LAJA GOWAH (Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.)

Botani


Sinonim

:

Alpinia malaccensis Rosc.;

Catimbium malaccensis L.;

Galanga malaccensis Rumph.

Klasifikasi



Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Zingiberales

Suku

:

Zingiberaceae

Marga

:

Alpinia

Jenis

:

Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.

Nama


Umum/Dagang

:

Laja gowah.

Sumatera

:

Bunglai laki-laki, Bolang, Kepolang, Langkuwas Malaka (Melayu); Saya (Aceh); Seruleu (Gayo); Tugala (Nias); Siga (Palembang); Sesuk, Susuk (Lampung).

Jawa

:

Laja gowah, Raja gowah (Sunda); Kamijara (Jawa).

Maluku

:

Laawase wakan, Laawase (Seram); Lawasa malaka (Ambon); Madamonge (Halmahera); Lawasa malaka, Makui malaka, Madamonge, Duhu (Maluku).

Deskripsi


Habitus

:

Herba tahunan, berdiri tegak, tinggi 1 – 4 meter, tumbuh dalam rumpun yang rapat.

Batang

:

Batangnya merupakan batang semu dan merupakan kumpulan pelepah daun yang menyatu, berwarna hijau muda.  Seluruh bagian tumbuhan ini berbau harum.

Daun

:

Daunnya merupakan daun tunggal berwarna hijau, duduk berseling.  Berbentuk lanset, panjang 40 – 80 cm dan lebar 9 – 12 cm.  Tepi daun rata, pangkal tumpul, dan ujung runcing, pertulangan menyirip.  Permukaan daun bagian atas licin, tetapi permukaan bawahnya berbulu.  Tangkai daun pendek, berpelepah panjang, beralur, berwarna hijau muda.

Bunga

:

Bunga majemuk berwarna putih, tersusun dalam tandan yang muncul dari ujung batang.  Kelopak 3 buah, berlekuk, berwarna putih.  Mahkota berbentuk tabung putih. Ketika mekar tampak bagian ujungnya berwarna merah atau merah jingga.  Brakteola besar, 2 buah, berwarna putih, berbentuk bulat telur dengan ujung runcing, menutup kuncup bunga.  Mahkota 3 buah, bercanga, berwarna putih dengan ujung merah atau merah jingga, panjang sekitar 2½ cm dan lebar lebih kurang 1½ cm.  Labelum (bibir) bunga bagian tepi berwarna kuning, sedangkan  bagian tengah merah jingga dengan bintik-bintik kuning.  Benang sari hanya satu, tegak.  Kepala sari berdiameter 2 – 3 cm, berwarna putih.  Kepala putik berwarna hijau, dengan tangkai putik sepanjang 2 – 3 cm.

Buah

:

Buah buni, bulat, keras, dan berbulu.  Sewaktu masih muda berwarna hijau, setelah tua berubah menjadi jingga.  Bijinya banyak, kecil, lonjong, berwarna hitam.

Biji

:

Lonjong, kecil, hitam.

Akar

:

Akar serabut berwarna coklat muda.



Gambar 37. Alpinia malaccensis (Burm. F.) Roxb.

Ekologi dan Penyebaran

Tumbuhan ini menyukai tempat teduh, selain itu juga banyak tumbuh liar di hutan jati, bambu, dan belukar. Tumbuh pada ketinggian sampai 1.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini berasal dari India, kini banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Maluku.

Bagian yang Digunakan

Bagian tanaman yang digunakan adalah rimpang dan buah.

Khasiat

Rimpangnya digunakan sebagai obat bisul dan luka. Di Ambon, rimpang digunakan untuk memelihara tenggorokan, agar suara tetap bagus. Selain itu rimpang juga sering digunakan untuk mengobati sakit perut dan untuk obat kuat.

Buahnya dapat dimakan dan digunakan sebagai bumbu masak atau dikeringkan untuk digunakan sebagai teh. Juga sering dimanfaatkan sebagai sabun dan anti emetikum (mencegah muntah). Kulit buahnya dapat digunakan untuk mewangikan rambut dan cucian.

Laja gowah untuk obat sakit perut dipakai ± 10 gram rimpang segar Alpinia malaccensis, dicuci, diparut, tambahkan air matang ½ gelas dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Daun dan rimpangnya mengandung minyak atsiri yang harum baunya. Minyak atsiri di daun berbeda dengan minyak atsiri yang terdapat dalam rimpang. Kandungan minyak atsiri dalam rimpang ± 0,25%, terdiri dari terpen, “kaneelzuur methyl ester”, dan senyawa-senyawa lain. Minyak atsiri yang berasal dari daun ± 0,16%, mengandung lebih banyak terpen dari pada yang berasal dari rimpang. Selain mengandung “kaneelzuur-methyl ester”, minyak atsiri yang berasal dari daun juga mengandung “allokaneelzuur” yang tidak terdapat dalam minyak rimpang. Rimpang dan buahnya juga mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.

.

Ditulis dalam TANAMAN OBAT. Kaitkata: . 4 Komentar »

LENGKUAS (Alpinia galanga (L.) Willd.)

Botani


Sinonim

:

Alpinia galanga Stuntz.

Alpinia galanga (L.) Swartz.

Alpinia officinarum Hance

Alpinia pyramidata Bl.

Amomum galanga (L.) Lour.

Amomum medium Lour.

Languas galanga (L.) Merr.

Languas galanga (L.) Stunz.

Maranta galanga L.

Klasifikasi



Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Zingiberales

Suku

:

Zingiberaceae

Marga

:

Alpinia

Jenis

:

Alpinia galanga (L.) Willd.

Nama



Umum/Dagang

:

Lengkuas.

Sumatera

:

Lengkueus (Gayo), Langkueueh (Aceh), Kelawas (Karo), Halawas (Simalungun), Lakuwe (Nias), Lengkuas (Melayu), Langkuweh (Minang), Lawas (Lampung).

Jawa

:

Laja (Sunda), Laos (Jawa), Laos (Madura).

Kalimantan

:

Langkuwas, Laus (Banjar).

Bali

:

Laja, Kalawasan, lahwas, Isem (Bali).

Sulawesi

:

Laja, Langkuwasa (Makasar); Aliku (Bugis); Lingkuwas (Menado); Likui, Lingkuboto (Gorontalo); Hingkuase (Sangihe).

Maluku

:

Laawasi lawasi (Ambon); Lawase,Lakwase, Kourola (Seram); Galiasa, Galiaha, Waliasa (Ternate, Halmahera); Langkwas (Roti); Langkuwas (Basemah); Laawasi, Lawasi (Alfuru); Lauwasel (Saparua); Langoase (Buru).

Asia

:

Lengkuas, Puar (Malaysia); Langkauas, Palia (Filipina); Padagoji (Burma); Kom deng, Pras (Kamboja); Kha (Laos, Thailand); Hong dou ku (Cina).

Eropa

:

Galangal, Greater galangal, Java galangal, Siamese ginger (Inggeris); Grote galanga, Galanga de I’Inde (Belanda); Galanga (Perancis); Grosser galgant (Jerman).

Deskripsi



Habitus

:

Merupakan terna berumur panjang, tinggi sekitar 1 – 2 m, bahkan dapat mencapai 3½ m.  Biasanya tumbuh dalam rumpun yang rapat.

Batang

:

Batangnya tegak, tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang bersatu membentuk batang semu, berwarna hijau agak keputih-putihan.  Batang muda keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua.

Daun

:

Daun tunggal, berwarna hijau, bertangkai pendek, tersusun berseling.  Daun di sebelah bawah dan atas biasanya lebih kecil dari pada yang di tengah. Bentuk daun lanset memanjang, ujung runcing, pangkal tumpul, dengan tepi daun rata.  Pertulangan daun menyirip.  Panjang daun sekitar 20 – 60 cm dan lebarnya 4 – 15 cm.  Pelepah daun lebih kurang 15 – 30 cm, beralur, warnanya hijau.  Pelepah daun ini saling menutup membentuk batang semu berwarna hijau.

Bunga

:

Bunga lengkuas merupakan bunga majemuk berbentuk lonceng, berbau harum, berwarna putih kehijauan atau putih kekuningan, terdapat dalam tandan bergagang panjang dan ramping, yang terletak tegak di ujung batang.  Ukuran perbungaan lebih kurang 10 – 30 cm x 5 – 7 cm.  Jumlah bunga di bagian bawah tandan lebih banyak daripada di bagian atas, sehingga tandan tampak berbentuk piramida memanjang.  Panjang bibir bunga 2½ cm, berwarna putih dengan garis miring warna merah muda pada tiap sisi.  Mahkota bunga yang masih kuncup, pada bagian ujungnya berwarna putih, sedangkan pangkalnya berwarna hijau.  Bunga agak berbau harum.

Buah

:

Buahnya buah buni, berbentuk bulat, keras.  Sewaktu masih muda berwarna hijau-kuning, setelah tua berubah menjadi hitam kecoklatan, berdiameter lebih kurang 1 cm.  Ada juga yang buahnya berwarna merah.  Bijinya kecil-kecil, berbentuk lonjong, berwarna hitam.

Rimpang

:

Rimpang besar dan tebal, berdaging, berbentuk silindris, diameter sekitar 2 – 4 cm, dan bercabang-cabang.  Bagian luar berwarna coklat agak kemerahan atau kuning kehijauan pucat, mempunyai sisik-sisik berwarna putih atau kemerahan, keras mengkilap, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih.  Daging rimpang yang sudah tua berserat kasar.  Apabila dikeringkan, rimpang berubah menjadi agak kehijauan, dan seratnya menjadi keras dan liat.  Untuk mendapatkan rimpang yang masih berserat halus, panen harus dilakukan sebelum tanaman berumur lebih kurang 3 bulan.  Rasanya tajam pedas, menggigit, dan berbau harum karena kandungan minyak atsirinya.

Sebenarnya lengkuas ada dua macam, yaitu lengkuas merah dan putih. Lengkuas putih banyak digunakan sebagai rempah atau bumbu dapur, sedangkan yang banyak digunakan sebagai obat adalah lengkuas merah. Pohon lengkuas putih umumnya lebih tinggi dari pada lengkuas merah. Pohon lengkuas putih dapat mencapai tinggi 3 m, sedangkan pohon lengkuas merah umumnya hanya sampai 1 – 1½ meter. Berdasarkan ukuran rimpangnya, lengkuas juga dibedakan menjadi dua varitas, yaitu yang berimpang besar dan kecil. Oleh karena itu, paling tidak ada tiga kultivar lengkuas yang sudah dikenal yang dibedakan berdasarkan ukuran dan warna rimpang, yaitu lengkuas merah, lengkuas putih besar, dan lengkuas putih kecil.

Lengkuas mudah diperbanyak dengan potongan rimpang yang bermata atau bertunas. Juga dapat diperbanyak dengan pemisahan anakannya atau dengan biji. Tanaman ini mudah dibudidayakan tanpa perawatan khusus.



Gambar 36. Alpinia galanga (L.) Willd.

Ekologi dan Penyebaran

Lengkuas tumbuh di tempat terbuka, yang mendapat sinar matahari penuh atau yang sedikit terlindung. Lengkuas menyukai tanah yang lembab dan gembur, tetapi tidak suka tanah yang becek. Tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati atau di dalam semak belukar.

Tumbuhan ini berasal dari Asia tropika, tetapi tidak begitu jelas dari daerah mana. Ada yang menduga berasal dari Cina, ada juga yang berpendapat berasal dari Bengali, tetapi sudah sejak lama digunakan secara luas di Cina dan Indonesia terutama di Pulau Jawa. Sekarang tersebar luas di berbagai daerah di Asia tropis, antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Cina bagian selatan, Hongkong, India, Bangladesh, dan Suriname. Di Indonesia, mula-mula banyak ditemukan tumbuh di daerah Jawa Tengah, tetapi sekarang sudah di budidayakan di berbagai daerah. Di Malaya, selain yang tumbuh liar juga banyak yang ditanam oleh penduduk di kebun atau pekarangan rumah.

Bagian yang Digunakan

Rimpang, buah, biji, daun, batang muda, dan tunas bunga.

Khasiat

Rimpangnya sering digunakan untuk mengatasi gangguan lambung, misalnya kolik dan untuk mengeluarkan angin dari perut (stomachikum), menambah nafsu makan, menetralkan keracunan makanan, menghilangkan rasa sakit (analgetikum), melancarkan buang air kecil (diuretikum), mengatasi gangguan ginjal, dan mengobati penyakit herpes. Juga digunakan untuk mengobati diare, disentri, demam, kejang karena demam, sakit tenggorokan, sariawan, batuk berdahak, radang paru-paru, pembesaran limpa, dan untuk menghilangkan bau mulut. Rimpang lengkuas yang dikunyah kemudian diborehkan ke dahi dan seluruh tubuh diyakini dapat mengobati kejang-kejang pada bayi dan anak-anak. Di samping itu rimpang lengkuas juga dianggap memiliki khasiat sebagai anti tumor atau anti kanker terutama tumor di bagian mulut dan lambung, dan kadang-kadang digunakan juga sebagai afrodisiaka (peningkat libido).

Khasiatnya yang sudah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian adalah sebagai anti jamur. Secara tradisional dari sejak zaman dahulu kala, parutan rimpang lengkuas kerap digunakan sebagai obat penyakit kulit, terutama yang disebabkan oleh jamur, seperti : panu, kurap, eksim, jerawat, koreng, bisul, dan sebagainya. Di India dan Malaysia, rebusan rimpang lengkuas atau rimpang yang dimasak bersama nasi diberikan kepada para ibu sehabis melahirkan.

Di banyak negara di Asia, rimpang lengkuas digunakan sebagai bumbu masak. Demikian pula buahnya sering digunakan sebagai bumbu masak atau rempah pengganti kapulaga.

Minyak lengkuas (Oleum galanga) sering ditambahkan sebagai aroma dalam pembuatan minuman keras dan bir. Oleum galanga juga bersifat insektisida.

Buah lengkuas dapat digunakan untuk menghilangkan rasa dingin, kembung dan sakit pada ulu hati, muntah, mual, diare, kecegukan (singuitus), dan untuk menambah nafsu makan. Juga dapat digunakan untuk menyembuhkan bisul.

Biji digunakan untuk mengatasi kolik, diare, dan muntah-muntah.  Daunnya digunakan sebagai pembersih untuk ibu sehabis melahirkan, untuk air mandi bagi penderita rematik, dan sebagai stimulansia. Tunas muda lengkuas dapat digunakan untuk mengobati infeksi ringan pada telinga. Batang yang sangat muda (umbut) dan tunas atau kuncup bunga dapat dimakan sebagai lalap atau sayur setelah direbus atau dikukus terlebih dahulu.

Penggunaan lengkuas sebagai obat, antara lain :

Panu : a) Sepotong lengkuas segar dicuci, memarkan salah satu ujungnya. Bagian yang memar dan berserabut dicelupkan ke 1 sendok makan cuka, sapukan ke bercak panu yang sudah dibersihkan. Lakukan 2 – 3 kali sehari sampai sembuh; b) Seibu jari lengkuas segar dicuci dan parut, 10 helai daun belimbing wuluh dicuci, lumatkan bersama 1 sendok teh kapur sirih dan garam, campur, oleskan ke panu 2 – 3 kali sehari sampai sembuh.

Nyeri haid : Seibu jari lengkuas segar, setelunjuk kunyit dicuci, kupas, memarkan, 1 sendok makan penuh ketumbar, 3 tanaman meniran beserta akarnya, cuci, rebus semua dengan 4 gelas air sampai airnya tinggal setengah, saring, untuk digunakan 2 hari. Minum pagi dan sore @ ½ gelas, sementara belum terminum simpan di lemari es.

Kutil : a) Sepotong lengkuas dicuci, parut, ulek bersama 2 sendok teh penuh kapur sirih, oleskan ke kutil beberapa kali sehari sampai sembuh; b) Sepotong lengkuas dicuci, parut, lumatkan bersama 1 bawang putih yang dikupas, cuci serta diberi 1 sendok teh cuka. Lalu oleskan pada kutil.

Obat kuat : a) 2 potong lengkuas segar @ sebesar ibu jari, 3 potong jahe segar seibu jari dicuci, parut, peras dengan kain. Campur airnya dengan sebutir ragi tapai yang dihaluskan dengan air dari 2 jeruk nipis, garam, ½ sendok teh merica, dan ½ gelas air, aduk. Minum secara berkala; b) Lengkuas dicuci, memarkan, rebus sampai airnya tinggal setengah dan minum secara berkala.

Menguatkan otot : Lengkuas juga dapat digunakan untuk menguatkan otot yang lama tidak digerakkan karena sakit atau rematik. Beberapa potong lengkuas segar dicuci, parut, peras dengan kain, gosokkan ke bagian tubuh yang lemah. Lengkuasnya bisa dipakai untuk menggosok.

Limfa bengkak : 2 potong lengkuas segar seukuran ibu jari, 3 potong temu lawak seukuran ibu jari, dicuci, iris, rebus bersama secangkir daun meniran dan 3 gelas air sampai airnya tinggal setengah, minum separuh pagi dan separuh sore. Ulangi sampai sembuh.

Membersihkan darah : 2 potong lengkuas sebesar ibu jari dikupas, parut, beri ½ gelas air, peras dengan kain, dan minum airnya.

Kandungan Kimia

Rimpang lengkuas mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metilsinamat 48%, sineol 20% – 30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen, a-pinen, galangin, dan lain-lain. Selain itu rimpang juga mengandung resin yang disebut galangol, kristal berwarna kuning yang disebut kaemferida dan galangin, kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, beberapa senyawa flavonoid, dan lain-lain.

Penelitian yang lebih intensif menemukan bahwa rimpang lengkuas mengandung zat-zat yang dapat menghambat enzim xanthin oksidase sehingga bersifat sebagai antitumor, yaitu trans-p-kumari diasetat, transkoniferil diasetat, asetoksi chavikol asetat, asetoksi eugenol asetat, dan 4-hidroksi benzaidehida (Noro, et al., 1988). Juga mengandung suatu senyawa diarilheptanoid yang dinamakan 1-(4-hidroksifenil)-7-fenilheptan-3,5-diol.

Buah lengkuas mengandung asetoksichavikol asetat dan asetoksieugenol asetat yang bersifat anti radang dan antitumor (Yu, et al., 1988). Juga mengandung kariofilen oksida, kariofilenol, kuersetin-3-metil eter, isoramnetin, kaemferida, galangin, galangin-3-metil eter, ramnositrin, dan 7-hidroksi-3,5-dimetoksiflavon.

Biji lengkuas mengandung senyawa-senyawa diterpen yang bersifat sitotoksik dan antifungal, yaitu galanal A, galanal B, galanolakton, 12-labdiena-15,16-dial, dan 17- epoksilabd – 12 – ena - 15,16 – dial (Morita dan ltokawa, 1988).

.

SAMBAL JENGGOT

Sumber : UMMI, No. 10/XV April 2004 M / 1425 H.

Karya : Ina Achmar

.

Besok, sepupu-sepupu Rana akan berlibur di desa.  Liburan kemarin, Rana berlibur di rumah mereka di Jakarta.  Mengunjungi Taman Mini, Ancol, Dunia Fantasi, dan lain sebagainya.  Sekarang giliran para sepupu itu yang akan menghabiskan masa liburan mereka di desa Rana, di lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Rana sudah menyiapkan semuanya serapi-rapinya.  Kamar untuk tidur sudah disiapkan, para sepupunya itu pasti akan nyaman tidur di dalamnya.  Bukan itu saja, bahkan Rana sudah menyiapkan rencana kegiatan mereka selama dua minggu.  Hari pertama, mereka istirahat saja di rumah pohon di belakang rumah.

Hari kedua mereka akan menemani Pak Karta, asisten Bapak, memanen kayu manis di kebun dekat hutan.  Pasti pengalaman baru bagi anak-anak kota itu.  Hari ketiga mereka akan memancing udang di danau kecil di seberang hutan.  Sebelumnya mereka akan main perahu dari pohon pisang.  Setelah lelah main perahu mereka akan mengangkat besek-besek yang dijadikan penangkap udang dari dalam air.  Para sepupunya pasti akan terkejut melihat betapa mudahnya menangkap udang.

Hari keempat, kelima, semua sudah terencana rapi.  Desa Rana memang tidak memiliki taman-taman hiburan seperti Jakarta, tapi di desa Rana, semua tempat boleh untuk bermain anak-anak.  Tanpa takut ditabrak, tanpa takut dimarahi petugas apa pun, dan yang pasti tanpa bayar.

Namun, ada satu hal yang masih mengganjal Rana, yaitu soal makanan.  Rana tahu, para sepupunya itu susah sekali makan.  Mereka hanya suka ayam goreng tepung, nugget, sosis, bakso, burger, dan sejenisnya.  Enak juga sih, Rana juga suka.  Tapi kalau terus-terus begitu, gizinya tentu tidak baik.  Itu yang dikatakan ibu.

Masalahnya, di desa Rana yang terpencil itu, tidak ada makanan seperti itu.  Kalau sekali-sekali mau makan ayam goreng, Ibu akan menyembelih ayam untuk dimasak di hari istimewa.  Selama ini keluarga Rana lebih banyak makan sayur yang tinggal ambil saja dari kebun.  Lauk-pauknya tempe atau tahu yang diantar penjualnya setiap pagi.  Kadang-kadang ikan di kolam samping diambil.  Begitu-begitu saja, tapi karena ibu pintar mengolahnya, semuanya terasa enak saja bagi Rana sekeluarga.  Tapi apa para sepupunya itu juga akan beranggapan sama?  Rana ragu.

“Kalau besok Farid, Faris, dan Fathya ke sini mereka makan apa, Bu?” tanya Rana malam itu.

“Ya makan seperti yang biasa kita makan”.  Jawab Ibu ringan.

“Apa mereka mau makanan kampung, Bu?  Lauk mereka di sana kan enak-enak terus”.

“Rana, makanan yang lezat dan enak itu bukannya berasal dari bahan mahal.  Tapi bahan baku makanan lezat itu, rasa lapar”.

Rana mengerutkan kening.  Ibu aneh ya?  Mana ada makanan yang bahan bakunya rasa lapar?

“Maksud ibu begini.  Kalau misalnya Rana disuruh makan makanan yang terbuat dari bahan-bahan mahal tapi saat itu Rana sedang tidak lapar.  Rasanya seperti apa?  Lalu bandingkan dengan saat Rana hanya makan dengan tempe, lalap, dan sambal, tapi saat itu Rana sedang lapar betul.  Lebih enak yang mana?”

Lebih enak yang kedua?  Pikir Rana.

“Rana masih ingat hadits yang menyuruh kita makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang?  Saat lapar makanan akan terasa lebih nikmat.  Kenikmatannya semakin berkurang seiring dengan hilangnya rasa lapar kita.  Kita lebih mensyukuri makanan kita, rezeki kita”.

Rana mengangguk-angguk.

***

Jam delapan pagi, para sepupu Rana datang ditemani Pakdhe Budi, kakak sulung Bapak.  Mereka tampak menggigil, desa Rana memang dingin.

“Kita ke dapur saja yuk?  Sarapa”.  Ajak Rana pada para sepupunya.

Tanpa menunggu ditawari lagi.  Sepupu-sepupu Rana berlarian menuju dapur.  Perjalanan yang jauh memang membuat perut mereka lapar.

“Ini ada sambal jenggot”.  Tunjuk Rana pada salah satu makanan.

“Apaan tuh?  Sambal jenggeot?  Jenggot siapa yang disambal?   Jenggot orang apa jenggot kambing?” tanya Farid.

“Fathya nggak mau ah.  Jijik.  Fathya mau ini saja”.  Fathya meraih sebuah kerupuk.

“Sambal jenggot itu cuma namanya saja.  Bukan dibuat dari jenggot beneran.  Warnanya saja yang mirip jenggota kakek-kakek.  Coba deh.  Enak kok”.  Tawar Rana.

Faris mengamati sambal di cobek yang tampak menggoda selera itu.  Dicoleknya sedikit, dibawanya ke mulut.

“Wah enak. Rasanya nggak kayak jenggot kok.  Enak bener”.  Faris menyendok sambal ke piringnya.

“Ih…, memangnya mas Faris pernah makan jenggot beneran?”  Fathya protes.  Semuanya tertawa mendengar percakapan itu.

Dengan sepotong tempe dan lalap sayuran Faris memakan sambal itu dengan penuh kenikmatan. Melihat itu, Farid ikut mencolek.

“Eh iya, enak.  Dari kelapa ya, Ran?”

“Iya.  Kelapa dikupas, trus dibakar di atas bara api, diparut, trus diaduk dengan sambal.  Karena sebagian terbakar makanya warnanya seperti uban”

Fathya mencolek sambal, lalu…

“Wow…!  Enak betul”.  Serunya riang.  Mereka pun makan dengan lahapnya.

Diam-diam Rana melirik ke arah Ibunya.  Ibu mengacungkan jempol ke arahnya.  Dengan cepat Rana membalas dengan dua jempol.  Ternyata benar, tidak perlu mahal untuk merasakan betapa nikmatnya makanan.  (Ina Achmar).

.

ORANG PUASA SELALU MEMBUAT SEJARAH

Sumber : Buletin Jum’at AL – BINA, 12 Ramadhan 1429 H

.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kami berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertakwa“  (QS. Al Baqarah : 183)

Puasa mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah makhluk sejarah yang berparan aktif dalam pembentukan sejarah kehidupan manusia.  Manusia bukanlah sosok yang tiba-tiba datang dari langit yang kemudian datang ke bumi atau sosok yang datang dari suatu tempat yang tidak diketahui latar belakangnya sehingga kita tak perlu peduli tentang apa yang akan diperbuatnya di masa mendatang, dan bukan pula sosok yang kemudian tanpa jati diri dan dicitrakan dengan mengidentikkan umat Islam adalah teroris sebagaimana yang dituduhkan saat ini.

Semua tuduhan negatif itu mungkin bisa terjadi kalau umat Islam itu tidak memiliki latar belakang sejarah yang jelas.  Umat Islam adalah ummat yang memiliki jati diri dan sejarah yang jelas.  Makanya seseorang itu tidak bisa dikaitkan secara langsung dengan Islam seandainya perilakunya sangat jauh atau tidak sesuai dengan perilaku standar sejarah ummat Islam di masa lalu.

Dalam QS. Al Baqarah ayat 183 – 184 Allah SWT berfirman bahwa pewajiban adanya puasa di Bulan Ramadhan ini adalah kewajiban yang telah terjadi sebelum ada.  Anda bisa bermakna dua, pertama anda bermakna masyarakat Rasulullah SAW yang dahulu mendapatkan wakyu Allah SWT saat itu, dan kedua bermakna umat-umat beragama sebelum datangnya Islam, ada agama Yahudi, ada agama Nasrani, yakni agama Yahudi dan Nasrani yang benar mengenal persyariatan puasa, meskipun bentuknya berbeda dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.  Tapi secara prinsip syariat puasa telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ini juga yang mengaitkan bahwa sesungguhnya agama Islam bukanlah agama yang ingin tampil asal beda, tapi agam Islam adalah agama yang siap melanjutkan hal-hal yang positif yang ada pada ajaran-ajaran agama Samawi yang sebelumnya ada.  Karenanya Islam juga melanjutkan agenda Allah yang besar seperti prinsip tauhid (keesaan Allah).  Karenanya Islam juga mengakui ajaran kenabian seperti dalam ajaran agama samawi lainnya.  Islam juga mengakui adanya ajaran kitab suci, Islam juga mengajarkan tentang pentingnya ahlaq, dan lain-lain.  Yang jelas Islam ini bukanlah agama yang jadi-jadian dan tidak jelas jati diri dan latar belakang sejarahnya.  Atau agama yang asal beda.  Tapi Islam adalah agama yang melanjutkan ajaran-ajaran yang positif yang telah dibawa oleh agama samawi sebelum Islam, yang termasuk di dalamnya adalah ibadah saum di bulan Ramadhan.

Jadi jika minqoblikum di sini diartikan sebagai umat Nabi Muhammad, maka umat Nabi Muhammad (umat Islam) ini adalah yang melanjutkan peran sejarah yang dahulu pernah dilakukan oleh umat sebelum Islam dengan adanya perbaikan-perbaikan karena sudah adanya perubahan-perubahan dari agama tauhid yang dahulu dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, Musa AS, dan Isa AS.  Al Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang yang beragama Yahudi, beragama Nasrani bukan pula orang yang musyrik tapi dia adalah seorang muslim yang muslim, yang hanif, yang lurus.  Begitu juga dengan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS.

Minqoblikum juga bisa berarti kita sekarang ini, saya dan anda semuanya.  Kita telah diwajibkan Allah berpuasa sebagaimana generasi-generasi sebelum kita.  Ayah kita, kakek kita, buyut kita, dan seterusnya.  Maknanya adalah bahwa dinamika tradisi berpuasa melanjutkan peran sejarah itu telah dilakukan oleh mereka-mereka yang hidup sebelum kita sampai kepada Nabi Muhammad SAW.  Apakah yang mereka lakukan?  Dalam konteks perjalanan sejarah mereka tidak pernah menjadikan puasa ini sebagai bulan untuk bermalas-malasan.  Sebab sejarah tidak bisa dibuat dengan bermalas-malasan.  Kalaupun ada adalah sejarah kaum pemalas.

Tidak ada penemuan-penemuan, tidak akan ada produk-produk, tidak ada bisnis yang unggul yang muncul dari para pemalas.  Kita semua akan sukses bisnis, sukses kerja karena oleh mereka yang menghargai waktu, menghargai profesionalitas, menghargai jati diri, mereka yang bekerja secara efektif dan efisien, dan dia memahami bahwa dia bisa menyumbangkan dan menghasilkan sesuatu.  Itulah karakter yang dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa dan bisa membentuk sejarah.

Kemalasan bukanlah karakter yang dimiliki oleh generasi Rasulullah dan para sahabat yang telah berhasil menoreh sejarah yang gilang-gemilang.  Puasa Rasulullah dan para sahabat adalah puasa yang senantiasa diisi oleh pelaksanaan amal sholeh yang berlipat ganda.  Rasulullah dikenal sebagai tokoh yang serba positif, serba simpatik, serba proaktif kepada hal-hal yang membawa kepada kebaikan dan berusaha kuat kepada kebaikan dan berusaha kuat menghalau segala kenegatifan.

Hal ini bisa terlihat dari kesigapan Rasulullah dalam menghadapi rongrongan kafir Quraisy yang terkenal dengan Perang Badar.  Dalam Perang Badar ini terdapat dua peristiwa penting, pertama terjadinya Alfurkon yakni membedakan mana orang yang komitmen dengan kebenaran dan mana orang yang masih komitmen dengan kedzaliman.  Dalam jihad di Badar terlihat jelas mana orang yang komitmen kepada Islam dan mana orang yang memusuhi Islam termasuk kaum munafik yang menjadi musuh dalam selimut.

Yang terpenting dari peristiwa Badar ini memunculkan sebuah ungkapan yang dalam ilmu hadist masih dipertanyakan keabsahannya, sekalipun dalam tingkat makna tidak salah.  “Kita baru saja pulang dari jihad kecil (Perang Badar) menuju jihad yang paling besar yakni jihad melawan hawa nafsu”.  Tidak mungkin ungkapan ini muncul dari para pemalas, karena pemalas mendewakan hawa nafsunya.

Puasa bukanlah hanya sekedar memindahkan waktu makan saja, atau bukan juga kegiatan rutinitas tahunan, tapi puasa ini diharapkan bisa memunculkan kesadaran jati diri bahwa masing-masing diri kita bisa membuat sejarah baru.  Makanya ketika seseorang telah benar-benar mampu melawan hawa nafsunya maka ia akan mampu meninggalkan kemalasan, dan menghilangkan sifat rakus dalam dirinya dan mampu meninggalkan sifat korupsi yang membuat negeri ini semakin carut marut.  Maka ketika semua ini sifat negatif bisa dihilangkan dengan mengendalikan hawa nafsunya maka pada hakekatnya dia sedang membangun fondasi yang kokoh untuk membuat babak sejarah baru peradaban manusia.

Maka ketika seseorang sedang melakukan puasa di bulan Ramadhan ini berarti dia sedang melakukan jihad besar yakni sedang melawan hawa nafsunya.  Jangan sampai kata jihad ini diidentikkan dengan sesuatu yang menyeramkan saja.  Yang berkembang sekarang seolah-olah jihad itu identik dengan pedang yang terhunus yang menyeramkan.  Kita sebagai makhluk sejarah dimulai oleh ucapan Rasulullah dengan ungkapan kita sesungguhnya sedang melakukan jihad akbar yakni memerangi hawa nafsu.  Makanya orang yang sedang berpuasa pada hakekatnya sedang menyambungkan hubungan dengan dzat Yang Maha Agung, Maha Kaya, Maha Sempurna, dan begitu juga ketika seseorang sedang mengumbar hawa nafsunya pada hakekatnya dia sedang menyambungkan hubungan dengan Syaithan yang serba rendah, serba lemah, dan serba hina dina.  Inilah dua kondisi hubungan yang kontradiktif dan membawa kepada dua konsekuensi yang berbeda.  Orang yang berhubungan dengan yang baik dia akan kecipratan kebaikan dan orang yang berhubungan dengan orang yang jelek dia juga akan kecipratan kejelekannya.

Bila jihad besar melawan hawa nafsu ini bisa dilakukan maka insya Allah akan terbentuklah sejarah peradaban baru membentuk masyarakat madani yang diidam-idamkan.

Kedua, kesadaran untuk membuat sejarah peradaban baru ini juga akan muncul selain dengan jihadun nafs adalah melalui seperti dalam teologi tugas manusia.  Menyimpulkan bahwa sesungguhnya tugas utama manusia itu ada tiga, pertama merealisasikan ubudiyah kepada Allah SWT sehingga hubungan kita sangat dekat dan menjauhi dari godaan syaithan, kedua memakmurkan kehidupan (imaroh), ketiga memunculkan regenerasi bagi umat yang baru (khilafah fil ardi).

Pemahaman sejarah seperti ini akan membawa kita pada kesadaran bahwa apa yang kita lakukan saat ini adalah akan sangat bermanfaat bagi generasi yang akan datang.  Apa yang kita produksi pada hari ini seharusnya sesuatu yang berdampak positif pada generasi mendatang.  Kalau dahulu Rasulullah SAW dengan aktifitas berislamnya telah mampu memunculkan sebuah karsa dan karya yang luar biasa hebat, ketika beliau telah mampu membebaskan Ka’bah dari belenggu dan lingkaran-lingkaran berhala yang sangat banyak dan terjadi pada bulan Ramadhan pula, sehingga saat kita semua shalat menghadap kiblat/ka’bah yang telah terbebas dari patung itu, sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada generasi berikutnya.  Kita bisa membayangkan ketika rasul gagal membebaskan Ka’bah dari berhal-berhala itu, bagaimana kita bisa menimbulkan ketauhidan yang benar-benar kalau shalat saja kita menghadap kiblat yang dipenuhi kemusyrikan.

Setelah berhasil membersihkan Ka’bah dari berhala, rasul kemudian tidak mengubahnya dari bentuk yang berkaitan dengan kehidupan sosial pada masa itu, kemudian ia berkata kepada Aisyah : Kalaulah bangsamu bukan bangsa yang terlepas dari hubungan kejahiliyahan maka Ka’bah ini pasti akan aku ubah secara total dan akan aku kembalikan kepada aslinya seperti saat pertama dibangun oleh Nabi Ibrahim AS.  Hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW karena mempertimbangkan sosiologi masyarakat Mekkah saat itu.

Karenanya dalam upaya memunculkan sejarah baru memahami sosiologi masyarakat kita adalah merupakan sebuah hal yang niscaya.  Kita tidak bisa membayangkan apabila kita berusaha memunculkan sejarah baru dalam kehidupan ini, ingin memakmurkan dunia ini, kemudian kita melepaskan diri dari faktor sosial kita, itu merupakan hal yang tidak mungkin.  Upaya kita untuk menyadari bahwa kita punya tugas sejarah bisa dilakukan melalui peran individual kita dengan memunculkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.  Dan itu semua adalah faktor sosial.

Makanya kita khawatir di era reformasi ini, yang sebagian pejabatnya mengatakan tak usah pusing-pusinglah tambah utang saja dan ngutang terus, khan yang bayar nanti bukan kita tapi adalah generasi mendatang.  Itulah pikiran destruktif yang bisa membebani dan menghancurkan generasi mendatang.

Seharusnya negara ini yang kaya raya ini harus sejahtera bukan malahan seperti tikus yang mati di lumbung padi.  Seharusnya kita berpikir seperti negara Sudan, meskipun negaranya diembargo, tapi dia mampu bangkit dan hidup mandiri dan rakyatnya lebih sejahtera.

Puasa adalah training langsung dari Allah SWT untuk mempersiapkan orang-orang yang akan membuat sejarah baru kehidupan.  Berulang kali kita melakukan saum Ramadhan, maka mudah-mudahan pada tahun ini kita bisa memaksimalkan peran sejarah ini.

Wallahu a’lam bish shawab ***

.

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM. Kaitkata: , . 2 Komentar »

LIDAH BUAYA (Aloe ferox Miller)

Botani

Sinonim

:

Aloe vera L.

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Liliales

Suku

:

Liliaceae

Marga

:

Aloe

Jenis

:

Aloe ferox Miller

Nama

Umum/Dagang

:

Lidah Buaya.

Jawa

:

Lidah Buaya.

Deskripsi

Habitus

:

Semak, tahunan, tinggi ± 1 m.

Batang

:

Bulat, tidak berkayu, percabangan monopodial, coklat.

Daun

:

Tunggal, lanset, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, panjang 30 – 50 cm, lebar 2 – 5 cm, berdaging tebal, berlendir, bergetah kuning, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk malai, di ujung batang, daun pelindung panjang ± 1½ cm, benang sari enam, putik menyembul keluar atau melekat pada pangkal kepala sari, tangkai putik silindris, kepala putik bulat, kecil, mahkota panjang 2½ – 3½ cm, bertabung pendek, ujung melebar, jingga atau merah.

Buah

:

Kotak, panjang ± 20 cm, berkatup, hijau keputih-putihan.

Biji

:

Bulat, kecit, hitam.

Akar

:

Serabut, kuning kotor.

.

.

Gambar 35. Aloe ferox Miller

Khasiat

Daun Aloe ferox berkhasiat untuk urus-urus, obat sakit perut, obat eksim, dan untuk penyubur rambut.

Urus-urus : dipakai 4 – 20 gram daun segar Aloe ferox, dicuci dan diparut kemudian disaring. Hasil saringan diminum sehari 2 sendok makan.

Catatan : Jangan digunakan oleh wanita hamil. Daging daun lidah buaya yang dikupas, segera menjadi kecoklatan dan mencair kalau kena udara. Jadi, pengobatan luka terbuka perlu dilakukan secepatnya!

Kandungan Kimia

Daun, akar, dan bunga Aloe ferox mengandung saponin; di samping itu daun dan akarnya mengandung flavonoida; juga daunnya mengandung tanin; dan bunganya mengandung polifenol.

.

SENTE (Alocasia macrorrhiza Schott)

Botani

Sinonim

:

Alocasia alba Schott

Alocasia bantamensis Kds.

Alocasia crassifolia Engl.

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Arales

Suku

:

Araceae

Marga

:

Alocasia

Jenis

:

Alocasia macrorrhiza Schott

Nama

Umum/Dagang

:

Sente.

Sumatera

:

Birah (Batak), Birah (Minangkabau), Bio (Nias).

Jawa

:

Sente (Sunda), Sente (Jawa), Bira (Madura).

Bali

:

Biah.

Nusa Tenggara

:

Wia (Bima), Mael (Timor).

Sulawesi

:

Bira (Makasar), Birah (Manado), Lawira (Bugis).

Maluku

:

Hila (Ambon), Kiha (Halmahera), Kiha (Ternate).

Deskripsi

Habitus

:

Herba, tahunan, tinggi 1 – 2 m.

Batang

:

Tegak, tidak berkayu, bulat, putih kekuningan.

Daun

:

Tunggal, bentuk jantung, pangkal berlekuk, ujung runcing, tepi rata, panjang 25 – 75 cm, lebar 30 – 60 cm, hijau.

Bunga

:

Tongkol, silindris, di ketiak daun, tangkai 20 – 30 cm, ramping, hijau.

Buah

:

Buni, diameter ± 5 cm, hijau.

Biji

:

Bulat panjang, beralur membujur, hijau.

Akar

:

Serabut, putih.

.

Gambar 34. Alocasia macrorrhiza Schott

Khasiat

Getah tangkai daun Alocasia macrorrhiza berkhasiat sebagai obat batuk.

Obat batuk : dipakai lebih kurang 10 tetes getah tangkai daun Alocasia macrorrhiza, diseduh dengan ½ gelas air matang panas. Hasil seduhan diminum sekaligus.

Kandungan Kimia

Batang dan tangkai daun Alocasia macrorrhiza mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol; sedang rimpangnya mengandung saponin.

.

Ditulis dalam TANAMAN OBAT. Kaitkata: . 1 Komentar »

NAMPU HIJAU (Alocasia cucculata (Lour.) Schoot.)

Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Arales

Suku

:

Araceae

Marga

:

Alocasia

Jenis

:

Alocasia cucculata (Lour.) Schoot.

Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Nampu hijau.

Jawa

:

Nampu hijau.

Deskripsi

 

 

Habitus

:

Terna, menahun, tinggi 30 – 60 cm, berumbi, tegak.

Batang

:

Semu, merupakan pelekatan pelepah daun, hijau.

Daun

:

Tunggal, roset akar, helaian bentuk perisai, panjang 10 – 15 cm, lebar 9 – 15 cm, ujung meruncing, pangkal membulat atau bertoreh, tepi rata, permukaan licin, pertulangan daun tegas, warna hijau mengkilat.

Bunga

:

Tunggal, muncul dari ketiak daun, bentuk lonjong, tangkai silindris panjang mencapat 30 cm, mahkota putih, bentuk lanset, satu helai seludang bunga berwarna coklat muda, halus, benang sari dan putik tersusun dalam gada, diameter 2 – 3 mm, panjang 5 – 7 cm, warna kuning.

Buah

:

Bentuk lanset, kecil, berwarna merah.

Biji

:

Bulat, keras, berwarna hitam.

Akar

:

Serabut, berwarna putih kecoklatan, umbi bulat, permukaan kasar, berwarna coklat kehitaman.

.

Gambar 33.  Alocasia cucculata (Lour.) Schoot.

Ekologi dan Penyebaran

Alocasia cucculata merupakan tumbuhan liar di tepi sungai dan di tepi-tepi hutan, kadang ditanam sebagai tanaman hias.  Tanaman ini tumbuh di dataran menengah sampai pegunungan pada ketinggian 200 – 2.000 m di atas permukaan laut.  Berbunga pada bulan April – Juni.  Waktu panen yang tepat pada bulan Februari – Maret.

Bagian yang Digunakan

Daun, umbi, dan seluruh bagian tanaman dalam keadaan segar atau setelah dikeringkan.

Kegunaan

Anti radang dan penurun panas.

Khasiat dan Pemanfaatan

Gigitan ular : seluruh bagian tanaman nampu hijau dalam keadaan segar sebanyak 5 – 10 gram, dicuci, dipotong-potong lalu direbus dengan 200 ml air sampai mendidih selama 5 menit, kemudian ditumbuk halus dan diborehkan pada luka bekas gigitan ular.  Pemakaiannya harus hati-hati jangan sampai mengenai kulit yang sehat.

Obat demam : herba nampu hijau segar sebanyak 60 gram, dicuci. direbus dengan 400 ml air sampai mendidih selama 30 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore. Jika timbul reaksi alergi yaitu tenggorokan terasa terbakar sebaiknya pengobatan dihentikan.

Kandungan Kimia

Umbi dan daun nampu hijau mengandung saponin, glikosida, flavonoida, dan polifenol.

.

MEMINTAL BENANG PAKAIAN TAQWA DI RAMADHAN

Disalin dari : Buletin Jum’at Al Ihsan Edisi Tahun V/13 Agustus 1431 H / 2010 M

.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.  Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.  Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” [QS. Al-A'raaf : 26]

Secara umum ayat ini menjelaskan tentang fungsi esensial dari pakaian yang diwajibkan oleh Allah SWT terhadap seluruh Bani Adam, yaitu untuk menutup aurat yang menjadi pembeda antara manuasia dengan binatang sehingga disimpulkan oleh Al-Qurthubi bahwa ayat ini sekaligus merupakan perintah dan kewajiban untuk berpakaian yang menutup aurat.  Selanjutnya melalui ayat ini juga Allah menetapkan pakaian taqwa yang merupakan sebaik-baik pakaian yang dikenakan oleh hamba-Nya.  ‘Pakaian taqwa’ yang dimaksud oleh ayat ini menurut para ulama tafsir seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitab ‘Tafsir Al Qur’an Al-’Azim’ di antaranya seperti yang disepakati oleh Qatadah, Zaid bin Ali, dan Suddi bahwa yang dimaksud adalah keimanan.  Sedang Al-Aufi memahaminya sebagai amal shalih.  Manakala Urwah bin Zubair mendefinisikan pakaian taqwa adalah rasa takut kepada Allah SWT.  Berbeda dengan Ikrimah yang mehamami bahwa pakaian taqwa adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang bertaqwa di syurga kelak.  Seluruh makna-makna di atas ini saling berdekatan dan tidak bertentang yang intinya pakaian yang mencerminkan keimanan, keshalihan, dan rasa takut kepada Allah SWT sesuai dengan makna taqwa itu sendiri.

Dalam konteks Ramadhan, penggalan akhir ayat puasa, ‘agar kalian bertaqwa’ merupakan harapan sekaligus jaminan Allah akan hadirnya pakaian taqwa seorang berima pasca Ramadhan.  Jika diilustrasikan dapatlah dikatakan bahwa selama satu bulan penuh seorang yang beriman ibarat sedang menenun pakaian taqwa dengan benang-bebang amaliah ibadah bulan Ramadhan.  Sehingga dapat dikatakan bahwa iman seseorang masih dalam kondisi telanjang sebelum diberi pakaian, dan pakaian iman tersebut adalah taqwa.

Sebagai contoh misalnya bahan atau benang pakaian taqwa yang bernama ‘imsak (menahan diri)’ dari segala tindakan yang bertentangan dengan ketentuan agama akan melahirkan sikap pengendalian diri, kejujuran, dan anti konsumerisme sehingga pada gilirannya akan memunculkan gaya hidup sederhana seorang yang beriman.  Bukankah pengendalian diri, kejujuran, kedisiplinan, serta
kesahajaan merupakan ujian seorang yang beriman selama ber-Ramadhan yang hasilnya akan diumumkan tepat pada tanggal 1 Syawal; apakah sifat dan sikap tersebut masih dominan atau kembali menjadi pribadi yang selalu dikalahkan oleh nafsu dan syahwat.

Kondisi lapar dan dahaga dalam waktu yang relatif lama dengan segala konsekuensinya akan melahirkan rasa kepedulian sosial yang tinggi.  Demikian juga, seorang muslim tetap memiliki semangat untuk melakukan aktifitas sehari-hari dalam kondisi lapar dan haus merupakan simbol akan etos kerja dan daya tahan seorang muslim terhadap seluruh godan kehidupan.

Ibadah sholat tarawih dan ibadah-ibadah yang hadir di bulan Ramadhan akan meningkatkan keimanan dan ketauhidan seseorang terhadap Allah.  Bahwa seluruh amal ibadah tersebut ia lakukan semata-mata dengan semangat ‘imanan wahtisaban’.  Sahur dan berbuka puasa bersama yang kerap dilakukan bersama keluarga dan saudara sesama muslim merupakan simbol dari kasih sayang dan keharmonisan ukhuwah di antara sesama orang beriman yang pada hakikatnya merupakan buah dari keimanan mereka.

Demikian benang-benang yang dirajut selama bulan puasa untuk menghasilkan pakaian taqwa, pakaian yang harus dikenakan oleh setiap orang beriman dimana pun dan kapan pun mereka berada.  Jangan sampai kita merusak atau merobek pakaian taqwa yang kita tenun tersebut pasca Ramadhan, seperti yang diilustrasikan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya : “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai” (QS. An-Nahl : 92).  Wanita dalam ayat ini digambarkan oleh Imam Al-Qurthubi sebagai wanita jahil yang bernama Rithah binti Amru bin Ka’ab yang identik dengan mereka yang merusak kembali kebaikan yang telah dengan susah payah diperjuangkan setahap demi setahap.  Sungguh perbuatan yang sangat bertentangan dengan nilai Ramadhan yang seharusnya tetap mempertahankan dan memelihara pakaian yang indah tersebut setelah berakhirnya Ramadhan.

Masih tersisa beberapa hari ke depan sampai pada malam puncaknya yang bernama ‘lailatul Qadar’ yang merupakan cermin dari puncak prestasi yang dapat ditorehkan oleh seorang yang beriman di hadapan Allah SWT.  Ia rela mengalokasikan  segenap waktu, harta, dan jiwanya untuk mendapatkan keutamaan malam tersebut dengan memaksimalkan potensi ubudiyah yang dimilikinya..

Wallah a’lam bi ash shawab

.

BAWANG PUTIH (Allium sativum L.)

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Liliales

Suku

:

Liliaceae

Marga

:

Allium

Jenis

:

Allium sativum L.

Nama

Umum/Dagang

:

Bawang putih.

Sumatera

:

Bawang putih (Melayu), Lasun (Aceh), Dasun (Minangkabau), Lasuna (Batak), Bacong landak (Lampung).

Jawa

:

Bawang bodas (Sunda), Bawang (Jawa), Babang pole (Madura).

Kalimantan

:

Bawang kasihong (Dayak).

Sulawesi

:

Lasuna kebo (Makasar), Lasuna pote (Bugis), Pia moputi (Gorontalo).

Nusa Tenggara

:

Incuna.

Deskripsi

Habitus

:

Herba, semusim, tinggi 50 – 60 cm.

Batang

:

Semu, beralur, hijau.

Daun

:

Tunggal, berupa reset akar bentuk lanset, tepi rata, ujung runcing, beralur, panjang 60 cm, lebar ± 1½ cm, menebal dan berdaging serta mengandung persediaan makanan yang terdiri atas subang yang dilapisi daun sehingga menjadi umbi lapis, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk payung, bertangkai panjang, putih.

.

Gambar 32. Allium sativum L.

Khasiat

Umbi lapis Allium sativum mempunyai beberapa khasiat sebagai obat selain sebagai bumbu.

Hipertensi : a) Sebanyak 2 – 3 siung bawang putih dikupas, cuci, kunyah, lalu ditelan sambil minum air hangat. Lakukan 3 kali sehari; b) Bawang putih dibakar sampai matang, makan. Dua hari pertama makan 6 siung selanjutnya selama seminggu makan 2 siung; c) dipakai ± 4 gram umbi lapis Allium sativum, dikupas dan dicuci, dimakan mentah sebagai lalab.

Sakit kepala : Umbi bawang putih dilumatkan, lalu borehkan pada dahi.

Flu : Bawang putih, bawang merah, jahe dengan takaran yang sama dikupas, cuci, seduh. Tutup selama 15 menit, sisihkan jahenya, makan bawang merah, bawang putih, minum airnya.

Disentri : Sebanyak 2 siung bawang putih dikupas, cuci, rebus dengan segelas air. Minum sebelum makan. Lakukan 3 kali sehari, selama 2 – 3 hari.

Batuk rejan dan bronkhitis : Sebanyak 30 gram bawang putih, kupas, cuci, lumatkan, campur dengan gula batu dan segelas air matang, diamkan selama 5 – 6 jam. Minum 1 sendok makan penuh setiap hari selama beberapa hari.

Borok : Sebanyak 2 – 3 siung bawang putih dikupas, cuci, lumatkan, campur dengan 1 sendok minyak kelapa sampa rata. Oleskan pada bagian yang bengkak.

Luka kena benda tajam berkarat : Bawang putih dikupas, cuci, bakar, celupkan ke dalam minyak kelapa, lumatkan. Oleskan pada bagian yang luka.

Cacingan : Sebanyak 3 siung bawang putih dikupas, cuci, kunyah sampai halus, telan dan minum air hangat. Lakukan 1 – 2 kali sehari.

Nyeri haid : Sebanyak 2 siung bawang putih dikupas, kunyah halus, telan. Minum 2 sendok makan air hangat. Lakukan 2 kali sehari.

Migrain : Sebanyak 2 siung bawang putih dikupas, cuci, kunyah perlahan sampai lumat lalu telan dan minum air hangat. Lakukan 2 kali sehari.

Perut kembung : Sebanyak 2 siung bawang putih dikupas, cuci, kunyah perlahan sampai halus, telan lalu minum air hangat. Lakukan

3 kali sehari.

Bisul yang baru tumbuh : Sebanyak 1 siung bawang putih, kupas, cuci, belah. Oleskan pada bisul yang baru timbul. Lakukan berkali-kali.

Sakit maag : Bawang putih laki-laki (yang tumbuh sendiri, tunggal, tidak bergerombol), dikupas, cuci, kunyah. Lakukan 3 kali sehari.

Asma, batuk, masuk angin : Sebanyak 3 siung bawang putih dikupas, cuci, lumatkan. Beri 1 sendok makan madu dan gula batu yang sudah dicairkan. Campurkan semua bahan, aduk rata, saring.
Minum setiap pagi sampai sembuh.

Mengeluarkan serpihan kaca, kayu, atau duri : Bawang putih dikupas, cuci, lumatkan. Tempelkan pada bagian yang dimaksud.

Ambeien : Bawang putih dikupas, cuci, lumatkan, peras, oleskan airnya di sekitar anus setiap hari.

Cantengan : Cuci 2 siung bawang putih yang sudah dikupas dan 2 kemiri. Lumatkan dan beri garam dapur. Tempelkan pada kuku yang bengkak, balut. Ganti sehari 2 kali, pagi dan sore.

Asma : Sebanyak 10 siung bawang putih dikupas, cuci, iris, rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal ¾. Setelah dingin, saring, minum 3 kali sehari @ ½ gelas dengan 1 sendok makan madu.

Digigit serangga beracun : Sebanyak 6 siung bawang putih dikupas, cuci, lumatkan, oleskan pada bagian yang disengat, balut.

Catatan : Sebaiknya bawang putih tidak dimakan mentah, karena mengganggu lambung, lebih baik direbus, digoreng, atau dipanggang lebih dulu.

Kandungan Kimia

Umbi lapis Allium sativum mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol; di samping minyak atsiri, aliin, kalium, saltivine, dan diallysulfide.

.

RAMADHAN : SAATNYA MENGUBUR SEKULARISME DAN MENEGAKKAN SYARIAH ISLAM SECARA TOTAL

Disalin dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 518/Th. XI/1431 H

.

Ramadhan adalah bulan agung.  Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula.  Apalagi kedatangan Ramadhan cuma setahun sekali.  Keagungan Ramadhan diisyaratkan oleh sejumlah nash Al Qur’an maupun As Sunnah, baik secara langsung maupun tak langsung; di antaranya saat Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhan-lah Al Qur’an Mulia diturunkan (lihat QS. Al Baqarah [2] : 185).  Karena itu, kaum Muslim menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan Al Qur’an’ (syahr al Qur’an); selain karena di bulan inilah kaum Muslim lebih banyak  lagi membaca Al Qur’an dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.

Selain itu, di bulan Ramadhan pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS. al-Qadar [97] : 1), yang banyak dirindukan oleh kaum Muslim.  Karena itu, kaum Muslim pun
menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan keberkahan’ (syahr[un} mubarak); selain karena di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga ratusan kali lipat untuk setiap amal shalih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.  Rasulullah saw. pun bersabda :

"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan.  Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya.  Di bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.  Di bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan". (HR. An-Nasa'i dan Al-Baihaqi).

Karena itu, layaknya kedatangan 'tamu agung' seorang Muslim yang cerdas tentu akan melakukan persiapan yang optimal --- dengan mempersiapkan bekal iman, ilmu, maupun amal shalih --- dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan ini.  Tentu amat mengherankan jika kedatangan sesuatu yang agung hanya disambut dengan persiapan yang ala kadarnya, dengan sambutan yang biasa-biasa saja, tanpa ekspresi kegembiraan sama sekali.

Dengan persiapan iman, ilmu, dan amal shalih, saat Ramadhan tiba setiap Muslim tentu akan siap untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan ragam amal shalih : shaum, qiyamul lail, tadarus al Qur'an, bersedekah, mendatangi kajian-kajian keilmuan, meningkatkan aktifitas dakwah, dan melakukan banyak amal shalih lainnya.  Semua itu dilakukan tentu dalam rangka semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Hakikat Taqarrub illa Allah

Di dalam sebuah hadits qudsi, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda, bahwa Allah SWT berfirman :

"Tidaklah hamba-Ku ber-taqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada menunaikan kewajiban yang telah
aku perintahkan kepadanya.  Hamba-Ku selalu ber-taqarrub kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya"
. (HR. Al-Bukhari).

Berdasarkan hadits qudsi ini, hal yang paling utama yang bisa mendatangkan cinta Allah SWT bagi seorang Muslim adalah melakukan semua kewajiban, termasuk di dalamnya meninggalkan semua keharaman; kemudian dibarengi dengan bersungguh-sungguh mengerjakan banyak amalan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang makruh dan subhat (Ibn Rajab al-Hanbali, I/25).

Menurut Abdur Ra'uf al-Minawi, yang dimaksud kewajiban dalam hadits di atas mencakup fadhu 'ain maupun fadhu kifayah (Abdur Ra'uf al-Minawi, I/515).

Di antara kewajiban terpenting sekaligus terbesar atas kaum Muslim adalah menegakkan hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam) dalam seluruh aspek kehidupan; baik dalam tataran individual, sosial, maupun negara.  Alasannya jelas, sebagaimana menurut al-Minawi di atas, kewajiban dalam Islam ada dua.  Pertama : fardhu 'ain (kewajiban individual) seperti shalat, shaum, haji, menuntut ilmu, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain.  Kedua : fardhu kifayah (kewajiban kolektif), seperti membentuk jamaah yang beraktifitas mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar serta mendirikan Khilafah (membaiat seorang khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Namun sayang, bukan hanya di bulan Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, kebanyakan kaum Muslim hanya ber-taqarrub dengan menunaikan kewajiban-kewajiban individualnya saja plus beberapa perkara sunnah.  Adapun fardhu kifayahnya mereka tinggalkan.  Buktinya saat ini jauh lebih banyak kaum Muslim yang tak peduli terhadap tidak diterapkannya syariah Islam dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka dibandingkan dengan mereka yang peduli dan mau berjuang untuk menegakkannya.  Padahal, hanya dengan melaksanakan semua kewajiban (baik fardhu 'ain maupun fardhu kifayah) --- tentu dengan meninggalkan semua keharaman --- itulah setiap Muslim benar-benar bisa dikatakan sebagai orang bertakwa, sebagai 'buah' dari puasa yang dia lakukan selama bulan Ramadhan.

Hakikat Taqwa

Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sebagai salah satu bentuk aktifitas taqarrub kepada Allah SWT., pada akhirnya memang diharapkan dapat mewujudkan ketaqwaan pada diri setiap Muslim :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa". (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Menurut al-Jazairi, farasa “agar kalian bertaqwa” bermakna : agar dengan shaum itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Al-Jazairi, I/80).

Saatnya Mengubur Sekularisme

Jika ‘buah’ dari puasa adalah taqwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT tidak hanya di bulan Ramadhan saja; juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata.  Ketaqwaan kaum Muslim sejatinya terlihat juga di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun, juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka.

Sayang, faktanya yang terjadi malah sebaliknya.  Pertama : Setelah Ramadhan, kaum Muslim — yang sebelumnya berusaha ber-taqarrub kepada Allah SWT untuk meraih taqwa dengan puasa dan seluruh amal shalih yang mereka lakukan — justru kembali jauh dari Allah SWT dan kembali melakukan ragam kemaksiatan kepada-Nya.  Banyak wanita Muslimah yang kembali memamerkan auratnya, padahal saat Ramadhan mereka menutupnya rapat-rapat.  Banyak masjid kembali sepi, padahal pada saat Ramadhan ramai dikunjungi.  Acara-acara di televisi kembali menampilkan acara-acara berbau pornografi/pornoaksi, padahal selama bulan Ramadhan mereka menyiarkan acara-acara religi.  Banyak tempat-tempat maksiat dibuka kembali, padahal selama Ramadhan ditutup.  Penguasa dan banyak pejabat kembali melakukan korupsi dan mengkhianati rakyat, padahal selama Ramadhan mungkin mereka berhenti dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut.  Bagi orang-orang semacam ini, tentu puasa tak ada artinya.  Inilah yang diisyaratkan Baginda Nabi saw. :

“Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa pun selain rasa laparnya saja”. (HR. Ahmad).

Kedua : Setelah Ramadhan, sekularisme (pengabaian agama [syariah Islam] dari kehidupan) tetap mendominasi kehidupan kaum Muslim.  Setelah Ramadhan, tak ada dorongan dari kebanyak kaum Muslim, khususnya pada penguasanya, untuk bersegera menegakkan hukum-hukum Allah SWT secara formal dalam segala aspek kehidupan melalui institusi negara.  Bahkan di antara mereka ada yang tetap dalam keyakinan, bahwa hukum-hukum Islam tidak perlu dilembagakan dalam negara, yang penting substansinya.  Anehnya, pemahaman seperti ini juga menjadi keyakinan sebagian tokoh-tokoh agama Islam.  Keyakinan semacam ini hanya menunjukkan satu hal : mereka seolah ridha dengan hukum-hukum sekular yang ada (yang nyata-nyata kufur) dan seperti keberatan jika hukum-hukum Islam diterapkan secara total oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan mereka.  Padahal Abu Abdillah Jabir bin Abdillah al-Anshari ra. telah menuturkan riwayat sebagai berikut :

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Bagaimana pendapat engkau jika saya telah menunaikan shalat-shalat wajib, melakukan shaum Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan meninggalkan yang haram, sementara saya tidak menambah selain itu; apakah saya masuk surga?”  Rasul saw. menjawab, “Benar”. (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini, meninggalkan keharaman adalah syarat untuk bisa masuk surga.  Di antara keharaman yang wajib ditinggalkan tentu saja adalah berhukum dengan hukum-hukum kufur.  Apalagi Allah SWT tegas menyatakan bahwa siapapun yang berhukum dengan selain hukum Allah SWT bisa berstatus kafir, zalim, atau fasik (lihat : QS. al-Maidah [5] : 44, 45, 47).

Karena itu, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang kafir, zalim, atau fasik maka tentu kita harus segera menegakkan semua hukum-hukum Allah SWT melalui institusi negara.  Sebab, hanya melalui institusi negaralah hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia — dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, peradilan, keamanan, dan lain-lain — dapat benar-benar ditegakkan.

Karena itu pula, hendaknya seluruh kaum Muslim, khususnya di negeri ini, menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk segera mengubur sekularisme, yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.  Itulah wujud ketaqwaan sejati.  Itulah pula yang menunjukkan bahwa kita benar-benar sukses menjalani puasa sepanjang bulan Ramadhan.

Wallahu a’lam bi ash shawab

.

artikel terkait :

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.