NILAI UAS MATEMATIKA 2 TAHUN 2010

SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN (STIPER) KABUPATEN BERAU
NILAI UJIAN AKHIR SEMESTER II
TAHUN AKADEMIK 2009/2010
MATA KULIAH : MATEMATIKA II

No.

NAMA

NIM

NILAI

I.

JURUSAN AGRIBISNIS

1.

DEWI SUSANTI

2009 54201 00003

A

2.

SAPUTRA AGUS KURNIAWAN

2009 54201 00004

A

3.

HERYANSYAH

2009 54201 00005

A

4.

KANDRIS

2009 54201 00006

C

5.

MASNIAH

2009 54201 00008

B

6.

SAMUEL HATSONG

2009 54201 00012

B

7.

NURTANG

2009 54201 00016

C

8.

RAHMAD WIDIONO

2009 54201 00019

B

9.

GLORIA ANANDA JIU

2009 54201 00020

C

10.

DATANAEL

2006 10404 00012

B

11.

KALEB K

2006 10404 00026

B

12.

MULIYANA

2006 10404 00033

B

13.

ROHYADI

2006 10404 00038

C

14.

WAHYU

2006 10404 00043

D

15.

ABDUL RASYID

2004 10404 00003

E

II.

AGROTEKNOLOGI

1.

KASMIDAH

2009 54211 00001

A

2.

DESSY JUMARYANTI

2009 54211 00002

C

3.

DEDI ZULKARNAIN

2009 54211 00003

C

4.

SAMSUL RIZALI

2009 54211 00004

C

5.

NURUL HIDAYAH

2009 54211 00005

C

6.

ABDU RAHMAN

2009 54211 00006

B

7.

ARIE PRAMANA PUTRA

2009 54211 00008

A

8.

ADE ANGGARA PUTRA

2009 54211 00009

A

9.

RIDWAN JUNI ASMARA

2009 54211 00011

C

10.

MILKA LOMBA SA’PANG

2009 54211 00012

C

11.

MBARYATI

2009 54211 00013

B

12.

DINI HERAWATI

2009 54211 00014

C

13.

ARIYANI

2009 54211 00015

A

14.

JABBAR

2009 54211 00016

B

15.

ZUL ARIFAL

2009 54211 00018

C

16.

NOORHAMIDAH

2009 54211 00019

D

17.

NUR ROCHIM

2009 54211 00020

B

18.

MISBAHUL MUNIR

2009 54211 00021

A

19.

TRESIA G. TUKAN

2006 10407 00018

C

20.

ACHMADIAH

2004 10407 00001

E

AA

Ditulis dalam DIBUANG SAYANG. Kaitkata: . Komentar Dimatikan

PANORAMA PESISIR BERAU

Lokasi pengambilan gambar : Pesisir Pantai Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau – Kalimantan Timur.
Gambar diambil oleh : Eko Sandi Atmojo

a

Ditulis dalam DIBUANG SAYANG. Kaitkata: . 7 Komentar »

ISRAEL BRUTAL : AS MENDUKUNG, PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM

Dikutip dari : Buletin Jumat AL-ISLAM, Edisi 509/Th. XI/1431 H

a

a

BRUTAL!  Untuk ke sekian kalinya, dunia disuguhi tontonan kebiadaban Yahudi-Isreal.  Israel secara brutal menembaki rombongan relawan dari berbagai negara yang diangkut sembilan kapal.  Kapal tersebut membawa setidaknya 10.000 ton bantuan dan 750 aktivis.  Turut serta dalam armada ini 44 pejabat pemerintah, angota parlemen dan aktivis politik Eropa dan Arab, termasuk 10 anggota parlemen Aljazair.  Armada ini membawa bantuan untuk penduduk Gaza yang lama menderita, apalagi sejak Israel membombardir wilayah tersebut awal 2009 dan terus memblokadenya hingga hari ini.

Para relawan itu dihadang, sebagiannya (tidak kurang dari 19 orang) bahkan dibunuh di atas kapal yang membawanya.  Tentara dan penguasa Israel benar-benar telah mengunci rapat mata, telinga, akal, dan hatinya; tidak peduli bahwa relawan yang berlayar menuju Gaza itu dalam rangka misi kemanusiaan.  Pasalnya, Israel tidak menghendaki terbukanya blokade atas Gaza.  Selain 19 korban tewas, “Sejauh ini, 83 ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi.  Sisanya akan dipenjara”.  Demikian kata Jurubicara Kepolisian Israel, Sabine Hadad seperti dilansir AFP, Selasa (1/6/2010).  Hadad mengatakan, Kepolisian Israel masih akan
melakukan penangkapan terhadap ratusan relawan lainnya.

Hampir dua tahun penduduk GAza menderita akibat blokade Israel.  Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan terputusnya pasokan pangan dan obat-obatan dari luar.  Gaza memang sangat bergantung pada impor makanan dan obat-obatan dari luar negeri.  Israel juga memperketat penjagaan perbatasan.  Israel bahkan menghancurkan Terowongan Gaza yang mensuplai kebutuhan pangan penduduk Gaza.  Akhirnya, banyak yang menderita sakit dan kelaparan.  Persediaan obat-obatan juga tidak ada.  Israel benar-benar menghendaki kematian perlahan bagi penduduk Gaza.

DUKUNGAN TOTAL AS

Berbagai kecaman — hanya sekedar kecaman — mengalir.  Namun, seperti biasa, kecaman itu segera lenyap ditelan waktu.  Israel pun tetap dengan pongahnya mempertontonkan kebrutalannya.  PBB yang katanya berfungsi sebagai penjaga perjanjian dunia hanya membisu menyaksikan kebiadaban Israel atas bangsa Palestina yang telah berlangsung puluhan, bahkan ratusan kali.  Amerika Serikat (AS), yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, tak pernah absen mendukung setiap kebrutalan Israel, baik secara langsung maupun lewat upaya memveto (menggagalkan) setiap resolusi PBB yang merugikan Israel.

AS memang mengecam serangan Israel kali ini, sebagaimana dinyatakan Jurubicara Gedung Putih, William Burton (Reuters, 31/5).  Namun, dunia pun tahu, itu hanyalah sikap sandiwara AS.  Faktanya, AS mendukung penuh setiap tindakan Israel.  Bahkan senjata-senjata yang saat ini dipakai untuk membunuhi para relawan adalah senjata-senjata yang dibeli dengan dollar bantuan dari AS.  Tahun ini, AS bahkan berencana menaikkan bantuan anggaran militer untuk Israel hingga 6 miliar dollar AS per tahun.  Ini seperti yang diungkap Wapres AS, Joe Biden, ketika berceramah di Universitas Tel Aviv.  Wapres AS, Joe Biden pun telah menjanjikan dukungan penuh Washington terhadap ZIonis-Israel.  Saat mengadakan pembicaraan terpisah dengan Netanyahu dan Presiden Shimon Peres, Biden menegaskan dukungan total dan absolut Washington (AS) terhadap keamanan Israel (Hidayatullah.com, 22/3/2010).

Menlu AS, Hillary Clinton (yang tentu mewakili pemerintahan Obama), dalam kutipan pidatonya di depan konvensi tahunan Komisi Urusan Hubungan AS – Israel — yang dikenal dengan sebutan AIPAC, sebuah lobby kuat yang pro-Israel — di Washington, Senin (22/3) juga meyakinkan Israel, bahwa komitmen AS terhadap keamanan Israel masih “tetap kuat”. (VOAnews.com, 22/3/2010).

Kongres AS bahkan menyetujui usulan Presiden Barack Obama untuk mendanai pembangunan Kubah Besi — sistem pertahanan antiroket — milik Israel.  Pemungutan suara di Kongres digelar pada Kamis (20/5), sebanyak 410 suara mendukung usulan itu dan empat suara menolak.  Dengan hasil voting mayoritas ini, dana 205 juta dollar AS sepakat untuk dikucurkan ke Israel.  Ini sekaligus membuktikan bahwa Pemerintah AS di bawah George W. Bush dan presiden-presiden AS sebelumnya, yang mendukung penuh Israel.  Istilah “soft power” cuma menjadi ‘gincu’ diplomasi Obama untuk mengelabui Dunia Islam agar tetap berada dalam cengkeraman kepentingan global AS dan lumpuh di hadapan Israel yang biadab.

PENGUASA MUSLIM HANYA MENGECAM

Para penguasa dan pemimpin Muslim mengecam tindakan biadab Israel, dalam hal ini terhadap armada kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.  “Kami mengutuk kejahatan ini …  Setiap orang harus mengutuk tindakan Israel ini”, kata Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, kepada AFP (31/5).  Moussa lebih lanjut mengatakan bahwa 22 anggota Liga Arab saat ini sedang ‘memikirkan’ langkah selanjutnya terhadap Israel.

Pimpinan Otoritas Palestina, Mahmud Abbas pun mengecam serangan Israel itu dengan menyebutnya sebagai pembantaian.  Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri, juga mengutuk serangan mematikan Israel tersebut yang ia sebut sebagai tindakan yang berbahaya dan gila (31/5).  Pemerintah Indonesia pun, melalu Menlu Marty Natalegawa, turut mengecam tindakan Israel ini (Antara, 31/5).

Namun, lagi-lagi para penguasa Arab – Muslim itu hanya mengecam, tidak pernah melakukan langkah nyata, misalnya dengan mengirimkan pasukan dari masing-masing negara mereka untuk melawan kebiadaban Israel.  Padahal sudah nyata dan jelas, bangsa ‘kera’ (Yahudi – Israel) ini tidak pernah mengenal bahasa kecaman dan kutukan.  Yang paling menyakitkan, penguasa Mesir, Husni Mubarak, tetap enggan membuka satu-satunya pintu masuk ke Gaza, yakni pintu Rafah yang berada dalam kekuasaan Mesir.  Rezim Mesir itu tetap tuli dan diam seribu bahasa, sembari dengan tenang dan santai menyaksikan waga Gaza mati secara perlahan karena blokade dan kekejian Israel.

Perlu dicatat, kepengecutan sikap pemerintah Mesir tidak cukup sampai di sini.  Rezim Mesir bahkan meledakkan beberapa terowongan — yang jumlahnya berkisar mulai ari puluhan hingga ratusan — yang menjadi satu-satunya “penghubung” warga Gaza dengan dunia luar.  Tindakan keji mereka ini telah memakan korban puluhan pekerja yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mengais sesuap nasi (28/4).  Hanya demi alasan keamanan nasional, rezim Mesir enggan memberi akses keluar bagi warga Gaza yang diblokade. Anehnya, pada saat yang sama, rezim Mesir memberikan jalan bagi pesawat-pesawat Israel untuk berkeliaran di perbatasannya, yang nyata-nyata sebelumnya telah menyerang tentara Mesir.  Bahkan Mesir selalu memohon ijin kepada Israel untuk menambah prajuritnya sekalipun hanya seorang, untuk ditempatkan di perbatasan.  Tampak sekali rezim Mesir bertindak sebagai antek Yahudi-Mesir dan AS.

Wahai Kaum Muslim :

Belum cukup buktikah bahwa Yahudi-Israel adalah penjahat perang?  Belum cukup jelaskah bahwa Amerika Serikat (AS) selalu mendukung setiap kekejian dan kebiadaban Yahudi-Israel atas kaum Muslim di Palestina?  Belum cukup terangkah bahwa para penguasa Muslim selama ini membiarkan begitu saja — bahkan memfasilitasi — setiap tindakan biadab dan brutal Israel atas bangsa Palestina?

Wahai Kaum Muslim :

Sesungguhnya metode membela Palestina saat ini adalah dengan cara memaksa para penguasa Muslim agar memobilisasi pasukan mereka untuk berjihad.  Sebab, Allah SWT telah berfirman :

“Perangilah mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian dan menghinakan mereka”. (QS. at-Taubah [9] : 14).

Allah SWT telah mengecam siapapun yang mengabaikan panggilan jihad ini :

“Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih”. (QS. at-Taubah [9] : 39).

Wahai Kaum Muslim :

Kekejian dan kebrutalan Yahudi-Israel sesungguhnya akan terus berulang.  Karena itu, umat ini jelas membutuhkan sebuah institusi negara yang kuat, yang bisa menggabungkan seluruh potensi umat Islam; yakni potensi wilayah yang luas, sumber daya manusia dan tentara yang banyak, sumber daya alam yang melimpah serta — yang lebih penting — sumber ideologi yang sahih dan kokoh.  Institusi negara yang kuat dan bisa menyatukan semua potensi itu tidak lain adalah Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafahlah yang pasti akan mampu membebaskan Palestina dan menghancurkan institusi Yahudi sekaligus pelindung dan ‘induk semang’-nya, yakni Amerika Serikat.  Tanpa adanya institusi negara yang kuat (super power) yang mewujud dalam Negara Khilafah, maka masalah Palestina dan seluruh persoalan yang menimpa umat Islam di seluruh dunia tak akan pernah terselesaikan.

Sebagaimana Khilafah pada masa lalu bisa menjadi pelayan, pengayom, dan pelindung umat Islam dari rongrongan dan serangan bangsa-bangsa kafir selama berabad-abad, maka Khilafah pada saat ini dan ke depan yang bisa melakukan hal yang sama.  Hanya Khilafahlah yang bisa menghadapi Israel, AS, dan sekutu-sekutunya, sekaligus membersihkan antek-antek mereka dari seluruh negeri kaum Muslim.  Khilafahlah yang akan memimpin dan mengkomandoi 1,5 miliar kaum Muslim di seluruh dunia untuk berjihad.  Khilafahlah yang akan melindungi dan mempertahankan seluruh wilayah dan tanah kaum Muslim.  Rasulullah saw. telah bersabda :

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah laksana perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”. (HR. Muslim)

Sungguh, sekiranya umat ini sadar dan fokus mengembalikan keberadaan Khilafah yang bakal menjadi solusi final atas tragedi Palestina maupun tragedi-tragedi di Dunia Islam lainnya, tentu masalahnya tidak akan berlarut-larut seperti saat ini.  Karena itu, jangan sekali-kali ragu untuk mendukung para pejuang Khilafah, sekaligus berjuang bersama mereka untuk mewujudkanya.

“Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian untuk menuju sesuatu yang menghidupkan kalian”. (QS. al-Anfal [8] : 24)

aa

SEGAWE SABRANG (Adenanthera pavonina L.)

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Resales

Suku

:

Leguminoceae

Marga

:

Adenanthera

Jenis

:

Adenanthera pavonina L.


Nama

Umum/Dagang

:

Segawe sabrang.

Sumatera

:

Saga utan (Bangka).

Jawa

:

Kitoke laut (Sunda), Segawe sabrang (Jawa), Saghabinek (Madura).

Nusa Tenggara

:

Saghanal (Kangean), Bibilaka (Alor).


Deskripsi

Habitus

:

Pohon, tinggi ± 15 m.

Batang

:

Tegak, berkayu, bulat, permukaan halus, batang muda ungu, percabangan monopodial, hitam keputih-putihan.

Daun

:

Majemuk, berseling, tangkai daun silindris, panjang ± 7 cm, coklat keunguan, anak daun lonjong, halus, tepi rata, ujung tumpul, pertulangan menyirip, panjang 2 – 3 cm, lebar 1 – 2 cm, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk bulir, berkelamin dua, di ujung batang dan ketiak daun, tangkai silindris ± 2 mm, hijau keunguan, kelopak bentuk corong, pecah, gundul, hijau pucat, mahkota bentuk bintang, kuning, benang sari panjang ± 1 cm, hijau pucat, tangkai putik panjang ± 8 mm, putih, kepala sari bentuk bola, kecil, coklat muda, putih.

Buah

:

Kotak, bulat, diameter ± 2 mm, masih muda hijau setelah tua coklat.

Biji

:

Bulat, kecil, coklat.

Akar

:

Tunggang, putih kotor.



Gambar 17. Adenanthera pavonina L.


Khasiat

Kulit batang Adenanthera pavonina berkhasiat untuk mencuci luka yang lama.

Mencuci luka lama : dipakai ± 20 gram akar segar Adenanthera pavonina, dicuci dipotong-potong kecil, direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit, dinginkan dan disaring. Hasil saringan dipakai untuk mencuci luka.


Kandungan Kimia

Kulit, batang, dan daun Adenanthera pavonina mengandung saponin dan flavonoida; di samping itu kulit batangnya juga mengandung tanin; dan daunnya mengandung polifenol.

a

Ditulis dalam TANAMAN OBAT. Kaitkata: . 2 Komentar »

DLINGO (Acorus calamus L.)

Botani

Sinonim

:

Acorus terreestris Spreng.


Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Monocotyledoneae

Bangsa

:

Arales

Suku

:

Araceae

Marga

:

Acorus

Jenis

:

Acorus calamus L.


Nama

Umum/Dagang

:

Dlingo.

Sumatera

:

Jeurunger (Aceh), Jerango (Gayo), Jerango (Batak), Jarianggu (Minangkabau).

Jawa

:

Daringo (Sunda), Dlingo (Jawa Tengah), Jharango (Madura).

Bali

:

Jangu.

Nusa Tenggara

:

Kaliraga (Flores), Jeringo (Sasak).

Kalimantan

:

Jari angau.

Sulawesi

:

Kareango (Makasar), Kalamunga (Minahasa), Areango (Bugis).

Maluku

:

Ai wahu (Ambon), Bila (Buru).


Deskripsi

Habitus

:

Herba, tahunan, tinggi ± 75 cm.

Batang

:

Basah, pendek, membentuk rimpang, putih kotor.

Daun

:

Tunggal, bentuk lanset, ujung runcing, tepi rata, pangkal memeluk batang, panjang ± 60 cm, lebar ± 5 cm, pertulangan sejajar, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk bongkol, ujung meruncing, panjang 20 – 25 cm, di ketiak daun, tangkai sari panjang ± 2¾ mm, kepala sari panjang ± 2¾ mm, kepala sari panjang ± ½ mm, putik 1 – 1½ mm, kepala putik meruncing, panjang ± ½ mm, mahkota bulat panjang, panjang 1 – 1½ mm, putih.

Akar

:

Serabut, coklat.

Gambar 16. Acorus calamus L.


Khasiat

Rimpang Acorus calamus berkhasiat sebagai obat penenang, obat lambung, dan obat limfa, di samping itu merupakan bahan baku kosmetika.

Obat penenang : dipakai ± 3 gram rimpang Acorus calamus, dicuci dan dipotong kecil-kecil kemudian direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit. Hasil rebusan diminum sehari dua kali ½ gelas pagi dan sore.


Kandungan Kimia

Rimpang dan daun Acorus calamus mengandung saponin dan flavonoida, di samping rimpangnya mengandung minyak atsiri.

KEPING KASIH TERAKHIR

Dikutip : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.
Karya : Yunita Tri Damayanti (Juara Harapan I Lomba Cerpen Ummi)   

    

    

Aku menatap surat yang tergeletak di meja tamu tanpa minat.  Surat panggilan dari sekolah Saras, surat panggilan keempat yang kuterima bulan ini.  Aku malas membacanya.  Pasti isinya sama saja dengan tiga surat sebelumnya, meminta aku datang menemui guru Saras.  Ada hal penting yang ingin dibicarakan.  Begitu yang tertulis dalam surat.   

Aku menghela nafas.  Surat-surat ini sangat menggangguku.  Heran.  Hal penting apa sih yang dihadapi anak kelas dua SD macam Saras?  Kupikir ia baik-baik saja.  Rapornya kemarin cukup bagus.  Pe-er, setahuku selalu dikerjakannya dengan baik.  Ia juga tidak pernah bolos.  Berantem dengan teman sekelas?  Ah, mana berani dia?   

Aku mengeluh dalam hati.  Tidak hanya surat-surat itu yang membuatku sebal.  Beberapa kali wali kelas Saras juga menelpon ke rumah, atau ke HP.  Tapi aku tak ingin mengangkatnya.  Malas.  Buang-buang waktu.  Masak untuk sekedar urusan Saras tidak bikin pe-er atau ribut dengan temannya aku juga harus turun tangan?  Bukankah semestinya cukup ditangani para guru?   

Aku ambil surat itu membuangnya ke tong sampah.  Apa pun masalah yang Saras hadapi di sekolah, Mas Fuad tidak perlu tahu.  Aku yang akan mendidik Saras.  Aku tahu apa yang terbaik baginya.  Aku yang menjadikannya anak yang tangguh.   

***   

Aku baru selesai menata rambutku ketika pintu kamar diketuk.   

“Nyah, maaf, ada tamu”, terdengar suara Mbok Diyah.   

“Siapa?” tanyaku tanpa minat.  Mengganggu saja bertamu sore-sore.  Aku melirik jam tangan.  Hampir pukul empat.  Aku bisa telat ke pengajian.   

“Katanya sih gurunya Non Saras, Nyah..”   

“Guru Saras?  Untuk apa ia ke sini?”   

“Ya sudah, suruh tunggu Mbok”, putusku akhirnya.  Aku masih punya waktu lima belas menit sebelum berangkat.   

Aku menyelempangkan kerudung di kepalaku dan menatap wajahku di cermin.  Cantik.  Lipstik merah bata yang senada dengan kerudung membuatku tampak menawan.  Tapi Saras lebih cantik, batinku.  Ia mewarisi kulit putih dan hidung mancung ayahnya.  Kulit putih dan hidung mancung yang tidak aku punya.  Aku menambah sedikit eyeshadow di kelopak mataku.  Mata indah bulat dengan bulu mata tebal dan lentik.  Mata berbinar yang membuat banyak orang terpesona.  Ah, Saras tidak punya mata seindah punyaku.   

Setelah puas mematut diri aku turun ke ruang tamu.  Ada dua orang perempuan berjilbab duduk di sana.  Yang satu aku kenal.  Bu Endah, wali kelas Saras.  Satu lagi kelihatan familiar, tapi aku tidak ingat siapa.  Namun, pastilah salah seorang guru juga.   

“Maaf harus menunggu.  Saya dandan dulu.  Ada pengajian ibu-ibu kompleks sore ini”, aku menjabat tangan mereka.   

“Oh, maaf kalau kami mengganggu”.   

“Tidak apa.  Saya masih punya waktu beberapa menit”.   

“Mama Saras, kenalkan ini Bu Afifah.  Ia psikolog di sekolah Saras”.   

“Ooo… senang bertemua Anda”, aku mengangguk ke arahnya.   

“Maaf Bu, setiap kami telpon Ibu tidak di rumah.  Jadi…”   

“Ya, saya memang sibuk akhir-akhir ini.  Banyak hal yang harus saya urus.  Ayahnya Saras baru membuka kafe plus butik di Kemang, jadi saya ikut bantu menata ini-itu.  Capek sih, tapi saya senang.  Anda tahu?  Saya sudah lama bermimpi untuk punya butik sendiri.  Kalau Bu Endah dan teman-teman perlu baju baru, datang ke butik saya saja, ya?  Ada kok baju muslimahnya, dari perancang terkenal.  Malah ada juga yang rancangan saya sendiri.  Nanti saya kasih diskon.  Khusus untuk guru-guru SDIT An-Nur”, ucapku berpromosi.   

“Wah, Ibu pandai merancang busana juga?  Insyah Allah nanti saya sampaikan ke teman-teman supaya kalau cari baju datang saja ke butik Ibu…”   

“Namanya Butik Embun.  Sebentar, saya ada brosurnya”, aku bergegas mengambil beberapa lembar brosur dari lemari dan menyerahkannya pada mereka.  Bu Endah dan Bu Afifah membolak-balik brosur itu.   

“Tolong sebarkan ke teman-teman ya.  Saya juga mau kasih ke teman-teman pengajian.  Di sebelah butik ada kafe, Bu.  Jadi kalau capek habis pilih-pilih baju, bisa istirahat minum di kafe.  Pokoknya eksklusiflah”, ucapku bangga.   

“Baik, Bu.  Nanti insya Allah brosurnya kami kasih ke teman-teman.  Ehm… maaf, surat yang kami kirim sudah Ibu terima?”   

“Ah, ya.  Surat-surat itu”, aku menepuk jidadku.  “Saya sudah baca.  Maaf ya, saya belum sempat ke sekolah.  Khan tadi saya sudah cerita kalau saya sedang sibuk.  Kalau butiknya sukses saya rencananya juga akan jual sepatu, tas, dan aksesoris wanita lainnya.  Katanya di Hongkong harganya murah-murah.  Mungkin bulan depan saya ke sana survei harga.  Jadi, maklum ya, Bu, kalau saya belum sempat memenuhi panggilan sekolah…”  

“Iya, tidak apa.  Kami paham Ibu sibuk.  Maka itu kami datang ke sini”.  

 “Tapi sebentar lagi saya harus ke pengajian…”  

 “Bu, tolong.  Sebentar saja.  Ini penting.  Menyangkut masa depan putri Ibu”, aku mengerutkan kening.  Masa depan Saras?  Apa maksudnya?  Bukankah sudah jelas Saras punya masa depan yang terjamin?  Ia bersekolah di sebuah SDIT ternama, punya orang tua yang sanggup membiayai pendidikannya berapa pun yang dibutuhkan, bahkan asal tahu saja, kecil-kecil Saras sudah punya tabungan atas namanya dengan jumlah yang tidak sedikit!  

 “Saya tidak mengerti.  Maksud Anda bagaimana?  Apa anak saya nakal di sekolah?  Bertengkar dengan teman?  Di rumah ia baik-baik saja kok.  Rajin dan penurut.  Temannya saja yang suka ganggu dia mungkin.  Atau Saras lupa bikin pe-er?  Itu kan biasa ya, Bu?  Namanya juga anak-anak.  Lupa satu dua kali khan boleh.  Nanti saya awasi lagi supaya ia tidak lupa mengerjakan tugas sekolah”.  

 “Ah, tidak Bu.  Bukan itu masalahnya.  Saras anak baik.  Prestasinya juga baik-baik
saja.  Hanya, ia memang sedikit pemurung”.
  

 “Pemurung?  Tidak pede begitu?  Nanti ia bisa ikut sanggar nyanyi, atau tari, atau apalah namanya.  Lama-lama juga percaya dirinya akan muncul.   

“Bukan begitu maksud kami, Bu Fuad.  Ini, coba ibu lihat.  Kami membawa beberapa hasil karya Saras”, Bu Afifah mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.  Ada beberapa gambar dan kertas-kerta berisi tulisan.  Kelihatannya tulisan tangan Saras.   

Kebetulan beberapa waktu lalu kami mengadakan semacam tes psikologi untuk anak.  Tidak hanya untuk Saras.  Tapi untuk semua murid kelas satu sampai kelas tiga.  Waktu itu surat pemberitahuan tentang pengadaan tes itu sudah kami kirim ke setiap orang  tua murid.  Ibu ingat?”   

“Wah, maaf, saya lupa.  Mungkin suratnya terselip dan tidak terbaca oleh saya”.   

“Ya, tidak apa Bu.  Hmm, maaf, karena dari hasil tes kelihatannya Saras punya sedikit masalah, makanya kami meminta putri Ibu melakukan beberapa lembar tugas lagi.  Ini gambar-gambar yang Saras buat, puisi, dan karangannya”, Bu Afifah menyodorkan tumpukan kertas itu.  Aku mengamati beberapa lembar gambar hasil karya Saras.  Apa yang aneh?  Ada gambar orang, rumah, pohon…   

“Gambarnya kurang bagus, ya?  Ah, tidak apa.  Mungkin anak saya memang tidak bakat melukis.  Tapi, wajar khan anak usia tujuh tahun menggambar seperti ini?  Atau Anda menyarankan saya untuk mencari les melukis untuk Saras?”   

“Bu, bukan begiti.  Coba Ibu baca puisi-puisi yang Saras tulis.  Mungkin Ibu bisa lebih memahami dia”.   

Aku mengambil selembar kertas bertuliskan puisi karangannya.  Tulisan kecil dan rapi.   

Puisi pertama;   

Ada bunga di taman   

Ada burung di dahan   

Ada matahari di langit   

Ada mama dan papa di rumah   

Tapi, dimana mereka?   

Aku melanjutkan.  Puisi kedua;   

Kemarin si Pusi mati   

Habis makan lauk basi   

Aku sedih, karena si Pusi tak ada lagi   

Kalau aku mati   

Siapa yang bersedih?   

Puisi ketiga;   

Ada kupu-kupu mati   

Sayapnya yang indah jadi jelek   

Tapi enak   

Ia tak usah susah-susah terbang cari madu   

Aku mau seperti kupu-kupu itu   

Biar tak usah susah-susah dimarah-marahin terus   

Puisi keempat;   

Katanya bidadari itu cantik, dan baik   

Tapi mereka adanya di surga   

Aku mau ke surga   

Ketemu bidadari yang baik hati   

Yang tidak suka memukuli   

Ma, kalau aku ke surga, mama jangan marah ya?   

Puisi kelima;   

Aku punya boneka Barbie   

Cantik sekali   

ku sayang   

Jadi aku cium   

Aku nggak dicium   

Artinya, aku nggak disayang, ya?   

Aku menatap Bu Afifah dam Bu Endah bergantian.   

“Ternyata Saras pandai membuat puisi ya?  Ia memang tidak berbakat menggambar, tapi puisi-puisinya cukup bagus”.   

“Bu Fuad, biar saya jelaskan…”   

“Saya sudah terlambat.  Kalau saya telat saya bisa jadi bahan gunjingan.  Lagi
pula saya harus membagikan brosur.  Dan…”
   

“Bu! Saras putri Ibu ingin bunuh diri!  Apa buat Ibu itu tidak penting?”  Suara Bu Afifah menyentak, dan terdengar tidak sabar.   

Aku tertegun.   

“Bunuh diri?  Anak sekecil Saras?  Anda jangan main-main”.   

“Biar saya bacakan sedikit karangannya”.  Bu Afifah mengambil tumpukan kertas yang sedang kupegang.   

“Ini, coba ibu dengar.  Aku ingin tahu bagaimana rasanya mati.  Sakit nggak, ya?  Kata Bu Guru di surga banyak bidadari yang cantik dan baik.  Kalau aku mau ke surga khan harus mati dulu.  Kalau aku mati, masuk surga nggak?  Tapi, bagaimana aku bisa mati ya?  Minum baygon, atau gantung diri, atau tusukin pisau ke perut?  Mana yang paling enak dan bikin aku cepat ketemu bidadari?”   

Aku terdiam.  “Itu mungkin hanya imajinasi Saras saja”.   

“Ibu lihat gambar-gambarnya?  Warna-warna gelap yang ia pilih?  Dalam psikologi pohon itu melambangkan ayah dan rumah melambangkan ibu.  Lihat bagaimana Saras memposisikan kedua benda tersebut?  Selalu jauh dari gambar anak perempuan kecil, yang melambangkan dirinya.  Itu artinya, Saras memiliki masalah dengan hubungannya dengan bapak dan ibu…”   

“Ia putri tunggal saya.  Saya dan suami saya, sangat mencintainya.  Apa Anda tidak lihat?  Kami memasukkannya ke sekolah terbaik, memberinya mainan edukatif dan buku-buku ensiklopedia, mengenakannya pakaian yang pantas, menata ruang tidurnya seperti sebuah istana kecil?  Jadi, bagaimana bisa Anda bilang Saras memiliki
masalah dengan saya dan papanya?”
   

“Anak tidak cuma butuh materi, Bu”.   

“Oh, saya tahu itu Bu Endah.  Jadi jangan ajari saya.  Saya juga melimpahinya dengan kasih sayang.  Apalagi papanya.  Ia bahkan menerima kasih sayang terlalu banyak dari orang-orang di sekelilingnya, Eyangnya, tantenya, budenya…”   

“Ibu suka mencium, membelai, atau memeluknya?”   

“Saras bukan bayi lagi Bu Afifah”.   

“Tidak cuma bayi yang butuh sentuhan fisik, Bu.  Bahkan kita juga perlu itu…”   

“Sudahlah, Bu.  Saya masih banyak urusan”.   

“Ibu suka memukulnya?” tanya Bu Afifah dengan nada memaksa.  Aku menatap Bu Afifah tajam.   

“Atau mencubitnya?  Mengurungnya dalam kamar mandi mungkin?”   

“Bu Afifah, saya ibunya.  Saya punya hak untuk mendidik anak saya dengan cara saya sendiri.  Saya berhak mengajarkan anak saya tentang kedisiplinan, apa pun cara dan bentuknya”.   

“Tapi kekerasan bukan solusi, Bu.  Apa pun kesalahan yang Saras buat, menyakitinya tidak akan menyelesaikan masalah dan membuatnya menjadi lebih baik”.   

“Saya sudah menghabiskan terlalu banyak waktu dengan ibu-ibu.  Jadi maaf, saya harus pergi sekarang.  Kalau Saras, membuat masalah di sekolah, tangani dia.  Itu kenapa saya membayar mahal Anda berdua untuk menjadi guru Saras!”  Suasana hening sesaat.   

“Baik Bu Fuad”, ujar Bu Afifah akhirnya.  “Kami mohon maaf sudah mengganggu waktu Ibu.  Jika Ibu bersedia bekerja sama dengan kami untuk mendidik Saras, silakan datang ke sekolah.  Atau, jika Ibu butuh bantuan apa pun, baik bantuan untuk Saras maupun untuk diri Ibu sendiri, Ibu bisa menelpon saya kapan pun Ibu suka.  Ini kartu nama saya”, Bu Afifah menyerahkan sebuah kartu nama.  Wajahnya tetap terlihat tenang dan tidak tersinggung dengan apa yang kuucapkan barusan.   

“Oke, terima kasih”, aku menerima kartu yang ia sodorkan.  “Percayalah.  Saya dan putri saya, tidak membutuhkan bantuan Anda.  Saya bisa menangani masalah saya sendiri”.   

Aku melirik jam tanganku.  Sudah telah sepuluh menit.  Urusan dengan Saras biar
kuselesaikan nanti malam.
   

***   

Suara isak Saras masih terdengar jelas.  Aku memeluk gulingku.  Mencoba tidur.  Mencoba melupakan apa yang baru aku lakukan.  Mengapa aku harus selalu kasar pada Saras?  Aku menggigit bibir.  Aku memang bukan Ibu yang baik.  Aku emosional.  Pemarah.  Pecemburu.  Perajuk.  Seperti ibuku.   

“Jangan berimajinasi buruk Saras!” ucapku sambil mencengkeram lengannya kuat-kuat.   

“Mama…” Saras menatapku dengan mata basah.   

“Kamu ingin mati?  Benar kamu ingin mati?  Sini, sini mama kasih mati kamu supaya kamu tahu mati itu nggak enak”, aku menjambak rambutnya.   

“Mama… ampun Ma, ampun”, rintih Saras.   

“Anak sialan!  Apa yang kurang dari Mama, heh?  Apa saja kamu punya.  Semua Mama belikan.  Mainan, buku, baju.  Kamu butuh apa lagi?  Asal kamu tahu saja, Mama nggak akan menghabiskan seluruh waktu Mama hanya untuk ngurusin anak bandel macam kamu!” kugoyangkan tubuhnya keras-keras.   

“Awas, kalau kamu macam-macam!  Awas kalau ngadu ke Bu Guru”, kuhempaskan tubuh mungil Saras ke karpet.  Mbok Diyah dan Mbak Yanti menatap iba ketakutan dari balik pintu.  Tapi tak ada yang berani berkata.  Tak ada yang berani mencegah.  Seperti biasa.   

“Awas, jangan ngadu ke Bapak”, sebelum pergi kudesiskan ancaman pada mereka, lagi-lagi, seperti biasa.   

Aku menerawang.  Aku begitu sayang pada Saras, tetapi kenapa aku kadang begitu membencinya?  Kenapa aku sering iri melihat kecantikan, dan melihat betapa berlimpahnya materi yang diberi Mas Fuad untuknya?  Kenapa kadang aku suka melihat air mata mengalir di kedua pipi putihnya?  Kenapa kadang keinginan untuk menyakitinya begitu kuat?  Kenapa aku menikmati kepedihan di matanya tatkala kuhancurkan benda-benda kesayangannya.   

Boneka barbienya pernah kugantung hingga tak berbentuk.  Teddy Bear besarnya kubakar di halaman belakang.  Kelinci peliharaannya kukurung tanpa makan hingga mati?  Aku sungguh ibu yang buruk, seperti ibuku.   

Mengingat ibuku seperti mengingat segumpal luka menganga.  Mengingat Ibu adalah sebuah kepedihan, seperti belati yang tak habis-habisnya ditusukkan ke dalam relung hati.   

Dua kakak perempuanku cantik, cerdas, dan disayang ibu.  Satu adik lelakiku tampan, menjadi pujaan, dan dibanggakan ibu.  Adik bungsuku juga cantik, anggun, dan dialah anak ibu terkasih.  Aku juga cantik dan cerdas.  Tapi aku tidak disayang Ibu.  Entah kenapa.   

Mungkin karena seperti kata Mbah Misrun, pembantu setiaku, saat mengandung aku, bapak selingkuh.  Tapi bapak malah menuduh janin yang ada dalam kandungan Ibu bukan benihnya.  Demi menutupi salahnya.   

Kata dia pula wajahku mirip selingkuhan Bapak.  Bukan salahku, khan?  Tapi ibu tak mau tahu.  Aku jadi pelampiasan amarah yang terpendam di dada ibu.  Apalagi bapak kemudian malah menikahi selingkuhannya.  Sakit hati ibu pada Bapak nyata pada lebam biru bekas cubitan ibu di sekujur tubuhku.  Kepedihan Ibu adalah umpatan, makian, jambakan, dan pukulan untukku.  Hanya aku.   

Tapi kemudian adikku lahir.  Seorang lelaki, seperti dambaan Bapak.  Kehadirannya
membuat Bapak berubah.  Bapak bahkan meninggalkan istri keduanya yang ternyata tidak bisa memberi keturunan.  Hanya bertambah lagi adikku yang perempuan.  Semua mendapatkan kasih sayang, kecuali aku.
   

Bila adikku menangis, aku yang disalahkan.  Aku yang dipukuli.  Sekali ibu nyaris menggunduli aku gara-gara adik bungsuku jatuh dari sepeda.  Entahlah.  Mungkin aku dianggap pembawa sial dalam keluarga.  Bapak pun nampaknya masih menyangka aku bukan benihnya, entah kenapa.   

Menginjak dewasa Ibu memang tak pernah lagi menyiksaku secara fisik.  Tetapi kata-katanya yang menyakitkan tetap lancar mengalir dari mulutnya.  Namun lihatlah.  Aku menjadi gadis yang tangguh.  Aku tidak takut kritikan pun komentar orang.  Aku sudah terbiasa disakiti.   

Lalu suatu hari pangeran itu datang.  Ia terpesona melihatku pada malam temu alumni, tiga tahun setelah aku lulus kuliah dengan nilai cumlaude.  Ia seorang lelaki tampan, kaya, dan berasal dari keluarga terpandang.  Enam bulan setelah pertemuan itu, ia melamarku.  Keluarganya datang membawa aneka hantaran.  Deretan mobil mewah parkir di depan rumah.  Semua yang datang begitu wangi dan gemerlap.   

Ibu terperanjat.  Bapak tak percaya.  Firna si bungsu yang suka mencibirku terbelalak.  Mbak Lissa dan Mbak Risma berdecak.  Seorang pangeran tampan melamarku?  Hanya Irfan yang bersikap biasa.  Dari dulu ia selalu bilang aku akan menemui seorang pangeran suatu hari nanti.  Dari dulu, cuma Irfan yang baik padaku.   

Pesta penikahanku digelar di sebuah hotel berbintang lima.  Seingatku, itu untuk pertama kalinya Ibu menciumku dengan air mata berlinang, berdoa untuk kebahagiaanku.   

Mas Fuad ternyata memang lelaki yang sangat baik.  Meski sangat sibuk, ia begitu penuh perhatian.  Dua tahun setelah pernikahan, bidadari kecil itu pun hadir.  Namanya Saraswati Herliana Putri.  Semua bersuka cita, kecuali aku.   

Entahlah, mungkin aku iri dengan perhatian yang diberikan untuknya.  Ibuku terlihat sangat menyayanginya.  Menggendong dan menciuminya.  Menyanyikan lagu-lagu untuk menimang, mengelus, mengajaknya tertawa dan bercanda, juga membelikannya boneka-boneka lucu.  Hatiku perih.  Duhai Ibu, mengapa tak pernah kau lakukan itu semua padaku?  Bapak pun kerap datang ke rumah sekedar untuk menengok Saras.  Ia yang nyaris tak pernah mengajakku bicara kini dengan senyum mengembang menimang-nimang Saras.   

Lalu aku mulai membenci Saras.  Dan jika rasa benci itu datang aku akan menyakitinya; mencubitnya, memukul, mencengkeram, atau mengurungnya di kamar mandi.  Suamiku tak pernah tahu.  Ia sibuk, dan Saras terlalu takut untuk mengadu.  Satu yang terpatri di benakku, kalau dulu aku harus menderita, Saras juga harus merasakan apa yang pernah aku rasakan!   

Kadang, jika rasa cintaku muncul aku akan bermain dan bercanda dengan Saras.   

Sering aku menyesali tindakanku, sehingga sehabis memukulinya akan kubawa ia jalan-jalan ke mall.  Atau membelikan es krim kesukaannya.  Namun, kenapa aku tak
bisa berhenti membencinya?
   

Suara isak Saras tak terdengar lagi.  Kubuka pintu kamarnya.  Bidadari mungil itu sudah terlelap.  Wajahnya damai.  Kusentuh pipinya, lembut.  Benarkah kamu ingin bunuh diri?  Karena aku?  Wanita yang mengandung dan melahirkanmu?  Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.  Mama ingin berubah Saras.  Seandainya Mama tahu caranya.  Seandainya ada yang mau menolong Mama…   

***   

Sore ini aku baru pulang dari butik.  Aku mencari Saras.  Aku punya hadiah untuknya.  Sebuah bros kupu-kupu yang lucu.  Saras sangat menyukai kupu-kupu.  Namun, kamarnya kosong, dan berantakan.  Sangat berantakan.  Aku tidak tahu apa yang baru dikerjakan monster kecil itu, yang pasti seperti baru ada gempa bumi di kamarnya.  Kepalaku mendadak pening.  Emosiku meluap.  Benciku pada Saras menyentak-nyentak.  Ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan, tapi mengapa membereskan kamar saja ia tak mau?   

“Saraaaasss…” teriakku sekuat tenaga.  Anak sialan!  Sudah dikasih kamar bagus
bukannya dirawat!
   

“Saraaasss…” aku mengulang panggilan seraya menuju tangga.  Kulihat Saras tergesa-gesa menaiki tangga.   

“Dari mana saja kamu, heh?” bentakku.   

“Ma, anu… Saras…”   

“Kamu lihat kamar kamu tidak?  Tidak ada rasa terima kasihnya kamu.  Dikasih kamar bagus itu, untuk dirawat, bukan untuk dihancurin seperti itu.  Sini, Mama kasih tahu”, aku mencengkeram lengannya dan menyeretnya ke kamar.   

“Kamu lihat, heh?  Ngapain aja kamu di kamar sampai kamar kamu bisa kayak gini?  Jawab!”  Aku mencubit pantatnya kuat-kuat.  Saras mengaduh.   

“Saras asyik main sama Kiki.  Pura-pura kemping.  Karena ada telpon, Saras turun… belum sempat diberesin”, Saras sedikit terisak.   

“Oooh… Jadi gara-gara Kiki, ya?” kujewer lagi telinganya.   

“Sini, Kikinya Mama bakar saja biar kamu tidak rese!” aku mengambil boneka kelinci besar yang tergeletak di atas tempat tidur.  Itu hadiah Mas Fuad ketika ia naik kelas.  Aku tahu Saras sangat menyayanginya.   

“Ma, jangan ma… maafin Saras…” Saras berusaha merebut bonekanya.  Kucubit perutnya.  Lalu kudorong ia kasar.   

“Kamu ini, nggak punya telinga ya?  Mama akan bakar boneka jelek ini, supaya lain kali kamu nggak lupa beresin kamar!” aku berjalan keluar sambil membawa boneka kelinci itu.   

“Ma… jangan… ma… Saras sayang Kiki…” Saras mengikutiku.   

“Biar!”   

“Maa, maafin Saras, Ma”, Saras berusaha merebut boneka itu.   

“Pergi!  Mama muak sama kamu!  Kenapa kamu tidak pernah mau dengerin Mama?  Pergi kamu Saras, pergi!” aku menendangnya sekuat tenaga.   

“Maaa…” Saras menjerit kuat-kuat.  Aku terperanjat.  Kupegang pegangan tangga kuat-kuat.  Tak percaya pada apa yang kulihat.  Kakiku gemetar.  Ya Tuhan, Saras?   

***   

Aku terduduk di depan ruang ICU.  Mas Fuad masih di Jepang.  Ia sudah kutelpon.  Baru besok pagi ia akan tiba di Jakarta.   

Kuseka air mataku.  Aku menangis, untuk Saras.  Kata dokter ia kritis.  Gegar otak berat.  Aku menghapus air mataku.   

Kuambil handphone.  Mudah-mudahan aku menyimpan nomor Bu Afifah.  Ada.  Segera kuhubungi.   

“Halo, assalamualaikum…” terdengar suara lembut di seberang.   

“Bu Afifah?”   

“Iya betul.  Ini siapa, ya?”   

“Saya mamanya Saras”.   

“Oh, Bu Fuad.  Apa kabar?  Senang sekali Ibu menelpon saya.  Ada kabar apa, Ibu?  Ada yang bisa saya bantu?”   

“Saras sakit, Bu”.   

“Innalillahi… sakit apa Bu?”   

“Ibu bisa ke sini sekarang?”   

“Bisa, Bu, ke rumah Ibu?”   

“Bukan.  Saya di rumah sakit Pondok Indah”.   

“Di rumah sakit?  Saras sakit parah?”   

“Ibu tolong ke sini ya?  Saya bingung.  Begini, saya…”   

“Jangan khawatir.  Saya akan ke sana sekarang, Bu”.   

“Bu Afifah…”   

“Ya?”   

“Saya… saya rasa Anda benar”.   

“Apa, Bu?”   

“Saya rasa Anda benar, saya butuh pertolongan Ibu”.   

“Pertolongan saya?”   

“Mungkin saya butuh terapi, atau rehabilitasi, atau… entah apa namanya.  Ibu mau menolong saya khan?  Ibu pernah berjanji akan membantu saya.  Ibu mau menterapi saya?”   

“Terapi?  Untuk Ibu?  Terapi apa maksud Ibu?”   

“Saras jatuh dari tangga.  Dari lantai atas.  Saya, saya yang mendorongnya.  Saya menendangnya.  Saya tidak sengaja.  Saya sedang marah.  Saya tidak bisa mengontrol emosi.  Sekarang ia koma.  Di ICU”.   

“Astaghfirullah…”   

“Bu, cepat datang ya.  Saya…”   

“Iya Bu.  Tenang ya, Bu.  Saya akan segera ke sana”.   

Aku mematikan handphoneku.  Hatiku hancur.  Apa yang telah aku lakukan?  Mama sayang kamu Saras.  Sangat sayang.  Mama cuma sakit.  Mama cuma butuh obat.  Mama butuh terapi.   

Aku terisak.  Teringat salah satu puisi Saras.

————————   

Aku mau ke surga   

Ketemu bidadari yang baik hati   

Yang tidak suka memukuli   

Ma, kalau aku ke surga, mama jangan marah ya?   

Duhai Saras.  Masihkah ada kesempatan?  Aku ingin menjadi bidadari untukmu.   

 

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: . 5 Komentar »

ANDAI AYAHKU PAHLAWAN…

karya : Retno W

dikutip dari : UMMI, No. 09/XVI Januari-Februari 2005 M / 1425 H.

 

 

Akhir-akhir ini Rafli terlihat murung.  Ia sering mengurung diri di kamarnya.  Sejak membaca buku tentang kepahlawanan, Rafli jadi berandai-andai.  Andai ayahku seorang pahlawan, aku pasti bangga sekali.  Pahlawan yang membela kebenaran, membasmi kejahatan dan berani bertarung untuk menegakkan keadilan.  Wah…, pasti hebat sekali.

Tapi… Ayah hanya orang biasa.  Tak ada yang istimewa.  Ayah hanya sebagai tukang pos.  Pekerjaannya mengantar surat dan barang ke alamat yang dituju seharian.  Tidak sulit, hanya perlu membaca alamat yang tertera di amplop, lantas mengantarkannya.  Diam-diam Rafli merasa sedih.  Apa yang yang bisa dibanggakan dari ayahnya?

Minggu siang, Rafli ke bengkel Pak Kirjo untuk menambal ban sepedanya yang bocor.  Rafli mesti antri karena Pak Kirja sedang sibuk.  Rupanya banyak orang yang memperbaiki sepedanya di sana.  Pak Kirjo memang banyak langganannya.  Ia sudah tua, orangnya baik dan menyenangkan.

“Wah, Pak Kirjo tampaknya sedang gembira.  Dari tadi bersiul-siul”, kata seorang bapak yang juga sedang mengantri.

“Betul, Pak.  Saya sedang gembira.  Habis dapat kiriman foto-foto cucu saya.  Mereka tinggal jauh dari sini dan saya tak bisa datang menengoknya.  Jadi kiriman foto-foto itu bisa jadi obat rindu”.

“O, begitu.  Dititipkan siapa suratnya, Pak?”

“Ya, lewat pos.  Anak-anak saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh.  Mereka suka berkirim kabar lewat surat.  Itu sudah cukup membahagiakan saya”.

“Kalau saya, kemarin malah dapat surat yang isinya berita duka, Pak.  Kakak saya yang di Ambon meninggal dunia.  Tapi untunglah ada yang menyurati saya, setidaknya saya bisa mendoakan kakak saya”.

Rafli tercenung mendengar pembicaraan itu.  Rupanya pekerjaan Ayah berguna juga buat orang lain.  Bisa membuat Pak Kirja bahagia.  Bisa mengabarkan kematian kakak bapak tadi.  Mungkin juga banyak hal lain yang bermanfaat.

“Rafli, sepedamu kenapa?” tanya Pak Kirjo membuyarkan lamunan Rafli.

“Bannya bocor, Pak.  Barangkali kena paku”.

Pak Kirjo memeriksa ban sepeda Rafli.  Benar, ada paku menancap di ban itu.  Pak Kirjo lalu menyikat di sekitar lubang itu, memberinya lem dan menambalnya.  Pak Kirjo mengerjakannya dengan cermat dan teliti.  Tangan tuanya sangat terampil dan cekatan.

“Pak Kirjo suka dengan pekerjaan ini?” tanya Rafli tiba-tiba.  Pak Kirjo memandangnya sejenak, lalu tersenyum.

“Tentu saja, pekerjaan ini sesuai dengan keterampilan Bapak, bisa menghasilkan uang untuk hidup sehari-hari, dan yang penting halal.  Bapak tidak melakukan pekerjaan yang dilarang Allah.  Mungkin dari sinilah Allah memberi rejeki buat Bapak”.

“Tapi…” Rafli tidak meneruskan kata-katanya.  Sekali lagi Pak Kirjo tersenyum, seolah tahu yang hendak dikatakan Rafli.

“Mungkin bagi beberapa orang pekerjaan ini remeh.  Tapi Bapak menyukainya karena bisa membantu orang lain.  Tidak semua orang bisa memperbaiki sepeda, bukan?  Semua pekerjaan yang baik, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan jujur, pasti akan memberi manfaat juga buat orang lain.  Dan Allah akan mencintai orang yang bisa membuat dirinya berguna untuk orang lain”.

Rafli mengangguk-angguk mengerti.  Hatinya mulai terbuka.  Meski bukan pahlawan seperti di buku-buku, Ayah orang yang berguna juga.  Kalau Ayah tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, tentu orang yang berkirim surat atau barang akan kecewa.  Kalau Ayah tidak jujur, pasti barang-barang kiriman tidak sampai ke alamat tujuan.  Dan tak kalah pentingnya, karena pekerjaannya, Ayahnya bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk sekolah Rafli dan kakaknya.  Wah, Ayah hebat juga, ya.  Rafli bangga padanya.

“Eh, Rafli, mengapa kau bertanya seperti itu?” tanya Pak Kirjo tiba-tiba.

“Tidak apa-apa, Pak.  Ini ongkos tambal bannya”, kata Rafli seraya menggenjot sepedanya.  Hatinya lega.  Sepanjang jalan ia bernyanyi kecil.

Ia memacu sepedanya.  Ia ingin segera bertemu Ayah, memeluknya dan mengatakan bahwa Rafli bangga padanya.

a

Ditulis dalam KUMPULAN CERITA. Kaitkata: . 2 Komentar »

SANGKETAN (Achyranthes bidentata Blume)

Klasifikasi

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Caryophyllales

Suku

:

Amaranthaceae

Marga

:

Achyranthes

Jenis

:

Achyranthes bidentata Blume


Nama

Umum/Dagang

:

Sangketan.

Jawa

:

Sangketan (Jawa)

Sulawesi

:

Sui in sui intalun (Minahasa)


Deskripsi

Habitus

:

Semak, semusim, tinggi ½ – 1 m.

Batang

:

Tegak, bersegi, batang muda berbulu, batang tua licin, hijau keunguan.

Daun

:

Tunggal, lonjong, bersilang berhadapan, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, panjang 4 – 7 cm, lebar 2 – 4 cm, pertulangan menyirip, hijau.

Bunga

:

Majemuk, bentuk bulir, di ujung batang atau cabang, panjang 10 – 20 cm, bulir tidak bertangkai, kelapak seperti duri, mahkota 5 helai, hijau pucat.

Buah

:

Bentuk kerucut, masih muda hijau setelah tua coklat.

Biji

:

Bulat telur, keras, coklat.

Akar

:

Tunggang, putih kecoklatan.


Gambar 15. Achyranthes bidentata Blume


Khasiat

Akar Achyranthes bidentata berkhasiat sebagai obat radang dan dapat menurunkan tekanan darah.

Obat radang : dipakai ± 12 gram akar segar Achyranthes bidentata, dicuci dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih selama 15 menit, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus, sehari dua kali pagi dan sore.


Kandungan Kimia

Seluruh bagian tanaman Achyranthes bidentata mengandung saponin dan polifenol.

.

KEMAUAN DAN KESUKSESAN

Dikutip dari : Buletin Jum’at AL-IHSAN; Edisi : Th V/4 Juni 1431 H / 2010 M

a

a

Orang-orang besar yang dikenang dalam buku-buku sejarah, rata-rata mempunyai kemauan dan kehendak keras dalam dirinya.  Kemauan keras itu boleh jadi sudah merupakan pembawaan sejak lahir, atau muncul secara bertahap dikarenakan adanya tantangan berat dari lingkungannya.  Dengan kemauan keras orang-orang terkemuka itu mampu menghadapi lingkungan seberat apa pun, dan mereka meraih kemenangan.  Mereka mempersembahkan sejumlah prestasi yang membuat bahagia dan bisa dirasakan orang banyak.

Hidup mereka digerakkan oleh kemauan keras dan dengan itu mereka melewati tahap menderita. Segala aral tantangan dan aneka uji tak membuat mereka luntur.

Sesungguhnya sejumlah Rasul Allah seperti : Ibrahim, Musa, dan Isa tergolong orang-orang yang terkemuka dalam sejarah.  Mereka dikaruniai kekuatan berupa kemauan keras (ulul azmi).  Oleh karena itu tatkala Nabi Muhammad Rasulullah menghadapi tantangan berat, wahyu Al Qur’an berpesan kepadanya : “Hendaklah engkau tabah seperti ketabahan Rasul-rasul yang memiliki kemauan keras (ulul azmi)” (QS. Al Ahqaaf [46] : 35).

Alhamdulillah Rasulullah mampu melaksanakan nasehat Allah itu dengan baik.  Allah pun menambah jumlah rasul yang berpredikat ulul azmi.  Sepak terjangnya pantang menyerah dan tak kenal lelah.  Bila telah melaju langkah tak pernah mundur setapak pun, walau seandainya matahari diletakkan di telapak kanannya dan rembulan di telapak kirinya.

Sebenarnya setiap orang mempunyai potensi azzam (kemauan keras).  Dengan potensi itu bukan saja ia mampu memperjuangkan hidupnya, tetapi untuk orang lain pun mampu ia lakukan.  Kadang potensi itu tetap membeku di dalam jiwa.  Selamanya tidak pernah mencair karena tak seonggok kekuatan pun mengalirinya dengan tenaga panas.

Tipe orang seperti ini biasanya mudah menyerah kepada hawa nafsu, kepada lingkungan, dan kepada pengaruh jelek.  Hidupnya tak tentu arah, bagai debu yang berhambur ke sana kemari, terserah maunya angin.

Adalagi orang yang potensi azzamnya mudah mencair.  Ia punya semangat baja dan kemauan keras.  Tapi sayang, ia salah arah.  Azzamnya itu justru diarahkan kepada pola hidup yang merusak dalam berbagai
bentuk maksiat dan kedurjanaan.  Ia memang seorang pejuang, tapi pejuang kebathilan.

Golongan pertama dan kedua tidak ada yang kita pilih, namun kita masih harus menaruh kasih.  Sebab siapa tahu kita malah termasuk salah satunya.

Sekiranya potensi azzam kita hingga kini masih membeku, bersegeralah bangkit cari tantangan.  Bergaullah dengan orang-orang yang suka bekerja keras.  Jauhi mereka yang suka berhura ria mengumbar nafsu.  Bila azzam mulai tumbuh, semangat mulai bangkit, dan hidup memperlihatkan gairah, maka dengar wahyu Allah beikut ini. “Apabila engkau telah ber-azzam, maka bertawakallah kepada Allah”. (QS. Ali Imran [3] : 159)

Agar tidak salah jalan dalam menempatkan kemauan keras, maka dasar, cara, dan tujuan keberangkatan azzam tersebut harus ditawakallkan kepada Allah.

Dalam perjalanan dari Allah menuju Allah kita harus berperan sebagaimana yang Allah kehendaki.  Dia menghendaki agar kita bertindak sebagai khilafahnya.  Mewakili peran Allah di muka bumi.

Sekiranya Tuhan sendiri yang langsung terjun mengatur bumi, maka sejak Nabi Adam hingga kini, seluruh tata hukum manusia merujuk pada wahyu yang pertama.  Tapi manusia yang lemah dengan segala potensinya itu terlanjur diserahi tugas berat agar bekerja keras menata manusia dengan hukum-Nya.

Sekarang tinggal, mampukah dia?  Jika Allah telah mempercayakan kepada manusia, kenapa manusia tak percaya diri?  Bukankah Rasulullah dengan modal syahadat mampu memperagakan azzam umat menuju cita gemilang?  Syahadat orang-orang Islam pada waktu itu semakin berkobar baranya di saat berbenturan keras dengan rintangan berat yang mengepung.  Kita kini masih punya azzam.  Kenapa masih tenang dalam kepadaman.

TAKABBUR MUSUH IMAN

Setiap manusia memiliki naluri ber-Tuhan.  Buktinya adalah kenyataan sosial sejarah masa lalu dan kini.  Dalam hati nurani manusia terdapat getaran rasa bahwa di luar dirinya ada kekuatan raksasa yang ia dambakan jika terkena musibah dan aral yang tidak teratasi secara akal.  Bentuk dambaan itu beraneka ragam.  Sebagian manusia melampiaskan naluri ketuhanannya kepada benda-benda alam, matahari, api, angin, pohon-pohon besar, batu berhala, dan seterusnya.

Umar bin Khattab pernah mengalaminya pula. Semula Umar sangat memusuhi Rasulullah, bahkan nyaris membunuhnya.  Tapi upaya Umar tersebut kedahuluan taqdir Allah rupanya doa Rasulullah untuk mengundang kekuatan-Nya membuka hati Umar dikabulkan  datang lebih cepat sebelum pedang di genggamannya menebas leher Nabi.  Memang Umar bin Khattab sebelum itu terjangkit kuman penyakit jahilillah, sehingga untuk beberapa tahun mengidap penyakit syirik dan kafir.  Syukur Alhamdulillah, berikutnya Umar meniatkan ikrar syahadat di hadapan Rasulullah.  Syahadatnya amat bermutu, sehingga mampu mengubah drastis ihwal dirinya yang semula sebagai musuh berat Islam, beralih menjadii pembela berat Islam, sampai akhir hidupnya.

Tentunya kisah hijrah dirinya itu terkesan sepanjang hidupnya.  Tak heran di saat menjadi pemimpin, ia rajin sekali membina iman dan syahadat ummatnya.  Tak segan-segan ia turun langsung ke pelosok-pelosok negeri untuk mengetahui sejauh mana syahadat rakyatnya.

Suatu hari Umar bin Khattab bertemu dengan seorang penggembala kecil.  Tergerak hati Umar untuk mengetahui kualitas Iman anak tersebut.  Umar berpura-pura bermaksud membeli seekor domba penggembalaannya.  Dengan sopannya anak itu menolak halus, karena domba itu bukan miliknya.  Umar terus mendesak, sehingga terlontar kata-kata yang sangat mengharukan dari si kecil : “Fa’ainallah? (maka dimana Allah jika demikian).  Seakan anak itu ingin menjelaskan kepada Umar.  Meskipun majikannya tak bakalan tahu karena begitu banyaknya kambing yang digembalakannya, namun Allah selalu besertanya, dan tahu segala-galanya.

“Dia bersama kamu dimana saja kamu berada.  Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. al Waaqi’ah [56] : 4)

Mendengar jawaban itu, tak pelak lagi Umar tak mampu menahan cairan bening dari celah pelupuk matanya.  Ia menangis haru menatap bocah cilik yang polos di depannya.  Barangkali Umar mengingat masa lalunya yang kelabu.  Ia tak seperti anak itu, yang sejak kecil tampak bersyahadat.  Sedangkan dirinya baru di usia sepuh tampil bersyahadat, setelah sekian tahun melalang buana di lorong kejahiliyahan.

Umar tergolong luar biasa.  Setelah lepas dari tahap jahiliyah, ia masuki tahap pengenalan dan mengerti syahadat, dengan segala konsekuensinya.  Umar bukan hanya sekedar berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah, tetapi konsekuensi dari kata ikrar itu terbukti nyata dalam kehidupannya.

Lain halnya dengan kasus Abu Lahab.  Ia faham bahwa Tuhan itu hanya Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya.  Tetapi Abu Lahab rela bikin gara-gara dengan memerankan dirinya sebagai musuh bebuyutan Rasul pembawa risalah Al Islam.  Ini serupa dengan Iblis Laknatullah.  Dalam hal keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, Iblis menempati peringkat paling tinggi.  Tetapi ia beroposisi kepada Allah dan menjadi musuh utama kebenaran wahyu yang dibawa para Rasul.

Sesungguhnya kita yang hidup sekarang sudah selayaknya mempertanyakan kualitas takabbur masing-masing, demi peningkatan kualitas syahadat kita.  Mudah-mudahan tidak mirip takabbur yang dimiliki Iblis dan Abu Lahab.

Wallahu a’lam bissawab

.

SANGKETAN (Achyranthes aspera L.)


Klasifikasi

 

 

Divisi

:

Spermatophyta

Sub Divisi

:

Angiospermae

Kelas

:

Dicotyledoneae

Bangsa

:

Caryophyllales

Suku

:

Amaranthaceae

Marga

:

Achyranthes

Jenis

:

Achyranthes aspera L.


Nama

 

 

Umum/Dagang

:

Sangketan.

Sumatera

:

Ara sang sang (Sumatra Utara).

Jawa

:

Jarong lalaki (Sunda), Sangketan (Jawa), Nyarang (Madura).

Maluku

:

Rai-rai, Sangkohidung (Ternate).

Sulawesi

:

Sui in sui (Minahasa).


Deskripsi

 

 

Habitus

:

Semak, semusim, tinggi 50 – 150 cm.

Batang

:

Tegak, bulat, percabangan simpodial, berbulu, hijau keunguan.

Daun

:

Tunggal, bersilang berhadapan, lonjong, ujung meruncing, pangkal runcing, panjang 4 – 7½ cm, lebar 2 – 4 cm, tepi rata, pertulangan daun menyirip, permukaan kasar, hijau.

Bunga

:

Majemuk, di ujung batang atau cabang, bentuk bulir, panjang 15 – 30 cm, bunga tidak bertangkai, menempel bulir, kelopak bentuk bintang, ujung kelopak runcing, mahkota 5 helai, hijau.

Buah

:

Bulat telur sampai bota, bergerigi teratur, gugur bersama perhiasan bunga.

Biji

:

Bulat telur, muda putih setelah tua coklat.

Akar

:

Tunggang, putih kotor.

 


Gambar 14.  Achyranthes aspera L.


Khasiat

Seluruh bagian tanaman terutama akar Achyranthes aspera berkhasiat sebagai pelancar air seni dan untuk obat rematik.

Obat rematik : dipakai 6 – 18 gram akar segar Achyranthes aspera, dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih selama 15 menit, dinginkan dan disaring.  Hasil saringan diminum dua kali sama banyak pagi dan sore.


Kandungan Kimia

Herba Achyranthes aspera mengandung saponin dan polifenol.
.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.