandiwara itu.  Yang kuingat adalah ayahku bermain sebagai Momba yang kejam yang membunuh Maharani yang cantik.  Ayah mencabut pisaunya.  Perempuan-perempuan menggumam ngeri dan aku berbisik memberitahu, “Itu bukan pisau betul-betulan.  Itu cuma karton!”  Perempuan itu marah-marah.  Aku berdiri melihat ke belakang dan seakan-akan mengatakan itu pada penonton di belakang dan akan mengatakan juga, bahwa yang memegang pisau karton itu adalah ayahku.  Pisau karton itu tiba-tiba menggelegar sebab tangan ayahku menggigil.  Dan ayahku berteriak dengan suara seperti hantu kubur, “Mahaaaaaraniii!” Penonton- penonton ngeri dan gedung komidi menggumamkan suara penonton dan aku berdiri lagi dan akan berteriak, kamu tolol semua.

Ayahku pura-pura marah itu!  Ayahku berteriak lagi, “Mahaaaaaraniiii!” dan kemudian tertawa besar menggetar, “Ha-ha-ha-ha-ha!” dan ayah berteriak, “Maharani” lagi dan aku membalikkan tubuhku ke arah penonton belakang lagi dan akan menenteramkan hati mereka yang ngeri dan menyatakan bahwa ayahku pura-pura dan ayahku itu adalah ayahku!

Ayahku dengan rambut kusut masai macam hantu kemudian akan menikamkan pisau karton itu ke perut Maharani yang bunting.  Kemudian Maharani menjerit keras-keras dan perempuan di sebelahku menutup mukanya dan aku berbisik, “Jangan takut, perempuan itu cuma pura-pura”.  Tapi perempuan di sebelahku tetap menutup mukanya.

Kulihat pisau karton itu seakan-akan menembus ke perut Maharani dan ayahku tertawa keras-keras lagi ha-ha-ha, dan kemudian, ayah mengeluarkan orok dari perut Maharani yang bergelimang darah.  Aku akan mengatakan sesuatu sekarang.  Aku berdiri menghadap ke belakang.  Aku akan mengatakan pada penonton-penonton yang ketakutan dan menangis-nangis itu, bahwa orok itu bukanlah orok betul-betulan.  Itu adalah popi-popi si Aci.  Si Aci adalah adikku.  Itu bukan orok, itu popi dan popi bukan orok.  Kamu semuanya tolol-tolol.

“Aduh, seremnya”, kata seorang perempuan tua di belakangku.

“Tidak serem”, kataku membantah.

“Serem.  Anak kecil sialan!”

“Itu bohong-bohongan saja!” kataku.

“Lihat darahnya!” kata perempuan tua itu.

“Itu bukan darah betul-betulan”, debatku.  “Itu gincu saja.  Itu gincu!”

Perempuan tua itu berdiri dan memegang leherku.  Aku dimaki-makinya dalam bahasa Lampung totok.  Aku duduk sekarang.

Aku jengkel dan ingin mengumumkan lewat mikropon itu rasanya bahwa kalian itu bodoh-bodoh semua.  Biasanya di sekolah kuceritakan semua cerita bohong itu kepada kawan-kawan sekelasku, atau kuceritakan di rumah pada adikku yang kecil, tentang popinya yang menjelma jadi orok, kepada ibuku yang sudah bosan, kepada siapa saja yang mau mendengar ceritaku.

Malam ini aku teringat lagi pada ibuku, terutama ibuku.  Aku ingat sejak malam beliau tak bergembira itu, ayah tak pernah main sandiwara lagi dan asyik dengan permainan brigde.

Aku berdiri dan kulihat lagi wajahku di kaca.  Jauh lain dari ia yang dulu, penuh naf’su dan keberanian hidup.  Aku ke luar dari kamar rias.  Sepi gedung pertunjukan.  Penjaga gedung sedang menyapu.  Aku keluar gedung.  Sepi jalan raya.  Aku berjalan menyelusuri Malioboro.  Aku teringat pisau karton itu.  Hanya pisau dari karton untuk menyatakan peristiwa pura-pura saja.

Tapi mungkin bagi ibuku dulu pisau karton itu adalah pisau yang sebenarnya buat beliau, aku tidak tahu benar.  Aku waktu itu masih terlalu kanak-kanak untuk mengetahui kesedihan ibuku, kesedihan banyak orang.  Aku waktu berjalan itu tidak peduli lagi apakah mereka tahu atau akan tahu, bahwa akulah yang bermain sebagai jejaka tua dalam cerita Anton Chekov yang barusan beberapa jam lalu kuperankan.

Aku lalu ingat pada sebuah cerita pendek Anton Chekov tentang seorang suami yang kematian istrinya, yang memuji-muji kejujuran istrinya sebagai perempuan setia, tapi yang semasa hidupnya disebarkannya berita bahwa istrinya main mata dengan kepala polisi di kota itu.  Benih berita itu disebarkan si suami supaya orang-orang tidak mengganggu istrinya yang cantik dan orang takut mengganggu bukan sebab dia, tapi sebab orang-orang itu tentu akan takut pada kepala polisi itu.

Kubuka pintu kamar tempat aku memondok.  Tidak ada seorang menunggu di kamar.  Ada sebuah patung seorang tua yang bongkok di atas mejaku.  Ia memegang tongkat.  Patung itu kubeli di Bali dengan harga murah sekali, — setahun yang lalu.  Di belakang patung itu ada kertas-kertas bekasan beberapa cerita pendekku yang tak jadi.  Di belakang ada buku-buku pocket kumpulan cerita pendek atau novel atau roman dari pengarang-pengarang besar.  Mereka banyak menceritakan tentang perempuan, banyak sekali.

Ketika kutaruhkan diriku di tempat tidur, tiba-tiba aku merasakan seakan-akan aku telah punya istri yang tertidur di sebelahku.

Seakan-akan kudengar kata-kata, “Betapa pun, jagalah kesehatan engkau”.

Aku tidak malu, bahwa memang aku pernah punya angan-angan demikian.


TAMAT
.

MAINAN KELUARGA

Dari Kumpulan Cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye

.

Tidak ada hal-hal yang menyenangkan setelah ayah meninggal dunia, kecuali satu hal yang sudah pasti, bahwa tidak ada lagi seorang yang paling pemarah di rumah kami.  Sesudah beliau mati, ternyata beliau meninggalkan banyak hutang.  Sebanyak satu gudang barang-barang antik koleksi beliau, ternyata tidak diterima oleh orang-orang yang dihutanginya, karena alasan yang tepat juga.  Barang-barang kesenian itu menurut penagih-penagih hutang tidak bakal laku, dan jika pun laku, kata mereka, harganya akan murah sekali.  Untunglah kemudian, aku sebagai anak sulung, dan kemudian menjadi kepala keluarga di rumah, bekerja di sebuah perusahaan kopra dan dalam tempo lima tahun hutang-hutang itu lunas semua.

Keluarga kami sebenarnya terdiri dan orang baik-baik, jujur dan ramah, kecuali ayah yang punya sifat pemarah dan peminum.

Belakangan aku menjadi heran, kenapa dengan sifat-sifat beliau itu sebaliknya beliau mencintai barang-barang kesenian yang memerlukan satu gudang spesial buat menyimpannya.

Suatu hari Minggu, sekadar unluk mengetahui, kenapa barang-barang kesenian itu sangat dicintai, dan untuk mengetahui di mana rahasia kenikmatan yang ditimbulkan barang-barang itu terhadap seorang pemarah dan peminum, kubongkar barang-barang yang sudah berdebu itu.  Yang paling banyak adalah kepala-kepala binatang yang sudah diair keras, kemudian porselin-porselin Cina, patung-patung yang menurutku buruk semuanya.  Tapi sebuah patung kuda putih sangat menarik perhatianku.  Semakin dibersihkan semakin bagus patung itu.  Kemudian patung ini mendapat tempat yang terhormat di meja kerjaku, kuletakkan di samping mesin hitung uang di antara potret ibuku.

Sejak hari itu aku sudah tidak acuh lagi pada barang-barang kesenian di gudang, terutama karena pemimpin perusahaan mengatakan, bahwa penyelundupan kopra sangat berbahaya.  Tapi kembali barang-barang kesenian itu menjadi perhatianku, sejak aku berhubungan dengan seorang gadis, sejak aku mulai memikir masalah-masalah cadeau ulang tahun, sejak aku mulai menaruh dugaan, barang-barang kesenian itu bisa dibawa-bawa sebagai alat percintaan.  Karena aku lebih banyak tahu pada jenis-jenis kelapa dan kwalitet-kwalitet minyak saja selama ini, aku berusaha menemukan seorang kawan yang kata orang-orang banyak ia seorang seniman, tapi setahuku cuma suka keluyuran belaka.  Dulu aku benci sama orang ini, karena aku juga benci pada orang-orang yang tidak mau bekerja.  Sejak aku membutuhkan dia untuk suatu pertimbangan, kebencianku telah berkurang.

Aku tanyakan padanya, apakah baik memberikan suatu barang kesenian pada seorang gadis pacar kila.  Kawan ini bersemangat mendengarnya dan dia menanyakan apakah jenis barang kesenian itu, lukisankah atau patungkah.  Aku mengatakan kulit macan.

Ia marah-marah mentertawakanku, karena katanya kulit macan tidak termasuk barang kesenian, kecuali kalau dipakai sebagai penghias dinding.  Kataku, itulah yang kumaksudkan!  Tapi dia menanyakan apakah aku menyimpan juga barang-barang kecil, misalnya patung.  Aku bilang, aku punya patung kuda putih dari porselin.

Penganggur itu menepuk-nepuk bahuku dan dia menyarankan agar aku memberikan patung kuda putih itu saja.  Tapi kemudian aku menjadi ragu-ragu, apakah gadis itu suka pada barang kesenian jenis patung kuda putih.

Di rumahnya ada tanduk menjangan, kataku.  Barangkali dia lebih suka diberikan barang-barang jenis binatang-binatang mati.

“Kalau kau lihat seorang perempuan memakai baju biru”, katanya memberi nasihat, “maka pujilah dia dan katakan padanya ia sangat cantik memakai baju biru muda”.

“Aku tidak mengerti”, kataku.

“Engkau sangat goblok”, katanya.

Lalu dia menyatakan, karena di rumah gadis itu sudah ada jenis barang-barang binatang mati, maka berikanlah kuda putih dan porselin itu.

Ternyata nasihatnya benar, aku kagum padanya, dan aku tidak benci lagi padanya.  Aku
merasa bangga sekali, karena di antara barang-barang cadeau ulang tahun yang bertumpuk-tumpuk banyaknya itu, porselin kuda putihkulah yang paling menarik perhatiannya, dibelai-belainya, matanya bersinar seperti mata cincinku.

Dipanggilnya ibunya yang duduk di sudut, yang kukira juga akan gembira melihat pemberianku.  Aku melihat gadisku meloncat-loncat di depan ibunya dan mengunjukkan barang itu.  Kemudian ibu itu kaget, kukira begitulah, pasti ibunya kagum dan menghargai, karena sesudah itu, dari balik kaca matanya dia memandang kepadaku.

Ketika ibu itu memandang kepadakulah, aku pura-pura malu sambil memperbaiki dasi di leherku, melonggarkan ikatannya yang dalam beberapa menit terasa menjirat-jirat leherku.  Barangkali leherku lebih tepat untuk dasi kupu-kupu.

Ada dua puluh dua kali aku datang ke rumah gadis itu.  Tapi hanya satu kali ibunya keluar itu pun hanya mencongokkan kepalanya dari balik gordin.  Tapi keluargaku dari belahan ibu adalah keluarga baik-baik, dilarang menaruh curiga, dilarang membenci orang dengan dendam betul-betul, biarpun cara ibu itu sangat kubenci dan merendahkan dan menimbulkan dendam.  Benar juga kiranya dugaanku, karena suatu kali gadisku menasihatkan begini, “Kalau bisa kau jangan sering-sering datang ke rumahku lagi“.

“Kenapa?” tanyaku.

“Apa ibumu tidak senang padaku”, tanyaku lagi.

Ternyata ia seorang gadis yang baik, sebab biarpun aku tahu bahwa memang begitulah hal yang sebenarnya, tapi dia membayangkan dari raut mukanya, bahwa yang kuduga adalah tidak benar.

Sampai di rumah, aku benar-benar lesu sekali.  Aku duduk di beranda dengan tenang, walaupun dalam kepalaku sudah terkocok-kocok oleh keinginan marah-marah tak karuan.  Aku lalu teringat akan nasihat ayahku, sifat-sifat ayahku.  Waktu aku berusia sembilan tahun, aku disuruh ayah memanjat pohon kelapa.  Anak-anak di kampung kami, pada usia tujuh tahun sudah mempunyai kepintaran memanjat dan memetik kelapa.  Tapi aku tidak berani.  Aku dihajar oleh ayahku dengan rotan dan beliau memaksaku sampai suatu ketika aku bangga sekali, dari tinggi sepuluh meter, kujatuhkan sebuah kelapa yang pertama kujatuhkan ke bumi.

Ayah selalu bercerita, bahwa beliau tidak pernah gagal dalam hidupnya.  Aku juga ingat, ketika aku diludahi oleh seorang gadis, tepat di mukaku, dan beliau melihatnya.

“Bodoh”, teriak ayah melihat aku terpaku saja.

“Buru dia!” teriaknya lagi, tapi aku masih terpaku, dan keterpakuan kemudian berubah menjadi terpelanting setelah aku merasa kepalaku ditamparnya.  Ayah mengatakan bahwa kegagalan adalah pantang, lebih pantang lagi bila yang gagal adalah lelaki.  Kemudian ayah menceritakan dengan bangga, bagaimana beliau dapat merebut ibu kami semasa gadisnya, dan bagaimana beliau kawin, dan bagaimana beliau tidak pernah ditolak oleh seorang gadis selama hidupnya.

Kalau aku ingat hal-hal itu, banggalah aku selayaknya.  Tapi aku berasa malu dan kecil dan hina pada keluarga gadis itu, karena diriku tidak punya kebanggaan sama sekali.  Dan sejak kunjungan yang kedua puluh dua kali itu, aku tidak lagi pernah ke rumah gadis itu.

Dan alanghah kagetnya aku, ketika suatu kali, seorang perempuan masuk pekarangan rumahku, dan dialah itu!

“Kenapa kau tidak pernah datang lagi?” tanyanya.  Aku tidak bisa menjawab sebab aku
sebenarnya sangat gembira, dan tumbuhlah kebanggaan dalam hatiku.  Ia kemudian banyak bercerita, banyak menyesal, yang kesemuanya menambah-nambah kebanggaanku.

Tapi aneh, setiap dia kulamar, selalu minta ditangguhkan, dan sekali dia berterus terang.

“Ibuku tidak suka kau kawin denganku”, katanya.

“Kau bisa jadi perawan tua”, kataku menggigil.

“Saya juga heran kenapa begitu”, katanya.

“Ibumu kolot”, kataku.

“Kau pemarah”, katanya, sedangkan aku merasa tidak marah sama sekali karena aku mengucapkannya menggigit pelan-pelan.

“Ibuku benci sama lelaki pemarah”, katanya.

Tidak ada hal-hal yang tidak menyenangkan lagi setelah ibunya, ibu gadis itu, suatu hari meninggal dunia.  Keluarga kami dilarang berdendam oleh pihak ibuku, karena itu aku menyaksikan sendiri bagaimana ibu itu menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Perempuan itu memandang saja, kepadaku dengan tidak berkedip, sedikitpun tidak ada benci, malah sebaliknya.  Matanya yang hampir layu itu seakan menyampaikan maaf yang banyak, kata-kata yang tidak berkata.

Setelah dia mati, aku kawin dengan anaknya, dan kami pun dikurniakan anak-anak, sebagai hasil perkawinan itu.

Anak-anak meminta kesabaran kepada orang-orang tuanya, apalagi kalau mereka menangis.  Dan beberapa hari belakangan ini kami sudah tidak sabar lagi melihat pekik anak kami yang pertama.  Aku tidak tahu apa sebab dia menjerit-jerit.  Istriku juga tidak tahu apa sebab dia menjerit-jerit.

“Ada apa sayang?  Ada apa manis?” tanya istriku sambil mendekapnya.

“Hantu!  Hantu!” pekiknya sambil menunjuk-nunjuk ke dinding kamarnya.  Tahulah kami
kemudian bahwa anak kami takut pada kulit dan kepala serigala yang sudah di air keras itu.  Kuusulkan agar kulit serigala itu dipindah saja ke tempat lain.  Istriku cepat-cepat melarang dan menarik tanganku.

“Ibuku semasa hidupnya melarang tiap-tiap orang di rumah ini membuka atau memindahkan barang itu”.

“Tapi anak kita bisa gila karenanya”, kataku dan segera membukanya tanpa tunggu-tunggu lagi.

Di belakang kulit serigala itu ada tulisan semacam tatto, yang menyatakan, sebagai pemberian kasih sayang dari seorang lelaki kepada seorang perempuan.  Pengirim lelakinya tertulis jelas nama ayahku, ditujukan kepada nama seorang perempuan, nama ibu istriku.

Kemudian di bawahnya tertanggal 20 Juni 1927, jadi kira-kira tiga tahun sebelum aku dilahirkan oleh ibuku, dan berarti 34 tahun yang lampau.

Sebagai ahli hitung yang baik, aku menduga, antara tahun 1927 dan tahun 1929 ayahku pernah mengalami kegagalan.  Aku tertawa terbahak-bahak.

Istriku sebaliknya menangis.

“Tentang kuda porselin itu”, katanya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kuda putih itu pemberian ibuku pada ayahmu dulu.  Aku sudah lama merahasiakan”, katanya.

“Untung mereka tidak kawin”, kataku tertawa terbahak-bahak lagi, sehingga anakku yang tadinya menangis-nangis, tertawa pula terbahak-bahak, dan mudah-mudahan saja ia tidak mentertawakan kakeknya atau neneknya.

TAMAT

.

KENAPA KHAMR DILARANG?

Tahukah kalian kenapa khamr atau minuman keras dilarang.  Saya tidak akan menjawab tetapi hanya akan menunjukkan gambar-gambar orang yang mabuk.  Saya yakin setelah melihatnya kalian tentu dapat menjawab pertanyaan ”Kenapa khamr dilarang?”  Gambar-gambar tersebut diambil dari :
http://wildweirdworldnews.blogspot.com/search/label/Cewek%20Mabuk






























 

Gimana menurut kalian, jika hal tersebut terjadi kepada kalian atau orang-orang terdekat.  Sungguh-sungguh memalukan !!!
.

free counters

LIMA FAEDAH PUASA SYAWAL

 Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 39, 24 September 2010 M / 15 Syawal 1431 H 

. 

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh”.  (HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori) 

Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal.  Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal.  Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut?  Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini.  Semoga bermanfaat. 

Faedah pertama : Puasa Syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh”. (HR. Muslim no. 1164 dari Abu Ayyub Al Anshori) 

Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan.  Misal, bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300  hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). 

Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuassa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh.  Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.  [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal] (QS. Al An’am [6] : 160) (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dari Tsauban – bekas budak Rasulullah saw.) 

Cara melaksanakan puasa Syawal adalah : 

  1. Puasa dilakukan selama enam hari.
  2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
  3. Lebih utama dilakkan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.

Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh.  Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib.  Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah. 

Faedah kedua : Puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekukarangan dan menyempurnakan ibadah wajib 

Yang dimaksudkan di sini bahwa akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib.  Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini.  Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah. 

Faedah ketiga : Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan 

Jika Allah SWT menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan shalih selanjutnya.  Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan shalih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.  Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf, “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]) 

Ibnu Majah menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya.  Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.  Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda ditolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394) 

Renungkanlah!  Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan?  Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima? 

Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang di luar bulan Ramadhan.  Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat.  Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat. 

Faedah keempat : Melaksanakan puasa Syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah 

Nikmat apakah yang disyukuri?  Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan.  Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan. 

Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan”. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394)  Sampai-sampai Nabi saw. pun telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang banyak melakukan shalat malam.  Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. 

Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat.  Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh bentuk syukur yang selanjutnya. 

Ada ba’it syair yang cukup bagus, “Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”. 

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri”.  Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua.  Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya.  Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat.  Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna). 

Faedah kelima : Melaksanakan puasa Syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja 

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir.  Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.  Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya kenapa mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya.  Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami.  Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ‘ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci. 

Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka, “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja.  Sesungguhnya orang yang shalih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”.  Ibadah bukan hanya hanya di bulan Ramadhan, Rajab, atau Sya’ban saja. 

Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja.  Kami juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin”.  Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja.  Semoga Allah memberi taufik. 

Wallahu a’alam bish shawab 

 .

LIMA BELAS TAHUN TAK LAMA

Dari Kumpulan Cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye

.

Kota kami telah hampir berusia setengah abad, dan hampir saja hanyut karena kecelakaan gunung berapi.  Beberapa tahun belakangan ini orang-orang sudah tidak lagi memikirkan apakah bahaya itu akan datang lagi, sehingga orang-orang sudah tidak memikirkan soal waktu.  Kota itu terbentang di pinggir pantai, dengan sebuah jalan panjang sembilan kilometer ke arah barat laut, dan tepat di pintu kota ada sebuah kantor bank.  Orang-orang pegawai bank tidak memikirkan waktu, mereka banyak berhubungan dengan angka-angka.  Di sebelah bank itu ada sebuah restoran Cina dan orang-orang Cina itu juga tidak memikirkan waktu.  Belakangan mereka malah kesusahan, karena pemeliharaan babi kurang memuaskan, sebab banyak orang-orang Islam yang jadi tukang gembala babi-babi itu diganggu keamanannya oleh penduduk sekitarnya.

Di sebelah restoran Cina itu ada sebuah toko kecil, toko sepatu, di mana banyak sepatu-sepatu.  Sepatu-sepatu itu dikerjakan oleh tukang-tukang sepatu dan mereka berjumlah enam orang, yang termuda dari tukang-tukang sepatu ini berumur dua belas tahun, tidak perlu disebutkan namanya, karena lebih penting apa yang menyebabkan ia menjadi tukang sepatu.  Ia menjadi tukang sepatu karena hendak memberi makan lima orang adik-adiknya, hendak membantu penghasilan ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci.

Ia adalah yang paling pendiam.  Yang tertua dari tukang-tukang sepatu itu adalah seorang lelaki, yang mengabdikan pikirannya dan anggota-anggota badannya untuk membuat sepatu-sepatu yang baik.  Dari keenam pekerja itu, dia inilah yang paling banyak ditegur oleh majikannya, karena ia tidak cepat bekerja, karena ia membuat sepatu-sepatu itu sebaik-baiknya.  Pemilik toko sepatu itu tidak memikirkan membikin sepatu yang kuat dan baik lebih menguntungkan.  Ia lebih banyak memikirkan bagaimana bisa menghasilkan sepatu sebanyak-banyaknya, tidak peduli jahitan atau lim-lim sepatu itu akan berumur tiga bulan saja.

Tukang sepatu yang tertua ini, yang tertua karena dialah yang telah berumur dua puluh lima di antara kelima orang yang lain, juga sangat pendiam, dan sangat tidak penting untuk menyebutkan namanya.  Dia memikirkan sepatu dan waktu.  Yang juga banyak dipikirkannya adalah wajahnya yang buruk itu, bekas-bekas cacar waktu zaman Jepang.  Dia juga merupakan seorang pendiam.  Dia pendiam karena panggilan keadaan.

Suatu kali ia berkata, “Kapan kau akan kawin?”

“Kawin?  Aku tidak memikirkan hal itu”.

“Apakah selamanya kau tidak akan kawin?”

“Barangkali begitu.  Aku tidak punya alis mata”.

“Gila kau!”

“Jangan ganggu aku.  Aku sedang melihat sepasang suami-istri yang sedang berbelanja itu”.

Dia sedang melihat sepasang suami-istri yang sedang berbelanja, jauh di seberang jalan.  Saat itu dia tak mau berkata pada dirinya sendiri lagi.  Tapi hatinya mengusik-usiknya lagi dan bertanya.

“Kau tidak ingin kawin seperti mereka?”

“Jangan ganggu aku.  Aku sedang memperhatikan sepasang suami istri yang sedang berbelanja itu.  Mereka sedang berbantah agaknya.  Mereka sedang berembuk barangkali.  Mereka mempunyai apa yang aku sendiri tidak punya”.

Itu bukanlah yang pertama kali tukang sepatu itu berbantah-bantahan dan bersoal-jawab.  Dia berbantah-bantah dan bersoal jawab dengan dirinya.

Pandangannya, melewati kaca pajangan toko ke arah sana terganggu karena ada seorang perempuan sedang menggendong anaknya dan seorang anak perempuan kecil dengan rambutnya dikelabang.  Antara anak perempuan itu dan ibunya agaknya terjadi percakapan.  Kelihatan anak perempuan itu merengek-rengek menunjuk-nunjuk ke sebuah sepatu kecil.

“Bu, belikan yang itu, Bu”.

“Sssh, sshh”.

“Bu, belikan, Bu.  Semua anak-anak di kelas pakai sepatu”.

“Biarkan mereka semua mereka pakai sepatu”.

“Tapi aku ingin juga seperti mereka”.

Aku ingin seperti mereka, barangkali itulah yang dikatakan anak perempuan kecil itu.  Tukang sepatu itu sebenarnya tidak mendengar percakapan ibu dan anak itu.  Perdebatan mereka berdua antara ibu dan anak itu tidak ada.  Tukang sepatu itu hanya melihat mata anak perempuan kecil itu menatapi sepatu kecil, dan sebelah tangannya menarik-narik baju ibunya.  Mereka : ibu dan anak, tidak berkata-kata.  Kedua mereka tenggelam oleh lautan kata-kata, sehingga keduanya tidak bisa berkata lagi sebab sudah lama tenggelam.

Tapi dia itu, seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun, tampak sekali dalam matanya yang hitam bilam itu, menginginkan sepatu.  Memang, sepatu yang satu itu kecil dan bagus, dibuat oleh tangan yang mengabdikan dirinya untuk kebagusan.

Sepatu itu dibikin oleh tukang sepatu itu.  Anak itu ingin seperti anak-anak yang lain, punya sepatu.  Dan tukang sepatu itu ingin seperti orang-orang muda yang lain, punya wajah yang tidak buruk karena cacar, punya keinginan yang besar untuk kawin.

Tukang sepatu itu melihat anak kecil itu meneguk air liurnya.  Air liur itu lewat di lehernya yang kecil, masuk di usus-ususnya yang kecil.  Tukang sepatu itu tidak bisa melupakan wajah anak kecil itu, karena ia melihatnya dengan teliti.  Ia tidak akan lupa dengan mata hitam bilam itu.  Lalu tukang sepatu itu berjanji, suatu waktu ia akan memberikan sepasang sepatu untuk anak itu.

Pikirannya segera berkacau.  Tukang sepatu itu tiba-tiba ingin menjadi pencuri.  Ia ingin menjadi pencuri dari sepatu yang dibuatnya sendiri.

Kini dipandangnya sepatu kecil itu.  Sepatu itu memang kecil.  Dan tangannya menjamah.  Alangkah bagus, alangkah bagus sepatu yang kubuat.  Alangkah cantik, alangkah cantik bila anak perempuan kecil itu memakai sepatu kecil ini.  Tangan tukang sepatu itu memegang sepatu itu.  Ketika matanya berpaling sekeliling, anak perempuan itu, juga ibunya, juga bayi yang sedang digendong ibunya, tidak ada lagi di balik kaca pajangan itu.

“Apa kerjamu?” bahunya ditepuk oleh majikan tokonya.

Ketika matanya bersua dengan mata majikannya, ia merasa malu.  Tapi ia diam saja, sambil menaruh kembali sepatu di pajangannya.

Sejak itu, tukang sepatu itu merasa ada seorang yang senasib dengan dia.  Tiap ia pulang dari kerja jam enam sore, ia bertemu dengan anak perempuan itu, sedang berdiri di depan toko lain, berdiri melihat sepatu-sepatu.  Tentu yang dilihatnya sepatu-sepatu kecil.

Tapi ia melihat kejadian itu bukan tahun itu saja.  Tiap tahun, menjelang lebaran, ia melihat anak itu sering-sering berdiri-diri di depan toko-toko sepatu.  Tukang sepatu itu makin kenal baik-baik dengan wajah anak perempuan itu, terutama pada bentuk mata-nya yang hitam bilam itu.

Kota kami adalah kota yang subur dengan angan-angan.  Ketika kota itu sepertiga tubuhnya hancur dibom oleh Belanda, penduduknya berangan-angan akan membangunnya kembali menjadi sebuah kota yang baik.  Walikota kami adalah walikota yang dicintai rakyatnya, karena ia telah merubah kota itu sedemikian rupa, sehingga dalam tempo lima belas tahun kota itu seakan-akan bertukar rupa.  Cuma sebuah tugu kemerdekaan yang tidak ditukar oleh arsitek-arsitek itu.

Tukang sepatu itu masih menjadi tukang sepatu.  Tapi ia bukan saja menjadi tukang sepatunya, juga pemilik toko sepatu.  Ia menyuruh anak buahnya, tukang-tukang sepatu yang lain, membikin sepatu-sepatu yang terbaik.  Anak-anak buahnya, membikin sepatu-sepatu terbaik, sebab pemilik toko mereka telah membikin contoh, bagaimana membuat sepatu yang sebaik-baiknya.

Kalau sore hari, toko-toko itu terang oleh lampu-lampu neon.  Banyak orang berbelanja dan banyak juga yang tidak berbelanja.

Bagi tukang sepatu yang mukanya capuk-capuk cacar itu, tidak menjadi soal apakah orang berbelanja atau tidak berbelanja.

Memang, kebanyakan pemilik-pemilik toko agak kurang senang hati terhadap orang-orang yang keluar-masuk toko dengan tidak ada kepentingan berbelanja kecuali melihat-lihat saja.

Pemilik toko itu, yang masih juga bekerja sebagai buruh dirinya sendiri, sebenarnya belum berapa tua, biarpun ia merasa dirinya sudah tua.  Orang yang belum kawin pada umumnya suka mengira dirinya semakin tua dari umurnya yang sebenarnya.  Mereka seakan-akan bermusuh dengan waktu.

Ia melihat gadis-gadis yang masuk.  Ada banyak gadis-gadis yang masuk, dan ia mendengar dan melihat bagaimana cara kebanyakan gadis-gadis itu memilih.  Gadis-gadis umumnya suka memilih dan meniru.  Ia ingin memiliki yang pernah dimiliki orang lain, kalau tidak persis benar, bahkan kepingin melebihi.  Gadis-gadis suka bertanding memang.

“Berapa harga sepatu itu?” tanya seorang gadis.

“Dua ratus lima puluh”, jawab tukang sepatu pemilik toko itu.

“Oh”, kata gadis itu.  Sebenarnya ia akan mengucapkan kata-kata, “Oh mahal sekali, tidak terbeli olehku”.

Ucapan “oh” itu menarik perhatian gadis-gadis di sebelahnya, sehingga mata gadis-gadis itu sama menunduk, melihat ke kaki gadis-gadis itu.  Mulanya maksud mereka memang tidak melihat ke arah sepatu gadis yang dilihatnya, mereka sebenarnya mau melihat betis gadis itu.  Jadi, tidak benarlah juga anggapan umum, hanya anak-anak bujanglah yang suka memperhatikan betis gadis.

Gadis-gadis juga menyukainya, untuk ditandingi dengan betisnya sendiri.

Pemilik toko sepatu itu kini terbawa.  Ia melihat ke kaki gadis itu.  Tidak ada sepatu melekat di kakinya.  Pemilik toko itu mengangkat kepalanya.  Ia melihat wajahnya.  Ia melihat matanya.  Mata itu seakan-akan kekal dalam ingatannya.  Waktu lima belas tahun seakan-akan tidak menjadi soal buatnya untuk mengenang.

Anak itu masih tidak bersepatu.

Anak itu telah menjadi seorang gadis berusia dua puluh tahun.

Ketika gadis itu cepat-cepat ke luar dari toko, pemilik toko mengikutinya.  Ia mengikuti terus seperti orang tidak waras, sampai ke rumahnya.  Di rumah itu ia bertemu dengan ibunya.

Adiknya yang dulu digendong kini sudah besar.

Lalu ia melamar anak gadis itu kepada ibunya.  Ibunya mentertawakan, sebab anak gadisnya separuh dari usianya.  Lalu ia merasa sedih.  Sedih sekali dan kembali ke tokonya.

Ia telah berada di toko.

Memang ia berada di toko sejak tadi.  Ia tidak pergi.  Angan-angannyalah yang pergi mengikuti gadis itu, dan angan-angannyalah yang menemui ibunya dan angan-angannyalah yang menolak dirinya sendiri dengan lamarannya.

Tapi, demi malunya yang besar terhadap dirinya sendiri itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk benar-benar melaksanakan angan-angannya itu.  Di saat main yang paling hebat, terutama malu pada diri sendiri, seorang manusia menjadi sangat berani.

Tukang sepatu itu, yang kini telah memiliki toko sepatu itu, suatu ketika didatangi keberanian yang hebat, dan dia pergi ke rumah perawan itu dan benar-benar melamarnya pada ibu anak perawan itu.

“Saya telah mengenal anak ibu selama lima belas tahun”, katanya untuk pertama kali.

Ada dua jam ia di rumah itu.  Dan pada saat akan pulang, ia berkata, “Terima kasih Bu.  Besok saya datang lagi”.

Dan ketika ia berdiri di pekarangan, ia berkata lagi dengan sangat terharu sebab gembira, “Terima kasih, Bu”.

Pada waktu itu ia tidak pernah berpikir, bahwa ia telah berusia empat puluh tahun.  Yang dipikirnya ketika itu ialah, akhirnya ia suatu waktu bisa juga menjadi seorang suami.

Di simpang jalan, ia hampir saja ditabrak mobil.

“Terima kasih!” katanya pada sopir yang tidak jadi menabraknya itu.

TAMAT

.

YANG MENANG DAN YANG GAGAL

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-BINA, Edisi 15/09, 10 April 2009 M / 14 Rabiul Akhir 1430 H

.

“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.  (QS. Asy Syams [91] : 7 – 10)

Sumpah Allah dengan jiwa (nafs) pada ayat ini merupakan kelanjutan dari sumpah Allah dengan makhluk-makhluk-Nya yang agung; matahari, bulan, waktu siang dan malam, serta langit dan bumi.  Betapa tinggi dan besar nilai jiwa, karenanya Allah menutup sumpah-Nya dalam surah ini dengan jiwa dan disejajarkannya dengan jajaran ciptaan-Nya yang agung.  Sungguh, Allah hanya bersumpah dengan sesuatu yang harus diperhatikan oleh hamba-hamba-Nya, termasuk tentang pensucian jiwa ini yang seringkali dilalaikan oleh manusia.

Dalam penciptaannya, jiwa juga berbeda dengan ciptaan Allah yang lain.  Ketika Allah Taala menciptakan jiwa manusia, Dia menciptakan bersamaannya potensi untuk melakukan kebaikan atau keburukan, dan menjadikan manusia mampu menggunakan anggota tubuhnya untuk memilih jalan yang dikehendaki.  Kebebasan memilih ini memiliki konsekuensi, mendapatkan ganjaran dan hukuman di hari perhitungan (pertanggungjawaban) kelak di hari kiamat.  “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS Asy Syams [91] : 9 – 10)

Khalid bun Ma’danm seorang tabi’in terkemuka menyatakan tentang penyempurnaan jiwa manusia agar meraih keberuntungan, “Tidak ada seorang hamba kecuali ia mempunyai empat mata.  Dua mata di wajahnya untuk melihat perkara dunia, dan dua mata di hatinya untuk melihat perkara akhirat.  Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, dia akan membukakan kedua matanya di hatinya, sehingga pemilik mampu memandang perkara akhirat, dan jika Allah menghendaki terhadap seorang hamba selain itu, ia meninggalkannya sebagaimana adanya.  Kemudian Hamid bin Ma’dan membaca ayat, “Am ‘a quluubih agfaaluha”.

Syekh Amru Khalid, dalam bukunya “Ar-Ruuh wa Al-Maadah”, menangkap sebuah fragmen yang sering terjadi di sekitar kita.  Diceritakan dua orang pengusaha keluar dari sebuah swalayan besar.  Di depan pintu keluar. seorang ibu tua papa meminta belas kasihan mereka.  Seorang dari pengusaha memberikan beberapa lembar uang.  Sedang seorang lagi berjalan terus, tidak peduli terhadap permintaan wanita papa itu.

Perbedaan sikap itu menurut Syekh Amru Khalid adalah disebabkan bedanya “makanan” yang dikonsumsi kedua pengusaha itu.  Pengusaha pertama termasuk orang yang memperhatikan bukan saja makanan untuk jasadnya, tapi juga makanan untuk ruh dan jiwanya.  Sedangkan yang kedua hanya mengkonsumsi makanan untuk jasadnya.

Hal ini karena manusia diciptakan dari dua komponen, yakni dari jasad dan ruh.  Jasad tampak jelas di luar manusia, sedangkan ruh mengisi di dalam jasad.  Keduanya saling terkait.  Dan keduanya mempunyai asal mula dan jenis kebutuhan masing-masing.

Jasad berasal dari tanah dan kebutuhannya adalah makan, minum, pakaian, dan hubungan lain jenis.  Sedangkan ruh bersumber dari Allah yang ditiupkan kepada Adam as.  Seperti disebutkan dalam firman-Nya, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud (kepada Adam as.)” (QS. Al-Hijr [15] : 29)

Dan kebutuhan jiwa adalah setiap yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Taala, tilawah Al Qur’an, shalat dengan khusyu’, banyak berpuasa, membantu sesama, dan lain sebagainya.  Sayangnya banyak orang yang memahami diri mereka berkomponen jasad saja, sehingga yang mereka perhatikan hanya untuk kebutuhannya, dari makanan, pakaian, atau kecantikan.  Setiap saat mereka memikirkan bagaimana keperluan untuk jasad mereka.  Mereka bisa sedih, menderita, dan takut jika jasadnya sakit atau rusak.

Namun, mereka tidak memperhatikan kebutuhan komponen lain dari penopang jasadnya, bagi ruhnya.  Padahal antara keduanya saling terkait.  Juga ruh berinteraksi dan ‘tumbuh’ layaknya jasad bagi manusia.  Ia membutuhkan makanan dan perhatian.  Jika ruh selalu mengkonsumsi kebutuhan, makanannya, dari amalan yang baik, maka ruh menjadi sehat dan pemiliknya dapat memberikan nilai-nilai luhur bagi jasad.  Tapi, jika ia tidak mengkonsumsi makanannya, tidak diperhatikan, lambat laun hampa, sakit, dan mati.  Dan ini akan mengakibatkan pemiliknya bukan saja tidak peduli terhadap ajaran-ajaran-Nya, tapi juga terhadap sesama, seperti bersedekah, membantu, seperti pengusaha di atas.

Inilah yang kebanyakan dikonsumsi Barat dengan paham hedonis, bermegah-megah untuk kepentingan jasad tanpa ruh.  Sehingga membuat kelalaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, menghalalkan segala cara demi jasad mereka.  Benarlah kata Al Qur’an, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”. (QS. At-Takatsur [102] : 1).  Karenanya, yang tepat adalah memberikan keseimbangan pada kebutuhan jasad dan ruh kita.

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya”. (QS. Al-Ankabut [29] : 6)

“Dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml [27] : 40).

“Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya”. (QS. An-Naml [27] : 92).

“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri”. (QS. Fathir [35] : 18).

Seluruh ayat-ayat senada adalah bermakna Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan hamba-Nya dan ibadah mereka.  Mereka melakukan dengan apa yang mereka lakukan adalah untuk menolong jiwa mereka dari neraka, agar jiwa mereka lurus, dan memungkinkan hidup dengan tenang di dunia, serta untuk mengaplikasikan unsur kemanusiaannya di dunia.

Betapa sering dalam keseharian kita, disadari atau tidak, jiwa kita terkotori oleh ucapan kita, sikap dan perilaku serta tindakan kita.  Semuanya memberikan pengaruh terhadap kesucian jiwa yang Allah ciptakan hanya untuk manusia.  Maka untuk mengobati jiwa yang sakit, dan untuk meraih kemenangan kemenangan dan menghindar dari kegagalan, Allah telah menawarkan petunjuk-Nya dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1 – 10.  Rasulullah saw. bersabda seperti dalam riwayat Umar bin Khathab ra. bahwa baginda bersabda, “Telah ditrunkan kepadaku 10 ayat.  Barangsiapa menegakkannya, niscaya ia akan masuk surga.  Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat 1 hingga ayat 10 dari surah Al-Mu’minun”. (HR. Imam At-Tirmidzi)

Wallahu a’alam bish shawab

.

 

PULE (Alstonia macrophylla Wall. ex G. Don.)

Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Apocynales

Suku

:

Apocynaceae

Marga

:

Alstonia

Jenis

:

Alstonia macrophylla Wall. ex G. Don.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Pule.

Jawa

:

Pule.

Deskripsi

 

 

Habitus

:

Pohon, tinggi 20 – 50 m.

Batang

:

Tegak, berkayu, bulat, percabangan simpodial, putih kotor.

Daun

:

Tunggal, tersebar, lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal meruncing, pertulangan menyirip, permukaan mengkilat, panjang 20 – 25 cm, lebar 8 – 10 cm, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk malai, berkelamin dua, di ujung cabang, kelopak bentuk tabung bercangap, benang sari silindris, kepala sari bentuk ginjal, putik bentuk tabung, mahkota bentuk terompet, putih.

Buah

:

Bumbung, bentuk pita, putih  kehijauan.

Biji

:

Bulat, kecil, putih.

Akar

:

Tunggang, coklat.

 

 Gambar 40.  Alstonia macrophylla Wall. ex G. Don.

Khasiat

Kulit batang Alstonia macrophylla berkhasiat sebagai obat demam dan beri-beri.

 Obat demam : dipakai ± 25 gram kulit batang Alstonia macrophylla, dicuci, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit.  Hasil rebus dan diminum dua kali sehari sama banyak.

Kandungan Kimia

Kulit batang dan daun Alstonia macrophylla mengandung alkaloida dan saponin.

.

KOTA KAMI DAHULU

Dari Kumpulan Cerpen “Keberanian Manusia” karya Motinggo Busye

.

Kuburan adalah tempat yang paling sunyi, di mana orang-orang mati itu tidak akan bercakap-cakap lagi dengan dia seperti dahulu.  Bahkan dan sebuah kuburan di mana di bawahnya terbaring tulang-tulang seseorang yang paling banyak cakapnya semasa hidup pun tidak.

Di bawah tanah itu terpendam ayahnya yang semasa hidupnya, pada malam Minggu suka mengundang kawan-kawannya ke rumahnya untuk bermain kartu, minum bandrek, sampai pagi.  Kubur yang sebuah lagi adalah kuburan ibunya, seorang wanita pendiam yang membikinkan bandrek untuk suaminya dan tamu-tamunya, yang saat itu akan semakin pendiam, terbaring dalam bumi.

Memang enak masih punya ibu-bapak, pikirnya.  Ini hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang telah yatim piatu.  Semasa ayahnya hidup, ayahnya yang tukang gembira tapi tukang pemarah pula itu, pernah dia doakan agar lekas saja mati disambar geledeg.  Tapi tidak pernah ia mendoakan agar ibunya itu mati.  Namun ketika kedua-duanya mati, ia menangis untuk kedua-duanya, dengan kesedihan yang sama, tidak berbeda-beda.

Kedua orang tuanya mati ditembak Belanda, ini dikenangnya di kuburan itu.  Ia mengenang di kuburan itu, tamparan-tamparan ayahnya pada pipi, bahkan tinju besar ayahnya di suatu kali, bahkan ayahnya pernah mencambuknya dengan gada kecil yang sewaktu kecil dirasanya sangat besar.  Tapi ia juga mengenang suatu perkataan ayahnya.  Perkataan itu sangat sederhana, “Benci sekali aku pada orang yang lekas putus asa!”

Perkataan itu dulu tidak dipahaminya benar.  Suka dikatakan ayahnya kepada ibunya, lebih-lebih di saat-saat dekat hari kematian mereka ketika Belanda akan mendarat di kota kecil itu.  Perkataan itu, biarpun kurang dipahaminya dulu, sangat sering didengarnya, bahkan terlalu sering sehingga sekarang ia masih hafal.  Dan sekarang barulah dipahaminya, artinya yang sesungguhnya.

Ia datang ke kuburan hari itu sebenarnya dengan perasaan putus asa.  Adiknya, satu-satunya adiknya yang perempuan, saat itu sedang mengandung.  Ia datang seakan-akan untuk mengadu, mengadu kepada orang-orang mati yang tidak akan mendengar lagi bahasa sehari-hari manusia yang hidup.  Tapi ia sejak tadi telah berbisik, terutama di atas kening kuburan ibunya.  Ia memuji ibunya adalah wanita yang paling baik yang pernah dikenalnya di dunia ini.  Ia memuji ibunya adalah wanita penyabar, wanita yang paling rajin, wanita yang tidak suka pada kemewahan, wanita yang cantik tanpa berhias, dan tidak ada lagi kata-kata lain.  Ibunya adalah wanita sejati.  Semasa hidupnya ayahnya ataupun ibunya ataupun neneknya berkata, bahwa adiknya yang sedang mengandung kini itu mempunyai wajah yang serupa dengan ibunya.  Orang-orang kampung cemas selalu, bila wajah seorang anak sangat mirip dengan wajah ibunya.  Suatu pertanda buruk, bahwa ibunya akan meninggalkannya selagi muda atau si anak sendiri yang akan mati selagi kecil.  Makin naik dewasa, adiknya makin mirip dengan ibunya.

“Katakanlah, lelaki mana yang telah menghamilkan engkau.  Popong”, katanya pagi-pagi sebelum berangkat menuju kuburan.

Adiknya telah mengirim telegram supaya pulang ke kota kelahiran untuk menolongnya.  Itulah yang harus ditolongnya.  Adiknya menangis siang-malam sejak pertama kali ia masuk pintu, sejak ia dipeluk erat-erat, peluk setahun sekali, tapi pelukan tahun ini memang pelukan yang aneh, yang kemudian diketahuinya, pelukan itu adalah pelukan seorang wanita muda yang diam-diam akan menjadi ibu beberapa bulan lagi.

“Katakanlah, Popong”, katanya.  Itulah kata-kata bujukan yang diucapkannya saban hari, tapi tidak pernah menjemukan dia.  Tapi sampai pagi itu adiknya tidak mau mengatakannya.

Sayang sekali adiknya tidak mau mengatakannya sehingga ia putus asa dan ingin marah, sangat marah.  Sampai memuncak marahnya, sehingga hampir saja ditamparnya adiknya itu.  Tetapi agama telah melarang seseorang menyakiti orang lain dengan paksa, apalagi menyakiti saudara kandungnya dan perempuan pula.

Di kuburan itu ia tahu, bahwa ia juga ikut bersalah dalam hal itu.  Jarang ia menulis surat kepada adiknya yang terpisah darinya bermil-mil oleh Selat Sunda.  Apalagi memberi suatu nasihat yang baik.  Apalagi nasihat untuk seorang gadis yang sedang lupa pada harga hari remaja dan perawan.  Tidak pernah ia berkata kepada adiknya, “Jagalah dirimu dan masa gadismu”, biarpun dalam sepotong surat dan membuang uang tujuh puluh lima sen untuk perangkonya.  Itu, sebab ia tahu, adiknya seorang gadis pendiam, pemalu, suka beribadat, pintar di sekolah seperti gurunya menuliskan di ijazah, tidak pernah ke luar rumah.  Itu sebab ia kira, abangnya, si Sompi, sekali seminggu akan datang menjenguk atau mengawasinya.  Dan ia pun tahu, surat-surat berisi nasihat biasanya membosankan untuk orang-orang remaja.  Orang-orang remaja suka dilepas bebas seperti seekor kuda penuh gairah.  Itu sebab ia mengira, di rumahnya ada neneknya yang sayang pada cucu, dan ada seorang lagi adiknya lelaki yang pintar berkelahi.

Kepercayaannya kepada Popong sudah tidak ada lagi.  Kepercayaannya kepada abangnya dan adik lelakinya.  Tapi juga kepercayaan kepada lelaki-lelaki kota itu yang
dulu dikiranya salih semua. 
Sejak pertama ia ke luar rumah, belum pernah ia menegur seseorang, juga mengangguk pun tidak, tidak seperti dulu-dulu yang selalu dilakukannya.  Tapi orang-orang juga tidak menegurnya.  Mulanya ia mengira, karena kini setelah memakai kaca mata, tentu orang-orang itu telah lupa.  Kota ini telah jauh berbeda dengan dulu, pikirnya.  Tapi, ia keluar dari gerbang kuburan dengan tidak membawa suatu bekal apa, bahkan tidak sempat berdoa, ia makin merasakan suatu sebab lain.  Orang-orang itu tidak mau menegur mungkin benci pada keluarganya, sebab apa yang telah dilakukan adiknya itu bagi mereka adalah suatu nista yang memalukan sekali.

Kampung kelahirannya adalah kampung yang paling suci menurut penduduknya.  Tidak ada dari kampung itu seorang maling, seorang pemabuk ataupun seorang tukang judi.  Ketika Belanda masuk tidak ada kedengaran seorang pun yang jadi mata-mata Belanda yang berasal dari kampung itu.

Dan kini adiknya mengandung diam-diam.  Orang-orang itu jika tahu mungkin akan amat marah atau mengusir seisi rumah itu dari sana, termasuk neneknya yang paling mereka hormati sebagai perempuan satu-satunya yang tertua dan tersalih!  Ia merasa ngeri melihat ke kiri dan ke kanan.  Sambil berjalan ia tahu, di kanan ada toko Cina yang ramah dan telah masuk Islam, ia tahu di kirinya ada sebuah kali yang bernama Kali Wuni yang dalam musim buah-buahan, buah-buah wuni yang merah tua itu berguguran dan hanyut di kali.  Ia tahu di kanan lagi itu ada sebuah mesjid yang ramai kalau malam-malam bulan puasa.  Ia tahu, di depannya kini itu adaiah rumah kepala kampung, rumah Wak Bek yang sangat pemarah.  Ia tahu di kanan jalan berbelok adalah tanah lapang kecil tempat ia main sepakbola dengan Umar dan Pospos.  Umar pencetak gol yang paling pintar, dikaguminya, juga paling pintar bercerita, paling pintar berhitung OTT, dikaguminya sebab pintar menggambar.  Saban hari Minggu dulu ia bersama-sama Umar pergi mancing ke Panjang, pelabuhan kota itu.  Kalau orang-orang menegur Umar di jalan, yaitu orang-orang yang pernah mereka kalahkan dalam pertandingan sepakbola, ia merasa orang-orang itu juga menegur dia.

Orang-orang itu tentu bertanya, siapa yang seorang lagi?  Dan dijawab tentu, kawannya Umar, pemain bola juga.  Ia tak tahu di mana Umar sekarang.  Tapi ia tahu ia telah sampai kini dekat kebon petai cina tempat ia menggembalakan kambingnya dulu.  Di belakang itu ada runtuhan gereja yang di bom Belanda.  Waktu kecil ia bersekolah di sebelah gereja itu, Sekolah Xaverius.

Kini ia tahu, rumah-rumah di hadapan itu adalah rumah tetangga-tetangga.  Malu ia menengok ke kiri dan ke kanan, takut kalau ditanyakan soal-soal kehamilan adiknya, takut akan dimaki atau disumpahi.  Seakan-akan ia akan menutup mukanya dengan sapu tangan.

Kini ia memasuki sebuah pekarangan berpagar batu.  Itulah rumahnya.  Di dalam rumah itu, di atas ranjang, adiknya pasti sedang menangis dengan mata yang sembab.  Di rumah itu pasti neneknya sedang menghitung tasbih sambil menunggu kematian di menara hari tuanya.  Di rumah itu pasti adiknya yang lelaki tidak ada.

Semua yang ia duga memang sedang terjadi.  Neneknya yang tuli dengan kaki melunjur berdiang di dapur dengan tasbih digerak-gerakkan dan berbisik-bisik.  Neneknya yang tahun ini sudah pikun dan tak mengenal cucunya lagi sekarang.  Bila ia masuk ke kamar didapatinya adiknya sedang bangun dari tidurnya dengan mata sembab.

“Aku baru dari kuburan pa dan ma”, katanya sambil bersalin pakaian.  Lalu dia pandang wajah adiknya.  Dalam wajah itu menyelinap wajah ibunya, persis benar seperti ibunya kalau barusan menangis.

“Muka ma seperti engkau ,“ katanya, tiba-tiba adiknya lantas meloncat dan memeluk erat-erat,

“Kau telah mengatakan ini pada Bang Sompi”, tiba-tiba Popong menuduh,

“Belum”, katanya menjawab.

“Ya!  Pasti Abang telah mengatakan ini pada Bang Sompi”.

Lalu sambil menangis Popong menyumpah-nyumpahi Bang Sompi yang sejak kawin setahun yang lalu tidak pernah datang lagi, asyik dengan bini dan tidak mengirimkan uang dan bahkan tidak membuat surat, padahal cuma lima puluh kilometer saja dan naik oto bis cuma membayar lima ringgit.

“Aku tidak mengatakannya”, katanya kepada adiknya, berusaha meyakinkan.

“Percayalah”, katanya lagi.

Lalu Popong membanding-bandingkan dirinya dengan Abang Sompi.  Dia membandingkan, bahwa Sompi sekarang naik pangkat tapi pengiriman uang makin dikurangi, sedangkan orang yang sedang dipeluknya tiap bulan mesti bertambah kalau mengirimkan uang.  Adiknya lalu berkata, “Abang Sompi sudah setahun tidak membantu keuangan kami lagi, sedangkan adik kita si Markus telah pacar-pacaran dengan gadis sekarang”, dan menangislah ia.

“Bagaimana penghasilan modistemu?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak maju.  Hampir semua gadis-gadis membikin rumah mode”, jawabnya.

“Sudahlah, berhentilah menangis.  Jangan putus asa tentang itu lagi.  Kalau kau mau saja mengatakan, siapa lelaki itu, abang akan mengurusnya”, katanya pelan-pelan membujuk.

“Katakanlah”.

Pelan-pelan mata adiknya memandangnya.  Tiba-tiba mata itu ditutup, berkata, “Tidak”.

“Sekarang katakan saja, kenapa Popong berbuat itu?” tanyanya.

“Sebab nenek sakit asal-mulanya”.

“Kenapa?”

“Waktu itu nenek sakit-sakit.  Kutulis surat pada Abang, tidak dibalas.  Waktu itu Popong ada kawan lelaki.  Dia baik sekali.  Dia pertama memberi uang seribu rupiah.  Untuk nenek, untuk obat nenek.  Tapi kemudian ternyata, seakan-akan uang yang diberinya itu ditagihnya dengan suatu permintaan.  Dia memeras!”

“Dia memeras”, ulangnya.

“Siapa dia”.

“Umar”.

“Umar?” dan ia terkejut, berulangkali nama itu disebutnya dalam hati.

“Ya, Umar kawan Abang dulu”.  Kini, kepercayaannya semakin punah terhadap kota itu, orang-orangnya, kesalihannya, kawan-kawannya!  Dendamnya timbul.

“Rumahnya masih rumah yang dulu?”

“Bukan.  Dia sudah punya toko dan tidak dengan bapaknya lagi.  Rumahnya dekat Sekolah Rakyat Abang dulu.  Ada sebuah rumah gedung, itulah rumahnya”.

Dia lantas ingat, yang dimaksud dengan sekolahnya bukanlah Sekolah Xaverius, tapi Sekolah Rakyat pemerintah setelah pindah.

Di sekolah itu dulu ia dididik oleh guru-gurunya agar berbuat baik, agar menjadi orang yang bertanggung jawab.  Umar juga dididik di situ, bahkan sebangku dengan dia.  Dia kagum pada kepandaian Umar berhitung OTT.  Sedang ia pernah mencontoh.  Dan ketika ia dikeroyok oleh orang-orang. Umar telah menolongnya.

Kota kami ini dulu kota yang paling indah dalam angan-anganku, pikirnya.  Kini ia membunuh angan-angan itu seperti membunuh seekor lalat yang telah dipeliharanya selama lebih dua puluh tahun.

“Jangan pula berkelahi dengan dia!” tiba-tiba Popong berteriak.

“Tidak”, jawabnya pelan-pelan, tapi hatinya sudah terkelucak.

Dia menunggu hari sore dengan gelisah dan sore itulah ia datang ke rumah Umar.  Umar hampir lupa padanya.  Tapi ia berbuat seakan-akan Umar tetap kawan karibnya dan bukan musuhnya dan ia datang seakan-akan seperti sahabat lama dengan kepercayaan dan kekaguman lama.

Angin laut kini mengendap-endap menyuruk ke hatinya ketika mereka berjalan berdua di pinggir laut, seakan-akan dua sahabat lama.  Dulu, di pinggir laut itu mereka mencari keong dan mendirikan rumah-rumahan dari keong-keong yang mereka susun, yang seminggu kemudian mereka dapatkan telah punah dihempaskan ombak.  Tapi mereka dirikan lagi rumah-rumahan keong itu, seakan-akan mereka tidak peduli apakah seminggu yang akan datang rumah-rumahan mereka akan diruntuhkan.  Dia mengingatkan kepada Umar kisah lama itu, seakan-akan mau membujuknya.  Lalu ia memuji Umar yang berani, bahkan berani menolongnya.

“Sekarang, setelah kita besar, aku masih mau minta tolong sebuah lagi”, katanya pelan-pelan dan menggigil.

“Uang?” tanya Umar.

“Aku tahu nenekmu sakit.  Apakah beliau sudah sembuh?”

“Biarpun diobati, nenek sudah tak perlu hidup lagi”.

“Kenapa?” tanya Umar.

“Beliau sudah pikun.  Tidak akan banyak merugikan kita yang hidup.  Beliau mengharap mati, sebab sudah waktunya harus mati”, katanya.

“Kenapa kau sampai berpikir begitu?” tanya Umar.

Mendengar pertanyaan itu geramnya timbul.  Ia seakan-akan sudah yakin, Umar yang sekarang bukanlah Umar yang dulu.  Umar yang dilihatnya adalah tubuh yang sekeping berisi kepalsuan-kepalsuan.  Inilah gambaran kota dan dunia kini, pikirnya.

Kepercayaannya semakin berkurang mendengar pertanyaan yang sama sekali kini tak dipercayanya lagi.  Digenggamnya tinjunya erat-erat seperti ia menggenggam kota dengan peradabannya itu.

“Aku memikir yang lebih baik.  Bukan aku tak cinta pada nenek.  Tapi aku jauh lebih cinta pada bayi yang sedang dikandung.  Dialah yang memegang hari depan peradaban dan peri kemanusiaan ini”, katanya.

Tiba-tiba dalam kepalanya terbayang buku-buku yang pernah dibacanya.  Sebuah pocket book Amerika pernah menceritakan seorang ibu dengan gampang menggugurkan bayinya dengan sebentar pergi ke seorang dokter.  Ia merasa seakan-akan dunia ini sudah sempit tidak perlu kelahiran baru dengan harapan-harapan baru dan kemanusiaan baru.  Seakan-akan dunia ini tidak punya hari depan lagi.  Buku ini sangat menjijikannya.  Tapi seorang sahabat lamanya yang sudah menghilangkan kepercayaannya.  Ia jijik melihat Umar.

“Bagaimana dengan adikku, Umar?” tanyanya tiba-tiba.

Tangannya kini digenggamnya makin erat ketika matanya berkilat-kilat memandang mata Umar yang merunduk, seakan-akan padi-padi yang tidak bernas tapi merunduk.  Hatinya tiba-tiba terkelocak lagi.  Laut dan angin seakan-akan sudah tidak berharga lagi.  Tanah-tanah, semua yang ada dan dapat ditangkap matanya dan kenangan tentang kota dahulu yang manis itu sudah punahlah!  Perahu-perahu dan pohon kelapa dan rumah-rumah dengan gereja dan mesjid dan langit dan bintang dan awan dan manusia-manusia yang duduk-duduk jongkok di sana yang mungkin masih mengimpikan bahagia, sudah punah oleh satu sentuhan saja.  Mereka lebur jadi satu dalam kepalanya.

“Bagaimana Umar!  Bagaimana tanggung jawabmu terhadap hari depan perbuatanmu sendiri?”

“Itulah yang aku pikirkan!”

“Apa?” tanyanya jengkel.

“Bayi yang dikandung Popong, adikmu.  Aku tak bisa tidur siang-malam”, katanya pelan.

Ia malu untuk meminta pada Umar supaya mengulangi perkataannya, sebab ia kini tak percaya lagi pada telinganya sendiri.  Tapi ia merasa memang mendengar suara itu.  Tiba-tiba ia membentak,

“Bagaimana?  Kau mau mengawininya apa tidak!”

Dipasangnya telinganya baik-baik sebab ia perlu mendengar jawabannya.

“Aku mau mengawininya, Ating.  Cuma, berilah kami jalan keluar untuk itu.  Bagaimana kami harus kawin, ya, ya, biarpun orang-orang belum tahu, selain kau, aku dan Popong?  Tapi percayalah, aku mau mengawininya”.

Pelan-pelan ia merasakan kembali kata-kata sahabat lamanya itu.  Pelan-pelan jari-jari yang tergenggam itu mekar menjadi sepuluh.  Dilihatnya jari-jarinya yang mekar itu, seakan-akan ia membaca pada tiap-tiap jari sebuah perintah Tuhan!  Pelan-pelan matanya dapat menangkap cahaya lampu perahu yang berkelip, tercelup dalam teluk kotanya, sedikit demi sedikit ia bisa membedakan langit dan laut dan awan dan gereja dan menara mesjid dan rumah-rumah, rumah-rumah yang tetap miskin dan kotor, tapi sempat juga saat-saat itu penghuninya menyanyikan lagu.

Ia mendengar dengan telinganya lagu itu.  Ia benar-benar telah mendengar dengan telinganya sendiri.  Kaca matanya dipasangnya.  Ia melihat makin terang, orang-orang berbondong-bondong dengan kain sarung di leher mengurangi udara laut dingin.  Di pojok sana adalah Pasar ikan tempat ia saban sore dulu berbelanja disuruh ibunya.  Sebelah ujung toko Cina ada tempat binatu bapaknya dulu.  Pohon-pohonan menutupi sebagian pucuk-pucuk rumah, tapi ia tahu benar, pada pucuk gedung bank itu adalah kampungnya, sekilometer dari pantai.  Di sana ia dilahirkan.  di Kupang kota, sebagai bayi yang tidak tahu dan tidak mau tahu apa-apa.  Tapi sekarang ia tahu bahwa di situlah Kupang kota,  sedikit di sana itu rumahnya, rumah batu berpagar batu.  Dan ia juga tahu, adiknya sekarang sedang menangis.  Ia juga tahu, yang ditangiskannya adalah makhluk yang sedang dikandungnya diam-diam ketika remaja.  Ia sekarang bukan saja tahu melihat dengan apa yang bisa ditangkap matanya, tapi juga hal-hal yang di luar jangkauan matanya.

Ketika mereka berdua berjalan kaki di antara sebanyak itu manusia dan sebanyak itu kendaraan di antara sebanyak itu lampu-lampu dan sebanyak itu jalan raya dan sebanyak itu rumah-rumah, ia menghisap udara kota itu kembali sebanyak-banyaknya pula dengan nyaman.  Mereka telah sampai di dekat teng bensin yang biasanya kalau jam satu mereka pulang sekolah dulu mesti ada tukang sulap orang India dengan ular-ular sepuluh macam.  Di situ dulu mereka berpisah kalau pulang sekolah.

Kini mereka sampai di situ.  Ia melihat Umar.  Kemudian berkata agak gemetar, “Maukah besok kau datang ke rumahku?”

“Mau”, jawab Umar.

Saat itu dihisapnya lagi dengan hidungnya bau nafas udara kota itu dan merasa seakan-akan nafas kota itu bernafas kembali di paru-parunya.  Ia berkata dalam hati, bau kota kami ini masih nyaman.  Ia bahkan menambahkan dalam hati, kami masih menyukai engkau.

TAMAT

.

AGAR AMAL TIDAK SIA-SIA

 Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/17 September 1431 H / 2010 M

 

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, juga taatlah kalian kepada Rasul-Nya, dan janganlah kalian mensia-siakan (pahala) amal kalian(QS Muhammad [47] : 33) 

Memang Ramadhan dalam konteks waktu dan salah satu dari bulan Allah telah berlalu meninggalkan kita.  Namun semangat dan nilai Ramadhan sepatutnya tetap hadir menyertai keseharian kita.  Ramadhan bukan “satu-satunya” bulan untuk beramal dan bertaqarub kepada Allah.  Ramadha hanya memontum untuk meningkatkan dan memaksimalkan kebaikan kita sebagai bekal menghadapi sebelas bulan berikutnya.  Untuk itu, Ramadhan akan senantiasa hadir menyambangi kita pada setiap tahunnya.  Alangkah rugi dan pelitnya seseorang yang hanya mau bersemangat beribadah dan beramal shalih hanya di bulan tertentu.  Demikian juga tidaklah baik seseorang yang hanya mampu beribadah dengan baik dan maksimal di tempat tertentu yang mengandung nilai pahala lebih, seperti di Mekkah misalnya ketika menunaikan ibadah umrah atau haji, namun setelah pulang ke tanah air, kelesuan beribadah kembali terjadi dimana-mana.

Ayat ini oleh sebagian mufassir dijadikan dasar akan hilangnya pahala kebaikan yang berhasil dilakukan oleh seseorang jika setelah kebaikan itu ia kembali terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan, atau jika ia tidak mampu mempertahankan kebaikan tersebut di waktu berikutnya.  Ayat ini juga secara korelatif memiliki hubungan dan keterkaitan yang erat dengan ayat sebelumnya : “Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.  Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad [47] : 32)

Konteks kedua ayat tersebut intinya berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal kebaikan.  Perbedaannya, pada ayat 32 ini ancaman Allah ditujukan kepada mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan memusuhi Rasulullah saw., sehingga pada ayat 33, Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak menyia-nyiakan amal ketaatan mereka dengan apapun bentuknya seperti yang diancamkan oleh Allah kepada golongan yang ingkar sebelum mereka.  Di sini bentuk kasih sayang Allah terhadap kekasih-Nya dari orang-orang beriman sangat kentara agar mereka tetap taat kepada-Nya kapanpun dan dimanapun, tanpa ada batasan waktu dan tempat, apalagi alasan sempat dan tidak sempat.

Ayat ketiga yang berbicara tentang perilaku yang dapat menyia-nyiakan amal baik seseorang adalah Surah Al Hujurat [49] : 2 yang bermaksud :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”. (QS. Al hujurat [49] : 2)

Adab kepada Rasulullah saw. dalam berbicara yang disebutkan oleh ayat ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. yang ditujukan secara langsung juga kepada orang yang beriman, karena pada hakikatnya taat kepada Rasulullah adalah taat kepada Allah, “Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.  Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmua untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS. An Nisa’ [4] : 80)

Terdapat banyak pendapat para ulama tentang sikap dan perilaku yang mengakibatkan terhapusnya amal baik seseorang.  Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi misalnya menyebutkan bahwa menyia-nyiakan amal adalah dengan melakukan kaba’ir (dosa-dosa besar).

Imam Qatadah berpendapat bahwa amal kebaikan akan sia-sia apabila setelah itu diiringi dengan kembali melakukan dosa dan kemaksiatan.  Sedang Ibnu Abbas berpandangan bahwa amal kebaikan itu dikhawatirkan akan hapus pahalanya jika disertai dengan riya’ dan ‘ujub (berbangga diri).

Oleh karena itu, seorang muslim “yang cerdas” adalah seorang yang meneruskan musim ketaatan pasca Ramadhan.  Demikian pula, sejatinya orang yang telah mengukir prestasi dengan beramal dan menjalankan ketaatan yang maksimal di bulan Ramadhan, sangat disayangkan jika setelah melewatinya kembali masuk dalam kelompok pelaku maksiat.  Sebagaimana orang-orang yang sudah berhasil merasakan lezatnya ketaatan, indahnya ibadah, sangat disayangkan jika harus kalah dan kembali pada kesengsaraan karena berlumuran dosa dan kemaksiatan.  Padahal di antara tanda diterimanya suatu amal ibadah seseorang adalah jika dia dapat konsisten dan lebih banyak lagi melakukan amal tanpa melihat waktu atau bulan tertentu dan tempat tertentu yang memiliki keutamaan.  Dan itulah makna hakiki dari firman Allah SWT. :

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”. (QS. Al Hijr [15] : 99)

Wallah a’lam bi ash shawab

 .

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.